- Beranda
- Stories from the Heart
KERIS 13 IBLIS
...
TS
amriakhsan
KERIS 13 IBLIS
Quote:

Quote:
i.
Jujur saja, tangannku membuat tulisan ini bukan karena diriku menginginkan orang orang untuk membaca tulisanku, melainkan ini sebuah perintah yang aku sendiri masih belum paham apa tujuannya. Mungkin memang terdengar seperti orang yang menganggur atau bahkan lebih parahnya lagi tidak bertujuan, namun begitulah adanya.
Mengetahui kalau hidup ini layaknya sebuah buku catatan memberikanku sedikit gambaran, motivasi untuk membuat hal ini, meski terkadang sejarah itu hanya berlaku bagi orang yang menang. Tidak perlu dipungkiri kalau memang tidak ada salahnya bukan menuliskan sesuatu berdasarkan apa yang kau lihat dan bukan menuliskan sesuatu karena ada sebuah mata pisau bergerak perlahan di lehermu.
Walau disebut tunakarya, aku juga memiliki tugas yang mungkin agak sulit untuk dijelaskan pada banyak orang karena memang pada dasarnya diriku sendiri tidak tahu kejelasan tugas ini sama sekali. Merekamenyebutnya sebuah titah yang harus dan memang ini akan menjadi peran utama pada perjalanan hidup baruku, sebuah era baru. Tugas yang sebenarnya tidak pernah kusangka dan mungkin dapat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan diriku di masa kecil.
Apakah tugas itu sangatlah penting, menurutku tidak sama sekali. Tapi bagi mereka, bagi penerusku, mungkin ini adalah sebuah pelajaran yang tidak boleh dilupakan. Waktunya belajar sejarah.
ii.
Dito adalah saudaraku, saudara jauhku tepatnya. Ayahnya membantuku dan membiayaiku dari masa aku kehilangan orang tuaku sejak SMP. Aku jarang sekali berbicara padanya dan mungkin kami bertemu hanya beberapa kali seumur hidupku. Aku tidak begitu ingat tentangnya pada masa kecil, selain ingatan tentang waktu itu kami bertengkar hanya karena masalah berebut mainan.
Akibat terlalu menghilang dari keluarga ini lah yang membuat perubahan mendadak menjadi tembok bagiku untuk semakin mengenal dirinya. Sampai akhirnya tanpa kusadari yang berada di depan mataku saat ini adalah wujud dirinya sekarang sudah layaknya menjadi gumpalan daging yang keras, dimana otot yang besar terlihat sangat tegas berada ada kedua tangannya yang mungkin agak terlalu besar dibanding badannya yang kekar, namun kotak di dadanya tidak terlalu muncul dari kemejanya, terlebihi lengannya sendiri, layaknya gorila memakai baju hanya saja tidak gemuk.
Dengan tubuh yang seperti itu ditambah lagi dengan wajahnya yang aku yakin tidak ada wanita yang menolaknya. Dengan wajah tampan berbentuk bulat agak lonjong, rambut 3 cm terpotong rapi tersisir ke belakang dengan pinggiran tipis, bagian rahang yang tegas dan tipis serta matanya yang bulat berbinar yang menampilkan dirinya sangat berenergi, menampilkan api pada dirinya. Bibir yang agak tipis membuatnya terlihat menjadi penarik wanita paling cepat jika melihat kesempurnaan yang ada pada tubuhnya dan wajahnya.
Namun aku sedikit asing saat melihat sedikit detail noda sayatan yang cukup dalam pada wajahnya dari bagian pangkal hidung mancungnya lalu turun ke bagian bawah mata kanannya. Kalau yang satu ini aku sulit untuk memasukkannya sebagai bagian yang keren atau malah merusak wajahnya, atau malah menyempurnakannya.
Aku juga ingat bagian yang paling tidak bisa ditolak dari kesempurnaan semuanya adalah jumlah uang yang dimilikinya. Demi Allah, dengan pakaian yang tidak mewah dan sederhana namun rapi, sangat menipu jika hanya sekedar melihatnya berjalan di antara banyak orang orang kaya yang biasa kulihat. Permasalahannya adalah sifat aslinya yang mengundang masalah, kurang ngajar, dan terlebih kesombongannya itu yang tidak bisa dihiraukan.
Salah satu kebanggannya yang menguatkan rasa sombongnya adalah bisa meneruskan perusahaan ayahnya, yang sebenarnya aku sendiri tidak paham secara detail perusahaan apa ini. Namun yang pasti kuketahui adalah ini seperti perusahaan peralatan elektronik untuk medis atau bisa disebut biotech. Disamping saat masih kecil, aku pernah mencuri dengar saat ayahnya menceritakan sebaran sahamnya pada banyak perusahaan besar di seluruh dunia. Benar benar akalku tidak akan masuk jika memiliki uang dan tanggung jawab sebanyak itu. Semakin melihatnya semakin sadara lama lama sepertinya aku melihat klise drama korea disini, tapi mau bagaimana lagi, dia saudaraku.
ii.
Aku sekarang tinggal di rumahnya. Rumah dengan model layaknya keraton di kota modern ini terlihat sangat kontras dengan halaman hijaunya yang luas, ditumbuhi banyak pepohonan buah buahan hingga bagian belakang rumah yang dipenuhi tumbuh tumbuhan hias seperti bunga dan juga pohon beringin besar. Satu satunya yang ku tidak sukai adalah bagian dalam rumahnya yang memiliki banyak cabang dan lorong dengan bentukan dan terlihat yang sama yaitu perempatan, dengan kayu jati besar menghadap secara vertikal di bagian bawah dan anyaman rotan tebal di atasnya, ornamen elang berjambul kecil terpampang di sudut sudut rumah.
Bagian terburuknya yaitu yang tidak diberi tanda untuk masing masing ruangan sehingga banyak orang pasti bisa kebingungan dan tersesat di dalam sebuah rumah ini, serta banyak ruangan kosong di dalamnya yang aku sendiri tidak paham kenapa banyak ruangan kosong padahal ia hanya tinggal dengan adik serta ayahnya. AKu sangat yakin keluarganya memang tidak mengharapkan tamu yang datang
Setelah perjalanan membingungkan dan berputar putar, tubuhku menyerah dan berakhir di sebuah balkon rumah, menghadap langsung ke depan pohon rindang dengan daun hijau panjang dan lurus namun ujungnya berkelok kelok, pasti ini daun pohon mangga, mataku berusaha mencari dan akhirnya terfokus dengan mangga kecil yang tumbuh di bagian dahan lain. Menghirup beberapa udara yang tercampur baunya dari daun daun serta getah pohon, diriku sedang duduk di kursi panjang dari baja ringan yang dibentuk menyerupai batang kayu, sambil melihat dan memperhatikan pepohonan yang hijau yang membuat seluruh pandanganku menjadi kabur saat melihat, hal hal yang kurasa ini pernah aku membacanya di suatu buku, namun … satu satunya yang kuingat adalah … ingatanku buruk soal mengingat.
Lalu disaat seluruh pandanganku sudah buyar layaknya orang mabuk dengan seluruh benda benda hijau di depanku, tubuhku bersandar dan melempar kedua lenganku ke bagian atas sandaran kursi sejajar dengan kepalaku. Namun semua sirna saat suara guliran roda pintu masuk ke telingaku, mengganggu relaksasiku.
Langkah sepatu dari kayu yang berhentakan dengan kayu menghasilkan bunyi ketukan yang khas. Sosok itu berdiri disampingku melihatku sudah tidak berdaya tergeletak diatas kursi tanpa bisa berbuat apa apa, kemudian sejenak mataku mencoba meraih seluruh tenaga yang ada untuk memfokuskan pandanganku kepada sosok besar yang seharusnya kusadari dari awal itu adalah Dito. Dia datang kepadaku dengan dagu sedikit dinaikan ke atas, serta kedua tangan besarnya masuk ke kantong celananya.
“Hey … kenapa anda bisa terdampar disini,” kata Dito dengan suara yang sedikit bergemuruh.
“Gua awalnya ingin pergi menemuimu bos, tapi gak ketemu ketemu gara gara lorongnya kayak labirin. Abis itu tak coba cari cari sendiri dan … akhirnya tersesat disini,” balasku sambil menyindir rumah sialannya ini.
Dito terkekeh, “Memangnya apa yang ingin anda tanyakan hah?” ucapnya sambil melipat kedua tangannya.
“Toilet.”
“Anda sekarang sedang menatap toilet yang luas, kenapa gak kencing saja sekarang di rumput,” sahutnya.
“Iya ... iya terserahlah,” balasku tanpa memerdulikan perkataannya barusan dengan kembali memalingkan wajahku ke arah dedaunan di pohon.
Dito menurunkan dagunya dan melembutkan sedikit pandangannya. “Karena kebetulan ada disini, saya memiliki satu buah tugas,” serunya.
“Sebenarnya gua lebih suka nganggur seperti ini. Tapi … baiklah.”
“Tugas ini bersifat permanen karena tugas hanya anda yang bisa melakukannya,” jawab Dito dengan nada pelan layaknya orang tua menceramahi anaknya.
mataku menyerngit. “Tugas seperti apa itu sampai bos tidak bisa melakukannya sendiri,” balasku dengan heran sambil kembali menaruh wajahku kearahnya.
“Saya menyuruhmu untuk menuliskan cerita tentang perjalanan hidupmu dari sekarang.”
“CV?”
“Bukan, tapi sebuah narasi untuk menjadi penyambung kisah generasi kita bersaudara,” jawab Dito kali ini dengan nada cukup berat.
“Apa maksudnya dengan kita bos?”
“Saya tidak ingin bercerita panjang lebar sekarang, itu urusan nanti.”
“Eleh … .”
Dito mulai memicingkan matanya dengan tatapan tidak menyenangkan.
“Jujur bos, gua masih tidak paham sama sekali maksud tugas ini,” balasku dengan heran.
“Saya tidak bisa memberi detailnya sekarang, namun kali ini anda cukup ceritakan perjalanan hidupmu dari waktu yang kau inginkan. Seperti sejak kau lulus SMA ataupun kuliahmu,” jelas Dito.
Mataku berusaha mengalihkan pandangannya ke sebuah pohon selama beberapa saat sambil memikirkan semua kata katanya barusan. “Oke, bakal tak coba, cukup cerita saja kan? tapi jangan berharap banyak dari tulisan anak teknik.”
“Kalau itu tidak masalah. Anggap aja ini tugas anak anak, namun seperti yang saya bilang tadi. Hanya anda yang bisa melakukannya,” jawab Dito kali ini dengan nada yang puas sambil melempar telunjuknya ke udara.
“Apa semua orang yang datang kesini harus menulis cerita mereka semua?” tanyaku lagi, dengan nada agak serius.
“Tidak … ini spesial,” jawab Dito dengan memejamkan matanya dan menurunkan sedikit dagunya, seperti sedang menahan rasa kesal.
“Baiklah, jadi dimana gua bisa mulai tugas ini?”
Dito merogoh isi sakunya dan mengambil sebuah kartu. ”Ini kunci kamar, tinggal lurus saja dari pintu ini lalu belok kanan hingga ke pokok lorong. Itu kamarmu, disana kau bisa mulai kerjamu,” jelas Dito sambil tangan besarnya kembali masuk ke kantongnya memperbaiki isi saku kosongnya yang keluar.
Aku menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. ”Hanya ini saja kan? Tidak ada batas waktu?” tiba tiba aku terhenti dan berpikir sejenak, sepertinya aku membuat kesalahan dengan menanyakan hal tersebut.
“Tidak …” jawab Dito tampak tidak senang.
“Oke oke bos,” balasku dengan senyum kecil muncul di samping bibirku.
Dito sejenak bergumam. “Menulis itu cumang sebagian dari pekerjaan, sisanya ada lagi besok,” balas Dito kali ini dengan santai dan tidak seserius diawal.
Aku menatap tajam ke arahnya. Sialan kau mengerjaiku.
“Ini belum apa apa,” Ia lalu mengeluarkan tangannya dari sakunya sambil membalikan badannya dan berjalan perlahan pergi dengan suara hentakan sepatu yang cukup keras.
Aku sama sekali tidak paham apa tujuannya namun aku memang tidak tahu harus ngapain lagi. Aku menarik badanku ke posisi tegap dan mendorong tubuhku yang masih berkunang kunang dengan memasang pondasi kedua lengan ke kursi dan mengambil tenaga berusaha naik dari tidurnya, mengambil konsentrasi, berdiri tegak sambil membusungkan sedikit dadaku, mengambil nafas dan pergi menuju tempat kerjaku.
Polling
0 suara
Karakter mana yang paling berkesan gansis?
Diubah oleh amriakhsan 14-11-2020 06:23
sampeuk dan 13 lainnya memberi reputasi
10
8.6K
46
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
amriakhsan
#26
iii.
Perasaan sejuk dari angin yang mengalir melewati pegunungan dan sela sela pepohonan membawa daun daun menguning serta ratusan kupu kupu yang berterbangan bersamanya, sangat kontras dibandingkan aura yang diberikan daerah perkotaan. Musim penghujan yang merendam akar akar padi berbaris rapi di sawah yang tidak terlihat ujungnya adalah suatu hal yang mungkin sangatlah berat untuk orang orang dulu yang menanamnya satu demi satu dengan masing masing keringat bercucuran dari bawah topi capingnya. Namun sekarang yang jatuh ke atas daun daun muda itu adalah oli yang menetes dari mesin penanam padi.
Dengan jalan yang lurus dan sepinya keramaian pengguna jalan membuat kami lebih cepat sampai ke tujuan. Berbeda dengan orang yang sebelumnya kami urus, kali ini kami harus berjalan jauh dan berpindah dari satu angkutan ke yang lain untuk sampai ke tujuan kami. Sampai akhirnya uliran dua roda bersama suara tapak kaki kuda di depannya lah yang menjadi tumpangan terakhir kami.
Diantara rumah rumah kecil yang kami lewati selama perjalanan, terlihat sebuah pucuk segitiga yang curam menjulang diantaranya, sampai pada ujungnya kami berhasil menginjakan kaki di depan keraton yang tersembunyi dari balik kesederhanaan masyarakat sekitar. Pagar tembok batako merah yang tersusun rapi ditambah jarum jarum besi yang menjulang dari atasnya, merusak kesan sederhananya namun menambah rasa aman pemiliknya yang tidak menginginkan kedatangan orang asing.
Rasa sepi dan hening dari rumah ini menyambut kami dengan menyajikan kami rasa tidak nyaman melihat jarak antara kerajaan kecil ini dengan rumah tetangganya yang cukup jauh. Tidak ada satupun orang yang bisa kusapa dan bercakap cakap mengenai pemilik rumah ini, mungkin juga tetangganya sekalipun tidak ada yang tahu betul siapa yang bermukim di dalamnya.
“Gak telpon Dito aja sebelum kita membuat tenda di depan rumah ini?” ujar Ardi.
“Sabar … sabar … paling bentar lagi ada yang dateng,” jawabku menenangkan Ardi yang mungkin juga merasakan sesuatu yang aneh sejak menginjakan kaki di tempat ini.
Belum sampai lima detik dari ucapanku tadi, suara seretan dedaunan datang dari dalam gerbang. Pria tua dengan badan membungkuk ditambah mata lesu yang berjerih payah menahan kerutan wajahnya yang memutih bersama rambutnya yang terurai dari belakang blangkonnya. Pakaian batik kumuhnya yang tak terurus sangat cocok dengan bentukan orang tua itu. Langkahnya lambat namun pasti, menghampiri gerbang dan tangannya meraih kunci gerbang dan langsung membukanya tanpa menanyakan siapa tamunya terlebih dahulu.
“Mari masuk dek,” ajaknya dengan suara tenggorokan tenggelamnya itu.
Perasaan aneh langsung masuk, menusuk sekujur tubuhku. Awalnya aku kira ini rasa gatal karena keringat yang dibawa saat perjalanan kemari, namun ini perasaan yang lain dan bukan karena secara biologis, melainkan sesuatu yang lain.
“Maaf atas rasa tidak enaknya dek,” ucap kakek itu sambil berjalan perlahan menuntun kami ke dalam rumah.
“Ah … kenapa ya?” tanyaku lembut, kebingungan apa yang ia maksud.
“Jangan pura pura, aku tahu kalian merasakannya,” ujar kakek ini seakan akan tahu kalau kami sedang merasakan sesuatu yang tidak terlihat.
“Sepertinya kalian tidak suka kedatangan tamu ya?” lontar Ardi.
“Pemilik rumah ini memang tidak suka diganggu, apalagi oleh yang gaib gaib,” jawab kakek sedikit melirik ke arahku dengan tatapan sinis.
Ardi menusukku dengan jarinya, dengan dorongan singkatnya itu berusaha menakut nakutiku di situasi seperti ini. Aku hanya terdiam dan tidak merespon, rasa takutku akan makhluk gaib sudah dikuras habis oleh si topeng, tidak ada yang lebih mengerikan dibanding melihat maut lewat di depan wajahmu.
Pintu jati berornamen wayang menyibakan sela selanya setelah dengan pelitnya dibukakan sedikit oleh kakek ini, tubuhku bahkan harus menyempil di antara sela sela “keramahan” untuk tamunya itu. Koridor gelap dengan kursi kursi tua beserta lukisan lukisan raksasa di tembok menambah kesan angker yang masih berusaha ingin masuk lewat bulu kudukku yang sudah terpangkas habis.
Namun koridor itu hanya persinggahan langkah kami ke sebuah tempat di balik tirai bercahaya di ujung ruangan ini. Langkah kami pun tetap berjalan mengikutinya melewati pintu kain itu yang membawa kami ke area tengah rumah ini. Pohon rindang nan besar meneduhkan lapangan berkarpet rerumputan kecil di bawahnya, dengan kursi serta meja yang sepertinya menunggu kami disana.
“Silahkan duduk disana dek,” tunjuk kakek membenarkan dugaanku.
Aku hanya mengangguk kecil sambil menuntun Ardi berjalan ke arah kursi besi hitam itu. Sambil berjalan perlahan dengan mata tak hentinya memperhatikan sekeliling halaman angker yang dikurung oleh ruangan ruangan sepi berpuluh puluh pintu layaknya kos kosan ini, sampai akhirnya pandanganku teralihkan, memeriksa dengan seksama sebuah langkah muncul dari salah satu pintu itu dan datang perlahan, menunjukan wajahnya yang tersinar mentari. Seorang gadis yang bertangan coklat lembut mengangkut sebuah teko dengan kepulan asap kecil mencuat dari ujungnya dan tiga buah gelas kecil yang semuanya terbuat dari tanah liat. Dengan cepat ia mendahului langkah kami dan langsung meletakan jamuannya itu di atas meja kemudian ia berlari kecil kembali ke dalam kegelapan.
Sesampainya punggung kami berdua duduk di atas kursi keras yang sedikit meredakan letih kami sehabis perjalanan jauh, menaruh tas kami di samping kursi dan berusaha melupakan beban itu sejenak. Lalu menyusul sebuah langkah muncul lagi dari kegelapan, kali ini ia berjalan cukup santai, suara hentakan sandal kayu yang tidak ada bedanya dengan tapak kuda itu datang menghampiri kami.
Sosok gendut dengan perut yang offsite, berwajah bulat dengan kemeja batik yang cukup rapi dibanding orang tua tadi. Jalannya yang seperti penari yang melangkah kakinya satu persatu dengan menahan keseimbangan badannya yang besar itu agar tidak terguling ke samping, ditambah tatapannya yang mengantuk dengan bibir manyunnya semakin membuat orang ini terlihat akan mati karena obesitas.
Sesampainya sepatu kulit nya sampai bokong besar itu memaksa duduk tanpa berkata atau menyambut kami. Mataku yang tidak berhenti melihat kursi kemudian terbayang dan paham kenapa ia menggunakan kursi besi dibanding plastik yang lebih ringan. Kaki kaki baja itu terus berusaha tidak patah menahan beban diatasnya. Sadar wajah bulat itu menatap kami dengan wajahnya yang lesu itu, aku langsung kembali menaikan wajahku dan hanya terdiam melihatnya sampai sampai bangkit rasa canggung sekaligus jijik yang timbul saat akhirnya kami saling menatap. Beberapa detik ia berkedip kedip kosong layaknya bangun dari tidur, matanya terbuka lebar menyadari tingkahnya yang aneh itu.
“Jadi kalian utusan Dito ya?” tanyanya dengan suara cemprengnya itu.
Rahangku langsung bergetar dengan mata setengah melotot menahan tawa mendengar suara orang yang tenggorokannya terjepit lemak itu.
“Ya,” jawab Ardi.
“Ah … jadi kalian datang atas keinginan kalian sendiri kan?”
“Bisa dibilang begitu,”
“Kalau begitu tidak perlu repot repot membayar kalian bukan?”
“Ya, tidak perlu,” jawabnya cepat tanpa berpikir dua kali.
Wow, orang ini mungkin pelit, tapi masa tanpa basa basi dulu langsung bilang begitu. Mendengar ucapan orang itu membuatku jadi sedikit kesal.
“Ah … sebenarnya aku tidak percaya ada yang datang kemari untuk melakukan itu, tapi karena yang menelpon perempuan, jadi kukira yang datang kemari perempuan itu.”
Semburan udara mencuat dari hidung Ardi dengan seringainya menahan lelucon orang itu. “Tidak perlu kecewa.”
Aku hanya bisa menggeleng mendengar candaannya atau malah ia benar benar serius mengizinkan kami masuk dengan alasan seperti itu, namun tentunya dia ternyata salah dugaan.
“Baiklah, berapa hari kalian akan berada di sini?”
“Entahlah, sampai yang mengincar kau datang,”
“Ah … tapi kuharap jangan terlalu lama ya disini, besok mungkin kalian sudah bisa pulang.”
Apa apaan ini, baru pertama kalinya seumur hidupku mendengar pengusiran tamu secara terang terangan dengan sedikit adab seperti ini. Tiap jemariku menggulung gemas sekali ingin menghajar orang ini. Namun semua itu lenyap saat langsung dikejutkan dengan perasaan menusuk yang muncul kembali. Rasa yang kuat itu langsung membuatku bisa merasakan bahkan sampai mengetahui keberadaan asal dari pengirim serangan itu. Bola mataku bergerak seminimal mungkin, memburunya tanpa terlihat sampai akhirnya dari sudut sana, kakek itu lah yang melakukan semua ini sejak awal ternyata. Dia mengawasi kami secara diam diam dan mengintimidasi kami kalau saja melakukan sesuatu yang di luar aturannya, layaknya sebuah kamera pengawas rumah ini.
Perhatianku kembali ke arah pria gendut ini seiring dengan berkurangnya tekanan yang orang tua itu berikan. Walau wajahku kupalingkan, tapi mataku masih tau tatapan itu masih mengarah kemari. Karena pusat perhatianku teralihkan, otakku tidak sempat kembali mengikuti perbincangan mereka berdua, hingga akhirnya pria itu pergi dan meninggalkan kami berdua, namun pak tua itu tetap disana, menunggu kami dalam senyap.
Jiwaku kembali ke tubuhku lagi saat pria besar itu lenyap. “Apa yang dia bilang barusan?” tanyaku sigap.
Angin kencang kali ini berhembus dari kedua bibirnya, menghempaskan semua karbon dioksida yang ia tahan saat perbincangan tadi. “Dia membiarkan kita menginap satu malam disini,” jawabnya dengan seringai kecil di bibirnya.
Mataku yang menyerngit menyambut kata kata anehnya itu. “Kalau dia tidak mau ada kita disini, kenapa dia malah bolehin kita nginep semaleman, kenapa tidak sekalian saja sekarang suruh pulang,” balasku dengan alis menukik.
“Entahlah … mungkin dia ‘berbaik hati’ mengizinkan kita beristirahat. Tapi dia anehnya malah mengijinkan kita berjaga malam.”
Kepalaku tersentak maju mendengar itu. “Aneh juga, kalau dia memang tidak suka, kenapa dia malah mengijinkan kita berjaga, harusnya malah kita tidak boleh keluar sama sekali bila perlu, bukan?”
“Ya … aku tidak bisa bilang banyak kalau orangnya begitu, mungkin dia takut juga pada akhirnya.”
Aku hanya bisa menaruh siku ke tangan kursi dan memegang pipiku, mengerutkan alis serta wajah sambil memikirkan betapa lelahnya kami kemari dan mendapatkan perlakukan seperti ini.
“Silahkan dek masuk ke kamar, sudah disiapkan,”
Kami berdua langsung menoleh dengan cepat ke belakang, orang tua itu datang tanpa terdengar sedikitpun langkahnya dan tiba tiba sudah berada dibalik punggung kami, orang ini bisa membunuh kita kapanpun kalau ia mau.
“Ah … ah … siap pak,” jawabku gugup. Aku langsung mengangkat tas kami dan kemudian menoleh ke arah Ardi yang sepertinya sangat santai menghadapi situasi seperti ini, kutarik tangannya dan menyeretnya mengikuti langkah pak tua itu.
Kami berjalan ke arah sebuah pintu yang tidak jauh dari halaman tadi, kemudian ia membukakan pintu untuk kami. Aku cukup kaget melihat ruangan ini ternyata lebih bersih dari dugaanku, dengan kasur hijau cerah dengan lampu putih benerang dan kamar mandi di dalam ruangan, aku jadi berpikir mungkin orang ini dulunya menyediakan jasa penginapan di daerah ini.
Langkah kaki keduaku yang baru masuk ruangan terhenti seketika saat pak tua itu bicara.
“Dengar, kami sebenarnya tidak suka kedatangan tamu, tapi karena kalian bisa tahu kami disini, berarti mungkin saja orang yang kalian maksud itu juga bisa datang kemari.”
“Itu sudah jadi tugas kami untuk datang lebih awal sebagai penjaga,” ucap Ardi.
Orang tua itu memicingkan matanya. “Semoga saja begitu, kami harap kalian bisa mengalahkan makhluk itu.”
Ardi dengan cepat menoleh ke kakek itu setelah ucapannya tadi. “Sepertinya kau sudah tahu, apa dia pernah kesini?”
Matak kakek itu langsung melebar mendengar pertanyaan barusan, mungkin ia salah bicara dan malah memberi tahu rahasianya. “Ah ... saya tidak tahu kalau itu,” jawa kakek itu dan memalingkan badannya, kemudian berjalan meninggalkan kami.
“Orang itu menyembunyikan sesuatu, yakan? tebakku.
“Ya … tapi kita tidak tahu apa itu.”
Perasaan sejuk dari angin yang mengalir melewati pegunungan dan sela sela pepohonan membawa daun daun menguning serta ratusan kupu kupu yang berterbangan bersamanya, sangat kontras dibandingkan aura yang diberikan daerah perkotaan. Musim penghujan yang merendam akar akar padi berbaris rapi di sawah yang tidak terlihat ujungnya adalah suatu hal yang mungkin sangatlah berat untuk orang orang dulu yang menanamnya satu demi satu dengan masing masing keringat bercucuran dari bawah topi capingnya. Namun sekarang yang jatuh ke atas daun daun muda itu adalah oli yang menetes dari mesin penanam padi.
Dengan jalan yang lurus dan sepinya keramaian pengguna jalan membuat kami lebih cepat sampai ke tujuan. Berbeda dengan orang yang sebelumnya kami urus, kali ini kami harus berjalan jauh dan berpindah dari satu angkutan ke yang lain untuk sampai ke tujuan kami. Sampai akhirnya uliran dua roda bersama suara tapak kaki kuda di depannya lah yang menjadi tumpangan terakhir kami.
Diantara rumah rumah kecil yang kami lewati selama perjalanan, terlihat sebuah pucuk segitiga yang curam menjulang diantaranya, sampai pada ujungnya kami berhasil menginjakan kaki di depan keraton yang tersembunyi dari balik kesederhanaan masyarakat sekitar. Pagar tembok batako merah yang tersusun rapi ditambah jarum jarum besi yang menjulang dari atasnya, merusak kesan sederhananya namun menambah rasa aman pemiliknya yang tidak menginginkan kedatangan orang asing.
Rasa sepi dan hening dari rumah ini menyambut kami dengan menyajikan kami rasa tidak nyaman melihat jarak antara kerajaan kecil ini dengan rumah tetangganya yang cukup jauh. Tidak ada satupun orang yang bisa kusapa dan bercakap cakap mengenai pemilik rumah ini, mungkin juga tetangganya sekalipun tidak ada yang tahu betul siapa yang bermukim di dalamnya.
“Gak telpon Dito aja sebelum kita membuat tenda di depan rumah ini?” ujar Ardi.
“Sabar … sabar … paling bentar lagi ada yang dateng,” jawabku menenangkan Ardi yang mungkin juga merasakan sesuatu yang aneh sejak menginjakan kaki di tempat ini.
Belum sampai lima detik dari ucapanku tadi, suara seretan dedaunan datang dari dalam gerbang. Pria tua dengan badan membungkuk ditambah mata lesu yang berjerih payah menahan kerutan wajahnya yang memutih bersama rambutnya yang terurai dari belakang blangkonnya. Pakaian batik kumuhnya yang tak terurus sangat cocok dengan bentukan orang tua itu. Langkahnya lambat namun pasti, menghampiri gerbang dan tangannya meraih kunci gerbang dan langsung membukanya tanpa menanyakan siapa tamunya terlebih dahulu.
“Mari masuk dek,” ajaknya dengan suara tenggorokan tenggelamnya itu.
Perasaan aneh langsung masuk, menusuk sekujur tubuhku. Awalnya aku kira ini rasa gatal karena keringat yang dibawa saat perjalanan kemari, namun ini perasaan yang lain dan bukan karena secara biologis, melainkan sesuatu yang lain.
“Maaf atas rasa tidak enaknya dek,” ucap kakek itu sambil berjalan perlahan menuntun kami ke dalam rumah.
“Ah … kenapa ya?” tanyaku lembut, kebingungan apa yang ia maksud.
“Jangan pura pura, aku tahu kalian merasakannya,” ujar kakek ini seakan akan tahu kalau kami sedang merasakan sesuatu yang tidak terlihat.
“Sepertinya kalian tidak suka kedatangan tamu ya?” lontar Ardi.
“Pemilik rumah ini memang tidak suka diganggu, apalagi oleh yang gaib gaib,” jawab kakek sedikit melirik ke arahku dengan tatapan sinis.
Ardi menusukku dengan jarinya, dengan dorongan singkatnya itu berusaha menakut nakutiku di situasi seperti ini. Aku hanya terdiam dan tidak merespon, rasa takutku akan makhluk gaib sudah dikuras habis oleh si topeng, tidak ada yang lebih mengerikan dibanding melihat maut lewat di depan wajahmu.
Pintu jati berornamen wayang menyibakan sela selanya setelah dengan pelitnya dibukakan sedikit oleh kakek ini, tubuhku bahkan harus menyempil di antara sela sela “keramahan” untuk tamunya itu. Koridor gelap dengan kursi kursi tua beserta lukisan lukisan raksasa di tembok menambah kesan angker yang masih berusaha ingin masuk lewat bulu kudukku yang sudah terpangkas habis.
Namun koridor itu hanya persinggahan langkah kami ke sebuah tempat di balik tirai bercahaya di ujung ruangan ini. Langkah kami pun tetap berjalan mengikutinya melewati pintu kain itu yang membawa kami ke area tengah rumah ini. Pohon rindang nan besar meneduhkan lapangan berkarpet rerumputan kecil di bawahnya, dengan kursi serta meja yang sepertinya menunggu kami disana.
“Silahkan duduk disana dek,” tunjuk kakek membenarkan dugaanku.
Aku hanya mengangguk kecil sambil menuntun Ardi berjalan ke arah kursi besi hitam itu. Sambil berjalan perlahan dengan mata tak hentinya memperhatikan sekeliling halaman angker yang dikurung oleh ruangan ruangan sepi berpuluh puluh pintu layaknya kos kosan ini, sampai akhirnya pandanganku teralihkan, memeriksa dengan seksama sebuah langkah muncul dari salah satu pintu itu dan datang perlahan, menunjukan wajahnya yang tersinar mentari. Seorang gadis yang bertangan coklat lembut mengangkut sebuah teko dengan kepulan asap kecil mencuat dari ujungnya dan tiga buah gelas kecil yang semuanya terbuat dari tanah liat. Dengan cepat ia mendahului langkah kami dan langsung meletakan jamuannya itu di atas meja kemudian ia berlari kecil kembali ke dalam kegelapan.
Sesampainya punggung kami berdua duduk di atas kursi keras yang sedikit meredakan letih kami sehabis perjalanan jauh, menaruh tas kami di samping kursi dan berusaha melupakan beban itu sejenak. Lalu menyusul sebuah langkah muncul lagi dari kegelapan, kali ini ia berjalan cukup santai, suara hentakan sandal kayu yang tidak ada bedanya dengan tapak kuda itu datang menghampiri kami.
Sosok gendut dengan perut yang offsite, berwajah bulat dengan kemeja batik yang cukup rapi dibanding orang tua tadi. Jalannya yang seperti penari yang melangkah kakinya satu persatu dengan menahan keseimbangan badannya yang besar itu agar tidak terguling ke samping, ditambah tatapannya yang mengantuk dengan bibir manyunnya semakin membuat orang ini terlihat akan mati karena obesitas.
Sesampainya sepatu kulit nya sampai bokong besar itu memaksa duduk tanpa berkata atau menyambut kami. Mataku yang tidak berhenti melihat kursi kemudian terbayang dan paham kenapa ia menggunakan kursi besi dibanding plastik yang lebih ringan. Kaki kaki baja itu terus berusaha tidak patah menahan beban diatasnya. Sadar wajah bulat itu menatap kami dengan wajahnya yang lesu itu, aku langsung kembali menaikan wajahku dan hanya terdiam melihatnya sampai sampai bangkit rasa canggung sekaligus jijik yang timbul saat akhirnya kami saling menatap. Beberapa detik ia berkedip kedip kosong layaknya bangun dari tidur, matanya terbuka lebar menyadari tingkahnya yang aneh itu.
“Jadi kalian utusan Dito ya?” tanyanya dengan suara cemprengnya itu.
Rahangku langsung bergetar dengan mata setengah melotot menahan tawa mendengar suara orang yang tenggorokannya terjepit lemak itu.
“Ya,” jawab Ardi.
“Ah … jadi kalian datang atas keinginan kalian sendiri kan?”
“Bisa dibilang begitu,”
“Kalau begitu tidak perlu repot repot membayar kalian bukan?”
“Ya, tidak perlu,” jawabnya cepat tanpa berpikir dua kali.
Wow, orang ini mungkin pelit, tapi masa tanpa basa basi dulu langsung bilang begitu. Mendengar ucapan orang itu membuatku jadi sedikit kesal.
“Ah … sebenarnya aku tidak percaya ada yang datang kemari untuk melakukan itu, tapi karena yang menelpon perempuan, jadi kukira yang datang kemari perempuan itu.”
Semburan udara mencuat dari hidung Ardi dengan seringainya menahan lelucon orang itu. “Tidak perlu kecewa.”
Aku hanya bisa menggeleng mendengar candaannya atau malah ia benar benar serius mengizinkan kami masuk dengan alasan seperti itu, namun tentunya dia ternyata salah dugaan.
“Baiklah, berapa hari kalian akan berada di sini?”
“Entahlah, sampai yang mengincar kau datang,”
“Ah … tapi kuharap jangan terlalu lama ya disini, besok mungkin kalian sudah bisa pulang.”
Apa apaan ini, baru pertama kalinya seumur hidupku mendengar pengusiran tamu secara terang terangan dengan sedikit adab seperti ini. Tiap jemariku menggulung gemas sekali ingin menghajar orang ini. Namun semua itu lenyap saat langsung dikejutkan dengan perasaan menusuk yang muncul kembali. Rasa yang kuat itu langsung membuatku bisa merasakan bahkan sampai mengetahui keberadaan asal dari pengirim serangan itu. Bola mataku bergerak seminimal mungkin, memburunya tanpa terlihat sampai akhirnya dari sudut sana, kakek itu lah yang melakukan semua ini sejak awal ternyata. Dia mengawasi kami secara diam diam dan mengintimidasi kami kalau saja melakukan sesuatu yang di luar aturannya, layaknya sebuah kamera pengawas rumah ini.
Perhatianku kembali ke arah pria gendut ini seiring dengan berkurangnya tekanan yang orang tua itu berikan. Walau wajahku kupalingkan, tapi mataku masih tau tatapan itu masih mengarah kemari. Karena pusat perhatianku teralihkan, otakku tidak sempat kembali mengikuti perbincangan mereka berdua, hingga akhirnya pria itu pergi dan meninggalkan kami berdua, namun pak tua itu tetap disana, menunggu kami dalam senyap.
Jiwaku kembali ke tubuhku lagi saat pria besar itu lenyap. “Apa yang dia bilang barusan?” tanyaku sigap.
Angin kencang kali ini berhembus dari kedua bibirnya, menghempaskan semua karbon dioksida yang ia tahan saat perbincangan tadi. “Dia membiarkan kita menginap satu malam disini,” jawabnya dengan seringai kecil di bibirnya.
Mataku yang menyerngit menyambut kata kata anehnya itu. “Kalau dia tidak mau ada kita disini, kenapa dia malah bolehin kita nginep semaleman, kenapa tidak sekalian saja sekarang suruh pulang,” balasku dengan alis menukik.
“Entahlah … mungkin dia ‘berbaik hati’ mengizinkan kita beristirahat. Tapi dia anehnya malah mengijinkan kita berjaga malam.”
Kepalaku tersentak maju mendengar itu. “Aneh juga, kalau dia memang tidak suka, kenapa dia malah mengijinkan kita berjaga, harusnya malah kita tidak boleh keluar sama sekali bila perlu, bukan?”
“Ya … aku tidak bisa bilang banyak kalau orangnya begitu, mungkin dia takut juga pada akhirnya.”
Aku hanya bisa menaruh siku ke tangan kursi dan memegang pipiku, mengerutkan alis serta wajah sambil memikirkan betapa lelahnya kami kemari dan mendapatkan perlakukan seperti ini.
“Silahkan dek masuk ke kamar, sudah disiapkan,”
Kami berdua langsung menoleh dengan cepat ke belakang, orang tua itu datang tanpa terdengar sedikitpun langkahnya dan tiba tiba sudah berada dibalik punggung kami, orang ini bisa membunuh kita kapanpun kalau ia mau.
“Ah … ah … siap pak,” jawabku gugup. Aku langsung mengangkat tas kami dan kemudian menoleh ke arah Ardi yang sepertinya sangat santai menghadapi situasi seperti ini, kutarik tangannya dan menyeretnya mengikuti langkah pak tua itu.
Kami berjalan ke arah sebuah pintu yang tidak jauh dari halaman tadi, kemudian ia membukakan pintu untuk kami. Aku cukup kaget melihat ruangan ini ternyata lebih bersih dari dugaanku, dengan kasur hijau cerah dengan lampu putih benerang dan kamar mandi di dalam ruangan, aku jadi berpikir mungkin orang ini dulunya menyediakan jasa penginapan di daerah ini.
Langkah kaki keduaku yang baru masuk ruangan terhenti seketika saat pak tua itu bicara.
“Dengar, kami sebenarnya tidak suka kedatangan tamu, tapi karena kalian bisa tahu kami disini, berarti mungkin saja orang yang kalian maksud itu juga bisa datang kemari.”
“Itu sudah jadi tugas kami untuk datang lebih awal sebagai penjaga,” ucap Ardi.
Orang tua itu memicingkan matanya. “Semoga saja begitu, kami harap kalian bisa mengalahkan makhluk itu.”
Ardi dengan cepat menoleh ke kakek itu setelah ucapannya tadi. “Sepertinya kau sudah tahu, apa dia pernah kesini?”
Matak kakek itu langsung melebar mendengar pertanyaan barusan, mungkin ia salah bicara dan malah memberi tahu rahasianya. “Ah ... saya tidak tahu kalau itu,” jawa kakek itu dan memalingkan badannya, kemudian berjalan meninggalkan kami.
“Orang itu menyembunyikan sesuatu, yakan? tebakku.
“Ya … tapi kita tidak tahu apa itu.”
simounlebon dan andir004 memberi reputasi
2