- Beranda
- Stories from the Heart
KERIS 13 IBLIS
...
TS
amriakhsan
KERIS 13 IBLIS
Quote:

Quote:
i.
Jujur saja, tangannku membuat tulisan ini bukan karena diriku menginginkan orang orang untuk membaca tulisanku, melainkan ini sebuah perintah yang aku sendiri masih belum paham apa tujuannya. Mungkin memang terdengar seperti orang yang menganggur atau bahkan lebih parahnya lagi tidak bertujuan, namun begitulah adanya.
Mengetahui kalau hidup ini layaknya sebuah buku catatan memberikanku sedikit gambaran, motivasi untuk membuat hal ini, meski terkadang sejarah itu hanya berlaku bagi orang yang menang. Tidak perlu dipungkiri kalau memang tidak ada salahnya bukan menuliskan sesuatu berdasarkan apa yang kau lihat dan bukan menuliskan sesuatu karena ada sebuah mata pisau bergerak perlahan di lehermu.
Walau disebut tunakarya, aku juga memiliki tugas yang mungkin agak sulit untuk dijelaskan pada banyak orang karena memang pada dasarnya diriku sendiri tidak tahu kejelasan tugas ini sama sekali. Merekamenyebutnya sebuah titah yang harus dan memang ini akan menjadi peran utama pada perjalanan hidup baruku, sebuah era baru. Tugas yang sebenarnya tidak pernah kusangka dan mungkin dapat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan diriku di masa kecil.
Apakah tugas itu sangatlah penting, menurutku tidak sama sekali. Tapi bagi mereka, bagi penerusku, mungkin ini adalah sebuah pelajaran yang tidak boleh dilupakan. Waktunya belajar sejarah.
ii.
Dito adalah saudaraku, saudara jauhku tepatnya. Ayahnya membantuku dan membiayaiku dari masa aku kehilangan orang tuaku sejak SMP. Aku jarang sekali berbicara padanya dan mungkin kami bertemu hanya beberapa kali seumur hidupku. Aku tidak begitu ingat tentangnya pada masa kecil, selain ingatan tentang waktu itu kami bertengkar hanya karena masalah berebut mainan.
Akibat terlalu menghilang dari keluarga ini lah yang membuat perubahan mendadak menjadi tembok bagiku untuk semakin mengenal dirinya. Sampai akhirnya tanpa kusadari yang berada di depan mataku saat ini adalah wujud dirinya sekarang sudah layaknya menjadi gumpalan daging yang keras, dimana otot yang besar terlihat sangat tegas berada ada kedua tangannya yang mungkin agak terlalu besar dibanding badannya yang kekar, namun kotak di dadanya tidak terlalu muncul dari kemejanya, terlebihi lengannya sendiri, layaknya gorila memakai baju hanya saja tidak gemuk.
Dengan tubuh yang seperti itu ditambah lagi dengan wajahnya yang aku yakin tidak ada wanita yang menolaknya. Dengan wajah tampan berbentuk bulat agak lonjong, rambut 3 cm terpotong rapi tersisir ke belakang dengan pinggiran tipis, bagian rahang yang tegas dan tipis serta matanya yang bulat berbinar yang menampilkan dirinya sangat berenergi, menampilkan api pada dirinya. Bibir yang agak tipis membuatnya terlihat menjadi penarik wanita paling cepat jika melihat kesempurnaan yang ada pada tubuhnya dan wajahnya.
Namun aku sedikit asing saat melihat sedikit detail noda sayatan yang cukup dalam pada wajahnya dari bagian pangkal hidung mancungnya lalu turun ke bagian bawah mata kanannya. Kalau yang satu ini aku sulit untuk memasukkannya sebagai bagian yang keren atau malah merusak wajahnya, atau malah menyempurnakannya.
Aku juga ingat bagian yang paling tidak bisa ditolak dari kesempurnaan semuanya adalah jumlah uang yang dimilikinya. Demi Allah, dengan pakaian yang tidak mewah dan sederhana namun rapi, sangat menipu jika hanya sekedar melihatnya berjalan di antara banyak orang orang kaya yang biasa kulihat. Permasalahannya adalah sifat aslinya yang mengundang masalah, kurang ngajar, dan terlebih kesombongannya itu yang tidak bisa dihiraukan.
Salah satu kebanggannya yang menguatkan rasa sombongnya adalah bisa meneruskan perusahaan ayahnya, yang sebenarnya aku sendiri tidak paham secara detail perusahaan apa ini. Namun yang pasti kuketahui adalah ini seperti perusahaan peralatan elektronik untuk medis atau bisa disebut biotech. Disamping saat masih kecil, aku pernah mencuri dengar saat ayahnya menceritakan sebaran sahamnya pada banyak perusahaan besar di seluruh dunia. Benar benar akalku tidak akan masuk jika memiliki uang dan tanggung jawab sebanyak itu. Semakin melihatnya semakin sadara lama lama sepertinya aku melihat klise drama korea disini, tapi mau bagaimana lagi, dia saudaraku.
ii.
Aku sekarang tinggal di rumahnya. Rumah dengan model layaknya keraton di kota modern ini terlihat sangat kontras dengan halaman hijaunya yang luas, ditumbuhi banyak pepohonan buah buahan hingga bagian belakang rumah yang dipenuhi tumbuh tumbuhan hias seperti bunga dan juga pohon beringin besar. Satu satunya yang ku tidak sukai adalah bagian dalam rumahnya yang memiliki banyak cabang dan lorong dengan bentukan dan terlihat yang sama yaitu perempatan, dengan kayu jati besar menghadap secara vertikal di bagian bawah dan anyaman rotan tebal di atasnya, ornamen elang berjambul kecil terpampang di sudut sudut rumah.
Bagian terburuknya yaitu yang tidak diberi tanda untuk masing masing ruangan sehingga banyak orang pasti bisa kebingungan dan tersesat di dalam sebuah rumah ini, serta banyak ruangan kosong di dalamnya yang aku sendiri tidak paham kenapa banyak ruangan kosong padahal ia hanya tinggal dengan adik serta ayahnya. AKu sangat yakin keluarganya memang tidak mengharapkan tamu yang datang
Setelah perjalanan membingungkan dan berputar putar, tubuhku menyerah dan berakhir di sebuah balkon rumah, menghadap langsung ke depan pohon rindang dengan daun hijau panjang dan lurus namun ujungnya berkelok kelok, pasti ini daun pohon mangga, mataku berusaha mencari dan akhirnya terfokus dengan mangga kecil yang tumbuh di bagian dahan lain. Menghirup beberapa udara yang tercampur baunya dari daun daun serta getah pohon, diriku sedang duduk di kursi panjang dari baja ringan yang dibentuk menyerupai batang kayu, sambil melihat dan memperhatikan pepohonan yang hijau yang membuat seluruh pandanganku menjadi kabur saat melihat, hal hal yang kurasa ini pernah aku membacanya di suatu buku, namun … satu satunya yang kuingat adalah … ingatanku buruk soal mengingat.
Lalu disaat seluruh pandanganku sudah buyar layaknya orang mabuk dengan seluruh benda benda hijau di depanku, tubuhku bersandar dan melempar kedua lenganku ke bagian atas sandaran kursi sejajar dengan kepalaku. Namun semua sirna saat suara guliran roda pintu masuk ke telingaku, mengganggu relaksasiku.
Langkah sepatu dari kayu yang berhentakan dengan kayu menghasilkan bunyi ketukan yang khas. Sosok itu berdiri disampingku melihatku sudah tidak berdaya tergeletak diatas kursi tanpa bisa berbuat apa apa, kemudian sejenak mataku mencoba meraih seluruh tenaga yang ada untuk memfokuskan pandanganku kepada sosok besar yang seharusnya kusadari dari awal itu adalah Dito. Dia datang kepadaku dengan dagu sedikit dinaikan ke atas, serta kedua tangan besarnya masuk ke kantong celananya.
“Hey … kenapa anda bisa terdampar disini,” kata Dito dengan suara yang sedikit bergemuruh.
“Gua awalnya ingin pergi menemuimu bos, tapi gak ketemu ketemu gara gara lorongnya kayak labirin. Abis itu tak coba cari cari sendiri dan … akhirnya tersesat disini,” balasku sambil menyindir rumah sialannya ini.
Dito terkekeh, “Memangnya apa yang ingin anda tanyakan hah?” ucapnya sambil melipat kedua tangannya.
“Toilet.”
“Anda sekarang sedang menatap toilet yang luas, kenapa gak kencing saja sekarang di rumput,” sahutnya.
“Iya ... iya terserahlah,” balasku tanpa memerdulikan perkataannya barusan dengan kembali memalingkan wajahku ke arah dedaunan di pohon.
Dito menurunkan dagunya dan melembutkan sedikit pandangannya. “Karena kebetulan ada disini, saya memiliki satu buah tugas,” serunya.
“Sebenarnya gua lebih suka nganggur seperti ini. Tapi … baiklah.”
“Tugas ini bersifat permanen karena tugas hanya anda yang bisa melakukannya,” jawab Dito dengan nada pelan layaknya orang tua menceramahi anaknya.
mataku menyerngit. “Tugas seperti apa itu sampai bos tidak bisa melakukannya sendiri,” balasku dengan heran sambil kembali menaruh wajahku kearahnya.
“Saya menyuruhmu untuk menuliskan cerita tentang perjalanan hidupmu dari sekarang.”
“CV?”
“Bukan, tapi sebuah narasi untuk menjadi penyambung kisah generasi kita bersaudara,” jawab Dito kali ini dengan nada cukup berat.
“Apa maksudnya dengan kita bos?”
“Saya tidak ingin bercerita panjang lebar sekarang, itu urusan nanti.”
“Eleh … .”
Dito mulai memicingkan matanya dengan tatapan tidak menyenangkan.
“Jujur bos, gua masih tidak paham sama sekali maksud tugas ini,” balasku dengan heran.
“Saya tidak bisa memberi detailnya sekarang, namun kali ini anda cukup ceritakan perjalanan hidupmu dari waktu yang kau inginkan. Seperti sejak kau lulus SMA ataupun kuliahmu,” jelas Dito.
Mataku berusaha mengalihkan pandangannya ke sebuah pohon selama beberapa saat sambil memikirkan semua kata katanya barusan. “Oke, bakal tak coba, cukup cerita saja kan? tapi jangan berharap banyak dari tulisan anak teknik.”
“Kalau itu tidak masalah. Anggap aja ini tugas anak anak, namun seperti yang saya bilang tadi. Hanya anda yang bisa melakukannya,” jawab Dito kali ini dengan nada yang puas sambil melempar telunjuknya ke udara.
“Apa semua orang yang datang kesini harus menulis cerita mereka semua?” tanyaku lagi, dengan nada agak serius.
“Tidak … ini spesial,” jawab Dito dengan memejamkan matanya dan menurunkan sedikit dagunya, seperti sedang menahan rasa kesal.
“Baiklah, jadi dimana gua bisa mulai tugas ini?”
Dito merogoh isi sakunya dan mengambil sebuah kartu. ”Ini kunci kamar, tinggal lurus saja dari pintu ini lalu belok kanan hingga ke pokok lorong. Itu kamarmu, disana kau bisa mulai kerjamu,” jelas Dito sambil tangan besarnya kembali masuk ke kantongnya memperbaiki isi saku kosongnya yang keluar.
Aku menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. ”Hanya ini saja kan? Tidak ada batas waktu?” tiba tiba aku terhenti dan berpikir sejenak, sepertinya aku membuat kesalahan dengan menanyakan hal tersebut.
“Tidak …” jawab Dito tampak tidak senang.
“Oke oke bos,” balasku dengan senyum kecil muncul di samping bibirku.
Dito sejenak bergumam. “Menulis itu cumang sebagian dari pekerjaan, sisanya ada lagi besok,” balas Dito kali ini dengan santai dan tidak seserius diawal.
Aku menatap tajam ke arahnya. Sialan kau mengerjaiku.
“Ini belum apa apa,” Ia lalu mengeluarkan tangannya dari sakunya sambil membalikan badannya dan berjalan perlahan pergi dengan suara hentakan sepatu yang cukup keras.
Aku sama sekali tidak paham apa tujuannya namun aku memang tidak tahu harus ngapain lagi. Aku menarik badanku ke posisi tegap dan mendorong tubuhku yang masih berkunang kunang dengan memasang pondasi kedua lengan ke kursi dan mengambil tenaga berusaha naik dari tidurnya, mengambil konsentrasi, berdiri tegak sambil membusungkan sedikit dadaku, mengambil nafas dan pergi menuju tempat kerjaku.
Polling
0 suara
Karakter mana yang paling berkesan gansis?
Diubah oleh amriakhsan 14-11-2020 06:23
sampeuk dan 13 lainnya memberi reputasi
10
8.6K
46
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
amriakhsan
#31
BAB XVI
i.
Tidak banyak berpikir tentang sesuatu adalah hal yang tetap ku usahakan sampai sekarang, tapi tetap saja godaan akan dunia ini tidak ada habisnya membuatku terus berpikir mengapa dan kenapa semua ini terjadi. Begitu lah keadaanku saat ini, tepatnya kami. Mengetahui alasan sesuatu adalah urusanku sejak dulu, sejak kedua orang tuaku meninggal, aku tidak punya banyak pilihan saat itu selain menerima keadaan, dan sekarang aku menemukan pengalaman yang hampir mirip. Kembali membuatku bertanya tanya, apakah ini yang akan terjadi pada kedua orang tuaku.
Setelah perbincangan intens seperti sebuah gelombang radio yang jatuh lalu naik. Kali ini kami meredam dan berteduh di dalam rumah bersama tamu baru kami satu lagi yang tiba tiba datang dan duduk santai seperti seakan lupa kalau dialah yang telah menghilangkan benang panas yang baru saja ditarik pak raden tadi.
Layaknya orang yang sudah bersiap berperang. Tangan yang berlindung kan plat besi serta sarung tangan baja yang menutupi tinjunya serta baju hitam biasanya yang kali ini dibalut rompi seperti kami. Semangat membara bisa terlihat dari wajahnya dan matanya yang menyala. Entah aku kira dia sudah sangat siap, namun tidak kah lebih baik jika ia tidak mengenakan pakaian itu dan membuat keadaan semakin memanas di saat seperti ini.
Setelah Nadya yang menjadi narasumber yang tepat telah tiba dan mulutnya mulai mengoceh menceritakan semua detailnya dengan jelas kepada Rina yang hampir saja mengamuk pada kami. Bukannya ketenangan yang ia dapat setelah mendengar cerita tersebut, ia kemudian menjadi semakin panik sampai sampai tidak hentinya memegang tangan ayahnya dengan cengkraman yang menekan kulit keriput ayahnya itu.
“Apa gak ada cara lain, kenapa gak panggil polisi?!” kejar Rani.
“Awalnya kami berpikir begitu, tapi saat di rumah pertama kami, sepertinya tentara bayaran juga tidak sanggup melawan mahluk ini,” ucapku tertunduk.
“Kalau mereka saja tidak bisa, apalagi kalian,” tegas Rani.
“Jujur saja kami juga ragu-”
Ardi memberhentikan, memegang lenganku sejenak dengan tenangnya dan menariknya kembali bersama suara benturan yang muncul saat ia mengangkat tas milik kami ke atas meja kayu tebal ini, sedikit mengagetkanku, namun apa gunanya ia menunjukan tas yang isinya berbahaya seperti itu pada mereka. Yang kulihat hanyalah wajah masam Rani yang gelisah terus meremas tangan ayahnya dan alis yang tertunduk, perasaan tidak menentu yang tidak tertahankan dan bingung bercampur aduk pada dirinya sekarang.
“Aku tidak begitu tahu akan lawan kami yang masih misterius, tidak ada banyak harapan yang bisa kita dapatkan, namun tidak banyak bukan berarti tidak ada. Kami telah menemukan titik kelemahan pembunuh ini dan dengan seluruh kemampuan yang ada, kami siap melindungi bukan Rani saja, tapi pak Raden juga,” ujar Ardi lantang dengan seluruh percaya diri, berusaha memasukan keyakinan itu kedalam mereka berdua.
Aku yang mendengar kata kata semangat itu tidak tinggal diam setelahnya dan mata membaraku menyerbu mereka berdua. “Ya, kita sudah mendapatkan kelemahan si topeng, maksudnya orang ini, masih ada harapan untuk kita melawannya,” imbuhku dengan antusias yang Ardi bawa.
Namun Nadya yang dengan bingungnya malah memberikan tatapan aneh pada kami, merasa asing dengan pernyataan yang tentu saja masih belum terbukti jelas. Tapi aku yakin jika Ardi dalam masalah bertarung tidak perlu dipertanyakan lagi, ia pasti sudah menganalisa lawannya saat itu juga dan mendapatkan sepercik info adalah senjata yang sangat tepat melawan musuh kami.
Benar saja, suntikan yang diberikan Ardi entah bagaimana caranya bisa terasa oleh mereka berdua, perasaan suram dari ayah dan anak itu mulai hilang dari ruangan ini, kuharap rasa suram itu bisa keluar dari diriku juga yang dengan konyolnya serta lantang mengucapkan bualan itu dengan keraguan yang menempel di lidahku saat ini. Tapi senyuman mereka berdua membayar dan menghapus hal itu saat Rani menatap ayahnya dengan mata berkaca kaca.
Dengan sedikit seringai yang terangkat terpaksa di bibirku, otakku berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau Ardi benar benar mengetahui apa yang ia katakan dan bukan menambah beban omong kosong yang tentu saja akan kami pikul nantinya. Tapi tentu saja aku tahu dia bukan orang yang akan berpikir banyak suatu hal dan sebisa mungkin berkata jujur kalau ia bisa.
“Saya hargai usaha kalian, tapi tetap saja, umur tidak ada yang tahu dan kemungkinan itu masih tetap ada. Jadi, tolong prioritaskan putri saya dulu, itu satu satunya harta berharga yang saya miliki sekarang,” pinta pak Raden dengan lembut menatap Rani yang tidak berhenti memeluk tangan ayahnya itu.
“Jangan putus asa dong Pak, Nadya yakin mereka bisa mengatasinya,” ujarnya melempar sekaligus melupakan tujuan ia kemari yang katanya ingin membantu kami.
“Kenapa Nadya bisa yakin?” tanya pak Raden.
“Ya … karena kalau dipikir pikir, kalau mereka bukan orang kuat, kan sudah pasti sekarang tidak berada disini,” jelasnya. Kemudian ia tertunduk. “Kak Dito percaya sama mereka.”
Ekspresi mereka tidak berubah saat penjelasan masuk akal yang diberikan, namun hal itu berganti saat nama Dito terucap. Kuakui Nadya benar benar cerdik kali ini, memanfaatkan nama kakaknya itu yang ia tahu kalau pak Raden tidak memiliki keraguan sama sekali akan nama Dito, sama seperti mempercayai hartanya sendiri pada orang yang tepat.
“Baiklah, kuharap saya bisa percaya pada kalian berdua, sama Nadya juga,” ujarnya berdiri memandangi kami. Tidak ada senyum lagi yang keluar, namun aku bisa merasakan semangat yang ada dalam dirinya bangkit, entah apa itu yang merasukinya namun itu adalah suatu hal yang bagus.
Ardi berdiri, alisnya menukin serius, tanpa senyum dan wajah datar yang ada di dirinya. “Kalau begitu kita sudah siap kapanpun. Nadya, kau akan mengawasi Rani sepenuhnya, aku dan-”
“Tunggu,” potong pak Raden dengan tangan terbuka ke hadapan kami. “Kau yang akan menjaga Rani,” tunjuk pak Raden ke Ardi.
Ia kemudian termenung sejenak. “Baiklah kalau begitu, akan kujaga sampai semua ini selesai,” jawab Ardi menuruti permintaan pak Raden.
Aku dan Nadya saling bertatapan, mata kami menyipit mengetahui kalau kami adalah pemain sampah yang tidak ada apa apanya tanpa bantuan Ardi. Terlebih lagi aku tidak pernah tahu cara Nadya bertarung berpasangan. Tapi dengan percaya dirinya ia mengeluarkan jempolnya lagi ke arahku dengan seringai kecilnya. Aku tidak tahu apa artinya itu, tapi dari lirikan matanya ku yakin ia bermaksud mengandalkanku kali ini. Tentu saja kepalaku hanya bisa menggeleng berkhayal hal buruk akan terjadi.
ii.
Lagi lagi malam telah datang, kali ini lebih cepat dari perkiraan kami. Sangat terasa waktu semakin memburu demi melihat bagaimana kami akan megatasi situasi kali ini. Persiapan yang telah terpasang semua di tubuh, menutupi segala bentuk serangan yang masuk yang tentu saja tidak semuanya bisa dicegahnya. Jaring jaring benang yang terasa menutupi kulit dengan erat, sangat kuat menahan serangan namun tidak dengan hawa dingin yang datang. Padahal pintu tertutup dengan rapat, jendela terkunci dengan teralis, namun hawa dingin itu tetap bisa masuk datang dan berusaha menyerang kami dari arah manapun.
“Apa kakak merasa dingin?” tanya Nadya dengan mengangkat kepalan tinju besi di tangannya.
“Ya … itu tandanya dia akan datang,” cetusku.
Sontak Nadya kaget mendengar jawabanku. “Beneranh? apa bukan karena AC dari kamar pak Raden?”
“Bukan Nadya, masa lupa? tidak ada AC di rumah ini,” jawab pak Raden dari arah belakang kami, duduk di kursinya yang bersandar di tembok berjarak sekitar tiga meter dari pijakan kami. Di sampingnya ada pintu yang sudah siap digunakan untuk melarikan diri ke kamar tengah. Setidaknya saat topeng itu muncul, pak Raden bisa kabur ke tempat yang lebih aman karena tidak ada jendela, dan pintu lain yang bisa lawan gunakan. Satu satunya cara adalah melewati kami berdua.
Dalam situasi tegang itu kucoba menarik tanganku ke telingaku dan menyalakan earphone, berusaha menghubungi Ardi yang bersama Rani di dekat kamar tidurnya, tepatnya satu lorong dari sini. “Tes, apa disana aman?” tanyaku cepat.
“Ya, semua baik baik saja, tapi angin itu sudah datang, waspada!”
Aku mengiyakannya dan menutup kembali komunikasi kami.
“Gimana disana?” tanya Nadya.
“Baik baik saja, tapi sebentar lagi ia datang katanya,” jawabku mengingat pesan Ardi tadi. Kemudian aku teringat sesuatu. “Tadi apa yang lu kasih ke Ardi?”
“Yang ma- Oh… itu pin kamera, untuk merekam pertarungan ini.”
“Kenapa gua gak dapet?” tanyaku heran.
“Katanya kak Jaya gak butuh itu,” jawab Nadya mengisyaratkan perintah Dito.
Perasaan itu seketika datang kembali, hawa dingin yang kuat berhembus dari pintu. Tidak mungkin badanku mengelak dan menghindari hal ini, melihat hembusan debu yang didorong angin kencang yang lewat dari sela sela bawah pintu putih besar itu. Bukan hanya aku saja, Nadya pun dengan pakaian dengan kemeja lengan pendeknya sudah pasti dapat merasakan udara dingin ini.
“Kenapa semakin dingin ya? apa mau hujan?” tanya Nadya yang keheranan, bibirnya bergoyang ragu akan ucapannya sendiri, tangannya mulai gemetaran dan sepertinya seluruh tenaga di tangannya mulai disedot habis oleh hembusan angin.
Tidak lama kemudian suara dari luar mengiyakan ucapannya barusan, suara gemuruh dari luar datang melewati rumah ini, membuat seluruh ruangan sepi ini menggema dan lantai sedikit berguncang. Namun ada getaran lagi yang datang, kali ini tepat pada telingaku.
“Ada apa?”
“Kau merasakannya, jangan terkecoh dengan guntur, dia sudah tiba,” pukas Ardi mengakhiri sambungan kami.
Bagai ditarik dari sebuah jurang dan dilempar lagi ke jurang lainnya, mataku langsung bangun dan kembali fokus. Membuka lebar instingku dengna golok di genggamanku yang kuremas. Mataku menoleh ke arah sekeliling, ke setiap koridor secara perlahan dan seksama, memandangi setiap lukisan besar hingga yang kecil yang terpajang di tembok hijau muda itu. Wajah wajah pada tiap gambarnya menampilkan rasa sedih pada raut mereka, menampakan mata mereka yang tertunduk, namun dari dalam kutahu mata mata itu mengarah padaku, menelanjangi kami serta membantu kami menambah situasi mencekam ini hingga akhirnya pandanganku sampai pada sesuatu, kembali ke pintu besar itu, menatap sela sela itu lagi, sekali lagi dengan seksama.
Ada yang hilang, sesuatu yang awalnya ada disitu, tapi sekarang lenyap dan entah kenapa aku malah lupa dengan apa yang lenyap itu. Sampai cahaya kilat datang kembali dan menggetarkan bumi. Cahaya itu, ia datang lagi, tidak- bukan. Tidak ada habisnya mataku melebar memelototi sela sela itu, sampai akhirnya kusadar kalau yang hilang disana adalah cahaya lampu depan. Kemudian kilat datang kembali, kali ini bukan cahaya hanya cahaya yang datang dari situ, namun sebuah bayangan yang tidak besar yang kemudian lenyap dalam kegelapan, kilatan kembali lagi dan kali ini aku bisa dengan jelas melihat ada empat bauh bayangan disana.
Sigap aku mengangkat senjataku, menaikannya lagi dan kali ini aku mulai panik. Nadya yang memperhatikan kemudian juga ikut masuk ke dalam mode siap tempurnya dengan kuda kuda yang erat dari sepatu bootsnya yang tebal, berusaha mengungguli tinggi lawan kami.
Kemudian mataku memberanikan diri kembali melihat kilatan itu lagi, kali ini semua bayangan itu lenyap. Melotot dan dengan cepat mematahkan leherku menoleh ke segala arah yang memungkinkan, jendela di samping kanan, dan lorong di kiri kami menuju ke arah Ardi, jendela di atas rumah, hingga kursi belakang untuk memastikan pak Raden yang tetap masih duduk disana, dengan herannya kebingungan melihat kami.
Bagaikan sebuah alarm hidup yang tidak diundang, angin kencang terus saja datang lagi, tapi kali ini bukan dari sela sela pintu itu, tepatnya di lorong dari arahnya Ardi. Lorong yang entah mengapa gelap itu menyembunyikan sebuah wujud di dalamnya, mengumpatkan hawa dan dirinya di balik kegelapan. Sampai akhirnya sosok hitam itu datang memberanikan diri keluar, berjalan dengan perlahan meninggalkan bayang bayang itu, suara hentakannya yang hampir tidak terdengar sama sekali berjalan layaknya hantu yang melayang. Tba tiba ia terhenti, saat sepatunya tersiram cahaya yang tetap meninggalkan siluet tubuhnya di dalam kegelapan. Dia terhenti, dan kali ini yang aneh bukan karena ia berhenti di sana, tapi karena tidak ada cahaya merah yang kukenal disitu.
Sontak neuron di otak ku berjalan cepat berpikir kalau mungkin itu adalah Ardi, tapi tentu saja orang itu tidak mungkin ia meninggalkan posnya. Tidak terasa aliran kringat mulai turun mendinginkan wajahku yang panas, melewati seringaiku yang mencuat dan terjun bebas melewati jurang daguku yang curam.
Jari jemariku mulai bergetar, asumsi akan bahaya yang masuk sudah mulai menakuti diriku sendiri. “Nad-”
Panggilanku terhenti saat sebuah ketukan terasa dari punggungku. Kemudian leherku berusaha sekuat mungkin menarik pandanganku ke arah Nadya tanpa kehilangan lawan di depanku. Yang kulihat kali ini adalah telunjuknya bergemericik, sama bergetar hebatnya mengarah pada jendela. Dia, Makhluk itu ada di situ padahal. sontak kepalaku kembali menoleh ke lorong tadi, dan siluet itu masih disana, mematung dan tidak bergerak sejengkalpun dari posisinya tadi.
Kemudian panggilan datang, dengan sekuat tenaga aku mengangkat telepon yang mungkin terakhir bagiku. “Dia telah tiba.”
“Berapa?”
“Satu.”
“Dua,” jawabku singkat langsung menutup telepon kami.
Mataku terpejam dalam dalam sambil menyadarkan diri pada angin kosong, namun guncangan itu menggoyahkan pikiranku, kembali datang ke menusuk dan merusak perasaan yang telah kubuat awal tadi, entah tiba tiba rasa akan kematian itu datang lagi.
“Nadya, jujur saja, kita tamat.”
i.
Tidak banyak berpikir tentang sesuatu adalah hal yang tetap ku usahakan sampai sekarang, tapi tetap saja godaan akan dunia ini tidak ada habisnya membuatku terus berpikir mengapa dan kenapa semua ini terjadi. Begitu lah keadaanku saat ini, tepatnya kami. Mengetahui alasan sesuatu adalah urusanku sejak dulu, sejak kedua orang tuaku meninggal, aku tidak punya banyak pilihan saat itu selain menerima keadaan, dan sekarang aku menemukan pengalaman yang hampir mirip. Kembali membuatku bertanya tanya, apakah ini yang akan terjadi pada kedua orang tuaku.
Setelah perbincangan intens seperti sebuah gelombang radio yang jatuh lalu naik. Kali ini kami meredam dan berteduh di dalam rumah bersama tamu baru kami satu lagi yang tiba tiba datang dan duduk santai seperti seakan lupa kalau dialah yang telah menghilangkan benang panas yang baru saja ditarik pak raden tadi.
Layaknya orang yang sudah bersiap berperang. Tangan yang berlindung kan plat besi serta sarung tangan baja yang menutupi tinjunya serta baju hitam biasanya yang kali ini dibalut rompi seperti kami. Semangat membara bisa terlihat dari wajahnya dan matanya yang menyala. Entah aku kira dia sudah sangat siap, namun tidak kah lebih baik jika ia tidak mengenakan pakaian itu dan membuat keadaan semakin memanas di saat seperti ini.
Setelah Nadya yang menjadi narasumber yang tepat telah tiba dan mulutnya mulai mengoceh menceritakan semua detailnya dengan jelas kepada Rina yang hampir saja mengamuk pada kami. Bukannya ketenangan yang ia dapat setelah mendengar cerita tersebut, ia kemudian menjadi semakin panik sampai sampai tidak hentinya memegang tangan ayahnya dengan cengkraman yang menekan kulit keriput ayahnya itu.
“Apa gak ada cara lain, kenapa gak panggil polisi?!” kejar Rani.
“Awalnya kami berpikir begitu, tapi saat di rumah pertama kami, sepertinya tentara bayaran juga tidak sanggup melawan mahluk ini,” ucapku tertunduk.
“Kalau mereka saja tidak bisa, apalagi kalian,” tegas Rani.
“Jujur saja kami juga ragu-”
Ardi memberhentikan, memegang lenganku sejenak dengan tenangnya dan menariknya kembali bersama suara benturan yang muncul saat ia mengangkat tas milik kami ke atas meja kayu tebal ini, sedikit mengagetkanku, namun apa gunanya ia menunjukan tas yang isinya berbahaya seperti itu pada mereka. Yang kulihat hanyalah wajah masam Rani yang gelisah terus meremas tangan ayahnya dan alis yang tertunduk, perasaan tidak menentu yang tidak tertahankan dan bingung bercampur aduk pada dirinya sekarang.
“Aku tidak begitu tahu akan lawan kami yang masih misterius, tidak ada banyak harapan yang bisa kita dapatkan, namun tidak banyak bukan berarti tidak ada. Kami telah menemukan titik kelemahan pembunuh ini dan dengan seluruh kemampuan yang ada, kami siap melindungi bukan Rani saja, tapi pak Raden juga,” ujar Ardi lantang dengan seluruh percaya diri, berusaha memasukan keyakinan itu kedalam mereka berdua.
Aku yang mendengar kata kata semangat itu tidak tinggal diam setelahnya dan mata membaraku menyerbu mereka berdua. “Ya, kita sudah mendapatkan kelemahan si topeng, maksudnya orang ini, masih ada harapan untuk kita melawannya,” imbuhku dengan antusias yang Ardi bawa.
Namun Nadya yang dengan bingungnya malah memberikan tatapan aneh pada kami, merasa asing dengan pernyataan yang tentu saja masih belum terbukti jelas. Tapi aku yakin jika Ardi dalam masalah bertarung tidak perlu dipertanyakan lagi, ia pasti sudah menganalisa lawannya saat itu juga dan mendapatkan sepercik info adalah senjata yang sangat tepat melawan musuh kami.
Benar saja, suntikan yang diberikan Ardi entah bagaimana caranya bisa terasa oleh mereka berdua, perasaan suram dari ayah dan anak itu mulai hilang dari ruangan ini, kuharap rasa suram itu bisa keluar dari diriku juga yang dengan konyolnya serta lantang mengucapkan bualan itu dengan keraguan yang menempel di lidahku saat ini. Tapi senyuman mereka berdua membayar dan menghapus hal itu saat Rani menatap ayahnya dengan mata berkaca kaca.
Dengan sedikit seringai yang terangkat terpaksa di bibirku, otakku berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau Ardi benar benar mengetahui apa yang ia katakan dan bukan menambah beban omong kosong yang tentu saja akan kami pikul nantinya. Tapi tentu saja aku tahu dia bukan orang yang akan berpikir banyak suatu hal dan sebisa mungkin berkata jujur kalau ia bisa.
“Saya hargai usaha kalian, tapi tetap saja, umur tidak ada yang tahu dan kemungkinan itu masih tetap ada. Jadi, tolong prioritaskan putri saya dulu, itu satu satunya harta berharga yang saya miliki sekarang,” pinta pak Raden dengan lembut menatap Rani yang tidak berhenti memeluk tangan ayahnya itu.
“Jangan putus asa dong Pak, Nadya yakin mereka bisa mengatasinya,” ujarnya melempar sekaligus melupakan tujuan ia kemari yang katanya ingin membantu kami.
“Kenapa Nadya bisa yakin?” tanya pak Raden.
“Ya … karena kalau dipikir pikir, kalau mereka bukan orang kuat, kan sudah pasti sekarang tidak berada disini,” jelasnya. Kemudian ia tertunduk. “Kak Dito percaya sama mereka.”
Ekspresi mereka tidak berubah saat penjelasan masuk akal yang diberikan, namun hal itu berganti saat nama Dito terucap. Kuakui Nadya benar benar cerdik kali ini, memanfaatkan nama kakaknya itu yang ia tahu kalau pak Raden tidak memiliki keraguan sama sekali akan nama Dito, sama seperti mempercayai hartanya sendiri pada orang yang tepat.
“Baiklah, kuharap saya bisa percaya pada kalian berdua, sama Nadya juga,” ujarnya berdiri memandangi kami. Tidak ada senyum lagi yang keluar, namun aku bisa merasakan semangat yang ada dalam dirinya bangkit, entah apa itu yang merasukinya namun itu adalah suatu hal yang bagus.
Ardi berdiri, alisnya menukin serius, tanpa senyum dan wajah datar yang ada di dirinya. “Kalau begitu kita sudah siap kapanpun. Nadya, kau akan mengawasi Rani sepenuhnya, aku dan-”
“Tunggu,” potong pak Raden dengan tangan terbuka ke hadapan kami. “Kau yang akan menjaga Rani,” tunjuk pak Raden ke Ardi.
Ia kemudian termenung sejenak. “Baiklah kalau begitu, akan kujaga sampai semua ini selesai,” jawab Ardi menuruti permintaan pak Raden.
Aku dan Nadya saling bertatapan, mata kami menyipit mengetahui kalau kami adalah pemain sampah yang tidak ada apa apanya tanpa bantuan Ardi. Terlebih lagi aku tidak pernah tahu cara Nadya bertarung berpasangan. Tapi dengan percaya dirinya ia mengeluarkan jempolnya lagi ke arahku dengan seringai kecilnya. Aku tidak tahu apa artinya itu, tapi dari lirikan matanya ku yakin ia bermaksud mengandalkanku kali ini. Tentu saja kepalaku hanya bisa menggeleng berkhayal hal buruk akan terjadi.
ii.
Lagi lagi malam telah datang, kali ini lebih cepat dari perkiraan kami. Sangat terasa waktu semakin memburu demi melihat bagaimana kami akan megatasi situasi kali ini. Persiapan yang telah terpasang semua di tubuh, menutupi segala bentuk serangan yang masuk yang tentu saja tidak semuanya bisa dicegahnya. Jaring jaring benang yang terasa menutupi kulit dengan erat, sangat kuat menahan serangan namun tidak dengan hawa dingin yang datang. Padahal pintu tertutup dengan rapat, jendela terkunci dengan teralis, namun hawa dingin itu tetap bisa masuk datang dan berusaha menyerang kami dari arah manapun.
“Apa kakak merasa dingin?” tanya Nadya dengan mengangkat kepalan tinju besi di tangannya.
“Ya … itu tandanya dia akan datang,” cetusku.
Sontak Nadya kaget mendengar jawabanku. “Beneranh? apa bukan karena AC dari kamar pak Raden?”
“Bukan Nadya, masa lupa? tidak ada AC di rumah ini,” jawab pak Raden dari arah belakang kami, duduk di kursinya yang bersandar di tembok berjarak sekitar tiga meter dari pijakan kami. Di sampingnya ada pintu yang sudah siap digunakan untuk melarikan diri ke kamar tengah. Setidaknya saat topeng itu muncul, pak Raden bisa kabur ke tempat yang lebih aman karena tidak ada jendela, dan pintu lain yang bisa lawan gunakan. Satu satunya cara adalah melewati kami berdua.
Dalam situasi tegang itu kucoba menarik tanganku ke telingaku dan menyalakan earphone, berusaha menghubungi Ardi yang bersama Rani di dekat kamar tidurnya, tepatnya satu lorong dari sini. “Tes, apa disana aman?” tanyaku cepat.
“Ya, semua baik baik saja, tapi angin itu sudah datang, waspada!”
Aku mengiyakannya dan menutup kembali komunikasi kami.
“Gimana disana?” tanya Nadya.
“Baik baik saja, tapi sebentar lagi ia datang katanya,” jawabku mengingat pesan Ardi tadi. Kemudian aku teringat sesuatu. “Tadi apa yang lu kasih ke Ardi?”
“Yang ma- Oh… itu pin kamera, untuk merekam pertarungan ini.”
“Kenapa gua gak dapet?” tanyaku heran.
“Katanya kak Jaya gak butuh itu,” jawab Nadya mengisyaratkan perintah Dito.
Perasaan itu seketika datang kembali, hawa dingin yang kuat berhembus dari pintu. Tidak mungkin badanku mengelak dan menghindari hal ini, melihat hembusan debu yang didorong angin kencang yang lewat dari sela sela bawah pintu putih besar itu. Bukan hanya aku saja, Nadya pun dengan pakaian dengan kemeja lengan pendeknya sudah pasti dapat merasakan udara dingin ini.
“Kenapa semakin dingin ya? apa mau hujan?” tanya Nadya yang keheranan, bibirnya bergoyang ragu akan ucapannya sendiri, tangannya mulai gemetaran dan sepertinya seluruh tenaga di tangannya mulai disedot habis oleh hembusan angin.
Tidak lama kemudian suara dari luar mengiyakan ucapannya barusan, suara gemuruh dari luar datang melewati rumah ini, membuat seluruh ruangan sepi ini menggema dan lantai sedikit berguncang. Namun ada getaran lagi yang datang, kali ini tepat pada telingaku.
“Ada apa?”
“Kau merasakannya, jangan terkecoh dengan guntur, dia sudah tiba,” pukas Ardi mengakhiri sambungan kami.
Bagai ditarik dari sebuah jurang dan dilempar lagi ke jurang lainnya, mataku langsung bangun dan kembali fokus. Membuka lebar instingku dengna golok di genggamanku yang kuremas. Mataku menoleh ke arah sekeliling, ke setiap koridor secara perlahan dan seksama, memandangi setiap lukisan besar hingga yang kecil yang terpajang di tembok hijau muda itu. Wajah wajah pada tiap gambarnya menampilkan rasa sedih pada raut mereka, menampakan mata mereka yang tertunduk, namun dari dalam kutahu mata mata itu mengarah padaku, menelanjangi kami serta membantu kami menambah situasi mencekam ini hingga akhirnya pandanganku sampai pada sesuatu, kembali ke pintu besar itu, menatap sela sela itu lagi, sekali lagi dengan seksama.
Ada yang hilang, sesuatu yang awalnya ada disitu, tapi sekarang lenyap dan entah kenapa aku malah lupa dengan apa yang lenyap itu. Sampai cahaya kilat datang kembali dan menggetarkan bumi. Cahaya itu, ia datang lagi, tidak- bukan. Tidak ada habisnya mataku melebar memelototi sela sela itu, sampai akhirnya kusadar kalau yang hilang disana adalah cahaya lampu depan. Kemudian kilat datang kembali, kali ini bukan cahaya hanya cahaya yang datang dari situ, namun sebuah bayangan yang tidak besar yang kemudian lenyap dalam kegelapan, kilatan kembali lagi dan kali ini aku bisa dengan jelas melihat ada empat bauh bayangan disana.
Sigap aku mengangkat senjataku, menaikannya lagi dan kali ini aku mulai panik. Nadya yang memperhatikan kemudian juga ikut masuk ke dalam mode siap tempurnya dengan kuda kuda yang erat dari sepatu bootsnya yang tebal, berusaha mengungguli tinggi lawan kami.
Kemudian mataku memberanikan diri kembali melihat kilatan itu lagi, kali ini semua bayangan itu lenyap. Melotot dan dengan cepat mematahkan leherku menoleh ke segala arah yang memungkinkan, jendela di samping kanan, dan lorong di kiri kami menuju ke arah Ardi, jendela di atas rumah, hingga kursi belakang untuk memastikan pak Raden yang tetap masih duduk disana, dengan herannya kebingungan melihat kami.
Bagaikan sebuah alarm hidup yang tidak diundang, angin kencang terus saja datang lagi, tapi kali ini bukan dari sela sela pintu itu, tepatnya di lorong dari arahnya Ardi. Lorong yang entah mengapa gelap itu menyembunyikan sebuah wujud di dalamnya, mengumpatkan hawa dan dirinya di balik kegelapan. Sampai akhirnya sosok hitam itu datang memberanikan diri keluar, berjalan dengan perlahan meninggalkan bayang bayang itu, suara hentakannya yang hampir tidak terdengar sama sekali berjalan layaknya hantu yang melayang. Tba tiba ia terhenti, saat sepatunya tersiram cahaya yang tetap meninggalkan siluet tubuhnya di dalam kegelapan. Dia terhenti, dan kali ini yang aneh bukan karena ia berhenti di sana, tapi karena tidak ada cahaya merah yang kukenal disitu.
Sontak neuron di otak ku berjalan cepat berpikir kalau mungkin itu adalah Ardi, tapi tentu saja orang itu tidak mungkin ia meninggalkan posnya. Tidak terasa aliran kringat mulai turun mendinginkan wajahku yang panas, melewati seringaiku yang mencuat dan terjun bebas melewati jurang daguku yang curam.
Jari jemariku mulai bergetar, asumsi akan bahaya yang masuk sudah mulai menakuti diriku sendiri. “Nad-”
Panggilanku terhenti saat sebuah ketukan terasa dari punggungku. Kemudian leherku berusaha sekuat mungkin menarik pandanganku ke arah Nadya tanpa kehilangan lawan di depanku. Yang kulihat kali ini adalah telunjuknya bergemericik, sama bergetar hebatnya mengarah pada jendela. Dia, Makhluk itu ada di situ padahal. sontak kepalaku kembali menoleh ke lorong tadi, dan siluet itu masih disana, mematung dan tidak bergerak sejengkalpun dari posisinya tadi.
Kemudian panggilan datang, dengan sekuat tenaga aku mengangkat telepon yang mungkin terakhir bagiku. “Dia telah tiba.”
“Berapa?”
“Satu.”
“Dua,” jawabku singkat langsung menutup telepon kami.
Mataku terpejam dalam dalam sambil menyadarkan diri pada angin kosong, namun guncangan itu menggoyahkan pikiranku, kembali datang ke menusuk dan merusak perasaan yang telah kubuat awal tadi, entah tiba tiba rasa akan kematian itu datang lagi.
“Nadya, jujur saja, kita tamat.”
simounlebon dan 2 lainnya memberi reputasi
3