Kaskus

Story

blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:


Chapter 1

 
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
 
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
 
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
 
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
 
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
 
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
 
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
 
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.

Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.

Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.

Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu

Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
 
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
 
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
 
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
 
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
 
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
 
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
 
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
 
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
 
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
 
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
 
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
 
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
 
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
 
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
 
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
 
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
 
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
 
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
 
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
 
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
 
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
 
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
 
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
 
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
 
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.

]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.

Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.

Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"

To Be Continued…



Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
buwungpuyuh7681Avatar border
aripinastiko612Avatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.8K
128
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
blackgamingAvatar border
TS
blackgaming
#8
Chapter 4


Zhi Ruo masih terdiam dengan wajah yang menunduk. Sedangkan, pemuda yang bernama Zu Min itu kini menatap ke arahnya sambil tersenyum karena terpikat dengan kecantikannya.

"Baiklah, malam ini aku tidak ingin terburu-buru. Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Kalau boleh aku tahu, siapa namamu?" Zu Min bersikap sangat sopan, bahkan bisa dibilang sikapnya sangat lembut. Sikap yang jauh berbeda dengan sikapnya tadi siang.

"Kenapa? Jika aku memberitahumu, apa kamu akan melepaskanku?" Zhi Ruo menatapnya tanpa kedip dan mengharapkan jawaban dari pemuda itu, tapi yang didapatnya hanya gelak tawa, hingga membuatnya mengernyitkan keningnya. "Kenapa kamu tertawa, apa ada yang lucu?"

Pemuda itu lantas bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja kecil yang sudah penuh dengan aneka kudapan dan sebotol arak. Arak di dalam botol itu lantas dituangkan ke dalam cangkir dan diteguknya. Cangkir yang sudah kosong kembali dituangi arak dan cangkir penuh arak itu diberikannya pada Zhi Ruo. "Minumlah dan biarkan aku menikmati malam ini bersamamu. Sebaiknya, jangan membuatku kesal jika tidak ingin aku berbuat kasar padamu." Kini, tatapan matanya telah kembali. Tatapan mata yang penuh amarah yang tersembunyi di balik sikapnya yang tenang.

Namun, Zhi Ruo tidak peduli. Cangkir yang disodorkan padanya lantas dihempaskan, hingga cangkir itu jatuh di atas lantai. Wajah Zu Min seketika berubah. Sambil mengepalkan tangannya, dia berusaha menahan amarahnya, tapi sudah terlambat karena Zhi Ruo sudah membuatnya naik darah.

"Dasar perempuan jalang!"

Seketika Zhi Ruo terkejut saat satu tamparan keras menghantam wajahnya. Matanya memerah menahan tangis dan juga amarah. Belum sampai di situ saja, Zu Min dengan gagahnya menghempaskan tubuh gadis itu, hingga terlentang di atas tempat tidur.

"Aku sudah berusaha baik dan sopan padamu, tapi rupanya kamu tipe wanita yang suka dengan kekerasan. Baiklah, malam ini aku akan melayani kemarahanmu itu. Aku akan membuatmu marah hingga ingin membunuhku!"

Zu Min lantas mendekati Zhi Ruo yang kini berusaha untuk menghindar. Di atas tempat tidur, Zhi Ruo menangis sambil berontak dari dekapan Zu Min yang memaksa kasar hingga membuat bajunya robek. Tak hanya itu, tatapan matanya begitu beringas dengan kecupan-kecupan liar yang dipaksa mendarat di wajah cantik yang kini menangis dan mengiba.

Bukan pengampunan yang didapatkan Zhi Ruo, melainkan paksaan dan percobaan pemerkosaan yang dihadapinya. Zhi Ruo menangis dan mengiba di depan pemuda itu, tapi yang dia dapatkan hanya senyuman sinis dengan kecupan membabi buta.

Zhi Ruo yang mulai terpojok dan tak bisa lagi menghindar, terpaksa harus menerima kecupan-kecupan yang tentu saja ingin membuatnya muntah. Sekuat apa pun dia mengelak, maka sekuat itu pula Zu Min mulai melancarkan gairah yang semakin membuatnya beringas. Melihat tubuh indah Zhi Ruo yang kini setengah polos, membuat gairah kebinatangannya memuncak hingga dengan sekali tarikan, baju Zhi Ruo terlepas hingga tubuh indahnya benar-benar polos tanpa selembar benang.

Bukannya mengasihani Zhi Ruo yang kini menangis, pemuda itu malah semakin berhasrat menggerayangi keelokan tubuh polos yang kini terpampang di depan matanya. Wajahnya tersenyum lebar dengan seringai kepuasan karena sebentar lagi dia akan menikmati tubuh indah itu. Dengan segera, dia mulai membuka jubahnya dan menatap Zhi Ruo yang berusaha menutupi tubuhnya. "Sebaiknya kamu tidak usah melawan dan cobalah untuk menikmati malam ini. Aku menyukaimu dan jika kamu mengikuti apa mauku, aku bisa saja menjadikanmu istriku dan menuruti semua keinginanmu."

Zu Min mendekati Zhi Ruo yang kini tak bisa lagi berbuat apa-apa. Gadis itu telah pasrah saat tubuhnya diraih dan ditelentangkan di atas ranjang. Dia memejamkan matanya dengan bulir air bening yang kini jatuh tanpa suara. Ya, dia menangis karena dirinya akan ternoda. Dia menangis karena nasibnya kini seperti seorang wanita murahan yang dipaksa menjual tubuhnya. Dia menangis kerena dia sudah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya jika lelaki itu berhasil mendapatkan kehormatannya.

Di saat dia mulai pasrah, di saat dia merasakan tubuh pemuda itu mulai menyentuhnya dan di saat itulah bantuan Dewa datang menolongnya. Suara ketukan pintu yang cukup keras membuat Zu Min menghentikan aksinya. Walau berusaha untuk tidak memedulikan ketukan itu, tapi suara ketukan pintu semakin menjadi hingga membuatnya menjadi kesal.

"Tuan Muda, ayah Tuan sedang mencarimu." Mendengar nama ayahnya, sontak lelaki itu berdiri dan meninggalkan Zhi Ruo yang kini menutupi tubuhnya dengan selembar kain.

Zu Min lantas mengenakan kembali jubahnya dan melangkah menuju pintu dan menemui anak buah kepercayaannya itu. "Ada apa?" tanyanya kesal.

"Maaf, Tuan Muda. Ayah Tuan sudah kembali dan ingin bertemu dengan Tuan. Sekarang, dia sedang menunggu di ruang utama."

Mendengar itu, Zu Min tampak kesal. Kesenangan yang ingin dia rasakan malam ini rupanya harus tertunda. "Baiklah, katakan pada ayahku aku akan segera menemuinya."

Lelaki itu kemudian pergi. Zu Min kembali menutup pintu dan melihat ke arah Zhi Ruo yang sudah menutupi tubuhnya dengan kain. Dengan santainya, pemuda itu berjalan mendekati Zhi Ruo dan duduk di sampingnya yang kini mengalihkan pandangan ke tempat lain. Melihat sikapnya itu, Zu Min hanya tersenyum.

"Ah, sepertinya kamu satu-satunya wanita yang melawan saat aku ingin memberikan kenikmatan. Namun, aku suka dengan perlawananmu itu dan aku merasa tertantang untuk menaklukkannya. Maaf, malam ini kesenangan kita harus tertunda. Ah, kalau bukan karena ayah, aku tidak ingin beranjak dari sini."

Zu Min lantas meraih dagu Zhi Ruo dan memaksa gadis itu untuk menatapnya. "Tunggu aku. Aku akan kembali dan kita akan lanjutkan permainan kita." Zu Min membelai wajah Zhi Ruo yang telah membuatnya jatuh hati. Kecantikan Zhi Ruo nyatanya telah meluluhkan hatinya.

Zu Min akhirnya pergi setelah mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Zhi Ruo. Tanpa mengelak, Zhi Ruo terdiam dan menerima kecupan itu. Rasanya, tubuhnya terlalu lemah untuk kembali mengelak. Walau penolakan demi penolakan telah dia lakukan, tapi nyatanya semakin dia melawan semakin beringas lelaki itu ingin memilikinya. Untuk saat ini, dia bisa bernapas dengan lega karena lelaki itu telah pergi. Namun, sampai kapan dia akan berada di tempat itu tanpa ada kepastian. Rasanya, dia ingin lari dan menemui ibunya yang kini tengah sakit dan mengkhawatirkannya.

Di saat Zhi Ruo mengingat ibunya dan menangis, di saat yang sama wanita paruh baya itu juga merasakan hal yang sama. Sejak Zhi Ruo kecil, mereka tak pernah berpisah. Kemana dia pergi, Zhi Ruo kecil selalu dibawa olehnya. Kini, sakit yang dia rasakan semakin membuat tubuhnya melemah. Yuen yang selalu ada dan merawatnya, rupanya tak membuat wanita itu tenang, melainkan selalu menangis karena mengingat putrinya yang kini telah meninggalkannya.

"Bibi, ayo minum obatnya. Yakinlah kalau Zhi Ruo saat ini baik-baik saja. Jika dia kembali nanti dan melihat Bibi telah sembuh, dia pasti akan sangat bahagia." Yuen berusaha untuk menyemangatinya, tapi percuma karena itu sama sekali tiada berguna.

"Yuen, terima kasih karena sudah menemani Bibi di sini. Terima kasih karena sudah menjadi sahabat Zhi Ruo sejak kecil." Wajah renta itu tersenyum melihat pemuda yang kini duduk di depannya.

"Kamu tahu, Bibi berharap kelak kamu akan menjaga Zhi Ruo dan menjadikannya sebagai istrimu. Tidak ada laki-laki di dunia ini yang Bibi bisa percayai untuk menjaga dan menyayangi Zhi Ruo selain dirimu. Kamu pemuda yang sangat baik, tapi nyatanya Dewa tak menghendaki itu."

Terlihat, air bening jatuh membasahi wajahnya yang keriput. Begitu pun dengan Yuen yang kini menitikkan air mata karena mengingat Zhi Ruo yang kini jauh darinya.

"Bibi, aku berjanji akan menjaga dan melindungi Zhi Ruo dengan nyawaku. Apa pun yang terjadi, aku akan melindunginya, tapi untuk saat ini, aku mohon pada Bibi untuk menjaga kesehatan Bibi. Minumlah ramuan obat ini agar Bibi bisa sembuh."

Yuen mengambil secangkir air seduhan tanaman obat yang sudah diolahnya dan ingin meminumkannya pada wanita itu, tapi lagi-lagi wanita itu menolak.

"Yuen, terima kasih, Nak. Obatmu itu tidak akan lagi berguna untuk tubuh tua dan renta ini. Bibi .... " Tiba-tiba suaranya tersendat. Napasnya tersengal dengan mata yang terbuka melebar.

"Bibi!" seru Yuen sambil menggenggam tangan wanita itu.

"Yuen, tolong jaga putriku. Sampaikan salam sayang untuknya karena Bibi tidak bisa lagi bersamanya. Lihatlah di sana, ayah Zhi Ruo sudah menungguku." Wanita itu menunjuk ke salah satu sudut ruangan di mana bayangan suaminya sedang berdiri dan tersenyum padanya.

"Yuen, tolong jaga putriku." Selepas berucap, napasnya seketika terhenti dengan bulir air mata yang jatuh di sudut matanya. Wajah rentanya tampak tenang dalam tidur panjang. Yuen hanya bisa menangis dan memeluk tubuh renta yang tak lagi bernapas.

Sementara jauh di sana, Zhi Ruo terbangun dengan air mata yang tiba-tiba jatuh tanpa disadarinya. Di balik selimut yang menutupi tubuhnya, Zhi Ruo menangis karena mengingat wajah ibunya yang tiba-tiba melintas dalam mimpinya. Zhi Ruo menangis seakan dia sedang merasakan kehilangan orang terkasihnya.m, hingga dia terkejut saat pintu kamarnya terbuka.

"Tuan, tolong biarkan aku temui ibuku! Aku mohon, biarkan aku menemuinya!" Zhi Ruo menangis dan mengiba di depan lelaki itu.

"Apa yang akan kamu berikan jika aku mengabulkan permintaanmu itu? Aku butuh imbalan."

"Aku akan menjadi wanitamu. Aku tidak akan membantahmu dan melakukan apa pun perintahmu. Aku .... " Zhi Ruo tidak sanggup melanjutkan kalimatnya dan hanya bisa menangis.

"Baiklah, aku akan menyuruh orang suruhanku untuk membawa ibumu ke sini. Ah, bagaimanapun juga aku harus menjaga ibu dari wanitaku, tapi untuk saat ini kita tidak bisa bersama karena tiga hari ke depan aku harus pergi." Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap Zhi Ruo yang duduk di sampingnya.

"Kamu sangat cantik dan sudah membuatku tergila-gila padamu. Ah, andai saja aku bisa menceraikan istriku, aku pasti menjadikanmu sebagai satu-satunya wanita dalam hidupku." Lelaki itu mengembuskan napasnya kasar, tapi saat melihat Zhi Ruo, dia tersenyum dan meletakkan kepala di atas pangkuan gadis itu.

"Aku tidak ingin berbuat kasar padamu, karena itu jangan lagi membantah dan menolakku. Aku ingin memperlakukanmu dengan sebaik-baiknya. Aku sudah lelah dengan petualangan yang rasanya mulai memuakkan bagiku. Hanya demi seorang pewaris, aku harus melukai hati banyak wanita. Tidakkah di matamu aku lelaki yang tak berguna?"

Zhi Ruo menatap lelaki yang kini dalam pangkuannya dengan tatapan mengiba. Walau begitu, perbuatannya itu tidak bisa dibenarkan. Hanya demi pewaris, dia harus bertualang untuk membuktikan kalau dia bukanlah lelaki yang tak sempurna. Pernikahan yang didasari tanpa cinta baginya seperti neraka yang sengaja diciptakan atas keegoisan ayahnya.

Istrinya bukanlah wanita sembarangan. Dia adalah anak dari keluarga yang sangat terpandang. Ayahnya adalah salah satu perdana menteri yang dekat dengan raja. Pernikahan yang didasari atas rasa persahabatan antara orang tua mereka rupanya tak membawa kebahagiaan baginya.

Perlahan, Zu Min bangkit dan duduk di depan Zhi Ruo sambil menggenggam tangannya. Entah mengapa, sikapnya sangat jauh berbeda saat pertama kali mereka bertemu. Dia tak lagi menatap dengan mata liarnya. Dia tak lagi berbuat kasar dengan sikap kebinatangannya. Yang dia lakukan kini hanya menatap Zhi Ruo sambil mengelus lembut wajah cantik gadis itu.

"Maafkan aku atas perlakuanku tadi dan maafkan aku karena sudah bersikap kasar padamu. Ah, seandainya kita bertemu lebih awal, mungkin aku tidak akan menjadi lelaki brengsek seperti ini." Zu Min meraih tubuh Zhi Ruo dan memeluknya lembut.

Lelaki itu teringat kembali dengan air mata Zhi Ruo yang jatuh akibat perlakuannya. Entah mengapa, melihat Zhi Ruo menangis ada rasa bersalah di hatinya. Walau rasa itu ingin dia hempas dan terus melakukan kekerasan pada gadis itu, tapi hatinya begitu sakit karena Zhi Ruo adalah wanita pertama yang berani menolak dirinya.

"Aku harus pergi selama tiga hari dan selama itu kamu harus berdiam di sini. Jangan khawatirkan ibumu karena aku akan menyuruh anak buahku untuk menjaganya. Zhi Ruo, maafkan aku karena bertemu denganmu sebagai lelaki yang brengsek. Aku mohon, tunggu aku dan jangan pernah keluar dari kamar ini. Anak buahku akan melayanimu dengan baik."

Zhi Ruo hanya terdiam dan dia bisa melihat ada kesungguhan di setiap kata yang diucapkan lelaki itu.

Setelah mengungkapkan kesungguhan hati dan permintaan maaf, Zu Min akhirnya pergi. Sebelum pergi, lelaki itu masih sempat memeluk Zhi Ruo dan mengecup dahinya. Entah apa yang kini dirasakan oleh Zhi Ruo setelah melihat perubahan sikap lelaki itu.

Pintu kamar kemudian tertutup dan Zhi Ruo bisa melihat bayangan lelaki itu mulai menjauh. Zhi Ruo kini tampak cantik dengan hanfu yang tadi dibawa oleh Zu Min. Bahkah, saat melihat beberapa bagian tubuh Zhi Ruo yang terluka akibat dirinya, lelaki itu kembali meminta maaf dan kemudian pergi walau dia enggan meninggalkan tempat itu.

Kini, Zhi Ruo hanya berdiam diri di dalam kamar hingga lelaki itu datang menemuinya. Selama menunggu, Zhi Ruo hanya menyulam, hingga satu syal berwarna merah selesai dibuatnya.

Saat hari ketiga, Zhi Ruo sudah bersiap dengan sepasang syal yang berhasil dibuatnya. Syal berwarna merah yang bertuliskan namanya. Bahkan, dia sudah terlihat cantik dengan hanfu berwarna ungu pemberian salah satu pelayan yang ditugaskan untuk memenuhi kebutuhannya.

Menjelang siang, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Dengan tersenyum, Zhi Ruo berlari pelan menuju depan pintu, berharap lelaki itu datang da nmembawanya untuk bertemu dengan ibunya. Namun, harapannya pupus saat melihat seorang wanita yang berdiri menatapnya dengan tatapan mata penuh kebencian.

To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 18-12-2020 23:40
banditos69
gajah_gendut
tebokribo
tebokribo dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.