- Beranda
- Stories from the Heart
CATATAN VIOLET
...
TS
drupadi5
CATATAN VIOLET

Perjalanan ini akan membawa pada takdir dan misteri hidup yang mungkin tak pernah terpikirkan.
Ketika sebuah kebetulan dan ketidaksengajaan yang kita sangkakan, ternyata adalah sebuah rencana tersembunyi dari hidup.
Bersiaplah dan arungi perjalananmu
Kota Kenangan1
Kota Kenangan 2
Ardi Priambudi
Satrya Hanggara Yudha
Melisa Aryanthi
Made Brahmastra Purusathama
Altaffandra Nauzan
Altaffandra Nauzan : Sebuah Insiden
Altaffandra Nauzan : Patah Hati
Altaffandra Nauzan : the man next door
Sepotong Ikan Bakar di Sore yang Cerah
Expired
Adisty Putri Maharani
November Rain
Before Sunset
After Sunrise
Pencundang, pengecut, pencinta
Pencundang, pengecut, pencinta 2
Time to forget
Sebuah Hadiah
Jimbaran, 21 November 2018
Lagi, sebuah kebaikan
Lagi, sebuah kebaikan 2
Perkenalan
Temanku Malam Ini
Keluarga
03 Desember 2018
Jimbaran, 07 Desember 2018
Looking for a star
Ketika daun yang menguning bertahan akan helaan angin
Pertemuan
BERTAHAN
Hamparan Keraguan
Dan semua berakhir
Fix you
One chapter closed, let's open the next one
Deja Vu
Deja Vu karena ingatan terkadang seperti racun
Karena gw lagi labil, tolong biarin gw sendiri...
Semua pasti berujung, jika kau belum menemukannya teruslah berjalan...
Kepercayaan, kejujuran, kepahitan...
Seperti karang yang tidak menyerah pada ombak...
Damar Yudha
I Love You
Perjanjian...
Perjanjian (2)
Christmas Eve
That Day on The Christmas Eve
That Day on The Christmas Eve (2)
That Day on The Christmas Eve (3)
Di antara
William Oscar Hadinata
Tentang sebuah persahabatan...
Waiting for me...
Kebohongan, kebencian, kemarahan...
Oh Mama Oh Papa
Showing me another story...
Menjelajah ruang dan waktu
Keterikatan
Haruskah kembali?
Kematian dan keberuntungan
The ambience of confusing love
The ambience of love
Kenangan yang tak teringat...
Full of pressure
Persahabatan tidak seperti kepompong
Menunggu, sampai nanti...
Catatan Violet 2 (end): Mari Jangan Saling Menepati Janji
Jakarta, 20 Juni 2019 Lupakanlah Sejenak
Menjaga jarak, menjaga hati
First lady, second lady...
Teman
Teman?
Saudara
Mantan
Mantan (2)
Pacar?
Sahabat
Diubah oleh drupadi5 14-05-2021 15:13
JabLai cOY dan 132 lainnya memberi reputasi
129
23.9K
302
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#117
Showing me another story...

Sepanjang malam ini aku hanya menatap tubuhku yang masih terkulai tak berdaya di atas tempat tidur. Aku segera ingin sadar dan terbangun, aku ingin memeluk mama dan meminta maaf atas pikiranku yang sempat membencinya.
Perasaanku menjadi tenang dan lega setelah melihat dan mendengar perdebatan kedua orang tuaku tadi.
Biarpun mereka mengalami banyak cobaan dan penderitaan sehingga harus terpisah, tapi mereka bisa mempertahankan cinta dalam hati mereka dan tidak saling membenci.
Aku sangat senang menyadari ini. Setidaknya aku terlahir dari kasih sayang mereka. Itu sudah sangat cukup untukku. Aku bisa merasakan bagaimana menderitanya mama dan bagaimana papaku pada posisi yang serba salah antara istri dan ibu, meski akhirnya papa harus merelakan mama pasti itu juga bukan keputusan yang bisa diambil dengan mudah olehnya.
Nenek... seperti apakah sosok wanita itu yang mampu membuat mama mengalah dan meninggalkan laki-laki yang dia cintai. Mengusirnya dan menghancurkan impiannya membangun keluarga yang dia cintai.
Ah...kenapa harus ada drama yang seperti ini?!
Lewat tengah malam Fandra datang lagi ke ruanganku. Wajahnya tampak lelah dan agak kusut. Apa dia ada masalah?
Aku mendekatinya yang duduk di sisi tempat tidur. Seperti biasa dia meraih tanganku dan mengenggamnya sambil dia berdoa.
‘Fandra…’ panggilku tapi aku tahu dia tidak akan bisa mendengarku.
Tapi aku tidak peduli, sama sepertinya yang selalu datang dan bercerita tentang hari-harinya meskipun dia tahu aku tidak mungkin bisa mendengarnya.
‘Fan, kamu kenapa? Ada masalah ya? Atau lagi capek aja?’
“Vio…” dia memanggilku pelan setelah dia menutup doanya.
“Aku punya ada berita bagus nih, aku dapetin free pass buat tahun baruan di hotel buat kamu. Tapi sayangnya malam tahun baru aku harus kerja, ngga apa-apa kan kalau kamu sendirian aja, yah at least kamu bisa pergi tahun baruan kan,” dia tertawa kecil, “atau nanti kamu duduk di bar aja ya, nemenin aku kerja.”
Dia mengelus tanganku pelan. Dan sekali lagi aku bisa merasakan hangat tangannya, sama seperti kejadian dengan Pak Damar.
Aku juga bisa merasakan sentuhan tangan Fandra. Aku berpikir sejenak.
“Vio, bangun dong, please…” bisiknya lirih tapi masih bisa kudengar di telingaku.
‘Aku kangen kamu, Fan,’ bisikku lirih dalam hati.
Aku berusaha berkonsentrasi pada tanganku yang perlahan kuulurkan mendekat ke wajahnya.
Dalam hatiku aku berusaha mengingat seperti apa rasanya kulit ini bersentuhan dengan kulitnya. Ketika dia menggenggam tanganku di saat kami berjalan bersama , ketika dia mencium lembut bibirku, rasa dan ingatan itu kumunculkan kembali di ruang memoriku.
Ketika akhirnya tanganku menyentuh pelan pipinya dan aku bisa merasakan dinginnya jemariku menyentuh permukaan kulitnya yang hangat.
Aku terkejut dan menarik tanganku cepat, begitu pun dengan Fandra yang seketika itu berpaling ke arahku matanya nampak bergerak cepat seperti mencari sesuatu. Dia seperti kebingungan.
Tangannya menyentuh pipinya yang baru saja berhasil kusentuh. Fandra berdiri dan berjalan pelan mengelilingi ruangan yang tidak terlalu besar ini.
‘Dia merasakannya,’ batinku.
Aku tersenyum senang, ‘Akhirnya aku bisa menyentuhmu.’
‘Jangan takut Fan, ini aku,’ ujarku meski tahu dia tidak akan bisa mendengarku.
“Apa itu tadi?” Aku mendengar Fandra bergumam sambil meraba dan kemudian mengusap wajahnya.
Dia kembali duduk di tempatnya tadi, bersandar pada kursi dan memandangku dengan tatapan kosong.
‘Itu aku Fan,’ sahutku.
Fandra diam termenung.
‘Fandra…’ aku memanggilnya lagi. Dia masih diam tanpa respon.
‘Fandra!!!’ aku berteriak kali ini. Tapi sia-sia, Fandra masih duduk diam tak bergeming.
‘Fandra!!!!!’ aku berteriak lebih kencang.
‘Apaan sih kamu?!’
‘Eh…!??’
Tiba-tiba Oscar sudah ada di sampingku menatapku tajam, setajam silet.
‘Kenapa teriak-teriak begitu? Dia ngga akan denger kamu.’
‘Aku tadi bisa sentuh wajahnya,’ ujarku dengan penuh semangat.
‘Oh…’ Oscar melengos dan bergerak mendekat ke arah dinding
Apaan itu? Hanya seperti itu responnya?!
‘Kok cuma ‘oh’…’
Dia menatapku, ‘trus kamu maunya gimana?’ tanyanya acuh
‘Bukannya itu kemajuan, aku bisa menyentuh sesuatu?’
‘Iya kemajuan, asal jangan sering-sering aja nanti energi kamu terkuras.’
‘Apa yang terjadi kalau energiku abis?’
‘Tubuh kamu juga akan kehilangan tenaga dan mati, kamu pun akan tetap seperti ini di sini atau… bisa juga menghilang ke tempat lain dimana seharusnya kamu berada.’
‘Kenapa bisa seperti itu?’
‘Yang aku tahu, kalau badan kamu masih hidup, itu artinya kamu masih hidup, terlepas dari sukma kamu ada dalam tubuh kamu atau tidak. Selama badan kamu masih hidup akan selalu berhubungan dengan sukma kamu, jika sukma kamu tidak ada dalam tubuh kamu. Artinya, jika terjadi sesuatu pada sukma kamu, tubuh kamu pun akan bereaksi, begitu pun sebaliknya. Kalau sukma atau pun tubuh kamu kehabisan energy kamu ngga akan bisa masuk ke dalam tubuh kamu, karena itu kamu harus selalu berhati-hati. Sedangkan tubuh kamu sudah di jaga oleh alat-alat medis ini untuk tetap hidup dan aku pun ikut menjaga agar tubuh kamu tetap aman.’
Aku mendengar penjelasan Oscar dengan seksama meski aku tidak terlalu mengerti maksudnya.
‘Sampai kapan aku akan seperti ini?’
Dia diam. Memandang tubuhku sama seperti yang dilakukan Fandra yang masih duduk diam di sana.
‘Hanya sampai malam ini. Tapi, aku hanya mampu membawamu kembali ke tempatmu yang seharusnya, sedangkan yang menentukan apakah setelah itu kamu akan kembali ke tubuhmu atau tidak itu di luar batas kemampuanku.’
‘Tempat yang seharusnya? Itu artinya aku bisa saja mati?’
Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku.
‘Iya…’ sahutnya pelan lalu kembali terdiam.
Aku tidak terkejut dengan kenyataan bahwa aku bisa saja mati kapan pun itu. Lagian aku juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima semua sebagai takdirku.
Aku cukup bahagia karena aku sudah tahu bahwa aku memiliki papa yang menyayangiku dan kedua orang tua yang saling mencintai. Dan ada orang-orang yang juga mencintaiku meski aku sudah dan mungkin akan mengecewakan mereka.
Aku memandang Fandra.
Dia mencintaiku, aku bisa merasakannya. Tapi sayangnya, mungkin Fandra tidak akan pernah tahu kalau aku juga menyayanginya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan mamaku muncul di sana. Wajahnya terlihat seperti baru bangun tidur dan matanya terlihat sembab seperti habis menangis.
‘Ngapain Mama ke sini jam segini?’ tanyaku pada diri sendiri.
Aku memperhatikan Oscar yang menatap menyelidik ke arah Mama. Sedangkan Fandra tampak terkejut dan berdiri dari duduknya begitu melihat mamaku masuk dan mendekat ke arahnya.
“Siapa kamu?” tanya mamaku pada Fandra.
“Saya temannya Vio, Bu,” sahut Fandra sambil tersenyum kikuk
Mama tidak menyahut tapi memandang Fandra. Dia seperti berusaha mengenali Fandra. Memandangnya dengan tajam.
“Siapa nama kamu?”
“Fandra.”
“Kamu…kamu anaknya Yudha?”
‘Ah, mama itu bukan Fandra tapi Hanggara,’ celetukku membuat Oscar melirikku.
“Mungkin maksud Ibu, anaknya Bapak Damar, papanya Hanggara?”
“Ah iya, Damar Yudha maksud saya.”
“Bukan, itu bukan saya. Mungkin yang Ibu maksudkan itu Hanggara.”
“Oh… jadi bukan kamu?”
“Bukan.”
“Kamu teman kantornya Vio yang di Bali?”
“Bukan, saya teman kostnya, Bu,” sahut Fandra
Wajah mama terlihat sedikit terkejut.
“Berarti kamu tahu kejadian sewaktu anak saya jatuh?”
“Iya saya tahu…. Vio bersama saya waktu itu, juga ada dua orang temannya.”
Mama menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan.
“Terima kasih sudah menolong anak saya,” ujar mama dengan wajah lebih bersahabat kali ini.
“Saya yang harusnya minta maaf ngga bisa jagain Vio…”
Mama memandang Fandra, kali ini dengan pandangan curiga
“Kenapa kamu merasa harus menjaga anak saya?”
“Ee…, itu….” Fandra tampak ragu menjawab pertanyaan mama dan wajahnya tampak kebingungan.
“Kamu menyukainya?” tanya Mama to the point membuat Fandra terbengong- bengong.
Dini hari seperti ini di situasi yang sangat tidak tepat Mama dengan seenaknya menginterogasi Fandra.
“E… iya.”
Dia memberi jeda sejenak, mengalihkan pandangannya dari tatapan mata mama ke arah tubuhku.
“Iya saya menyukai Vio,” sahut Fandra kembali menegaskan.
Fandra kembali menatap mama yang justru kini menatap tubuhku yang terbaring kemudian perlahan duduk di kursi di tempat Fandra tadi duduk.
“Apa anak saya juga menyukai kamu?”
Fandra terdiam cukup lama, tidak menjawab pertanyaan mama.
Mama menoleh ke arahnya. Menuntut jawaban.
“Apa anak saya juga menyukai kamu?” kembali mama mengulang pertanyaan itu.
Aku tahu Fandra pasti ragu menjawab pertanyaan ini.
“Saya tidak tahu.”
“Kamu ngga bilang sama dia?”
“Tidak, tapi saya yakin dia tahu kalau saya menyukainya. Tapi saya tidak pernah bertanya apa dia juga menyukai saya atau tidak. Karena…”
Fandra tidak melanjutkan kalimatnya. Dia diam sehingga membuat mamaku menatapnya menyelidik
“Karena apa?”
“Karena ada orang lain yang lebih dulu menyukainya dan sepertinya Vio juga menyukai orang itu. Tapi…”
Kembali Fandra tidak melanjutkan kalimatnya, dan membuat mamaku semakin menatapnya tajam.
“Tapi, belakangan Vio tahu kalau.... kalau orang yang dia suka itu…. Dia tidak mungkin bisa bersama dengan orang itu.”
Aku tahu orang yang Fandra maksudkan adalah Hanggara. Mungkin dia berpikir mama belum mengetahui semuanya.
“Jadi kamu juga tahu soal itu…” ujar mama bergumam. “Orang yang suka dengan anak saya, apa laki-laki yang kamu bilang tadi, anaknya Yudha, yang bernama Hanggara?”
“Iya, benar.”
“Kamu juga tahu kalau ayahnya Hanggara adalah papanya Vio?”
Fandra terdiam, dia menatap mamaku dengan terkejut.
“Saya sudah tahu,” ujar mama lagi.
“Kenapa kamu bisa tahu? Vio yang cerita?Dia cerita semua padamu?”
“Saya yang menghantarnya ketemuan dengan Pak Damar sore itu, kecelakaan itu terjadi setelah Vio ketemuan dengan Pak Damar.”
“Oh…begitu…”
“Maaf, Vio memang belum sempat cerita tapi sewaktu Vio ketemu dengan Pak Damar, saya yang mengawasi dari jauh, maaf, karena sebelumnya saya curiga dengan Pak Damar saya takut Vio kenapa-kenapa jadi saya mematai-matainya, saya melihat Vio menangis, karena khawatir jadi saya dekati dan sewaktu di rumah tantenya juga saya mendengar semua pembicaraannya tanpa ada maksud menguping,” Fandra menjelaskan semua pada mamaku.
Tampak mama menangis dalam diam.
Fandra yang menyadari itu hanya berdiri mematung tanpa berkata apa pun lagi.
“Kenapa kamu menyukai Vio?” tanya mama lagi pada Fandra setelah dia bisa menguasai dirinya sendiri
‘Ah, Ma, kamu banyak menangis belakangan ini. Tapi, kenapa kamu bahas ini sekarang?’ gumamku lirih
‘Sepertinya mama kamu setuju kalau dia jadi pacarmu,’ celetuk Oscar tiba-tiba dengan senyum tipis mengejek.
‘Kenapa kamu senyumnya kaya gitu?’
‘Emang kenapa? Terserah aku!’
‘Fandra itu baik banget tau!’
‘Yang bilang jahat juga siapa?’
‘Ssttt!!’
aku menyuruhnya diam ketika Fandra menjawab pertanyaan mama
“Saya tidak punya alasan untuk itu. Saya merasa hati saya mulai menyukainya dan saya berusaha menuruti apa kata hati saya.”
“Kalau kata hatimu bilang, kamu harus meninggalkan Vio, apa kamu juga akan mengikuti kata hatimu?”
“Memang saya mencintai dia tanpa alasan, tapi kalau untuk meninggalkannya tidak akan semudah itu, saya memerlukan alasan yang kuat. Jika memang ada alasan untuk itu dan jika memang Vio yang menginginkannya, terpaksa akan saya lakukan.”
“Kamu tidak akan memperjuangkan cinta kamu?”
“Tentu saya akan memperjuangkannya. Tapi kalau yang saya perjuangkan tidak menginginkannya, lalu untuk apa? Saya ngga mau memaksakan kehendak saya sendiri karena mencintai adalah hubungan antara dua pihak.”
Mama diam sejenak sebelum kembali mengajukan pertanyaan.
“Apa kamu tahu tentang masa lalunya?” kembali mama bertanya mengalihkan pembicaraan.
“Saya tahu semua.”
Mama memandang ke arah Fandra.
“Saya tahu semua, Vio yang bilang. Dia juga memberitahu semuanya pada Hanggara.”
Mama mengalihkan pandangannya ke tubuhku. Meraih jemariku dan membawanya dalam genggamannya.
“Setelah kamu tahu, apa perasaan kamu tetap sama?”
“Justru saya semakin ingin lebih dekat dengannya.”
“Bukan karena kasihan?”
“Tidak, bukan,” sahut Fandra dengan tegas. “Saya bisa membedakan antara kasihan dan sayang.”
“Bagaimana kalau Vio tidak bisa selamat?”
Fandra terdiam.
“Saya pernah mencoba mengingkari perasaan saya padanya. Semakin saya mencoba menjauh semakin kuat perasaan yang saya rasakan. Akhirnya saya harus mengakui kalau saya memang benar-benar jatuh cinta pada putri Ibu. Saat ini juga perasaan yang sama yang saya rasakan, saya sangat yakin Vio akan sembuh. Tidak terlintas sedikit pun di pikiran saya seperti apa yang ibu katakan, dan saya sangat yakin dengan apa yang saya rasakan.”
Aku tidak melepaskan pandanganku pada Fandra. Kenapa dia berani bicara seperti itu? Bagaimana kalau aku benar-benar mati?
‘Percaya diri yang tinggi…” seloroh Oscar lagi-lagi dengan senyumnya yang tidak enak dilihat itu, membuat wajahnya yang sebenarnya tampan menjadi sangat menyebalkan.
“Tapi tetap harus mempersiapkan dirimu untuk yang terburuk,” sahut mama kemudian entah pada Fandra atau pada dirinya sendiri.
Fandra hanya terdiam.
“Bisa kamu keluar dulu saya ingin berdua dengan putri saya,” pinta mama ketika melihat Fandra masih berdiri mematung di ujung tempat tidur.
Tanpa berkata-kata Fandra melangkah menuju pintu dan keluar. Sedangkan mama kembali terisak di samping tubuhku.
‘Ma….’ Panggilku lirih, ‘maafin Vio, Ma.”
Sebuah tangan tiba-tiba menyambar tanganku dan menarikku keluar dari ruangan itu. Oscar berhenti ketika kami sudah berada di koridor tak jauh dari ruang tunggu ICU.
‘Ikut aku,’ ujarnya padaku
‘Kemana?’
‘Ke Jakarta.’
‘Hah?!?’

Sepanjang malam ini aku hanya menatap tubuhku yang masih terkulai tak berdaya di atas tempat tidur. Aku segera ingin sadar dan terbangun, aku ingin memeluk mama dan meminta maaf atas pikiranku yang sempat membencinya.
Perasaanku menjadi tenang dan lega setelah melihat dan mendengar perdebatan kedua orang tuaku tadi.
Biarpun mereka mengalami banyak cobaan dan penderitaan sehingga harus terpisah, tapi mereka bisa mempertahankan cinta dalam hati mereka dan tidak saling membenci.
Aku sangat senang menyadari ini. Setidaknya aku terlahir dari kasih sayang mereka. Itu sudah sangat cukup untukku. Aku bisa merasakan bagaimana menderitanya mama dan bagaimana papaku pada posisi yang serba salah antara istri dan ibu, meski akhirnya papa harus merelakan mama pasti itu juga bukan keputusan yang bisa diambil dengan mudah olehnya.
Nenek... seperti apakah sosok wanita itu yang mampu membuat mama mengalah dan meninggalkan laki-laki yang dia cintai. Mengusirnya dan menghancurkan impiannya membangun keluarga yang dia cintai.
Ah...kenapa harus ada drama yang seperti ini?!
Lewat tengah malam Fandra datang lagi ke ruanganku. Wajahnya tampak lelah dan agak kusut. Apa dia ada masalah?
Aku mendekatinya yang duduk di sisi tempat tidur. Seperti biasa dia meraih tanganku dan mengenggamnya sambil dia berdoa.
‘Fandra…’ panggilku tapi aku tahu dia tidak akan bisa mendengarku.
Tapi aku tidak peduli, sama sepertinya yang selalu datang dan bercerita tentang hari-harinya meskipun dia tahu aku tidak mungkin bisa mendengarnya.
‘Fan, kamu kenapa? Ada masalah ya? Atau lagi capek aja?’
“Vio…” dia memanggilku pelan setelah dia menutup doanya.
“Aku punya ada berita bagus nih, aku dapetin free pass buat tahun baruan di hotel buat kamu. Tapi sayangnya malam tahun baru aku harus kerja, ngga apa-apa kan kalau kamu sendirian aja, yah at least kamu bisa pergi tahun baruan kan,” dia tertawa kecil, “atau nanti kamu duduk di bar aja ya, nemenin aku kerja.”
Dia mengelus tanganku pelan. Dan sekali lagi aku bisa merasakan hangat tangannya, sama seperti kejadian dengan Pak Damar.
Aku juga bisa merasakan sentuhan tangan Fandra. Aku berpikir sejenak.
“Vio, bangun dong, please…” bisiknya lirih tapi masih bisa kudengar di telingaku.
‘Aku kangen kamu, Fan,’ bisikku lirih dalam hati.
Aku berusaha berkonsentrasi pada tanganku yang perlahan kuulurkan mendekat ke wajahnya.
Dalam hatiku aku berusaha mengingat seperti apa rasanya kulit ini bersentuhan dengan kulitnya. Ketika dia menggenggam tanganku di saat kami berjalan bersama , ketika dia mencium lembut bibirku, rasa dan ingatan itu kumunculkan kembali di ruang memoriku.
Ketika akhirnya tanganku menyentuh pelan pipinya dan aku bisa merasakan dinginnya jemariku menyentuh permukaan kulitnya yang hangat.
Aku terkejut dan menarik tanganku cepat, begitu pun dengan Fandra yang seketika itu berpaling ke arahku matanya nampak bergerak cepat seperti mencari sesuatu. Dia seperti kebingungan.
Tangannya menyentuh pipinya yang baru saja berhasil kusentuh. Fandra berdiri dan berjalan pelan mengelilingi ruangan yang tidak terlalu besar ini.
‘Dia merasakannya,’ batinku.
Aku tersenyum senang, ‘Akhirnya aku bisa menyentuhmu.’
‘Jangan takut Fan, ini aku,’ ujarku meski tahu dia tidak akan bisa mendengarku.
“Apa itu tadi?” Aku mendengar Fandra bergumam sambil meraba dan kemudian mengusap wajahnya.
Dia kembali duduk di tempatnya tadi, bersandar pada kursi dan memandangku dengan tatapan kosong.
‘Itu aku Fan,’ sahutku.
Fandra diam termenung.
‘Fandra…’ aku memanggilnya lagi. Dia masih diam tanpa respon.
‘Fandra!!!’ aku berteriak kali ini. Tapi sia-sia, Fandra masih duduk diam tak bergeming.
‘Fandra!!!!!’ aku berteriak lebih kencang.
‘Apaan sih kamu?!’
‘Eh…!??’
Tiba-tiba Oscar sudah ada di sampingku menatapku tajam, setajam silet.
‘Kenapa teriak-teriak begitu? Dia ngga akan denger kamu.’
‘Aku tadi bisa sentuh wajahnya,’ ujarku dengan penuh semangat.
‘Oh…’ Oscar melengos dan bergerak mendekat ke arah dinding
Apaan itu? Hanya seperti itu responnya?!
‘Kok cuma ‘oh’…’
Dia menatapku, ‘trus kamu maunya gimana?’ tanyanya acuh
‘Bukannya itu kemajuan, aku bisa menyentuh sesuatu?’
‘Iya kemajuan, asal jangan sering-sering aja nanti energi kamu terkuras.’
‘Apa yang terjadi kalau energiku abis?’
‘Tubuh kamu juga akan kehilangan tenaga dan mati, kamu pun akan tetap seperti ini di sini atau… bisa juga menghilang ke tempat lain dimana seharusnya kamu berada.’
‘Kenapa bisa seperti itu?’
‘Yang aku tahu, kalau badan kamu masih hidup, itu artinya kamu masih hidup, terlepas dari sukma kamu ada dalam tubuh kamu atau tidak. Selama badan kamu masih hidup akan selalu berhubungan dengan sukma kamu, jika sukma kamu tidak ada dalam tubuh kamu. Artinya, jika terjadi sesuatu pada sukma kamu, tubuh kamu pun akan bereaksi, begitu pun sebaliknya. Kalau sukma atau pun tubuh kamu kehabisan energy kamu ngga akan bisa masuk ke dalam tubuh kamu, karena itu kamu harus selalu berhati-hati. Sedangkan tubuh kamu sudah di jaga oleh alat-alat medis ini untuk tetap hidup dan aku pun ikut menjaga agar tubuh kamu tetap aman.’
Aku mendengar penjelasan Oscar dengan seksama meski aku tidak terlalu mengerti maksudnya.
‘Sampai kapan aku akan seperti ini?’
Dia diam. Memandang tubuhku sama seperti yang dilakukan Fandra yang masih duduk diam di sana.
‘Hanya sampai malam ini. Tapi, aku hanya mampu membawamu kembali ke tempatmu yang seharusnya, sedangkan yang menentukan apakah setelah itu kamu akan kembali ke tubuhmu atau tidak itu di luar batas kemampuanku.’
‘Tempat yang seharusnya? Itu artinya aku bisa saja mati?’
Dia tidak langsung menjawab pertanyaanku.
‘Iya…’ sahutnya pelan lalu kembali terdiam.
Aku tidak terkejut dengan kenyataan bahwa aku bisa saja mati kapan pun itu. Lagian aku juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima semua sebagai takdirku.
Aku cukup bahagia karena aku sudah tahu bahwa aku memiliki papa yang menyayangiku dan kedua orang tua yang saling mencintai. Dan ada orang-orang yang juga mencintaiku meski aku sudah dan mungkin akan mengecewakan mereka.
Aku memandang Fandra.
Dia mencintaiku, aku bisa merasakannya. Tapi sayangnya, mungkin Fandra tidak akan pernah tahu kalau aku juga menyayanginya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan mamaku muncul di sana. Wajahnya terlihat seperti baru bangun tidur dan matanya terlihat sembab seperti habis menangis.
‘Ngapain Mama ke sini jam segini?’ tanyaku pada diri sendiri.
Aku memperhatikan Oscar yang menatap menyelidik ke arah Mama. Sedangkan Fandra tampak terkejut dan berdiri dari duduknya begitu melihat mamaku masuk dan mendekat ke arahnya.
“Siapa kamu?” tanya mamaku pada Fandra.
“Saya temannya Vio, Bu,” sahut Fandra sambil tersenyum kikuk
Mama tidak menyahut tapi memandang Fandra. Dia seperti berusaha mengenali Fandra. Memandangnya dengan tajam.
“Siapa nama kamu?”
“Fandra.”
“Kamu…kamu anaknya Yudha?”
‘Ah, mama itu bukan Fandra tapi Hanggara,’ celetukku membuat Oscar melirikku.
“Mungkin maksud Ibu, anaknya Bapak Damar, papanya Hanggara?”
“Ah iya, Damar Yudha maksud saya.”
“Bukan, itu bukan saya. Mungkin yang Ibu maksudkan itu Hanggara.”
“Oh… jadi bukan kamu?”
“Bukan.”
“Kamu teman kantornya Vio yang di Bali?”
“Bukan, saya teman kostnya, Bu,” sahut Fandra
Wajah mama terlihat sedikit terkejut.
“Berarti kamu tahu kejadian sewaktu anak saya jatuh?”
“Iya saya tahu…. Vio bersama saya waktu itu, juga ada dua orang temannya.”
Mama menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan.
“Terima kasih sudah menolong anak saya,” ujar mama dengan wajah lebih bersahabat kali ini.
“Saya yang harusnya minta maaf ngga bisa jagain Vio…”
Mama memandang Fandra, kali ini dengan pandangan curiga
“Kenapa kamu merasa harus menjaga anak saya?”
“Ee…, itu….” Fandra tampak ragu menjawab pertanyaan mama dan wajahnya tampak kebingungan.
“Kamu menyukainya?” tanya Mama to the point membuat Fandra terbengong- bengong.
Dini hari seperti ini di situasi yang sangat tidak tepat Mama dengan seenaknya menginterogasi Fandra.
“E… iya.”
Dia memberi jeda sejenak, mengalihkan pandangannya dari tatapan mata mama ke arah tubuhku.
“Iya saya menyukai Vio,” sahut Fandra kembali menegaskan.
Fandra kembali menatap mama yang justru kini menatap tubuhku yang terbaring kemudian perlahan duduk di kursi di tempat Fandra tadi duduk.
“Apa anak saya juga menyukai kamu?”
Fandra terdiam cukup lama, tidak menjawab pertanyaan mama.
Mama menoleh ke arahnya. Menuntut jawaban.
“Apa anak saya juga menyukai kamu?” kembali mama mengulang pertanyaan itu.
Aku tahu Fandra pasti ragu menjawab pertanyaan ini.
“Saya tidak tahu.”
“Kamu ngga bilang sama dia?”
“Tidak, tapi saya yakin dia tahu kalau saya menyukainya. Tapi saya tidak pernah bertanya apa dia juga menyukai saya atau tidak. Karena…”
Fandra tidak melanjutkan kalimatnya. Dia diam sehingga membuat mamaku menatapnya menyelidik
“Karena apa?”
“Karena ada orang lain yang lebih dulu menyukainya dan sepertinya Vio juga menyukai orang itu. Tapi…”
Kembali Fandra tidak melanjutkan kalimatnya, dan membuat mamaku semakin menatapnya tajam.
“Tapi, belakangan Vio tahu kalau.... kalau orang yang dia suka itu…. Dia tidak mungkin bisa bersama dengan orang itu.”
Aku tahu orang yang Fandra maksudkan adalah Hanggara. Mungkin dia berpikir mama belum mengetahui semuanya.
“Jadi kamu juga tahu soal itu…” ujar mama bergumam. “Orang yang suka dengan anak saya, apa laki-laki yang kamu bilang tadi, anaknya Yudha, yang bernama Hanggara?”
“Iya, benar.”
“Kamu juga tahu kalau ayahnya Hanggara adalah papanya Vio?”
Fandra terdiam, dia menatap mamaku dengan terkejut.
“Saya sudah tahu,” ujar mama lagi.
“Kenapa kamu bisa tahu? Vio yang cerita?Dia cerita semua padamu?”
“Saya yang menghantarnya ketemuan dengan Pak Damar sore itu, kecelakaan itu terjadi setelah Vio ketemuan dengan Pak Damar.”
“Oh…begitu…”
“Maaf, Vio memang belum sempat cerita tapi sewaktu Vio ketemu dengan Pak Damar, saya yang mengawasi dari jauh, maaf, karena sebelumnya saya curiga dengan Pak Damar saya takut Vio kenapa-kenapa jadi saya mematai-matainya, saya melihat Vio menangis, karena khawatir jadi saya dekati dan sewaktu di rumah tantenya juga saya mendengar semua pembicaraannya tanpa ada maksud menguping,” Fandra menjelaskan semua pada mamaku.
Tampak mama menangis dalam diam.
Fandra yang menyadari itu hanya berdiri mematung tanpa berkata apa pun lagi.
“Kenapa kamu menyukai Vio?” tanya mama lagi pada Fandra setelah dia bisa menguasai dirinya sendiri
‘Ah, Ma, kamu banyak menangis belakangan ini. Tapi, kenapa kamu bahas ini sekarang?’ gumamku lirih
‘Sepertinya mama kamu setuju kalau dia jadi pacarmu,’ celetuk Oscar tiba-tiba dengan senyum tipis mengejek.
‘Kenapa kamu senyumnya kaya gitu?’
‘Emang kenapa? Terserah aku!’
‘Fandra itu baik banget tau!’
‘Yang bilang jahat juga siapa?’
‘Ssttt!!’
aku menyuruhnya diam ketika Fandra menjawab pertanyaan mama
“Saya tidak punya alasan untuk itu. Saya merasa hati saya mulai menyukainya dan saya berusaha menuruti apa kata hati saya.”
“Kalau kata hatimu bilang, kamu harus meninggalkan Vio, apa kamu juga akan mengikuti kata hatimu?”
“Memang saya mencintai dia tanpa alasan, tapi kalau untuk meninggalkannya tidak akan semudah itu, saya memerlukan alasan yang kuat. Jika memang ada alasan untuk itu dan jika memang Vio yang menginginkannya, terpaksa akan saya lakukan.”
“Kamu tidak akan memperjuangkan cinta kamu?”
“Tentu saya akan memperjuangkannya. Tapi kalau yang saya perjuangkan tidak menginginkannya, lalu untuk apa? Saya ngga mau memaksakan kehendak saya sendiri karena mencintai adalah hubungan antara dua pihak.”
Mama diam sejenak sebelum kembali mengajukan pertanyaan.
“Apa kamu tahu tentang masa lalunya?” kembali mama bertanya mengalihkan pembicaraan.
“Saya tahu semua.”
Mama memandang ke arah Fandra.
“Saya tahu semua, Vio yang bilang. Dia juga memberitahu semuanya pada Hanggara.”
Mama mengalihkan pandangannya ke tubuhku. Meraih jemariku dan membawanya dalam genggamannya.
“Setelah kamu tahu, apa perasaan kamu tetap sama?”
“Justru saya semakin ingin lebih dekat dengannya.”
“Bukan karena kasihan?”
“Tidak, bukan,” sahut Fandra dengan tegas. “Saya bisa membedakan antara kasihan dan sayang.”
“Bagaimana kalau Vio tidak bisa selamat?”
Fandra terdiam.
“Saya pernah mencoba mengingkari perasaan saya padanya. Semakin saya mencoba menjauh semakin kuat perasaan yang saya rasakan. Akhirnya saya harus mengakui kalau saya memang benar-benar jatuh cinta pada putri Ibu. Saat ini juga perasaan yang sama yang saya rasakan, saya sangat yakin Vio akan sembuh. Tidak terlintas sedikit pun di pikiran saya seperti apa yang ibu katakan, dan saya sangat yakin dengan apa yang saya rasakan.”
Aku tidak melepaskan pandanganku pada Fandra. Kenapa dia berani bicara seperti itu? Bagaimana kalau aku benar-benar mati?
‘Percaya diri yang tinggi…” seloroh Oscar lagi-lagi dengan senyumnya yang tidak enak dilihat itu, membuat wajahnya yang sebenarnya tampan menjadi sangat menyebalkan.
“Tapi tetap harus mempersiapkan dirimu untuk yang terburuk,” sahut mama kemudian entah pada Fandra atau pada dirinya sendiri.
Fandra hanya terdiam.
“Bisa kamu keluar dulu saya ingin berdua dengan putri saya,” pinta mama ketika melihat Fandra masih berdiri mematung di ujung tempat tidur.
Tanpa berkata-kata Fandra melangkah menuju pintu dan keluar. Sedangkan mama kembali terisak di samping tubuhku.
‘Ma….’ Panggilku lirih, ‘maafin Vio, Ma.”
Sebuah tangan tiba-tiba menyambar tanganku dan menarikku keluar dari ruangan itu. Oscar berhenti ketika kami sudah berada di koridor tak jauh dari ruang tunggu ICU.
‘Ikut aku,’ ujarnya padaku
‘Kemana?’
‘Ke Jakarta.’
‘Hah?!?’
Diubah oleh drupadi5 05-12-2020 11:35
JabLai cOY dan 6 lainnya memberi reputasi
7