- Beranda
- Stories from the Heart
KERIS 13 IBLIS
...
TS
amriakhsan
KERIS 13 IBLIS
Quote:

Quote:
i.
Jujur saja, tangannku membuat tulisan ini bukan karena diriku menginginkan orang orang untuk membaca tulisanku, melainkan ini sebuah perintah yang aku sendiri masih belum paham apa tujuannya. Mungkin memang terdengar seperti orang yang menganggur atau bahkan lebih parahnya lagi tidak bertujuan, namun begitulah adanya.
Mengetahui kalau hidup ini layaknya sebuah buku catatan memberikanku sedikit gambaran, motivasi untuk membuat hal ini, meski terkadang sejarah itu hanya berlaku bagi orang yang menang. Tidak perlu dipungkiri kalau memang tidak ada salahnya bukan menuliskan sesuatu berdasarkan apa yang kau lihat dan bukan menuliskan sesuatu karena ada sebuah mata pisau bergerak perlahan di lehermu.
Walau disebut tunakarya, aku juga memiliki tugas yang mungkin agak sulit untuk dijelaskan pada banyak orang karena memang pada dasarnya diriku sendiri tidak tahu kejelasan tugas ini sama sekali. Merekamenyebutnya sebuah titah yang harus dan memang ini akan menjadi peran utama pada perjalanan hidup baruku, sebuah era baru. Tugas yang sebenarnya tidak pernah kusangka dan mungkin dapat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan diriku di masa kecil.
Apakah tugas itu sangatlah penting, menurutku tidak sama sekali. Tapi bagi mereka, bagi penerusku, mungkin ini adalah sebuah pelajaran yang tidak boleh dilupakan. Waktunya belajar sejarah.
ii.
Dito adalah saudaraku, saudara jauhku tepatnya. Ayahnya membantuku dan membiayaiku dari masa aku kehilangan orang tuaku sejak SMP. Aku jarang sekali berbicara padanya dan mungkin kami bertemu hanya beberapa kali seumur hidupku. Aku tidak begitu ingat tentangnya pada masa kecil, selain ingatan tentang waktu itu kami bertengkar hanya karena masalah berebut mainan.
Akibat terlalu menghilang dari keluarga ini lah yang membuat perubahan mendadak menjadi tembok bagiku untuk semakin mengenal dirinya. Sampai akhirnya tanpa kusadari yang berada di depan mataku saat ini adalah wujud dirinya sekarang sudah layaknya menjadi gumpalan daging yang keras, dimana otot yang besar terlihat sangat tegas berada ada kedua tangannya yang mungkin agak terlalu besar dibanding badannya yang kekar, namun kotak di dadanya tidak terlalu muncul dari kemejanya, terlebihi lengannya sendiri, layaknya gorila memakai baju hanya saja tidak gemuk.
Dengan tubuh yang seperti itu ditambah lagi dengan wajahnya yang aku yakin tidak ada wanita yang menolaknya. Dengan wajah tampan berbentuk bulat agak lonjong, rambut 3 cm terpotong rapi tersisir ke belakang dengan pinggiran tipis, bagian rahang yang tegas dan tipis serta matanya yang bulat berbinar yang menampilkan dirinya sangat berenergi, menampilkan api pada dirinya. Bibir yang agak tipis membuatnya terlihat menjadi penarik wanita paling cepat jika melihat kesempurnaan yang ada pada tubuhnya dan wajahnya.
Namun aku sedikit asing saat melihat sedikit detail noda sayatan yang cukup dalam pada wajahnya dari bagian pangkal hidung mancungnya lalu turun ke bagian bawah mata kanannya. Kalau yang satu ini aku sulit untuk memasukkannya sebagai bagian yang keren atau malah merusak wajahnya, atau malah menyempurnakannya.
Aku juga ingat bagian yang paling tidak bisa ditolak dari kesempurnaan semuanya adalah jumlah uang yang dimilikinya. Demi Allah, dengan pakaian yang tidak mewah dan sederhana namun rapi, sangat menipu jika hanya sekedar melihatnya berjalan di antara banyak orang orang kaya yang biasa kulihat. Permasalahannya adalah sifat aslinya yang mengundang masalah, kurang ngajar, dan terlebih kesombongannya itu yang tidak bisa dihiraukan.
Salah satu kebanggannya yang menguatkan rasa sombongnya adalah bisa meneruskan perusahaan ayahnya, yang sebenarnya aku sendiri tidak paham secara detail perusahaan apa ini. Namun yang pasti kuketahui adalah ini seperti perusahaan peralatan elektronik untuk medis atau bisa disebut biotech. Disamping saat masih kecil, aku pernah mencuri dengar saat ayahnya menceritakan sebaran sahamnya pada banyak perusahaan besar di seluruh dunia. Benar benar akalku tidak akan masuk jika memiliki uang dan tanggung jawab sebanyak itu. Semakin melihatnya semakin sadara lama lama sepertinya aku melihat klise drama korea disini, tapi mau bagaimana lagi, dia saudaraku.
ii.
Aku sekarang tinggal di rumahnya. Rumah dengan model layaknya keraton di kota modern ini terlihat sangat kontras dengan halaman hijaunya yang luas, ditumbuhi banyak pepohonan buah buahan hingga bagian belakang rumah yang dipenuhi tumbuh tumbuhan hias seperti bunga dan juga pohon beringin besar. Satu satunya yang ku tidak sukai adalah bagian dalam rumahnya yang memiliki banyak cabang dan lorong dengan bentukan dan terlihat yang sama yaitu perempatan, dengan kayu jati besar menghadap secara vertikal di bagian bawah dan anyaman rotan tebal di atasnya, ornamen elang berjambul kecil terpampang di sudut sudut rumah.
Bagian terburuknya yaitu yang tidak diberi tanda untuk masing masing ruangan sehingga banyak orang pasti bisa kebingungan dan tersesat di dalam sebuah rumah ini, serta banyak ruangan kosong di dalamnya yang aku sendiri tidak paham kenapa banyak ruangan kosong padahal ia hanya tinggal dengan adik serta ayahnya. AKu sangat yakin keluarganya memang tidak mengharapkan tamu yang datang
Setelah perjalanan membingungkan dan berputar putar, tubuhku menyerah dan berakhir di sebuah balkon rumah, menghadap langsung ke depan pohon rindang dengan daun hijau panjang dan lurus namun ujungnya berkelok kelok, pasti ini daun pohon mangga, mataku berusaha mencari dan akhirnya terfokus dengan mangga kecil yang tumbuh di bagian dahan lain. Menghirup beberapa udara yang tercampur baunya dari daun daun serta getah pohon, diriku sedang duduk di kursi panjang dari baja ringan yang dibentuk menyerupai batang kayu, sambil melihat dan memperhatikan pepohonan yang hijau yang membuat seluruh pandanganku menjadi kabur saat melihat, hal hal yang kurasa ini pernah aku membacanya di suatu buku, namun … satu satunya yang kuingat adalah … ingatanku buruk soal mengingat.
Lalu disaat seluruh pandanganku sudah buyar layaknya orang mabuk dengan seluruh benda benda hijau di depanku, tubuhku bersandar dan melempar kedua lenganku ke bagian atas sandaran kursi sejajar dengan kepalaku. Namun semua sirna saat suara guliran roda pintu masuk ke telingaku, mengganggu relaksasiku.
Langkah sepatu dari kayu yang berhentakan dengan kayu menghasilkan bunyi ketukan yang khas. Sosok itu berdiri disampingku melihatku sudah tidak berdaya tergeletak diatas kursi tanpa bisa berbuat apa apa, kemudian sejenak mataku mencoba meraih seluruh tenaga yang ada untuk memfokuskan pandanganku kepada sosok besar yang seharusnya kusadari dari awal itu adalah Dito. Dia datang kepadaku dengan dagu sedikit dinaikan ke atas, serta kedua tangan besarnya masuk ke kantong celananya.
“Hey … kenapa anda bisa terdampar disini,” kata Dito dengan suara yang sedikit bergemuruh.
“Gua awalnya ingin pergi menemuimu bos, tapi gak ketemu ketemu gara gara lorongnya kayak labirin. Abis itu tak coba cari cari sendiri dan … akhirnya tersesat disini,” balasku sambil menyindir rumah sialannya ini.
Dito terkekeh, “Memangnya apa yang ingin anda tanyakan hah?” ucapnya sambil melipat kedua tangannya.
“Toilet.”
“Anda sekarang sedang menatap toilet yang luas, kenapa gak kencing saja sekarang di rumput,” sahutnya.
“Iya ... iya terserahlah,” balasku tanpa memerdulikan perkataannya barusan dengan kembali memalingkan wajahku ke arah dedaunan di pohon.
Dito menurunkan dagunya dan melembutkan sedikit pandangannya. “Karena kebetulan ada disini, saya memiliki satu buah tugas,” serunya.
“Sebenarnya gua lebih suka nganggur seperti ini. Tapi … baiklah.”
“Tugas ini bersifat permanen karena tugas hanya anda yang bisa melakukannya,” jawab Dito dengan nada pelan layaknya orang tua menceramahi anaknya.
mataku menyerngit. “Tugas seperti apa itu sampai bos tidak bisa melakukannya sendiri,” balasku dengan heran sambil kembali menaruh wajahku kearahnya.
“Saya menyuruhmu untuk menuliskan cerita tentang perjalanan hidupmu dari sekarang.”
“CV?”
“Bukan, tapi sebuah narasi untuk menjadi penyambung kisah generasi kita bersaudara,” jawab Dito kali ini dengan nada cukup berat.
“Apa maksudnya dengan kita bos?”
“Saya tidak ingin bercerita panjang lebar sekarang, itu urusan nanti.”
“Eleh … .”
Dito mulai memicingkan matanya dengan tatapan tidak menyenangkan.
“Jujur bos, gua masih tidak paham sama sekali maksud tugas ini,” balasku dengan heran.
“Saya tidak bisa memberi detailnya sekarang, namun kali ini anda cukup ceritakan perjalanan hidupmu dari waktu yang kau inginkan. Seperti sejak kau lulus SMA ataupun kuliahmu,” jelas Dito.
Mataku berusaha mengalihkan pandangannya ke sebuah pohon selama beberapa saat sambil memikirkan semua kata katanya barusan. “Oke, bakal tak coba, cukup cerita saja kan? tapi jangan berharap banyak dari tulisan anak teknik.”
“Kalau itu tidak masalah. Anggap aja ini tugas anak anak, namun seperti yang saya bilang tadi. Hanya anda yang bisa melakukannya,” jawab Dito kali ini dengan nada yang puas sambil melempar telunjuknya ke udara.
“Apa semua orang yang datang kesini harus menulis cerita mereka semua?” tanyaku lagi, dengan nada agak serius.
“Tidak … ini spesial,” jawab Dito dengan memejamkan matanya dan menurunkan sedikit dagunya, seperti sedang menahan rasa kesal.
“Baiklah, jadi dimana gua bisa mulai tugas ini?”
Dito merogoh isi sakunya dan mengambil sebuah kartu. ”Ini kunci kamar, tinggal lurus saja dari pintu ini lalu belok kanan hingga ke pokok lorong. Itu kamarmu, disana kau bisa mulai kerjamu,” jelas Dito sambil tangan besarnya kembali masuk ke kantongnya memperbaiki isi saku kosongnya yang keluar.
Aku menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. ”Hanya ini saja kan? Tidak ada batas waktu?” tiba tiba aku terhenti dan berpikir sejenak, sepertinya aku membuat kesalahan dengan menanyakan hal tersebut.
“Tidak …” jawab Dito tampak tidak senang.
“Oke oke bos,” balasku dengan senyum kecil muncul di samping bibirku.
Dito sejenak bergumam. “Menulis itu cumang sebagian dari pekerjaan, sisanya ada lagi besok,” balas Dito kali ini dengan santai dan tidak seserius diawal.
Aku menatap tajam ke arahnya. Sialan kau mengerjaiku.
“Ini belum apa apa,” Ia lalu mengeluarkan tangannya dari sakunya sambil membalikan badannya dan berjalan perlahan pergi dengan suara hentakan sepatu yang cukup keras.
Aku sama sekali tidak paham apa tujuannya namun aku memang tidak tahu harus ngapain lagi. Aku menarik badanku ke posisi tegap dan mendorong tubuhku yang masih berkunang kunang dengan memasang pondasi kedua lengan ke kursi dan mengambil tenaga berusaha naik dari tidurnya, mengambil konsentrasi, berdiri tegak sambil membusungkan sedikit dadaku, mengambil nafas dan pergi menuju tempat kerjaku.
Polling
0 suara
Karakter mana yang paling berkesan gansis?
Diubah oleh amriakhsan 14-11-2020 06:23
sampeuk dan 13 lainnya memberi reputasi
10
8.6K
46
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
amriakhsan
#24
ii.
Belum pernah sama sekali kulihat sesuatu yang biasanya hanya bisa kubaca dan kulihat gambarnya di berita, kali ini tepat berada di depan mataku. Cahaya lampu yang cerah dari dalam menyinari koridor depan, tidak ingin penampakan ini dilihat atau bisa tampak dari luar, dengan suara resleting tertarik bersebaran dimana mana membungkus jasad jasad mereka yang kuingat masih hidup beberapa jam yang lalu, sekarang telah hilang dan terbaring tidak berdaya.
Hal hal seperti inilah yang membuatku merasa kalau hidup adalah hal yang sangat sederhana dan rapuh, tidak peduli sebesar apa harta, jabatan dan kemampuanmu, semuanya hanya omong kosong saat kematian datang.
Berdiri, termenung dalam kesedihanku melihat semua ini, sampai langkah kaki datang menghampiriku dari belakang dan tepukan berat mendarat pundakku. “Kenapa kau terlihat sedih, harusnya kau senang bisa hidup?” ucap Ardi.
“Kau tahu, ini pertama kalinya aku melihat orang mati, dengan jumlah yang banyak. Apa kau tahu kalau uang itu sangat berguna bagi mereka dan sekarang sia sia, mereka mati karena uang,” rintihku.
“Bukan berarti kau harus berfikir kalau uang itu sia sia, buktinya kita selamat- maksudku si pemilik rumah selamat karena uangnya bukan.”
“Ya … gua tahu itu, hanya saja-”
“Kudengar kalian membicarakan uang,” sahut Brama mencuri dengar percakapan kami. Aku tidak melirik ke arahnya atau menjawabnya sama sekali sampai akhirnya ia berjalan perlahan mendekati kami. “Kalian tidak perlu khawatir,” ucapnya sambil menyodorkan secarik kertas pada kami berdua.
“Aku tidak butuh uang itu, berikan semuanya pada anak ini saja.”
Kemudian tangannya beralih mengarah padaku dan tentu saja aku yang tidak punya alasan untuk menolaknya, mengambilnya tanpa melihatnya. Entah mengapa mataku sedang sulit untuk melihat uang kalau dalam kondisi begini.
“Terimakasih, kalian bisa pulang saat ini juga, dirasa pembunuh itu tidak akan kembali lagi bukan dalam kondisinya yang seperti itu. Biarkan para pegawaiku membereskan sisanya disini.”
Kami tidak perlu waktu lama untuk melucuti semua senjata kami dan berkemas pulang. Tapak kaki yang menghentak tanah berjalan keluar dari gerbang depan istana berdarah itu dan meninggalkan apa yang baru saja terjadi di belakang, tapi wajah suramku masih terbawa olehku, entah kenapa aku menjadi sangat hambar sekarang.
“Sepertinya kau butuh berjalan sejenak untuk meringankan beban,” ajak Ardi.
Nafas besar berhembus dari mulutku. “Ya, mungkin jalan sebentar.”
Pukul 3 pagi hari di pinggiran jalan tidak ada sepinya, melewati lampu lampu yang terang menyinari aspal hitam yang tiada kata untuk beristirahat dengan kendaraan yang melintas, lain halnya di trotoar yang tidak banyak orang yang berjalan kaki di jam segini. Kota yang tidak ada lelahnya, tanpa jam tidur sudah sangat wajar dari saat aku kecil. Sesekali aku berfikir kalau kota ini butuh istirahat, namun sama seperti mereka yang disana tadi, waktu istirahat adalah waktu untuk makan, dan untuk makan kita tidak bisa beristirahat, begitulah kehidupan ini terbangun.
Tidak sadar kami telah melewati jalan ini dan sudah sampai di perempatan saat siang kami datang ke rumah itu.
“Kau sudah siap pulang?” tanyanya perlahan.
“Ya … kita harus jauh jauh dari tempat itu segera.”
iii.
Sampai di depan rumah tua dan kusam ini lagi membuatku menjadi enakan, hal yang jarang sekali aku rasakan, berada di dalam “rumah”. Sesampainya di dalam kami dikejutkan dengan suara langkah kaki. Aku yang panik langsung menarik resleting tas dan merogoh isinya, menggenggam golokku di kepalan tangan erat erat. Belum sampai aku menarik golokku yang kedua, Ardi menghentikan tanganku dan mengacungkan sesuatu dengan dagunya, mata sebelahku menyerngit melihatnya.
“Kalian baru pulang?” ucap Nadya dengan baju tidurnya bersama teko dan 3 gelas menu biasa kami.
“Ya … begitulah,” jawabku.
Kami langsung duduk di kursi biasa kami dan melepas penat kami, sementara Nadya segera mengangkat tas berat kami.
“Tunggu dulu, ada yang harus kutunjukan padamu” perintah Ardi meminta tasnya, aku langsung mengerti apa yang ia maksud dan mengambil benda itu, suara gemericik yang perlahan ku taruh diatas meja. Nadya masuk ke dalam membawa masuk tas kami dan dengan cepat ia kembali dengan membawa laptopnya.
“Apa itu, rantai?”
“Ya … dan bukan sekedar rantai, tapi ini senjata yang dipakai pembunuh tadi,” jelas Ardi.
Mata Nadya terbuka mendengar jawaban itu dan segera membuka laptopnya. Aku yakin ia memanggil kakaknya, dan benar saja, si berisik itu datang lagi.
“Jadi bagaimana hasilnya bos?” sahut Dito.
“Kami bertarung melawannya, intinya dia sangat kuat bahkan mungkin tidak terkalahkan.”
“Seriusan?” tanya Nadya mengikuti kami.
“Dia berusaha menyerang kami duluan namun gagal lalu kami menyerangnya balik dan gaga jugal.”
“Kalau kalian gagal, gimana caranya kalian bisa disini?”
“Ah … jadi kita tadi bertarung melawannya. Orang itu seperti ninja mengenakan armor baja dan karena itu serangan kami gagal semua, sampai akhirnya ia berhasil mendesak kami dan tiba tiba kami diselamatkan saat Brama menembaknya,” jelasku.
“Apakah benar benar tertutup semua bagian tubuhnya dengan armornya itu?”
“Sebenarnya ada banyak celah-”
“Kalau begitu harusnya kau bisa menikamnya dari celah itu bukan?” potong Dito.
“Secara teori iya, tapi prakteknya ia sangat gesit dan sulit mendapatkan kesempatan,” jawabku.
“Baiklah asal kalian selamat itu sudah sangat bagus bukan begitu kakak,” ujar Nadya berusaha menyemangati kami.
“Tidak!” ucap Dito tidak puas. “Lalu apa yang kalian bawa?”
“Senjatanya, ia mengenakan rantai dan dua buah pisau, sepertinya karena untuk efisiensi.”
“Aneh sekali ninja tidak membawa katana, tidak keren sama sekali. Lalu bagaimana ciri cirinya?”
“Dia bertubuh besar, dengan pakaian pelindung lengkap, memakai topeng yang keren, tenaga yang kuat dan juga gerakan yang gesit.”
Dito bergumam. “Jawabanmu kurang memuaskan, kalau kau?” sambarnya menunjukku.
“Dia … sangat benar benar di luar perkiraan, dia datang tanpa bisa diketahui bahkan dengan jarak sedekat itu, langkah kakinya sangat lembut dan gerakannya sangat tersistematis seperti seorang yang sudah sangat ahli, terlebih lagi dengan kekuatannya yang tidak biasa,”
“Bagian mananya yang tidak biasa?”
“Hampir keseluruhan, tidak terasa seperti melawan manusia menurutku, terlebih lagi saat terakhir tendanganku mendarat di kepalanya,” sambung Ardi ikut menjawab.
“Terus lehernya miring begitu, marah dan bertingkah seperti orang gila ingin membunuh kami berdua,” sambungku.
“Tidak … sebenarnya ia tidak marah sama sekali atau merasa kesal, ia bertingkah seperti itu karena aku mematahkan lehernya, yang intinya manusia biasa pasti bakal tewas saat itu juga,” jelas Ardi memberitahuku kondisi sebenarnya.
“Kemudian Brama menyelamatkan kami dengan menembaknya, namun ia maju tetap maju perlahan sampai akhirnya ia tiba tiba pergi kabur,” sambungku.
Dito bergumam. “Begitu ya, memang tidak salah kalau project ini diteruskan, manusia super yang tidak peduli dengan rasa sakit dan bagian tubuh yang rusak, bergerak seperti professional. Baiklah nanti senjata itu akan dikirimkan ke alamat saya besok, kalian istirahat dulu sampai instruksi saya selanjutnya,” jelas Dito memutuskan telepon kami.
“Oh iya … sebelumnya gua heran kenapa tiba pedang lu kelepas? apa dia sekuat itu?” tanyaku heran.
“Tidak, awalnya aku hampir berhasil menariknya kembali sampai tanganku terkejut karena listrik,” jelas Ardi.
“Ish keren banget … aku jadi tidak sabar ingin ikut kalian melawan orang itu,” ungkap Nadya yang percaya diri menepuk nepuk otot tangannya.
“Sepertinya pukulan biasa tidak akan mempan melawan mahluk itu, kita butuh cara lain, seperti menambahkan racun ke senjata kita.”
“Racun? satu tusukan saja tidak masuk, bagaimana bisa menaruh racun,” keluhku.
“Kalau serangan gas? tanya Nadya.
“Dia make topeng dengan masker gas,” balasku cepat.
“Berarti senjata api dong kalau begitu … eh tapi tidak mempan ya … terus apa dong?”
“Itu dia yang masih kupikirkan,” jawabku.
Ardi diam tanpa berkata apa apa lagi setelah itu langsung mengambil langkah berdiri dan berjalan pergi meninggalkan kami berdua, bahkan ia sama sekali tidak menyentuh tehnya.
“Sepertinya ia sedang kesal,”
“Mungkin gara gara pedangnya itu, kalau saja ia memegang pedangnya mungkin kami bisa menang tadi,” ungkapku.
“Begitu ya … biarin aja deh,pasti ia habis ini bakal bertapa di bawah. Oh iya Jaya, masa pulang pulang bawa tangan hampa?”
“Apa maksud- oh … ada sih, tadi diberi semacam cek,” tanganku berusaha merogoh sakuku yang tadi aku hiraukan dan melihat nominalnya. Mataku terbelalak hingga kepalaku mundur menjauh dari kertas ajaib itu “Oh Shiiittt ….“
Belum pernah sama sekali kulihat sesuatu yang biasanya hanya bisa kubaca dan kulihat gambarnya di berita, kali ini tepat berada di depan mataku. Cahaya lampu yang cerah dari dalam menyinari koridor depan, tidak ingin penampakan ini dilihat atau bisa tampak dari luar, dengan suara resleting tertarik bersebaran dimana mana membungkus jasad jasad mereka yang kuingat masih hidup beberapa jam yang lalu, sekarang telah hilang dan terbaring tidak berdaya.
Hal hal seperti inilah yang membuatku merasa kalau hidup adalah hal yang sangat sederhana dan rapuh, tidak peduli sebesar apa harta, jabatan dan kemampuanmu, semuanya hanya omong kosong saat kematian datang.
Berdiri, termenung dalam kesedihanku melihat semua ini, sampai langkah kaki datang menghampiriku dari belakang dan tepukan berat mendarat pundakku. “Kenapa kau terlihat sedih, harusnya kau senang bisa hidup?” ucap Ardi.
“Kau tahu, ini pertama kalinya aku melihat orang mati, dengan jumlah yang banyak. Apa kau tahu kalau uang itu sangat berguna bagi mereka dan sekarang sia sia, mereka mati karena uang,” rintihku.
“Bukan berarti kau harus berfikir kalau uang itu sia sia, buktinya kita selamat- maksudku si pemilik rumah selamat karena uangnya bukan.”
“Ya … gua tahu itu, hanya saja-”
“Kudengar kalian membicarakan uang,” sahut Brama mencuri dengar percakapan kami. Aku tidak melirik ke arahnya atau menjawabnya sama sekali sampai akhirnya ia berjalan perlahan mendekati kami. “Kalian tidak perlu khawatir,” ucapnya sambil menyodorkan secarik kertas pada kami berdua.
“Aku tidak butuh uang itu, berikan semuanya pada anak ini saja.”
Kemudian tangannya beralih mengarah padaku dan tentu saja aku yang tidak punya alasan untuk menolaknya, mengambilnya tanpa melihatnya. Entah mengapa mataku sedang sulit untuk melihat uang kalau dalam kondisi begini.
“Terimakasih, kalian bisa pulang saat ini juga, dirasa pembunuh itu tidak akan kembali lagi bukan dalam kondisinya yang seperti itu. Biarkan para pegawaiku membereskan sisanya disini.”
Kami tidak perlu waktu lama untuk melucuti semua senjata kami dan berkemas pulang. Tapak kaki yang menghentak tanah berjalan keluar dari gerbang depan istana berdarah itu dan meninggalkan apa yang baru saja terjadi di belakang, tapi wajah suramku masih terbawa olehku, entah kenapa aku menjadi sangat hambar sekarang.
“Sepertinya kau butuh berjalan sejenak untuk meringankan beban,” ajak Ardi.
Nafas besar berhembus dari mulutku. “Ya, mungkin jalan sebentar.”
Pukul 3 pagi hari di pinggiran jalan tidak ada sepinya, melewati lampu lampu yang terang menyinari aspal hitam yang tiada kata untuk beristirahat dengan kendaraan yang melintas, lain halnya di trotoar yang tidak banyak orang yang berjalan kaki di jam segini. Kota yang tidak ada lelahnya, tanpa jam tidur sudah sangat wajar dari saat aku kecil. Sesekali aku berfikir kalau kota ini butuh istirahat, namun sama seperti mereka yang disana tadi, waktu istirahat adalah waktu untuk makan, dan untuk makan kita tidak bisa beristirahat, begitulah kehidupan ini terbangun.
Tidak sadar kami telah melewati jalan ini dan sudah sampai di perempatan saat siang kami datang ke rumah itu.
“Kau sudah siap pulang?” tanyanya perlahan.
“Ya … kita harus jauh jauh dari tempat itu segera.”
iii.
Sampai di depan rumah tua dan kusam ini lagi membuatku menjadi enakan, hal yang jarang sekali aku rasakan, berada di dalam “rumah”. Sesampainya di dalam kami dikejutkan dengan suara langkah kaki. Aku yang panik langsung menarik resleting tas dan merogoh isinya, menggenggam golokku di kepalan tangan erat erat. Belum sampai aku menarik golokku yang kedua, Ardi menghentikan tanganku dan mengacungkan sesuatu dengan dagunya, mata sebelahku menyerngit melihatnya.
“Kalian baru pulang?” ucap Nadya dengan baju tidurnya bersama teko dan 3 gelas menu biasa kami.
“Ya … begitulah,” jawabku.
Kami langsung duduk di kursi biasa kami dan melepas penat kami, sementara Nadya segera mengangkat tas berat kami.
“Tunggu dulu, ada yang harus kutunjukan padamu” perintah Ardi meminta tasnya, aku langsung mengerti apa yang ia maksud dan mengambil benda itu, suara gemericik yang perlahan ku taruh diatas meja. Nadya masuk ke dalam membawa masuk tas kami dan dengan cepat ia kembali dengan membawa laptopnya.
“Apa itu, rantai?”
“Ya … dan bukan sekedar rantai, tapi ini senjata yang dipakai pembunuh tadi,” jelas Ardi.
Mata Nadya terbuka mendengar jawaban itu dan segera membuka laptopnya. Aku yakin ia memanggil kakaknya, dan benar saja, si berisik itu datang lagi.
“Jadi bagaimana hasilnya bos?” sahut Dito.
“Kami bertarung melawannya, intinya dia sangat kuat bahkan mungkin tidak terkalahkan.”
“Seriusan?” tanya Nadya mengikuti kami.
“Dia berusaha menyerang kami duluan namun gagal lalu kami menyerangnya balik dan gaga jugal.”
“Kalau kalian gagal, gimana caranya kalian bisa disini?”
“Ah … jadi kita tadi bertarung melawannya. Orang itu seperti ninja mengenakan armor baja dan karena itu serangan kami gagal semua, sampai akhirnya ia berhasil mendesak kami dan tiba tiba kami diselamatkan saat Brama menembaknya,” jelasku.
“Apakah benar benar tertutup semua bagian tubuhnya dengan armornya itu?”
“Sebenarnya ada banyak celah-”
“Kalau begitu harusnya kau bisa menikamnya dari celah itu bukan?” potong Dito.
“Secara teori iya, tapi prakteknya ia sangat gesit dan sulit mendapatkan kesempatan,” jawabku.
“Baiklah asal kalian selamat itu sudah sangat bagus bukan begitu kakak,” ujar Nadya berusaha menyemangati kami.
“Tidak!” ucap Dito tidak puas. “Lalu apa yang kalian bawa?”
“Senjatanya, ia mengenakan rantai dan dua buah pisau, sepertinya karena untuk efisiensi.”
“Aneh sekali ninja tidak membawa katana, tidak keren sama sekali. Lalu bagaimana ciri cirinya?”
“Dia bertubuh besar, dengan pakaian pelindung lengkap, memakai topeng yang keren, tenaga yang kuat dan juga gerakan yang gesit.”
Dito bergumam. “Jawabanmu kurang memuaskan, kalau kau?” sambarnya menunjukku.
“Dia … sangat benar benar di luar perkiraan, dia datang tanpa bisa diketahui bahkan dengan jarak sedekat itu, langkah kakinya sangat lembut dan gerakannya sangat tersistematis seperti seorang yang sudah sangat ahli, terlebih lagi dengan kekuatannya yang tidak biasa,”
“Bagian mananya yang tidak biasa?”
“Hampir keseluruhan, tidak terasa seperti melawan manusia menurutku, terlebih lagi saat terakhir tendanganku mendarat di kepalanya,” sambung Ardi ikut menjawab.
“Terus lehernya miring begitu, marah dan bertingkah seperti orang gila ingin membunuh kami berdua,” sambungku.
“Tidak … sebenarnya ia tidak marah sama sekali atau merasa kesal, ia bertingkah seperti itu karena aku mematahkan lehernya, yang intinya manusia biasa pasti bakal tewas saat itu juga,” jelas Ardi memberitahuku kondisi sebenarnya.
“Kemudian Brama menyelamatkan kami dengan menembaknya, namun ia maju tetap maju perlahan sampai akhirnya ia tiba tiba pergi kabur,” sambungku.
Dito bergumam. “Begitu ya, memang tidak salah kalau project ini diteruskan, manusia super yang tidak peduli dengan rasa sakit dan bagian tubuh yang rusak, bergerak seperti professional. Baiklah nanti senjata itu akan dikirimkan ke alamat saya besok, kalian istirahat dulu sampai instruksi saya selanjutnya,” jelas Dito memutuskan telepon kami.
“Oh iya … sebelumnya gua heran kenapa tiba pedang lu kelepas? apa dia sekuat itu?” tanyaku heran.
“Tidak, awalnya aku hampir berhasil menariknya kembali sampai tanganku terkejut karena listrik,” jelas Ardi.
“Ish keren banget … aku jadi tidak sabar ingin ikut kalian melawan orang itu,” ungkap Nadya yang percaya diri menepuk nepuk otot tangannya.
“Sepertinya pukulan biasa tidak akan mempan melawan mahluk itu, kita butuh cara lain, seperti menambahkan racun ke senjata kita.”
“Racun? satu tusukan saja tidak masuk, bagaimana bisa menaruh racun,” keluhku.
“Kalau serangan gas? tanya Nadya.
“Dia make topeng dengan masker gas,” balasku cepat.
“Berarti senjata api dong kalau begitu … eh tapi tidak mempan ya … terus apa dong?”
“Itu dia yang masih kupikirkan,” jawabku.
Ardi diam tanpa berkata apa apa lagi setelah itu langsung mengambil langkah berdiri dan berjalan pergi meninggalkan kami berdua, bahkan ia sama sekali tidak menyentuh tehnya.
“Sepertinya ia sedang kesal,”
“Mungkin gara gara pedangnya itu, kalau saja ia memegang pedangnya mungkin kami bisa menang tadi,” ungkapku.
“Begitu ya … biarin aja deh,pasti ia habis ini bakal bertapa di bawah. Oh iya Jaya, masa pulang pulang bawa tangan hampa?”
“Apa maksud- oh … ada sih, tadi diberi semacam cek,” tanganku berusaha merogoh sakuku yang tadi aku hiraukan dan melihat nominalnya. Mataku terbelalak hingga kepalaku mundur menjauh dari kertas ajaib itu “Oh Shiiittt ….“
simounlebon dan 2 lainnya memberi reputasi
3