Kaskus

Story

afryan015Avatar border
TS
afryan015
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

emoticon-UltahHallooooo agan agan sekalian, masih ingat kan dengan ku Ryan si penakut hehe.......
ini adalah cerita ku selanjutnya masih dalam lanjutan cerita yang kemarin hanya saja tempatnya kini sedikit berbeda dari sebelumnya.

Mungkin bisa agan agan yang belun baca thread ane silahkan dibaca dulu thread ane sebelumnya



Bagi yang belum kenal dengan ku, kenalin Namaku Ryan dan untuk mengenal ku lebih detail silahkan baca trit ku yang sebelumnya, dan bagi yang sudah mengenalku silahkan saja langsung baca dan selamat menikmati emoticon-Shakehand2

Oh iya jangan lupa emoticon-Toast emoticon-Rate 5 Star

Quote:



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diubah oleh afryan015 06-12-2022 11:14
bebyzhaAvatar border
jiren11Avatar border
mangawal871948Avatar border
mangawal871948 dan 206 lainnya memberi reputasi
195
233K
2.6K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
afryan015Avatar border
TS
afryan015
#92
Lintas Waktu
Memang malam ini terlihat sangat pekat dari pada malam biasanya, aku teruskan berjalan kedepan setelah beberapa menit kemudian aku melihat ada sebuah lentera berjalan mendekat, suasana disekitar pun masih gelap belum menunjukan ada tanda akan ada rumah warga yang nampak, memang rumah Via ini bisa di bilang desa cukup jauh dari jalan raya.

Aku berjalan melewati lentera itu yang ternyata dibawa oleh seorang wanita tua entah dari mana, tak berselang lama aku merasa sedikit aneh, keadaan sekitar yang tadinya gelap karena malam hari, perlahan berubah menjadi terang seperti akan pagi, aku melihat kebelakang, sosok wanita tua tadi masih ada dengan pakaian yang mengingatkan ku pada nenek ku, sosok wanita itu memakai jarit sebagai pakaian bawah dan kebaya jawa khas jaman dulu.

Lentera yang tadinya menyala kemudian dia matikan karena suasana sudah menjadi terang, aku yang merasa aneh kemudian menghentikan motorku dan turun, kulihat keadaan sekitar, dan benar benar suasana disana seperti jam lima subuh.

Ini benar benar menggangguku, dan aku yakin pasti aku melewati portal, kalau bukan portal waktu pasti portal alam sebelah, seperti yang dulu pernah terjadi. Ku buka tas yang ku bawa dan ku ambil cincin pemberian bapak, cincin hitam yang beraroma wangi entah dari mana wanginya.

Ku lanjutkan perjalananku dengan motorku, terlihat didepan ada sebuah perkampungan yang baru terdiri dari beberapa rumah dengan anyaman bambu, terlihat masih sangat sepi dan hanya ada satu atau dua rumah yang mengepulkan asap tanda seseorang sedang memasak dengan kayu bakar.

Aku masih bertanya tanya sebenarnya aku berada dimana ini, sesampainya di perkampungan itu suasana sudah seperti jam sebelas siang dengan matahari yang bersinar sangat terik, terlihat juga beberapa orang sedang melakukan aktivitasnya, ada bapak bapak dengan bertelanjang dada membawa cangkul dan memakai celana kolor seperti kembali dari kebun, ada juga ibu ibu yang sedang beraktifitas di sebuah tempat seperti lumbung padi atau gudang beras kecil sedang menyaring beras dari kulitnya.

Terlihat sangat guyub suasana orang beraktifitas disana, beras yang sudah siap pun telah tertata rapi di beberapa karung yang berada disana, tak berselang lama ada dua orang menggunakan sebuah kereta kuda berwarna hitam lewat dan berhenti di depan ibu ibu tersebut.

Aku menghentikan motorku karena sangat kebingungan dengan apa yang sedang terjadi, dua lelaku dari kereta itu turun terlihat seorang pria berpakaian seperti seorang piyai atau bangsawan pribumi yang di sebut penduduk sekitar Raden dan seorang lagi sosok orang belanda atau kalau aku dengar dari penduduk tersebut memanggilnya menir, terlihat percakapan mereka seperti sedang berembuk tentang hasil beras yang ada di gudang tersebut.

Setelah selesai berembuk tentang hasil beras kedua orang itu pun pergi dengan keretanya, dan saat mereka pergi tiba tiba disekitarku berubah suasana seperti sedang tersedot oleh sesuatu dan aku tiba tiba berada depan sebuah rumah mewah dengan gaya kolonial belanda.

Waktu saat itu menunjukan jam sembilan pagi, terlihat di jam dinding di teras rumah tersebut, kulihat orang belanda itu keluar dari dalam rumah dengan pakaian serba putih dan memakai topi di ikuti seorang wanita tua membawa nampan berisi roti dan teh yang akan di letakan di meja teras untuk menemani santai orang belanda itu, nampan dan isinya telah di letakan di atas meja namun wanita itu belum beranjak dan hanya duduk di lantai sambil menunggu tuannya bersantai menikmati roti.

Dengan santai orang belanda itu duduk menikmati roti sambil membaca sebuah surat kabar yang terlihat seperti menggunakan bahasa belanda, aku hanya bisa berdiam diri tanpa bisa bergerak saat ku lihat tanggal di surat kabar tersebut menunjukan tanggal sembilan november tahun dua puluhan, pantas saja rumah rumah warga masih seperti itu dan masih terlihat sangat adem disini.

Jam sembilan lewat seperempat tiba tiba hal tak terduka terjadi, terdengar suara gemuruh entah dari mana, burung burung berterbangan bangunan yang berdiri kokoh tiba tiba bergerak dan diikuti pohon pohon juga ikut bergeraka, terasa guncangan hebat semua warga berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri masing masing, orang belanda yang sedang duduk santaipun tersentak kaget karena guncangan ini terjadi secara tiba tiba, gempa bumi besar ini terjadi di pagi hari.

Saat gempa terjadi pandanganku seolah berada di dalam lorong terdapat beberapa gambaran gambaran orang yang panik terhadap gempa ini, dan gempa ini bisa dibilang gempa yang durasinya cukup lama sekitar sepuluh menit gempa itu terasa, hingga pada akhirnya aku melihat ada seorang anak perempuan bersama bapaknya berdiri disamping bangunan besar terbuat dari kayu dan mereka berdua sedang disampingnya berpegangan pada pohon kecil disebelah bangunan tersebut, namun sangat di sayangkan saat mereka mencoba bertahan dari gempa tersebut, hal naas terjadi, bangunan kayu itu roboh, sempat aku meneriaki mereka “AAAWWAASSSS” namun percumah saja, itu hanya kilasan peristiwa sehingga suaraku takan pernah didengar mereka, dan alhasil mereka tertimpa reruntuhan dari bangunan kayu tersebut, saat ada balok kayu yang jatuh di atas kepala anak perempuan itu sempat terlihat darah muncrat dari kepalanya yang membuat aku memejamkan mata.

Saat mataku terpejam aku mendengar suara seseorang berkata
“yan sadar yan, sudah larut ini buruan pulang keburu bikin orang tuamu khawatir” suara Aruna terdengar di telingaku

Aku yang kaget tanpa sengaja menjatuhkan motorku yang masih dalam keadaan menyala, dan saat aku membuka mataku ternyata hari masih malam, lalu ku lihat jam di ponselku yang ternyata sudah menunjukan jam sepuluh malam, aku masih kebingungan dengan apa yang terjadi hingga aku hanya bisa melongo melihat keadaan sekitar masih gelap.

“sudah sudah sadar, makanya kalau lewat sini kamu kasih tanda klakson, tanda kalo kamu minta permisi sama yang ada disini” kata Aruna menyadarkanku

Saat aku benar benar tersadar ternyata aku masih berada di sebrang lapangan sepak bola sendirian gelap gulita hanya ditemani lampu dari motorku, Via juga sudah pernah mengingatkanku jika lewat sini malam hari harus setidaknya memberi klakson atau salam sebagai bentuk menghormati yang ada disini, namun karna beberapa kali aku tidak melakukan itu dan aman aman saja makanya aku dengan seenaknya seperti itu lagi.

Aku angkat motorku yang jatuh karna aku kaget tadi dan kulihat martabak yang rencana mau aku berikan pada orang tua Via jatuh berserakan karna tertimpa motorku tadi, sial dua kali jadinya pertama karna hal tadi sekarang karena martabak yang kusediakan untuk orang tua Via sudah tidak layak untuk di berikan.

Aku memutuskan untuk pulang saja karena malam sudah semakin larut, aku ambil martabak yang masih bisa di pungut untuk nanti aku buang di tempat sampah, aku putar arah untuk kembali pulang, saat au memutar arah kuliah sosok anak perempuan dan bapaknya yang tadi kulihat sekarang sedang berdiri disebalah pohon besar sambil menatapku seolah marah, mungkin karena kedatangan Aruna tadi jadi aku segera sadar, karena aku merasa bersalah karena tidak permisi saat lewat, sebelum aku pergi aku sempatkan untuk membacakan Al-Fatiha untuk merka berdua, dan saat aku akan pergi terlihat mereka berdua berubah senyum padaku.

Dalam perjalanan pulang aku berfikir apakah yang aku lihat tadi kejadian nyata atau hanya kejadian yang dibuat buat oleh mereka saja, saat aku berfikir demikian Aruna ternyata berada di belakangku sedang membonceng dan berbisik

“tadi itu kejadian nyata yan, hanya saja mereka dua orang tadi kurang terima dengan keadaan yang dialami, karena sebenarnya mereka sedang menunggu istri atau ibu dari anak perempuan itu” Aruna menjelaskan

“ah kamu ini Aruna sama aja kaya Shinta sukanya ngagetin aja, untung nggak bbuat aku banting stir” omelku pada Aruna karna muncul mendadak

“haha habisnya kamu menyetir sambil ngelamun, kan bahaya yang ada nanti kalo kamu celaka aku yang di hajar sama Shinta” ucap Aruna

“hehe Shinta ya, gimana ya kabarnya dia sekarang, Aruna aku kangen sama dia kamu bisa bantu aku ketemu dia nggak” tanyaku pada Aruna

“bisa sih, tapi kalo dia mau juga, kenapa sih Shinta terus kan ada aku disini yan” goda Aruna padaku sambil melingkarkan tanganya pada tubuhku

Batinku pinter bener pas banget tas ku taruh depan supaya nggak kena angin malam. Eh malah buat boncengan nih anak genit satu

“ah udah udah lupain ah” ucap ku kesal pada Aruna

Sesampainya aku dirumah, ibu sudah menungguku diteras tertidur duduk dikursi teras,
“noh liat karena kamu tuh yan, Ibu jadi ketiduran di kursi kan, harusnya tadi langsung pulang aja” omel Aruna padaku

“sstttt dah kamu diem aja nggak tau juga urusan manusia mau ikut campur” omelku pada Aruna

“ya kenapa biarin dong aku kan Cuma ngingetin” Aruna cemberut menunjukan ekspresi manyun padaku yang membuat aku semakin teringat sama Shinta

Aku yang melihat ibu tertidur di kursi teras, terpaksa harus membangunkannya
“buk, ibuk yuk pindah masuk dalam rumah, ibuk ngapain sih nungguin Ryan pulang kan Ryan kerja bu, bukan main” aku perlahan membangunkan ibuku

“eh kamu sudah pulang, kok malem banget sih yan, ibu tu khawatir” ibu terbangun dan langsung menanyaiku

“iya bu ada tugas tambahan tadi dari sekolahan soalnya besok mau ada Akreditasi, udah yuk masuk ibuk kedinginan ini, nih sampai dingin badanya, mana nggak pake jaket lagi” aku menuntun ibu masuk kedalam rumah

Setelah masuk kedalam rumah aku sama sekali tak melihat ada bapak, dan saat aku tanya sama ibu ternyata bapak lagi pergi ke rumah Mbah Margono, dan sudah pergi sejak tadi selepas isya, ibu langsung membuatkan ku susu anget buat ngangetin aku, selepas itu ibuku pergi ke kamar untuk tidur, kulihat ibu kelelahan menungguku di depan makanya sampai tertidur.

Aruna masuk kedalam kamar sambil membawa susu anget buatan ibu untuk ku nikmati di dalam kamar, dengan ekspresi manyun nya, Aruna ikut membuntutiku masuk kekamarku juga.
Aku terus melihat gerak geriknya, aku jadi penasaran ini beneran Aruna atau jangan jangan dia Shinta, sejak perjalanan pulang tadi aku tak merasa kalo ini adalah Aruna, sosok sedikit bawel namun juga kalem tak terlihat pada sosok Aruna yang satu ini.

Saat aku menatap nya tiba tiba dia berkata

“nggak aku ini bingung, kamu itu beneran Aruna atau Shinta si, nggak biasa biasanya gaya kecentilanmu kebangetan mirip dia” ucapku membandingkan

“hish enak aja jangan samain aku sama dia ya, dia sih emang kecentilan tapi ilmunya lebih tinggi aku lah” Aruna membantah dengan ekspresi kesal bercambur manja

“oh kalo ini aku percaya, Cuma kamu yang nggak mau di bandingin sama Shinta” jawabku yakin kalo dia Aruna

“iya lah aku tuh lebih hebat dari si centil itu” dengan gaya ganjen nya Aruna menjawab

Saat sedang membanding bandingkan Shinta dengan Aruna tiba tiba aku merasakan seperti hawa yang aku kenal, ngeri ngeri sedep bercampur wangi khas dari Shinta, dan saat itu juga Aruna seperti melihat kesalah satu sudut ruangan sambil menahan tawa, aku sempat melihat ke sudut yang di lihat oleh Aruna namun sama sekali tak ada siapapun disana.

Apakah tadi Shinta disini dan marah saat sedang di banding kan, entah lah tapi aku merasakan hawa kehadirannya di tambah yakin karena ada wangi khas dari nya, aku sempat bertanya pada Aruna namun dia malah menjawab

“ya auk ya, akusih gak peduli juga kalo dia ada disini hihihi” jawab Aruna dengan sedikti menggoda

Nenek Lasmi yang berkeliling dan lewat kamarku hanya sedikit tersenyum melihat tingkah Aruna dan aku yang sedang seperti anak kecil ngobrol nggak jelas. Tapi aku jadi pingin sekali buat belajar ilmu Rogoh Sukmo lagi karena pancingan aroma wangi khas Shinta tadi.

Singkat cerita satu minggu sudah terselesaikan, pada hari sabtu aku sempat pergi kerumah Mbah Margono untuk kembali belajar ilmu Rogoh Sukmo lagi pada malam harunya, yang ada malah hanya di ganggu oleh Aruna saja, karena kesal dengan gangguan Aruna aku putuskan untuk berhenti dulu.

Minggu hari nya aku berencana pergi ke Jogja untuk menemui Via dan membersihkan kos kosan, aku berangkat jam lima shubuh supaya nanti bisa ketemu Via lebih lama, di dalam perjalanan saat melewati kebun milik warga yang dulu aku sering di ganggu, karena hari masih sangat pagi dan sedikit gelam dijalan aku ......
itkgid
sampeuk
bebyzha
bebyzha dan 52 lainnya memberi reputasi
53
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.