- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Diantara Kalian (18+)
...
TS
elenasan30
Aku Diantara Kalian (18+)
Setelah berdiskusi di Lounge Kreator. Ane memutuskan untuk berhenti berkarya di Kaskus. Semua thread novel karya ane akan ane close thread. Ane sebagai penulis mohon pamit dari agan semua.
Lanjutan novel ane di platform sebelah. Untuk agan yang masih ingin membaca karya ane.
Link Novel
Aku Ingin Menjadi Manusia (18+)
Seharusnya Kamu Tidak Pernah Ada (18+)
Aku Diantara Kalian (18+)
Terima kasih
Lanjutan novel ane di platform sebelah. Untuk agan yang masih ingin membaca karya ane.
Link Novel
Aku Ingin Menjadi Manusia (18+)
Seharusnya Kamu Tidak Pernah Ada (18+)
Aku Diantara Kalian (18+)
Terima kasih

Close Thread
Diubah oleh elenasan30 30-01-2021 10:52
moy1992 dan 72 lainnya memberi reputasi
63
98.1K
Kutip
2.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
elenasan30
#216
Chapter 31
Spoiler for Kesempatan Untuk Bella dan Putra:
Sekitar beberapa menit mereka ngobrol. Aku langsung masuk ke ruang panitia seolah gak mendengar dan gak mengetahui apa-apa. Kak Gisel dan Bang Putra yang ngeliat aku mereka agak kaget. Aku berkata “Bang tas Gua ada dimana yaa? Haus Gua mau minum”. Bang Putra menjawab “Nih disini Bell. Ada di samping Gua. Lu minum kenapa gak beli aja? Malah jauh-jauh balik kesini”. Aku menjawab “Gak apa-apa Bang lebih enak minum air putih yang dibawa sendiri. Sekarang kan lagi beredar issu air mineral isinya air mentah kan”.
Bang Putra menjawab “Ohh iyaa hahaha bener juga lu Bell”. Kak Gisel menyela “Gimana tadi acaranya Bell? Seru gak? Hehehe”. Aku menjawab “Iyaa seru aku seneng ikut Ospeknya. Gak ada senioritas ataupun perundungan”. Kak Gisel menjawab “Iyaa dong hahahah siapa dulu Osisnya hahaha”. Gak lama Kak Gisel keluar dari ruang panitia dan cuma tersisa aku dan Bang Putra. Bang Putra melihat ke kiri dan ke kanan “Lu tadi nguping pembicaraan Gua sama Gisel Bell?”.
Aku agak kaget dengan perkataan Bang Putra. Karena aku sangat menyayangi Bang Putra. Terpaksa aku jujur karena aku gak mau ada konflik sama dia “Iyaa Bang tadi Gua denger soal konflik Kak Olivia dengan Lisa. Sampe Kak Ferlian keluar dari tongkrongan kalian”. Bang Putra menghela nafas panjang dan menjawab “Rumor tentang Olivia beredar di sekolah juga yaa?”. Aku menjawab “Iyaa kurang lebih begitu. Meskipun Gua sendiri juga gak tau kapan itu terjadi. Kak Olivia gak pernah cerita apapun tentang kehidupan dia diluar rumah”.
Bang Putra menjawab “Jauh lebih baik lu gak perlu tau Bell. Gua gak mau sampe lu kehilangan rasa hormat lu ke Olivia”. Aku menjawab “Siaap Bang. Gua juga gak kepo hehehe. Yaudah Gua balik ke lapangan lagi yaa. Dadaaah”. Aku kembali ke lapangan dan mengikuti Ospek hingga selesai pukul 17.00 WIB. Kami semua diperbolehkan masuk ke dalam kamar yang sudah di sediakan sesuai dengan nomor yang diberikan.
Tapi sekali lagi aku mendapatkan perlakuan istimewa. Aku diperbolehkan tidur di kamar yang diperuntukan panitia. Lebih tepatnya aku tidur di kamar Kak Olivia. Bang Putra saat itu ingin menyewa satu kamar lagi untuk dia menginap. Namun sayangnya kamar Villa sudah penuh. Bang Putra ingin menyewa kamar hotel di tempat lain namun tidak diperbolehkan oleh Kak Olivia. Disisi lain Kak Olivia juga khawatir. Karena gak mungkin Bang Putra tidur satu kamar denganku dan Kak Olivia.
Kalo seandainya ini liburan pribadi mungkin gak masalah. Tapi pihak sekolah gak akan mengizinkan hal tersebut. Sekitar pukul 19.00 WIB semua anak-anak dipanggil ke Ballroom untuk makan prasmanan. Bang Putra yang saat itu juga lapar namun gak mau masuk ke Ballroom karena dia bukan siswa ataupun panitia. Namun Kak Olivia memutuskan untuk masuk ke Ballroom dan mengambilkan makanan untuk Bang Putra. Sedangkan Bang Putra duduk di lantai dekat kamarku dan Kak Olivia.
Aku sebelum menuju Ballroom dan makan mencoba menemui Bang Putra dulu “Bang nanti malem lu mau tidur dimana? Di ruang panitia?”. Bang Putra menjawab “Gak ngerti juga Gua Bell. Olivia juga gak bolehin Gua nyewa hotel. Gua pengen masuk Ballroom tapi gak enak. Katanya malem ini Olivia ngisi acara yaa?”. Aku menjawab “Iyaa Kak Olivia malem ini nyanyi di panggung Ballroom hahaha. Cuma gak tau jam berapanya”.
Selang beberapa lama Kak Olivia keluar dari kamar dengan menggunakan pakaian long dress warna biru tua lengan pendek, anting panjang di telinganya, dan sandal hak tinggi. Kak Olivia keluar kamar dan menemui Bang Putra “Sayaang? Gimana aku cantik gak? Kamu suka gak sama pakaian aku?”. Bang Putra menjawab “Itu sepatunya tinggi amat. Kamu gak kesusahan jalan kesana?”. Kak Olivia menjawab “Ayoo tuntun aku ke Ballroom. Aku juga takut jatuh sayaang hehehe”.
Bang Putra akhirnya berdiri dan nuntun Kak Olivia sampe kedepan Ballroom. Kak Olivia juga minta aku buat motoin mereka berdua. Mereka bener-bener keliatan seperti pasangan serasi. Sampe di depan pintu Ballroom Bang Putra melepas Kak Olivia “Kamu masuk sendiri yaa? Aku tunggu diluar aja. Aku gak mau masuk soalnya aku bukan siswa disini”. Kak Olivia menjawab “Kamu tunggu di kantin aja nanti aku bawain makanan. Kamu mau ngeliat aku nyanyi gak?”.
Bang Putra menjawab “Enggak hahaha. Suara kamu pasti fals dan jelek. Kamu kan gak pernah belajar nyanyi hahaha”. Kak Olivia menjawab “Hehehe aku juga merasa begitu sih. Aku juga gak pede tapi anak-anak, guru, dan panitia pada minta aku nyanyi”. Bang Putra menjawab “Aku mau mandi badanku cape banget. Aku boleh minjem kamar mandi di kamar kamu gak? Seenggaknya buat mandi aja”.
Kak Olivia menjawab “Boleh. Bell tolong anterin Kak Putra ke kamar yaa. Usahain jangan sampe ada yang liat Kak Putra masuk ke kamar kita. Dan tungguin sampe mandinya selesai. Takutnya ada yang main masuk aja ke kamar dan nyariin aku”. Aku menjawab “Ohh iyaa Kak. Aku anterin Bang Putra ke kamar kalo gitu”. Kak Olivia langsung masuk ke Ballroom dan disambut oleh para siswa dan panitia. Sedangkan aku mengantar Bang Putra masuk ke kamar.
Bang Putra bertanya “Ada air panasnya gak Bell di kamar mandi?”. Aku menjawab “Ada kok. Showernya ada air panas. Lu mau mandi pake air panas Bang?”. Bang Putra menjawab “Iyaa disini dingin pengen mandi air panas. Mandi air panas juga bisa ngilangin cape juga kan”. Aku meminta Bang Putra menunggu 5 meter dari kamar dan aku mencoba memantau situasi. Setelah aku memastikan semuanya sepi dan aman aku langsung memanggil Bang Putra untuk masuk ke kamar.
Aku langsung menutup dan mengunci pintu kamar. Bang Putra bertanya “Gua nitip barang disini bisa kali yaa? Kamarnya gede juga. Cape Gua gendong-gendong tas mulu kesana kemari”. Aku menurunkan tas yang digendong Bang Putra dan menjawab “Boleeh. Sini Gua simpenin di lemari. Nanti biar dibawa Kak Olivia besok pagi”. Aku memasukan tasnya Bang Putra ke dalam lemari dan Bang Putra masuk ke kamar mandi.
Kurang lebih 2 menit Bang Putra keluar lagi dari kamar mandi untuk ngambil sabun dan shampo yang tertinggal di dalem tas. Namun aku kaget banget karena Bang Putra keluar telanjang cuma pakai celana dalem doang. Aku berteriak menegur “Baang! Astaga lu keluar cuma pake celana dalem begitu. Ada Gua disini Bang”. Bang Putra yang lagi ngorek-ngorek tasnya menjawab “Gak apa-apa lah cuma ada lu ini kan disini”.
Aku berusaha menutup mataku untuk gak ngeliat Bang Putra yang cuma pakai celana dalem. Tapi disisi lain aku penasaran dan melting banget sama bodynya Bang Putra yang six pack dan tinggi. Jantungku berdegup sangat kencang saat itu dan aku berusaha mempertahankan kesadaranku. Setelah menemukan sabun dan shampo yang ada di tasnya Bang Putra kembali masuk ke kamar mandi. Aku mendengar suara shower air keluar dan aku lega akhirnya Bang Putra udah mulai mandi.
Namun beberapa menit kemudian Bang Putra ngebuka pintu kamar mandi dan kepalanya keluar dari celah pintu “Bell sikat gigi Gua ketinggalan di tas. Tolong ambilin dong”. Aku menjawab “Ahh Bang lu mah kebiasaan banget. Iyaudah tunggu Gua ambilin dulu”. Aku mencari sikat gigi dan pasta giginya Bang Putra di dalam tasnya. Dan gak butuh waktu lama aku berhasil menemukannya. Aku langsung menghampiri pintu kamar mandi dan memberikan sikat giginya “Ini Bang sikat gigi sama pasta giginya”.
Tapi ternyata Bang Putra tiba-tiba narik tanganku kenceng banget dan aku dibawa masuk ke kamar mandi. Air shower posisinya bersebelahan dengan pintu kamar mandi. Aku yang saat itu menggunakan kaos dan celana bahan langsung basah kuyup terkena air shower yang hangat. Aku berteriak “Baaaangg!! Ahh lu mah iseng dan usil banget sih Bang. Astaga!!”. Aku melihat Bang Putra udah telanjang gak menggunakan pakaian sehelai pun.
Aku panik dan takut tapi disisi lain aku juga merasa biasa aja karena Bang Putra adalah cowo yang aku cintain. Bang Putra berkata “Kapan lagi kan kita bisa berduaan kaya gini. Sekarang baju lu basah kuyup. Puting baik lu nyeplak ke kaos. Kebiasaan lu gak pake Bra”. Aku menjawab “Iyaa biarin suka-suka Gua dong Bang. Gua memang sering gak nyaman pakai Bra. Astaga mimpi apa Gua ngeliat lu telanjang begini”. Bang Putra tiba-tiba langsung mencium bibirku dan meremas kedua payudaraku yang udah basah kena air hangat.
Air shower terus mengalir dan semakin lama seluruh pakaianku basah sampai ke celana bahanku juga. Aku ingin berontak karena gengsi tapi disisi lain aku menginginkan ini. Semenjak Bang Putra waktu itu meremas payudaraku dan memainkan putingku. Aku malah sering kepikiran suatu saat aku dan Bang Putra akan melakukan seks. Nafsuku perlahan menaik karena ciuman mesra dan lembut dari Bang Putra dan juga remasan yang memainkan puting payudaraku yang basah. (Bersambung…. Besok Libur)
Bang Putra menjawab “Ohh iyaa hahaha bener juga lu Bell”. Kak Gisel menyela “Gimana tadi acaranya Bell? Seru gak? Hehehe”. Aku menjawab “Iyaa seru aku seneng ikut Ospeknya. Gak ada senioritas ataupun perundungan”. Kak Gisel menjawab “Iyaa dong hahahah siapa dulu Osisnya hahaha”. Gak lama Kak Gisel keluar dari ruang panitia dan cuma tersisa aku dan Bang Putra. Bang Putra melihat ke kiri dan ke kanan “Lu tadi nguping pembicaraan Gua sama Gisel Bell?”.
Aku agak kaget dengan perkataan Bang Putra. Karena aku sangat menyayangi Bang Putra. Terpaksa aku jujur karena aku gak mau ada konflik sama dia “Iyaa Bang tadi Gua denger soal konflik Kak Olivia dengan Lisa. Sampe Kak Ferlian keluar dari tongkrongan kalian”. Bang Putra menghela nafas panjang dan menjawab “Rumor tentang Olivia beredar di sekolah juga yaa?”. Aku menjawab “Iyaa kurang lebih begitu. Meskipun Gua sendiri juga gak tau kapan itu terjadi. Kak Olivia gak pernah cerita apapun tentang kehidupan dia diluar rumah”.
Bang Putra menjawab “Jauh lebih baik lu gak perlu tau Bell. Gua gak mau sampe lu kehilangan rasa hormat lu ke Olivia”. Aku menjawab “Siaap Bang. Gua juga gak kepo hehehe. Yaudah Gua balik ke lapangan lagi yaa. Dadaaah”. Aku kembali ke lapangan dan mengikuti Ospek hingga selesai pukul 17.00 WIB. Kami semua diperbolehkan masuk ke dalam kamar yang sudah di sediakan sesuai dengan nomor yang diberikan.
Tapi sekali lagi aku mendapatkan perlakuan istimewa. Aku diperbolehkan tidur di kamar yang diperuntukan panitia. Lebih tepatnya aku tidur di kamar Kak Olivia. Bang Putra saat itu ingin menyewa satu kamar lagi untuk dia menginap. Namun sayangnya kamar Villa sudah penuh. Bang Putra ingin menyewa kamar hotel di tempat lain namun tidak diperbolehkan oleh Kak Olivia. Disisi lain Kak Olivia juga khawatir. Karena gak mungkin Bang Putra tidur satu kamar denganku dan Kak Olivia.
Kalo seandainya ini liburan pribadi mungkin gak masalah. Tapi pihak sekolah gak akan mengizinkan hal tersebut. Sekitar pukul 19.00 WIB semua anak-anak dipanggil ke Ballroom untuk makan prasmanan. Bang Putra yang saat itu juga lapar namun gak mau masuk ke Ballroom karena dia bukan siswa ataupun panitia. Namun Kak Olivia memutuskan untuk masuk ke Ballroom dan mengambilkan makanan untuk Bang Putra. Sedangkan Bang Putra duduk di lantai dekat kamarku dan Kak Olivia.
Aku sebelum menuju Ballroom dan makan mencoba menemui Bang Putra dulu “Bang nanti malem lu mau tidur dimana? Di ruang panitia?”. Bang Putra menjawab “Gak ngerti juga Gua Bell. Olivia juga gak bolehin Gua nyewa hotel. Gua pengen masuk Ballroom tapi gak enak. Katanya malem ini Olivia ngisi acara yaa?”. Aku menjawab “Iyaa Kak Olivia malem ini nyanyi di panggung Ballroom hahaha. Cuma gak tau jam berapanya”.
Selang beberapa lama Kak Olivia keluar dari kamar dengan menggunakan pakaian long dress warna biru tua lengan pendek, anting panjang di telinganya, dan sandal hak tinggi. Kak Olivia keluar kamar dan menemui Bang Putra “Sayaang? Gimana aku cantik gak? Kamu suka gak sama pakaian aku?”. Bang Putra menjawab “Itu sepatunya tinggi amat. Kamu gak kesusahan jalan kesana?”. Kak Olivia menjawab “Ayoo tuntun aku ke Ballroom. Aku juga takut jatuh sayaang hehehe”.
Bang Putra akhirnya berdiri dan nuntun Kak Olivia sampe kedepan Ballroom. Kak Olivia juga minta aku buat motoin mereka berdua. Mereka bener-bener keliatan seperti pasangan serasi. Sampe di depan pintu Ballroom Bang Putra melepas Kak Olivia “Kamu masuk sendiri yaa? Aku tunggu diluar aja. Aku gak mau masuk soalnya aku bukan siswa disini”. Kak Olivia menjawab “Kamu tunggu di kantin aja nanti aku bawain makanan. Kamu mau ngeliat aku nyanyi gak?”.
Bang Putra menjawab “Enggak hahaha. Suara kamu pasti fals dan jelek. Kamu kan gak pernah belajar nyanyi hahaha”. Kak Olivia menjawab “Hehehe aku juga merasa begitu sih. Aku juga gak pede tapi anak-anak, guru, dan panitia pada minta aku nyanyi”. Bang Putra menjawab “Aku mau mandi badanku cape banget. Aku boleh minjem kamar mandi di kamar kamu gak? Seenggaknya buat mandi aja”.
Kak Olivia menjawab “Boleh. Bell tolong anterin Kak Putra ke kamar yaa. Usahain jangan sampe ada yang liat Kak Putra masuk ke kamar kita. Dan tungguin sampe mandinya selesai. Takutnya ada yang main masuk aja ke kamar dan nyariin aku”. Aku menjawab “Ohh iyaa Kak. Aku anterin Bang Putra ke kamar kalo gitu”. Kak Olivia langsung masuk ke Ballroom dan disambut oleh para siswa dan panitia. Sedangkan aku mengantar Bang Putra masuk ke kamar.
Bang Putra bertanya “Ada air panasnya gak Bell di kamar mandi?”. Aku menjawab “Ada kok. Showernya ada air panas. Lu mau mandi pake air panas Bang?”. Bang Putra menjawab “Iyaa disini dingin pengen mandi air panas. Mandi air panas juga bisa ngilangin cape juga kan”. Aku meminta Bang Putra menunggu 5 meter dari kamar dan aku mencoba memantau situasi. Setelah aku memastikan semuanya sepi dan aman aku langsung memanggil Bang Putra untuk masuk ke kamar.
Aku langsung menutup dan mengunci pintu kamar. Bang Putra bertanya “Gua nitip barang disini bisa kali yaa? Kamarnya gede juga. Cape Gua gendong-gendong tas mulu kesana kemari”. Aku menurunkan tas yang digendong Bang Putra dan menjawab “Boleeh. Sini Gua simpenin di lemari. Nanti biar dibawa Kak Olivia besok pagi”. Aku memasukan tasnya Bang Putra ke dalam lemari dan Bang Putra masuk ke kamar mandi.
Kurang lebih 2 menit Bang Putra keluar lagi dari kamar mandi untuk ngambil sabun dan shampo yang tertinggal di dalem tas. Namun aku kaget banget karena Bang Putra keluar telanjang cuma pakai celana dalem doang. Aku berteriak menegur “Baang! Astaga lu keluar cuma pake celana dalem begitu. Ada Gua disini Bang”. Bang Putra yang lagi ngorek-ngorek tasnya menjawab “Gak apa-apa lah cuma ada lu ini kan disini”.
Aku berusaha menutup mataku untuk gak ngeliat Bang Putra yang cuma pakai celana dalem. Tapi disisi lain aku penasaran dan melting banget sama bodynya Bang Putra yang six pack dan tinggi. Jantungku berdegup sangat kencang saat itu dan aku berusaha mempertahankan kesadaranku. Setelah menemukan sabun dan shampo yang ada di tasnya Bang Putra kembali masuk ke kamar mandi. Aku mendengar suara shower air keluar dan aku lega akhirnya Bang Putra udah mulai mandi.
Namun beberapa menit kemudian Bang Putra ngebuka pintu kamar mandi dan kepalanya keluar dari celah pintu “Bell sikat gigi Gua ketinggalan di tas. Tolong ambilin dong”. Aku menjawab “Ahh Bang lu mah kebiasaan banget. Iyaudah tunggu Gua ambilin dulu”. Aku mencari sikat gigi dan pasta giginya Bang Putra di dalam tasnya. Dan gak butuh waktu lama aku berhasil menemukannya. Aku langsung menghampiri pintu kamar mandi dan memberikan sikat giginya “Ini Bang sikat gigi sama pasta giginya”.
Tapi ternyata Bang Putra tiba-tiba narik tanganku kenceng banget dan aku dibawa masuk ke kamar mandi. Air shower posisinya bersebelahan dengan pintu kamar mandi. Aku yang saat itu menggunakan kaos dan celana bahan langsung basah kuyup terkena air shower yang hangat. Aku berteriak “Baaaangg!! Ahh lu mah iseng dan usil banget sih Bang. Astaga!!”. Aku melihat Bang Putra udah telanjang gak menggunakan pakaian sehelai pun.
Aku panik dan takut tapi disisi lain aku juga merasa biasa aja karena Bang Putra adalah cowo yang aku cintain. Bang Putra berkata “Kapan lagi kan kita bisa berduaan kaya gini. Sekarang baju lu basah kuyup. Puting baik lu nyeplak ke kaos. Kebiasaan lu gak pake Bra”. Aku menjawab “Iyaa biarin suka-suka Gua dong Bang. Gua memang sering gak nyaman pakai Bra. Astaga mimpi apa Gua ngeliat lu telanjang begini”. Bang Putra tiba-tiba langsung mencium bibirku dan meremas kedua payudaraku yang udah basah kena air hangat.
Air shower terus mengalir dan semakin lama seluruh pakaianku basah sampai ke celana bahanku juga. Aku ingin berontak karena gengsi tapi disisi lain aku menginginkan ini. Semenjak Bang Putra waktu itu meremas payudaraku dan memainkan putingku. Aku malah sering kepikiran suatu saat aku dan Bang Putra akan melakukan seks. Nafsuku perlahan menaik karena ciuman mesra dan lembut dari Bang Putra dan juga remasan yang memainkan puting payudaraku yang basah. (Bersambung…. Besok Libur)
enz076 dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Kutip
Balas
Tutup