Kaskus

Story

uclnAvatar border
TS
ucln
Karma : Hurt No One
Karma : Hurt No One


Quote:





I never meant to hurt no one
Nobody ever tore me down like you
I think you knew it all along
And now you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
And will I ever see the sun again?
I wonder where the guilt had gone
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt no one
Sometimes you gotta look the other way
It never should've lasted so long
Ashamed you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
I know I'll never be the same again
Now taking back what I have done
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt nobody
Nobody ever tore me down like you
I never meant to hurt no one
Now I'm taking what is mine..




<< Cerita sebelumya



Quote:


Diubah oleh ucln 30-09-2020 19:48
qthing12Avatar border
sukhhoiAvatar border
jalakhideungAvatar border
jalakhideung dan 55 lainnya memberi reputasi
-12
87.7K
610
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
uclnAvatar border
TS
ucln
#412
Part #62



"Kita ngapain ya Gus kesini gini hari. Panas banget." Ucap Liana saat akhirnya kami memilih masuk ke sebuah tempat makan cepat saji yang sepertinya baru dibangun bersama beberapa fasilitas baru di kawasan pantai Ancol ini.

"Kan tadi udah gue bilang. Yaudah gapapa lah, kita disini dulu sampe adem diluar." Saut gue sambil mencoba mencari tempat duduk.

"Lo mau makan ga?" Tanya gue.

Liana ga langsung menjawab. Ia melihat kearah papan menu makanan di konter depan tempat orang-orang berbaris untuk memesan.

"Eh, itu ada eskrim. Gue mau eskrim dong." Saut Liana saat akhirnya dia melihat ada sebuah gambar eskrim di papan menu.

"Ga makan? Gue laper nih."

"Enggak. Lo aja yang makan. Gue mau eskrimnya aja."

Gue mengiyakan ucapannya lalu maju ke konter depan untuk memesan makan dan tentu eskrim buat Liana. Setelah itu gue membawanya ke meja dimana Liana masih menunggu disana sambil memainkan handphone nya.

"Nih, gue pesenin kentang juga. Tapi ntar kalo Lo laper bilang ya." Ucap gue sambil memberikan eskrim dan sebungkus kentang goreng untuk Liana lalu gue menghadapi ayam goreng yang gue pesan untuk gue.

Liana menyambutnya dengan senyum antusias kegirangan melihat eskrim pesanannya. Aah, gue sungguh larut dalam senyuman itu.

Dan kemudian, kami menghadapi makanan kami masing-masing dalam diam. Bahkan setelah menyelesaikan makanan pun kami masih saling diam. Sesekali Liana menoleh keluar melalui kaca besar untuk memastikan apakah diluar masih cukup panas. Kemudian kembali fokus dengan handphone nya. Sepertinya dia sedang berbalas pesan dengan seseorang.

Melihat Liana sibuk dengan dunianya sendiri, gue mengeluarkan handphone dan menancapkan earphones lalu memutar musik dan menikmatinya sendiri. Sambil sesekali melirik kearah Liana yang sepertinya masih sibuk dengan dunianya.

"Handphone Lo bagus ya." Ucap Liana saat sepertinya dia akhirnya menyadari keberadaan gue yang sejak tadi bersamanya.

Ia mengambil handphone gue dan sepertinya membuka beberapa aplikasi di dalam nya, lalu mematikan pemutar musik yang lagi gue nikmati karna tadi hampir karatan dan merasa diabaikan.

"Lagunya ga ada yang bagus apa ya?" Tanya Liana sambil kemudian menarik earphone yang terpasang di telinga gue, kemudian memakainya.

Ia kini sepertinya memutar lagu-lagu yang ada di handphone gue dan menskip beberapa lagu karna dia ga mengetahui lagu tersebut. Gue mengambil alih kembali handphone gue, dan memilihkan sebuah lagu untuknya.

"Niih, dengerin ini aja. Ga ada teriak-teriakannya kok." Ucap Gue karna memahami sepertinya kebanyakan isi lagu di handphone gue membuat Liana ga nyaman mendengarkannya.


Let me be the one who calls you baby all the time.
Surely you can take some comfort knowing that you're mine.
Just hold me tight, Lay by my side.
And let me be the one who calls you baby all the time..


Liana mencopot salah satu earphone dari telinganya sesaat setelah mendengar beberapa baris lirik dinyanyikan.

"Kayanya gue pernah denger lagi ini deh. Agak lumayan sering diputer di radio." Ucap Liana.

"Iya, baru release emang albumnya." Jawab gue.

"Yang nyanyi siapa?"

"The Used. Judulnya ada kan disitu?" Tanya gue sambil menunjuk HP gue dengan pandangan mata.

"Smother… me..? Hmm.." Ucap Liana sambil membaca judul lagu yang tengah diputar, kemudian kembali memasang earphone ke telinganya.

I've found myself in the world could stare at your face
for the rest of my days…


Gue bersenandung kecil sambil menikmati wajah Liana yang tengah melanjutkan mendengarkan lagu sambil tersenyum dan juga menatap kearah gue.


*****



Matahari telah beranjak ke ujung horizon saat Gue dan Liana berdiri memandanginya dari sebuah jembatan kayu dipinggir pantai. Gue sempatkan melirik Liana yang tengah menyanggahkan dagu dengan kedua tangan yang bertumbu pegangan jembatan kayu tempat ia berdiri. Dan, gue tersenyum melihatnya.

Entah apa yang gue rasakan pada perempuan yang dulu sangat gue hindari ini. Perempuan yang kini berdiri disamping gue dengan tinggi badannya yang mungkin hanya sedada gue ini ga lagi semenyebalkan dulu. Rambut panjang yang ia biarkan tergerai itu tertiup angin serta wajah teduh yang diterpa cahaya mentari senja itu membuatnya terlihat begitu cantik dari posisi gue yang berdiri hanya beberapa centi darinya.

Mungkin gue memang bukan sekedar mengaguminya. Mungkin gue bukan sekedar memuji senyumnya. Mungkin, yang gue rasakan sebenarnya lebih dari itu semua. Mungkin gue benar-benar telah jatuh hati padanya. Dan sungguh, gue ingin saat-saat seperti ini ga cepat berlalu. Dan gue ingin, semua yang gue inginkan itu ga hanya sekedar angan. Gue ingin dia mengetahuinya. Bahkan gue berharap dia juga merasakan apa yang gue rasakan. Karna sepedih-pedihnya sebuah rasa, adalah yang tak berbalas.

Liana menoleh ke arah gue karna menyadari gue memperhatikannya sejak tadi. Gue pikir dia akan mempertanyakan kenapa gue menatapnya seperti ini. Namun, dia menyambutnya dengan senyuman. Melengkapi kekaguman gue yang sedang menikmati keindahannya.

"Gue…"
"Gue sayang, Li, sama Lo."

Ucap gue terbata, dan mungkin agak berbisik. Tapi gue percaya dengan jarak gue yang sedekat ini Liana pasti mendengar ucapan gue.

Sejenak senyum Liana makin mengembang. Dagu yang masih ia sanggahkan ke kedua tangannya membuat pipinya yang bulat makin terlihat menggemaskan ketika senyum itu semakin mengembang. Membuat gue seolah semakin meleleh kedalam perasaan gue sendiri.

Ga sepatah kata pun terucap dari mulut Liana. Senyumnya memang lebih dari segalanya bagi gue. Gue percaya, senyum itu lebih dari sekedar kata balasan atas ungkapan perasaan gue tadi. Namun salahkan gue berharap ia mengungkapkan juga apa yang gue ungkapan padanya tadi?

"Terus kenapa gamau manggil gue sayang?" Tanya Liana kini setelah lama menatap gue.

Gue tertawa kecil mendengar pertanyaannya.

"Ga mau. Dan gue ga suka suka manggil kaya gitu." Jawab gue.

"Masa panggil gue ndut ndut aja. Kan gue yang ga suka dipanggil kaya gitu." Ucapnya kini dengan wajah cemberut dibuat-buat.

"Gue akan manggil Lo apapun yang gue suka. Bukan yang Lo minta."

"Tapi ga ngejek juga. Gue.."

Liana menangguhkan ucapannya. Seolah ragu untuk melanjutkannya.

"Kenapa?" Tanya gue saat Liana ga melanjutkan ucapannya dan malah mengalihkan pandangan dari gue.

"Gue cengeng tau Gus. Kadang, kalo lo ngejek gue, gue tau lo becanda, tapi gue berasa… gimana yaa.. kaya cesss gitu.." Ucap Liana sambil memegang dadanya seolah menunjukkan apa yang ia rasakan.

"Ceesss itu gimana maksudnya?" Tanya gue

"Duh, gimana ya. Gitu deh pokoknya."

"Kesinggung?"

"Iyaa. Eh, bukan."
"Gue tau Lo becanda. Tapi, kaya.. apa sih ya namanya?" Ucapnya malah kini seperti kesal karna ga berhasil menggambarkan maksud perasaannya. Ia lalu menghela napas dan seperti benar-benar bingung mengungkapkannya.

Gue malah jadi tertawa melihat tingkahnya. Liana menatap gue lagi-lagi dengan cemberut dibuat-buat. Seolah ga ingin gue tertawakan.

"Yaudah, iya gue minta maaf buat semua omongan gue yang selama ini bikin Lo ngerasa cesss gitu itu." Ucap gue sambil mengangkat dua jari membentuk air quotes menekankan pada kata ceesss yang Liana maksud.

"Tapi gue bener-bener ga pernah bermaksud bikin Lo ngerasa kesel, sedih, atau apa lah maksud arti kata itu. Bahkan sejak SMP gue yang segitu keselnya sama Lo pun ga pernah mulai duluan ngejek atau ngehina Lo kok. Selalu Lo yang salah ngerti maksud gue, atau salah sasaran maki ke gue, jadi bikin gue ngebales dan akhirnya…."


"Iya, gue ngerti kok." Liana memotong omongan gue.
"Mungkin emang gue nya aja kali ya yang dari dulu ada perasaan sama Lo. Makanya tiap kali Lo ngejek gue, atau bersikap kasar, gue sampe ngerasa segitu keselnya ke Lo."

Gue..
Gue tersenyum mendengar ucapan Liana barusan.

Setidaknya, ia baru saja mengakui bahwa dia juga memiliki rasa ke gue. Dan setidaknya, gue tau rasa gue padanya berbalas.

"Lo pernah denger lagu-lagunya Blackstreet ga Gus?" Tanya Liana setelah sempat memberi jeda.

"Hmm.. Kayanya enggak. Band mana emang?"

"Bukan band. Kaya Boy band gitu sih.."

"Ebuset. Kagak pernah lah gue dengerin lagu-lagu dari Boyband begitu."

"Yaah, tapi gue pengen Lo dengerin satu aja lagu mereka." Ucap Liana memelas.

"Kagak mau. Gue agak milih-milih kalo dengerin lagu."

"Satu doang Gus. Yaa? Yaa? Mau ya? Lo cari dan denger dulu lagunya." Ucap Liana kini makin memelas.

Gue menghela napas karna malas melanjutkan perdebatan ini.

"Yaudah. Lo nyanyiin aja. Gue dengerin deh." Jawab gue sambil tersenyum menantangnya.

"Gamau. Gue ga bisa nyanyi." Jawab Liana langsung panik mendengar tantangan gue.

"Yaudah kalo gitu gue ga mau dengerin lagu itu."

"Yaaahh…" Ucap Liana putus asa. Kini sepertinya cemberut yang terpasang bukan ia buat-buat. Dan gue benar-benar gemas melihatnya.

Lama kemudian kami saling terdiam. Namun isi kepala gue terus bongkar pasang membentuk banyak kata untuk membuka kembali obrolan dan candaan dengan Liana. Setidaknya gue ga ingin pertemuan yang sangat jarang antara kami ini lebih di dominasi dengan hening.

It came over me in a rush
When i realise that i love you so much
And sometimes i cry but i can't tell you why
Why i feel what i feel inside


Liana bersenandung pelan. Namun terdengar begitu jelas oleh gue. Terdengar kata per kata yang ia senandungkan meski nada dan iramanya ga gue pahami. Tapi itu cukup untuk gue memahami apa yang hendak ia sampaikan.

"Gitu lagunya. Pokoknya Lo dengerin aja lengkapnya. Mau ya?" Pinta Liana.

Gue menatap kedua bola matanya yang kini sepertinya ada genangan air dikedua sudutnya. Ia langsung mencoba mengedipkan mata beberapa kali saat menyadari gue tengah menatap bola matanya. Sepertinya ia mencoba menyingkirkan genangan air itu.

"That song tells you everything i can't tell you." Ucapnya lagi meski gue belum mengiyakan atau menolak permintaannya.

Sore itu, gue memahami satu hal. Bahwa senja memang mengagumkan. Semengagumkan seseorang yang tengah berdiri disamping gue dan kesulitan menyampaikan apa yang ia rasakan di dalam hatinya untuk gue.

Dan seperti halnya senja yang pasti tergantikan oleh malam. Kekaguman gue seolah ga akan berhenti pada saat itu saja. Karna milyaran bintang telah siap membuat gue semakin tenggelam dalam kekaguman dan bersyukur telah menjatuhkan hati pada dirinya. Pada seorang perempuan yang sulit untuk menyampaikan perasaannya sendiri.

oktavp
oktavp memberi reputasi
1
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.