- Beranda
- Stories from the Heart
Reinkarnasi Dewi Keabadian
...
TS
blackgaming
Reinkarnasi Dewi Keabadian
Spoiler for Index Chapter:
Chapter 1
Gemuruh petir menggelegar di atas langit mendung. Rintik air hujan perlahan turun dengan derasnya dan membasahi ranting pepohonan di dalam hutan. Di mulut goa, terlihat seorang gadis sedang berteduh sambil membersihkan rambut dan wajahnya dari percikan air hujan. Wajahnya tampak gelisah karena khawatir hujan tidak akan reda. Melihat langit yang mulai senja dengan mendung yang menyelimutinya, gadis itu mulai memanjatkan doa, berharap hujan yang makin deras itu akan segera reda.
Terlihat, mulut gadis itu komat-kamit sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang cantik, tampak anggun saat matanya terpejam. Doa-doa yang dipanjatkan setidaknya menjadi kekuatan tersendiri baginya. Walau doa tak henti dia panjatkan, nyatanya hujan tak juga reda. Bahkan, hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menggelegar bersahutan.
"Kenapa hujan bisa sederas ini? Padahal, siang tadi matahari bersinar sangat terik. Oh Dewa, aku mohon, hentikanlah hujan ini agar aku bisa segera pulang. Aku tidak ingin ibu mengkhawatirkanku."
Gadis itu lantas duduk di atas batu yang ada di mulut goa sembari melihat sekelilingnya. Perlahan, kabut putih mulai terlihat dan menutupi pandangannya. Gadis itu semakin panik hingga membuatnya menangis. Wajahnya dia sembunyikan di balik tekukan lutut dengan kedua tangan meremas bajunya. Gadis itu tampak ketakutan hingga membuatnya menitikkan air mata.
"Ibu, maafkan aku karena tidak mendengar perintahmu. Andai saja tadi aku mendengarkanmu, aku pasti tidak akan terjebak di sini." Kembali suara tangisannya terdengar. Dia begitu menyesal karena tidak mendengar anjuran ibunya.
"Zhi Ruo, sebaiknya kamu tidak usah naik ke gunung. Lagipula, persediaan tanaman obat kita masih ada. Ibu hanya lelah, jika Ibu sudah baikkan, Ibu akan menemanimu mencari tanaman obat di gunung."
"Tidak, Bu. Ibu sedang sakit dan Ibu tidak bisa naik ke gunung. Saat ini, permintaan obat sedang ramai-ramainya. Jika aku tidak mencari tanamam obat, bagaimana kita bisa memenuhi permintaan dari tabib-tabib itu?"
Zhi Ruo, gadis muda pekerja keras yang hidup berdua dengan ibunya di perbatasan desa. Mereka adalah pencari tanaman obat. Tanaman obat yang mereka kumpulkan akan mereka jual pada tabib-tabib di desa atau dijual ke pasar. Karena pekerjaan mereka yang lebih banyak masuk keluar gunung, mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal di perbatasan desa agar lebih mudah menuju ke gunung.
Akhirnya, dengan semangat, Zhi Ruo pergi ke gunung dan mencari tanaman obat yang hampir habis. Berbekal sebuah keranjang yang tergantung di punggungnya, Zhi Ruo masuk keluar hutan di atas gunung dan mendapatkan tanaman obat yang sudah memenuhi keranjangnya.
Namun naas, karena banyaknya tanaman obat yang dilihatnya tumbuh melimpah membuatnya lupa akan waktu hingga dia tersadar saat melihat langit yang mulai senja. Dengan sedikit berlari, Zhi Ruo mulai meninggalkan hutan itu, tapi hujan tiba-tiba turun hingga membuatnya terjebak di mulut goa.
Zhi Ruo masih menelungkupkan wajahnya, hingga perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat langit mulai menghitam. Seketika, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Suara jangkrik mulai terdengar dengan diringi suara hujan yang mulai mereda. Namun, sudah tidak mungkin baginya untuk kembali karena di saat malam, dia tidak bisa melihat jalan menuju rumahnya dan dia begitu takut jika hari mulai gelap. Akhirnya, dia memutuskan untuk menginap di dalam goa itu
Sementara di rumahnya, sang ibu terlihat begitu khawatir. Wanita paruh baya itu tampak mondar-mandir di depan pintu karena mengkhawatirkan anak gadisnya yang belum juga pulang. "Putriku, kenapa kamu belum juga kembali? Kenapa kamu begitu keras kepala hingga tak peduli ucapan ibumu ini?" Wanita itu tampak menitikkan air mata saat mengingat putrinya yang kini ada di atas gunung sendirian di malam buta. Rasanya, dia ingin menyusul putrinya itu, tapi apalah dayanya.[/font]
Di dalam goa, Zhi Ruo mulai menangis. Walau dia sering naik ke gunung dan menyusuri hutan sendirian, dia tidak akan takut. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat hari mulai malam. Rasanya, bagaikan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya.
Di dalam goa suasana begitu gelap. Tanpa ada penerangan, Zhi Ruo duduk dan bersandar di dinding goa. Suara tangisnya menggema dan memantul dari dinding di dalam goa. Walau matanya terbuka, nyatanya terlihat begitu gelap dengan sesekali cahaya yang terlihat dari petir yang menyambar dan memantul ke dalam goa.
"Dewa, bantu aku. Aku takut dengan kegelapan ini." Zhi Ruo kembali menangis. Suara tangisnya terdengar memilukan. Suara hujan di luar goa sudah mulai mereda. Walau begitu, Zhi Ruo tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk menangis.
Hingga tiba-tiba, matanya menangkap seberkas cahaya yang perlahan menuju ke arahnya. Melihat cahaya itu, Zhi Ruo bangkit dan mendekati cahaya yang berterbangan hingga memenuhi ruangan di dalam goa. Kerlap-kerlip cahaya itu membuatnya merasa tenang dan juga tersenyum saat melihat keindahan cahaya yang berterbangan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian diutus para Dewa untuk menemaniku di sini?" Zhi Ruo mendekati cahaya yang berterbangan itu dan mengambil salah satu cahaya dan meletakkannya di atas telapak tangannya.
"Kunang-kunang yang sangat cantik. Terima kasih karena kalian mau menemaniku di sini." Zhi Ruo tersenyum dan mengedar pandangannya ke sekeliling ruangan goa. Rupanya, ruangan di dalam goa itu cukup luas. Walau hari telah larut dan udara dingin yang bertiup dari mulut goa, tidak membuat Zhi Ruo merasa kedinginan.
Entah mengapa, udara di dalam ruangan goa terasa begitu hangat. Seakan ada tumpukan api di dekatnya. Kunang-kunang bahkan terlihat begitu indah karena berterbangan mengelilingi ruangan goa. Zhi Ruo terpana dan menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya.
"Ibu, tidurlah. Aku di sini baik-baik saja. Dewa telah mengirimkan kunang-kunang yang cantik untuk menemaniku di sini." Zhi Ruo lantas berbaring di atas lantai goa yang sudah dialas dengan rumput-rumput yang entah sudah ada sejak kapan. Rumput-rumput itu begitu hangat dan nyaman hingga membuatnya tertidur dan terbuai di alam mimpi.
Wajah Zhi Ruo tampak cantik saat kunang-kunang terbang di sisi wajahnya. Seakan, wajahnya sengaja diperlihatkan melalui cahaya kunang-kunang itu.
"Temanilah dia hingga pagi. Jangan biarkan dia terbangun dan hangatkan dia dengan cahaya kalian." Terdengar suara seseorang yang berbicara dengan kunang-kunang. Perlahan, kunang-kunang itu mulai mengerubungi tubuh Zhi Ruo seakan mengikuti perintah suara itu.
Benar saja, Zhi Ruo tampak tersenyum dalam tidurnya. Wajahnya yang cantik terlihat memukau dengan cahaya kunang-kunang yang menyinari wajah cantiknya. Rambutnya yang terurai panjang terlihat bak benang sutera yang akan dipintal. Rambutnya lurus, hitam dan terurai lepas.
"Apakah ini yang namanya manusia? Bukankah, manusia itu hanya seonggok daging tak berguna?" Suara itu kembali terdengar. Suara yang terdengar berat dan datar itu rupanya masih belum beranjak dari dalam goa. "Sebaiknya, aku harus pergi dan kalian tetaplah bersamanya. Terima kasih karena kalian sudah membantuku menjaganya. Dengan begitu, hari pembebasanku semakin dekat. Aku pergi dulu." Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam keluar dari dalam goa dan menghilang di balik semak belukar.
Sementara kunang-kunang masih mengelilingi tubuh Zhi Ruo dan menghilang saat ayam hutan mulai berkokok. Di saat itulah, Zhi Ruo mulai merasa kedinginan karena hawa dingin mulai menyeruak masuk dari mulut goa. Gadis itu perlahan membuka matanya dan melihat seberkas cahaya yang mulai menerangi ke dalam goa. Matahari pagi tampak bersinar saat dia bergegas keluar dan berdiri di depan mulut goa. Ah, aroma rumput dan tanah basah menggelitik hidungnya hingga membuatnya menghirup aroma itu dan mengembuskannya lembut dengan mata yang terpejam.
"Ah, segarnya. Ternyata, hutan ini tak hanya penuh dengan tanaman obat, tapi juga mempunyai udara yang sangat segar. Terima kasih Dewa, karena aku bisa merasakan keindahan yang tak terduga ini. Aku menyukai hutan ini dan aku akan sering datang ke sini." Gadis itu tampak tersenyum. Wajah cantiknya terlihat begitu memukau dengan senyuman yang terpancar dari sudut bibirnya yang merekah indah. Gigi putihnya tersusun rapi dipadukan dengan bibirnya yang merah alami. Hidungnya cukup mancung dan alis yang terlukis rapi dengan cat hitam mahakarya dari Sang Pencipta.
Zhi Ruo lantas mengambil keranjang yang masih teronggok di dalam goa. Dengan cekatan, keranjang itu lantas dipanggulnya. Sebelum pergi, dia masih memandangi sekeiling goa dan perlahan menundukan setengah badannya. "Terima kasih karena semalam sudah menemaniku. Aku tahu, tidak mungkin kunang-kunang itu sengaja masuk menemaniku. Siapapun dirimu, aku, Zhi Ruo sangat berterima kasih. Semoga saja, aku bisa membalas jasa baikmu." Zhi Ruo masih menunduk dan perlahan mengangkat kepalanya saat embusan angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Seketika, dia tersenyum dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dari jauh, sepasang mata tampak memerhatikannya. Tatapan mata itu terlihat tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsanya. Dari balik semak, dia memerhatikan Zhi Ruo yang perlahan menghilang di balik pepohonan.
Tanpa kendala, Zhi Ruo akhirnya bisa keluar dari dalam hutan dan tiba di rumahnya dengan selamat. Melihat kedatangannya, sang bunda berlari ke arahnya dan memeluknya. "Putriku, apa yang terjadi? Kamu sudah membuat Ibu khawatir." Wanita renta itu tiba-tiba menangis karena putri semata wayangnya sudah kembali dengan selamat.
"Sudahlah, Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah membuat Ibu khawatir. Kemarin, sebenarnya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba hujan turun dengan deras dan kabut tebal menutup jalanku. Untung saja aku bisa berlindung di dalam goa. Kalau tidak, aku mungkin saja sudah mati kedinginan di hutan itu."
Penjelasannya sontak membuat ibunya menjadi heran. Pasalnya, kemarin sore tidak ada hujan yang turun. Bahkan, dari rumahnya, dia bisa melihat keadaan hutan yang masih terang tanpa diselimuti kabut.
"Putriku, apa kamu melihat sesuatu yang aneh di atas sana?"
"Tidak ada, Bu. Semuanya biasa saja, tapi hanya sekumpulan kunang-kunang yang sudah menemaniku dan menerangi di dalam goa. Ibu tahu, belum pernah aku merasakan tidur yang begitu lelap seperti semalam. Rasanya, aku enggan membuka mataku karena kelembuatan dan kenyamanan tempat itu."
Mendengar penjelasan Zhi Ruo, wanita itu merasa ada sesuatu yang aneh. Hujan yang turun tiba-tiba dan kabut yang tiba-tiba muncul, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Kunang-kunang sudah menjadi cerita turun temurun dari orang terdahulu kalau di hutan sana ada satu makhluk yang menjaga hutan itu. Makhluk tak kasat mata yang berupa kumpulan kunang-kunang yang menyerupai sosok manusia.
"Putriku, mulai saat ini, kamu jangan pernah lagi naik sampai ke puncak sana. Carilah tanaman obat di sekitar hutan ini saja. Ibu khawatir karena ada makhluk menyeramkam yang mendiami hutan itu. Bisa saja, semalam kamu sengaja dibuat menginap di sana."
Zhi Ruo tersenyum dan memeluk ibunya. "Ibu, jangan khawatir, putrimu ini bisa melindungi diri. Lagipula, kalau pun makhluk itu ada, tidak mungkin dia akan membiarkanku kembali ke desa. Bisa saja dia akan membunuhku dan menjadikanku sebagai santapannya. Namun, itu tidak terjadi, bukan?" Zhi Ruo tersenyum dan mencoba menenangkan hati ibunya.
"Sebaiknya, aku harus bersiap ke pasar untuk menjual tanaman obat yang sudah aku dapat. Pulang nanti, aku akan membeli kebutuhan di dapur yang sudah habis. Aku akan memasak makanan kesukaan Ibu." Zhi Ruo lantas bangkit dan menyiapkan tanaman obat untuk dibawanya ke pasar. Wajahnya tampak gembira saat melihat tanaman obat yang sebenarnya cukup langka. Hal itulah yang membuatnya berani memasuki kawasan hutan yang telah menjadi hutan terlarang sejak dulu. Hutan yang tidak berani dilalui oleh siapa pun karena keangkeran dan penampakan makhluk menyeramkan.
]Sementara di dalam hutan, tampak sosok yang berupa bayangan hitam berkelebat di atas pohon. Sosok yang menyerupai bayangan manusia itu dengan lincahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Terkadang, terdengar suara tawa yang memengakkan telinga hingga membuat burung-burung di hutan itu beterbangan. Suara tawa yang terdengar begitu menakutkan di telinga para penduduk desa. Di saat suara itu terdengar, semua penduduk akan masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di sana.
Dan kini, suara itu terdengar. Suara tawa yang menggema hingga membuat Zhi Ruo menatap ke dalam hutan. "Diamlah, kamu sudah membuat orang-orang ketakutan dengan suaramu itu. Tidakkah kamu berpikir kalau suaramu itu sangatlah jelek!" Zhi Ruo berucap dengan lantang dan menghadap ke arah hutan. Seketika, suara itu tak lagi terdengar.
Tanpa disadarinya, bayangan itu kini menatap ke arahnya dari balik pohon yang menjulang. Tatapan bak mata seekor elang yang menatap tajam. "Manusia yang aneh. Kenapa dia sama sekali tidak takut padaku?"
To Be Continued…
Diubah oleh blackgaming 27-01-2021 10:52
sormin180 dan 42 lainnya memberi reputasi
39
12.6K
128
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
blackgaming
#2
Chapter 3
Zhi Ruo terkejut saat melihat sebatang pohon dengan ukuran tak terlalu besar teronggok di atas tanah. Bekas tebasan di pohon itu membuatnya merasa heran. Pasalnya, bekas tebasan terlihat begitu rapi tanpa cela.
"Apa manusia biasa bisa melakukan hal semacam ini? Rasanya, itu tidak mungkin!" Zhi Ruo membatin sambil memegang bekas tebasan. "Apa mungkin, suara yang aku dengar semalam itu adalah suara makhluk yang dimaksud ibu?" batinnya kembali.
Zhi Ruo melanjutkan perjalanannya menuju hutan di atas gunung. Kemarin, dia belum sempat mengambil beberapa tanaman obat karena keranjangnya sudah penuh. Dan kini, dia harus kembali untuk mengambilnya.
Zhi Ruo berjalan sambil memerhatikan tanaman-tanaman yang ada di sekelilingnya dan berharap menemukan tanaman ubi atau ginseng yang tumbuh liar. Pandangan matanya begitu lincah. Dalam sekali lihat saja, dia bisa tahu kalau tanaman itu mengandung racun atau obat. Semua keahliannya itu didapatkannya dari sang ibu yang selalu mengajaknya ke hutan sejak dia masih kecil dulu.
Hutan itu bukan tempat asing bagi Zhi Ruo. Hanya saja, dia tidak pernah melewati batas hutan yang terlarang. Hutan yang dipercaya mempunyai penunggu yang sangat menyeramkan.
Zhi Ruo masih terus berjalan, tapi hasil yang didapatnya tak seperti biasanya. Isi keranjangnya masih setengah dan jauh dari harapannya. Padahal, dia yakin kemarin banyak tanaman obat di hutan itu. "Apa jangan-jangan, ada orang lain yang juga mencari tanaman obat di hutan ini?" gumamnya sambil melayangkan pandangan ke sekelilingnya.
Tak terasa, sudah setengah hari dia ada di dalam hutan dan belum juga mendapat hasil yang memuaskan. "Ah, apa aku harus masuk ke hutan terlarang itu? Tapi, jika sesuatu terjadi padaku, ibu pasti akan sedih dan menderita. Ah, sebaiknya aku kembali saja." Zhi Ruo lantas berbalik dan bermaksud untuk pulang, tapi tiba-tiba saja dia menjadi bingung saat melihat jalan di depan yang terasa asing baginya.
"Ini di mana? Bukankah, tadi aku hanya berdiri di depan perbatasan hutan terlarang? Kenapa tiba-tiba saja jalanan ini sangat asing bagiku?" batin Zhi Ruo sambil mengedarkan pandangan dan menatap sekelilingnya. Dan, betapa dia terkejut saat melihat tanaman obat yang tumbuh melimpah di dekatnya. Sontak, rasa takut yang sempat menghantuinya berganti dengan rasa takjub dan gembira hingga membuatnya tersenyum.
Sambil berlari kecil, Zhi Ruo mendekati tanaman-tanaman itu dan mencabutnya. Tak hanya tanaman obat, tapi tanaman ubi dan ginseng pun tak luput dari jangkauannya. Semuanya terasa begitu mudah bagaikan sengaja disediakan untuknya.
Tak terasa, keranjangnya kini telah penuh dengan tanaman obat, ginseng dan ubi. Karena kelelahan, Zhi Ruo memilih untuk beristirahat sejenak sambil menyantap bekal yang tadi dibawa. "Ah, hari ini aku sangat beruntung. Aku bisa mendapatkan hasil yang cukup melimpah. Dewa, terima kasih karena sudah membantuku hari ini." Zhi Ruo tersenyum dan mengucap syukur.
Tanpa disadarinya, sesosok bayangan tampak memerhatikannya dari balik pepohonan. Wajahnya samar dengan sorot mata yang tak biasa. Matanya tak lagi memerah, bahkan tatapan mata itu terlihat sendu. Hanya saja, bayangan itu sengaja menyembunyikan diri seakan enggan untuk menampakkan dirinya.
Dari balik pohon, bayangan itu masih melihat ke arah Zhi Ruo. Terkadang, senyuman gadis itu membuatnya menatap tanpa kedip. Dia begitu terpana dengan rupa wajah Zhi Ruo yang nyatanya bisa mengalihkan perhatiannya. Terkadang, bibirnya memaksa tersenyum saat melihat Zhi Ruo yang tersenyum melihat tanaman obat yang sudah terkumpul di dalam keranjang. Rasanya, senyuman itu begitu menarik perhatiannya.
"Dia ternyata begitu polos. Aku tidak boleh tergoda dengannya. Aku hanya ingin membantunya agar dia bisa menghidupi ibunya. Ah, masih butuh lima purnama lagi agar aku bisa bebas. Rasanya, aku sudah tidak sabar untuk meninggalkan hutan ini dan kembali ke tempat asalku. Sebaiknya, aku harus membawanya kembali dan membuka jalan keluar untuknya."
Benar saja, dengan mudahnya Zhi Ruo kembali menuju ke rumahnya. Tanpa kendala, dia melewati hutan larangan dan tiba tanpa kurang suatu apa pun. Walau heran, dia berusaha menepis perasaannya itu dan menganggap kemudahan itu adalah anugerah dari Sang Pencipta untuknya.
Seperti biasa, Zhi Ruo harus membawa tanaman obat untuk dijual. Setelah memilih tanaman obat yang layak jual dan sesuai jenisnya, dia akhirnya membawanya ke pasar untuk menjualnya. Baru saja dia akan meninggalkan rumahnya, terlihat beberapa orang pemuda datang menuju ke arahnya.
Zhi Ruo masih melihat mereka, hingga sampai di depannya, seorang pemuda lantas menyerahkan selembar surat perintah yang menyatakan kalau dirinya wajib mengikuti mereka karena sudah terpilih menjadi salah satu pelayan di kediaman keluarga Zu. Sontak saja, dia terkejut. Begitupun dengan ibunya yang kini berdiri di belakangnya.
"Apa maksud kalian dengan surat perintah ini? Kalian tidak punya hak untuk memperlakukanku seperti ini! Aku bukan pelayan dan aku tidak akan pernah menjadi pelayan bagi siapa pun! Lepaskan tanganku!" Zhi Ruo berusaha mengelak saat dua orang pemuda memegang tangannya dengan paksa.
"Putriku! Lepaskan putriku! Kenapa kalian harus membawanya? Lepaskan dia!" Wanita itu tak terima jika putri semata wayangnya dibawa pergi. Walau sakit, dia tak peduli dan berusaha melepaskan tangan salah seorang pemuda dari tangan putrinya. Walau dia menangis, nyatanya mereka tak peduli, bahkan mendorong tubuhnya hingga jatuh ke belakang.
"Ibu!" seru Zhi Ruo sambil berusaha melepaskan diri, tapi dia tidak mampu karena tangannya dicekal dengan sangat kuat.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Zhi Ruo masih berusaha berontak, tapi tetap tak ada guna. Di saat dia lemah dan pasrah, di saat itulah Yuen datang dan menghampiri ibunya yang tengah menangis.
"Bibi, apa yang terjadi?"
"Mereka mau membawa Zhi Ruo untuk dijadikan pelayan di kediaman keluarga Zu. Yuen, tolong bujuk mereka untuk tidak membawa Zhi Ruo. Bibi mohon, tolong jangan biarkan mereka membawa Zhi Ruo!" Wanita itu menangis hingga membuatnya tak sadarkan diri. Melihat ibunya yang kini jatuh pingsan, Zhi Ruo tak kuasa menahan tangis.
"Ibu!" pekik Zhi Ruo sambil berusaha melepaskan diri. Namun, kedua pemuda itu membawanya dengan paksa hingga membuatnya meronta di sepanjang jalan.
"Jangan khawatir, aku akan menjaga ibumu. Zhi Ruo, jaga dirimu, serahkan ibumu padaku." Yuen berucap sembari menatap kepergian sahabatnya itu. Rasanya, dia bagai lelaki bodoh karena tak punya nyali dan kekuatan untuk melawan. Bukannya tak mampu, tapi dia takut perlawanannya akan membawa dampak buruk baginya dan juga Zhi Ruo.
Yuen lantas membawa ibu Zhi Ruo ke dalam rumah dan merawatnya. Sementara Zhi Ruo masih menangis dalam diam. Dia begitu khawatir dengan keadaan ibunya hingga membuatnya menundukkan wajah.
Zhi Ruo lantas dibawa ke kediaman keluarga Zu. Selama perjalanan, dia hanya diam tanpa berkata apa pun. Walau raganya bersama beberapa pemuda itu, tapi nyatanya pikirannya tertuju pada ibunya. Hingga tanpa disadarinya, mereka sudah sampai di depan sebuah rumah yang terlihat megah dan mewah.
Rumah dengan halaman yang luas dan pelayan yang tak sedikit itu tampak asri. Sang pemilik rumah rupanya sangat menyukai bunga hingga halaman rumah itu penuh dengan tanaman bunga yang mulai mekar.
Zhi Ruo masih terdiam dan berdiri di depan sebuah ruangan. Wajahnya masih menunduk dengan sisa air mata yang belum mengering. Perlahan, pintu ruangan itu terbuka. Tampak seorang pemuda keluar dari dalam ruangan dan berdiri tepat di depannya. "Angkat wajahmu dan lihat aku!"
Suara itu terdengar tegas, tapi Zhi Ruo tidak menggubrisnya. Wajahnya masih menunduk hingga pemuda itu dengan kasar meraih dagunya dan memaksa Zhi Ruo untuk melihat ke arahnya.
"Apa kamu masih mau membangkang? Bukankah, waktu itu kamu sangat marah padaku? Ayolah, sekarang aku sudah ada di depanmu dan tunjukan kemarahanmu itu sekali lagi padaku." Pemuda itu tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil membawa gadis yang pernah mempermalukan dirinya di depan banyak orang.
Zhi Ruo menatap pemuda itu sinis. Tatapan matanya penuh kemarahan dan kebencian yang membuncah. Rasanya, dia ingin membunuh pemuda itu, tapi apalah dayanya karena dia tidak sanggup untuk melakukannya.
"Sekarang, kamu akan menjadi pelayan di rumahku dan kamu hanya akan melayaniku. Aku, Zu Min, sekarang adalah tuanmu. Jika kamu berusaha untuk kabur, maka ibumu akan aku bunuh! Tidak sulit bagiku menyuruh orang untuk membunuhnya. Sekarang, apa kamu masih ingin membantah perintahku?"
Pemuda itu menatap Zhi Ruo dan perlahan menyentuh wajah gadis itu. Sontak, Zhi Ruo mengelak dan mundur ke belakang, tapi pemuda itu terus mendekat ke arahnya.
"Zu Min, apa yang kamu lakukan?" Pemuda itu terkejut saat seorang wanita paruh baya berjalan mendekatinya.
"Ah, Ibu! Jangan berteriak padaku! Tidak bisakah Ibu membiarkanku untuk bersenang-senang sebentar?" Pemuda itu tampak kesal, tapi tidak dengan wanita itu.
"Apa dia wanita yang akan menjadi mainanmu lagi?"
"Ibu, ayolah. Semua ini aku lakukan demi keluarga kita. Istriku tidak bisa memberiku keturunan dan aku tidak bisa menceraikannya karena permintaan ayah. Kalau wanita ini sama dengan wanita-wanita sebelumnya, maka aku akan melepaskannya dan mencari wanita lain. Namun, wanita ini sangat menarik perhatianku dan aku hanya ingin bersenang-senang dengannya, Ibu," ucapnya sambil melihat ke arah Zhi Ruo.
"Lakukan saja apa maumu, tapi ingat, jangan sampai istrimu tahu. Lakukan saja seperti biasanya, tapi kamu harus berhati-hati."
"Iya, Ibu. Aku pasti akan berhati-hati."
Wanita itu kemudian pergi setelah memandangi Zhi Ruo dari kepala hingga ujung kaki dan dia cukup kagum dengan pilihan anaknya yang rupanya pandai dalam menilai kecantikan wanita.
Pemuda itu kembali menatap Zhi Ruo. Sekilas, dia tersenyum dan meraih tangan gadis itu dan membawanya ke dalam ruangan yang cukup mewah. "Sekarang, kamu akan menempati kamar ini dan tidak akan pernah meninggalkannya tanpa seizinku. Kamu akan menjadi pelayan dan wanita simpananku. Jika kamu berniat untuk kabur, maka urungkanlah niatmu itu karena aku tidak akan melepaskanmu."
"Apa hakmu untuk mengurungku di sini? Aku bukan wanita seperti itu! Lepaskan aku dan aku akan melupakan kejadian ini." Zhi Ruo berusaha mengontrol dirinya. Namun, lagi-lagi ucapannya itu hanya terjawab lewat senyuman sinis dari pemuda itu.
"Aku punya hak atas dirimu karena sekarang kamu akan menjadi wanitaku. Ah, seharusnya kamu bangga karena menjadi wanita pilihan dari sekian wanita yang aku jumpai. Sekarang, mandi dan berdandanlah yang cantik. Aku ingin menghabiskan malam ini denganmu." Pemuda itu tersenyum sembari menyentuh pipi Zhi Ruo, tapi gadis itu mengelak.
Pemuda itu hanya tersenyum dan meninggalkan kamar. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa hanfu pada Zhi Ruo. "Nona, gantilah pakaian dan izinkan saya untuk mendandani Nona. Sebaiknya, Nona jangan melawan lagi karena tuan muda tidak terima dengan penolakan."
Wanita muda itu seakan paham dengan suasana hati Zhi Ruo. Ini bukanlah tugas yang pertama kali baginya, karena sebelumnya dia sudah pernah melakukannya. Setiap wanita yang dibawa tuannya hanya dijadikan wanita simpanan dan pemuas hasratnya karena tuntutan sang ayah yang menginginkan seorang cucu.
"Jika kamu peduli, maka bantu aku untuk pergi dari tempat ini. Aku punya seorang ibu yang sedang sakit dan dia sedang menungguku. Nona, tolong bantu aku!" Zhi Ruo menangis di depan pelayan itu, tapi percuma saja karena wanita muda itu tidak bisa berbuat apa-apa.
"Nona, sebaiknya bersikap baiklah pada tuan muda. Jika dia menyukaimu dan Nona bisa memberikannya seorang anak, dia pasti akan menikahimu dan tentu saja Nona akan menjadi nyonya di rumah ini. Untuk saat ini, tidak ada pilihan lain selain menurut apa pun perkataannya. Ayo, Nona, biar saya membantu Nona berdandan."
Mendengar ucapan pelayan itu, Zhi Ruo pasrah. Namun, dia belum menyerah. Bagaimanapun caranya, dia harus keluar dari rumah itu.
Zhi Ruo tampak cantik dengan hanfu berwarna biru laut yang kini dikenakannya. Rambutnya terurai indah dengan hiasan rambut yang menghiasi kepalanya. Wajah polosnya kini telah berubah setelah dipolesi bedak dan gincu merah hingga aura kecantikannya benar-benar terpancar.
"Nona sangat cantik. Ternyata, tuan muda memang tidak pernah salah menilai kecantikan wanita. Nona, sebaiknya bersiaplah dan bersikap baiklah pada tuan muda. Jika dia menyukai Nona, dia pasti akan menuruti apa pun permintaan Nona." Pelayan itu memandangi wajah Zhi Ruo dari balik kaca yang membuatnya kagum dengan kecantikan gadis itu.
Zhi Ruo hanya diam dan tidak menanggapi celotehan pelayan itu. Setelah pelayan itu pergi, Zhi Ruo terus memutar otak dan mencari cara agar bisa meninggalkan rumah itu.
Saat malam tiba, Zhi Ruo belum juga menemukan jalan keluar. Hingga dia terkejut saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan seorang pemuda tampak masuk dan mendekatinya yang sementara duduk di atas ranjang.
Wajah pemuda itu cukup tampan dengan jubah mewah yang dikenakannya. Melihat Zhi Ruo duduk membelakanginya, pemuda itu memilih duduk di depannya. Dan dia begitu kagum dengan kecantikan Zhi Ruo yang kini ditatapnya. "Ah, rupanya aku tak salah memilihnya. Wajahnya ternyata sangat cantik." Lelaki itu membatin dengan senyum di sudut bibirnya.
Rasanya, dia sudah tidak sabar untuk menghabiskan malam dengan wanita yang sudah menarik perhatiannya hingga dia tertegun saat tatapan mata Zhi Ruo mengarah padanya. Tatapan mata yang benar-benar membuatnya tak berdaya dan membuatnya terpana.
To Be Continued...
Diubah oleh blackgaming 17-12-2020 23:37
sormin180 dan 12 lainnya memberi reputasi
13