- Beranda
- Stories from the Heart
Lembayung Senja (Horor)
...
TS
mnafisalmukhdi1
Lembayung Senja (Horor)

Lembayung Senja merupakan tetralogi cerpen horor fantasi yang berasal dari mitos masyarakat Banjar. Keempat cerpen tersebut adalah Lembayung Senja, Sekolah, Study Tour ke Candi dan Sehari Semalam.
Spoiler for Sinopsis:
Lembayung Senja merupakan tetralogi cerpen horor fantasi yang berasal dari mitos masyarakat Banjar. Keempat cerpen tersebut adalah Lembayung Senja, Sekolah, Study Tour ke Candi dan Sehari Semalam.
Cerpen pertama berjudul “Lembayung Senja”, menceritakan seorang gadis kecil yang bernama Ira bermain petak umpet di hutan kemudian malah pergi ke dunia lain dan dirasuki oleh sesosok yang tidak diketahui. Sosok yang merasuki Ira membawanya bertemu dengan Wisnu kemudian mereka pergi ke candi untuk meletakkan buku kuno di depan patung terbesar di sana.
Cerita kedua berjudul “Sekolah”, menceritakan sekelompok siswa SMA 1 Tanah Arum yang terdiri atas Anton, Ayu, Widya dan Bima yang ingin menguji mitos bahwa sekolah mereka dulunya rumah sakit jiwa. Mereka kemudian berpetualang di sekolah mereka sendiri dengan tujuan beberapa tempat yakni UKS di lantai satu dan dua serta ruang ekskul menjahit di lantai dua.
Cerita ketiga berjudul “Study Tour ke Candi”, menceritakan Anton, Ayu, Widya dan Doni yang diberi tugas untuk study tour namun mereka memilih candi karena ingin mempelajari sejarahnya. Dalam perjalanan, mereka menemukan sebuah buku kuno lainnya.
Cerpen keempat berjudul “Sehari Semalam”, terpisah dari tiga cerita sebelumnya namun tetap bergenre horor fantasi dengan dibumbui mitos masyarakat Banjar. Beberapa bagian dalam cerita ini berasal dari kehidupan nyata penulis.
Cerpen pertama berjudul “Lembayung Senja”, menceritakan seorang gadis kecil yang bernama Ira bermain petak umpet di hutan kemudian malah pergi ke dunia lain dan dirasuki oleh sesosok yang tidak diketahui. Sosok yang merasuki Ira membawanya bertemu dengan Wisnu kemudian mereka pergi ke candi untuk meletakkan buku kuno di depan patung terbesar di sana.
Cerita kedua berjudul “Sekolah”, menceritakan sekelompok siswa SMA 1 Tanah Arum yang terdiri atas Anton, Ayu, Widya dan Bima yang ingin menguji mitos bahwa sekolah mereka dulunya rumah sakit jiwa. Mereka kemudian berpetualang di sekolah mereka sendiri dengan tujuan beberapa tempat yakni UKS di lantai satu dan dua serta ruang ekskul menjahit di lantai dua.
Cerita ketiga berjudul “Study Tour ke Candi”, menceritakan Anton, Ayu, Widya dan Doni yang diberi tugas untuk study tour namun mereka memilih candi karena ingin mempelajari sejarahnya. Dalam perjalanan, mereka menemukan sebuah buku kuno lainnya.
Cerpen keempat berjudul “Sehari Semalam”, terpisah dari tiga cerita sebelumnya namun tetap bergenre horor fantasi dengan dibumbui mitos masyarakat Banjar. Beberapa bagian dalam cerita ini berasal dari kehidupan nyata penulis.
Spoiler for Daftar Isi:
Dukung saya dengan membeli karya ini dalam bentuk buku melalui lapak Kaskus, beri tip di KaryaKarsa, atau berdonasi di Paypal. Terima kasih

Spoiler for Bahan Bacaan:
https://www.kaskus.co.id/thread/5a04...-senja-kuning/
Bukan thread saya, namun bisa dibaca terlebih dahulu untuk memahami cerita ini.
Diubah oleh mnafisalmukhdi1 26-11-2020 17:21
c4punk1950... dan 2 lainnya memberi reputasi
1
1.5K
Kutip
9
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mnafisalmukhdi1
#3
Study Tour ke Candi
Spoiler for Cerpen ketiga:
Anton, Widya, Ayu dan Doni adalah formasi baru setelah kematian Bima di sekolah mereka. Kali ini mereka menuntaskan niat mereka untuk menyelidiki sebuah candi yang terletak di hutan. Mereka kali ini diberi tugas untuk study tour, sebenarnya terserah para siswa untuk memilih kemana, namun entah kenapa tim ini memilih untuk pergi ke candi.
***
"Lah, kok candi nya jadi gini?" tanya Widya.
"Emangnya kenapa?" tanya Ayu balik.
"Beberapa bulan yang lalu aku kemari, belum seperti ini," jawab Widya.
"Memang, selama beberapa bulan ada seorang pria yang merenovasi beberapa hal dari candi ini. Tidak semuanya, hanya gerbang ini dan patung di dalam sana," kata Doni.
"Kamu tahu hal ini?" tanya Anton. "Aku hanya sering melihat beliau, karena aku sering lewat sini," sahut Doni.
"Kita tidak salah memilih anggota baru," ucap Anton.
"Jangan begitu, aku memohon kerja samanya saja," kata Doni.
***
"Widya, apa hal yang bisa kita ketahui dari sini?" tanya Anton.
"Biar kubuka buku yang kubawa ini."
Perhatian mereka teralihkan oleh bunyi knalpot yang begitu nyaring mendekat ke arah mereka.
"Ada apa ini anak-anak?" tanya seorang pria turun dari motornya.
"Itu pria yang kumaksud," tunjuk Doni.
"Anu pak, kami ingin mempelajari lebih banyak tentang candi ini," jawab Anton.
"Oh silahkan, saya hanya ingin melanjutkan pekerjaan saya."
"Tunggu, bapak penjaga museum 'kan?" tanya Widya. Beliau hanya tersenyum dan membawa kotak alat bersamanya. "Aku yakin itu beliau."
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Ayu.
"Beliau, aku yakin beliau penjaga museum itu," jawab Widya. "Aku memilih untuk mengikuti beliau saja. Aku benar-benar penasaran dengan beliau."
"Sejarah Candi Raya," ucap Anton membaca judul buku itu. Dia pun membaca isi bukunya.
"Pada abad kedua belas masehi,berdirilah sebuah kerajaan bernama Tanah Arum. Sempat dipimpin oleh lima raja berturut-turut, namun akhirnya runtuh pada abad kelima belas masehi."
"Baru saja aku mau nanya dimana kerajaannya, ternyata udah dijawab, sudah runtuh enam abad yang lalu," komentar Anton.
"Diceritakan bahwa seorang pemuda bernama Singadarma berkelana di desa yang tidak diketahui namanya. Singadarma adalah penduduk kerajaan yang tersisa dari Kerajaan Tanah Arum yang diruntuhkan oleh beberapa kerajaan lain secara bersamaan. Dia pun mulai pergi menjauh dari tanah aslinya. Di desa yang tidak diketahui namanya ini, dia menemukan sebuah hutan yang cukup besar dengan pohon beringin di tengahnya. Hal itu cukup menariknya, namun dia memilih untuk agak menjauh dari pohon besar itu. Pada akhirnya, dia mendirikan sebuah kerajaan baru yang tetap dinamainya sebagai Kerajaan Tanah Arum."
"Hm, cerita yang menarik," komentar Doni.
"Dari cerita ini seharusnya kita terlebih dahulu pergi ke hutan yang dimaksud ini. Kurasa hutan ini masih ada sampai sekarang," ucap Anton.
"Tapi bagaimana dengan Widya?" tanya Ayu.
"Mari kita mengambil keputusan bersama."
Mereka pun mendiskusikan hal ini, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi, namun pada akhirnya, pilihan mereka adalah menuju hutan dulu baru ke dalam candi. Mereka benar -benar ingin mengetahui jejak Singadarma ini dalam mendirikan Kerajaan Tanah Arum. Dan akhirnya, Study Tour mereka ditunda sementara demi kerincian legenda ini.
***
"Pak,anda mau membuat apa?"tanya Widya.
"Saya? Saya ingin membuatkan pagar untuk jembatan ini," jawab pria yang membawa kotak alat itu. Widya mengangguk.
"Anu, saya boleh tau nama bapak?"
"Tentu, nama bapak Indra."
"Berarti bener dong, anda penjaga museum kan?"
"Ya, tapi sudah dipecat."
"Lah, kok dipecat? Padahal, anda bagus loh dalam menjelaskan benda-benda di museum itu."
"Bapak gagal menjaga sebuah buku. Ada yang mencurinya namun bapak tidak sempat menangkapnya."
"Buku yang mana?"
"Yang di dalam akuarium itu."
"Astaga. Itu yang dicuri? Udah ketemu?"
"Sepertinya. Jadi, saya amankan dan saya kembalikan ke tempat seharusnya."
"Dimana?"
"Di depan patung itu," tunjuk pak Indra ke arah patung paling besar.
"Oh ya, kamu gak ikut mereka kah?" tanya pak Indra.
"Gak dulu, saya lebih senang bertanya langsung dengan orang yang tahu sejarah kota kita ini."
Pak Indra hanya tersenyum. Sementara Widya mulai berkeliling untuk melihat bangunan candi ini.
***
"Menuju kesini kan?" tanya Anton.
"Kayaknya iya," jawab Ayu.
"Masalahnya tidak ada ilustrasi di buku ini, jadi aku tidak tahu bagian mana yang dimaksud," ucap Anton sambil membaca buku.
"Anton, awas kakimu!"teriak Ayu.
Anton menurunkan bukunya untuk melihat apa yang di depan kakinya. Rupanya hampir saja kakinya terkait akar sebuah pohon yang agak mencuat. Dia pun melihat secercah sinar di antara timbunan daun.
"Pegang buku ini," ucap Anton seraya menyerahkan buku yang dipegangnya. Dia mulai membersihkan timbunan daun itu, dan terlihatlah sebuah buku. Buku itu sepertinya kuno.
"Buku apa ini?" tanya Anton sambil mengangkat buku itu.
"Buku ini...."
"Ada apa?" tanya Ayu.
"Buku ini hanya ada dua di kota ini. Setahuku salah satunya di museum, namun salah satunya masih menghilang," papar Doni.
"Wah, berarti ini buku yang sangat penting. Boleh kubuka?"
"Jangan dulu, lebih baik kita bertanya kepada yang tahu," jawab Doni.
"Hm, benar juga. Ayu, kita tukeran buku."
"Baiklah."
Anton mulai memerhatikan ke sekitar. Di depannya dia melihat sebuah gubuk. Dia mendekati gubuk itu. Dia membuka pintunya secara perlahan. Decitan pintu itu begitu terdengar di telinganya. Ternyata isinya kosong dan dia pun menutup pintunya kembali.
Dia berpaling. Dia menyadari bahwa yang di depannya sekarang, hutan ini mulai meluas dan menjadi area yang nampaknya berbeda dari yang lain.
Dia kemudian berjalan ke arah sana. Pandangannya mulai kosong. Teriakan dari Ayu tidak bisa lagi didengarnya. Doni yang mencoba menghalangi pun ditepisnya.
Ayu dan Doni keheranan, kemana dia menuju. Mereka hanya mengikutinya secara perlahan. Sampai mereka tiba, di pohon beringin besar itu.
Akhirnya, dia tersadar. Dia mengguncang kepala dan mengusap matanya. "Dari mana aku tadi?" tanya Anton.
"Kamu tidak sadar?" tanya Ayu balik.
"Sepertinya ada sesuatu yang di dalam gubuk itu yang sempat memengaruhiku. Aku merasakannya, namun aku tidak bisa mengendalikannya."
Mereka kemudian dikagetkan dengan mayat seorang gadis yang tiba-tiba begitu saja bangkit. Ayu berlindung di balik Doni.
"Siapa anak ini?" tanya Anton.
Gadis itu hanya maju beberapa langkah, mencoba mendekati Ayu, namun jatuh tepat di depan Doni. Ayu pun pingsan, sementara Doni berusaha menyadarkan. Anton kembali membuka bukunya, di halaman yang sama seperti yang dibukanya sebelum pergi ke hutan ini.
"Akhirnya, kita menemukan pohon beringin yang dimaksud itu. Kita menemukannya tepat di hadapan kita."
***
Widya kembali ke dekat pak Indra. Rupanya dia sudah selesai berkeliling.
"Apa yang kamu lakukan barusan?" tanya pak Indra sambil terus memasangkan pagar kepada jembatan yang sudah separuh jalan itu.
"Saya hanya melihat-lihat pak."
"Kamu melihat hal yang menarik?"
"Tidak juga, karena banyak hal yang saya baca dari buku sudah tidak ada disini."
"Itu adalah akibat dari kurangnya penjagaan di candi ini. Mungkin masih ada, tapi hanya tertutup oleh sesuatu."
"Hm, kenapa saya gak kepikiran ya?"
Widya kembali berjalan. Kali ini dia menuju hutan kecil dalam komplek candi itu.
***
"Sekarang, kemana tujuan kita?" tanya Anton.
"Coba baca bukunya," jawab Doni.
"Hm, dituliskan bahwa dia mendirikan candi yang jauh dari sini. Berarti kita pulang dong?"
"Iya. Gara-gara kesini, Study Tour kita tertunda," ucap Ayu yang sudah sadar.
"Tapi aku masih bertanya-tanya, apa alasan Singadarma itu memilih tempat yang jauh dari pohon ini. Memangnya ada apa?" Anton mencoba mendekati pohon itu. Tiba-tiba batang pohon itu terbuka dan menutupi Anton.
"Anton!" teriak Ayu yang masih duduk.
"Kemana perginya?" tanya Doni.
***
"Aduh!" ucap Anton tersandung. Dia kemudian berdiri dan menyapu bajunya.
"Dimana aku?" tanyanya. Dia melihat ke sekitar, hanya kekosongan yang menemaninya.
"Bagaimana cara aku keluar dari sini?" Dia menghela napas dan menutup matanya.
***
Batang pohon itu terbuka dan mengeluarkan Anton dengan tubuh yang masih utuh.
"Anton? Kamu tidak apa-apa?" tanya Ayu yang sudah berdiri.
"Ya, aku tidak apa-apa," jawab Anton.
"Apa yang terjadi barusan?"
"Tidak tahu. Bahkan aku berpikir aku akan terjebak disana selamanya. Aku seakan-akan masuk ke dunia lain gara-gara pohon ini."
"Bohong! Kau hanya membuatku takut!" ucap Ayu.
"Sayangnya itu adalah sebuah kebenaran. Lupakan saja itu, mari kita kembali ke candi."
***
Matahari sudah tergelincir, sementara mereka masih berada di hutan itu.
"Aku rasa kita tersesat, Anton."
"Ada desa!" tunjuk Ayu.
"Mari kita kesana sebentar, semoga ada orang disana yang bisa mengarahkan kita."
"Baiklah."
***
Widya terus mencari sesuatu di hutan yang terletak di daerah candi itu. Dia kehilangan arah sekarang. Dia mencoba keluar dari hutan itu, namun tidak bisa.
Anehnya, dia melihat pintu terletak di tengah hutan kecil itu. Dia mendekatinya. Dia kemudian membukanya, dan memasukinya.
Pintu itu mengarahkannya ke sebuah rumah. Rumah itu nampak cukup tua, didasarkan pada banyaknya sarang laba-laba di langit-langit rumah.
Dia melihat ke sekitar dan menemukan sebuah lukisan besar dari seorang wanita. Wanita itu cantik, dengan memakai gaun putih.
"Siapa dia?" tanya Widya pada dirinya sendiri sambil mencoba mengingat-ingat.
Tak lama kemudian, dia mengingat siapa wanita itu. Setelah dia tahu wanita itu siapa, dia segera mencari pintu keluar dari rumah itu, seolah tidak ingin berlama-lama di dalamnya.
***
"Anton, nampaknya rumah itu ada orangnya," tunjuk Doni.
"Iya tuh. Seorang wanita yang sedang menjahit pakaian."
Anton memberanikan diri mendekat ke rumah tersebut. "Permisi,bu."
"Ya,ada apa dek?"
"Anu, kami tersesat. Jalan menuju candi, ke arah mana ya?"
"Oh, candi? Candi ke arah sana. Lurus saja," tunjuk wanita itu.
"Ngomong-ngomong, kalian dari mana nih? Kok baju sekolah?"
"Kami dari SMA 1 Tanah Arum bu."
"SMA 1? Kalian tenang sekolah disana?"
"Gak juga sih, banyak kejadian yang tidak mengenakkan, seperti siswi yang kesurupan," jawab Anton.
"Kalau bisa, kalian lebih baik menjauh. SMA kalian terlalu dekat dengan candi itu. Lagipula, SMA kalian juga bekas rumah sakit."
"Tunggu dulu,apa yang kamu pegang?" tanya wanita itu menunjuk ke tangan Ayu.
Wanita itu tiba-tiba berhenti menjahit dan sepertinya berjalan ke arah pintu. Dia pun menuruni tangga. "Boleh ibu minjam?"
"Tentu," jawab Ayu sambil menyerahkan buku yang dipegangnya.
Wanita itu melihat sampul buku itu. Dia nampak kebingungan.
"Ada apa bu?" tanya Anton.
"Ibu merasa suami ibu sudah menaruh buku ini di candi. Tapi kok bisa ada di kamu? Nyuri ya?"
"Gak kok bu," jawab Anton.
"Mungkin, ibu salah paham. Buku yang seperti ini memang ada, dan ibu sudah ngasih tau bahwa yang satunya itu udah di candi," papar Doni mencoba menengahi.
"Astaga, ibu lupa bahwa ada dua buku."
"Dari mana ibu tahu?"
"Karena ibunya ibu yang menulis buku itu,"ucap wanita itu sambil menyerahkan buku itu kepada Ayu lagi.
"Jadi, nak. Kalian boleh membuka buku ini dengan catatan, kalian berhati-hati dengan mantra di dalam buku ini."
"Memangnya ada apa?" tanya Anton.
"Isi buku ini terbagi dua. Ada yang semuanya baik, ada yang semuanya buruk," jawab Doni.
"Apa yang dikatakannya itu benar, dan yang baik sudah diamankan di tempat seharusnya. Sekali lagi, ibu hanya memperingatkan kalian untuk berhati-hati." Wanita itu kembali masuk ke dalam rumah dan melanjutkan menjahit.
"Baiklah, kalian sudah mendengar apa kata ibu itu. Semoga kalian bisa mematuhi apa kata beliau," ucap Anton. "Mari kita pulang ke candi."
"Teman-teman!" Teriakan wanita itu sontak membuat Anton, Ayu dan Doni menoleh ke belakang secara bersamaan. Ternyata, Widya sedang berlari ke arah mereka.
"Kamu ngikutin kami kah,Wid?" tanya Ayu.
"Tidak, tapi aku terteleportasi."
"Hah?"Anton nampak kebingungan.
"Iya, tadi aku ke hutan yang di candi. Ternyata, aku tersesat kemudian menemukan pintu di tengah hutan itu. Kumasuki, ternyata mengarah ke rumah yang disana," tunjuk Widya.
"Nampaknya, kita lebih cepat menuju candi ke arah sana," ucap Doni.
"Tidak, kita harus mematuhi apa kata ibu itu tadi."
"Tapi aku mau ke arah sana!" seru Doni.
"Baiklah, kamu dan Widya, kembali ke arah sana. Aku dan Ayu pergi ke arah sana. Setuju?" Mereka mengangguk, nampaknya mereka setuju. Mereka pun berpisah jalan.
***
"Lukisan itu...."
"Ada apa, Don?" tanya Widya.
"Mungkinkah dia adalah ibu dari wanita yang kita temui tadi?"
"Kita? Aku bahkan tidak tahu apa yang kamu maksud."
"Lupakan saja. Oh ya, yang mana pintunya. Banyak nih."
"Yang ini," jawab Widya sambil memegang gagang pintu.
"Yakin?" Widya kemudian menegaskan bahwa dia masih ingat kemudian membuka pintu itu.
"Baa!" Widya dikagetkan oleh pria yang bekerja di candi itu. "Hehehe. Maaf."
"Ah, bapak ini, sudah selesai pagarnya?"
"Sudah, lagipula sudah hampir sore. Istirahat dulu. Sambil jalan-jalan juga, ternyata ketemu pintu ini." Pria itu ingin melihat ke dalam dan diperbolehkan Widya.
"Oh, ini sih rumah ibunya istriku." Doni kemudian menanyakan yang mana istri beliau.
"Yang tinggal di rumah panggung itu."
"Tebakanku bener dong!" seru Doni.
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa. Maaf."
"Ya, mari kita kembali ke candi ini."
***
"Masih panjang gak ya, jalan ini?"
"Entahlah," jawab Ayu.
"Ayu, kamu mencium bau busuk ini?"
Ayu mulai mengendus. "Ya," jawabnya.
"Dari mana asalnya?" tanya Anton terus berjalan.
"Astaga!"
"Ada apa?"
"Itu!" tunjuk Ayu.
"Pak Arya? Kenapa beliau ada disini?"
"Tepatnya, kenapa beliau mati," sanggah Ayu. Mereka terdiam sejenak.
"Apa ini? Motornya berhancuran," ucap Anton.
"Sepertinya beliau kecelakaan disini."
"Bisa jadi. Paling tidak, kita mengetahui kemana beliau selama ini, sejak beliau tidak ada di rumahnya yang dekat dengan sekolah kita itu."
0
Kutip
Balas
Tutup