- Beranda
- Stories from the Heart
Son of the Rich (Reborn)
...
TS
kawan.betina
Son of the Rich (Reborn)

Quote:
Lembaran pertama - Kota Malang
Bokap gua kerja di salah satu perusahaan asing penambang emas di pulau sumbawa sedangkan nyokap mempunyai beberapa butik dan bisnis makanan yang cukup besar di kota kelahiran gua. dan Perkenalkan nama Gua adrian, anak semata wayang dua sejoli yang bertemu saat bermitra bisnis 25 tahun yang lalu. Gua lahir ke dunia dengan sebuah pengharapan yang besar. Karena untuk mendapatkan Gua, orang tua gua harus menunggu lebih dari 5 tahun.
Hidup serba ada bahkan terlalu berlebihan, pakaian serba bermerk gadget yang selalu menemani gua setiap saat dan mobil yang selalu menemani gw kemana aja, semua itu cukup membutakan gua seperti apa arti dari sebuah perjuangan hidup. Jujur, guaga pernah merasakan rasanya mengumpulkan uang sendiri bahkan hanya untuk membeli sepeda yang gua pengen. ketika mata ini melihat sebuah benda menarik, maka nyokap gua akan bilang, "Adrian Mau?" dan sorenya barang itu sudah ada di rumah. Gua paham nyokap ingin sekali membuat gua bahagia tapi kadang gua merasa ga bisa menikmati hidup ini dengan baik. Dengan Uang mungkin kita bisa bahagia, tapi kita tidak bisa membeli kebahagiaan dengan uang.
Super Duper Over Protektif
itulah hal yang bisa gua simpulkan tentang keluarga gua. Walau Gua hanya bertemu mereka saat weekend saja tapi kalau sudah menyangkut tentang masa depan gua, mereka akan melupakan semuanya dan menitik beratkan fokusnya ke gua.
Gua bukan orang yang bodoh, gua selalu mendapat peringkat 1 dari Sekolah dasar hingga sekarang, tentu kecerdasan gua turun dari bokap dan nyokap. Mereka adalah dua sejoli yang sangat ideal, mereka sama sama pintar dan mereka adalah 2 manusia yang diberikan paras yang cantik dan tampan oleh tuhan , alhasil semua kelebihan itu menurun ke gua.
Untuk urusan masuk sekolah, Orang tua gua selalu sangat hati hati. Saking hati hatinya, Gua bahkan sudah diterima di sekolah menengah atas sebelum gua menjalankan tes masuk. Apalagi lagi kalo bukan karena bokap gua menghubungi kepala sekolah yang merupakan teman lamanya, padahal gua sangat yakin, gua tetep bisa masuk tanpa bantuan mereka. Waktu itu gua marah besar tapi orang tua tetaplah orang tua, mereka selalu ingin anaknya bahagia apapun caranya.
Ketika para siswa sibuk mencari PTN dengan mengikuti berbagai macam Bimbingan Belajar, gua dengan begitu Mudah mendapat tiket masuk disalah satu PTN terbaik di indonesia, tentu sudah bisa ditebak , semua ini karena bokap gua. Untuk kali ini gua memutuskan untuk berontak, tak ingin lagi rasanya gua mengunakan kekuatan orang tua gua buat ngelakuain semuanya.
Hanya berbekal baju yang gua masukin ke Tas Ransel, serta Dompet yang berisi hanya beberapa uang lima puluh ribuan dan ATM yang entah berapa isinya dan ijazah SMA. Gua menuju terminal Bus, mencari loket tiket yang berangkat hari itu juga, Gua memutuskan naik Bus karena Beberapa orang di bandara mengenal Gua. Satu persatu Loket tiket gua datangi, mancari bus-bus yang bisa segera berangkat, menuju Jogja, solo surabaya, bandung, atau entahlah, yang penting gua harus segera pergi dari pulau yang gua diami 17 tahun terakhir, Lombok.
Hanya Tiket Mataram~malang yang ada untuk keberangkatan 1 jam lagi, yang akhirnya diputuskan mungkin gua harus pergi ke malang, 1 jam lagi bus tiba, dan ini pertama kalinya gua harus jauh dari kedua orang tua gua.
NEXT
Sekitar Pukul 4 pagi, bus sudah tiba di sebuah terminal kota malang, ada nuansa berbeda yang gua rasakan di sini. Hawa yang lebih dingin dan tentu perasaan gua yang ga menentu akibat ulah gua ini. Mungkin bokap nyokap gua lagi panik di rumah, ada sedikit rasa bersalah dalem diri gua tapi semoga surat yang gua tulis bisa membuat nyokap gua agak lega.
Ponsel gw sempat berbunyi saat gua menyebrang dari bali ke banyuwangi. Mungkin 10 kali atau 20 kali atau mungkin lebih, dan semua adalah misscall dari nyokap gua. Tanpa pikir panjang ponesl itu gua buang ke laut, beberapa saat kemudian gua sedikit menyesal, kenapa harus gua buang, kenapa ga gua kasih ke orang agar lebih bermanfaat, mungkin ini hasil dari didikan manja orang tua gua, semua jadi serba mudah.
Uang di dompet gua udah kosong melompong untuk membeli tiket dan beli makanan di jalan. Gua mencoba mengelilingi Terminal arjosari untuk mencari ATM di deket sana. Hampir 10 menit gua lalu lalang lalu akhirnya gua bisa bernafas lega, ternyata ATM tidak terlalu jauh dari tempat gua turun tadi. Setelah mengambil beberapa juta dari mesin ATM setelah menarik uang sebanyak 2 kali, Gua mengambil kertas struk yang sudah gua buang ke tempat sampah tadi. Saat gua mengecek nominalnya sebuah angka 1 dan ada 8 digit angka mengikutinya dibelakang, waw... sebanyak inikah uang yang dikirimkan bokap Gua selama ini, setahuku ATM ini diberikan saat ujian nasional kemarin, gua meminta uang hanya buat perpisahan dengan teman teman kelas gw. "Pa ini terlalu banyak".....
Gua masih berdiri di depan ATM. Gua sedang berfikir untuk segera mencari kendaraan untuk menuju kampus-kampus yang ada di kota ini, yang pertama terfikirkan adalah taxi tapi beberapa saat kemudian gua menghapus jauh jauh fikiran itu, gua harus hidup sederhana dan pilihan gua jatuh ke angkot. Mungkin karena gua terlalu fokus menyusun rencana , gua ga sadar bahwa ada seseorang di dekat gua, dari perawakannya dia masih seusia gua, dan dia seorang cewek.
"Mahasiswa baru juga?"
Gua celingak celingkuk mencari siapa yang diajak ngobrol cewek ini.
"Gua bukan indigo yang ngomong sendiri, gua ngomong sama elo" tanya cewek itu sedikit tersenyum melihat kebingungan gua.
"Oh Maaf, maaf. gak kok, eh ya."
Gadis itu lalu tertawa kecil melihat kebingungan gua. Ia sepertinya sudah berdiri di depan ATM sejak gua datang tadi. mungkin dia sedang bosan menunggu.
"Ya atau ga?" pancingnya.
"Gak, gua baru mau tes" jawab gua jujur, walau gak tahu harus tes dimana.
"Oalah, mau ikut tes mandiri toh"
"Mungkin begitu"
"Mungkin?" cewek itu mengerutkan dahu lalu dia tersenyum lebar melihat gua.
"Elu lucu ya, kok kayak linglung gitu" sambungnya.
"Makasih" jawab gua ragu.
"Itu bukan pujian loh"
"Oh maaf" jawabku ragu.
"Hahaha, Bercanda kok,emang elo mau kemana?"
"Kampus" jawabku ragu.
"Kampus apa? kan di sini ada puluhan kampus"
"Yang ada di malang"
"kan memang kita kan lagi dimalang"
"Yang deket deket aja mungkin" jawabku ragu. bodohnya aku gak cari referensi sebelum datang ke sini"
"hahaha... deket dari mana, kamu lucu ya"
"Gua harus bilang makasih atau maaf nih?" takut itu malah hinaan.
"Apa aja deh, kenalin nama gua Friska. Gua mahasiswa baru di Universitas Wijaya" dia mengulurkan tangannya untuk menjabat.
"Gua Adrian.. mmm mantan anak SMA " Jawab gua seraya menjabat tangannya.
"hahaha... ada ada sih aja elo"
"elo ngambil apa di Wijaya?"
"Gua?, Biologi"
"Biologi? mmm belajar biologi seru?" tanyaku penasaran.
"Kalo Gua sih suka, emang elo minatnya apa?"
"Yang bisa ngebuat hidup ini lebih seru dan asik" jawabku jujur. Selama ini hal yang gua idam idamkan.
"hahaha diplomatis bin ngawur jawaban elo" jawab friska.
"Bukan diplomatis, lebih tepatnya Gua bingung aja"
"Bingung? Bingung kenapa?"
TIIIINNN TIIINNNN
Suara klakson motor membuyarkan obrolan kami, seorang cewek berhenti di depan kami berdua.
"Frish udah lama?" tanya cewek yang baru datang itu.
"Udah kering neh gigi gua nunggu elo" jawab friska.
"Maaf maaf, tadi agak macet maklum weekend"
"Gua maafin asal lo traktir gua es cream" goda Friska.
"Ih maruk sekali, udah minta di jemput, sekarang minta di traktir. Nunggunya sama cowok ganteng lagi"
"Eh dasar mulut elo nyablak bener seh, oh iya adrian gw duluan ya, sukses buat Tesnya, ayok bela, tarik"
"Tarik tarik, emang gw angkot"..
"Becanda bela"
"Bener neh gua ga dikenalain nih?"
"Eh elo apa apan sih, malu maluin aja, ayo berangkat"
"Duluan ya ganteng" kata cewek yang dipanggil bela oleh Friska tadi.
Mareka akhirnya melaju memecah kota malang.
Friska, orang pertama yang gua kenal di kota ini.
Oke, Gua udah mutusin buat ikut tes mandiri Universitas Wijaya, jurusan Biologi.
Bokap gua kerja di salah satu perusahaan asing penambang emas di pulau sumbawa sedangkan nyokap mempunyai beberapa butik dan bisnis makanan yang cukup besar di kota kelahiran gua. dan Perkenalkan nama Gua adrian, anak semata wayang dua sejoli yang bertemu saat bermitra bisnis 25 tahun yang lalu. Gua lahir ke dunia dengan sebuah pengharapan yang besar. Karena untuk mendapatkan Gua, orang tua gua harus menunggu lebih dari 5 tahun.
Hidup serba ada bahkan terlalu berlebihan, pakaian serba bermerk gadget yang selalu menemani gua setiap saat dan mobil yang selalu menemani gw kemana aja, semua itu cukup membutakan gua seperti apa arti dari sebuah perjuangan hidup. Jujur, guaga pernah merasakan rasanya mengumpulkan uang sendiri bahkan hanya untuk membeli sepeda yang gua pengen. ketika mata ini melihat sebuah benda menarik, maka nyokap gua akan bilang, "Adrian Mau?" dan sorenya barang itu sudah ada di rumah. Gua paham nyokap ingin sekali membuat gua bahagia tapi kadang gua merasa ga bisa menikmati hidup ini dengan baik. Dengan Uang mungkin kita bisa bahagia, tapi kita tidak bisa membeli kebahagiaan dengan uang.
Super Duper Over Protektif
itulah hal yang bisa gua simpulkan tentang keluarga gua. Walau Gua hanya bertemu mereka saat weekend saja tapi kalau sudah menyangkut tentang masa depan gua, mereka akan melupakan semuanya dan menitik beratkan fokusnya ke gua.
Gua bukan orang yang bodoh, gua selalu mendapat peringkat 1 dari Sekolah dasar hingga sekarang, tentu kecerdasan gua turun dari bokap dan nyokap. Mereka adalah dua sejoli yang sangat ideal, mereka sama sama pintar dan mereka adalah 2 manusia yang diberikan paras yang cantik dan tampan oleh tuhan , alhasil semua kelebihan itu menurun ke gua.
Untuk urusan masuk sekolah, Orang tua gua selalu sangat hati hati. Saking hati hatinya, Gua bahkan sudah diterima di sekolah menengah atas sebelum gua menjalankan tes masuk. Apalagi lagi kalo bukan karena bokap gua menghubungi kepala sekolah yang merupakan teman lamanya, padahal gua sangat yakin, gua tetep bisa masuk tanpa bantuan mereka. Waktu itu gua marah besar tapi orang tua tetaplah orang tua, mereka selalu ingin anaknya bahagia apapun caranya.
Ketika para siswa sibuk mencari PTN dengan mengikuti berbagai macam Bimbingan Belajar, gua dengan begitu Mudah mendapat tiket masuk disalah satu PTN terbaik di indonesia, tentu sudah bisa ditebak , semua ini karena bokap gua. Untuk kali ini gua memutuskan untuk berontak, tak ingin lagi rasanya gua mengunakan kekuatan orang tua gua buat ngelakuain semuanya.
Hanya berbekal baju yang gua masukin ke Tas Ransel, serta Dompet yang berisi hanya beberapa uang lima puluh ribuan dan ATM yang entah berapa isinya dan ijazah SMA. Gua menuju terminal Bus, mencari loket tiket yang berangkat hari itu juga, Gua memutuskan naik Bus karena Beberapa orang di bandara mengenal Gua. Satu persatu Loket tiket gua datangi, mancari bus-bus yang bisa segera berangkat, menuju Jogja, solo surabaya, bandung, atau entahlah, yang penting gua harus segera pergi dari pulau yang gua diami 17 tahun terakhir, Lombok.
Hanya Tiket Mataram~malang yang ada untuk keberangkatan 1 jam lagi, yang akhirnya diputuskan mungkin gua harus pergi ke malang, 1 jam lagi bus tiba, dan ini pertama kalinya gua harus jauh dari kedua orang tua gua.
NEXT
Sekitar Pukul 4 pagi, bus sudah tiba di sebuah terminal kota malang, ada nuansa berbeda yang gua rasakan di sini. Hawa yang lebih dingin dan tentu perasaan gua yang ga menentu akibat ulah gua ini. Mungkin bokap nyokap gua lagi panik di rumah, ada sedikit rasa bersalah dalem diri gua tapi semoga surat yang gua tulis bisa membuat nyokap gua agak lega.
Ponsel gw sempat berbunyi saat gua menyebrang dari bali ke banyuwangi. Mungkin 10 kali atau 20 kali atau mungkin lebih, dan semua adalah misscall dari nyokap gua. Tanpa pikir panjang ponesl itu gua buang ke laut, beberapa saat kemudian gua sedikit menyesal, kenapa harus gua buang, kenapa ga gua kasih ke orang agar lebih bermanfaat, mungkin ini hasil dari didikan manja orang tua gua, semua jadi serba mudah.
Uang di dompet gua udah kosong melompong untuk membeli tiket dan beli makanan di jalan. Gua mencoba mengelilingi Terminal arjosari untuk mencari ATM di deket sana. Hampir 10 menit gua lalu lalang lalu akhirnya gua bisa bernafas lega, ternyata ATM tidak terlalu jauh dari tempat gua turun tadi. Setelah mengambil beberapa juta dari mesin ATM setelah menarik uang sebanyak 2 kali, Gua mengambil kertas struk yang sudah gua buang ke tempat sampah tadi. Saat gua mengecek nominalnya sebuah angka 1 dan ada 8 digit angka mengikutinya dibelakang, waw... sebanyak inikah uang yang dikirimkan bokap Gua selama ini, setahuku ATM ini diberikan saat ujian nasional kemarin, gua meminta uang hanya buat perpisahan dengan teman teman kelas gw. "Pa ini terlalu banyak".....
Gua masih berdiri di depan ATM. Gua sedang berfikir untuk segera mencari kendaraan untuk menuju kampus-kampus yang ada di kota ini, yang pertama terfikirkan adalah taxi tapi beberapa saat kemudian gua menghapus jauh jauh fikiran itu, gua harus hidup sederhana dan pilihan gua jatuh ke angkot. Mungkin karena gua terlalu fokus menyusun rencana , gua ga sadar bahwa ada seseorang di dekat gua, dari perawakannya dia masih seusia gua, dan dia seorang cewek.
"Mahasiswa baru juga?"
Gua celingak celingkuk mencari siapa yang diajak ngobrol cewek ini.
"Gua bukan indigo yang ngomong sendiri, gua ngomong sama elo" tanya cewek itu sedikit tersenyum melihat kebingungan gua.
"Oh Maaf, maaf. gak kok, eh ya."
Gadis itu lalu tertawa kecil melihat kebingungan gua. Ia sepertinya sudah berdiri di depan ATM sejak gua datang tadi. mungkin dia sedang bosan menunggu.
"Ya atau ga?" pancingnya.
"Gak, gua baru mau tes" jawab gua jujur, walau gak tahu harus tes dimana.
"Oalah, mau ikut tes mandiri toh"
"Mungkin begitu"
"Mungkin?" cewek itu mengerutkan dahu lalu dia tersenyum lebar melihat gua.
"Elu lucu ya, kok kayak linglung gitu" sambungnya.
"Makasih" jawab gua ragu.
"Itu bukan pujian loh"
"Oh maaf" jawabku ragu.
"Hahaha, Bercanda kok,emang elo mau kemana?"
"Kampus" jawabku ragu.
"Kampus apa? kan di sini ada puluhan kampus"
"Yang ada di malang"
"kan memang kita kan lagi dimalang"
"Yang deket deket aja mungkin" jawabku ragu. bodohnya aku gak cari referensi sebelum datang ke sini"
"hahaha... deket dari mana, kamu lucu ya"
"Gua harus bilang makasih atau maaf nih?" takut itu malah hinaan.
"Apa aja deh, kenalin nama gua Friska. Gua mahasiswa baru di Universitas Wijaya" dia mengulurkan tangannya untuk menjabat.
"Gua Adrian.. mmm mantan anak SMA " Jawab gua seraya menjabat tangannya.
"hahaha... ada ada sih aja elo"
"elo ngambil apa di Wijaya?"
"Gua?, Biologi"
"Biologi? mmm belajar biologi seru?" tanyaku penasaran.
"Kalo Gua sih suka, emang elo minatnya apa?"
"Yang bisa ngebuat hidup ini lebih seru dan asik" jawabku jujur. Selama ini hal yang gua idam idamkan.
"hahaha diplomatis bin ngawur jawaban elo" jawab friska.
"Bukan diplomatis, lebih tepatnya Gua bingung aja"
"Bingung? Bingung kenapa?"
TIIIINNN TIIINNNN
Suara klakson motor membuyarkan obrolan kami, seorang cewek berhenti di depan kami berdua.
"Frish udah lama?" tanya cewek yang baru datang itu.
"Udah kering neh gigi gua nunggu elo" jawab friska.
"Maaf maaf, tadi agak macet maklum weekend"
"Gua maafin asal lo traktir gua es cream" goda Friska.
"Ih maruk sekali, udah minta di jemput, sekarang minta di traktir. Nunggunya sama cowok ganteng lagi"
"Eh dasar mulut elo nyablak bener seh, oh iya adrian gw duluan ya, sukses buat Tesnya, ayok bela, tarik"
"Tarik tarik, emang gw angkot"..
"Becanda bela"
"Bener neh gua ga dikenalain nih?"
"Eh elo apa apan sih, malu maluin aja, ayo berangkat"
"Duluan ya ganteng" kata cewek yang dipanggil bela oleh Friska tadi.
Mareka akhirnya melaju memecah kota malang.
Friska, orang pertama yang gua kenal di kota ini.
Oke, Gua udah mutusin buat ikut tes mandiri Universitas Wijaya, jurusan Biologi.
Polling
0 suara
Terlepas dari plot kisah ini, ada di team manakah kalian?
Diubah oleh kawan.betina 16-10-2020 18:01
majapahit210586 dan 154 lainnya memberi reputasi
139
389.8K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kawan.betina
#383
[BOOK II] Lembaran ke empat delapan (21) - mudik - TAMAT
Quote:
Pagi itu menjadi hari yang aneh bagi gua. Pertamanya dalam hidup gua. 1 Syawal berada jauh dari keluarga, bahkan jauh dari siapa-siapa. Suara takbir yang bersahutan menjadi backsound indah di balik rasa sepi di hari kemenangan.
Telfon Linda
“elo udah bangun kan”
“Sudah, malah belum tidur”
“Lo sholat ied di masjid deket rumah gua aja ya, biar elo ada temennya”
“Jauh banget lin,”
“Gua jemput ya”
“Jangan deh, gua sholat di sini aja , deket warnet ada lapangan buat solat kok,”
“Kesini aja loh, biar lo ada temennya ian, hmmm, elo udah nelfon bokap ato nyokap elo?”
“Belum, mereka juga ga nelfon gua”
“Ian yang sabar ya, kalo elo mau ke rumah datang aja, gua sekeluarga lebaran di sini kok, gua tunggu”
“Makasih lin, makasih banget”
Pagi itu gua langsung ke masjid, mengunakan sepeda butut gua, mengambil posisi didepan, gua duduk termenung sambil melafaskan takbir menunggu sholat dimulai, gua datang cukup pagi. Lenih dari 1 jam gua menunggu sampai sholat dimulai, namun 1 jam itu terasa sangat lama karena bayangan keluarga terus melayang dalam angan angan gua. Selesai solat khutbah pun dimulai, dan air mata ini menetes ketika khotib mengatakan bahwa idul fitri adalah moment yang baik dalam menyambung silaturahmi dan sarana saling memaafkan, penyesalan kembali tumbuh dalam angan, haruskah gua menelfon orang tua gua....
selesai solat gua langsung mengayuh sepeda ini ke kampus, dan kampus gua bagaikan kota mati, tak ada orang satupun, gua duduk di taman sambil termenung dan menghayal tentang apa yang harus gua lakukan setelah ini.
Telfon Kak desi.
“Ian, kenapa elo ga bilang kalo elo ga pulang?”
“Lupa kak,”
“Gua lagi di rumah lo sekarang sama bokap gua. Mama lo lagi nangis, setidaknya elo telfonlah mama elo”
“Kenapa mereka ga nelfon atau nyuruh gua pulang”
“lo tahu sendiri papa elo kayak gimana. Tapi ian juga tahu kan, kalau papa ian pasti maafin ian kalau ian minta maaf. turunin ego elo ian, minta maaflah”
“tapi kak”
“Ga ada tapi-tapian, elo tuh” Suara kak desi berubah. Dia menangis.“Lo tuh selalu aja kayak gini, kenapa elo maksain diri ga pulang, gua tahu elo pengen pulang kan, gua tahu elo sedih di sana, ian, gua sedih ngelihat elo kayak gini”
“maaf kak”
“tefon nyokap elo sekarang”
“ga kak , ian ga mau sebelum mereka nelfon duluan”
“ian, jangan boongin diri elo sendiri kalo elo memang ingin bertemu mereka kan”
“ga kak, gua ga pengen ketemu mereka”
Tutt tutuuu tutt
*******************************************
Setelah di telfon kak desi pagi itu. Gua duduk termenung melihat pohon-pohon yang diterpa angin di taman kampus. Kadang air mata menyambut hati gua yang terasa kosong, memupuk ego untuk berbohong pada hati yang tak sanggup lagi menahan rindi pada mereka yang membesarkan gua dari kecil. Lalu haripun mulai gelap. Gua pulang saat azan magrib berkumandang. Gua kayuh sepeda menuju warnet yang tutup salama satu minggu kedepan karena lebaran. Namun saat gua sampai di sana gua kaget.
“Kenapa kamu keras kepala sekali sih?” Tanya kak desi yang berdiri di depan pintu warnet yang tertutup.
“Kok kakak bisa di sini?”
“Buat nyariin elo, buat nemenin lo.”
“Kenapa kakak harus repot repot nemenin ian, ian bisa sendri kok”
“kakak tahu ian, kakak tahu kamu, kakak tahu kamu sedang sedih sekarang”
“enggak, ian baik baik aja,”
“jangan bohong sama kakak,”
Lalu kak desi mendekati gua dan memeluk gua. Gua terdiam dan hanya bisa mematung, hangat, pelukan yang sangat hangat, kehangatan itu membuat hati yang tadi mendingin menjadi lebih hangat, gua membalas pelukan itu, pelukan yang membuat air mata ini tumpah, hati ini tiba-tiba melemah, rasa ego yang mengereas perlahan meleleh dan rasa rindu kembali meledak di dada ini, gua rindu mama, rindu papa,
“Nangislah ian, bila itu bisa membuat kamu lebih tenang” tanpa diberi tahu pun air mata gua sudah menetes deras, gua merasa sepi.
“Kak, ian kangen mama, ian pengen pulang” kata Gua jujur. Sehebat hebatnya gua bertahan, gua tetap adalah anak yang dibesarkan dengan kasih sayang yang terlalu besar, dan hanya dalam waktu satu tahun tak mungkin gua bisa berubah menjadi 100% mandiri dan tak lagi bergantung pada mereka, setidaknya hati ini masih merasa manja ingin medapat belaian lembut dari mereka.
“Kita balik ke lombok besok pagi, kita ambil penerbangan paling pagi, ok?”
“ya kak, temenin ian disini,”
“Ya, adikku sayang. Jangan lagi memaksakan diri , tak ada yang bisa hidup sendiri, semua butuh orang lain” Sifat manja gua keluar, anak mami memang tetaplah anak mami, sehebat apapun dia mau berubah , gua tetaplah anak manja yang dulu.
Malam itu akhirnya gua pergi ke surabaya rumah dari kak desi. kami di sana untuk menunggu keberangkatan pesawat pagi dari surabaya ke lombok, kak desi memaksa gua untuk pulang dan meminta maaf kepada papa, dan gua tak ada pilihan lain, lebaran tanpa memaafkan tak akan pernah diterima oleh tuhan, apalagi dengan orang tua sendiri.
Tangis yang begitu mendalam menyambut gua di rumah, mama memeluk gua dengan erat dan gua tak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang ikut menetes di pipi ini, gua mendekati papa dan mencium tangannya lalu meminta ampun, tak ada amarah tak ada emosi, papa memeluk gua dan dari sosok tegas sang papa, keluarlah air mata yang tak pernah gua lihat sebelumnya, papa berulang kali mengatakan kepada gua dengan lirih "maafin papa" dan gua dengan suara yang tak kalah lirih menjawab "Bukan papa yang salah, ini salah ian pa", lebaran ini membuka kembali hubungan gua yang hampir hancur dengan papa, tak ada orang tua yang membenci anakanya begitu juga sebaliknya
*************************************
Pak Sadik, papa kak Desi datang lagi bersilaturahmi ke rumah karena mendengar gua baru pulang dari malang. Kedatangan Pak Sadik menciptakan sebuah obrolan serius antara papa gua dan papa Kak desi.
“Bang” panggil papa gua ke papa kak desi. ”Desi udah mau lulus ya?”
“Ya dik, kayaknya semester depan udah selesai. Tinggal nunggu wisuda habis itu. Gitu kan sayang?” kata Pak Sadik.
“Ya pa, kalo lancar tahun depan udah wisuda” Jawab kak desi.
“Bagus kalo gitu. Gimana bang, apa abang masih mau besanan sama saya?” tanya papa gua.
“Kalo saya sih mau mau aja dik, terserah desi aja. saya mah balikin ke anak anak aja,” jawab Pak sadik.
“Gimana Nak desi?” tanya papa gua.
“Desi boleh fikir-fikir dulu kan om?”
“Desi bijak sih menurut mama,” kata mama gua nyamber. “Masalah hati ga bisa dipaksakan, jadi harus dipertimbangkan, kita juga harus tanya Adrian,” Lanjut Mama.
“Gimana ian?” tanya papa.
“Asal buat papa dan mama senang , ian ikut aja” jawab Gua asal.
“Desi sama adrian juga satu kampus, nanti bisa bicara banyak di sana, mungkin sekarang masih malu-malu, jangan jangan kalo udah diskusi ,malah nanti minta ngebet dinikahin kan.” kata pak sadik.
“biarkan mereka saja yang menentukan, orang tua kan tugasnya ngikut saja, karena mereka yang akan menjalin hubungan,” kata mama Bijak, walau gua bisa tebak mama masih condong ke Anis.
“Nak desi makasih, udah jemput ian jauh jauh kemalang, makasih banget nak. harusnya mama bisa dukung ian sama Desi karena lihat bagaimana perhatian desi sama anak kita,” kata Papa.
Mama terdiam. Mungkin mama baru sadar bahwa kak desi banyak membantu gua selama ini.
Papa kak desi memang selalu mengunjugi kami setiap lebaran, walau sekarang mereka sudah tidak tinggal di dekat rumah kami lagi, obrolan masalah perjodohan ini membuat gua bingung sendiri, dan kak desi juga seperti kebingungan juga, padahal kak desi sedang kembali dekat dengan pacarnya yang dulu tapi di sisi lain kejadian saat liburan itu tentu masih membayangi kami berdua, apalagi papa sepertinya sangat mengebu gebu untuk menjodohkan kami. Papa gua sepertinya ingin gua bertangguung jawab atas apa yang gua perbuat dulu, kepada anak dari sahabatnya. Tapi mama sepertinya masih jatuh hati dengan anis, walau mama tak pernah sedikitpun membenci kak desi.
Setelah bincang bincang cukup lama, masalah kuliah dan cerita cerita yang lain akhirnya gua bisa mendapat waktu berdua dengan kak desi di samping kolam renang belakang rumah gua.
“Menurut elo gimana?” Tanya kak desi.
“Apa kak yang gimana?”
“Perjodohan tadi?”
“Jujur ka, gua bingung”,
“Gua juga, elo udah kayak adik gua”,
“Kak desi udah kakak ian”
“Tapi papamu sepertinya ingin sekali kita bersama, papamu kayaknya masih merasa terbebani oleh peristiwa itu”
“ya kak, terus kita harus gimana?”
“Saat kejadian itu, kita sebenarnya sudah bisa melepas perasaan adik kakak kita berdua tapi setelah itu rasa saudara kita terasa semakin kuat. Kalau kamu mau, kita coba untuk melepas, status adik kakak ini, anggap kakak sebagai wanita yang mungkin bisa kamu sayang, kita coba apa yang diinginkan papa ian, kalo nanti kita tak cocok, kita bilang pada meraka” kata Kak desi,
“Trus awalnya seperti apa kak?”
“Jangan panggi gua kakak lagi, panggil desi saja”
”kak, eh mm desi”
“Bagus,”
“Bagaimana pacar kakak.”
“entahlah, gua sayang dia. tapi” Kak desi melihat gua lalu kak Desi mencium bibir gua dengan lembut, gua tidak tahu motivasi yang dimilikinya sehingga mencium gua tapi ciuman ini membuat gua terasa sangat nyaman, seperti memberi gua rasa ketenangan, dan tak ingin berhenti
“itu sebuah ciuman antara laki laki dan perempuan, bukan lagi adik kakak” lalu kak desi mencium kening gua
“ya des, jangan perlakuin gua kayak adik lagi”
Akhirnya gua menghabiskan waktu selama libur lebaran di rumah bersama di lombok.
Telfon :
Linda : ian, elo lagi dimana ? gua pengen ngomong ma elo ...
gua : gua dilombok lin, ada apa lin,
Linda : gua butuh elo ian,, gua butuh tempat curhat please, sekali ini saja, please..... gua butuh elo...
tumben linda seperti ini dan gua mendengar suara tangis dari balik telfon ini, kenapa linda seperti ini.
Telfon Linda
“elo udah bangun kan”
“Sudah, malah belum tidur”
“Lo sholat ied di masjid deket rumah gua aja ya, biar elo ada temennya”
“Jauh banget lin,”
“Gua jemput ya”
“Jangan deh, gua sholat di sini aja , deket warnet ada lapangan buat solat kok,”
“Kesini aja loh, biar lo ada temennya ian, hmmm, elo udah nelfon bokap ato nyokap elo?”
“Belum, mereka juga ga nelfon gua”
“Ian yang sabar ya, kalo elo mau ke rumah datang aja, gua sekeluarga lebaran di sini kok, gua tunggu”
“Makasih lin, makasih banget”
Pagi itu gua langsung ke masjid, mengunakan sepeda butut gua, mengambil posisi didepan, gua duduk termenung sambil melafaskan takbir menunggu sholat dimulai, gua datang cukup pagi. Lenih dari 1 jam gua menunggu sampai sholat dimulai, namun 1 jam itu terasa sangat lama karena bayangan keluarga terus melayang dalam angan angan gua. Selesai solat khutbah pun dimulai, dan air mata ini menetes ketika khotib mengatakan bahwa idul fitri adalah moment yang baik dalam menyambung silaturahmi dan sarana saling memaafkan, penyesalan kembali tumbuh dalam angan, haruskah gua menelfon orang tua gua....
selesai solat gua langsung mengayuh sepeda ini ke kampus, dan kampus gua bagaikan kota mati, tak ada orang satupun, gua duduk di taman sambil termenung dan menghayal tentang apa yang harus gua lakukan setelah ini.
Telfon Kak desi.
“Ian, kenapa elo ga bilang kalo elo ga pulang?”
“Lupa kak,”
“Gua lagi di rumah lo sekarang sama bokap gua. Mama lo lagi nangis, setidaknya elo telfonlah mama elo”
“Kenapa mereka ga nelfon atau nyuruh gua pulang”
“lo tahu sendiri papa elo kayak gimana. Tapi ian juga tahu kan, kalau papa ian pasti maafin ian kalau ian minta maaf. turunin ego elo ian, minta maaflah”
“tapi kak”
“Ga ada tapi-tapian, elo tuh” Suara kak desi berubah. Dia menangis.“Lo tuh selalu aja kayak gini, kenapa elo maksain diri ga pulang, gua tahu elo pengen pulang kan, gua tahu elo sedih di sana, ian, gua sedih ngelihat elo kayak gini”
“maaf kak”
“tefon nyokap elo sekarang”
“ga kak , ian ga mau sebelum mereka nelfon duluan”
“ian, jangan boongin diri elo sendiri kalo elo memang ingin bertemu mereka kan”
“ga kak, gua ga pengen ketemu mereka”
Tutt tutuuu tutt
*******************************************
Setelah di telfon kak desi pagi itu. Gua duduk termenung melihat pohon-pohon yang diterpa angin di taman kampus. Kadang air mata menyambut hati gua yang terasa kosong, memupuk ego untuk berbohong pada hati yang tak sanggup lagi menahan rindi pada mereka yang membesarkan gua dari kecil. Lalu haripun mulai gelap. Gua pulang saat azan magrib berkumandang. Gua kayuh sepeda menuju warnet yang tutup salama satu minggu kedepan karena lebaran. Namun saat gua sampai di sana gua kaget.
“Kenapa kamu keras kepala sekali sih?” Tanya kak desi yang berdiri di depan pintu warnet yang tertutup.
“Kok kakak bisa di sini?”
“Buat nyariin elo, buat nemenin lo.”
“Kenapa kakak harus repot repot nemenin ian, ian bisa sendri kok”
“kakak tahu ian, kakak tahu kamu, kakak tahu kamu sedang sedih sekarang”
“enggak, ian baik baik aja,”
“jangan bohong sama kakak,”
Lalu kak desi mendekati gua dan memeluk gua. Gua terdiam dan hanya bisa mematung, hangat, pelukan yang sangat hangat, kehangatan itu membuat hati yang tadi mendingin menjadi lebih hangat, gua membalas pelukan itu, pelukan yang membuat air mata ini tumpah, hati ini tiba-tiba melemah, rasa ego yang mengereas perlahan meleleh dan rasa rindu kembali meledak di dada ini, gua rindu mama, rindu papa,
“Nangislah ian, bila itu bisa membuat kamu lebih tenang” tanpa diberi tahu pun air mata gua sudah menetes deras, gua merasa sepi.
“Kak, ian kangen mama, ian pengen pulang” kata Gua jujur. Sehebat hebatnya gua bertahan, gua tetap adalah anak yang dibesarkan dengan kasih sayang yang terlalu besar, dan hanya dalam waktu satu tahun tak mungkin gua bisa berubah menjadi 100% mandiri dan tak lagi bergantung pada mereka, setidaknya hati ini masih merasa manja ingin medapat belaian lembut dari mereka.
“Kita balik ke lombok besok pagi, kita ambil penerbangan paling pagi, ok?”
“ya kak, temenin ian disini,”
“Ya, adikku sayang. Jangan lagi memaksakan diri , tak ada yang bisa hidup sendiri, semua butuh orang lain” Sifat manja gua keluar, anak mami memang tetaplah anak mami, sehebat apapun dia mau berubah , gua tetaplah anak manja yang dulu.
Malam itu akhirnya gua pergi ke surabaya rumah dari kak desi. kami di sana untuk menunggu keberangkatan pesawat pagi dari surabaya ke lombok, kak desi memaksa gua untuk pulang dan meminta maaf kepada papa, dan gua tak ada pilihan lain, lebaran tanpa memaafkan tak akan pernah diterima oleh tuhan, apalagi dengan orang tua sendiri.
Tangis yang begitu mendalam menyambut gua di rumah, mama memeluk gua dengan erat dan gua tak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang ikut menetes di pipi ini, gua mendekati papa dan mencium tangannya lalu meminta ampun, tak ada amarah tak ada emosi, papa memeluk gua dan dari sosok tegas sang papa, keluarlah air mata yang tak pernah gua lihat sebelumnya, papa berulang kali mengatakan kepada gua dengan lirih "maafin papa" dan gua dengan suara yang tak kalah lirih menjawab "Bukan papa yang salah, ini salah ian pa", lebaran ini membuka kembali hubungan gua yang hampir hancur dengan papa, tak ada orang tua yang membenci anakanya begitu juga sebaliknya
*************************************
Pak Sadik, papa kak Desi datang lagi bersilaturahmi ke rumah karena mendengar gua baru pulang dari malang. Kedatangan Pak Sadik menciptakan sebuah obrolan serius antara papa gua dan papa Kak desi.
“Bang” panggil papa gua ke papa kak desi. ”Desi udah mau lulus ya?”
“Ya dik, kayaknya semester depan udah selesai. Tinggal nunggu wisuda habis itu. Gitu kan sayang?” kata Pak Sadik.
“Ya pa, kalo lancar tahun depan udah wisuda” Jawab kak desi.
“Bagus kalo gitu. Gimana bang, apa abang masih mau besanan sama saya?” tanya papa gua.
“Kalo saya sih mau mau aja dik, terserah desi aja. saya mah balikin ke anak anak aja,” jawab Pak sadik.
“Gimana Nak desi?” tanya papa gua.
“Desi boleh fikir-fikir dulu kan om?”
“Desi bijak sih menurut mama,” kata mama gua nyamber. “Masalah hati ga bisa dipaksakan, jadi harus dipertimbangkan, kita juga harus tanya Adrian,” Lanjut Mama.
“Gimana ian?” tanya papa.
“Asal buat papa dan mama senang , ian ikut aja” jawab Gua asal.
“Desi sama adrian juga satu kampus, nanti bisa bicara banyak di sana, mungkin sekarang masih malu-malu, jangan jangan kalo udah diskusi ,malah nanti minta ngebet dinikahin kan.” kata pak sadik.
“biarkan mereka saja yang menentukan, orang tua kan tugasnya ngikut saja, karena mereka yang akan menjalin hubungan,” kata mama Bijak, walau gua bisa tebak mama masih condong ke Anis.
“Nak desi makasih, udah jemput ian jauh jauh kemalang, makasih banget nak. harusnya mama bisa dukung ian sama Desi karena lihat bagaimana perhatian desi sama anak kita,” kata Papa.
Mama terdiam. Mungkin mama baru sadar bahwa kak desi banyak membantu gua selama ini.
Papa kak desi memang selalu mengunjugi kami setiap lebaran, walau sekarang mereka sudah tidak tinggal di dekat rumah kami lagi, obrolan masalah perjodohan ini membuat gua bingung sendiri, dan kak desi juga seperti kebingungan juga, padahal kak desi sedang kembali dekat dengan pacarnya yang dulu tapi di sisi lain kejadian saat liburan itu tentu masih membayangi kami berdua, apalagi papa sepertinya sangat mengebu gebu untuk menjodohkan kami. Papa gua sepertinya ingin gua bertangguung jawab atas apa yang gua perbuat dulu, kepada anak dari sahabatnya. Tapi mama sepertinya masih jatuh hati dengan anis, walau mama tak pernah sedikitpun membenci kak desi.
Setelah bincang bincang cukup lama, masalah kuliah dan cerita cerita yang lain akhirnya gua bisa mendapat waktu berdua dengan kak desi di samping kolam renang belakang rumah gua.
“Menurut elo gimana?” Tanya kak desi.
“Apa kak yang gimana?”
“Perjodohan tadi?”
“Jujur ka, gua bingung”,
“Gua juga, elo udah kayak adik gua”,
“Kak desi udah kakak ian”
“Tapi papamu sepertinya ingin sekali kita bersama, papamu kayaknya masih merasa terbebani oleh peristiwa itu”
“ya kak, terus kita harus gimana?”
“Saat kejadian itu, kita sebenarnya sudah bisa melepas perasaan adik kakak kita berdua tapi setelah itu rasa saudara kita terasa semakin kuat. Kalau kamu mau, kita coba untuk melepas, status adik kakak ini, anggap kakak sebagai wanita yang mungkin bisa kamu sayang, kita coba apa yang diinginkan papa ian, kalo nanti kita tak cocok, kita bilang pada meraka” kata Kak desi,
“Trus awalnya seperti apa kak?”
“Jangan panggi gua kakak lagi, panggil desi saja”
”kak, eh mm desi”
“Bagus,”
“Bagaimana pacar kakak.”
“entahlah, gua sayang dia. tapi” Kak desi melihat gua lalu kak Desi mencium bibir gua dengan lembut, gua tidak tahu motivasi yang dimilikinya sehingga mencium gua tapi ciuman ini membuat gua terasa sangat nyaman, seperti memberi gua rasa ketenangan, dan tak ingin berhenti
“itu sebuah ciuman antara laki laki dan perempuan, bukan lagi adik kakak” lalu kak desi mencium kening gua
“ya des, jangan perlakuin gua kayak adik lagi”
Akhirnya gua menghabiskan waktu selama libur lebaran di rumah bersama di lombok.
Telfon :
Linda : ian, elo lagi dimana ? gua pengen ngomong ma elo ...
gua : gua dilombok lin, ada apa lin,
Linda : gua butuh elo ian,, gua butuh tempat curhat please, sekali ini saja, please..... gua butuh elo...
tumben linda seperti ini dan gua mendengar suara tangis dari balik telfon ini, kenapa linda seperti ini.
bebyzha dan 47 lainnya memberi reputasi
48
Kutip
Balas
Tutup