- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.8K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#9
Chapter 5
Zhi Ruo terkejut saat wanita itu menatapnya. Wajah wanita itu terlihat cantik, tapi tatapan matanya begitu tajam.
Seorang pelayan yang sering membawa semua kebutuhan Zhi Ruo selama ini hanya berdiri di samping wanita itu sambil menunduk ketakutan.
"Jadi, dia wanita simpanan suamiku?" Zhi Ruo terkejut saat mendengar pertanyaan wanita itu.
"Maafkan saya, Nyonya. Tuan muda .... " Pelayan itu terdiam saat sebuah tamparan keras menghantam wajahnya.
"Penjaga, penjarakan pelayan ini dan jangan beri dia makan dan minum selama 3 hari!" Wanita itu dengan tegas memberi perintah. Tanpa menunggu lama, dua orang penjaga lantas membawa pelayan itu pergi. Sambil menangis dan berontak, pelayan itu memohon pengampunan, tapi sama sekali tidak digubris olehnya.
Kini, tatapannya kembali tertuju pada Zhi Ruo. Ditatapnya wajah cantik yang nyatanya begitu membuatnya cemburu. "Apa karena gadis ini kamu tega mengkhianatiku?" Wanita itu membatin dengan kedua tangannya yang mengepal. Perlahan, dia melangkah masuk dan berjalan mendekati Zhi Ruo yang mulai melangkah mundur, hingga dia tersudut karena terhalang meja di tengah ruangan.
"Maaf, Nyonya. Sungguh aku tidak bermaksud untuk ada di sini. Aku dibawa paksa oleh tuan muda. Jika Nyonya mengizinkan, biarkan aku pergi dan kembali pada ibuku. Aku mohon, Nyonya!" Zhi Ruo berusaha untuk menjelaskan dan berharap wanita itu akan membebaskannya.
Tanpa berkata apa pun, wanita itu hanya tersenyum. Entah apa maksud dari senyumannya itu. Tiba-tiba, dua orang lelaki datang dan berdiri di depannya. "Maaf, Nyonya. Wanita ini tidak akan pergi ke mana-mana. Dia adalah tanggung jawab kami selama tuan muda pergi. Jadi, saya mohon agar Nyonya meninggalkan tempat ini."
Mendengar ucapan lelaki itu seketika emosinya memuncak. Dengan geramnya, dia lantas menampar lelaki itu. "Penjaga, seret wanita ini dari sini!" Seketika empat orang penjaga menghampiri Zhi Ruo dan menariknya keluar dari dalam ruangan. Dua orang anak buah Zu Min tidak bisa melakukan apa pun karena beberapa orang penjaga telah mengepung mereka.
"Tuan, tolong aku! Jangan biarkan mereka membawaku, Tuan. Tuan!" Zhi Ruo mengiba di depan anak buah Zu Min sambil berontak dan berusaha melepaskan diri, tapi lagi-lagi dia tidak berdaya dan mereka hanya bisa menundukkan wajah tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Bawa dia pergi dari sini dan bersenang-senanglah kalian dengannya. Setelah puas, bunuh dia dan buang mayatnya ke tengah hutan biar dimakan binatang buas! Aku tidak ingin suamiku bertemu dengannya lagi. Kalian paham?"
"Baik, Nyonya. Kami paham!"
Kedua matanya ditutup saat Zhi Ruo dibawa ke suatu tempat. Lima orang lelaki dengan wajah beringas tampak tertawa puas saat melihatnya menangis meminta pengampunan. Di atas kuda, dia dibaringkan seperti karung tak berharga. Walau menangis dan berontak mereka tak peduli, hingga mereka berhenti di hutan dan menurunkan tubuhnya. Penutup matanya lantas dibuka.
"Sekarang kami akan melepaskanmu, tapi sebelum itu ikutlah bermain dengan kami. Lari dan bersembunyilah dan kami akan mencarimu. Jika kami menemukanmu, maka jangan salahkan kami karena tubuhmu yang indah ini akan menjadi pemuas hasrat kami dan setelah itu beristirahatlah dengan damai di hutan ini. Jadi, berusahalah dengan keras agar kami tidak menemukanmu. Ayo, lari dan sembunyilah!" Kelima orang itu lantas tertawa saat menatap Zhi Ruo yang mulai berlari meninggalkan tempat itu.
Walau sudah berlari dan berusaha menghindar dari kejaran mereka, tapi Zhi Ruo tidak berdaya karena kelima lelaki itu masih berada di belakangnya. Bahkan, dengan mudah mereka bisa melihatnya dan tertawa saat dia jatuh berkali-kali. Zhi Ruo pasrah karena dia terlalu lelah untuk terus melarikan diri.
Kelima lelaki itu lantas turun dari atas kuda dan berjalan mendekati Zhi Ruo yang kini terduduk pasrah dengan keringat yang mangalir deras. Napasnya turun naik karena lelah berlari, hingga tiba-tiba tubuhnya diraih oleh seorang lelaki ke dalam dekapan. Wajah lelaki itu menyeringai sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah Zhi Ruo. Zhi Ruo berusaha berontak dengan memukul wajah lelaki itu, tapi lelaki itu hanya tertawa dan mendorong tubuh Zhi Ruo ke arah temannya. Zhi Ruo diperlakukan seperti mainan yang diperebutkan anak kecil.
"Ah, sebentar lagi hari akan gelap. Jadi, kita sudahi saja permaianan ini. Sebagai orang yang lebih senior dari kalain, aku berhak untuk menikmati tubuhnya terlebih dulu, setelah itu baru kalian." Zhi Ruo kini ada dalam dekapan lelaki itu dengan tubuh yang mulai melemah.
"Ayo, sayang. Kita akan mulai bersenang-senang." Lelaki itu lantas membawa Zhi Ruo menjauh dari keempat temannya dan meletakkan tubuh Zhi Ruo di atas semak. Wajahnya tampak bernafsu saat melihat keelokan tubuh Zhi Ruo yang kini tak berdaya. Tangan kasar lelaki itu lantas merobek paksa baju bagian atas Zhi Ruo hingga setengah tubuhnya hampir polos.
Terlihat wajahnya menyeringai dengan senyuman penuh nafsu, hingga dia kembali ingin melucuti baju yang dikenakan Zhi Ruo. Di saat tangan kasarnya ingin meraih baju Zhi Ruo, tiba-tiba saja lelaki itu tersungkur dengan luka tebasan di punggungnya hingga percikan darahnya terciprat ke semak-semak.
Melihat lelaki itu tersungkur tak berdaya, Zhi Ruo terkejut dan melihat seorang pemuda yang sangat dikenalnya perlahan mendekat ke arahnya. "Yuen!" Zhi Ruo menangis dan segera memeluk sahabatnya itu.
"Ayo, kita pergi dari sini!" Yuen lantas memapah Zhi Ruo yang melemah dan beranjak pergi dari tempat itu.
"Yuen, kenapa kamu bisa ada di sini? Kenapa kamu tidak menjaga ibuku?"
Langkah pemuda itu tiba-tiba terhenti. Wajahnya terlihat sedih. Walau begitu dia kembali melanjutkan langkahnya, tapi Zhi Ruo tidak ikut melangkah.
"Yuen, jujurlah padaku. Apakah ibuku sudah .... " Zhi Ruo berucap dengan air mata yang tiba-tiba jatuh.
"Sudahlah, ibumu sudah tenang dan bahagia bersama ayahmu. Sekarang, kita pergi dari sini sebelum mereka menemukan kita." Yuen lantas meraih tubuh Zhi Ruo ke atas punggungnya dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Suara tangis Zhi Ruo begitu memilukan hingga membuat Yuen ikut menangis. Perlahan, kedua tangan Zhi Ruo mendekap erat di leher pemuda itu, hingga membuatnya bisa merasakan embusan napas Zhi Ruo di telinganya. "Bertahanlah, kita akan tinggalkan tempat ini. Aku janji akan menjagamu dan tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu." Zhi Ruo mengangguk dan menyandarkan kepalanya di pundak pemuda itu.
Sementara keempat orang itu tampak naik darah saat melihat teman mereka telah tewas dengan luka menganga. "Cepat, cari perempuan itu dan bunuh dia!"
Mereka lantas naik ke atas kuda dan menyusuri hutan. Sementara Yuen tampak kelelahan, tapi dia terus memaksa untuk berjalan. "Yuen, turunkan aku. Biar aku berjalan sendiri. Kamu sudah terlalu lelah karena dari tadi menggendongku." Zhi Ruo lantas turun dari punggung pemuda itu. Melihatnya, Zhi Ruo tersenyum dan meraih tangannya. "Ayo, kita pergi. Aku tahu hutan ini dan untuk sementara kita akan sembunyi di sini."
Mereka terus melangkah hingga awan senja mulai tertutup langit malam. Senja di hutan itu terlihat sangat memukau. Warna jingga memenuhi langit dengan gurat keemasan yang perlahan tertutup awan hitam.
Sejenak, Zhi Ruo menghentikan langkahnya dan melihat ke arah hutan yang biasa dilaluinya. Seketika dia tersenyum dan meraih tangan Yuen untuk masuk ke dalam hutan yang bagi penduduk desa adalah hutan terlarang. Namun, baru saja dia melangkah, tiba-tiba Yuen tersungkur dengan anak panah yang menancap tepat di punggungnya. Seketika Zhi Ruo menatap sahabatnya itu yang kini tersungkur tak berdaya.
"Yuen!" seru Zhi Ruo sambil duduk di samping sahabatnya itu. Zhi Ruo meraih tubuh Yuen dan memeluknya erat. Sekilas, Yuen menatapnya dengan air mata yang jatuh di sudut matanya.
"Zhi Ruo, maafkan aku karena tidak bisa melindungimu. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu. Aku akan menunggumu di kehidupan yang lain dan aku berjanji aku akan menjaga dan melindungimu dengan nyawaku. Aku mencintaimu, Zhi Ruo." Tubuh Yuen yang sudah tidak berdaya lantas terjatuh ke tanah saat Zhi Ruo ditarik paksa oleh salah seorang lelaki yang mengejar mereka.
"Yuen! Yuen!" Zhi Ruo berteriak memanggil nama sahabatnya itu. Tangisannya begitu memilukan. Zhi Ruo berusaha berontak dan memandangi Yuen yang kini menatapnya nanar dan perlahan menutup mata untuk selamanya.
Zhi Ruo terus berontak dan menangis sejadinya. Dengan sekuat tenaga, dia akhirnya bisa melepaskan diri dan berlari menuju jasad Yuen yang kini telah kaku. Zhi Ruo menangis sambil menggenggam tangan sahabatnya itu, tapi sekali lagi dia ditarik paksa dan sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya hingga membuatnya terjatuh. Bukan hanya sekali, bahkan lelaki itu menamparnya untuk kedua kali hingga membuatnya terbaring tak berdaya.
Di samping jasad Yuen, Zhi Ruo terbaring dengan luka di sudut bibirnya. Tatapan matanya tak lepas dari wajah sahabatnya itu. Sambil merangkak, dia berusaha meraih tangan Yuen hingga dia menangis saat tangannya berhasil menyentuh tangan sahabatnya itu. "Yuen, aku akan menemanimu. Tunggu aku, kita akan pergi menemui ibuku." Zhi Ruo lantas mencabut anak panah di punggung Yuen dan siap melesatkan anak panah itu ke arah dadanya, tapi niatnya itu terhenti saat lelaki berwajah beringas tiba-tiba menarik anak panah itu dari tangannya.
"Apa kamu pikir semudah itu kamu akan mati? Aku tidak akan membuatmu mati dengan mudah. Aku akan menikmati tubuhmu dan mendengarmu berteriak meminta tolong. Di dalam hutan ini tidak ada yang akan mendengar teriakanmu dan aku akan menikmati setiap teriakanmu itu." Lelaki itu lantas mendekap tubuh Zhi Ruo dan melancarkan kecupan-kecupan liar ke wajahnya.
Zhi Ruo berusaha untuk berontak, tapi lagi-lagi tubuhnya didekap dengan erat hingga dia tak mampu untuk mengelak. Tubuhnya lantas dihempaskan di atas semak dan dengan gagahnya, lelaki itu mulai menggerayangi setiap bagian tubuh Zhi Ruo hingga membuatnya berteriak, "Bajingan kamu, lepaskan aku! Hentikan! Jangan sentuh aku!" Zhi Ruo masih berteriak, namun mereka hanya tertawa.
"Cepat lakukan! Aku sudah tidak sabar untuk merasakan kemarahannya. Aku suka dengan wanita agresif saat sedang bercinta." Kembali mereka tertawa.
Zhi Ruo menangis dan hanya bisa pasrah saat lelaki itu perlahan merobek pakaiannya dan di saat lelaki itu ingin menikmati tubuhnya, tiba-tiba saja angin bertiup dengan kencang. Suara dahan dan ranting saling bergesek hingga menimbulkan suara yang menyeramkan. Suara gelegar petir menyambar dengan kilatan cahaya putih menghiasi langit hitam. Butiran-butiran air hujan kini turun semakkn deras.
Melihat keanehan itu, seketika mereka terkejut. Lelaki itu lantas bangkit dari atas tubuh Zhi Ruo yang tengah menangis. Dilihatnya sekeliling hutan dan mereka mulai menyadari kalau mereka telah masuk ke dalam hutan terlarang. "Apa kita telah masuk ke dalam hutan larangan?" tanya salah seorang di antara mereka sambil melihat sekeliling.
Tiba-tiba, kabut putih mulai menutupi pandangan mereka. Terlihat sesosok bayangan yang terang dengan cahaya yang menerangi sekujur tubuhnya.
"Siapa kamu?" tanya seorang lelaki sambil menebaskan pedangnya ke arah bayangan itu. "Tunjukan dirimu dan lawan aku!"
Lelaki yang terlihat sombong itu tiba-tiba terseret ke belakang hingga tubuhnya tersandar di batang pohon dengan benturan yang sangat keras. Darah segar seketika mengucur dari mulutnya. Dia terdiam saat melihat sosok bayangan hitam yang berdiri tepat di depannya.
"Siapa kamu?" Wajah lelaki itu memucat saat melihat wajah sosok yang kini berdiri di depannya.
"Pergi kalian dari hutan ini dan jangan pernah menginjakkan kaki kalian di rumahku ini lagi. Pergi!"
Suara itu terdengar menakutkan hingga lelaki itu kencing di celana. Pasalnya, wajah sosok itu terlihat menyeringai dengan tatapan mata yang merah dengan taring tajam yang mencuat keluar dari sudut bibirnya.
Sontak saja, lelaki itu lari meninggalkan teman-temannya yang juga lari meninggalkan tempat itu. Walau jatuh bangun dan kadang menabrak pohon, mereka tak peduli dan terus berlari hingga perlahan kabut mulai menghilang. Begitu pun dengan hujan yang sudah mulai mereda.
Bayangan itu lantas mendekati Zhi Ruo yang kini telah pingsan. "Apa nasib takdirmu seburuk ini?"
Sementara itu, Zu Min terlihat marah saat dia tidak melihat Zhi Ruo di kamarnya. "Cepat, cari Zhi Ruo dan bawa dia padaku! Kalau sampai dia terluka, kalian semua akan aku bunuh!" Zu Min begitu marah hingga membuat semua pelayan menjadi takut.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu dan lihat saja, jika dia tidak kembali padaku, maka aku akan menceraikanmu!" Zu Min berucap lantang tanpa peduli dengan ayahnya yang menatapnya geram.
"Apa karena wanita murahan itu kamu tega menceraikan istrimu? Zu Min, apa kamu ingin membuat ayahmu malu?"
"Aku tidak peduli, Ayah! Aku sudah lelah dengan kekangan dari Ayah. Aku tidak pernah mencintainya dan aku hanya mencintai Zhi Ruo." Zu Min lantas keluar dari rumah dan mendapati keempat lelaki yang berlari ketakutan.
"Nyonya." Salah satu dari mereka lantas mendekati istri Zu Min.
"Ada apa dengan kalian? Apa yang terjadi?"
"Wanita itu .... "
"Ada apa dengannya? Apa yang sudah kalian lakukan padanya?" Zu Min tampak geram hingga mencengkeram leher lelaki itu.
"Bayangan hitam itu mungkin telah memakannya. Kami tidak tahu kalau kami sudah masuk ke dalam hutan larangan dan tiba-tiba makhluk mengerikan itu muncul. Mungkin saja wanita itu telah mati!"
Mendengar ucapan lelaki itu, Zu Min tersentak dan mendorong tubuhnya dengan kasar. "Tidak mungkin! Dia tidak boleh mati."
Zu Min lantas pergi ke hutan larangan dengan menunggangi kudanya. Satu kotak perhiasan yang dibawanya untuk Zhi Ruo, jatuh berhamburan di atas tanah dan dia tidak peduli dengan perhiasan-perhiasan itu karena dia takut tidak akan bertemu lagi dengan wanita yang perlahan mulai membuatnya luluh dan jatuh cinta.
"Zhi Ruo, aku mohon, jangan tinggalkan aku!"
To Be Continued…
aripinastiko612 dan 8 lainnya memberi reputasi
9