- Beranda
- Stories from the Heart
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati
...
TS
sandriaflow
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati

Quote:
Spoiler for Daftar Bab:
Diubah oleh sandriaflow 01-12-2020 19:11
rizetamayosh295 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
14.9K
134
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sandriaflow
#88
Bab 42: Sebuah Jawaban
JOJO
Kota Jogja selalu saja istimewa. Membuat orang-orang selalu rindu ingin kembali ke sana. Tak terkecuali Jojo. Ia memutuskan untuk kembali ke Jogja. Seperti halnya kemarin, dia masih meminta bantuan dari Dul selama dia berada di Jogja.
Hati Jojo sudah mulai membaik dibandingkan malam ketika ia membaca surat keparat itu. Dia mencoba mendinginkan kepala dan berpikir secara jernih hingga ia bisa membuat kesimpulan yang terbaik untuk hubungan dia dan Rara ke depan.
Jojo sampai di Jogja pukul enam sore. Dia juga sudah membuat janji dengan Rara untuk bertemu besok di sebuah kafe di kota Jogja. Pertemuan dia kali ini akan menjadi kunci dari hubungan mereka berdua.
***
Tepat pukul empat sore, Jojo bertemu dengan Rara di kafe yang sangat dekat dengan Benteng Vredeburg. Ia memesan menu andalan kafe tersebut, yaitu kopi dengan campuran sirup Kahlua yang katanya sangat menarik untuk dicoba.
Kebetulan, Rara juga datang tepat waktu. Ia memesan minuman dingin dan juga kentang goreng sebagai cemilan, meskipun dia sendiri menyadari bahwa pertemuan kali ini akan mengantarkan mereka pada perbincangan yang serius dan mungkin juga menguras emosi mereka berdua.
Mereka berdua duduk berhadapan disaksikan oleh pesona langit sore Jogja yang meneduhkan. Keduanya saling terdiam menahan gejolak yang berkecamuk di benak masing-masing.
Sementara itu, Jojo masih bingung menyusun kata-kata yang ada di dalam kepalanya. Rasanya, kata itu sangat sulit terucap. Semua terasa kaku. Dan juga ambigu. Demikian pula dengan Rara yang terlihat gugup dan ragu untuk memulai percakapan terlebih dahulu.
“Ehm… to the point aja, ya, Ra,” Jojo akhirnya membuka suara.
“Sebelum itu, aku pengen minta maaf, Jo. Maaf atas segala kesalahanku,” ucap Rara pelan dengan mata tertunduk menatap ke arah gelas minumannya.
“Aku tidak ingin membicarakan hal itu. Aku sudah mamaafkanmu. Yang kuperlukan saat ini adalah kejelasan hubungan kita, Ra. Kamu hanya ingin tahu perasaan kamu,”
“Mungkin ini terdengar menyakitkan, Jo. Namun, aku belum siap untuk memulai kembali sebuah hubungan. Semua harapanku sudah hancur sia-sia. Meskipun aku saat ini menjalin kembali hubungan denganmu, aku takut nanti malah membuatmu lebih sakit,”
“Aku paham, Ra. Hanya itu alasanku kemari. Aku hanya butuh jawaban,”
“Ehm… kupikir kita memang lebih baik berteman, Ra. Aku masih perlu waktu untuk sendiri. Aku ingin mengejar mimpi-mimpiku dulu. Aku yakin, kita akan bahagia dengan cara kita masing-masing tanpa harus bersama,”
“Sekali lagi, aku minta maaf, Jo. Terima kasih atas semua yang kamu berikan kepadaku, Jo. Aku tidak akan pernah melupakanmu karena kamu adalah mantan terindahku,” ucap Rara.
Sebelum mereka berpisah, Jojo mengembalikan buku bersampul boneka beruang sekaligus kenang-kenangan terakhir kepada Rara, sebuah gelang yang sepertinya cocok untuk perempuan itu.
“Terserah kamu, mau memakai gelang itu atau tidak. Yang jelas, kamu harus ingat bahwa ada seorang lelaki yang sangat menyayangimu, Ra. Aku doakan kamu bahagia, ya,” ucap Jojo untuk yang terakhir kalinya.
Langit sore yang biasanya indah kini terasa menyakitkan. Jojo memutuskan untuk berpisah dengan Rara. Jojo sadar bahwa balikan memang bukanlah pilihan terbaik bagi mereka berdua karena pada hakikatnya hati mereka masih perlu waktu untuk menyesuaikan kembali dengan keadaan. Jojo merasa kenangan-kenangan yang mereka lalui kemarin hanyalah sebatas euforia semata.
Hati Jojo tidak benar-benar mencintai Rara sebagaimana ia mencintai Rara di masa lalu. Waktu telah merubah segalanya.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Jojo menyandarkan kepalanya pada kaca jendela kereta sembari menatap pemandangan luar yang nyatanya tak mampu meneduhkan hatinya. Tak lupa juga, ia memutar lagu “Pamit” dari Tulus untuk menenangkan hatinya.
Kesedihan yang sejak tadi dia pendam karena ia tidak ingin terlihat cengeng, akhirnya kini tumpah menjadi air mata yang tak bisa berhenti menetes. Kenyataan sangat sulit untuk dia terima.
“Mas, ini ada tisu? Kalau butuh teman bercerita, jangan sungkan!” ujar seorang penumpang yang duduk di sebelahnya.
“Makasih, Bu. Saya nggak yakin apa saya sanggup bercerita,” balasnya kepada ibu-ibu yang sudah berbaik hati menawarinya tisu. Meskipun hatinya masih bersedih, tidak ada salahnya dia bercerita kepada ibu-ibu tersebut. Barangkali, kesedihannya dapat berkurang dengan cara bercerita.
Alhasil, Jojo bercerita panjang lebar tentang kisahnya bersama Rara kepada ibu-ibu itu. Mendengar cerita Jojo yang menarik untuk didengar, penumpang di depannya pun ikut menyimak cerita itu baik-baik.
Di akhir cerita, mereka yang mendengar cerita Jojo ikut bersedih. Yang paling menggelikan, ibu-ibu yang menawari Jojo tisu ikut menangis sesenggukan. Tangisannya bahkan terdengar lebih kencang hingga membuat penumpang yang lain sedikit terganggu.
“Yang sabar, ya, Mas. Jodoh sudah ada yang mengatur,” ujar ibu itu menyemangati jiwa Jojo yang tengah rapuh.
“Iya, Mas. Semangat,” sahut penumpang yang lain.
Jojo tersenyum. Ia merasa beban di hatinya berkurang. Mungkin ini memang jalan terbaik yang telah digariskan oleh Tuhan.
***
Kereta Marlboro Express itu telah sempurna berhenti di stasiun kota Malang. Semua penumpang turun satu per satu. Dengan langkah gontai dan lesu, Jojo perlahan turun dan melangkah menuju pintu keluar stasiun. Kedua matanya sayu dan semangatnya meredup.
Di dekat pintu keluar, ketiga sahabat baiknya sudah menunggu kedatangannya. Jojo mendekat ke arah mereka. Tersenyum palsu.
“Kau harus kuat, Jo,” ucap mereka serempak. Lalu, ketiga sahabatnya memeluk tubuh Jojo dengan erat. Membuat orang-orang di sekitar mereka merasa terheran-heran.
Kota Jogja selalu saja istimewa. Membuat orang-orang selalu rindu ingin kembali ke sana. Tak terkecuali Jojo. Ia memutuskan untuk kembali ke Jogja. Seperti halnya kemarin, dia masih meminta bantuan dari Dul selama dia berada di Jogja.
Hati Jojo sudah mulai membaik dibandingkan malam ketika ia membaca surat keparat itu. Dia mencoba mendinginkan kepala dan berpikir secara jernih hingga ia bisa membuat kesimpulan yang terbaik untuk hubungan dia dan Rara ke depan.
Jojo sampai di Jogja pukul enam sore. Dia juga sudah membuat janji dengan Rara untuk bertemu besok di sebuah kafe di kota Jogja. Pertemuan dia kali ini akan menjadi kunci dari hubungan mereka berdua.
***
Tepat pukul empat sore, Jojo bertemu dengan Rara di kafe yang sangat dekat dengan Benteng Vredeburg. Ia memesan menu andalan kafe tersebut, yaitu kopi dengan campuran sirup Kahlua yang katanya sangat menarik untuk dicoba.
Kebetulan, Rara juga datang tepat waktu. Ia memesan minuman dingin dan juga kentang goreng sebagai cemilan, meskipun dia sendiri menyadari bahwa pertemuan kali ini akan mengantarkan mereka pada perbincangan yang serius dan mungkin juga menguras emosi mereka berdua.
Mereka berdua duduk berhadapan disaksikan oleh pesona langit sore Jogja yang meneduhkan. Keduanya saling terdiam menahan gejolak yang berkecamuk di benak masing-masing.
Sementara itu, Jojo masih bingung menyusun kata-kata yang ada di dalam kepalanya. Rasanya, kata itu sangat sulit terucap. Semua terasa kaku. Dan juga ambigu. Demikian pula dengan Rara yang terlihat gugup dan ragu untuk memulai percakapan terlebih dahulu.
“Ehm… to the point aja, ya, Ra,” Jojo akhirnya membuka suara.
“Sebelum itu, aku pengen minta maaf, Jo. Maaf atas segala kesalahanku,” ucap Rara pelan dengan mata tertunduk menatap ke arah gelas minumannya.
“Aku tidak ingin membicarakan hal itu. Aku sudah mamaafkanmu. Yang kuperlukan saat ini adalah kejelasan hubungan kita, Ra. Kamu hanya ingin tahu perasaan kamu,”
“Mungkin ini terdengar menyakitkan, Jo. Namun, aku belum siap untuk memulai kembali sebuah hubungan. Semua harapanku sudah hancur sia-sia. Meskipun aku saat ini menjalin kembali hubungan denganmu, aku takut nanti malah membuatmu lebih sakit,”
“Aku paham, Ra. Hanya itu alasanku kemari. Aku hanya butuh jawaban,”
“Ehm… kupikir kita memang lebih baik berteman, Ra. Aku masih perlu waktu untuk sendiri. Aku ingin mengejar mimpi-mimpiku dulu. Aku yakin, kita akan bahagia dengan cara kita masing-masing tanpa harus bersama,”
“Sekali lagi, aku minta maaf, Jo. Terima kasih atas semua yang kamu berikan kepadaku, Jo. Aku tidak akan pernah melupakanmu karena kamu adalah mantan terindahku,” ucap Rara.
Sebelum mereka berpisah, Jojo mengembalikan buku bersampul boneka beruang sekaligus kenang-kenangan terakhir kepada Rara, sebuah gelang yang sepertinya cocok untuk perempuan itu.
“Terserah kamu, mau memakai gelang itu atau tidak. Yang jelas, kamu harus ingat bahwa ada seorang lelaki yang sangat menyayangimu, Ra. Aku doakan kamu bahagia, ya,” ucap Jojo untuk yang terakhir kalinya.
Langit sore yang biasanya indah kini terasa menyakitkan. Jojo memutuskan untuk berpisah dengan Rara. Jojo sadar bahwa balikan memang bukanlah pilihan terbaik bagi mereka berdua karena pada hakikatnya hati mereka masih perlu waktu untuk menyesuaikan kembali dengan keadaan. Jojo merasa kenangan-kenangan yang mereka lalui kemarin hanyalah sebatas euforia semata.
Hati Jojo tidak benar-benar mencintai Rara sebagaimana ia mencintai Rara di masa lalu. Waktu telah merubah segalanya.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Jojo menyandarkan kepalanya pada kaca jendela kereta sembari menatap pemandangan luar yang nyatanya tak mampu meneduhkan hatinya. Tak lupa juga, ia memutar lagu “Pamit” dari Tulus untuk menenangkan hatinya.
Kesedihan yang sejak tadi dia pendam karena ia tidak ingin terlihat cengeng, akhirnya kini tumpah menjadi air mata yang tak bisa berhenti menetes. Kenyataan sangat sulit untuk dia terima.
“Mas, ini ada tisu? Kalau butuh teman bercerita, jangan sungkan!” ujar seorang penumpang yang duduk di sebelahnya.
“Makasih, Bu. Saya nggak yakin apa saya sanggup bercerita,” balasnya kepada ibu-ibu yang sudah berbaik hati menawarinya tisu. Meskipun hatinya masih bersedih, tidak ada salahnya dia bercerita kepada ibu-ibu tersebut. Barangkali, kesedihannya dapat berkurang dengan cara bercerita.
Alhasil, Jojo bercerita panjang lebar tentang kisahnya bersama Rara kepada ibu-ibu itu. Mendengar cerita Jojo yang menarik untuk didengar, penumpang di depannya pun ikut menyimak cerita itu baik-baik.
Di akhir cerita, mereka yang mendengar cerita Jojo ikut bersedih. Yang paling menggelikan, ibu-ibu yang menawari Jojo tisu ikut menangis sesenggukan. Tangisannya bahkan terdengar lebih kencang hingga membuat penumpang yang lain sedikit terganggu.
“Yang sabar, ya, Mas. Jodoh sudah ada yang mengatur,” ujar ibu itu menyemangati jiwa Jojo yang tengah rapuh.
“Iya, Mas. Semangat,” sahut penumpang yang lain.
Jojo tersenyum. Ia merasa beban di hatinya berkurang. Mungkin ini memang jalan terbaik yang telah digariskan oleh Tuhan.
***
Kereta Marlboro Express itu telah sempurna berhenti di stasiun kota Malang. Semua penumpang turun satu per satu. Dengan langkah gontai dan lesu, Jojo perlahan turun dan melangkah menuju pintu keluar stasiun. Kedua matanya sayu dan semangatnya meredup.
Di dekat pintu keluar, ketiga sahabat baiknya sudah menunggu kedatangannya. Jojo mendekat ke arah mereka. Tersenyum palsu.
“Kau harus kuat, Jo,” ucap mereka serempak. Lalu, ketiga sahabatnya memeluk tubuh Jojo dengan erat. Membuat orang-orang di sekitar mereka merasa terheran-heran.
coxi98 memberi reputasi
1