- Beranda
- Stories from the Heart
CATATAN VIOLET
...
TS
drupadi5
CATATAN VIOLET

Perjalanan ini akan membawa pada takdir dan misteri hidup yang mungkin tak pernah terpikirkan.
Ketika sebuah kebetulan dan ketidaksengajaan yang kita sangkakan, ternyata adalah sebuah rencana tersembunyi dari hidup.
Bersiaplah dan arungi perjalananmu
Kota Kenangan1
Kota Kenangan 2
Ardi Priambudi
Satrya Hanggara Yudha
Melisa Aryanthi
Made Brahmastra Purusathama
Altaffandra Nauzan
Altaffandra Nauzan : Sebuah Insiden
Altaffandra Nauzan : Patah Hati
Altaffandra Nauzan : the man next door
Sepotong Ikan Bakar di Sore yang Cerah
Expired
Adisty Putri Maharani
November Rain
Before Sunset
After Sunrise
Pencundang, pengecut, pencinta
Pencundang, pengecut, pencinta 2
Time to forget
Sebuah Hadiah
Jimbaran, 21 November 2018
Lagi, sebuah kebaikan
Lagi, sebuah kebaikan 2
Perkenalan
Temanku Malam Ini
Keluarga
03 Desember 2018
Jimbaran, 07 Desember 2018
Looking for a star
Ketika daun yang menguning bertahan akan helaan angin
Pertemuan
BERTAHAN
Hamparan Keraguan
Dan semua berakhir
Fix you
One chapter closed, let's open the next one
Deja Vu
Deja Vu karena ingatan terkadang seperti racun
Karena gw lagi labil, tolong biarin gw sendiri...
Semua pasti berujung, jika kau belum menemukannya teruslah berjalan...
Kepercayaan, kejujuran, kepahitan...
Seperti karang yang tidak menyerah pada ombak...
Damar Yudha
I Love You
Perjanjian...
Perjanjian (2)
Christmas Eve
That Day on The Christmas Eve
That Day on The Christmas Eve (2)
That Day on The Christmas Eve (3)
Di antara
William Oscar Hadinata
Tentang sebuah persahabatan...
Waiting for me...
Kebohongan, kebencian, kemarahan...
Oh Mama Oh Papa
Showing me another story...
Menjelajah ruang dan waktu
Keterikatan
Haruskah kembali?
Kematian dan keberuntungan
The ambience of confusing love
The ambience of love
Kenangan yang tak teringat...
Full of pressure
Persahabatan tidak seperti kepompong
Menunggu, sampai nanti...
Catatan Violet 2 (end): Mari Jangan Saling Menepati Janji
Jakarta, 20 Juni 2019 Lupakanlah Sejenak
Menjaga jarak, menjaga hati
First lady, second lady...
Teman
Teman?
Saudara
Mantan
Mantan (2)
Pacar?
Sahabat
Diubah oleh drupadi5 14-05-2021 15:13
JabLai cOY dan 132 lainnya memberi reputasi
129
23.9K
302
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#128
Kematian dan keberuntungan

Aku membuka mata. Kali ini aku tidak merasakan apa-apa lagi, terasa persis seperti aku baru saja bangun tidur setelah semalaman tertidur.
Hanya saja aku terganggu dengan segala macam alat yang menempel di badanku, terutama alat bantu nafas ini yang malah membuatku ingin bersin-bersin. Kepalaku sudah terasa ringan hanya saja tangan kiriku terasa ngilu sekarang. Aku pikir karena sakit dan rasa ngilu di tanganku ini yang membuatku terbangun.
Perlahan aku melepaskan alat di hidungku ini. Aku melihat ke sekelilingku tapi aku tidak bisa melihat apa pun selain tirai yang menutup rapat bilikku ini. Aku tidak tahu apa di luar sudah terang atau masih gelap.
Tak lama kemudian aku mendengar derap langkah mendekat dan muncul seorang perawat dari balik tirai.
Raut wajahnya tampak terkejut ketika matanya bertemu pandang denganku.
Dia segera mendekat ke tempat tidur dan sepertinya memencet tombol yang ada di dinding di samping aku berbaring.
“Saya cek tensi dan suhu tubuhnya ya,” ujarnya padaku.
Aku mengangguk saja.
“Ini di pakai lagi ya,” ujarnya hendak memasangkan lagi alat bantu nafas itu padaku
Aku menggeleng, “Saya ngga mau, itu buat hidung saya gatal,” sahutku menolak.
“Oh, sebentar…”
Dia lalu memasangkan sebuah alat yang di jepitkan di jariku.
Tak lama kemudian, beberapa orang mendatangi bilik ini. Entah apa yang mereka lakukan, semua tampak sibuk.
“Dok…” panggilku pada salah satu dokter yang baru saja selesai memeriksa mataku.
“Iya?”
“Tangan kiri saya, sakit dan ngilu banget,” sahutku
Kemudian dokter itu memeriksa tangan kiriku.
“Tangan kiri Anda patah, akan kami hubungi dokter spesialisnya.”
“Saya punya dokter sendiri, dia asisten Dokter K*** , boleh…kalau dia yang nangani tangan saya?”
Dokter itu tampak berpikir, berdiskusi dengan seorang perawat.
“Kebetulan Dokter K*** praktek di rumah sakit ini, nanti akan kami sampaikan ke beliau,” ujar salah seorang perawat.
“Hubungi sekarang, pasien harus segera di periksa,” ujar salah seorang Dokter memberi perintah.
“Apa yang Anda rasakan sekarang?” tanya Dokter yang lain padaku.
Aku berpikir sejenak. Merasakan tubuhku sendiri.
“Hm… tidak ada, hanya ngilu…di tangan ini,” sahutku menunjuk pada tangan kiriku.
“Hanya itu? Ada yang lain? Apa kepalanya masih sakit?”
Aku menggeleng.
“Saya rasanya seperti baru bangun tidur,” ujarku tersenyum pada mereka.
Sangat jelas tampak kelegaan di wajah mereka.
“Kalau begitu, sekarang Anda bisa istirahat,” ujar salah seorang perawat.
“Saya sepertinya sudah beristirahat terlalu lama, kapan saya bisa pulang?”
Perawat itu tersenyum, “Kami harus terus memantau kondisi Anda paling tidak selama dua minggu ke depan.”
“Dua minggu?” tanyaku kecewa, dua minggu itu waktu yang sangat lama, hampir setengah bulan.
“Mbak…mbak itu udah koma sekitar 20 hari pasca operasi di kepalanya Mbak. Pasca operasi besar seperti itu saja perlu waktu dua minggu lebih untuk pemulihan apalagi ditambah dengan kondisi koma, paling tidak mbak harus beristirahat selama sebulan penuh,” jelas seorang dokter yang sepertinya yang paling senior di antara mereka, “Tubuh Mbak selama ini dibantu oleh alat-alat medis begitu juga asupan makanan yang masuk ke tubuh. Sekarang ketika sudah sadar, Mbak harus memberikan waktu untuk tubuh mbak menyesuaikan lagi dengan kondisi yang baru, tidak bisa dirubah secepatnya. Ditambah lagi karena koma, kita tidak bisa mengetahui secara pasti kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi karena ini berkaitan dengan syaraf di kepala. Kami harus setiap saat memantau kondisi Mbak. Jadi, kami harap Mbak bisa bersabar.”
Aku mendengarkannya dan berusaha mengerti. Baiklah, kesempatan hidup ini harus bisa kuhargai dengan sebaiknya dengan hidup lebh baik.
Aku tersenyum pada dokter itu, “terima kasih, atas bantuan dokter dan perawat semua. Tapi, paling tidak bisa saya di pindah ke ruangan perawatan bukan di ICU?”
“Akan kami pertimbangkan lagi, begitu bisa di pindah akan kami beritahukan segera,” ujar salah seorang perawat.
Ah, pasti pindah ruangan juga belum bisa.
Setelah rombongan dokter dan perawat itu pergi, muncul mamaku di sana. Aku tersenyum ketika melihat wajahnya.
“Vio…” dia memelukku erat, menangis di pelukanku.
“Baru kali ini aku lihat mama nangis,” ujarku memeluknya yang terisak, “maafin Vio ya Ma.”
Dia melepaskan pelukannya, menghapus cepat air matanya dan menatapku dengan senyuman mengembang di wajahnya.
Baru kali ini aku melihat wajahnya tampak bahagia.
“Mama yang harusnya minta maaf sama kamu,” ujarnya.
Aku memandangnya sedih.
“Aku ngerti semua yang terjadi pasti ada alasannya. Tapi, aku ngga akan terlalu mikirin itu. Hidupku adalah sekarang. Hidup mama juga adalah saat ini sama aku. Kita jalani saja, seperti ini... ya?”
Mamaku tertawa kecil, “Mama ngga nyangka, kamu bisa berpikir seperti ini, di pikiran Mama kamu itu selalu seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.”
Aku tersenyum, “Itu karena aku memang anak mama, yang mama jaga sepenuh hati.”
Dia memelukku lagi dan mencium keningku. Entah kapan terakhir kali dia menciumku seperti ini, aku sudah tidak ingat lagi.
“Ma?” panggilku
“Ya?”
“Mama udah ketemu sama Pak Damar?”
Mama seperti terkejut mendengar pertanyaanku.
“Kamu ingat soal dia?”
Sekarang aku yang tidak mengerti dengan pertanyaan Mama.
“Maksud mama apa? Ya aku pasti ingatlah.”
“Fandra cerita sama mama kalau kemarin sewaktu kamu sempat tersadar, dia bilang, kamu tidak ingat apa pun. Bahkan Ardi dan Lisa pun kamu tidak ingat. Apa kamu hanya mengingat tentang Yud…maksud mama, Pak Damar aja?”
Aku terdiam.
“Kemarin?”
"Kemarin lusa kamu sempat tersadar tapi kata Fandra tiba-tiba kamu tidak sadar lagi sampai hari ini.”
“Sekarang hari apa?”
“Rabu, tanggal 16 Januari.”
Aku tercenung, jadi aku bukan tidur, tapi tidak sadar.
Ah, aku tidak bisa mengingat apa yang sudah terjadi pada diriku, bahkan aku tidak bisa membedakan antara pingsan dan tertidur.
“Ahh…begitu ya…”
“Sudah, sudah…. Jangan bicara soal itu! Kamu mau makan?Tapi cuma boleh bubur atau jus kata dokter.”
“Hmm… apa aja terserah mama.”
“Sebentar, mama keluar dulu ya.”
“Ma?”
Mama berbalik dan mendekatiku lagi.
“Di luar ada Fandra?”
“Ada, mau mama panggilkan?”
Aku mengangguk.
Tak lama setelah Mama keluar, Fandra muncul di depanku. Wajahnya tampak kusut. Dia terduduk di samping tempat tidurku memandangku sedih.
“Wajah kamu kenapa? Abis ngeronda?” ujarku mencoba bergurau.
Tapi dia hanya diam dan memandangku lekat.
Tiba-tiba dia berdiri dan mendekatiku, mencondongkan badannya ke atas kepalaku dan kurasakan sentuhan bibirnya di keningku. Dia mencium keningku beberapa saat lamanya sebelum kembali terduduk.
“Aku sayang kamu, Vio...,” ujarnya lirih.
Aku tidak menyahuti perkataannya dan hanya memandangnya dalam diam.
“Apa kamu tahu itu? Apa kamu juga ngerasain hal yang sama seperti yang aku rasain?”
Dia terdiam memberi jeda.
“Maaf... aku bilang ini semua ke kamu sekarang, aku takut... aku takut, aku bisa saja kehilangan kesempatan...”
“Kamu pikir, aku akan mati?” potongku cepat
“Aku ngga bilang kayak gi...”
“Emang kamu ngga bilang tapi itu kan maksud kamu?”
“Arrggh... Vio, kamu itu benar-benar kurang ajar ya?”
“Hah? Apa?” ujarku kaget karena tiba-tiba dia mengataiku kurang ajar.
“Kamu itu kurang ajar! Seenaknya kamu mainin aku!” sahutnya dengan nada meninggi.
“Maksud kamu apa?” tanyaku mencoba sabar dengan sikapnya yang tiba-tiba marah, tapi aku yakin dia tidak bermaksud benar-benar marah.
“Kamu tiba-tiba tersadar, lalu bilang kamu ngga ingat apa-apa, trus tiba-tiba ngga sadar lagi, dua hari ini aku ngga bisa ngerasain badan aku ini, semua gara-gara kamu tahu!”
Aku tersenyum.
“Bukannya kamu yang bilang sama Mama dengan begitu percaya diri, kalau kamu punya keyakinan yang besar kalau aku akan sadar dan sembuh? Kenapa sekarang kamu jadi ragu gini?”
Dia tercenung mendengar perkataanku.
“Kapan aku bilang kayak gitu? Darimana kamu tahu?”
“Bener kamu ngga inget? Woah, ternyata kamu cuma omong doang ya?” ujarku berpura-pura marah.
“Darimana kamu tahu? Mama yang ngasi tahu?”
“Sejak kapan kamu manggil Mamaku dengan sebutan ‘mama’?
“Maksudku, mama kamu, aku manggilnya ‘Ibu’.”
Aku tersenyum kecil melihatnya merengut.
“Fan, aku bisa minta tolong?”
“Apa? Tapi jangan yang aneh-aneh!”
“Ih...siapa yang aneh-aneh,” sahutku, “kamu masih inget Dokter Oscar?”
Dia mengangguk, “tentu aja, beberapa kali dia juga ke sini jenguk kamu. Oh ya, sebenarnya ada sesuatu yang ngga aku kasi tahu ke kamu soal dokter itu.”
“Apa?”
“Kamu inget waktu aku nganterin kamu ke tempat prakteknya, dia sempat memberitahu aku sesuatu tentang kamu, tapi aku ngga bilang ke kamu karena waktu itu aku pikir dokter itu aneh dan tidak bisa dipercaya.”
Aku mengerti ke mana arah pembicaraan Fandra.
“Dia bilang kalau aku akan jatuh dari tangga kan?” ujarku mendahuluinya
Dia melotot ke arahku
“Kamu tahu dari mana?” tanyanya tak sabar
“Pokoknya aku tahu aja. Sekarang boleh aku minta tolong ke kamu?”
“Apa?”
“Kamu ada kontaknya dia?”
“Ada, aku sempat minta padanya beberapa hari yang lalu sewaktu dia ke sini.”
“Bisa kamu telpon dia dan minta datang ke sini?”
“Buat apa?”
“Aku minta dia jadi dokter untuk tanganku ini,” ujarnya melihat pada tangan kiriku
“Oh itu...baik, aku telpon dia nanti.”
“Sekarang bisa?”
Dia menatapku, “Kenapa harus sekarang? Bukannya sudah ada dokter yang nanganin kamu.”
“Aku...aku ada perlu sama dia, please...”
“Soal apa?”
“Aku ngga bisa bilang sekarang, tapi aku harus bicara sama dia.”
Dia memandangku curiga. “Kasi tahu dulu,” tolaknya.
“Please Fan, ini penting banget, nanti kalau aku tiba-tiba lupa lagi gimana? Kamu mau nanggung ngga!” ancamku bercanda tapi kukira Fandra menanggapinya dengan serius.
“Iya, iya aku telponin sekarang,” sahutnya mengalah
Fandra keluar dari bilikku untuk menghubungi Oscar. Setelah beberapa saat Fandra kembali masuk ke bilikku.
“Gimana, bisa dihubungi?” tanyaku begitu dia muncul dari balik tirai
‘Dia bilang besok pagi-pagi ke sini.”
“Besok pagi?” tanyaku bingung,
“Emangnya sekarang jam berapa?”
“Jam setengah satu pagi...” ujarnya santai sambil melihat arloji di pergelangan tangannya
“Setengah satu pagi?” tanyaku sedikit terkejut.
“Iya.”
“Aku pikir pagi...”
“Iya memang udah pagi tapi masih gelap,” ujarnya nyengir jahil.
“Mama tadi bilang mau beli makan...”
“Masih ada yang buka kok, di cafetaria rumah sakit, mereka buka 24 jam.”
“Oh...”
Aku termenung sejenak melihat bilik ini. Ini bukan tempat yang aku lihat sewaktu aku terlepas dari tubuhku.
“Kenapa aku dipindah ke sini?” tanyaku pada Fandra yang sedang melihat ke layar ponselnya
Dia melihatku dan memandang seolah tidak mengerti dengan pertanyaanku.
“Ruanganku bukan yang ini kan?”
“Apa maksudmu?"
Ups, oh iya, Fandra tidak tahu apa yang terjadi padaku.
Aku tersenyum canggung, “Ngga apa-apa. Oh ya, kamu ngga kerja?”
“Ngga, aku baru saja ngabarin Ardi soal kamu, dia lagi di Jakarta sekarang.”
“Kamu ingat Ardi kan?”
“Iya...aku ingat.”
“Aku takut banget sewaktu kamu bilang kamu ngga inget apa-apa sewaktu kamu sadar pertama kali, aku pikir kamu hilang ingatan.”
“Tapi kan aku langsung bisa tahu kamu,” ujarku
“Aku memang susah di lupakan meski kamu mati dan hidup lagi, aku yakin kamu masih bisa inget aku,” ujarnya membual.
Aku tertawa kecil.
“Srek...”
Tiba-tiba tirai terbuka dan Oscar berdiri di sana.
“Kamu...” ujarku terkejut dengan kemunculannya.
Oscar perlahan mendekatiku.
“Terima kasih kamu udah kembali ke sini,” ujarnya tersenyum.
Aku pun tersenyum membalasnya.
“Aku juga tidak tahu kalau ternyata aku harus kembali ke sini, aku hanya menerima apa yang diberikan padaku.”
Wajah Oscar yang kulihat sekarang tampak lebih bersinar dari yang kulihat sebelumnya. Bukan bersinar, sih, tapi lebih ceria, tepatnya. Mungkin aura positif dalam dirinya membuat wajahnya jadi berseri-seri.
“Bagaimana ayah kamu?” tanyaku penasaran
“Kamu ingat...”
“Aku ingat semua, aku bahkan ketemu dengannya di tempat itu.”
“Oh ya?”
Aku mengangguk yakin.
“Ayahmu ngga bicara apa pun padaku, dia hanya menatap lurus ke satu arah nyaris tanpa berkedip. Karena dia hanya diam saja, jadi aku yang bicara sendiri padanya,” kataku mengingat pertemuanku dengan Om Willy.
“Kamu bilang apa?”
“Aku katakan kalau dia sangat beruntung memiliki kamu. Dia adalah ayah yang paling beruntung se-alam semesta dan...aku juga katakan kalau aku memaafkannya karena anaknya telah meminta maaf setulus hatinya padaku, dan aku tidak mungkin menolak permintaan tulus seperti itu. Dan kamu tahu... dia menoleh dan melihat ke arahku, dia...dia menangis. Jadi, aku katakan, bahwa tidak perlu bersedih lagi, aku memintanya untuk selalu melihat dan melindungi kamu dan ibumu, selama dia masih bisa melakukannya dengan cara apa pun.”
Oscar tersenyum.
“Terima kasih Vio, aku lega sekali. Terima kasih,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
“Trus... kondisi ayah kamu gimana?”
Dia tersenyum, “Ayahku sudah meninggal.”
Aku terkejut,”Oh...kenapa? Bukannya...”
Aku tidak bisa berkata-kata. Aku berpikir Om Willy bisa selamat, bukannya aku sudah memaafkannya.
“Kenapa?” tanya Oscar padaku masih dengan senyum di wajahnya. Sepertinya dia tahu apa yang kupikirkan
“Aku justru bahagia akhirnya dia bisa lepas dari sakit dan segala penderitaannya. Hanya saja karena aku tidak bisa melihatnya dan tidak bisa masuk ke alam itu, aku jadi khawatir apa dia bisa benar-benar lepas dengan tenang, tapi mendengar apa yang kamu bilang tadi, sekarang aku merasa lega.”
“Iya aku tahu, hanya saja....aneh rasanya mendengar kamu merasa senang ketika ayah kamu meninggal,” ujarku merasa agak aneh dengan sikapnya itu.
Lagi-lagi dia tersenyum, “Kematian itu adalah kebebasan dari segala penderitaan, Vio. Orang yang mati adalah orang yang beruntung. Dia lepas dari segala sakit, derita, dan kerasnya hidup. Seharusnya orang yang ditinggalkan merasa lega dan bahagia apalagi yang meninggal adalah orang yang disayang. Kita merasa sedih karena kita egois, kita hanya memikirkan diri kita sendiri, karena setelah ditinggal kita akan hidup sendirian, kita menangis bukan menangisi orang yang mati tapi kita menangisi diri kita sendiri.”
Aku terdiam mendengar cara pandangnya tentang kematian.
“Berarti aku bukan orang yang beruntung, karena aku kembali ke dunia ini,” ujarku sedih
Oscar tertawa kecil, “Aku ngga bilang orang yang hidup atau di takdirkan selamat dan hidup lagi adalah orang yang tidak beruntung. Orang-orang itu juga beruntung, termasuk kamu. Karena kamu hanya diperingatkan dengan adanya musibah itu, lalu kamu diberikan kesempatan untuk berjuang menjadi pribadi yang lebih baik lagi, memperbaiki kesalahan, atau menebus kesalahan. Berbuat yang lebih baik untuk dirimu dan orang lain jadi nanti ketika menghadapi kematian tidak perlu ada rasa takut dan justru merasa siap.”
“Begitukah?” tanyaku
“Iya...”
“Berarti aku masih kurang baik?”
“Mungkin,” dia tersenyum, “ cuma kamu yang tahu.”
Aku mengangguk-angguk, “Baiklah, ini kesempatan menjadi lebih baik lagi.”
“Bagaimana dengan mama dan papa kamu? Sudah ketemu?”
“Sudah tapi baru ketemu mama. Aku merasa tidak ada masalah yang harus dibahas lagi. Aku hanya ingin menjalani semua seperti yang seharusnya. Ada mama, ada papa, dan ada saudara, sebuah keluarga, meski tidak harus hidup bersama.”
“Menjadi orang tua mungkin suatu keunikan. Apa pun yang mereka lakukan baik atau buruk, entah kenapa, pasti akan membawa kebaikan untuk anak-anaknya,” sahut Oscar.
“Mungkin nanti kita akan tahu kalau sudah jadi orang tua,” celetukku bergurau.
“Aku ngga ngerti kalian ngomongin apa, ada yang bisa jelaskan?” Fandra tiba-tiba angkat suara, aku nyaris lupa ternyata Fandra masih di sana.
“Vio yang akan cerita sama kamu,” ujar Oscar. “Kalian sudah pacaran sekarang?”
Aku terkejut dengan pertanyaan Oscar.
“Sudah, kan aku bilang dari awal aku ini pacarnya Vio,” sahut Fandra.
“Kamu!” Aku mendelik ke arahnya.
Fandra hanya nyengir dan di balas dengan tawa Oscar.
Aku dan Oscar menceritakan semua yang aku alami pada Fandra.
Tapi sebelumnya aku katakan padanya, aku tidak akan memaksakan agar dia percaya. Kalau pun dia tidak percaya anggap saja aku bermimpi selama aku tidak sadar.

Aku membuka mata. Kali ini aku tidak merasakan apa-apa lagi, terasa persis seperti aku baru saja bangun tidur setelah semalaman tertidur.
Hanya saja aku terganggu dengan segala macam alat yang menempel di badanku, terutama alat bantu nafas ini yang malah membuatku ingin bersin-bersin. Kepalaku sudah terasa ringan hanya saja tangan kiriku terasa ngilu sekarang. Aku pikir karena sakit dan rasa ngilu di tanganku ini yang membuatku terbangun.
Perlahan aku melepaskan alat di hidungku ini. Aku melihat ke sekelilingku tapi aku tidak bisa melihat apa pun selain tirai yang menutup rapat bilikku ini. Aku tidak tahu apa di luar sudah terang atau masih gelap.
Tak lama kemudian aku mendengar derap langkah mendekat dan muncul seorang perawat dari balik tirai.
Raut wajahnya tampak terkejut ketika matanya bertemu pandang denganku.
Dia segera mendekat ke tempat tidur dan sepertinya memencet tombol yang ada di dinding di samping aku berbaring.
“Saya cek tensi dan suhu tubuhnya ya,” ujarnya padaku.
Aku mengangguk saja.
“Ini di pakai lagi ya,” ujarnya hendak memasangkan lagi alat bantu nafas itu padaku
Aku menggeleng, “Saya ngga mau, itu buat hidung saya gatal,” sahutku menolak.
“Oh, sebentar…”
Dia lalu memasangkan sebuah alat yang di jepitkan di jariku.
Tak lama kemudian, beberapa orang mendatangi bilik ini. Entah apa yang mereka lakukan, semua tampak sibuk.
“Dok…” panggilku pada salah satu dokter yang baru saja selesai memeriksa mataku.
“Iya?”
“Tangan kiri saya, sakit dan ngilu banget,” sahutku
Kemudian dokter itu memeriksa tangan kiriku.
“Tangan kiri Anda patah, akan kami hubungi dokter spesialisnya.”
“Saya punya dokter sendiri, dia asisten Dokter K*** , boleh…kalau dia yang nangani tangan saya?”
Dokter itu tampak berpikir, berdiskusi dengan seorang perawat.
“Kebetulan Dokter K*** praktek di rumah sakit ini, nanti akan kami sampaikan ke beliau,” ujar salah seorang perawat.
“Hubungi sekarang, pasien harus segera di periksa,” ujar salah seorang Dokter memberi perintah.
“Apa yang Anda rasakan sekarang?” tanya Dokter yang lain padaku.
Aku berpikir sejenak. Merasakan tubuhku sendiri.
“Hm… tidak ada, hanya ngilu…di tangan ini,” sahutku menunjuk pada tangan kiriku.
“Hanya itu? Ada yang lain? Apa kepalanya masih sakit?”
Aku menggeleng.
“Saya rasanya seperti baru bangun tidur,” ujarku tersenyum pada mereka.
Sangat jelas tampak kelegaan di wajah mereka.
“Kalau begitu, sekarang Anda bisa istirahat,” ujar salah seorang perawat.
“Saya sepertinya sudah beristirahat terlalu lama, kapan saya bisa pulang?”
Perawat itu tersenyum, “Kami harus terus memantau kondisi Anda paling tidak selama dua minggu ke depan.”
“Dua minggu?” tanyaku kecewa, dua minggu itu waktu yang sangat lama, hampir setengah bulan.
“Mbak…mbak itu udah koma sekitar 20 hari pasca operasi di kepalanya Mbak. Pasca operasi besar seperti itu saja perlu waktu dua minggu lebih untuk pemulihan apalagi ditambah dengan kondisi koma, paling tidak mbak harus beristirahat selama sebulan penuh,” jelas seorang dokter yang sepertinya yang paling senior di antara mereka, “Tubuh Mbak selama ini dibantu oleh alat-alat medis begitu juga asupan makanan yang masuk ke tubuh. Sekarang ketika sudah sadar, Mbak harus memberikan waktu untuk tubuh mbak menyesuaikan lagi dengan kondisi yang baru, tidak bisa dirubah secepatnya. Ditambah lagi karena koma, kita tidak bisa mengetahui secara pasti kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi karena ini berkaitan dengan syaraf di kepala. Kami harus setiap saat memantau kondisi Mbak. Jadi, kami harap Mbak bisa bersabar.”
Aku mendengarkannya dan berusaha mengerti. Baiklah, kesempatan hidup ini harus bisa kuhargai dengan sebaiknya dengan hidup lebh baik.
Aku tersenyum pada dokter itu, “terima kasih, atas bantuan dokter dan perawat semua. Tapi, paling tidak bisa saya di pindah ke ruangan perawatan bukan di ICU?”
“Akan kami pertimbangkan lagi, begitu bisa di pindah akan kami beritahukan segera,” ujar salah seorang perawat.
Ah, pasti pindah ruangan juga belum bisa.
Setelah rombongan dokter dan perawat itu pergi, muncul mamaku di sana. Aku tersenyum ketika melihat wajahnya.
“Vio…” dia memelukku erat, menangis di pelukanku.
“Baru kali ini aku lihat mama nangis,” ujarku memeluknya yang terisak, “maafin Vio ya Ma.”
Dia melepaskan pelukannya, menghapus cepat air matanya dan menatapku dengan senyuman mengembang di wajahnya.
Baru kali ini aku melihat wajahnya tampak bahagia.
“Mama yang harusnya minta maaf sama kamu,” ujarnya.
Aku memandangnya sedih.
“Aku ngerti semua yang terjadi pasti ada alasannya. Tapi, aku ngga akan terlalu mikirin itu. Hidupku adalah sekarang. Hidup mama juga adalah saat ini sama aku. Kita jalani saja, seperti ini... ya?”
Mamaku tertawa kecil, “Mama ngga nyangka, kamu bisa berpikir seperti ini, di pikiran Mama kamu itu selalu seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.”
Aku tersenyum, “Itu karena aku memang anak mama, yang mama jaga sepenuh hati.”
Dia memelukku lagi dan mencium keningku. Entah kapan terakhir kali dia menciumku seperti ini, aku sudah tidak ingat lagi.
“Ma?” panggilku
“Ya?”
“Mama udah ketemu sama Pak Damar?”
Mama seperti terkejut mendengar pertanyaanku.
“Kamu ingat soal dia?”
Sekarang aku yang tidak mengerti dengan pertanyaan Mama.
“Maksud mama apa? Ya aku pasti ingatlah.”
“Fandra cerita sama mama kalau kemarin sewaktu kamu sempat tersadar, dia bilang, kamu tidak ingat apa pun. Bahkan Ardi dan Lisa pun kamu tidak ingat. Apa kamu hanya mengingat tentang Yud…maksud mama, Pak Damar aja?”
Aku terdiam.
“Kemarin?”
"Kemarin lusa kamu sempat tersadar tapi kata Fandra tiba-tiba kamu tidak sadar lagi sampai hari ini.”
“Sekarang hari apa?”
“Rabu, tanggal 16 Januari.”
Aku tercenung, jadi aku bukan tidur, tapi tidak sadar.
Ah, aku tidak bisa mengingat apa yang sudah terjadi pada diriku, bahkan aku tidak bisa membedakan antara pingsan dan tertidur.
“Ahh…begitu ya…”
“Sudah, sudah…. Jangan bicara soal itu! Kamu mau makan?Tapi cuma boleh bubur atau jus kata dokter.”
“Hmm… apa aja terserah mama.”
“Sebentar, mama keluar dulu ya.”
“Ma?”
Mama berbalik dan mendekatiku lagi.
“Di luar ada Fandra?”
“Ada, mau mama panggilkan?”
Aku mengangguk.
Tak lama setelah Mama keluar, Fandra muncul di depanku. Wajahnya tampak kusut. Dia terduduk di samping tempat tidurku memandangku sedih.
“Wajah kamu kenapa? Abis ngeronda?” ujarku mencoba bergurau.
Tapi dia hanya diam dan memandangku lekat.
Tiba-tiba dia berdiri dan mendekatiku, mencondongkan badannya ke atas kepalaku dan kurasakan sentuhan bibirnya di keningku. Dia mencium keningku beberapa saat lamanya sebelum kembali terduduk.
“Aku sayang kamu, Vio...,” ujarnya lirih.
Aku tidak menyahuti perkataannya dan hanya memandangnya dalam diam.
“Apa kamu tahu itu? Apa kamu juga ngerasain hal yang sama seperti yang aku rasain?”
Dia terdiam memberi jeda.
“Maaf... aku bilang ini semua ke kamu sekarang, aku takut... aku takut, aku bisa saja kehilangan kesempatan...”
“Kamu pikir, aku akan mati?” potongku cepat
“Aku ngga bilang kayak gi...”
“Emang kamu ngga bilang tapi itu kan maksud kamu?”
“Arrggh... Vio, kamu itu benar-benar kurang ajar ya?”
“Hah? Apa?” ujarku kaget karena tiba-tiba dia mengataiku kurang ajar.
“Kamu itu kurang ajar! Seenaknya kamu mainin aku!” sahutnya dengan nada meninggi.
“Maksud kamu apa?” tanyaku mencoba sabar dengan sikapnya yang tiba-tiba marah, tapi aku yakin dia tidak bermaksud benar-benar marah.
“Kamu tiba-tiba tersadar, lalu bilang kamu ngga ingat apa-apa, trus tiba-tiba ngga sadar lagi, dua hari ini aku ngga bisa ngerasain badan aku ini, semua gara-gara kamu tahu!”
Aku tersenyum.
“Bukannya kamu yang bilang sama Mama dengan begitu percaya diri, kalau kamu punya keyakinan yang besar kalau aku akan sadar dan sembuh? Kenapa sekarang kamu jadi ragu gini?”
Dia tercenung mendengar perkataanku.
“Kapan aku bilang kayak gitu? Darimana kamu tahu?”
“Bener kamu ngga inget? Woah, ternyata kamu cuma omong doang ya?” ujarku berpura-pura marah.
“Darimana kamu tahu? Mama yang ngasi tahu?”
“Sejak kapan kamu manggil Mamaku dengan sebutan ‘mama’?
“Maksudku, mama kamu, aku manggilnya ‘Ibu’.”
Aku tersenyum kecil melihatnya merengut.
“Fan, aku bisa minta tolong?”
“Apa? Tapi jangan yang aneh-aneh!”
“Ih...siapa yang aneh-aneh,” sahutku, “kamu masih inget Dokter Oscar?”
Dia mengangguk, “tentu aja, beberapa kali dia juga ke sini jenguk kamu. Oh ya, sebenarnya ada sesuatu yang ngga aku kasi tahu ke kamu soal dokter itu.”
“Apa?”
“Kamu inget waktu aku nganterin kamu ke tempat prakteknya, dia sempat memberitahu aku sesuatu tentang kamu, tapi aku ngga bilang ke kamu karena waktu itu aku pikir dokter itu aneh dan tidak bisa dipercaya.”
Aku mengerti ke mana arah pembicaraan Fandra.
“Dia bilang kalau aku akan jatuh dari tangga kan?” ujarku mendahuluinya
Dia melotot ke arahku
“Kamu tahu dari mana?” tanyanya tak sabar
“Pokoknya aku tahu aja. Sekarang boleh aku minta tolong ke kamu?”
“Apa?”
“Kamu ada kontaknya dia?”
“Ada, aku sempat minta padanya beberapa hari yang lalu sewaktu dia ke sini.”
“Bisa kamu telpon dia dan minta datang ke sini?”
“Buat apa?”
“Aku minta dia jadi dokter untuk tanganku ini,” ujarnya melihat pada tangan kiriku
“Oh itu...baik, aku telpon dia nanti.”
“Sekarang bisa?”
Dia menatapku, “Kenapa harus sekarang? Bukannya sudah ada dokter yang nanganin kamu.”
“Aku...aku ada perlu sama dia, please...”
“Soal apa?”
“Aku ngga bisa bilang sekarang, tapi aku harus bicara sama dia.”
Dia memandangku curiga. “Kasi tahu dulu,” tolaknya.
“Please Fan, ini penting banget, nanti kalau aku tiba-tiba lupa lagi gimana? Kamu mau nanggung ngga!” ancamku bercanda tapi kukira Fandra menanggapinya dengan serius.
“Iya, iya aku telponin sekarang,” sahutnya mengalah
Fandra keluar dari bilikku untuk menghubungi Oscar. Setelah beberapa saat Fandra kembali masuk ke bilikku.
“Gimana, bisa dihubungi?” tanyaku begitu dia muncul dari balik tirai
‘Dia bilang besok pagi-pagi ke sini.”
“Besok pagi?” tanyaku bingung,
“Emangnya sekarang jam berapa?”
“Jam setengah satu pagi...” ujarnya santai sambil melihat arloji di pergelangan tangannya
“Setengah satu pagi?” tanyaku sedikit terkejut.
“Iya.”
“Aku pikir pagi...”
“Iya memang udah pagi tapi masih gelap,” ujarnya nyengir jahil.
“Mama tadi bilang mau beli makan...”
“Masih ada yang buka kok, di cafetaria rumah sakit, mereka buka 24 jam.”
“Oh...”
Aku termenung sejenak melihat bilik ini. Ini bukan tempat yang aku lihat sewaktu aku terlepas dari tubuhku.
“Kenapa aku dipindah ke sini?” tanyaku pada Fandra yang sedang melihat ke layar ponselnya
Dia melihatku dan memandang seolah tidak mengerti dengan pertanyaanku.
“Ruanganku bukan yang ini kan?”
“Apa maksudmu?"
Ups, oh iya, Fandra tidak tahu apa yang terjadi padaku.
Aku tersenyum canggung, “Ngga apa-apa. Oh ya, kamu ngga kerja?”
“Ngga, aku baru saja ngabarin Ardi soal kamu, dia lagi di Jakarta sekarang.”
“Kamu ingat Ardi kan?”
“Iya...aku ingat.”
“Aku takut banget sewaktu kamu bilang kamu ngga inget apa-apa sewaktu kamu sadar pertama kali, aku pikir kamu hilang ingatan.”
“Tapi kan aku langsung bisa tahu kamu,” ujarku
“Aku memang susah di lupakan meski kamu mati dan hidup lagi, aku yakin kamu masih bisa inget aku,” ujarnya membual.
Aku tertawa kecil.
“Srek...”
Tiba-tiba tirai terbuka dan Oscar berdiri di sana.
“Kamu...” ujarku terkejut dengan kemunculannya.
Oscar perlahan mendekatiku.
“Terima kasih kamu udah kembali ke sini,” ujarnya tersenyum.
Aku pun tersenyum membalasnya.
“Aku juga tidak tahu kalau ternyata aku harus kembali ke sini, aku hanya menerima apa yang diberikan padaku.”
Wajah Oscar yang kulihat sekarang tampak lebih bersinar dari yang kulihat sebelumnya. Bukan bersinar, sih, tapi lebih ceria, tepatnya. Mungkin aura positif dalam dirinya membuat wajahnya jadi berseri-seri.
“Bagaimana ayah kamu?” tanyaku penasaran
“Kamu ingat...”
“Aku ingat semua, aku bahkan ketemu dengannya di tempat itu.”
“Oh ya?”
Aku mengangguk yakin.
“Ayahmu ngga bicara apa pun padaku, dia hanya menatap lurus ke satu arah nyaris tanpa berkedip. Karena dia hanya diam saja, jadi aku yang bicara sendiri padanya,” kataku mengingat pertemuanku dengan Om Willy.
“Kamu bilang apa?”
“Aku katakan kalau dia sangat beruntung memiliki kamu. Dia adalah ayah yang paling beruntung se-alam semesta dan...aku juga katakan kalau aku memaafkannya karena anaknya telah meminta maaf setulus hatinya padaku, dan aku tidak mungkin menolak permintaan tulus seperti itu. Dan kamu tahu... dia menoleh dan melihat ke arahku, dia...dia menangis. Jadi, aku katakan, bahwa tidak perlu bersedih lagi, aku memintanya untuk selalu melihat dan melindungi kamu dan ibumu, selama dia masih bisa melakukannya dengan cara apa pun.”
Oscar tersenyum.
“Terima kasih Vio, aku lega sekali. Terima kasih,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
“Trus... kondisi ayah kamu gimana?”
Dia tersenyum, “Ayahku sudah meninggal.”
Aku terkejut,”Oh...kenapa? Bukannya...”
Aku tidak bisa berkata-kata. Aku berpikir Om Willy bisa selamat, bukannya aku sudah memaafkannya.
“Kenapa?” tanya Oscar padaku masih dengan senyum di wajahnya. Sepertinya dia tahu apa yang kupikirkan
“Aku justru bahagia akhirnya dia bisa lepas dari sakit dan segala penderitaannya. Hanya saja karena aku tidak bisa melihatnya dan tidak bisa masuk ke alam itu, aku jadi khawatir apa dia bisa benar-benar lepas dengan tenang, tapi mendengar apa yang kamu bilang tadi, sekarang aku merasa lega.”
“Iya aku tahu, hanya saja....aneh rasanya mendengar kamu merasa senang ketika ayah kamu meninggal,” ujarku merasa agak aneh dengan sikapnya itu.
Lagi-lagi dia tersenyum, “Kematian itu adalah kebebasan dari segala penderitaan, Vio. Orang yang mati adalah orang yang beruntung. Dia lepas dari segala sakit, derita, dan kerasnya hidup. Seharusnya orang yang ditinggalkan merasa lega dan bahagia apalagi yang meninggal adalah orang yang disayang. Kita merasa sedih karena kita egois, kita hanya memikirkan diri kita sendiri, karena setelah ditinggal kita akan hidup sendirian, kita menangis bukan menangisi orang yang mati tapi kita menangisi diri kita sendiri.”
Aku terdiam mendengar cara pandangnya tentang kematian.
“Berarti aku bukan orang yang beruntung, karena aku kembali ke dunia ini,” ujarku sedih
Oscar tertawa kecil, “Aku ngga bilang orang yang hidup atau di takdirkan selamat dan hidup lagi adalah orang yang tidak beruntung. Orang-orang itu juga beruntung, termasuk kamu. Karena kamu hanya diperingatkan dengan adanya musibah itu, lalu kamu diberikan kesempatan untuk berjuang menjadi pribadi yang lebih baik lagi, memperbaiki kesalahan, atau menebus kesalahan. Berbuat yang lebih baik untuk dirimu dan orang lain jadi nanti ketika menghadapi kematian tidak perlu ada rasa takut dan justru merasa siap.”
“Begitukah?” tanyaku
“Iya...”
“Berarti aku masih kurang baik?”
“Mungkin,” dia tersenyum, “ cuma kamu yang tahu.”
Aku mengangguk-angguk, “Baiklah, ini kesempatan menjadi lebih baik lagi.”
“Bagaimana dengan mama dan papa kamu? Sudah ketemu?”
“Sudah tapi baru ketemu mama. Aku merasa tidak ada masalah yang harus dibahas lagi. Aku hanya ingin menjalani semua seperti yang seharusnya. Ada mama, ada papa, dan ada saudara, sebuah keluarga, meski tidak harus hidup bersama.”
“Menjadi orang tua mungkin suatu keunikan. Apa pun yang mereka lakukan baik atau buruk, entah kenapa, pasti akan membawa kebaikan untuk anak-anaknya,” sahut Oscar.
“Mungkin nanti kita akan tahu kalau sudah jadi orang tua,” celetukku bergurau.
“Aku ngga ngerti kalian ngomongin apa, ada yang bisa jelaskan?” Fandra tiba-tiba angkat suara, aku nyaris lupa ternyata Fandra masih di sana.
“Vio yang akan cerita sama kamu,” ujar Oscar. “Kalian sudah pacaran sekarang?”
Aku terkejut dengan pertanyaan Oscar.
“Sudah, kan aku bilang dari awal aku ini pacarnya Vio,” sahut Fandra.
“Kamu!” Aku mendelik ke arahnya.
Fandra hanya nyengir dan di balas dengan tawa Oscar.
Aku dan Oscar menceritakan semua yang aku alami pada Fandra.
Tapi sebelumnya aku katakan padanya, aku tidak akan memaksakan agar dia percaya. Kalau pun dia tidak percaya anggap saja aku bermimpi selama aku tidak sadar.
JabLai cOY dan 6 lainnya memberi reputasi
7