- Beranda
- Stories from the Heart
Aphrodite, Di Balik Senyum Sang Dewi
...
TS
husnamutia
Aphrodite, Di Balik Senyum Sang Dewi
Kumpulan Cerpen

Ketika cinta dan kesetiaan dipertaruhkan pada ketidakpastian.

Setiap senja tiba, lelaki itu selalu datang ke stasiun. Kemudian duduk di bangku panjang paling ujung. Sesekali ia beranjak kemudian duduk lagi.
Sepertinya ia tengah menantikan seseorang, tampak dari gerak-geriknya. Lelaki itu akan berlari ke depan kereta yang berhenti. Kemudian, berdiri meneliti wajah-wajah yang baru saja tiba. Ia kemudian menarik diri, kembali duduk dengan wajah kecewa.
"Siapa yang tengah dinantinya?" Setiap tanya dari orang-orang di stasiun yang melihat tingkah lelaki itu.
"Sudah lima belas tahun ia begitu. Gara-gara cewek. Makanya kalau demen sama cewek jangan terlalu, nanti jadi gini," ucap Bapak penjual Es Dawet sambil menempelkan jari di jidatnya.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya. "Begitu besar cinta dan kesetiaan pria itu," gumamku.
"Dulu dia ganteng loh mas," ucap Mbok gorengan asal Jawa, yang mangkal di pinggir stasiun dengan semangat. Nampak semburat senyum nangkal di ujung bibirnya.
"Dulu, Ibu naksir ya?" spontan aku membalas candaan itu sambil menahan tawa.
"Hahaha itu dulu loh, sekarang ya ogah. Mending sing waras, senajan buluk," jawabnya lagi sembari melirik lelaki paruh baya yang baru datang membawa tremos es. Mungkin, ia suaminya.
Dari jauh, lelaki di ujung stasiun itu masih duduk termangu. Merah saga semakin jelas terlihat, sebentar lagi Maghrib tiba dan malam pun datang.
"Sampai kapan lelaki itu akan menunggu?"
Sudah seminggu lamanya, mondar-mandir di stasiun ini hanya untuk menyelesaikan tugas akhir. Kini, aku justru semakin tertarik lebih lama memahami kehidupan jalanan, terlebih dengan lelaki itu.
Lelaki itu nyaris tak pernah bicara dengan siapa pun. Bagiku ia cermin kesetiaan, tetapi kadang pula logikaku menentang. Kasihan, ya, lelaki itu telah mempertaruhkan cinta dan kesetiaan pada sebuah ketidak pastian.
Tahukah kau apa yang kau lakukan itu
Tahukah kau siksa diriku
Bertahun kunantikan jawaban dirimu
Bertahun-tahun ku menunggu
Hampir saja kopi di tangan tumpah, saat seorang pengamen tiba-tiba bernyanyi nyaring di sampingku.
"Terima kasih," ucap pemuda ceking berkas oblong warna hitam pudar, sambil menyambar uang dua ribu yang kusodorkan sambil berlalu.
Dari bangku kedai kopi, aku masih betah mengawasi lelaki bertopi yang nyaris menutupi sebagian wajahnya. Lelaki itu tampak tengah mencoret-coret sesuatu. Membuatku tergerak untuk mendekatinya.
Ia tak bereaksi saat aku mendekatinya. Benar seperti dugaanku, ia tengah menulis sesuatu di sebuah buku tulis.
Baru saja hendak menyapa, lelaki itu bangkit setelah merobek kertas yang telah ditulisnya dan melemparkan ke tong sampah tak jauh dari tempatnya duduk.
Lelaki itu kembali diam, memandang jauh ke rel kerata, dengan tatapan kosong dan hampa.
Aku mengambil kertas yang baru saja di lemparkan lelaki itu. Diam-diam melipat dan memasukannnya ke kantong. Sambil ngeloyor ke mushola di ujung belakang stasiun.
Setelah shalat Maghrib, dan mengikat tali sepatu di teras. Aku menyempatkan membuka selembar kertas yang kupungut dari tempat sampah tadi. Pelan tulisan tangan itu mulai kubaca.
Dear Natalie
Di sini aku masih menunggumu, turun dari kereta dan melambaikan tangan.
Dengan tangan terbuka, kan kusambut kedatanganmu.
Pelukan ini masih menunggumu, pulang seperti yang kau janjikan.
Sudah seribu kereta melintasi senja, hingga tetbit surya, kau masih belum tiba. Lupakah kau pada janjimu?
Atau mungkin kau telah tiba, tetapi kita tak bertemu. Oh maafkan aku, pasti tadi aku beranjak pergi mengisi perutku.
Baiklah sayang aku tak kan pergi barang sejenak pun, dari sini. Hingga kau kembali.
Kekasihmu
Rangga
Aku melipat kertas itu kembali, dan pergi menghampiri lelaki itu. Setelah sebelumnya mbeli sebungkus nasi dan minuman.
Lelaki itu tetap tak bereaksi, saat kuletakan sepaket makan malam untuknya.
Ah, ingin rasanya mendengar lelaki itu bicara, tetapi itu tak mungkin. Kata penjual nasi yang kutemui barusan, lelaki itu sudah kehilangan suaranya sejak ia merana kehilangan kekasihnya karena kecelakaan lima belas tahun silam.
Tamat
Terima kasih sudah mampir.
Sumber gambar sampulklik
Gambar dua Pixabay edit by Canva

Ketika cinta dan kesetiaan dipertaruhkan pada ketidakpastian.

Lelaki Senja Di Ujung Stasiun
Setiap senja tiba, lelaki itu selalu datang ke stasiun. Kemudian duduk di bangku panjang paling ujung. Sesekali ia beranjak kemudian duduk lagi.
Sepertinya ia tengah menantikan seseorang, tampak dari gerak-geriknya. Lelaki itu akan berlari ke depan kereta yang berhenti. Kemudian, berdiri meneliti wajah-wajah yang baru saja tiba. Ia kemudian menarik diri, kembali duduk dengan wajah kecewa.
"Siapa yang tengah dinantinya?" Setiap tanya dari orang-orang di stasiun yang melihat tingkah lelaki itu.
"Sudah lima belas tahun ia begitu. Gara-gara cewek. Makanya kalau demen sama cewek jangan terlalu, nanti jadi gini," ucap Bapak penjual Es Dawet sambil menempelkan jari di jidatnya.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya. "Begitu besar cinta dan kesetiaan pria itu," gumamku.
"Dulu dia ganteng loh mas," ucap Mbok gorengan asal Jawa, yang mangkal di pinggir stasiun dengan semangat. Nampak semburat senyum nangkal di ujung bibirnya.
"Dulu, Ibu naksir ya?" spontan aku membalas candaan itu sambil menahan tawa.
"Hahaha itu dulu loh, sekarang ya ogah. Mending sing waras, senajan buluk," jawabnya lagi sembari melirik lelaki paruh baya yang baru datang membawa tremos es. Mungkin, ia suaminya.
Dari jauh, lelaki di ujung stasiun itu masih duduk termangu. Merah saga semakin jelas terlihat, sebentar lagi Maghrib tiba dan malam pun datang.
"Sampai kapan lelaki itu akan menunggu?"
Sudah seminggu lamanya, mondar-mandir di stasiun ini hanya untuk menyelesaikan tugas akhir. Kini, aku justru semakin tertarik lebih lama memahami kehidupan jalanan, terlebih dengan lelaki itu.
Lelaki itu nyaris tak pernah bicara dengan siapa pun. Bagiku ia cermin kesetiaan, tetapi kadang pula logikaku menentang. Kasihan, ya, lelaki itu telah mempertaruhkan cinta dan kesetiaan pada sebuah ketidak pastian.
Tahukah kau apa yang kau lakukan itu
Tahukah kau siksa diriku
Bertahun kunantikan jawaban dirimu
Bertahun-tahun ku menunggu
Hampir saja kopi di tangan tumpah, saat seorang pengamen tiba-tiba bernyanyi nyaring di sampingku.
"Terima kasih," ucap pemuda ceking berkas oblong warna hitam pudar, sambil menyambar uang dua ribu yang kusodorkan sambil berlalu.
Dari bangku kedai kopi, aku masih betah mengawasi lelaki bertopi yang nyaris menutupi sebagian wajahnya. Lelaki itu tampak tengah mencoret-coret sesuatu. Membuatku tergerak untuk mendekatinya.
Ia tak bereaksi saat aku mendekatinya. Benar seperti dugaanku, ia tengah menulis sesuatu di sebuah buku tulis.
Baru saja hendak menyapa, lelaki itu bangkit setelah merobek kertas yang telah ditulisnya dan melemparkan ke tong sampah tak jauh dari tempatnya duduk.
Lelaki itu kembali diam, memandang jauh ke rel kerata, dengan tatapan kosong dan hampa.
Aku mengambil kertas yang baru saja di lemparkan lelaki itu. Diam-diam melipat dan memasukannnya ke kantong. Sambil ngeloyor ke mushola di ujung belakang stasiun.
Setelah shalat Maghrib, dan mengikat tali sepatu di teras. Aku menyempatkan membuka selembar kertas yang kupungut dari tempat sampah tadi. Pelan tulisan tangan itu mulai kubaca.
Dear Natalie
Di sini aku masih menunggumu, turun dari kereta dan melambaikan tangan.
Dengan tangan terbuka, kan kusambut kedatanganmu.
Pelukan ini masih menunggumu, pulang seperti yang kau janjikan.
Sudah seribu kereta melintasi senja, hingga tetbit surya, kau masih belum tiba. Lupakah kau pada janjimu?
Atau mungkin kau telah tiba, tetapi kita tak bertemu. Oh maafkan aku, pasti tadi aku beranjak pergi mengisi perutku.
Baiklah sayang aku tak kan pergi barang sejenak pun, dari sini. Hingga kau kembali.
Kekasihmu
Rangga
Aku melipat kertas itu kembali, dan pergi menghampiri lelaki itu. Setelah sebelumnya mbeli sebungkus nasi dan minuman.
Lelaki itu tetap tak bereaksi, saat kuletakan sepaket makan malam untuknya.
Ah, ingin rasanya mendengar lelaki itu bicara, tetapi itu tak mungkin. Kata penjual nasi yang kutemui barusan, lelaki itu sudah kehilangan suaranya sejak ia merana kehilangan kekasihnya karena kecelakaan lima belas tahun silam.
Tamat
Terima kasih sudah mampir.
Thread ini adalah sebuah kumpulan cerpen Aphrodite, Di Balik Senyum Sang Dewi dengan cerpen pertama berjudul Lelaki Senja Di Ujung Stasiun. InsyaAllah ane akan update seminggu sekali. Mohon doa dan suport teman-teman semuanya.
Sumber gambar sampulklik
Gambar dua Pixabay edit by Canva
Quote:
Diubah oleh husnamutia 28-10-2021 02:15
jamalfirmans282 dan 59 lainnya memberi reputasi
60
14.8K
716
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
husnamutia
#134
Cinta Nastuti

Angin bertiup kencang, hingga menggoyangkan tirai bambu pelindung di teras rumah Nastuti. Ia merapatkan jaket, kemudian menyeruput kopi yang hampir dingin. Gadis itu acuh saja saat beberapa tetangga melintas di depan rumahnya. Tersenyum sambil geleng kepala. Melihat gadis itu sesekali tersenyum, menangis kemudian tertawa sendiri.
"Sebentar lagi musim hujan datang. Kamu di mana Mas Yok?" gumam Nastuti. Tatapannya jauh menerawang ke langit gelap, segelap pengetahuan akan kelangsungan hubungan cinta dengan Yoko, kekasihnya.
"Sebentar lagi musim kemarau berakhir, Mas Yok. Lihatlah pohon-pohon Randu telah berbunga, bukan hanya itu Gerapung di rumpun bambu dekat kali sering kali berbunyi, dan malam ini Mas Yok, hawanya sangat dingin," ucap Nastuti pada selembar foto di tangannya. Ia mendesah, kemudian memejamkan mata, mengenang Mas Yok, kekasihnya.
Nastuti membenamkan foto itu ke dalam pelukannya. Tubuh rampingnya ia sandarkan pada dinding, kedua mata Nastuti terpejam, pikirannya melayang pada momen-momen indah saat bersama Mas Yok.
"Nas, kamu tahu musim hujan akan berakhir. Lihat, pohon Randu berbunga dan dengarlah," ucap Yoko sambil berbisik di telinga Nastuti, membuat gadis itu merinding. "Grampung bernyanyi, kamu tahu apa yang ia nyanyikan?"
Nastuti menggeleng sambil tersenyum menampakan lesung di kedua pipinya.
"Dari Matamu Matamu
Ku Mulai Jatuh Cinta
Ku Melihat Melihat
Ada Bayangan
Dari Mata Kau Buatku Jatuh
Jatuh Terus Jatuh Ke Hati"
Yoko bernyanyi sambil mengetik gitar, Nastuti hanya tersipu-sipu mendengarkan suara merdu kekasihnya. Keromantisan sejoli itu disaksikan hijaunya rumpun bambu serta indahnya pohon-pohon Randu di tepi Kali Banjaran.
"Nas! Nastuti! masuk udah malem, Nduk!" Suara terikan Ibunya Nastuti, membuyarkan lamunan gadis itu. Bergegas Nastuti bangkit dan masuk ke dalam rumah, kemudian langsung masuk ke kamarnya.
Bukannya segera tidur, gadis itu justru membuka tirai jendela kemudian duduk bersimpuh di lantai, sementara tatapannya jauh menembus malam, menyaksikan bulan separuh yang mulai datang terlambat.
"Mas Yok, aku kangen," ucapnya pelan.
Rasa rindu yang ia rasakan semakin dalam menghujam hatinya. Seiring wajah kekasihnya yang menari-nari di pelupuk matanya.
Empat tahun yang lalu, Mas Yoko pergi merantau ke Jakarta. Meninggalkan Nastuti dengan satu kalimat janji, yang terus dipegang hingga kini.
"Aku mau cari modal untuk pernikahan kita. Di sini, ijazahku tak terpakai. Aku janji, aku akan menghubungimu selalu." Perkataan Mas Yok, saat itu begitu menenangkan Nastuti.
Pada awalnya hampir setiap hari pesan SMS selalu ia terima. Namun seiring waktu berlalu pesan-pesan romantis semakin jarang Nastuti terima. Ingin gadis itu mendahului, tetapi ia merasa segan karena takut mengganggu Mas Yok-nya yang katanya telah menjadi pengusaha kuliner sukses di Jakarta. Hingga pesan SMS semakin jarang orang memakainya, kini beralih ke aplikasi WhatsApp. Namun Nastuti masih setia menunggu kekasihnya kembali.
"The number you are headed is not active or is outside the range. Please try again later."
Terakhir suara itu yang terdengar saat ia telepon Ma Yok. Meskipun Nastuti tak tahu apa arti persisnya, tetapi ia paham bahwa nomer HP itu sudah tidak aktif lagi. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali jawabannya selalu sama. Akan tetapi Nastuti tetap berharap, Mas Yok, akan menghubunginya dengan nomer lain.
"Mas Yok, hanya ingin memberi kejutan dan menguji kesetiaanku, makanya ia melakukan ini," jawabnya selalu saat teman-teman dan kerabatnya meragukan tentang Ma Yok-nya.
Malam semakin merangkak tua, Nastuti belum tergerak untuk berpindah ke kasur kapuk empuk miliknya. Hingga pagi menjelang gadis itu tertidur di bawah jendela kamar.
Saat mentari pagi menerobos kaca, dan menimpa wajah Nastuti. Gadis itu menggeliat, merespon cahaya hangat yang menyentuh pipinya.
"Astaghfirullah, kesiangan!" Gadis itu bergegas ke luar kamar dan langsung berlari ke kamar mandi yang terletak di bagian belakang rumahnya.
"Bu, kok Nas, gak dibangunin," ucap gadis itu begitu selesai mandi dan menghampiri ibunya dekat pawon.
"Hari ini hari minggu, kamu kan libur ngajar. Kamu juga lagi ndak shalat jadi ibu biarin lah sekali-kali kamu bangun siang," jawab wanita Paruh baya itu, sambil menuang Nasi ke dalam wadah terbuat dari Bambu.
"Tapi jadinya, Nas, ndak bantuin ibu masak."
"Ndak apa-apa," ucap Ibunya Nastuti lagi, sambil menatap iba gadis semata wayangnya. Ia paham betul apa yang tengah dirasakan gadis itu. Dulu, kemiskinan ini penghalang Nastuti dapat restu calon mertuanya.
Terlebih lagi setelah kini Yoko sukses di Jakarta. Orang tua Yoko semakin berada di atas angin, dan kini Yoko pun tak ada kabar berita. Wanita paruh baya itu yakin, semua itu ada hubungannya dengan ketidak setujuan calon mertua puterinya itu. Namun ia tak bisa berbuat banyak, puterinya telah begitu percaya dan berharap pada Yoko, anak sang kepala desa.
"Nduk, sadarlah. Tak seharusnya kamu nunggu Mas Yok, pulang. Sekarang umurmu sudah dua puluh lima tahun. Apa kamu ... " Belum selesai sang Ibu bicara, tiba-tiba Nastuti bangkit.
"Bue, Nas, lupa. Hari ini Nas ada latihan Nari buat lomba IGTK kecamatan. Nas, mau siap-siap dulu, ya." Nastuti kemudian bangkit meninggalkan ibunya sendiri di dapur.
Bruk! Nastuti membanting pintu dan mengunci diri di kamar. Membuat wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu tersentak kaget dan mengelus dada. Air mata meluncur dari kedua mata. Perih melihat putri semata wayangnya. Meski terlihat normal dan baik-baik saja, Nastuti sedikit terganggu kejiwaannya. Semenjak kecelakaan yang merenggut nyawa Yoko. Nastuti selalu berhalusinasi bahwa Yoko hanya pergi merantau tanpa kabar berita, dan suatu saat ia akan kembali. Berulang kali ia mencoba menjelaskan, tetapi Nastuti selalu menganggap bahwa ibunya mencoba menggoyahkan kesetiaannya. Mengurung diri di kamar membuat Nastuti semakin jauh masuk dalam dunia imajinasinya sendiri.
Mutia Al Husna (Mutia AH)
Ruji, 18 November 2020
"Sebentar lagi musim hujan datang. Kamu di mana Mas Yok?" gumam Nastuti. Tatapannya jauh menerawang ke langit gelap, segelap pengetahuan akan kelangsungan hubungan cinta dengan Yoko, kekasihnya.
"Sebentar lagi musim kemarau berakhir, Mas Yok. Lihatlah pohon-pohon Randu telah berbunga, bukan hanya itu Gerapung di rumpun bambu dekat kali sering kali berbunyi, dan malam ini Mas Yok, hawanya sangat dingin," ucap Nastuti pada selembar foto di tangannya. Ia mendesah, kemudian memejamkan mata, mengenang Mas Yok, kekasihnya.
Nastuti membenamkan foto itu ke dalam pelukannya. Tubuh rampingnya ia sandarkan pada dinding, kedua mata Nastuti terpejam, pikirannya melayang pada momen-momen indah saat bersama Mas Yok.
"Nas, kamu tahu musim hujan akan berakhir. Lihat, pohon Randu berbunga dan dengarlah," ucap Yoko sambil berbisik di telinga Nastuti, membuat gadis itu merinding. "Grampung bernyanyi, kamu tahu apa yang ia nyanyikan?"
Nastuti menggeleng sambil tersenyum menampakan lesung di kedua pipinya.
"Dari Matamu Matamu
Ku Mulai Jatuh Cinta
Ku Melihat Melihat
Ada Bayangan
Dari Mata Kau Buatku Jatuh
Jatuh Terus Jatuh Ke Hati"
Yoko bernyanyi sambil mengetik gitar, Nastuti hanya tersipu-sipu mendengarkan suara merdu kekasihnya. Keromantisan sejoli itu disaksikan hijaunya rumpun bambu serta indahnya pohon-pohon Randu di tepi Kali Banjaran.
"Nas! Nastuti! masuk udah malem, Nduk!" Suara terikan Ibunya Nastuti, membuyarkan lamunan gadis itu. Bergegas Nastuti bangkit dan masuk ke dalam rumah, kemudian langsung masuk ke kamarnya.
Bukannya segera tidur, gadis itu justru membuka tirai jendela kemudian duduk bersimpuh di lantai, sementara tatapannya jauh menembus malam, menyaksikan bulan separuh yang mulai datang terlambat.
"Mas Yok, aku kangen," ucapnya pelan.
Rasa rindu yang ia rasakan semakin dalam menghujam hatinya. Seiring wajah kekasihnya yang menari-nari di pelupuk matanya.
Empat tahun yang lalu, Mas Yoko pergi merantau ke Jakarta. Meninggalkan Nastuti dengan satu kalimat janji, yang terus dipegang hingga kini.
"Aku mau cari modal untuk pernikahan kita. Di sini, ijazahku tak terpakai. Aku janji, aku akan menghubungimu selalu." Perkataan Mas Yok, saat itu begitu menenangkan Nastuti.
Pada awalnya hampir setiap hari pesan SMS selalu ia terima. Namun seiring waktu berlalu pesan-pesan romantis semakin jarang Nastuti terima. Ingin gadis itu mendahului, tetapi ia merasa segan karena takut mengganggu Mas Yok-nya yang katanya telah menjadi pengusaha kuliner sukses di Jakarta. Hingga pesan SMS semakin jarang orang memakainya, kini beralih ke aplikasi WhatsApp. Namun Nastuti masih setia menunggu kekasihnya kembali.
"The number you are headed is not active or is outside the range. Please try again later."
Terakhir suara itu yang terdengar saat ia telepon Ma Yok. Meskipun Nastuti tak tahu apa arti persisnya, tetapi ia paham bahwa nomer HP itu sudah tidak aktif lagi. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali jawabannya selalu sama. Akan tetapi Nastuti tetap berharap, Mas Yok, akan menghubunginya dengan nomer lain.
"Mas Yok, hanya ingin memberi kejutan dan menguji kesetiaanku, makanya ia melakukan ini," jawabnya selalu saat teman-teman dan kerabatnya meragukan tentang Ma Yok-nya.
Malam semakin merangkak tua, Nastuti belum tergerak untuk berpindah ke kasur kapuk empuk miliknya. Hingga pagi menjelang gadis itu tertidur di bawah jendela kamar.
Saat mentari pagi menerobos kaca, dan menimpa wajah Nastuti. Gadis itu menggeliat, merespon cahaya hangat yang menyentuh pipinya.
"Astaghfirullah, kesiangan!" Gadis itu bergegas ke luar kamar dan langsung berlari ke kamar mandi yang terletak di bagian belakang rumahnya.
"Bu, kok Nas, gak dibangunin," ucap gadis itu begitu selesai mandi dan menghampiri ibunya dekat pawon.
"Hari ini hari minggu, kamu kan libur ngajar. Kamu juga lagi ndak shalat jadi ibu biarin lah sekali-kali kamu bangun siang," jawab wanita Paruh baya itu, sambil menuang Nasi ke dalam wadah terbuat dari Bambu.
"Tapi jadinya, Nas, ndak bantuin ibu masak."
"Ndak apa-apa," ucap Ibunya Nastuti lagi, sambil menatap iba gadis semata wayangnya. Ia paham betul apa yang tengah dirasakan gadis itu. Dulu, kemiskinan ini penghalang Nastuti dapat restu calon mertuanya.
Terlebih lagi setelah kini Yoko sukses di Jakarta. Orang tua Yoko semakin berada di atas angin, dan kini Yoko pun tak ada kabar berita. Wanita paruh baya itu yakin, semua itu ada hubungannya dengan ketidak setujuan calon mertua puterinya itu. Namun ia tak bisa berbuat banyak, puterinya telah begitu percaya dan berharap pada Yoko, anak sang kepala desa.
"Nduk, sadarlah. Tak seharusnya kamu nunggu Mas Yok, pulang. Sekarang umurmu sudah dua puluh lima tahun. Apa kamu ... " Belum selesai sang Ibu bicara, tiba-tiba Nastuti bangkit.
"Bue, Nas, lupa. Hari ini Nas ada latihan Nari buat lomba IGTK kecamatan. Nas, mau siap-siap dulu, ya." Nastuti kemudian bangkit meninggalkan ibunya sendiri di dapur.
Bruk! Nastuti membanting pintu dan mengunci diri di kamar. Membuat wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu tersentak kaget dan mengelus dada. Air mata meluncur dari kedua mata. Perih melihat putri semata wayangnya. Meski terlihat normal dan baik-baik saja, Nastuti sedikit terganggu kejiwaannya. Semenjak kecelakaan yang merenggut nyawa Yoko. Nastuti selalu berhalusinasi bahwa Yoko hanya pergi merantau tanpa kabar berita, dan suatu saat ia akan kembali. Berulang kali ia mencoba menjelaskan, tetapi Nastuti selalu menganggap bahwa ibunya mencoba menggoyahkan kesetiaannya. Mengurung diri di kamar membuat Nastuti semakin jauh masuk dalam dunia imajinasinya sendiri.
Mutia Al Husna (Mutia AH)
Ruji, 18 November 2020
Diubah oleh husnamutia 26-03-2021 07:02
gajah_gendut dan indrag057 memberi reputasi
2