Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#10
Chapter 6


Zu Min memasuki hutan larangan setelah hampir setengah jam dia melakukan perjalanan. Dengan obor di tangannya, dia menyusuri hutan sambil berteriak memanggil Zhi Ruo. Teriakan lelaki itu memecah kesunyian di dalam hutan. Pandangan matanya liar sambil melihat sekelilingnya. Yang dilihatnya hanya pohon-pohon besar dengan cahaya bulan yang terlihat samar-samar.

"Zhi Ruo!" Kembali Zu Min berteriak, tapi sama sekali tak ada balasan atau jejak dari gadis itu.

"Tuan Muda, sebaiknya kita kembali, ini sudah menjelang malam. Besok pagi kita akan mencari gadis itu lagi." Salah seorang anak buahnya yang baru datang tampak khawatir pada tuannya itu.

"Bagaimana aku bisa pulang sementara Zhi Ruo masih ada di dalam hutan ini? Sungguh aku menyesal karena sudah meninggalkannya sendiri." Zu Min terlihat menyesali diri. Walau Zhi Ruo gadis yang baru dikenalnya, tapi gadis itu mampu meraih hatinya hingga membuatnya tidak ingin kehilangannya.

"Zhi Ruo! Kembalilah, aku akan membawamu pulang!" Zu Min terus berseru memanggil nama gadis itu, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara binatang malam yang membuat bulu kuduk merinding.

"Tuan Muda, tidakkah Tuan Muda merasa aneh dengan hutan ini? Bukankah, tempat ini sudah kita lewati tadi?"

Zu Min melihat sekelilingnya dan dia menyadari kalau tempat itu memang sudah dilaluinya beberapa kali.

"Tuan, sebaiknya kita kembali saja dan besok kita akan mencari gadis itu lagi."

Zu Min akhirnya kembali dengan membawa rasa penyesalan dan kekecewaan. Sungguh, dia tidak rela jika Zhi Ruo pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata.

Sementara di dalam hutan larangan, Zhi Ruo terlihat berbaring di dalam goa. Tampak api unggun menerangi hingga ruangan di dalam goa terang benderang.

Bayangan hitam yang telah berwujud menjadi sosok manusia tampak berdiri menatap Zhi Ruo yang terbaring tak berdaya. Tatapan matanya terlihat sendu. Perlahan, sosok itu berjalan mendekati Zhi Ruo dan duduk di sampingnya sambil menutupi tubuh gadis itu dengan selembar kulit harimau.

"Takdir baik ternyata tak berpihak padamu. Sahabatmu mati di depan matamu dan ibumu mati karena kehilanganmu. Ah, kenapa aku harus bertemu denganmu di saat aku tak lama lagi akan pergi?"

Sosok yang berwujud seorang lelaki itu masih menatap Zhi Ruo, hingga perlahan gadis itu membuka matanya dan terkejut saat melihat lelaki asing yang kini duduk di sampingnya.

"Siapa kamu? Kenapa aku ada di sini?" Zhi Ruo berusaha untuk duduk, tapi kepalanya begitu berat hingga membuatnya memegang kepalanya yang kini berdenyut. "Ah, kepalaku."

"Sebaiknya, kamu istirahat saja. Jangan khawatir, aku tidak akan melukaimu. Aku hanya seorang pemburu yang kebetulan melewati tempat ini dan melihatmu terbaring tak sadarkan diri. Oh, iya. Ada jasad seorang pemuda di sampingmu saat aku menemukanmu. Jasad pemuda itu sudah aku makamkan tak jauh dari tempat ini."

Zhi Ruo masih memegang kepalanya dan mencoba untuk mengingat kajadian buruk yang menimpanya. Seketika, dia menangis saat mengingat Yuen yang rela mati untuknya. "Yuen, maafkan aku." Zhi Ruo menangis mengingat sahabatnya itu. Sahabat yang bahkan rela berkorban nyawa demi menyelamatkan dirinya.

Zhi Ruo menangis mengingat Yuen dan ibunya hingga membuatnya sesenggukan. Dia begitu sedih karena sekarang dia hidup sebatang kara. Dia bingung harus pergi ke mana karena tidak memiliki tempat untuk kembali.

"Ibu, apa yang harus aku lakukan? Aku merindukanmu ibu." Zhi Ruo menangis hingga membuat lelaki itu menatapnya iba. Walau begitu, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain duduk dan mendengar tangisan Zhi Ruo hingga gadis itu terdiam dengan sendirinya.

"Maaf, jika tangisanku sudah mengganggumu." Zhi Ruo menatap lelaki itu dari balik cahaya goa yang remang-remang.

"Tidak masalah. Sebaiknya, kamu beristirahat saja. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita."

Lelaki itu kemudian keluar dari goa dan tak lama kemudian, dia sudah kembali dengan membawa seekor kelinci dan beberapa buah di tangannya. Buah-buahan itu lantas diletakkan di dekat Zhi Ruo. "Makanlah buah-buahan ini sementara aku akan memanggang kelinci buat makan malam kita."

"Terima kasih." Zhi Ruo tersenyum sambil mengambil salah satu buah dan mulai memakannya. Sementara lelaki itu dengan telaten mulai memanggang kelinci di atas api unggun yang sudah dibuatnya.

Semerbak bau harum daging panggang menyeruak di dalam goa, hingga membuat Zhi Ruo tertegun dan duduk di depan api unggun. Tatapan matanya berbinar saat melihat lelaki itu membolak-balikkan daging kelinci di atas panggangan. Melihatnya, lelaki itu tersenyum hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dengan senyuman yang begitu menggoda.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya makan malam mereka telah siap. Zhi Ruo tersenyum saat disodorkan potongan daging panggang yang baginya terlalu banyak. "Tidakkah ini terlalu banyak buatku? Kenapa bagianmu hanya sedikit itu?" Zhi Ruo lantas memberikan beberapa potong pada lelaki itu, tetapi dengan tersenyum dia menolak.

"Makanlah, ini sudah cukup buatku. Lagipula, tadi aku sudah makan. Makanlah agar kamu bisa kembali bugar." Lelaki itu menolak dengan halus dan memberikan kembali potongan daging itu pada Zhi Ruo.

Sejenak, suasana menjadi hening karena Zhi Ruo terlihat makan dengan lahap. Sejak tadi siang, dia belum mengisi perutnya hingga saat melihat daging panggang di depannya membuat dirinya kalap. Melihat tingkah Zhi Ruo, lelaki itu kembali tersenyum.

"Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?" Pertanyaan lelaki itu sontak membuat Zhi Ruo menghentikan kunyahan di mulutnya.

"Aku tidak tahu karena aku sudah kehilangan orang-orang yang aku cintai. Jika aku keluar dari hutan ini, aku pasti akan dicari oleh orang-orang suruhan wanita itu. Ah, andai Tuan tidak menolongku, mungkin saja aku juga sudah mati di tangan mereka." Zhi Ruo perlahan menghapus air matanya, hingga membuat lelaki itu menyesal atas pertanyaannya.

"Tuan, apa Tuan akan pergi dari hutan ini? Jika Tuan mengizinkan, apa boleh aku ikut dengan Tuan? Setelah aku rasa aman dari kejaran mereka, aku akan pergi dan tidak lagi mengikuti Tuan. Apa Tuan tidak keberatan?" Zhi Ruo menatap lelaki itu dan mengharapkan jawabannya, tetapi lelaki itu hanya tersenyum.

"Aku tidak bisa meninggalkan hutan ini karena aku sudah bahagia tinggal di sini. Hutan ini adalah rumahku dan aku tidak punya rumah lain untuk pulang. Kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di sini."

Sekilas, Zhi Ruo merasa kecewa karena dia tidak ingin tinggal di dalam hutan. Dia ingin menjalani kehidupan seperti orang-orang pada umumnya.

"Kalau kamu tidak ingin tinggal di sini aku tidak akan memaksa. Besok, aku akan mengantarmu ke perbatasan hutan dan kamu bisa meninggalkan hutan ini dengan aman." Zhi Ruo lantas tersenyum dan mengangguk. Dengan lahap, dia kembali menyantap daging panggang yang masih tersisa.

"Tidurlah di sini, aku akan tidur di luar. Jangan khawatir, tempat ini sangat aman dari jangkauan manusia atau binatang buas. Tidurlah."

Lelaki itu lantas meninggalkan Zhi Ruo yang perlahan membaringkan tubuhnya di atas lantai goa yang sudah dialasi daun-daun lembut yang hangat.

Tak menunggu lama, Zhi Ruo kini terbuai dalam mimpinya. Dia tidur dengan lelap karena kehangatan di dalam goa. Sementara di mulut goa, lelaki itu masih berdiri tak bergerak dari tempatnya. Wajahnya diterpa cahaya bulan purnama yang saat itu bersinar dengan terang. Sosok lelaki yang terlihat gagah dengan rupa wajah yang sangat menawan. Wajah yang memukau dengan ketampanan bak seorang dewa.

Sekitar seribu tahun yang lalu, lelaki itu terkurung di dalam hutan karena dosa yang sudah diperbuat olehnya. Dosa yang tak patut dilakukan oleh seorang dewa. Dosa yang memaksanya untuk menjalani hukuman selama seribu tahun dan merenungi atas semua kesalahannya.

"Li Quan, jalanilah hukumanmu di hutan ini selama seribu tahun. Jangan pernah kamu membunuh karena sudah terlalu banyak manusia yang telah kamu bunuh. Kamu tidak akan pernah keluar dari hutan ini dan selama kamu di sini, renungkanlah kesalahanmu itu."

Seorang lelaki paruh baya dengan jenggot putih yang menjuntai tampak berdiri di atas bayangan putih seperti gumpalan awan. Lelaki yang sangat dihargai seluruh penduduk langit itu terlihat sangat berwibawa.

"Ayah, tidakkah Ayah kasihan padaku? Aku hanya mencintai wanita dari kalangan manusia dan apa karena itu Ayah menghukumku?"

"Li Quan! Hanya karena wanita itu kamu telah membunuh manusia. Bukankah kamu tahu kalau kita tidak boleh membunuh manusia?" Lelaki itu terlihat marah.

"Ayah, bagaimana bisa aku dihukum karena membela kehormatan wanita? Dia wanita yang aku cintai dan apa mungkin aku hanya bisa melihat manusia-manusia laknat itu menyakitinya?"

Kembali penggalan-penggalan masa lalu melintas di ingatannya. Penggalan masa lalu yang membuatnya dihukum atas tindakannya membunuh manusia yang akan menodai kekasih hatinya. Perlahan, air mata jatuh di sudut matanya karena mengingat wajah wanita yang tak pernah hilang dari ingatannya. Sejenak, dia memalingkan wajahnya menuju mulut goa dan tersenyum dengan air mata. "Apakah, kamu masih ingat padaku, Zhi Ruo?"

Rupanya, Zhi Ruo mempunyai wajah yang sangat mirip dengan wanita yang dicintai Li Quan di masa lalu. Itulah mengapa, Zhi Ruo selalu bisa selamat saat memasuki hutan larangan. Padahal, tidak satu pun manusia yang bisa keluar dari hutan larangan dengan kondisi normal. Walau tidak mati, tetapi mereka pasti akan ditemukan dalam keadaan gila dan juga lupa ingatan di sekitar hutan larangan.

Li Quan, adalah anak seorang dewa. Ketampanan wajahnya sudah sangat terkenal di Istana Langit. Banyak dewa-dewa yang iri atas ketampanannya itu dan tak sedikit para dewi yang menyanjungnya dalam diam.

Dengan ketampanannya itu, Li Quan bisa dengan mudah mendapat dewi mana pun untuk menjadi pendampingnya, tetapi sayang Li Quan sudah terlanjur jatuh hati pada sosok manusia. Wanita muda dengan kecantikan alami dan kelembuatan yang baginya sangat memukau.

Dengan diam-diam, Li Quan sering mengikuti gadis itu dalam bentuk rupa-rupa. Terkadang, dia menjadi wanita tua yang sedang kesulitan dan gadis itu selalu saja membuatnya jatuh hati dengan kebaikannya yang selalu menolong siapa saja.

Ada kalanya, dia menjadi seorang anak kecil yang menangis sendirian, dan lagi-lagi gadis itu membantu tanpa pamrih. Sungguh, tak hanya cantik, tetapi gadis itu juga memiliki hati yang sangat baik dan lembut. Itulah mengapa, dia begitu murka saat melihat wanita itu hampir dirudapaksa oleh sekelompok lelaki yang memandangnya dengan penuh nafsu. Seketika, wujud aslinya muncul. Tanpa ragu, dengan pukulan cahaya putih dari tangannya, sekelompok pria itu seketika mati dengan tragis.

"Nona, apa kamu baik-baik saja?" Li Quan mendekati gadis itu yang menangis ketakutan. Spontan, gadis itu lantas memeluknya dan menangis dalam pelukannya.

"Terima kasih, Tuan. Terima kasih." Gadis itu menangis dan perlahan Li Quan membalas pelukannya.

Sejak saat itu, mereka mulai dekat. Bahkan, mereka menjalin kasih walau gadis itu tidak mengetahui identitas dari lelaki yang sudah menolongnya itu, hingga suatu hari mereka harus berpisah karena tiba-tiba saja beberapa orang lelaki dengan jubah putih datang dan membawa paksa Li Quan pergi. Sambil menangis, gadis itu melihat Li Quan menghilang dengan orang-orang yang baginya terlihat aneh.

Gadis itu terus menangis karena kekasih hatinya telah pergi. Walau begitu, dia tetap menunggu di tempat terakhir mereka berpisah. Setiap hari, dia selalu datang ke tempat itu dan berharap akan bertemu dengan kekasihnya. Namun, hingga ajal menjemputnya mereka tidak pernah bertemu lagi, hingga dia ditemukan tak bernyawa di bawah pohon sakura yang biasa mereka jadikan tempat untuk bertemu.

Penggalan kisah di masa lalu kembali mengusiknya. Walau Zhi Ruo tak lagi mengingatnya, tapi wajah gadis itu tak pernah hilang dari ingatannya. Walau begitu, dia tidak akan membuka jati dirinya atau membuat Zhi Ruo mengingat akan dirinya. Dia sudah bertekad untuk mengeluarkan Zhi Ruo dari hutan larangan dengan selamat walau dia harus kembali merasa kehilangan.

"Maafkan aku karena kita tidak harus bersama. Aku akan melepasmu dan hiduplah dengan selayaknya. Memang takdir kita bukan untuk bersama karena dunia kita jauh berbeda." Li Quan menitikkan air mata dan menatap bulan purnama yang memancar indah di atas langit hitam.

Tanpa dia sadari, Zhi Ruo sudah berdiri di belakangnya dan ikut menatap bulan purnama. Seketika, Li Quan terkejut karena kilasan peristiwa lama kembali mengusik jiwanya. Kilasan memori indah yang pernah mereka lewati bersama. Berdua, mereka terpaku menatap keindahan bulan yang memancar cahaya indah dengan sebuah ungkapan kata cinta yang pernah terucap. "Zhi Ruo, aku mencintaimu."

To Be Continued...
gajah_gendut
tebokribo
aripinastiko612
aripinastiko612 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.