Kaskus

Story

amriakhsanAvatar border
TS
amriakhsan
KERIS 13 IBLIS
Quote:





KERIS 13 IBLIS


Quote:


i.


Jujur saja, tangannku membuat tulisan ini bukan karena diriku menginginkan orang orang untuk membaca tulisanku, melainkan ini sebuah perintah yang aku sendiri masih belum paham apa tujuannya. Mungkin memang terdengar seperti orang yang menganggur atau bahkan lebih parahnya lagi tidak bertujuan, namun begitulah adanya. 



Mengetahui kalau hidup ini layaknya sebuah buku catatan memberikanku sedikit gambaran, motivasi untuk membuat hal ini, meski terkadang sejarah itu hanya berlaku bagi orang yang menang. Tidak perlu dipungkiri kalau memang tidak ada salahnya bukan menuliskan sesuatu berdasarkan apa yang kau lihat dan bukan menuliskan sesuatu karena ada sebuah mata pisau bergerak perlahan di lehermu.



Walau disebut tunakarya, aku juga memiliki tugas yang mungkin agak sulit untuk dijelaskan pada banyak orang karena memang pada dasarnya diriku sendiri tidak tahu kejelasan tugas ini sama sekali. Merekamenyebutnya sebuah titah yang harus dan memang ini akan menjadi peran utama pada perjalanan hidup baruku, sebuah era baru. Tugas yang sebenarnya tidak pernah kusangka dan mungkin dapat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan diriku di masa kecil. 



Apakah tugas itu sangatlah penting, menurutku tidak sama sekali. Tapi bagi mereka, bagi penerusku, mungkin ini adalah sebuah pelajaran yang tidak boleh dilupakan. Waktunya belajar sejarah.



ii.

 

Dito adalah saudaraku, saudara jauhku tepatnya. Ayahnya membantuku dan membiayaiku dari masa aku kehilangan orang tuaku sejak SMP. Aku jarang sekali berbicara padanya dan mungkin kami bertemu hanya beberapa kali seumur hidupku. Aku tidak begitu ingat tentangnya pada masa kecil, selain ingatan tentang waktu itu kami bertengkar hanya karena masalah berebut mainan.



Akibat terlalu menghilang dari keluarga ini lah yang membuat perubahan mendadak menjadi tembok bagiku untuk semakin mengenal dirinya. Sampai akhirnya tanpa kusadari yang berada di depan mataku saat ini adalah wujud dirinya sekarang sudah layaknya menjadi gumpalan daging yang keras, dimana otot yang besar terlihat sangat tegas berada ada kedua tangannya yang mungkin agak terlalu besar dibanding badannya yang kekar, namun kotak di dadanya tidak terlalu muncul dari kemejanya, terlebihi lengannya sendiri, layaknya gorila memakai baju hanya saja tidak gemuk.




Dengan tubuh yang seperti itu ditambah lagi dengan wajahnya yang aku yakin tidak ada wanita yang menolaknya. Dengan wajah tampan berbentuk bulat agak lonjong, rambut 3 cm terpotong rapi tersisir ke belakang dengan pinggiran tipis, bagian rahang yang tegas dan tipis serta matanya yang bulat berbinar yang menampilkan dirinya sangat berenergi, menampilkan api pada dirinya. Bibir yang agak tipis membuatnya terlihat menjadi penarik wanita paling cepat jika melihat kesempurnaan yang ada pada tubuhnya dan wajahnya.



Namun aku sedikit asing saat melihat sedikit detail noda sayatan yang cukup dalam pada wajahnya dari bagian pangkal hidung mancungnya lalu turun ke bagian  bawah mata kanannya. Kalau yang satu ini aku sulit untuk memasukkannya sebagai bagian yang keren atau malah merusak wajahnya, atau malah menyempurnakannya.



Aku juga ingat bagian yang paling tidak bisa ditolak dari kesempurnaan semuanya adalah jumlah uang yang dimilikinya. Demi Allah, dengan pakaian yang tidak mewah dan sederhana namun rapi, sangat menipu jika  hanya sekedar melihatnya berjalan di antara banyak orang orang kaya yang biasa kulihat. Permasalahannya adalah sifat aslinya yang mengundang masalah, kurang ngajar, dan terlebih kesombongannya itu yang tidak bisa dihiraukan.



Salah satu kebanggannya yang menguatkan rasa sombongnya adalah bisa meneruskan perusahaan ayahnya, yang sebenarnya aku sendiri tidak paham secara detail perusahaan apa ini. Namun yang pasti kuketahui adalah ini seperti perusahaan peralatan elektronik untuk medis atau bisa disebut biotech. Disamping saat masih kecil, aku pernah mencuri dengar saat ayahnya menceritakan sebaran sahamnya pada banyak perusahaan besar di seluruh dunia. Benar benar akalku tidak akan masuk jika memiliki uang dan tanggung jawab sebanyak itu. Semakin melihatnya semakin sadara lama lama sepertinya aku melihat klise drama korea disini, tapi mau bagaimana lagi, dia saudaraku.




ii.




Aku sekarang tinggal di rumahnya. Rumah dengan model layaknya keraton di kota modern ini terlihat sangat kontras dengan halaman hijaunya yang luas, ditumbuhi banyak pepohonan buah buahan hingga bagian belakang rumah yang dipenuhi tumbuh tumbuhan hias seperti bunga dan juga pohon beringin besar. Satu satunya yang ku tidak sukai adalah bagian dalam rumahnya yang memiliki banyak cabang dan lorong dengan bentukan dan terlihat yang sama yaitu perempatan, dengan kayu jati besar menghadap secara vertikal di bagian bawah dan anyaman rotan tebal di atasnya, ornamen elang berjambul kecil terpampang di sudut sudut rumah. 



Bagian terburuknya yaitu yang tidak diberi tanda untuk masing masing ruangan sehingga banyak orang pasti bisa kebingungan dan tersesat di dalam sebuah rumah ini, serta banyak ruangan kosong di dalamnya yang aku sendiri tidak paham kenapa banyak ruangan kosong padahal ia hanya tinggal dengan adik serta ayahnya. AKu sangat yakin keluarganya memang tidak mengharapkan tamu yang datang



Setelah perjalanan membingungkan dan berputar putar, tubuhku menyerah dan berakhir di sebuah balkon rumah, menghadap langsung ke depan pohon rindang dengan daun hijau panjang dan lurus namun ujungnya berkelok kelok, pasti ini daun pohon mangga, mataku berusaha mencari dan akhirnya terfokus dengan mangga kecil yang tumbuh di bagian dahan lain. Menghirup beberapa udara yang tercampur baunya dari daun daun serta getah pohon, diriku sedang duduk di kursi panjang dari baja ringan yang dibentuk menyerupai batang kayu, sambil melihat dan memperhatikan pepohonan yang hijau yang membuat seluruh pandanganku menjadi kabur saat melihat, hal hal yang kurasa ini pernah aku membacanya di suatu buku, namun … satu satunya yang kuingat adalah … ingatanku buruk soal mengingat. 



Lalu disaat seluruh pandanganku sudah buyar layaknya orang mabuk dengan seluruh benda benda hijau di depanku, tubuhku bersandar dan melempar kedua lenganku ke bagian atas sandaran kursi sejajar dengan kepalaku. Namun semua sirna saat suara guliran roda pintu masuk ke telingaku, mengganggu relaksasiku.



Langkah sepatu dari kayu yang berhentakan dengan kayu menghasilkan bunyi ketukan yang khas. Sosok itu berdiri disampingku melihatku sudah tidak berdaya tergeletak diatas kursi tanpa bisa berbuat apa apa, kemudian sejenak mataku mencoba meraih seluruh tenaga yang ada untuk memfokuskan pandanganku kepada sosok besar yang seharusnya kusadari dari awal itu adalah Dito. Dia datang kepadaku dengan dagu sedikit dinaikan ke atas, serta kedua tangan besarnya masuk ke kantong celananya. 



“Hey … kenapa anda bisa terdampar disini,” kata Dito dengan suara yang sedikit bergemuruh.



“Gua awalnya ingin pergi menemuimu bos, tapi gak ketemu ketemu gara gara lorongnya kayak labirin. Abis itu tak coba cari cari sendiri dan … akhirnya tersesat disini,” balasku sambil menyindir rumah sialannya ini.



Dito terkekeh, “Memangnya apa yang ingin anda tanyakan hah?” ucapnya sambil melipat kedua tangannya.



“Toilet.”



“Anda sekarang sedang menatap toilet yang luas, kenapa gak kencing saja sekarang di rumput,” sahutnya.



“Iya ... iya terserahlah,” balasku tanpa memerdulikan perkataannya barusan dengan kembali memalingkan wajahku ke arah dedaunan di pohon.



Dito menurunkan dagunya dan melembutkan sedikit pandangannya. “Karena kebetulan ada disini, saya memiliki satu buah tugas,” serunya.



“Sebenarnya gua lebih suka nganggur seperti ini. Tapi … baiklah.”



“Tugas ini bersifat permanen karena tugas hanya anda yang bisa melakukannya,” jawab Dito dengan nada pelan layaknya orang tua menceramahi anaknya.



mataku menyerngit. “Tugas seperti apa itu sampai bos tidak bisa melakukannya sendiri,” balasku dengan heran sambil kembali menaruh wajahku kearahnya.



“Saya menyuruhmu untuk menuliskan cerita tentang perjalanan hidupmu dari sekarang.”



“CV?”



“Bukan, tapi sebuah narasi untuk menjadi penyambung kisah generasi kita bersaudara,” jawab Dito kali ini dengan nada cukup berat.



“Apa maksudnya dengan kita bos?”



“Saya tidak ingin bercerita panjang lebar sekarang, itu urusan nanti.”



“Eleh … .”



Dito mulai memicingkan matanya dengan tatapan tidak menyenangkan. 



“Jujur bos, gua masih tidak paham sama sekali maksud tugas ini,” balasku dengan heran.



“Saya tidak bisa memberi detailnya sekarang, namun kali ini anda cukup ceritakan perjalanan hidupmu dari waktu yang kau inginkan. Seperti sejak kau lulus SMA ataupun kuliahmu,” jelas Dito.



Mataku berusaha mengalihkan pandangannya ke sebuah pohon selama beberapa saat sambil memikirkan semua kata katanya barusan. “Oke, bakal tak coba, cukup cerita saja kan? tapi jangan berharap banyak dari tulisan anak teknik.”



“Kalau itu tidak masalah. Anggap aja ini tugas anak anak, namun seperti yang  saya bilang tadi. Hanya anda yang bisa melakukannya,” jawab Dito kali ini dengan nada yang puas sambil melempar telunjuknya ke udara.



“Apa semua orang yang datang kesini harus menulis cerita mereka semua?” tanyaku lagi, dengan nada agak serius.



“Tidak … ini spesial,” jawab Dito dengan memejamkan matanya dan menurunkan sedikit dagunya, seperti sedang menahan rasa kesal.



“Baiklah, jadi dimana gua bisa mulai tugas ini?”



Dito merogoh isi sakunya dan mengambil sebuah kartu. ”Ini kunci kamar, tinggal lurus saja dari pintu ini lalu belok kanan hingga ke pokok lorong. Itu kamarmu, disana kau bisa mulai kerjamu,” jelas Dito sambil tangan besarnya kembali masuk ke kantongnya memperbaiki isi saku kosongnya yang keluar.



Aku menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. ”Hanya ini saja kan? Tidak ada batas waktu?” tiba tiba aku terhenti dan berpikir sejenak, sepertinya aku membuat kesalahan dengan menanyakan hal tersebut.



“Tidak …” jawab Dito tampak tidak senang.



“Oke oke bos,” balasku dengan senyum kecil muncul di samping bibirku.



Dito sejenak bergumam. “Menulis itu cumang sebagian dari pekerjaan, sisanya ada lagi besok,” balas Dito kali ini dengan santai dan tidak seserius diawal.



Aku menatap tajam ke arahnya. Sialan kau mengerjaiku.



“Ini belum apa apa,” Ia lalu mengeluarkan tangannya dari sakunya sambil membalikan badannya dan berjalan perlahan pergi dengan suara hentakan sepatu yang cukup keras.


Aku sama sekali tidak paham apa tujuannya namun aku memang tidak tahu harus ngapain lagi.   Aku menarik badanku ke posisi tegap dan mendorong tubuhku yang masih berkunang kunang dengan memasang pondasi kedua lengan ke kursi dan mengambil tenaga berusaha naik dari tidurnya, mengambil konsentrasi, berdiri tegak sambil membusungkan sedikit dadaku, mengambil nafas dan pergi menuju tempat kerjaku.
Polling
0 suara
Karakter mana yang paling berkesan gansis?
Diubah oleh amriakhsan 14-11-2020 06:23
danjauAvatar border
aripinastiko612Avatar border
sampeukAvatar border
sampeuk dan 13 lainnya memberi reputasi
10
8.6K
46
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
amriakhsanAvatar border
TS
amriakhsan
#28
iii.

Mata bersinar itu, cahaya merah yang terang dari dalam bersama uap udara keluar dari sela sela pelindung wajahnya itu. Pedang baja panjang sudah masuk ke dalam tanah, menembus hingga tenggelam ke bagian tengahnya, membuat sebuah lubang bergaris lurus layaknya gempa yang membelah bumi. Tebasan yang kuat itu, makhluk ini benar benar sangatlah kuat.

Semua otot pahaku kukencangkan dan melontarkan semua tenaga yang kusimpan, melompat menjauh dari si topeng. Kedua golokku sudah bersiap di depan wajahku dan Ardi dengan tangannya yang melayang diatas mata pedangnya yang sudah melekat di samping pinggangnya. Bola mataku melirik ke arah Ardi dengan pipinya terangkat, bibir yang tergigit dan alis yang menukik tajam. Perasaan yang bercampur aduk saat caranya ia muncul dan dengan harapan kami yang menjadi kenyataan. Namun tetap saja, saat ia datang dalam jarak sedekat itu, kami benar benar buta saat semua indra kami tidak bisa sama sekali merasakan keberadaanya yang datang entah dari mana.

Mataku mulai perih sampai lupa berkedip, tidak ada habisnya menatap setiap senti dari pergerakan yang ia lakukan, bahunya yang masih tertunduk mulia terangkat dengan pedang di genggamannya yang ia tarik bagaikan mencabut sehelai rambut. Dengan sebuah hentakan kecil, pedangnya itu terangkat ke atas, membawa semua tanah yang melekat pada pedang nya itu yang seperti sendok dengan selai kacang. Ia tidak membersihkannya, dan malah berdiam, berdiri di hadapan kami seperti sebuah robot yang menunggu perintah.

Entah dari mana asalnya, namun di tengah ketegangan itu belatiku malah langsung menarik matanya ke arah si gendut dan pak tua itu. Seringainya itu masih menempel pada wajahnya dan belum turun juga saat mereka melihat serangan itu.

“Kami berubah rencana, besok ini kalian tidak jadi pulang, kalian akan menginap … sampai kami mengembalikan mayat kalian nanti,” ujar si gendut.

Sontak telingaku panas mendengar perkataan yang jujur itu. Tidak kusangka ia akan memiliki keberanian berbicara seperti. Sangat klise mengakui dirinya sebagai penjahat dan langsung memberi tahunya di hadapan kami.

“Seharusnya kau memperlakukan kami dengan baik agar kami tidak curiga, agar kami tidak perlu bersiap siap begini,” sahut Ardi.

Tangan bulat itu mengacungkan jarinya ke arah wajahnya, membuka mulutnya dan mengorek segala gusi dan gigi yang ada di dalamnya dengan kukunya. “Jujur saja, di sekolah aku tidak begitu pandai melakukan drama.”

Ardi pun berdiri tegak, meninggal kan posisi bersiapnya dan mengarahkan tubuhnya ke arah mereka berdua, mengacuhkan si topeng yang sudah kami ketahui siapa dalangnya. “Kalau kau benar tidak pandai memainkan peran. Katakan … apa kau yang melakukan semua percobaan pembunuhan Dito?” geram Ardi sambil menodongkan pedang besarnya itu.

Jari berhenti bergerak, mata dingin nya menatap kami dengan rahang memelar. “Apa maksudmu?”

“Pembunuhan Dito, dan tiga orang lainnya. Jelaskan!” teriak Ardi dengan nada yang semakin besar.

“Jelaskan, aku tidak tahu, toh kalian sudah tamat juga kenapa harus kujelaskan,” jawabnya dengan mengangkat satu tangannya lagi, kemudian melambaikannya, entah ke arah kami atau.

“Jaya!”

Teriakan Ardi langsung membuatku bersiap lagi, menahan kembali semua kesadaranku dan mengarah pada si topeng. Dia bergerak dan memberikan tebasan ke arahku dengan pedangnya yang kotor itu, entah tebasannya yang lambat atau gerakanku yang cepat membuatku dapat menghindari serangan itu dengan melompat mundur. Mengambil langkah sigap dan memepet kembali bahuku ke arah Ardi.

“Maaf,” ucapku.

“Maafnya nanti, sekarang waktunya bertarung.”

Pedang besar itu terangkat tinggi, si topeng kembali berencana melakukan serangan tebasan yang sama. Ardi yang melihat tubuh terbuka nya tidak menyia nyiakan kesempatan dan langsung melakukan tusukan terkuat nya yang ia sudah siapkan. Suara dentangan baja yang beradu menggema berkali kali. Namun topeng tidak bergeming dengan itu dan tetap menyerang Ardi tepat di atas kepalanya. Pekikan suara dentangan kembali muncul saat Ardi berputar menghindar dan memukul bagian pinggang si topeng dengan punggung pedangnya.

Samar samar namun aku bisa melihatnya, gerakan kecil yang timbul dari serangan itu membuat bagian tubuhnya bergetar. Mataku melebar dan menyala saat menyadari hal itu dengan kedua golokku kusatukan ke sebuah kepalan, menariknya memutari atas kepalaku dan menghempaskan tebasan ke bagian tangan kerasnya itu. Suara menyakitkan itu datang lagi dan benar saja, kali ini tangannya bergetar hebat.

Mungkin bisa dikatakan bodoh atau gila, tanganku bergerak sendiri dan malah tiba tiba meninju genggaman pedang si topeng. Sebuah benda panjang mengkilap melayang berputar di udara hingga akhirnya terjatuh. Pedang itu terlepas dari tangan si topeng, emas sudah di depan mata kami, merasakan kebahagiaan yang tidak ternilai saat ini juga.

Bukan lagi sebuah pemikiran yang aneh jika aku merasa kalau musuh kami yang lemah, tau malah ini sebuah progres saat kami berdua sadar kalau sebenarnya kamilah yang sudah siap dan kuat. Tanpa menyia nyiakan kesempatan itu, semua serangan kami habiskan untuk mengetuk tempurung keras si topeng. Suara dentingan dan pekikan tiada hentinya, berubah menjadi lantunan kilatan api yang membara dari pedang kami.

Ardi yang terus menerus menari dengan lawannya itu, berputar dan menyerang ke setiap titik yang ia bisa taruh dengan punggung pedangnya. Sementara tanganku dengan membabi buta menebas sambil memberikan tinju ke topeng yang hanya kaku, bergetar dan mematung dalam posisinya.

Waktu yang terasa semakin lambat, sambil sesekali mataku melihat sekilas wajah mereka berdua yang sangat ketakutan atau mungkin takjub melihat kami berdua bagai hewan buas yang mencabik cabik mangsanya. Kedua tangan buntal itu hanya bisa mengarah pada kami, entah dia sedang berdoa atau mati kaku, yang pasti dengan mata melotot seperti itu, artinya ia sudah kalah.

Sementara pengawalnya itu dengan anehnya berusaha membuat dirinya sebagai perisai daging yang menghalangi pandangan dari tuannya itu. Satu tangannya terbuka lebar gemetaran dengan sebilah pisau kecil tergenggam. Aku jadi teringat tadi sore ia dengan pedenya membeberkan rencananya di depan kami. Orang orang ini benar benar sangat bodoh.

Seringai ku semakin naik, otot otot pipiku mengencang. Rasa bahagia yang datang entah dari mana melakukan hal yang gila ini, jiwaku telah dirusak oleh pedang yang ku genggam. Lebih dari semenit kami melakukan serangan tanpa celah itu, walau terlihat sia sia dengan tidak adanya darah yang jatuh, tapi menghentikan makhluk ini saja sudah menjadi sebuah keberhasilan.

Sampai di detik selanjutnya, Ardi mendadak berhenti, kakinya melompat mundur tepat ke arah samping dari si topeng yang sudah tidak berdaya, seketika melihatnya begitu aku memutuskan juga ikut mundur. Mulutnya terbuka, gigi giginya saling terkatup, wajahnya memasam berusaha mengumpulkan seluruh energi yang tersisa. Satu kakinya terangkat di samping badannya yang menjulang tinggi. Sekilas mataku terbutakan dengan cahaya yang silau, memantul dari atas sepatunya yang berhenti di atas sana, tidak terasa malam ini tiba tiba menjadi sangat panas. Ia kemudian menjatuhkan kakinya itu dengan cepat, maju, dan kemudian mengambil langkah kecil yang mengambang di atas rerumputan, dan akhirnya dentuman kencang muncul saat ia melontarkan tendangan yang secepat kilat itu.

Si topeng kali ini kehilangan namanya, topengnya yang terpental jauh ke depan bersamaan dengan tubuhnya bongsornya yang melayang perlahan jatuh menghantam tanah. Kaki Ardi yang masih berdiam di udara, mematung kaku disana. Seringai lebar terlihat jelas dari wajahnya, tidak ada kata lain selain perasaan bangga yang kini berada di dalam dadanya. Tendangan yang sangat hebat itu langsung masuk ke bagian kepala tanpa adanya halangan, tendangan yang pasti langsung membunuhnya.

Dengan tubuh besar terbujur kaku di atas rerumputan. Kedua tuan rumah kami menatapnya dengan perasaan ketakutan yang mungkin mereka tidak pernah bayangkan. Senjata utama mereka telah jatuh tak bernyawa, dan dengan tidak adanya satupun dari kami yang kalah membuat kemenangan ini menjadi mutlak.

“Jadi, gimana?” lontar Ardi sambil menahan gravitasi dan perlahan menurunkan kakinya.

Mereka berdua tidak menjawab sama sekali, lebih tepatnya tidak mampu dengan tontonan yang baru saja mereka saksikan. Aku terkekeh melihat tingkah mereka yang ketakutan nya semakin menjadi jadi saat melihatku tertawa.

Ardi yang seakan tidak peduli dengan keadaan mental mereka, akhirnya mengambil langkah maju dengan pedang besarnya itu yang masih di tangan. Seringai puasnya ia tidak turunkan, membuat kedua orang itu mengambil langkah mundur yang tubuh penuh dengan gempa itu.

Tapi seketika itu juga langkah Ardi terhenti dan paru paruku juga tiba tiba berhenti mengambil nafas. Sesosok bayangan besar turun dari arah belakang mereka dengan lembutnya. Sekilas aku melihat cahaya merah dari arah bayangan itu, cahaya yang tidak mungkin terlupakan olehku dan tidak pernah ingin kulihat lagi akhirnya muncul. Kepalaku dengan cepat berbalik ke belakang dan mencoba melihat sekali lagi, memastikan yang tergeletak di tanah itu masih berada di sana, terbujur kaku dan masih ada isinya dan bukan tempurungnya saja.

Ardi yang mengetahui itu langsung kembali bersiap, mengambil posisi bertarungnya sekali lagi untuk menghadapi tamu kedua kami. tidak ketinggalan badanku yang maju kembali memepet Ardi.

“Brengsek, ternyata dia ada dua,” ucapku dengan perasaan geram dan resah yang beradu.

“Tidak apa apa, kita lakukan itu sekali lagi,” ucap Ardi berusaha menenangkanku

Mataku melirik ke Ardi, menatapnya yang masih bermoral tinggi bersama kepercayaan dirinya itu. “Kau benar, kita bisa mengalahkan satu, ditambah satu lagi tidak akan jadi banyak masalah, ya kan?”

Angguknya dengan seluruh ketenangannya.

Tapi entah kenapa sepertinya ada perasaan yang aneh keluar dari mereka berdua, dan dengan ekspresi wajah mereka semakin meyakinkan hal itu. Mereka berdua menoleh kebelakang tapi bukan dengan perasaan aman, melainkan kaget, mengeras di atas tanah dan hanya kepala mereka berdua yang bisa melawan hal itu. Tamu yang benar benar tidak diundang dan diperkirakan oleh semua orang di sini.

“Apa … apa maksudnya ini?” ucap si gendut dengan rahang gemetaran.

Kakek itu yang mendengar ucapan majikannya hanya bisa melongo, mengetahui kalau semua ini sedang di luar perkiraan tuannya itu. Namun tiba tiba saja setelah ketakutannya itu sebuah seringai berhasil keluar dari bibirnya itu, bersamaan dengan pelayannya itu yang akhirnya menatap kami kembali dengan perasaan yang gembira. Mata mereka melotot, kemudian keduanya terbahak bahak, sang penyelamat mereka telah tiba dan kami juga sudah siap untuk ronde kedua.

“Aku tidak percaya ini, tapi tidak apa, bunuh mereka!” teriak gendut dengan suara nyaringnya.

Kedua kakiku telah bersiap, tapi sekarang aku malah menatap aneh perintah dari si gendut yang tidak adanya respon atau balasan setelah perintah tersebut dilontarkan. Si topeng baru ini datang dan hanya mematung di sana, tidak bergerak dan mengecualikan kepalanya yang menoleh, menatap ke berbagai arah. Entah apa yang dicarinya, namun bukan saatnya lengah lagi, bersiap melawannya sekali lagi.

“Hei … ay-”

Dahiku mengkerut, pupil mataku membesar saat ia tidak bisa menyelesaikan perintahnya keduanya itu, dan sepertinya alasan kali ini benar benar tidak bisa diperkirakan oleh siapapun kalau dalam kondisi seperti itu. Aku berharap tidak akan pernah merasakannya.

Sebuah bilah seperti tanduk runcing muncul dari balik dada mereka berdua, tubuh mereka seketika terangkat, bergetar hebat dan tangannya yang menggila berusaha sekuat tenaga meraih benda di dadanya itu yang seberapa kerasnya usaha yang ia lakukan, hal itu sangatlah sulit dicapai oleh jemari mereka berdua. Berjerih payah mengambil nafas yang mereka bisa untuk bertahan, namun si kakek akhirnya tenggelam dan kehilangan semua kontrol dari tubuhnya yang melayang lemas, leher yang sudah lemas tidak kuat itu akhirnya menjatuhkan bebannya tepat di atas dadanya.

Si topeng itu kemudian menarik tusukannya, membuat kedua orang itu terjatuh, seketika itu juga langkah besarnya berlari ke arah sebuah tiang lampu. Kami yang ikut mengejarnya berusaha lari mengikutinya, sampai akhirnya tangannya berhasil menggenggam kedua tiang itu erat erat, membungkukan punggungya lalu melontarkan tubuhnya setinggi tingginya hingga dengan dua buah lompatan yang cepat membuat kedua kakinya sampai ke genteng dan berhasil melarikan diri.

Langkah kakiku terhenti saat melihat Ardi yang malah menghampiri si gendut, cepat saja aku pun berubah pikiran dan kemudian mengikutinya. Tepat duduk di sebelah orang besar itu Ardi langsung mengangkat kepalanya, menaruhnya ke pangkuannya dan membantu tangannya untuk menutup lukanya yang lebar itu. Hanya dengan sekali lihat, aku bisa tahu kalau yang dilakukan Ardi adalah sia sia. Mata orang itu berkedip kedip, berusaha mengambil kesadaran yang ada.


“Siapa yang mengirim makhluk ini?!” tanya Ardi kencang, berusaha agar suaranya terdengar sampai ke kesadarannya.

Dia menoleh ke berbagai arah, berusaha mencari cari dan menatap ke asal suara itu yang sama sekali tidak ke arah Ardi, kemudian bibirnya yang gemetar itu mulai membuka mulutnya yang kaku. “Kau berbohong, kau berbohong …” ucapnya lesu dan akhirnya tubuhnya yang kaku itu melemas, otot tubuhnya sudah kehilangan pengendalinya, ia sudah mati.


Gigi Ardi bergemeretak, lalu ia memalingkan wajahnya sedikit dan meninju tanah di sampingnya. “SIAL!”
nalaadikara777
andir004
simounlebon
simounlebon dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.