- Beranda
- Stories from the Heart
KERIS 13 IBLIS
...
TS
amriakhsan
KERIS 13 IBLIS
Quote:

Quote:
i.
Jujur saja, tangannku membuat tulisan ini bukan karena diriku menginginkan orang orang untuk membaca tulisanku, melainkan ini sebuah perintah yang aku sendiri masih belum paham apa tujuannya. Mungkin memang terdengar seperti orang yang menganggur atau bahkan lebih parahnya lagi tidak bertujuan, namun begitulah adanya.
Mengetahui kalau hidup ini layaknya sebuah buku catatan memberikanku sedikit gambaran, motivasi untuk membuat hal ini, meski terkadang sejarah itu hanya berlaku bagi orang yang menang. Tidak perlu dipungkiri kalau memang tidak ada salahnya bukan menuliskan sesuatu berdasarkan apa yang kau lihat dan bukan menuliskan sesuatu karena ada sebuah mata pisau bergerak perlahan di lehermu.
Walau disebut tunakarya, aku juga memiliki tugas yang mungkin agak sulit untuk dijelaskan pada banyak orang karena memang pada dasarnya diriku sendiri tidak tahu kejelasan tugas ini sama sekali. Merekamenyebutnya sebuah titah yang harus dan memang ini akan menjadi peran utama pada perjalanan hidup baruku, sebuah era baru. Tugas yang sebenarnya tidak pernah kusangka dan mungkin dapat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan diriku di masa kecil.
Apakah tugas itu sangatlah penting, menurutku tidak sama sekali. Tapi bagi mereka, bagi penerusku, mungkin ini adalah sebuah pelajaran yang tidak boleh dilupakan. Waktunya belajar sejarah.
ii.
Dito adalah saudaraku, saudara jauhku tepatnya. Ayahnya membantuku dan membiayaiku dari masa aku kehilangan orang tuaku sejak SMP. Aku jarang sekali berbicara padanya dan mungkin kami bertemu hanya beberapa kali seumur hidupku. Aku tidak begitu ingat tentangnya pada masa kecil, selain ingatan tentang waktu itu kami bertengkar hanya karena masalah berebut mainan.
Akibat terlalu menghilang dari keluarga ini lah yang membuat perubahan mendadak menjadi tembok bagiku untuk semakin mengenal dirinya. Sampai akhirnya tanpa kusadari yang berada di depan mataku saat ini adalah wujud dirinya sekarang sudah layaknya menjadi gumpalan daging yang keras, dimana otot yang besar terlihat sangat tegas berada ada kedua tangannya yang mungkin agak terlalu besar dibanding badannya yang kekar, namun kotak di dadanya tidak terlalu muncul dari kemejanya, terlebihi lengannya sendiri, layaknya gorila memakai baju hanya saja tidak gemuk.
Dengan tubuh yang seperti itu ditambah lagi dengan wajahnya yang aku yakin tidak ada wanita yang menolaknya. Dengan wajah tampan berbentuk bulat agak lonjong, rambut 3 cm terpotong rapi tersisir ke belakang dengan pinggiran tipis, bagian rahang yang tegas dan tipis serta matanya yang bulat berbinar yang menampilkan dirinya sangat berenergi, menampilkan api pada dirinya. Bibir yang agak tipis membuatnya terlihat menjadi penarik wanita paling cepat jika melihat kesempurnaan yang ada pada tubuhnya dan wajahnya.
Namun aku sedikit asing saat melihat sedikit detail noda sayatan yang cukup dalam pada wajahnya dari bagian pangkal hidung mancungnya lalu turun ke bagian bawah mata kanannya. Kalau yang satu ini aku sulit untuk memasukkannya sebagai bagian yang keren atau malah merusak wajahnya, atau malah menyempurnakannya.
Aku juga ingat bagian yang paling tidak bisa ditolak dari kesempurnaan semuanya adalah jumlah uang yang dimilikinya. Demi Allah, dengan pakaian yang tidak mewah dan sederhana namun rapi, sangat menipu jika hanya sekedar melihatnya berjalan di antara banyak orang orang kaya yang biasa kulihat. Permasalahannya adalah sifat aslinya yang mengundang masalah, kurang ngajar, dan terlebih kesombongannya itu yang tidak bisa dihiraukan.
Salah satu kebanggannya yang menguatkan rasa sombongnya adalah bisa meneruskan perusahaan ayahnya, yang sebenarnya aku sendiri tidak paham secara detail perusahaan apa ini. Namun yang pasti kuketahui adalah ini seperti perusahaan peralatan elektronik untuk medis atau bisa disebut biotech. Disamping saat masih kecil, aku pernah mencuri dengar saat ayahnya menceritakan sebaran sahamnya pada banyak perusahaan besar di seluruh dunia. Benar benar akalku tidak akan masuk jika memiliki uang dan tanggung jawab sebanyak itu. Semakin melihatnya semakin sadara lama lama sepertinya aku melihat klise drama korea disini, tapi mau bagaimana lagi, dia saudaraku.
ii.
Aku sekarang tinggal di rumahnya. Rumah dengan model layaknya keraton di kota modern ini terlihat sangat kontras dengan halaman hijaunya yang luas, ditumbuhi banyak pepohonan buah buahan hingga bagian belakang rumah yang dipenuhi tumbuh tumbuhan hias seperti bunga dan juga pohon beringin besar. Satu satunya yang ku tidak sukai adalah bagian dalam rumahnya yang memiliki banyak cabang dan lorong dengan bentukan dan terlihat yang sama yaitu perempatan, dengan kayu jati besar menghadap secara vertikal di bagian bawah dan anyaman rotan tebal di atasnya, ornamen elang berjambul kecil terpampang di sudut sudut rumah.
Bagian terburuknya yaitu yang tidak diberi tanda untuk masing masing ruangan sehingga banyak orang pasti bisa kebingungan dan tersesat di dalam sebuah rumah ini, serta banyak ruangan kosong di dalamnya yang aku sendiri tidak paham kenapa banyak ruangan kosong padahal ia hanya tinggal dengan adik serta ayahnya. AKu sangat yakin keluarganya memang tidak mengharapkan tamu yang datang
Setelah perjalanan membingungkan dan berputar putar, tubuhku menyerah dan berakhir di sebuah balkon rumah, menghadap langsung ke depan pohon rindang dengan daun hijau panjang dan lurus namun ujungnya berkelok kelok, pasti ini daun pohon mangga, mataku berusaha mencari dan akhirnya terfokus dengan mangga kecil yang tumbuh di bagian dahan lain. Menghirup beberapa udara yang tercampur baunya dari daun daun serta getah pohon, diriku sedang duduk di kursi panjang dari baja ringan yang dibentuk menyerupai batang kayu, sambil melihat dan memperhatikan pepohonan yang hijau yang membuat seluruh pandanganku menjadi kabur saat melihat, hal hal yang kurasa ini pernah aku membacanya di suatu buku, namun … satu satunya yang kuingat adalah … ingatanku buruk soal mengingat.
Lalu disaat seluruh pandanganku sudah buyar layaknya orang mabuk dengan seluruh benda benda hijau di depanku, tubuhku bersandar dan melempar kedua lenganku ke bagian atas sandaran kursi sejajar dengan kepalaku. Namun semua sirna saat suara guliran roda pintu masuk ke telingaku, mengganggu relaksasiku.
Langkah sepatu dari kayu yang berhentakan dengan kayu menghasilkan bunyi ketukan yang khas. Sosok itu berdiri disampingku melihatku sudah tidak berdaya tergeletak diatas kursi tanpa bisa berbuat apa apa, kemudian sejenak mataku mencoba meraih seluruh tenaga yang ada untuk memfokuskan pandanganku kepada sosok besar yang seharusnya kusadari dari awal itu adalah Dito. Dia datang kepadaku dengan dagu sedikit dinaikan ke atas, serta kedua tangan besarnya masuk ke kantong celananya.
“Hey … kenapa anda bisa terdampar disini,” kata Dito dengan suara yang sedikit bergemuruh.
“Gua awalnya ingin pergi menemuimu bos, tapi gak ketemu ketemu gara gara lorongnya kayak labirin. Abis itu tak coba cari cari sendiri dan … akhirnya tersesat disini,” balasku sambil menyindir rumah sialannya ini.
Dito terkekeh, “Memangnya apa yang ingin anda tanyakan hah?” ucapnya sambil melipat kedua tangannya.
“Toilet.”
“Anda sekarang sedang menatap toilet yang luas, kenapa gak kencing saja sekarang di rumput,” sahutnya.
“Iya ... iya terserahlah,” balasku tanpa memerdulikan perkataannya barusan dengan kembali memalingkan wajahku ke arah dedaunan di pohon.
Dito menurunkan dagunya dan melembutkan sedikit pandangannya. “Karena kebetulan ada disini, saya memiliki satu buah tugas,” serunya.
“Sebenarnya gua lebih suka nganggur seperti ini. Tapi … baiklah.”
“Tugas ini bersifat permanen karena tugas hanya anda yang bisa melakukannya,” jawab Dito dengan nada pelan layaknya orang tua menceramahi anaknya.
mataku menyerngit. “Tugas seperti apa itu sampai bos tidak bisa melakukannya sendiri,” balasku dengan heran sambil kembali menaruh wajahku kearahnya.
“Saya menyuruhmu untuk menuliskan cerita tentang perjalanan hidupmu dari sekarang.”
“CV?”
“Bukan, tapi sebuah narasi untuk menjadi penyambung kisah generasi kita bersaudara,” jawab Dito kali ini dengan nada cukup berat.
“Apa maksudnya dengan kita bos?”
“Saya tidak ingin bercerita panjang lebar sekarang, itu urusan nanti.”
“Eleh … .”
Dito mulai memicingkan matanya dengan tatapan tidak menyenangkan.
“Jujur bos, gua masih tidak paham sama sekali maksud tugas ini,” balasku dengan heran.
“Saya tidak bisa memberi detailnya sekarang, namun kali ini anda cukup ceritakan perjalanan hidupmu dari waktu yang kau inginkan. Seperti sejak kau lulus SMA ataupun kuliahmu,” jelas Dito.
Mataku berusaha mengalihkan pandangannya ke sebuah pohon selama beberapa saat sambil memikirkan semua kata katanya barusan. “Oke, bakal tak coba, cukup cerita saja kan? tapi jangan berharap banyak dari tulisan anak teknik.”
“Kalau itu tidak masalah. Anggap aja ini tugas anak anak, namun seperti yang saya bilang tadi. Hanya anda yang bisa melakukannya,” jawab Dito kali ini dengan nada yang puas sambil melempar telunjuknya ke udara.
“Apa semua orang yang datang kesini harus menulis cerita mereka semua?” tanyaku lagi, dengan nada agak serius.
“Tidak … ini spesial,” jawab Dito dengan memejamkan matanya dan menurunkan sedikit dagunya, seperti sedang menahan rasa kesal.
“Baiklah, jadi dimana gua bisa mulai tugas ini?”
Dito merogoh isi sakunya dan mengambil sebuah kartu. ”Ini kunci kamar, tinggal lurus saja dari pintu ini lalu belok kanan hingga ke pokok lorong. Itu kamarmu, disana kau bisa mulai kerjamu,” jelas Dito sambil tangan besarnya kembali masuk ke kantongnya memperbaiki isi saku kosongnya yang keluar.
Aku menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. ”Hanya ini saja kan? Tidak ada batas waktu?” tiba tiba aku terhenti dan berpikir sejenak, sepertinya aku membuat kesalahan dengan menanyakan hal tersebut.
“Tidak …” jawab Dito tampak tidak senang.
“Oke oke bos,” balasku dengan senyum kecil muncul di samping bibirku.
Dito sejenak bergumam. “Menulis itu cumang sebagian dari pekerjaan, sisanya ada lagi besok,” balas Dito kali ini dengan santai dan tidak seserius diawal.
Aku menatap tajam ke arahnya. Sialan kau mengerjaiku.
“Ini belum apa apa,” Ia lalu mengeluarkan tangannya dari sakunya sambil membalikan badannya dan berjalan perlahan pergi dengan suara hentakan sepatu yang cukup keras.
Aku sama sekali tidak paham apa tujuannya namun aku memang tidak tahu harus ngapain lagi. Aku menarik badanku ke posisi tegap dan mendorong tubuhku yang masih berkunang kunang dengan memasang pondasi kedua lengan ke kursi dan mengambil tenaga berusaha naik dari tidurnya, mengambil konsentrasi, berdiri tegak sambil membusungkan sedikit dadaku, mengambil nafas dan pergi menuju tempat kerjaku.
Polling
0 suara
Karakter mana yang paling berkesan gansis?
Diubah oleh amriakhsan 14-11-2020 06:23
sampeuk dan 13 lainnya memberi reputasi
10
8.6K
46
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
amriakhsan
#11
BAB VI
i.
Kaki kaki hitam ini mencoba menghangatkan diri di bawah cahaya kuning pijar, sangat ironis mengingat kalau ada darah vampire yang mengalir dalam tubuhku, tidak mengubah perasaan benci ini menatap matahari pagi bahkan di pantai yang indah sekalipun, bulatan kuning itu terlalu silau dan menyakitkan mataku. Kaos yang terasa sempit membuat rasa hangat itu langsung terasa di kulit yang juga langsung didinginkan segera oleh angin pagi laut yang mengarah ke daratan. Perasaan damai ini seketika sirna saat sebuah kaki datang menubruk punggungku. Dengan rambutnya yang diikat, betis keras orang ini berselancar di atas pasir, melewatiku tanpa rasa bersalah dan langsung melakukan peregangan.
“Bisa kita mulai?” cetus Ardi.
Bibirku bergetar, menggumam kesal dengan semua ini. “Jujur saja gua sedang ingin bersantai,” keluhku sambil menggaruk pasir putih di tanganku dan mencoba berdiri tegap sambil menggenggamnya..
“Seharusnya kau pilih lanjut kuliah lagi saja kalau begitu,” ucap Ardi santai tanpa berhenti melakukan gerakannya.
Menyadari kebenaran yang menusuk itu, dadaku mengempis menghembuskan nafas membayangkannya. “Hadeh … kuliah lagi mah sama artinya membeli krim penumbuh rambut sampai lulus.”
Ardi terkekeh. “Itu sebabnya Dito tidak menyuruhku kuliah.”
Kuku kaki berpasir itu berjalan maju perlahan ke arahku, menundukan tengkuknya dan hanya menyisakan batang hidungnya yang menggantung. Kepalan tinju ini sudah menempelkan dirinya pinggang, dengan kuda kuda terpasang bersiap untuk serangan kejutan.
“Mulai?” tanya Ardi lembut.
“Yes,” balasku lantang.
Guliran ombak pagi yang pelan, tubuh ini kebingungan karena harus menggigil sekaligus terhangatkan. Dengan kaki kananku di depan menatap Ardi yang berdiri tegap lurus dengan kedua kepalannya sudah melekat pada pinggangnya, kami berdua telah siap.
Cepat ia melepaskan kuda kudanya, menancapkan kaki kiri nya ke depan disambung dengan lontaran kaki kanannya mengayun ke arah dadaku. Tangan kaku ini sudah bersiap menerima serangan dan berhasil menangkapnya, berusaha mencengkramnya sekuat tenaga tapi efek tekanan tambahan yang tiba tiba muncul dari kakinya membuat kesempatanku terlepas begitu saja. Pijakan kakiku yang sudah kutanam rusak dan belum sempat tanganku mencoba lagi meraih kakinya ia melompat dengan sisa kakinya dan langsung menerbangkan betisnya ke arah wajahku, aku tidak sempat menghindar hanya bisa menahan tendangan itu dengan tangan kananku yang belum kokoh dan ia menghajar wajahku sendiri dengan tangankui.
“Sakit?” tanya Ardi dengan sedikit seringainya.
“Ah … lumayan,” jawabku sambil mengelus pipiku yang lembek.
“Maaf kalau begitu.”
Badan yang belum sempat berdiri sempurna ini tahu-tahu diterjang sebuah tapak kaki sudah sampai tepat di depan dadaku, tidak ada waktu untuk bertahan ataupun mengelak, badanku terpaksa menerimanya dengan telak dan terlontar sekitar satu meter. Dengan punggung yang panas dan sakit menggesek pasir, fisik ini berusaha bangkit, namun kabut gelap sudah menyelubungi mataku meminta untuk segera tertidur. Pada dasarnya saat itu aku sudah tersungkur pingsan.
Tidak ada alasan yang lain selain membuat diriku bangkit saat itu kecuali sengatan matahari yang masih menyengat, masih setengah sadar berusaha mendorong jasad ini, memijakan kaki dan berusaha bangkit. Pandanganku berusaha kembali seperti semula walau dengan gempa yang berusaha kutahan sekuat tenaga. Tanpa sadar tidak diduga sebuah aliran air yang dingin perlahan turun dari daguku, menetes jatuh membasahi kaki hitam ini. Sambil mengembalikan posisi kuda kuda tanganku berupaya mengelap liur yang keluar.
“Berapa lama ... gua pingsan?”
“Entah … sepuluh detik mungkin,” jawab Ardi santai berdiri dengan satu kepalan tangan di depan pinggangnya.
“Bisakah kita sedikit bersantai?” tanyaku lemas meminta rasa iba darinya.
“Bernegosiasi dengan musuh saat bertarung? kalau Dito mendengar ini pasti kau akan langsung dihajar lagi,” pukas Ardi.
“Apa apaan?”
“Ya kau tahu … katanya itu adalah jurus anime … dan Dito SANGAT anti weeb,“ jawabnya dengan seringai kecil, menampakan sedikit giginya.
Aku ikut tertawa mendengar berita aneh itu. “Jadi lu pernah dimarahin gegara nonton anime?” tanyaku penasaran.
“Bisa dibilang begitu, aku tidak paham kenapa dia bisa begitu sampai dia tidak bisa membedakan antara kartun dengan anime.”
“Jadi … lu nonton anime?” tanyaku sekali lagi.
“Tidak, aku nonton drakor,” jawabnya singkat bersamaan dengan kepalan tangannya yang terangkat.
Melihat gerakannya yang langsung melunak membuat otot pipi, serta bagian pelipis atasku naik turun sendiri. Sedetik setelah itu aku langsung mengangkat tanganku, membuka tapak dan berusaha mengeraskannya, sedikit menggeser kaki kananku ke belakang kemudian melontarkan tubuhku langsung menyerbu tubuh Ardi.
Tangan kiriku maju dengan sisa lenganku yang sudah kusiapkan sebagai senjata pamungkas. Ardi yang menyadari dirinya sedang terbuka langsung memasang tangannya sebagai pagar di depan wajahnya, merunduk bersama kuda kuda yang mantap. Ujung kakiku telah sampai dari lompatan kecil dan cepat barusan. Tangan ini mencoba menahan tembakan seranganku, menunggu waktu yang tepat, namun tanpa aba aba tanganku sudah berada di genggamannya dan dengan sekuat tenaga ia menarikku, menyerusukkan tubuhku dan memaksaku memakan pasir.
Keadaan yang tidak terduga ternyata menjadi kesempatan emas yang tak terlewatkan kali ini saat kaki dan tanganku yang ia tarik berupaya tidak jatuh dan menancap pasir, rahangku yang sudah tidak tahan akhirnya memunculkan gigi gigi yang menggigit udara kosong seraya menembakan tanganku yang kusimpan tadi meluncur, bogeman mentah mendarat tepat mengenai bagian tengah perutnya dan mendorongnya dengan sekuat tenaga, cipratan keringat keluar berterbangan ke udara bersamaan dengan tubuh Ardi yang terlempar, melihatnya saat itu yang sedang melayang di udara membuatku sangat puas terlebih lagi saat melihatnya terbaring tergeletak di atas pasir.
“Kita sama sama tidak menduga itu akan terjadi kan.”
Butiran pasir bergemericik, terlontar dari tangan bergoyang ini. “Bisa begitu ya?!”
“Bagus kalo begitu, bertarung menggunakan refleks memang lebih baik daripada makai otak tapi jangan sampai tidak pakai otak sama sekali,” ucap Ardi perlahan sambil mengangkat tubuhnya kembali, dengan wajah tampak lesu.
“Berarti sudah kelar kan?” tanyaku sekali lagi.
“Ya … terserah lah …, waktunya sarapan,” ujar Ardi memutar tubuhnya dan berjalan perlahan kembali ke penginapan sambil memegangi perutnya, meninggalkanku sendiri yang masih terkesima membayangkan hal barusan. Dengan pandangan masih tertuju pada kepalan ini, menghayal dan mencoba mencari cari cara agar besok dapat mengalahkannya lagi.
ii.
Sudah sekitar dua minggu kami tinggal di pesisir pantai ini, dengan pelatihan tiap harinya yang membuat hari hari terasa semakin lambat. Suara ombak yang dari pagi hingga malam masuk ke telingaku tidak lagi mewah dan membuatku bosan, namun sepertinya raga ini mulai bersahabat dengan sengatan matahari seiring warna kulitku yang semakin gelap.
Banyak sekali hal yang sebenarnya ingin sekali kulakukan seperti memotong rambutku yang sudah mulai melewati alis atau berjalan jalan ke pasar malam yang ada tiap minggu di pesisir pantai beberapa kilometer dari sini. Namun Dito terlalu menjaga kami, seperti orang tua yang langsung mematikan TV saat melihat iklan mainan muncul, semua kegiatan kami di luar kawasan hotel tidak diperbolehkan sama sekali, bahkan Nadya yang ingin ke supermarket pun tidak dibolehkan. Ini bukan liburan tapi tahanan.
Dalam beberapa hal, aku mencoba untuk berusaha sebisa mungkin menikmati masa masa ini dengan berlatih tiap pagi dengan Ardi dan malamnya melihat Dito bertarung dengan Ardi, hanya dua hal itu yang menjadi hiburanku disini selain membuka internet yang semakin hari semakin tidak jelas saja apa isinya.
Bicara soal bertarung, perkembangan telah terasa sekali dengan semakin luesnya gerakanku, terasah dan mulus karena latihan ini. Perbedaan ini sangat jelas dibanding latihan gerakan yang kaku yang kulakukan selama bertahun tahun. Fokus latihan ini memang untuk pertarungan sebenarnya dan seperti yang dikatakan Ardi waktu itu kepadaku bahwa belajar bela diri itu 30% sementara 70%nya adalah improvisasi gerakan dan insting.
Ditambah dengan melihat teknik bertarungnya yang melawan gorila itu. Aku tidak tahu sama sekali gerakan macam apa yang Dito lakukan, dengan penasaran mulutku bertanya pada Ardi tentang masalah itu dan jawabannya hanyalah ‘kalau Dito dulu aktif di Fighting Club’. Sementara saat aku bertanya langsung ke Dito, dia tidak menjawab sama sekali, sepertinya ada aturan yang membuat ia tidak mau membuka mulut.
Pertanyaan itu kuajukan bukan karena iri dengan otot besarnya itu, melainkan bagaimana dia bisa melatih badan seperti itu agar bisa bergerak dengan leluasa saat bertarung lah yang membuatku penasaran. Otakku selalu mengira jika orang orang dengan otot yang besar di sekujur tubuhnya akan membuat orang itu layaknya bakso daging dan urat yang bergerak kaku layaknya sebuah robot, namun Dito menepis pemikiranku itu saat dengan lincahnya bertarung dengan Ardi. Memang aku bisa dengan jelas melihat ia memaksa badannya agar bergerak cepat untuk mengimbangi Ardi yang mengalir dengan lancar. Walau tidak bisa dipungkiri kadang gerakannya cukup kaku setelah melempar serangan dan seperti sudah terbaca, bahkan Ardi bisa menghindarinya dengan mata yang tertutup itu.
Pertarungan mereka hampir selalu imbang. Tapi yang paling kuingat saat malam dimana Dito mengalahkannya dengan telak. Di malam yang gelap gulita dan hanya diterangi cahaya bulan yang baru muncul bersama bintang putih di langit hitam. Dari awal pertarungan hanya Dito melompat kecil terus menerus berirama dengan tangan sudah membentuk perisai di depan, memercikan pasir di kakinya dengan suara yang saling beradu melawan ombak. Awalnya aku tidak paham awal dari gerakannya itu, entah mengecoh atau malah justru membantu Ardi dengan memberi tahu posisinya di tengah kegelapan.
“Apa yang kau lakukan Dito?” tanya Ardi yang belum bersiap dan masih menyisir lalu mengikat rambutnya yang panjang itu.
“Tidak ada apa apa … saya cumang sedang berada di mood yang bagus,” balas Dito sambil memasang kuda kudanya dan melakukan hal kesukaannya yaitu menyisir rambutnya yang pendek ke belakang dengan mengangkat sedikit dagunya sambil memberi wajah sombong. Sampai sekarang aku tidak paham apa tujuannya melakukan hal seperti itu pada Ardi.
“Apa kau siap Dito?”
“Tentu saja aku siap dari tadi,” ucapnya sambil mengelap hidungnya dengan jempolnya yang secepat kilat. “Nadya, kali perhatikan baik baik, ini jurus pamungkas!” sahutnya bersemangat.
Nadya yang sedang duduk bersamaku di atas pasir sedang yang dari wajahnya yang fokus dan serius sedang berusaha keras membuka bungkus kacang langsung kaget saat mendengar kata kata barusan. “Seriusan?! kak Ardi bisa langsung mati loh.”
“Santai saja … gak bakal sampe mati kok,”
Ardi bergumam. “Menarik, coba kita lihat,” ucap Ardi memundurkan wajahnya, tubuhnya sepertinya sudah bersiap menghadapi serangan.
Dito memasang kuda kuda menyamping dengan kaki kiri di depan menghadap lurus ke Ardi, matanya menusuk sambil menadahkan tangan kirinya, kemudian paru parunya ia isi penuh sampai dadanya terangkat. “TIDAK ADA WAKTUNYA LATIHAN! SEKARANG WAKTUNYA LU MATI!”
Ardi yang kaget dengan teriakan keras itu tiba tiba mengambil langkah mundur sedikit, disambut dengan sisa tangan Dito melayang di udara, berputar dan mengarah langsung ke tangan kirinya yang sedang menadah tadi, lalu suara tepukan yang memecah ombak muncul dari tangannya itu. Kami semua kaget dan yang paling kaget lagi adalah reaksi Ardi mendengarnya sampai kuda kudanya jadi goyah. Melihat itu, Dito lalu melompat ke arah mangsanya dengan tangannya sedang mencakar udara dan saat langkah kakinya menyentuh tanah, tangan besar itu menggapai kepala Ardi dan langsung menekannya sekuat tenaga, memendamkan wajah Ardi menuju pasir sebelum sempat ia meraih tangan besar. Yang kulihat setelahnya hanyalah badannya yang tersungkur mencium pasir.
Seakan tidak peduli, Dito berputar balik arah dengan cepat lalu lari. “TIDAK ADA WAKTU LATIHAN! SEKARANG WAKTUNYA NONTON FILM!” teriak Dito kabur menghiraukan Ardi yang dengan kedua tangannya yang berusaha mengangkat tubuhnya untuk bangkit.
Ardi yang sudah berdiri tegap berusaha membersihkan wajahnya kemudian menyisir bajunya dengan tangannya. “Biasanya aku berusaha untuk tetap tenang dalam kondisi apapun namun kali ini baik KAU.”
Aku dan Nadya yang sudah menyaksikan hal hal tidak terduga barusan bertahan sekuat tenaga untuk menutup mulut kami agar tidak tertawa, namun sepertinya Nadya bukan orang yang tepat dalam keahlian ini dengan matanya melotot sambil menutup mulutnya itu tidak kuat dan akhirnya menyemburlah nafasnya dan dengan terbukanya keran tawa lebarnya itu. Ardi memalingkan ke arah Nadya dan sangat efektif membuatnya berhenti untuk beberapa saat. Namun upaya itu tidak berhasil dan membuat Nadya yang tidak kuat lagi dan akhirnya lompat dan berlari sambil tertawa.
Hanya aku dan Ardi yang tersisa sekarang dengan paru parunya yang tidak berhenti terpompa kencang, suara nafas mengebul kencang dari hidungnya sambil mengepalkan tangannya erat erat. Aku yang dari tadi berusaha menahan rasa yang tawa tiba tiba hilang dan mencoba menenangkan Ardi. “Ah … aku kali ini tidak akan komentar apa apa masalah ini.”
Ardi kemudian berhenti marah. “Sebaiknya begitu.”
i.
Kaki kaki hitam ini mencoba menghangatkan diri di bawah cahaya kuning pijar, sangat ironis mengingat kalau ada darah vampire yang mengalir dalam tubuhku, tidak mengubah perasaan benci ini menatap matahari pagi bahkan di pantai yang indah sekalipun, bulatan kuning itu terlalu silau dan menyakitkan mataku. Kaos yang terasa sempit membuat rasa hangat itu langsung terasa di kulit yang juga langsung didinginkan segera oleh angin pagi laut yang mengarah ke daratan. Perasaan damai ini seketika sirna saat sebuah kaki datang menubruk punggungku. Dengan rambutnya yang diikat, betis keras orang ini berselancar di atas pasir, melewatiku tanpa rasa bersalah dan langsung melakukan peregangan.
“Bisa kita mulai?” cetus Ardi.
Bibirku bergetar, menggumam kesal dengan semua ini. “Jujur saja gua sedang ingin bersantai,” keluhku sambil menggaruk pasir putih di tanganku dan mencoba berdiri tegap sambil menggenggamnya..
“Seharusnya kau pilih lanjut kuliah lagi saja kalau begitu,” ucap Ardi santai tanpa berhenti melakukan gerakannya.
Menyadari kebenaran yang menusuk itu, dadaku mengempis menghembuskan nafas membayangkannya. “Hadeh … kuliah lagi mah sama artinya membeli krim penumbuh rambut sampai lulus.”
Ardi terkekeh. “Itu sebabnya Dito tidak menyuruhku kuliah.”
Kuku kaki berpasir itu berjalan maju perlahan ke arahku, menundukan tengkuknya dan hanya menyisakan batang hidungnya yang menggantung. Kepalan tinju ini sudah menempelkan dirinya pinggang, dengan kuda kuda terpasang bersiap untuk serangan kejutan.
“Mulai?” tanya Ardi lembut.
“Yes,” balasku lantang.
Guliran ombak pagi yang pelan, tubuh ini kebingungan karena harus menggigil sekaligus terhangatkan. Dengan kaki kananku di depan menatap Ardi yang berdiri tegap lurus dengan kedua kepalannya sudah melekat pada pinggangnya, kami berdua telah siap.
Cepat ia melepaskan kuda kudanya, menancapkan kaki kiri nya ke depan disambung dengan lontaran kaki kanannya mengayun ke arah dadaku. Tangan kaku ini sudah bersiap menerima serangan dan berhasil menangkapnya, berusaha mencengkramnya sekuat tenaga tapi efek tekanan tambahan yang tiba tiba muncul dari kakinya membuat kesempatanku terlepas begitu saja. Pijakan kakiku yang sudah kutanam rusak dan belum sempat tanganku mencoba lagi meraih kakinya ia melompat dengan sisa kakinya dan langsung menerbangkan betisnya ke arah wajahku, aku tidak sempat menghindar hanya bisa menahan tendangan itu dengan tangan kananku yang belum kokoh dan ia menghajar wajahku sendiri dengan tangankui.
“Sakit?” tanya Ardi dengan sedikit seringainya.
“Ah … lumayan,” jawabku sambil mengelus pipiku yang lembek.
“Maaf kalau begitu.”
Badan yang belum sempat berdiri sempurna ini tahu-tahu diterjang sebuah tapak kaki sudah sampai tepat di depan dadaku, tidak ada waktu untuk bertahan ataupun mengelak, badanku terpaksa menerimanya dengan telak dan terlontar sekitar satu meter. Dengan punggung yang panas dan sakit menggesek pasir, fisik ini berusaha bangkit, namun kabut gelap sudah menyelubungi mataku meminta untuk segera tertidur. Pada dasarnya saat itu aku sudah tersungkur pingsan.
Tidak ada alasan yang lain selain membuat diriku bangkit saat itu kecuali sengatan matahari yang masih menyengat, masih setengah sadar berusaha mendorong jasad ini, memijakan kaki dan berusaha bangkit. Pandanganku berusaha kembali seperti semula walau dengan gempa yang berusaha kutahan sekuat tenaga. Tanpa sadar tidak diduga sebuah aliran air yang dingin perlahan turun dari daguku, menetes jatuh membasahi kaki hitam ini. Sambil mengembalikan posisi kuda kuda tanganku berupaya mengelap liur yang keluar.
“Berapa lama ... gua pingsan?”
“Entah … sepuluh detik mungkin,” jawab Ardi santai berdiri dengan satu kepalan tangan di depan pinggangnya.
“Bisakah kita sedikit bersantai?” tanyaku lemas meminta rasa iba darinya.
“Bernegosiasi dengan musuh saat bertarung? kalau Dito mendengar ini pasti kau akan langsung dihajar lagi,” pukas Ardi.
“Apa apaan?”
“Ya kau tahu … katanya itu adalah jurus anime … dan Dito SANGAT anti weeb,“ jawabnya dengan seringai kecil, menampakan sedikit giginya.
Aku ikut tertawa mendengar berita aneh itu. “Jadi lu pernah dimarahin gegara nonton anime?” tanyaku penasaran.
“Bisa dibilang begitu, aku tidak paham kenapa dia bisa begitu sampai dia tidak bisa membedakan antara kartun dengan anime.”
“Jadi … lu nonton anime?” tanyaku sekali lagi.
“Tidak, aku nonton drakor,” jawabnya singkat bersamaan dengan kepalan tangannya yang terangkat.
Melihat gerakannya yang langsung melunak membuat otot pipi, serta bagian pelipis atasku naik turun sendiri. Sedetik setelah itu aku langsung mengangkat tanganku, membuka tapak dan berusaha mengeraskannya, sedikit menggeser kaki kananku ke belakang kemudian melontarkan tubuhku langsung menyerbu tubuh Ardi.
Tangan kiriku maju dengan sisa lenganku yang sudah kusiapkan sebagai senjata pamungkas. Ardi yang menyadari dirinya sedang terbuka langsung memasang tangannya sebagai pagar di depan wajahnya, merunduk bersama kuda kuda yang mantap. Ujung kakiku telah sampai dari lompatan kecil dan cepat barusan. Tangan ini mencoba menahan tembakan seranganku, menunggu waktu yang tepat, namun tanpa aba aba tanganku sudah berada di genggamannya dan dengan sekuat tenaga ia menarikku, menyerusukkan tubuhku dan memaksaku memakan pasir.
Keadaan yang tidak terduga ternyata menjadi kesempatan emas yang tak terlewatkan kali ini saat kaki dan tanganku yang ia tarik berupaya tidak jatuh dan menancap pasir, rahangku yang sudah tidak tahan akhirnya memunculkan gigi gigi yang menggigit udara kosong seraya menembakan tanganku yang kusimpan tadi meluncur, bogeman mentah mendarat tepat mengenai bagian tengah perutnya dan mendorongnya dengan sekuat tenaga, cipratan keringat keluar berterbangan ke udara bersamaan dengan tubuh Ardi yang terlempar, melihatnya saat itu yang sedang melayang di udara membuatku sangat puas terlebih lagi saat melihatnya terbaring tergeletak di atas pasir.
“Kita sama sama tidak menduga itu akan terjadi kan.”
Butiran pasir bergemericik, terlontar dari tangan bergoyang ini. “Bisa begitu ya?!”
“Bagus kalo begitu, bertarung menggunakan refleks memang lebih baik daripada makai otak tapi jangan sampai tidak pakai otak sama sekali,” ucap Ardi perlahan sambil mengangkat tubuhnya kembali, dengan wajah tampak lesu.
“Berarti sudah kelar kan?” tanyaku sekali lagi.
“Ya … terserah lah …, waktunya sarapan,” ujar Ardi memutar tubuhnya dan berjalan perlahan kembali ke penginapan sambil memegangi perutnya, meninggalkanku sendiri yang masih terkesima membayangkan hal barusan. Dengan pandangan masih tertuju pada kepalan ini, menghayal dan mencoba mencari cari cara agar besok dapat mengalahkannya lagi.
ii.
Sudah sekitar dua minggu kami tinggal di pesisir pantai ini, dengan pelatihan tiap harinya yang membuat hari hari terasa semakin lambat. Suara ombak yang dari pagi hingga malam masuk ke telingaku tidak lagi mewah dan membuatku bosan, namun sepertinya raga ini mulai bersahabat dengan sengatan matahari seiring warna kulitku yang semakin gelap.
Banyak sekali hal yang sebenarnya ingin sekali kulakukan seperti memotong rambutku yang sudah mulai melewati alis atau berjalan jalan ke pasar malam yang ada tiap minggu di pesisir pantai beberapa kilometer dari sini. Namun Dito terlalu menjaga kami, seperti orang tua yang langsung mematikan TV saat melihat iklan mainan muncul, semua kegiatan kami di luar kawasan hotel tidak diperbolehkan sama sekali, bahkan Nadya yang ingin ke supermarket pun tidak dibolehkan. Ini bukan liburan tapi tahanan.
Dalam beberapa hal, aku mencoba untuk berusaha sebisa mungkin menikmati masa masa ini dengan berlatih tiap pagi dengan Ardi dan malamnya melihat Dito bertarung dengan Ardi, hanya dua hal itu yang menjadi hiburanku disini selain membuka internet yang semakin hari semakin tidak jelas saja apa isinya.
Bicara soal bertarung, perkembangan telah terasa sekali dengan semakin luesnya gerakanku, terasah dan mulus karena latihan ini. Perbedaan ini sangat jelas dibanding latihan gerakan yang kaku yang kulakukan selama bertahun tahun. Fokus latihan ini memang untuk pertarungan sebenarnya dan seperti yang dikatakan Ardi waktu itu kepadaku bahwa belajar bela diri itu 30% sementara 70%nya adalah improvisasi gerakan dan insting.
Ditambah dengan melihat teknik bertarungnya yang melawan gorila itu. Aku tidak tahu sama sekali gerakan macam apa yang Dito lakukan, dengan penasaran mulutku bertanya pada Ardi tentang masalah itu dan jawabannya hanyalah ‘kalau Dito dulu aktif di Fighting Club’. Sementara saat aku bertanya langsung ke Dito, dia tidak menjawab sama sekali, sepertinya ada aturan yang membuat ia tidak mau membuka mulut.
Pertanyaan itu kuajukan bukan karena iri dengan otot besarnya itu, melainkan bagaimana dia bisa melatih badan seperti itu agar bisa bergerak dengan leluasa saat bertarung lah yang membuatku penasaran. Otakku selalu mengira jika orang orang dengan otot yang besar di sekujur tubuhnya akan membuat orang itu layaknya bakso daging dan urat yang bergerak kaku layaknya sebuah robot, namun Dito menepis pemikiranku itu saat dengan lincahnya bertarung dengan Ardi. Memang aku bisa dengan jelas melihat ia memaksa badannya agar bergerak cepat untuk mengimbangi Ardi yang mengalir dengan lancar. Walau tidak bisa dipungkiri kadang gerakannya cukup kaku setelah melempar serangan dan seperti sudah terbaca, bahkan Ardi bisa menghindarinya dengan mata yang tertutup itu.
Pertarungan mereka hampir selalu imbang. Tapi yang paling kuingat saat malam dimana Dito mengalahkannya dengan telak. Di malam yang gelap gulita dan hanya diterangi cahaya bulan yang baru muncul bersama bintang putih di langit hitam. Dari awal pertarungan hanya Dito melompat kecil terus menerus berirama dengan tangan sudah membentuk perisai di depan, memercikan pasir di kakinya dengan suara yang saling beradu melawan ombak. Awalnya aku tidak paham awal dari gerakannya itu, entah mengecoh atau malah justru membantu Ardi dengan memberi tahu posisinya di tengah kegelapan.
“Apa yang kau lakukan Dito?” tanya Ardi yang belum bersiap dan masih menyisir lalu mengikat rambutnya yang panjang itu.
“Tidak ada apa apa … saya cumang sedang berada di mood yang bagus,” balas Dito sambil memasang kuda kudanya dan melakukan hal kesukaannya yaitu menyisir rambutnya yang pendek ke belakang dengan mengangkat sedikit dagunya sambil memberi wajah sombong. Sampai sekarang aku tidak paham apa tujuannya melakukan hal seperti itu pada Ardi.
“Apa kau siap Dito?”
“Tentu saja aku siap dari tadi,” ucapnya sambil mengelap hidungnya dengan jempolnya yang secepat kilat. “Nadya, kali perhatikan baik baik, ini jurus pamungkas!” sahutnya bersemangat.
Nadya yang sedang duduk bersamaku di atas pasir sedang yang dari wajahnya yang fokus dan serius sedang berusaha keras membuka bungkus kacang langsung kaget saat mendengar kata kata barusan. “Seriusan?! kak Ardi bisa langsung mati loh.”
“Santai saja … gak bakal sampe mati kok,”
Ardi bergumam. “Menarik, coba kita lihat,” ucap Ardi memundurkan wajahnya, tubuhnya sepertinya sudah bersiap menghadapi serangan.
Dito memasang kuda kuda menyamping dengan kaki kiri di depan menghadap lurus ke Ardi, matanya menusuk sambil menadahkan tangan kirinya, kemudian paru parunya ia isi penuh sampai dadanya terangkat. “TIDAK ADA WAKTUNYA LATIHAN! SEKARANG WAKTUNYA LU MATI!”
Ardi yang kaget dengan teriakan keras itu tiba tiba mengambil langkah mundur sedikit, disambut dengan sisa tangan Dito melayang di udara, berputar dan mengarah langsung ke tangan kirinya yang sedang menadah tadi, lalu suara tepukan yang memecah ombak muncul dari tangannya itu. Kami semua kaget dan yang paling kaget lagi adalah reaksi Ardi mendengarnya sampai kuda kudanya jadi goyah. Melihat itu, Dito lalu melompat ke arah mangsanya dengan tangannya sedang mencakar udara dan saat langkah kakinya menyentuh tanah, tangan besar itu menggapai kepala Ardi dan langsung menekannya sekuat tenaga, memendamkan wajah Ardi menuju pasir sebelum sempat ia meraih tangan besar. Yang kulihat setelahnya hanyalah badannya yang tersungkur mencium pasir.
Seakan tidak peduli, Dito berputar balik arah dengan cepat lalu lari. “TIDAK ADA WAKTU LATIHAN! SEKARANG WAKTUNYA NONTON FILM!” teriak Dito kabur menghiraukan Ardi yang dengan kedua tangannya yang berusaha mengangkat tubuhnya untuk bangkit.
Ardi yang sudah berdiri tegap berusaha membersihkan wajahnya kemudian menyisir bajunya dengan tangannya. “Biasanya aku berusaha untuk tetap tenang dalam kondisi apapun namun kali ini baik KAU.”
Aku dan Nadya yang sudah menyaksikan hal hal tidak terduga barusan bertahan sekuat tenaga untuk menutup mulut kami agar tidak tertawa, namun sepertinya Nadya bukan orang yang tepat dalam keahlian ini dengan matanya melotot sambil menutup mulutnya itu tidak kuat dan akhirnya menyemburlah nafasnya dan dengan terbukanya keran tawa lebarnya itu. Ardi memalingkan ke arah Nadya dan sangat efektif membuatnya berhenti untuk beberapa saat. Namun upaya itu tidak berhasil dan membuat Nadya yang tidak kuat lagi dan akhirnya lompat dan berlari sambil tertawa.
Hanya aku dan Ardi yang tersisa sekarang dengan paru parunya yang tidak berhenti terpompa kencang, suara nafas mengebul kencang dari hidungnya sambil mengepalkan tangannya erat erat. Aku yang dari tadi berusaha menahan rasa yang tawa tiba tiba hilang dan mencoba menenangkan Ardi. “Ah … aku kali ini tidak akan komentar apa apa masalah ini.”
Ardi kemudian berhenti marah. “Sebaiknya begitu.”
simounlebon dan 2 lainnya memberi reputasi
3