Kaskus

Story

afryan015Avatar border
TS
afryan015
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)
Sekamar Kos Dengan "Dia" 2 ( Pengalaman Tempat Kerja)

emoticon-UltahHallooooo agan agan sekalian, masih ingat kan dengan ku Ryan si penakut hehe.......
ini adalah cerita ku selanjutnya masih dalam lanjutan cerita yang kemarin hanya saja tempatnya kini sedikit berbeda dari sebelumnya.

Mungkin bisa agan agan yang belun baca thread ane silahkan dibaca dulu thread ane sebelumnya



Bagi yang belum kenal dengan ku, kenalin Namaku Ryan dan untuk mengenal ku lebih detail silahkan baca trit ku yang sebelumnya, dan bagi yang sudah mengenalku silahkan saja langsung baca dan selamat menikmati emoticon-Shakehand2

Oh iya jangan lupa emoticon-Toast emoticon-Rate 5 Star

Quote:



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diubah oleh afryan015 06-12-2022 11:14
bebyzhaAvatar border
jiren11Avatar border
mangawal871948Avatar border
mangawal871948 dan 206 lainnya memberi reputasi
195
232.5K
2.6K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
afryan015Avatar border
TS
afryan015
#48
Belajar Ilmu Baru
aku yang tadinya mau menuju ruangan ku, teralihkan dan malah berjalan mendekat sosok itu untuk mencari tahu siapa dia, dan setelah aku dekati dalam jarak beberapa meter ternyata dia adalah sosok yang pernah di ceritakan oleh bu Dwi, sosok wanita penari Lengger yang sering mengganggu di area sekolah, yang sebenarnya bukan asli penghuni sekolah ini, dia sebenarnya berasal dari luar sekolah, tepatnya di sebelah utara sekolah ini yang masih menjadi sebuah perkebunan milik warga, walaupun dia dari luar lingkungan sekolah tapi dia adalah makhluk yang mendominasi tempat ini.


Bu Dwi pernah cerita kalo dia sering mengganggu dengan cara membuat objek benda bergerak, merasuki siswa, dan lain lain. Namun bu Dwi pernah berkata juga kalo dia ini sebenarnya sudah tidak bisa masuk karena disekeliling sekolah ini sudah di pagari oleh kyai dengan empat batang bambu item supaya hantu pengganggu di luar tidak bisa masuk.

Kalian pasti bertanya juga kenapa sebelum di pagari penghuni yang ada di dalam sekolah tidak dikeluarkan sekalian, bu Dwi bilang dulu pernah mau di usir semua tapi kyai yang melakukan itu berkata kalo penghuni disini sudah lebih dulu menempati dan tidak begitu mengaggu jadi di biarkan saja di sini.

Aku mulai berfikir kenapa bisa dia masuk kesini kan kata bu Dwi sudah ada pagar penghalangnya, atau rusak pagarnya ya?

Kulihat sosok wanita penari Lengger ini mulai berjalan mendekat ke arah siswi yang sedang latihan tari disana dan di iringi beberapa alunan gamelan yang dimainkan oleh siswa laki – laki, bu Retno yang sedang mengajar seni itu sedang melihat gerakan dari siswi nya dan mengoreksi setiap gerakan, sesekali juga bu Retno mengoreksi hasil gendingan yang di hasilkan oleh tabuhan siswa laki – laki.

Saat musik gamelan sedang berada di puncaknya ibarat lagu sedang di bagian reff nya, dan para siswi menari mengikuti alunan lagu tersebut, tiba tiba sosok penari Lengger itu mendekati seorang sisiwi dan terlihat seperti terhisap masuk ke salah satu siswi disana, setelah sosok penari Lengger itu masuk ke tubuh siswi tersebut, tiba – tiba siswi tersebut melakukan gerakan tari yang berbeda dengan siswi yang lain. Saat itu para siswi sedang menarikan tari Jaipong, dan salah satu siswi ini menari gerakan Lengger dengan sangat semangat, dengan mata yang melotot.

Sepontan bu Retno yang melihat gerakan siswi tersebut yang berbeda dengan yang lain langsung menegur siswi tersebut, tapi siswi yang kerasukan itu terus menari dengan semangatnya tanpa memperdulikan bu Retno yang sedang mengoreksi gerakannya.

Bu Retno menyuruh para siswa untuk memberhentikan siswi yang sedang kerasukan itu, namun tenaga yang dikeluarkan siswi itu sangat kuat, hingga siswa berjumlah lima orang berhasil di singkirkan saat mencoba memegangi siswi yang kerasukan itu, bu Retno yang melihatku disana kemudian memanggilku dan memintaku untuk membantu menenangkan siswi tersebut.

Akupun langsung berlari kearah mereka dan segera membanti siswa yang kesulitan menenangkan siswi kesurupan ini, aku langsung meminta dipanggilkan bu Dwi dan sekalian ambilkan air putih, aku di bantu oleh lima orang siswa, dua siswa memegangi tangan, dua siswa memegang kaki dan satu siswa memegangi badan siswi yang kerasukan ini.

Kulihat paras siswi ini dengan wajahnya yang masih melotot mencoba melepaskan diri dari pegangan teman temannya, aku mencoba mengeluarkan sosok yang masuk kedalam tubuh siswi ini dengan membaca sholawat Nabi sebanyak tujuh kali, sedikit berefek pada sosok ini, tubuhnya kini mulai kekurangan tenaganya, tubuh siswi ini mulai turun namun masih terus meronta untuk melepaskan diri.

Lalu aku mencoba bacakan kalimat yang diajarkan oleh bapaku untuk mengatasi orang yang kerasukan, aku membacakan kalimat “Salamu qaulan min rabbir rahim” secara terus menerus. Hingga terlihat tangan siswi ini yang tadinya sedang memperagakan gerakan tari berubah ke posisi mengepal, dan saat posisi ini aku terus membacakan kalimat yang di ajarkan bapak yaitu dengan kalimat “ya qawiyu ya matiin” sambil memaksa jarinya untuk lurus kembali ditambah dengan kalimat “Audzubillahiminassyaithaanirojim” dan meniupkan ke jari jarinya, terus berulang kali aku lakukan dan terus memaksanya untuk lurus lalu setelah berhasil meluruskan jarinya aku tiup jarinya dengan kalimat tadi.

Tak berapa lama kemudian bu Dwi dan siswa yang ku mintai tolong membawakan air putih datang.

“loh loh ada apa ini mas ryan” tanya bu Dwi padaku

“ini bu dia kerasukan” balasku menjawab pertanyaan bu Dwi

“mas sini mas air putihnya deketin sama saya” aku meminta siswa yang membawa airputih untuk mendekat padaku

“eh kamu tolong cariin botol sama ambilin bolpoin sama kertas sekalian” bu Dwi meminta salah satu siswa mencarikan barang yang diminta

Setelah air putih datang aku kemudian membacakan beberapa surat pendek seperti Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan Annas. Kubacakan airputih tersebut dengan surat surat tadi, aku berniat untuk menghempaskan air tersebut ke arah siswi yang kerasukan ini karna aku lihat tubuhnya mulai melemah dan bisa menarik sosok penari tadi keluar, tapi saat aku mau menghempaskan air tersebut, bu Dwi melarangku.

“sebentar mas Ryan, tunggu botol sama alat tulisku dulu” bu Dwi melarangku

“aduh kemana sih anak tadi kok lama banget, eh kamu cepet susul anak tadi dan cepet balik kesini” perintah bu Dwi pada anak yang lain

“gini ya mas ryan nanti kalo sudah siap, mas Ryan hempas tepat di muka anak ini biar nanti saya tarik makhluknya ke dalam botol yang aku minta tadi” bu Dwi memberikan instruksi padaku.

“baik bu, siap tapi kalo bisa anaknya disuruh cepet takutnya dia balik lagi kekuatannya” desaku pada bu Dwi

Tak berapa lama dua siswa tadi sampai kembali dengan membawa barang yang di minta bu Dwi, dengan sigap bu Dwi kemudian menuliskan Rajah dan memberikan minyak wangi pada rajah tersebut lalu kemudian memasukan rajah tersebut ke dalam botol, tak disangka ternyata bu Dwi sudah siap dengan hal seperti ini.

“ayo mas Ryan kita mulai” bu Dwi memberi instruksi lagi padaku.

“baik siap bu” aku pun menghempaskan air tadi yang sudah aku bacakan surat pendek pada wajah siswi tersebut.

Reflek dari siswi kesurupan ini kemudian langsung berteriak dan berkata

“aaarrhhgggg PANASSS, PAANNAASSS” gerang siswi tersebut.

Dengan sigap bu Dwi melakukan gerakan silat dan terlihat seolah bu Dwi sedang menarik sesuatu, aku pun perlahan melihat sosok yang merasuki siswi ini sedikit demi sedikit keluar dari tubuh siswi tersebut, dan langsung diarahkan oleh bu Dwi masuk ke dalam botol yang sudah diberi Rajah tadi.

Setelah berhasil mengeluarkan sosok tadi, tubuh siswi ini langsung lemas dan pingsan, bu Retno menyuruh para siswa membawanya ke UKS untuk mendapat perawatan. Setelah itu bu Dwi mulai bertanya tanya kenapa bisa sosok itu masuk padahal sudah di pagari di bagian luar sekolah ini, bu Dwi meminta ku untuk menyuruh pak Leman mengecek pagar gaib yang dulu pernah di buat diluar sekolah, pak Leman ini juga Staff di sekolah ini.

Dan setelah di cek oleh pak Leman ternyata ada satu bambu item yang hilang, setelah tahu penyebabnya pihak sekolah kembali memanggil kiyai untuk memagari lagi, dan memberikan botol berisi makhluk tadi ke pak kiyai untuk di proses lebih lanjut.

Sepulang bekerja aku masih kepikiran tentang suara yang aku dengan di lab tadi, “Dasar sama sekali tidak ada perubahan kamu......” kalimat itu membuatku bertanya tanya apakah benar aku salah dengar atau mungkin Shinta memang masih ada di sekitarku, walau sudah hampir satu tahun tidak berkomunikasi dengan dia.

Nenek Lasmi yang sedang berjaga di depan teras melihatku pulang dengan ekspresi bingung kemudian bertanya padaku.

“ada apa Den, kok ekspresinya seperti orang kebingungan gitu” tanya nenek Lasmi padaku.

“nek apakah Shinta masih ada disekitarku, atau Aruna mungkin” tanyaku penasaran

Ya selama hampir satu tahun ini aku tidak berkomunikasi dengan Shinta dan Aruna, kalo Shinta jelas karena hubunganku tapi Aruna aku tak tau kemana dan kenapa dia juga pergi.

“oh Den Ryan masih mikirin Den Ayu Shinta, sudah lah Den sekarang Fokus dulu saja sama hidup Den Ryan, Kalo sudah waktunya pasti Den Ayu Shinta juga bakal muncul lagi” ucap nenek Lasmi mencoba menenangkanku.

“iya deh nek aku usahakan” jawabku lesu.

Sembari masuk aku mencoba mencari jalan untuk bisa lagi berkomunikasi dengan Shinta lagi, aku berfikir setidaknya walau tidak bisa melihat wujud Shinta aku pingin mendengar suranya lagi, nada kekanakan dan manjanya itu sepontan teringat di kepalaku lagi karena suara yang aku dengar di Lab tadi.

Jam masih menunjukan pukul tiga sore, sambil rebahan di kamar, aku terus memikirkan cara untuk mencari Shinta, sempat seketika aku terfikir

“andai aku bisa pergi ke alam Shinta pasti bakal mudah untuk aku melihatnya” pikirku dalam hati.

Pergi ke alam Shinta, kata ini terus terulang di pikiranku, setelah beberapa menit aku baru paham apa yang aku katakan barusan, aku langsung berencana pergi ke rumah Mbah Margono.

Setelah sholat Ashar aku pergi kerumah Mbah Margono untuk minta di ajarkan sesuatu, aku berjalan menuju ke rumah Mbah Margon, dari kejauhan aku sudah bisa melihat Mbah Margono sedang membersihkan rumput yang sudah memanjang di depan pagar rumahnya.

“sore Mbah, tumben bersih bersih sore” sapaku pada Mbah Margono

“weh yan, udah pulang kerja emang kamu” tanya Mbah Margono padaku.

“sudah mbah, eh Mbah, Ryan mau sambat dong, bersih bersihnya udahan dulu keburu ujan” pintaku pada Mbah Margono

“yaudah ayo, kenapa, Cah Cilik kok udah pingin sambat, berat banget apa kerjaanmu” tanya mbah Margono

“yo udah ayo tho, ndang masuk rumah mbah” paksaku pada nya

Akhirnya kami pun masuk ke rumah Mbah Margono, beberapa peliharaan Mbah Margono sudah akrab sekarang denganku, dari Om Wowo, sosok anak kecil di tangga dan tak lupa Ningrum juga ada disana dengan penampilan yang sangat anggun.

“selamat datang Ryan, tumben main kerumah” sapa Ningrum ramah padaku

“hehe iya ini, ada perlu dengan Mbah Margono” jawabku sopan pada nya.

Setelah menyapaku Ningrum pun berlalu pergi kedalam, namun sebelum berlalu pergi aku nampak ekspresi Ningrum ingin berkata sesuatu padaku namun dia tahan dan tidak memberitahuku. Setelah Ningrum pergi kedalam Mbah Margon mempersilahkan aku untuk duduk sambil mempersilahkan minuman untuku dan beberapa jajanan.

“walah Mbah pake repot repot, kaya nyambut tamu agung aja” candaku pada Mbah Margono

“wes tho gak papa, sama anak laki laki ku yo tak suguhke kesenangannya kan, wes gimana ada apa kok tumben sore kesini, biasanya nunggu Mbah yang kerumahmu” tanya Mbah Margono

“jadi gini Mbah, langsung aja ya, aku tu kesepian selama ini ditinggal.....” belum selesai aku bicara Mbah Margono sudah menimpali

“Shinta maksudmu, sudah nggak papa nanti kalo sudah waktunya dia akan muncul lagi kok” kata Mbah Margono sama persis dengan yang di katakan Nenek Lasmi

“tapi Mbah sepi banget nggak ada Shinta, di tambah Aruna juga nggak pernah nongol” sambatku pada Mbah Margono

“lah terus maumu gimana, mbah suruh bantu apa” Mbah Margono bertanya padaku sambil menyruput kopi

“aku pingin di ajari ilmu Ngrogo Sukmo Mbah, kan aku nggak bisa sendiri dulu Rogo Sukmo nya kan di bantu Shinta, jadi pikir ku kalo dia nggak mau menemuiku aku aja yang mampir alam dia mbah, ya walau Cuma lihat dia aja” pinta ku pada Mbah Margon

“Huss ngarang aja kamu ini, ilmu itu nggak Cuma buat mainan apalagi Cuma mau iseng liat Shinta, ilmu ini nggak bakal bekerja kalo kamu nggak ada niat khusus yang baik buat nglakuin hal baik juga” dengan sedikit kaget Mbah Margono menjawab pertanyaanku.

Aku pun hanya diam saja dengan jawaban Mbah Margono, dengan ekspresi kecewaku aku pun langsung pamit untuk pulang, aku sedikit melirik ke arah Mbah Margono dan terlihat ekspresi Mbah Margono seperti kasihan kepadaku.

Akupun pulang kerumah, sesampainya di depan rumah aku berpapasan dengan bapak yang sedang asik bermain dengan tanaman hiasnya. Bapak yang melihatku pulang dengan ekspresi sedih pun kemudian bertanya padaku.

“kenapa yan kok mukanya sedih gitu” tanya Bapak padaku

“nggak papa pak, paling kalo Ryan cerita ujung ujungnya sama kaya Nenek Lasmi dan Mbah Margono” jawabku pasrah

“memang kamu pingin apa, sini cerita sama bapak” bapak membujuku untuk bercerita

“pak Ryan tu kesepian setelah Shinta pergi Ryan pingin liat dia, ya walau Cuma sebentar, nah karena Shinta nggak mau nunjukin diri, Ryan niat pingin belajar ilmu Rogo Sukmo pak” aku menjelaskan pada Bapak

“oalah itu tho, ya sebenernya sih..... , eh udah sana masuk dulu aja, nanti abis Isya ngobrol sama bapak di depan rumah” jawab bapak ku enteng

Aku hanya bisa menurut dan masuk kerumah saja kemudian menghabiskan waktu untuk menonton televisi dan membalas chat di WA.

Tak terasa malam hari pun telah tiba, jam sudah menunjukan pukul delapan malam, sesuai janji bapak, bapak menyuruhku untuk ke teras rumah selesai sholat Isya, dan setelah aku selesai mengerjakan Sholat Isya, aku pun pergi ke teras rumah, ternyata di luar sudah menungguku ..........


itkgid
sampeuk
bebyzha
bebyzha dan 61 lainnya memberi reputasi
62
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.