- Beranda
- Stories from the Heart
HITAM Season 2
...
TS
Mbahjoyo911
HITAM Season 2


Quote:
Prolog
Ini adalah cerita fiksi, lanjutan dari thread sebelumnya yang berjudul HITAM. Menceritakan tentang anak yang bernama Aryandra, seorang anak yang ndableg, serba cuek dan nggak nggagasan. Dari kecil Aryandra bisa melihat makhluk halus dan sebangsanya, dia juga punya kemampuan untuk melihat masa depan hanya dengan sentuhan, pandangan mata, dan juga lewat mimpi.
Karena sejak kecil Aryandra sudah terbiasa melihat makhluk halus yang bentuknya aneh-aneh dan menyeramkan, maka dia sudah tidak merasa takut lagi melihat makhluk alam lain itu. Setelah di beri tahu oleh mbah kakungnya, Aryandra baru tahu kalau kemampuannya itu berasal dari turunan moyangnya. Dengan bimbingan mbah kakungnya itulah, Aryandra bisa mengetahui seluk-beluk dunia gaib.
Pada thread sebelumnya menceritakan tentang masa kecil Aryandra. Takdir telah mempertemukan dia dengan sesosok jin yang bernama Salma, jin berilmu sangat tinggi, tapi auranya hitam pekat karena rasa dendamnya yang sangat besar, dan juga karena dia mempelajari ilmu-ilmu hitam yang dahsyat. Tapi Salma telah bertekad untuk selalu menjaga dan melindungi Aryandra, dan akhirnya merekapun bersahabat dekat.
Belakangan baru diketahui oleh Aryandra kalau Salma adalah ratu dari sebuah kerajaan di alam jin. Salma menampakkan diri dalam wujud gadis sangat cantik berwajah pucat, berbaju hitam, memakai eye shadow hitam tebal, lipstick hitam, dan pewarna kuku hitam. Kehadiran Salma selalu ditandai oleh munculnya bau harum segar kayu cendana,
Salma juga sering berubah wujud menjadi sosok yang sangat mirip dengan kuntilanak hitam dengan wajah menyeramkan, memakai jubah hitam panjang, rambut panjang awut-awutan, mulut robek sampai telinga, mata yang bolong satu, tinggal rongga hitam berdarah. Tapi wujudnya itu bukan kuntilanak hitam.
Bedanya dengan kuntilanak hitam adalah, Salma mempunyai kuku yang sangat panjang dan sangat tajam seperti pisau belati yang mampu menembus batu sekeras apapun. Kuku panjang dan tajam ini tidak dimiliki kuntilanak biasa.
Dalam cerita jawa, sosok seperti Salma itu sering dikenal dengan nama kuntilanak jawa, sosok kunti paling tua, paling sakti dan paling berbahaya daripada segala jenis kuntilanak yang lain. Kuntilanak jawa sangat jarang dijumpai, karena makhluk jenis ini memang sangat langka. Manusia sangat jarang melihatnya, dan kalau manusia melihatnya, biasanya mereka langsung ketakutan setengah mati, bahkan mungkin sampai pingsan juga, dan setelah itu, dia akan menjadi sakit.
Aryandra juga dijaga oleh satu sosok jin lagi yang dipanggil dengan nama eyang Dim, dia adalah jin yang menjaga nenek moyangnya dan terus menjaga seluruh keturunannya turun-temurun hingga sampai ke Aryandra. Dari eyang Dim dan Salma inilah Aryandra mempelajari ilmu-ilmu olah kanuragan, beladiri, ilmu pukulan, tenaga dalam, dan ilmu-ilmu gaib.
Perjalanan hidup Aryandra mempertemukannya dengan satu sosok siluman yang sangat cantik, tapi memiliki wujud perempuan setengah ular. Siluman itu mengaku bernama Amrita, dengan penampilan yang khas, yaitu serba pink, mulai pakaiannya dan bahkan sampai ilmu kesaktian yang dikeluarkannya pun juga berwarna pink. Amrita adalah siluman yang selalu menggoda manusia untuk berbuat mesum, yang pada akhirnya manusia itu dibunuh olehnya. Semua itu dilakukan karena dendamnya pada kaum laki-laki.
Awalnya Aryandra berseteru dengan Amrita, dan Amrita sempat bertarung mati-matian dengan Salma, yang pada akhirnya Amrita bisa dikalahkan oleh Salma. Dan kemudian Amrita itupun bersahabat dekat dengan Aryandra dan Salma. Dia juga bertekad untuk terus menjaga Aryandra. Jadi Aryandra memiliki 3 jin yang terus melindunginya kemanapun dia pergi.
Di masa SMA itu Aryandra juga berkenalan dengan cewek yang bernama Dita, kakak kelasnya. Cewek manis berkacamata yang judes dan galak. Tapi setelah mengenal Aryandra, semua sifat Dita itu menghilang, Dita berubah menjadi sosok cewek yang manis dan penuh perhatian, Dita juga sangat mencintai Aryandra dan akhirnya merekapun jadi sepasang kekasih.
Dalam suatu peristiwa, Aryandra bertemu dengan dua saudara masa lalu nya, saudara keturunan sang raja sama seperti dirinya. Mereka bernama Vano dan Citradani. Dan mereka menjadi sangat dekat dengan Aryandra seperti layaknya saudara kandung. Saking dekatnya hingga kadang menimbulkan masalah dan salah paham dalam kehidupan percintaannya.
Aryandra mendapatkan suatu warisan dari nenek moyangnya yaitu sang raja, tapi dia menganggap kalau warisan itu sebagai suatu tugas untuknya. Warisan itu berupa sebilah keris kecil yang juga disebut cundrik. Keris itu bisa memanggil memerintah limaratus ribu pasukan jin yang kesemuanya ahli dalam bertarung, pasukan yang bernama Pancalaksa ini dibentuk oleh sang raja di masa lalu. Karena keris itu pula, Aryandra bisa kenal dengan beberapa tokoh jin yang sangat sakti dan melegenda.
Tapi karena keris itu jugalah, Aryandra jadi terlibat banyak masalah dengan kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Dewa Angkara. Ternyata keris itu sudah menjadi rebutan para jin dan manusia sejak ratusan tahun yang lalu. Keris itu menjadi buruan banyak makhluk, karena dengan memiliki keris itu, maka akan memiliki ratusan ribu pasukan pula.
Perebutan keris itulah yang akhirnya mengantarkan Aryandra pada suatu peperangan besar. Untunglah Aryandra dibantu oleh beberapa sahabat, yang akhirnya perang itu dimenangkan oleh pihak Aryandra, meskipun kemudian Aryandra sendiri memutuskan untuk mengorbankan dirinya untuk menghancurkan musuh utamanya. Dan karena itulah Aryandra jadi kehilangan kemampuannya untuk beberapa waktu, tapi akhirnya kemampuan itu kembali lagi padanya dengan perantara ratu utara.
Pada thread kali ini akan menceritakan kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA, dari pertama masuk kuliah, tentang interaksinya dengan alam gaib dengan segala jenis makhluknya. Juga tentang persahabatan dengan teman kuliah dan dengan makhluk alam lain, percintaan, persaingan, tawuran, segala jenis problematika remaja yang beranjak dewasa, dan juga sedang dalam masa pencarian jati diri. Teman baru, musuh baru, ilmu baru dan petualangan baru.
Sekali lagi, thread ini adalah cerita fiksi. Dimohon pembaca bijak dalam menyikapinya. Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan, kesalahan tentang fakta-fakta, dan kesamaan nama orang. Tidak ada maksud apa-apa dalam pembuatan thread ini selain hanya bertujuan untuk hiburan semata. Semoga thread ini bisa menghibur dan bisa bermanfaat buat agan dan sista semuanya.
Seperti apakah kisah hidup Aryandra setelah lulus dari SMA ini..? Mari kita simak bersama-sama...
Spoiler for Salma:
Spoiler for Amrita:
Diubah oleh Mbahjoyo911 27-03-2022 06:54
Dhekazama dan 401 lainnya memberi reputasi
378
1.6M
25K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Mbahjoyo911
#654
Hiking Lagi..
Sabtu ini kuliah libur, dan mapala akan mengadakan hiking dan camping di salah satu gunung yang berjarak empat kabupaten dari kotaku. Acara ini bertujuan untuk pelatihan anggota mapala baru, juga untuk pengakraban. Aku belum pernah ke gunung ini, jadi termasuk pengalaman baru bagiku. Dari dua hari yang lalu aku sudah dikabari Yudi soal acara ini. Aku juga sudah ngasih tau ke Dita soal ini, dia juga kuajak, tapi dia menolak.
Jumat siang, sehabis jumatan, aku berangkat dari rumah sama Dita. Aku udah minta tolong dia untuk mengantarku, karena kalo berangkat pake motor, akan jadi ribet urusannya. Kali ini aku cuma ditemani Salma, karena Amrita masih dirumah mbah kakung.
Aku juga udah packing dari kemarin, tas ransel besar dan tenda dome,, matras, dan peralatan masak portable, senter dan powerbank, semuanya adalah peralatan dari.masa sma dulu. Sampai di kampus, sudah ada truk bak yang disewa untuk mengantar kami. Dan di lapangan kampus ternyata sudah pada ngumpul semua.
Ternyata anggota mapala kampusku banyak juga, ada 30 orang yang ikut, 20 cowok dan 10 cewek. Entah ada berapa jumlah mapala seluruhnya. Aku belum ngelihat Yudi dari tadi. Setelah diadakan semacam pengarahan dan penjelasan dari Joe, ketua mapala, maka kamipun mulai menaiki truk terbuka yang terparkir di dekat lapangan. Saat naik ke truk itulah kulihat Dinda kerepotan menaikkan tas carrier besarnya, ternyata dia ikut mapala juga. Maka segara kubantu dia mendorong tas itu.
Dengan berdesak-desakan di bak truk, kamipun berangkat menuju lokasi. Perjalanan lumayan jauh juga, dua setengah jam, kami baru sampai di kaki gunung, karena memang lokasi yang jauh dan truk nggak bisa jalan kenceng. Setelah berjalan menanjak satu jam lamanya, sampailah kami di sebuah bumi perkemahan sekaligus basecamp.
Ada sebuah gapura besar untuk pintu masuk sekaligus untuk absensi dan administrasi, gapura ini menghadap ke selatan. Bumi perkemahan disini masih alami, cuma ada 3 bangunan, yaitu basecamp yang lumayan besar, sebuah mushola kecil dan sebuah warung. Nggak ada satupun rumah penduduk dekat sini, sepertinya tempat ini jauh dari manapun. Masih untung ada satu warung, jadi nggak kuatir akan kelaparan.
Banyak sekali pohon besar, dan cuma sedikit tanah lapang di sela pohon untuk mendirikan tenda, jadi letak tenda nantinya akan saling berjauhan. Di kiri kanan bumi perkemahan terdapat hutan dan semak belukar lebat. Ada sebuah kali kecil di sebelah utara, berbatasan langsung dengan gunung dan jalur pendakian, kali kecil ini berair sangat jernih dan dingin.
Banyak sekali makhluk terbang berseliweran antara pohon-pohon, mereka berwujud kunti putih. Masih banyak wujud yang lain, tapi kebanyakan berwujud kera berbulu hitam mirip simpanse, genderuwo, dan sosok anak-anak kecil berwajah tua berewokan.
Bagian belakang bangunan basecamp berbatasan langsung dengan hutan, di sebelah kanan bumi perkemahan itu. Ada suatu aura sangat kuat berasal dari belakang bangunan basecamp itu, dan anehnya, aura itu putih! Dalam perjalanan hidupku baru kutemui 5 sosok jin yang beraura putih, eyang Dim, ki Sumarta dari gunung Argo, eyang Suryo dari tiang bendera di SMA ku, ki Ludira dari lukisan di rumahnya Dita dan jin qorin dari sang raja.
Dan aura dari belakang basecamp ini adalah yang ke enam. Aku yakin aura ini juga berasal dari jin. Mengingat begitu banyaknya jumlah jin yang mencapai milyaran di alam ini, jumlah 6 jin itu termasuk sangat-sangat sedikit. Lalu kudengar suara Salma memberitahu.
Setelah istirahat, sholat dan makan, MAPALA berkumpul di depan bangunan basecamp untuk briefing, saat ini juga kami akan mulai mendaki, rencananya besok setelah turun, kami akan ngecamp di bumi perkemahan itu. Ketua mapala membagikan tas plastik lumayan besar, dia meminta selama mendaki nanti kami harus mengambil sampah-sampah yang mungkin ada di sepanjang jalur pendakian. Joe memanggil aku dan Yudi, dan ada seorang pengurus lagi.
Setelah semua persiapan selesai, jam 5 sore itu kami mulai mendaki. Berjalan berurutan menelusuri jalur pendakian. 30 orang itu jumlah yang banyak, hingga terbentuk barisan sangat panjang. Start pertama nggak begitu berat, jalan udah dikeraskan dengan pasir dan kerikil. Aku berada di bagian paling belakang barisan.
Aku sudah surfing mencari info tentang gunung ini di internet, katanya medannya berat, ada semacam padang pasir yang panjang juga. Tapi kadang medan sebenarnya nggak sesuai dengan yang digambarkan di internet, bisa lebih berat, bahkan bisa lebih ringan, tergantung orangnya.
Setengah jam berjalan, hari mulai gelap, joe memutuskan untuk istirahat 5 menit. Segera kami mengeluarkan senter masing-masing. Saat ini kami berada di sebuah jalan setapak, di kiri jalan ada tebing tanah yang naik perlahan, ditumbuhi pohon dan semak belukar. Di sisi kanan ada jurang yang neeak begitu lebat dengan pohon-pohon besar juga.
Lima menit berlalu, kamipun jalan mendaki lagi. Kontur tanah mulai berubah, dari pasir dan kerikil jadi tanah liat yang licin karena basah, mungkin di sini habis hujan. Dua jam berjalan, kami sampai di pos satu, nggak ada bangunan disini, cuma tanah bersih agak lapang dengan papan bertuliskan pos 1. Joe menyuruh kami istirahat lima menit disini.
Hebat juga anggota mapala yang baru belum ada yang ngeluh, mungkin sebelumnya mereka emang sering ngelakuin kegiatan di alam kayak gini. Lima menit kemudian kami lanjut jalan lagi. Karena aku paling akhir, maka kutunggu biar yang lain jalan dulu, baru aku menyusul terakhir.
Medan kali ini semakin berat dan terus menanjak, membuat perjalanan jadi tambah pelan, beberapa kali rombongan beristirahat. Tiga setengah jam kemudian kami nyampe di pos 2, padahal menurutku jaraknya nggak terlalu jauh. Tapi karena lebih banyak istirahat membuat pendakian jadi lebih lama.
Sepanjang perjalanan dari basecamp tadi, kulihat banyak sekali makhluk-makhluk gaib di sekeliling kami. Sepertinya mereka cuma penasaran aja, ada yang cuma melihat kami, ada juga yang mengikuti kami dari atas pohon, melayang dari pohon ke pohon. Ada pula gerombolan kera yang ngikut di belakangku. Tapi mereka nggak ada yang berani mendekat. Sejauh ini perjalanan mendaki aman-aman saja, semoga akan tetap gitu sampai di puncak.
Lima menit istirahat di pos 3, kami lanjut mendaki lagi. Dan akupun harus menunggu lagi sampai semua mulai jalan, baru aku menyusul paling belakang. Medan sudah nggak begitu menanjak lagi, tapi makin licin karena tanah makin basah. Beberapa kali ada yang terpeleset yang untungnya langsung ditangkap senior di sebelahnya, hingga nggak nyampe masuk jurang.
Sampailah kami di pos 3 setelah pendakian yang berat selama hampir 4 jam. Kami segera beristirahat di pos 3 itu. Aku salut pada semangat para junior yang belum pernah mendaki, mereka belum.mengeluh, bahkan yang cewek pun nggak ada yang mengeluh.
Lima menit kami istirahat, lanjut mendaki lagi. Sejauh ini masih lancar dan belum ada gangguan. Aku masih menunggu semua anggota mapala jalan duluan. Dan saat itulah kulihat sosok orang tua bercaping muncul dari dalam jurang sebelah kanan pos 1 itu.
Orang tua itu membawa seikat besar kayu bakar yang dipikul di bahunya,sekilas penampilannya mirip sekali dengan penduduk sekitar gunung yang sedang mencari kayu bakar. Nggak ada aura apapun yang keluar dari tubuhnya, tapi aku tau kalo dia adalah jin. Salma langsung berdiri didepanku. Dan orang tua itu berhenti tepat di depannya Salma, lalu dia menoleh padaku, wajahnya biasa aja, mirip penduduk desa biasa.
Tapi orang tua itu sudah berjalan lagi, nggak menggubris pertanyaanku. Dia berjalan kembali ke arah dia datang tadi, yaitu menuruni jurang yang curam itu, hingga akhirnya dia nggak terlihat lagi ditelan kerimbunan pohon dan gelapnya malam. Manusia nggak akan mampu menuruni jurang curam itu. Harus pake tali agar bisa meluncur turun, tapi kakek itu enak saja berjalan menuruninya, kayak berjalan di tanah datar saja.
Memang di setiap gunung pasti ada tempat yang namanya pasar setan, dan cerita yang berkembang tentang pasar setan ini juga berbeda-beda di tiap gunung. Dulu aku hampir terjerumus masuk ke alam gaib gara-gara adanya pasar setan itu, beruntung ada Salma yang menyelamatkanku.
Aku menduga kakek tadi adalah jin yang baik, udah mau memberi peringatan pada kami. Akupun meneruskan perjalanan, udah tertinggal lumayan jauh dari rombongan, aku harus segera menyusul mereka. Sambil berjalan, aku terus berdoa agar rombongan kami nggak mendapat gangguan apapun. Salma mengikutiku sambil terus bersikap waspada.
Aku harus cepat memberitahu Yudi dan Joe. Kulewati 14 orang didepanku dan menemui Yudi, kuceritakan semua padanya. Setelah itu aku berjalan lagi ke rombongan terdepan, semua kuceritakan juga pada joe. Lalu pada sebuah tikungan yang jalannya agak lebar, Joe menghentikan rombongan untuk beristirahat dan memberi penjelasan.
Suasana langsung jadi hening,semua tenggelam dalam doa khusyuk. Setelah itu kamipun mulai berangkat lagi. Formasi masih tetap, aku masih berada paling belakang, Yudi di tengah, Joe dan Hakim paling depan. Baru baru berjalan kira-kira 100 meter, sayup-sayup aku mendengar suara gamelan yang mengalunkan gending jawa.
Suara gamelan di malam buta di atas gunung! Tentu saja bisa membuat orang yang mendengarnya jadi bergidik ngeri. Kulihat para anggota mapala berjalan biasa saja, sepertinya mereka nggak mendengar gamelan ini. Tau-tau Dinda sudah berada di depanku, padahal tadi dia berada di tengah, dan kini dia mendekatiku.
Semua jawabanku cuma buat nenangin Dinda, biar nggak takut, karena kulihat wajah Dinda udah nunjukin rasa kuatir, dan aku nggak mau dia jadi lebih takut lagi. Kami lanjut berjalan terus, tapi Dinda nggak balik ke tempatnya, malah ikut jalan di sebelahku.
Sudah empat jam kami mendaki, Suara gamelan itu masih terdengar, seperti sebuah backing sound di telingaku, backing sound yang nggak cocok, naik gunung kok musiknya gamelan.
Satu jam kemudian, kami tiba di pos 4, kamipun beristirahat di sini. Stamina anggota mapala mulai menurun, mereka yang tadinya masih berceloteh dan bercanda, kini cuma terdiam dan menunduk lesu. Hingga suasana jadi sepi. Saat itulah suara gamelan mendadak terdengar lebih keras Dinda yang ada di sebelahku, mencengkeram erat tanganku, dia celingukan kayak mencari sesuatu. Dan ternyata bukan cuma Dinda, semua anggota mapala junior dan cewek juga berhenti berjalan dan mulai celingukan mencari sesuatu...
bersambung…
Jumat siang, sehabis jumatan, aku berangkat dari rumah sama Dita. Aku udah minta tolong dia untuk mengantarku, karena kalo berangkat pake motor, akan jadi ribet urusannya. Kali ini aku cuma ditemani Salma, karena Amrita masih dirumah mbah kakung.
Aku juga udah packing dari kemarin, tas ransel besar dan tenda dome,, matras, dan peralatan masak portable, senter dan powerbank, semuanya adalah peralatan dari.masa sma dulu. Sampai di kampus, sudah ada truk bak yang disewa untuk mengantar kami. Dan di lapangan kampus ternyata sudah pada ngumpul semua.
Quote:
Ternyata anggota mapala kampusku banyak juga, ada 30 orang yang ikut, 20 cowok dan 10 cewek. Entah ada berapa jumlah mapala seluruhnya. Aku belum ngelihat Yudi dari tadi. Setelah diadakan semacam pengarahan dan penjelasan dari Joe, ketua mapala, maka kamipun mulai menaiki truk terbuka yang terparkir di dekat lapangan. Saat naik ke truk itulah kulihat Dinda kerepotan menaikkan tas carrier besarnya, ternyata dia ikut mapala juga. Maka segara kubantu dia mendorong tas itu.
Quote:
Dengan berdesak-desakan di bak truk, kamipun berangkat menuju lokasi. Perjalanan lumayan jauh juga, dua setengah jam, kami baru sampai di kaki gunung, karena memang lokasi yang jauh dan truk nggak bisa jalan kenceng. Setelah berjalan menanjak satu jam lamanya, sampailah kami di sebuah bumi perkemahan sekaligus basecamp.
Ada sebuah gapura besar untuk pintu masuk sekaligus untuk absensi dan administrasi, gapura ini menghadap ke selatan. Bumi perkemahan disini masih alami, cuma ada 3 bangunan, yaitu basecamp yang lumayan besar, sebuah mushola kecil dan sebuah warung. Nggak ada satupun rumah penduduk dekat sini, sepertinya tempat ini jauh dari manapun. Masih untung ada satu warung, jadi nggak kuatir akan kelaparan.
Banyak sekali pohon besar, dan cuma sedikit tanah lapang di sela pohon untuk mendirikan tenda, jadi letak tenda nantinya akan saling berjauhan. Di kiri kanan bumi perkemahan terdapat hutan dan semak belukar lebat. Ada sebuah kali kecil di sebelah utara, berbatasan langsung dengan gunung dan jalur pendakian, kali kecil ini berair sangat jernih dan dingin.
Banyak sekali makhluk terbang berseliweran antara pohon-pohon, mereka berwujud kunti putih. Masih banyak wujud yang lain, tapi kebanyakan berwujud kera berbulu hitam mirip simpanse, genderuwo, dan sosok anak-anak kecil berwajah tua berewokan.
Bagian belakang bangunan basecamp berbatasan langsung dengan hutan, di sebelah kanan bumi perkemahan itu. Ada suatu aura sangat kuat berasal dari belakang bangunan basecamp itu, dan anehnya, aura itu putih! Dalam perjalanan hidupku baru kutemui 5 sosok jin yang beraura putih, eyang Dim, ki Sumarta dari gunung Argo, eyang Suryo dari tiang bendera di SMA ku, ki Ludira dari lukisan di rumahnya Dita dan jin qorin dari sang raja.
Dan aura dari belakang basecamp ini adalah yang ke enam. Aku yakin aura ini juga berasal dari jin. Mengingat begitu banyaknya jumlah jin yang mencapai milyaran di alam ini, jumlah 6 jin itu termasuk sangat-sangat sedikit. Lalu kudengar suara Salma memberitahu.
Quote:
Setelah istirahat, sholat dan makan, MAPALA berkumpul di depan bangunan basecamp untuk briefing, saat ini juga kami akan mulai mendaki, rencananya besok setelah turun, kami akan ngecamp di bumi perkemahan itu. Ketua mapala membagikan tas plastik lumayan besar, dia meminta selama mendaki nanti kami harus mengambil sampah-sampah yang mungkin ada di sepanjang jalur pendakian. Joe memanggil aku dan Yudi, dan ada seorang pengurus lagi.
Quote:
Setelah semua persiapan selesai, jam 5 sore itu kami mulai mendaki. Berjalan berurutan menelusuri jalur pendakian. 30 orang itu jumlah yang banyak, hingga terbentuk barisan sangat panjang. Start pertama nggak begitu berat, jalan udah dikeraskan dengan pasir dan kerikil. Aku berada di bagian paling belakang barisan.
Aku sudah surfing mencari info tentang gunung ini di internet, katanya medannya berat, ada semacam padang pasir yang panjang juga. Tapi kadang medan sebenarnya nggak sesuai dengan yang digambarkan di internet, bisa lebih berat, bahkan bisa lebih ringan, tergantung orangnya.
Setengah jam berjalan, hari mulai gelap, joe memutuskan untuk istirahat 5 menit. Segera kami mengeluarkan senter masing-masing. Saat ini kami berada di sebuah jalan setapak, di kiri jalan ada tebing tanah yang naik perlahan, ditumbuhi pohon dan semak belukar. Di sisi kanan ada jurang yang neeak begitu lebat dengan pohon-pohon besar juga.
Lima menit berlalu, kamipun jalan mendaki lagi. Kontur tanah mulai berubah, dari pasir dan kerikil jadi tanah liat yang licin karena basah, mungkin di sini habis hujan. Dua jam berjalan, kami sampai di pos satu, nggak ada bangunan disini, cuma tanah bersih agak lapang dengan papan bertuliskan pos 1. Joe menyuruh kami istirahat lima menit disini.
Hebat juga anggota mapala yang baru belum ada yang ngeluh, mungkin sebelumnya mereka emang sering ngelakuin kegiatan di alam kayak gini. Lima menit kemudian kami lanjut jalan lagi. Karena aku paling akhir, maka kutunggu biar yang lain jalan dulu, baru aku menyusul terakhir.
Medan kali ini semakin berat dan terus menanjak, membuat perjalanan jadi tambah pelan, beberapa kali rombongan beristirahat. Tiga setengah jam kemudian kami nyampe di pos 2, padahal menurutku jaraknya nggak terlalu jauh. Tapi karena lebih banyak istirahat membuat pendakian jadi lebih lama.
Sepanjang perjalanan dari basecamp tadi, kulihat banyak sekali makhluk-makhluk gaib di sekeliling kami. Sepertinya mereka cuma penasaran aja, ada yang cuma melihat kami, ada juga yang mengikuti kami dari atas pohon, melayang dari pohon ke pohon. Ada pula gerombolan kera yang ngikut di belakangku. Tapi mereka nggak ada yang berani mendekat. Sejauh ini perjalanan mendaki aman-aman saja, semoga akan tetap gitu sampai di puncak.
Lima menit istirahat di pos 3, kami lanjut mendaki lagi. Dan akupun harus menunggu lagi sampai semua mulai jalan, baru aku menyusul paling belakang. Medan sudah nggak begitu menanjak lagi, tapi makin licin karena tanah makin basah. Beberapa kali ada yang terpeleset yang untungnya langsung ditangkap senior di sebelahnya, hingga nggak nyampe masuk jurang.
Sampailah kami di pos 3 setelah pendakian yang berat selama hampir 4 jam. Kami segera beristirahat di pos 3 itu. Aku salut pada semangat para junior yang belum pernah mendaki, mereka belum.mengeluh, bahkan yang cewek pun nggak ada yang mengeluh.
Lima menit kami istirahat, lanjut mendaki lagi. Sejauh ini masih lancar dan belum ada gangguan. Aku masih menunggu semua anggota mapala jalan duluan. Dan saat itulah kulihat sosok orang tua bercaping muncul dari dalam jurang sebelah kanan pos 1 itu.
Orang tua itu membawa seikat besar kayu bakar yang dipikul di bahunya,sekilas penampilannya mirip sekali dengan penduduk sekitar gunung yang sedang mencari kayu bakar. Nggak ada aura apapun yang keluar dari tubuhnya, tapi aku tau kalo dia adalah jin. Salma langsung berdiri didepanku. Dan orang tua itu berhenti tepat di depannya Salma, lalu dia menoleh padaku, wajahnya biasa aja, mirip penduduk desa biasa.
Quote:
Tapi orang tua itu sudah berjalan lagi, nggak menggubris pertanyaanku. Dia berjalan kembali ke arah dia datang tadi, yaitu menuruni jurang yang curam itu, hingga akhirnya dia nggak terlihat lagi ditelan kerimbunan pohon dan gelapnya malam. Manusia nggak akan mampu menuruni jurang curam itu. Harus pake tali agar bisa meluncur turun, tapi kakek itu enak saja berjalan menuruninya, kayak berjalan di tanah datar saja.
Memang di setiap gunung pasti ada tempat yang namanya pasar setan, dan cerita yang berkembang tentang pasar setan ini juga berbeda-beda di tiap gunung. Dulu aku hampir terjerumus masuk ke alam gaib gara-gara adanya pasar setan itu, beruntung ada Salma yang menyelamatkanku.
Aku menduga kakek tadi adalah jin yang baik, udah mau memberi peringatan pada kami. Akupun meneruskan perjalanan, udah tertinggal lumayan jauh dari rombongan, aku harus segera menyusul mereka. Sambil berjalan, aku terus berdoa agar rombongan kami nggak mendapat gangguan apapun. Salma mengikutiku sambil terus bersikap waspada.
Aku harus cepat memberitahu Yudi dan Joe. Kulewati 14 orang didepanku dan menemui Yudi, kuceritakan semua padanya. Setelah itu aku berjalan lagi ke rombongan terdepan, semua kuceritakan juga pada joe. Lalu pada sebuah tikungan yang jalannya agak lebar, Joe menghentikan rombongan untuk beristirahat dan memberi penjelasan.
Quote:
Suasana langsung jadi hening,semua tenggelam dalam doa khusyuk. Setelah itu kamipun mulai berangkat lagi. Formasi masih tetap, aku masih berada paling belakang, Yudi di tengah, Joe dan Hakim paling depan. Baru baru berjalan kira-kira 100 meter, sayup-sayup aku mendengar suara gamelan yang mengalunkan gending jawa.
Suara gamelan di malam buta di atas gunung! Tentu saja bisa membuat orang yang mendengarnya jadi bergidik ngeri. Kulihat para anggota mapala berjalan biasa saja, sepertinya mereka nggak mendengar gamelan ini. Tau-tau Dinda sudah berada di depanku, padahal tadi dia berada di tengah, dan kini dia mendekatiku.
Quote:
Semua jawabanku cuma buat nenangin Dinda, biar nggak takut, karena kulihat wajah Dinda udah nunjukin rasa kuatir, dan aku nggak mau dia jadi lebih takut lagi. Kami lanjut berjalan terus, tapi Dinda nggak balik ke tempatnya, malah ikut jalan di sebelahku.
Sudah empat jam kami mendaki, Suara gamelan itu masih terdengar, seperti sebuah backing sound di telingaku, backing sound yang nggak cocok, naik gunung kok musiknya gamelan.
Satu jam kemudian, kami tiba di pos 4, kamipun beristirahat di sini. Stamina anggota mapala mulai menurun, mereka yang tadinya masih berceloteh dan bercanda, kini cuma terdiam dan menunduk lesu. Hingga suasana jadi sepi. Saat itulah suara gamelan mendadak terdengar lebih keras Dinda yang ada di sebelahku, mencengkeram erat tanganku, dia celingukan kayak mencari sesuatu. Dan ternyata bukan cuma Dinda, semua anggota mapala junior dan cewek juga berhenti berjalan dan mulai celingukan mencari sesuatu...
bersambung…
19
Diubah oleh Mbahjoyo911 17-11-2020 18:02
agoezsholich107 dan 109 lainnya memberi reputasi
110
Tutup

