- Beranda
- Stories from the Heart
KERIS 13 IBLIS
...
TS
amriakhsan
KERIS 13 IBLIS
Quote:

Quote:
i.
Jujur saja, tangannku membuat tulisan ini bukan karena diriku menginginkan orang orang untuk membaca tulisanku, melainkan ini sebuah perintah yang aku sendiri masih belum paham apa tujuannya. Mungkin memang terdengar seperti orang yang menganggur atau bahkan lebih parahnya lagi tidak bertujuan, namun begitulah adanya.
Mengetahui kalau hidup ini layaknya sebuah buku catatan memberikanku sedikit gambaran, motivasi untuk membuat hal ini, meski terkadang sejarah itu hanya berlaku bagi orang yang menang. Tidak perlu dipungkiri kalau memang tidak ada salahnya bukan menuliskan sesuatu berdasarkan apa yang kau lihat dan bukan menuliskan sesuatu karena ada sebuah mata pisau bergerak perlahan di lehermu.
Walau disebut tunakarya, aku juga memiliki tugas yang mungkin agak sulit untuk dijelaskan pada banyak orang karena memang pada dasarnya diriku sendiri tidak tahu kejelasan tugas ini sama sekali. Merekamenyebutnya sebuah titah yang harus dan memang ini akan menjadi peran utama pada perjalanan hidup baruku, sebuah era baru. Tugas yang sebenarnya tidak pernah kusangka dan mungkin dapat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan diriku di masa kecil.
Apakah tugas itu sangatlah penting, menurutku tidak sama sekali. Tapi bagi mereka, bagi penerusku, mungkin ini adalah sebuah pelajaran yang tidak boleh dilupakan. Waktunya belajar sejarah.
ii.
Dito adalah saudaraku, saudara jauhku tepatnya. Ayahnya membantuku dan membiayaiku dari masa aku kehilangan orang tuaku sejak SMP. Aku jarang sekali berbicara padanya dan mungkin kami bertemu hanya beberapa kali seumur hidupku. Aku tidak begitu ingat tentangnya pada masa kecil, selain ingatan tentang waktu itu kami bertengkar hanya karena masalah berebut mainan.
Akibat terlalu menghilang dari keluarga ini lah yang membuat perubahan mendadak menjadi tembok bagiku untuk semakin mengenal dirinya. Sampai akhirnya tanpa kusadari yang berada di depan mataku saat ini adalah wujud dirinya sekarang sudah layaknya menjadi gumpalan daging yang keras, dimana otot yang besar terlihat sangat tegas berada ada kedua tangannya yang mungkin agak terlalu besar dibanding badannya yang kekar, namun kotak di dadanya tidak terlalu muncul dari kemejanya, terlebihi lengannya sendiri, layaknya gorila memakai baju hanya saja tidak gemuk.
Dengan tubuh yang seperti itu ditambah lagi dengan wajahnya yang aku yakin tidak ada wanita yang menolaknya. Dengan wajah tampan berbentuk bulat agak lonjong, rambut 3 cm terpotong rapi tersisir ke belakang dengan pinggiran tipis, bagian rahang yang tegas dan tipis serta matanya yang bulat berbinar yang menampilkan dirinya sangat berenergi, menampilkan api pada dirinya. Bibir yang agak tipis membuatnya terlihat menjadi penarik wanita paling cepat jika melihat kesempurnaan yang ada pada tubuhnya dan wajahnya.
Namun aku sedikit asing saat melihat sedikit detail noda sayatan yang cukup dalam pada wajahnya dari bagian pangkal hidung mancungnya lalu turun ke bagian bawah mata kanannya. Kalau yang satu ini aku sulit untuk memasukkannya sebagai bagian yang keren atau malah merusak wajahnya, atau malah menyempurnakannya.
Aku juga ingat bagian yang paling tidak bisa ditolak dari kesempurnaan semuanya adalah jumlah uang yang dimilikinya. Demi Allah, dengan pakaian yang tidak mewah dan sederhana namun rapi, sangat menipu jika hanya sekedar melihatnya berjalan di antara banyak orang orang kaya yang biasa kulihat. Permasalahannya adalah sifat aslinya yang mengundang masalah, kurang ngajar, dan terlebih kesombongannya itu yang tidak bisa dihiraukan.
Salah satu kebanggannya yang menguatkan rasa sombongnya adalah bisa meneruskan perusahaan ayahnya, yang sebenarnya aku sendiri tidak paham secara detail perusahaan apa ini. Namun yang pasti kuketahui adalah ini seperti perusahaan peralatan elektronik untuk medis atau bisa disebut biotech. Disamping saat masih kecil, aku pernah mencuri dengar saat ayahnya menceritakan sebaran sahamnya pada banyak perusahaan besar di seluruh dunia. Benar benar akalku tidak akan masuk jika memiliki uang dan tanggung jawab sebanyak itu. Semakin melihatnya semakin sadara lama lama sepertinya aku melihat klise drama korea disini, tapi mau bagaimana lagi, dia saudaraku.
ii.
Aku sekarang tinggal di rumahnya. Rumah dengan model layaknya keraton di kota modern ini terlihat sangat kontras dengan halaman hijaunya yang luas, ditumbuhi banyak pepohonan buah buahan hingga bagian belakang rumah yang dipenuhi tumbuh tumbuhan hias seperti bunga dan juga pohon beringin besar. Satu satunya yang ku tidak sukai adalah bagian dalam rumahnya yang memiliki banyak cabang dan lorong dengan bentukan dan terlihat yang sama yaitu perempatan, dengan kayu jati besar menghadap secara vertikal di bagian bawah dan anyaman rotan tebal di atasnya, ornamen elang berjambul kecil terpampang di sudut sudut rumah.
Bagian terburuknya yaitu yang tidak diberi tanda untuk masing masing ruangan sehingga banyak orang pasti bisa kebingungan dan tersesat di dalam sebuah rumah ini, serta banyak ruangan kosong di dalamnya yang aku sendiri tidak paham kenapa banyak ruangan kosong padahal ia hanya tinggal dengan adik serta ayahnya. AKu sangat yakin keluarganya memang tidak mengharapkan tamu yang datang
Setelah perjalanan membingungkan dan berputar putar, tubuhku menyerah dan berakhir di sebuah balkon rumah, menghadap langsung ke depan pohon rindang dengan daun hijau panjang dan lurus namun ujungnya berkelok kelok, pasti ini daun pohon mangga, mataku berusaha mencari dan akhirnya terfokus dengan mangga kecil yang tumbuh di bagian dahan lain. Menghirup beberapa udara yang tercampur baunya dari daun daun serta getah pohon, diriku sedang duduk di kursi panjang dari baja ringan yang dibentuk menyerupai batang kayu, sambil melihat dan memperhatikan pepohonan yang hijau yang membuat seluruh pandanganku menjadi kabur saat melihat, hal hal yang kurasa ini pernah aku membacanya di suatu buku, namun … satu satunya yang kuingat adalah … ingatanku buruk soal mengingat.
Lalu disaat seluruh pandanganku sudah buyar layaknya orang mabuk dengan seluruh benda benda hijau di depanku, tubuhku bersandar dan melempar kedua lenganku ke bagian atas sandaran kursi sejajar dengan kepalaku. Namun semua sirna saat suara guliran roda pintu masuk ke telingaku, mengganggu relaksasiku.
Langkah sepatu dari kayu yang berhentakan dengan kayu menghasilkan bunyi ketukan yang khas. Sosok itu berdiri disampingku melihatku sudah tidak berdaya tergeletak diatas kursi tanpa bisa berbuat apa apa, kemudian sejenak mataku mencoba meraih seluruh tenaga yang ada untuk memfokuskan pandanganku kepada sosok besar yang seharusnya kusadari dari awal itu adalah Dito. Dia datang kepadaku dengan dagu sedikit dinaikan ke atas, serta kedua tangan besarnya masuk ke kantong celananya.
“Hey … kenapa anda bisa terdampar disini,” kata Dito dengan suara yang sedikit bergemuruh.
“Gua awalnya ingin pergi menemuimu bos, tapi gak ketemu ketemu gara gara lorongnya kayak labirin. Abis itu tak coba cari cari sendiri dan … akhirnya tersesat disini,” balasku sambil menyindir rumah sialannya ini.
Dito terkekeh, “Memangnya apa yang ingin anda tanyakan hah?” ucapnya sambil melipat kedua tangannya.
“Toilet.”
“Anda sekarang sedang menatap toilet yang luas, kenapa gak kencing saja sekarang di rumput,” sahutnya.
“Iya ... iya terserahlah,” balasku tanpa memerdulikan perkataannya barusan dengan kembali memalingkan wajahku ke arah dedaunan di pohon.
Dito menurunkan dagunya dan melembutkan sedikit pandangannya. “Karena kebetulan ada disini, saya memiliki satu buah tugas,” serunya.
“Sebenarnya gua lebih suka nganggur seperti ini. Tapi … baiklah.”
“Tugas ini bersifat permanen karena tugas hanya anda yang bisa melakukannya,” jawab Dito dengan nada pelan layaknya orang tua menceramahi anaknya.
mataku menyerngit. “Tugas seperti apa itu sampai bos tidak bisa melakukannya sendiri,” balasku dengan heran sambil kembali menaruh wajahku kearahnya.
“Saya menyuruhmu untuk menuliskan cerita tentang perjalanan hidupmu dari sekarang.”
“CV?”
“Bukan, tapi sebuah narasi untuk menjadi penyambung kisah generasi kita bersaudara,” jawab Dito kali ini dengan nada cukup berat.
“Apa maksudnya dengan kita bos?”
“Saya tidak ingin bercerita panjang lebar sekarang, itu urusan nanti.”
“Eleh … .”
Dito mulai memicingkan matanya dengan tatapan tidak menyenangkan.
“Jujur bos, gua masih tidak paham sama sekali maksud tugas ini,” balasku dengan heran.
“Saya tidak bisa memberi detailnya sekarang, namun kali ini anda cukup ceritakan perjalanan hidupmu dari waktu yang kau inginkan. Seperti sejak kau lulus SMA ataupun kuliahmu,” jelas Dito.
Mataku berusaha mengalihkan pandangannya ke sebuah pohon selama beberapa saat sambil memikirkan semua kata katanya barusan. “Oke, bakal tak coba, cukup cerita saja kan? tapi jangan berharap banyak dari tulisan anak teknik.”
“Kalau itu tidak masalah. Anggap aja ini tugas anak anak, namun seperti yang saya bilang tadi. Hanya anda yang bisa melakukannya,” jawab Dito kali ini dengan nada yang puas sambil melempar telunjuknya ke udara.
“Apa semua orang yang datang kesini harus menulis cerita mereka semua?” tanyaku lagi, dengan nada agak serius.
“Tidak … ini spesial,” jawab Dito dengan memejamkan matanya dan menurunkan sedikit dagunya, seperti sedang menahan rasa kesal.
“Baiklah, jadi dimana gua bisa mulai tugas ini?”
Dito merogoh isi sakunya dan mengambil sebuah kartu. ”Ini kunci kamar, tinggal lurus saja dari pintu ini lalu belok kanan hingga ke pokok lorong. Itu kamarmu, disana kau bisa mulai kerjamu,” jelas Dito sambil tangan besarnya kembali masuk ke kantongnya memperbaiki isi saku kosongnya yang keluar.
Aku menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. ”Hanya ini saja kan? Tidak ada batas waktu?” tiba tiba aku terhenti dan berpikir sejenak, sepertinya aku membuat kesalahan dengan menanyakan hal tersebut.
“Tidak …” jawab Dito tampak tidak senang.
“Oke oke bos,” balasku dengan senyum kecil muncul di samping bibirku.
Dito sejenak bergumam. “Menulis itu cumang sebagian dari pekerjaan, sisanya ada lagi besok,” balas Dito kali ini dengan santai dan tidak seserius diawal.
Aku menatap tajam ke arahnya. Sialan kau mengerjaiku.
“Ini belum apa apa,” Ia lalu mengeluarkan tangannya dari sakunya sambil membalikan badannya dan berjalan perlahan pergi dengan suara hentakan sepatu yang cukup keras.
Aku sama sekali tidak paham apa tujuannya namun aku memang tidak tahu harus ngapain lagi. Aku menarik badanku ke posisi tegap dan mendorong tubuhku yang masih berkunang kunang dengan memasang pondasi kedua lengan ke kursi dan mengambil tenaga berusaha naik dari tidurnya, mengambil konsentrasi, berdiri tegak sambil membusungkan sedikit dadaku, mengambil nafas dan pergi menuju tempat kerjaku.
Polling
0 suara
Karakter mana yang paling berkesan gansis?
Diubah oleh amriakhsan 14-11-2020 06:23
sampeuk dan 13 lainnya memberi reputasi
10
8.6K
46
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
amriakhsan
#6
iii.
Pijakan terasa semakin tenggelam ke dalam sepatu yang mulai terasa basah. telapak kaki yang kedinginan tidak sengaja menginjak kubangan air kecil saat berlari menuju ke kafe tempat kami bertemu. Kilau tetesan air menggantung di bulu mataku yang aku usap dan membuat wajahku kembali sedikit segar dengan rintikan air hujan. Tubuh mulai membeku menerjang hujan yang diburu oleh waktu.
Perasaanku yang mulai gugup perlahan memudar dengan disambut dengan aroma kopi yang menyengat namun nikmat di hidungku. Menarik nafas dalam dalam dengan kehangatan udara yang dibuatnya.
Mengambil langkah ke lantai dua, di atas mataku mulai mencari sosok Dewi yang akhirnya berhasil kudapatkan. Dengan mata tertegun menatap rintikan tiap tiap air hujan yang turun melalui layar jendela sembari merapikan kerudungnya. Dengan sweater dan rok hitam lebar dan panjang kebiasaannya, membuatku yakin kalau itu benar benar Dewi. Langkahku datang dengan berani menghampirinya sembari melihat bola matanya yang bersinar itu, yang sesaat kemudian melirik ke arahku, seakan sudah mengetahui kedatanganku.
“Hai Jaya,” sapanya.
Aku kemudian mulai kembali gugup dan kebingungan menjawabnya. “Ya,” balasku dengan sedikit seringai.
“Judes banget kayak biasa. Tapi kayaknya bajunya jadi berantakan gitu,” ucap Dewi memperhatikan pakaianku dari atas hingga bawah.
Aku tersentak kaget mendengar kata katanya itu. Apakah itu hal baik atau hal buruk, aku sama sekali tidak punya petunjuk mengenai hal itu. “Katanya ini model baru. Ya sesekali coba coba,” ucapku seadanya sambil membuat tawa.
“Iya kah?! Yaudah deh duduk aja dulu.”
“Iya Dew, gak nunggu lama kan?.” ucapku sambil menarik kursi kayu yang kokoh dan agak berat ini.
Mata Dewi seketika melebar, berkedip kedip beberapa kali, lalu melihatku dengan sedikit memiringkan kepalanya perlahan.
“Ada apa Dewi? apa … dandananku … salah ya?” tanyaku merespon gerak geriknya.
Dewi masih memperhatikanku terus selama beberapa detik, bibirnya mengkerut. “Sejak kapan kamu jadi keker begitu?”
Aku kembali dikejutkannya, ternyata memang benar benar berbeda dari yang ia kenal. “Iya nih, cumang jadi sering … olahraga belakangan ini,” balasku panik dan menahan grogi.
“Kamu jadi panik gitu. Bukannya bags ya kalo begitu, gak kurus kayak dulu, jadi macho,” jawabnya santai.
Aku hanya terkekeh mendengar kata katanya itu.
Wajahnya yang masih memperhatikanku kemudian mengalihkan matanya ke arah wajahku. “Aku malah suka kok kamu jadi gitu … cumang aku gak nyangka aja berubahnya jadi tiba tiba begitu,” jelasnya dengan matanya yang berkedip kedip heran disertai senyuman manis.
“Udah jangan diliatin mulu … ngeledek mulu dari dulu hobinya ….”
“Ish … aku jujur kok malah dibilang ngeledek,” jawab Dewi kesal.
Kedua tanganku berusaha menutupi wajahku karena malu. “Iya iya maaf … kamu kan tahu aku gak suka dipuji.”
Dewi menutup mulutnya lalu ia tertawa kecil. “Sengaja kok aku begitu … soalnya lucu sih ngeliat kamu begitu kalo digituin,” candanya.
Lalu obrolan kami mulai dengannya yang berusaha mengorek ngorek apa saja yang aku lakukan setelah lulus dan apa alasan aku jadi berubah begini. Awalnya aku kebingungan harus mulai dari bagian mana namun lidahku mulai mendapatkan garis kisahku dengan saudaraku mempekerjakanku sebagai IT support sekaligus sopir pribadi dengan dalih menemaninya berolahraga setiap harinya, aku sebenarnya tidak suka berbohong seperti ini apalagi pada Dewi, tapi aku tidak punya pilihan lain.
Dia awalnya tidak begitu percaya dengan ceritaku, namun aku melakukan pengalihan pembicaraan dengan bertanya padanya masalah koasnya dan akhirnya iapun mulai bercerita panjang lebar tanpa henti dari awal es di gelas yang bulat berubah menjadi butiran butiran kecil. Aku tidak begitu ingat apa yang ia katakan karena aku sibuk mengiakan ceritanya dan memandangi wajahnya yang sudah lama tidak kujumpai. Walaupun ia cukup bawel, tapi kalau perempuan cantik seperti dia yang bicara aku tidak bisa banyak protes dan yang hanya bisa kulakukan adalah menjadi pendengar yang baik. Terkadang ceritanya teralihkan dengan suara musik jazz yang masuk ke telingaku, ditambah dengan rintikan hujan yang semakin deras, membuat lantunan musiknya semakin indah dengan tambahan distorsi dari luar sana.
Sampai pada akhirnya bibirnya yang mulai kering mengambil seseruputan cangkir cokelat hangat yang tadi ia pesan tadi.
“Apa yang kau lihat Jaya, kenapa kau tidak minum punyamu, esnya sampai cair semua loh.”
Seketika sesuatu muncul dari kepalaku. Jemariku mulai menggenggam gelas besar itu berusaha untuk melontarkan bahan obrolan lagi. “Dew … bagaimana menurutmu dunia kedokteran saat perusahaan Sampurna telah sukses, apa itu akan membuatmu kehilangan pekerjaan sebagai dokter?” tanyaku penasaran.
Dewi bergumam dan matanya melirik ke arah langit langit. “Perusahaan itu ya … aku sebenarnya senang dengan adanya perkembangan tapi aku yakin tidak akan mempengaruhi pekerjaan dokter kok … malah pastinya semakin banyak orang sembuh akan lebih baik bukan,” jawab Dewi dengan memiringkan sedikit kepalanya dan senyum bahagia keluar dari wajahnya yang sepertinya niatnya yang tulus menjadi dokter.
“Bukannya dokter itu kalo nyembuhin pasien berarti kehilangan konsumer dong,” candaku.
Dewi kemudian terkekeh. “Ya … mungkin logis juga sih,tapi kan bukan begitu juga,” imbuhnya.
Setelah itu Dewi kembali bercerita tentang masa kecil kami yang sering sekali bermain ke rumah kakeknya. Dewi juga yatim piatu sama sepertiku, hanya saja dia sangat beruntung mempunyai kakek yang merawatnya sejak kecil dan tidak sepertiku yang dibuang oleh saudaraku sendiri, terkadang aku sangat iri dengan kehidupan orang lain.
Tidak sadar yang tersisa di dasar cangkir kami hanya sisa ampas coklat yang kental dan badanku mulai terasa dingin seiring dengan hilangnya suara hujan dan juga naiknya waktu malam, namun aku tidak bisa berhenti mendengar cerita cerita yang Dewi berikan padaku saat masa koasnya dan bagaimana ia berinteraksi dengan orang orang yang kucup terpencil namun setidaknya sudah ada listrik di mana mana sekarang katanya.
Konsentrasi kami pun mulai pudar saat mendengar suara erangan dari arah meja di pojok, suara itu semakin kencang dan mulai tidak terkendali. orang orang mulai berhamburan dan melihat ke arah orang itu, ia berdiri sambil memegang tangannya.
Aku dan Dewi kemudian juga ikut bangkit dan mulai menghampiri orang tersebut, di sampingnya ada seorang pelayan kafe yang berusaha memeganginya, namun ia justru malah mendorong orang itu dengan bahunya. Pria itu semakin menjerit kesakitan, bibirnya terangkat menunjukan giginya yang menggertak. Melihat matanya yang berhamburan ke berbagai arah, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu.
Semua orang mulai menonton dan merekam orang tersebut tanpa berani menolongnya. Secara tiba tiba ia berdiri, mengamuk dan berusaha menghantam orang orang di sekitarnya. Kemudian orang orang ikut berteriak dan berlari menjauh, beberapa dari orang itu terjatuh terkena sabetan tangannya itu. Sampai akhirnya ia menuju ke arah kami dan dengan sigap tanganku berhasil menangkis bagelannya.
Tanganku mulai bergetar, ia sama sekali tidak menarik tangannya dan berusaha memukul sekali lagi, melainkan ia mendorongku hanya dengan satu tangannya itu. Anehnya lagi aku bisa merasakan panas yang tidak normal darinya. Aku yang mulai tidak sanggup menahan tenaga raksasa itu kemudian secara paksa melakukan kuncian tangan dan menariknya ke arah belakang, membuatnya terperosok ke lantai.
Tidak lama ia kembali berdiri, kali ini matanya yang menyala merah menuju ke arahku. Kakiku mencoba mengambil langkah mundur sambil menjadi perisai Dewi.
“Pergi! biar ku urus dia” bisikku.
Dewi yang menurut mulai berlari menjauh dari arahku. Sekarang hanya ada lingkaran orang orang yang masih setia menonton dan kami berdua di dalam sebuah ring. Kuda kudaku terbuka dan mulai melihat gerak geriknya yang masih tidak jelas entah kemana.
Ia kemudian mulai menyambarku lagi dan kali ini dengan gerakan yang sama aku menangkisnya dengan satu tangan dan kemudian mencoba memberikan sebuah tinju ke perutnya. Pukulanku yang telak itu sama sekali tidak berdaya dengan perutnya yang sekeras batu itu. Ia lalu mengerang dengan keras dan mendorongku kembali, kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya hingga pijakanku goyah dan terlempar ke belakang terkena bogemannya itu.
Orang orang semakin teriak histeris melihatku terjatuh dengan mudahnya. Tanganku menapak ke lantai, berusaha menopang, mengangkat berat badanku sendiri yang kucoba kutarik ke posisi semula yang ternyata langsung disambut oleh serangannya lagi. Badanku kali ini lebih sigap mencoba menghindarinya, entah serangannya yang lambat atau gerakanku yang semakin cepat membuat serangannya yang lambat memudahkanku melakukan manuver dan mencari celah titik balas.
Setelah mengambill langkah mundur cepat, menghindari beberapa kali seragannya yang sengaja kubuat memutari ruangan besar ini, kemudian dengan gerakannya semakin melambat membuatku dapat melontarkan langkahku dengan cepat menuju sisinya dan melakukannya sekali lagi akhirnya langkahku tepat terhenti menatap tajam punggungnya yang terbuka. Aku tidak akan membuang kesempatan emas ini dan cepat melontarkan pukulan tapak ke punggungnya. Sekali lagi ia kehilangan keseimbangan dan tersungkur menghantam lantai.
Namun kali ini ia tidak bangkit lagi dan sekujur tubuhnya mulai bergetar. Tangan yang digunakan untuk memukulku tiba tiba memerah dan membengkak dengan cepat. Sampai akhirnya tubuhnya yang membesar itu mulai berhenti bergerak dan jari jarinya mulai menjadi kaku bersama seluruh persendiannya, badannya mematung di atas lantai.
Mataku menoleh ke arah Dewi, ia melihat orang itu dengan ketakutan tergambar jelas di wajahnya, ia bahkan sampai menutup setengah wajahnya seakan tidak sanggung melihat apa yang baru saja terjadi di depannya. Kemudian aku melangkah ke arahnya, ia menghiraukanku dan masih menatap tubuh kaku itu.
“Kamu gak kenapa kenapa kan?” tanyaku lembut, memegang pundaknya berusaha menenangkannya.
“Ya … tapi ... dia.”
Aku berusaha tegar dengan rasa terbakar di tanganku ini tetap memegang Dewi dan berharap agar ia tidak menangis. “Kalau kulihat ini sama kayak yang di berita berita itu. Orang orang mati mendadak dengan badan membengkak.”
Dewi yang mulai tidak sanggup menahan tatapan nya itu akhirnya berbalik dan kemudian memelukku dengan erat. Ia tidak menangis, tapi tubuhnya bergetar ketakutan karena kejadian barusan, namun aku mulai bisa merasakan sedikit perasaan basah merembes ke kemejaku. Aku tidak tahu ini adalah situasi yang baik atau buruk, tapi tidak ada alasan bagiku untuk menyingkirkan pelukannya dariku saat ini.
Pijakan terasa semakin tenggelam ke dalam sepatu yang mulai terasa basah. telapak kaki yang kedinginan tidak sengaja menginjak kubangan air kecil saat berlari menuju ke kafe tempat kami bertemu. Kilau tetesan air menggantung di bulu mataku yang aku usap dan membuat wajahku kembali sedikit segar dengan rintikan air hujan. Tubuh mulai membeku menerjang hujan yang diburu oleh waktu.
Perasaanku yang mulai gugup perlahan memudar dengan disambut dengan aroma kopi yang menyengat namun nikmat di hidungku. Menarik nafas dalam dalam dengan kehangatan udara yang dibuatnya.
Mengambil langkah ke lantai dua, di atas mataku mulai mencari sosok Dewi yang akhirnya berhasil kudapatkan. Dengan mata tertegun menatap rintikan tiap tiap air hujan yang turun melalui layar jendela sembari merapikan kerudungnya. Dengan sweater dan rok hitam lebar dan panjang kebiasaannya, membuatku yakin kalau itu benar benar Dewi. Langkahku datang dengan berani menghampirinya sembari melihat bola matanya yang bersinar itu, yang sesaat kemudian melirik ke arahku, seakan sudah mengetahui kedatanganku.
“Hai Jaya,” sapanya.
Aku kemudian mulai kembali gugup dan kebingungan menjawabnya. “Ya,” balasku dengan sedikit seringai.
“Judes banget kayak biasa. Tapi kayaknya bajunya jadi berantakan gitu,” ucap Dewi memperhatikan pakaianku dari atas hingga bawah.
Aku tersentak kaget mendengar kata katanya itu. Apakah itu hal baik atau hal buruk, aku sama sekali tidak punya petunjuk mengenai hal itu. “Katanya ini model baru. Ya sesekali coba coba,” ucapku seadanya sambil membuat tawa.
“Iya kah?! Yaudah deh duduk aja dulu.”
“Iya Dew, gak nunggu lama kan?.” ucapku sambil menarik kursi kayu yang kokoh dan agak berat ini.
Mata Dewi seketika melebar, berkedip kedip beberapa kali, lalu melihatku dengan sedikit memiringkan kepalanya perlahan.
“Ada apa Dewi? apa … dandananku … salah ya?” tanyaku merespon gerak geriknya.
Dewi masih memperhatikanku terus selama beberapa detik, bibirnya mengkerut. “Sejak kapan kamu jadi keker begitu?”
Aku kembali dikejutkannya, ternyata memang benar benar berbeda dari yang ia kenal. “Iya nih, cumang jadi sering … olahraga belakangan ini,” balasku panik dan menahan grogi.
“Kamu jadi panik gitu. Bukannya bags ya kalo begitu, gak kurus kayak dulu, jadi macho,” jawabnya santai.
Aku hanya terkekeh mendengar kata katanya itu.
Wajahnya yang masih memperhatikanku kemudian mengalihkan matanya ke arah wajahku. “Aku malah suka kok kamu jadi gitu … cumang aku gak nyangka aja berubahnya jadi tiba tiba begitu,” jelasnya dengan matanya yang berkedip kedip heran disertai senyuman manis.
“Udah jangan diliatin mulu … ngeledek mulu dari dulu hobinya ….”
“Ish … aku jujur kok malah dibilang ngeledek,” jawab Dewi kesal.
Kedua tanganku berusaha menutupi wajahku karena malu. “Iya iya maaf … kamu kan tahu aku gak suka dipuji.”
Dewi menutup mulutnya lalu ia tertawa kecil. “Sengaja kok aku begitu … soalnya lucu sih ngeliat kamu begitu kalo digituin,” candanya.
Lalu obrolan kami mulai dengannya yang berusaha mengorek ngorek apa saja yang aku lakukan setelah lulus dan apa alasan aku jadi berubah begini. Awalnya aku kebingungan harus mulai dari bagian mana namun lidahku mulai mendapatkan garis kisahku dengan saudaraku mempekerjakanku sebagai IT support sekaligus sopir pribadi dengan dalih menemaninya berolahraga setiap harinya, aku sebenarnya tidak suka berbohong seperti ini apalagi pada Dewi, tapi aku tidak punya pilihan lain.
Dia awalnya tidak begitu percaya dengan ceritaku, namun aku melakukan pengalihan pembicaraan dengan bertanya padanya masalah koasnya dan akhirnya iapun mulai bercerita panjang lebar tanpa henti dari awal es di gelas yang bulat berubah menjadi butiran butiran kecil. Aku tidak begitu ingat apa yang ia katakan karena aku sibuk mengiakan ceritanya dan memandangi wajahnya yang sudah lama tidak kujumpai. Walaupun ia cukup bawel, tapi kalau perempuan cantik seperti dia yang bicara aku tidak bisa banyak protes dan yang hanya bisa kulakukan adalah menjadi pendengar yang baik. Terkadang ceritanya teralihkan dengan suara musik jazz yang masuk ke telingaku, ditambah dengan rintikan hujan yang semakin deras, membuat lantunan musiknya semakin indah dengan tambahan distorsi dari luar sana.
Sampai pada akhirnya bibirnya yang mulai kering mengambil seseruputan cangkir cokelat hangat yang tadi ia pesan tadi.
“Apa yang kau lihat Jaya, kenapa kau tidak minum punyamu, esnya sampai cair semua loh.”
Seketika sesuatu muncul dari kepalaku. Jemariku mulai menggenggam gelas besar itu berusaha untuk melontarkan bahan obrolan lagi. “Dew … bagaimana menurutmu dunia kedokteran saat perusahaan Sampurna telah sukses, apa itu akan membuatmu kehilangan pekerjaan sebagai dokter?” tanyaku penasaran.
Dewi bergumam dan matanya melirik ke arah langit langit. “Perusahaan itu ya … aku sebenarnya senang dengan adanya perkembangan tapi aku yakin tidak akan mempengaruhi pekerjaan dokter kok … malah pastinya semakin banyak orang sembuh akan lebih baik bukan,” jawab Dewi dengan memiringkan sedikit kepalanya dan senyum bahagia keluar dari wajahnya yang sepertinya niatnya yang tulus menjadi dokter.
“Bukannya dokter itu kalo nyembuhin pasien berarti kehilangan konsumer dong,” candaku.
Dewi kemudian terkekeh. “Ya … mungkin logis juga sih,tapi kan bukan begitu juga,” imbuhnya.
Setelah itu Dewi kembali bercerita tentang masa kecil kami yang sering sekali bermain ke rumah kakeknya. Dewi juga yatim piatu sama sepertiku, hanya saja dia sangat beruntung mempunyai kakek yang merawatnya sejak kecil dan tidak sepertiku yang dibuang oleh saudaraku sendiri, terkadang aku sangat iri dengan kehidupan orang lain.
Tidak sadar yang tersisa di dasar cangkir kami hanya sisa ampas coklat yang kental dan badanku mulai terasa dingin seiring dengan hilangnya suara hujan dan juga naiknya waktu malam, namun aku tidak bisa berhenti mendengar cerita cerita yang Dewi berikan padaku saat masa koasnya dan bagaimana ia berinteraksi dengan orang orang yang kucup terpencil namun setidaknya sudah ada listrik di mana mana sekarang katanya.
Konsentrasi kami pun mulai pudar saat mendengar suara erangan dari arah meja di pojok, suara itu semakin kencang dan mulai tidak terkendali. orang orang mulai berhamburan dan melihat ke arah orang itu, ia berdiri sambil memegang tangannya.
Aku dan Dewi kemudian juga ikut bangkit dan mulai menghampiri orang tersebut, di sampingnya ada seorang pelayan kafe yang berusaha memeganginya, namun ia justru malah mendorong orang itu dengan bahunya. Pria itu semakin menjerit kesakitan, bibirnya terangkat menunjukan giginya yang menggertak. Melihat matanya yang berhamburan ke berbagai arah, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu.
Semua orang mulai menonton dan merekam orang tersebut tanpa berani menolongnya. Secara tiba tiba ia berdiri, mengamuk dan berusaha menghantam orang orang di sekitarnya. Kemudian orang orang ikut berteriak dan berlari menjauh, beberapa dari orang itu terjatuh terkena sabetan tangannya itu. Sampai akhirnya ia menuju ke arah kami dan dengan sigap tanganku berhasil menangkis bagelannya.
Tanganku mulai bergetar, ia sama sekali tidak menarik tangannya dan berusaha memukul sekali lagi, melainkan ia mendorongku hanya dengan satu tangannya itu. Anehnya lagi aku bisa merasakan panas yang tidak normal darinya. Aku yang mulai tidak sanggup menahan tenaga raksasa itu kemudian secara paksa melakukan kuncian tangan dan menariknya ke arah belakang, membuatnya terperosok ke lantai.
Tidak lama ia kembali berdiri, kali ini matanya yang menyala merah menuju ke arahku. Kakiku mencoba mengambil langkah mundur sambil menjadi perisai Dewi.
“Pergi! biar ku urus dia” bisikku.
Dewi yang menurut mulai berlari menjauh dari arahku. Sekarang hanya ada lingkaran orang orang yang masih setia menonton dan kami berdua di dalam sebuah ring. Kuda kudaku terbuka dan mulai melihat gerak geriknya yang masih tidak jelas entah kemana.
Ia kemudian mulai menyambarku lagi dan kali ini dengan gerakan yang sama aku menangkisnya dengan satu tangan dan kemudian mencoba memberikan sebuah tinju ke perutnya. Pukulanku yang telak itu sama sekali tidak berdaya dengan perutnya yang sekeras batu itu. Ia lalu mengerang dengan keras dan mendorongku kembali, kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya hingga pijakanku goyah dan terlempar ke belakang terkena bogemannya itu.
Orang orang semakin teriak histeris melihatku terjatuh dengan mudahnya. Tanganku menapak ke lantai, berusaha menopang, mengangkat berat badanku sendiri yang kucoba kutarik ke posisi semula yang ternyata langsung disambut oleh serangannya lagi. Badanku kali ini lebih sigap mencoba menghindarinya, entah serangannya yang lambat atau gerakanku yang semakin cepat membuat serangannya yang lambat memudahkanku melakukan manuver dan mencari celah titik balas.
Setelah mengambill langkah mundur cepat, menghindari beberapa kali seragannya yang sengaja kubuat memutari ruangan besar ini, kemudian dengan gerakannya semakin melambat membuatku dapat melontarkan langkahku dengan cepat menuju sisinya dan melakukannya sekali lagi akhirnya langkahku tepat terhenti menatap tajam punggungnya yang terbuka. Aku tidak akan membuang kesempatan emas ini dan cepat melontarkan pukulan tapak ke punggungnya. Sekali lagi ia kehilangan keseimbangan dan tersungkur menghantam lantai.
Namun kali ini ia tidak bangkit lagi dan sekujur tubuhnya mulai bergetar. Tangan yang digunakan untuk memukulku tiba tiba memerah dan membengkak dengan cepat. Sampai akhirnya tubuhnya yang membesar itu mulai berhenti bergerak dan jari jarinya mulai menjadi kaku bersama seluruh persendiannya, badannya mematung di atas lantai.
Mataku menoleh ke arah Dewi, ia melihat orang itu dengan ketakutan tergambar jelas di wajahnya, ia bahkan sampai menutup setengah wajahnya seakan tidak sanggung melihat apa yang baru saja terjadi di depannya. Kemudian aku melangkah ke arahnya, ia menghiraukanku dan masih menatap tubuh kaku itu.
“Kamu gak kenapa kenapa kan?” tanyaku lembut, memegang pundaknya berusaha menenangkannya.
“Ya … tapi ... dia.”
Aku berusaha tegar dengan rasa terbakar di tanganku ini tetap memegang Dewi dan berharap agar ia tidak menangis. “Kalau kulihat ini sama kayak yang di berita berita itu. Orang orang mati mendadak dengan badan membengkak.”
Dewi yang mulai tidak sanggup menahan tatapan nya itu akhirnya berbalik dan kemudian memelukku dengan erat. Ia tidak menangis, tapi tubuhnya bergetar ketakutan karena kejadian barusan, namun aku mulai bisa merasakan sedikit perasaan basah merembes ke kemejaku. Aku tidak tahu ini adalah situasi yang baik atau buruk, tapi tidak ada alasan bagiku untuk menyingkirkan pelukannya dariku saat ini.
simounlebon dan 3 lainnya memberi reputasi
4