- Beranda
- Stories from the Heart
Awakening (Supranatural & Romance)
...
TS
watcheatnsleep
Awakening (Supranatural & Romance)

Ini merupakan thread pertama TS jadi mohon maaf kalau penulisannya masih agak berantakan dan kurang menarik.
Kalau ada kekurangan atau kesalahan kiranya bisa comment di thread ini buat pembelajaran sendiri bagi TS kedepannya.
Semoga ceritanya dapat dinikmati agan-agan sekalian, Thank you ^^.
INTRO
"Mereka" yang lebih dikenal dengan sebutan hantu, setan, jin, roh, makhluk halus dan sejenisnya, sejak dahulu kala eksistensi mereka selalu memicu suatu perdebatan. Begitu juga dengan Rama, seorang mahasiswa yang awalnya tak begitu percaya akan adanya keberadaan mereka, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan, bahwa ternyata eksistensi “Mereka” benar adanya.
Semua itu bermula dari pertemuannya dengan Adellia. Seorang wanita misterius yang menyimpan segudang rahasia di balik figurnya. Tanpa disadari Rama, benih-benih cinta telah timbul pada pandangan yang pertama. Sebuah rasa yang muncul untuk pertama kali dalam hidupnya.
Wanita demi wanita muncul mewarnai hidup Rama, bersamaan dengan setumpuk masalah yang mereka emban. Di sisi lain, bangkitnya indra keenam Rama seakan menuntunnya kepada sebuah perjalanan panjang untuk mencari jati dirinya.
Akankah Rama berhasil menemukan jati dirinya?
INDEKS
SEASON 1 : SIXTH SENSE
1. Sebuah Awal
2. Mimpi yang Aneh
3. Kesurupan Massal
4. Warna Merah
5. Hilang Kesadaran
6. Salah Tingkah
7. Wanita yang Berdiri di Sudut Kelas
8. Sebuah Awal
9. Pelet
10. Konfrontasi
11. Menjalani Kehidupan Kampus
12. Menikmati Momen yang Langka
13. Pilihan
14. Genderuwo
15. Film India
16. Teman Baru
17. Tengah Malam
18. Memori yang Indah
19. Cubitan Manja
20. Dominasi
21. Bukan Siapa-Siapa
22. Perasaan Kacau
23. Melissa
24. Maaf
25. Playboy
26. Tapi Bohong
27. Mobil yang Bergoyang
28. Truth or Dare
29. Tertawa Terbahak-bahak
30. Pembuktian
31. Pengakuan
32. Mimpi Buruk
33. Menikmati
34. Penyesalan
35. Kopi Darat
36. Terjatuh
37. Pulang
38. Makhluk yang Bersimbah Darah
39. Bungkusan Hitam
40. Pengalaman Putra
41. Firasat Buruk
42. Pulang ke Kost
43. Terkejut
44. Ancaman
45. Cerita Dibalik Rara
46. Kurang Tahan Lama
47. Hadiah
48. Rencana
49. Eksperimen
50. Titipan Eyang
51. Kecil
52. Penangkapan
53. Merek Baju
54. Drama
55. Pesan Singkat
56. Nadia
57. Hujan
58. Pesugihan
59. Hilang
60. Kolam
61. Kerjasama
62. Perang
63. Pengorbanan
64. Kisah Putra
65. Jatuhu
66. Awakening
67. Kabar Buruk
68. Raga Sukma
69. Perpisahan <END>
AWAKENING SEASON 2 : AMURTI
Link : https://kask.us/iOTnR
Wattpad : @vikrama_nirwasita
Karyakarsa : vikrama
Instagram : @vikrama_nirwasita
Terimakasih

Diubah oleh watcheatnsleep 04-04-2023 00:03
madezero dan 86 lainnya memberi reputasi
85
127.1K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
watcheatnsleep
#281
Chapter 39 Bungkusan Hitam
Tanpa basa-basi, Lala langsung terbang menerjang dan mengibarkan selendang hitamnya pada pasukan lawan. Sedangkan khodam pendekar milik Putra fokus bertarung satu lawan satu melawan pemimpin lawan. Di sisi lain, ketiga harimau sedang menghabisi para bawahan makhluk bersimbah darah itu dengan mudah dan leluasa.
Aku melihat mereka mencabik dan menerkam makhluk-makhluk itu dengan buasnya. Hingga satu persatu makhluk itu mulai jatuh terkapar dengan bagian tubuh yang tak utuh.
Walaupun para makhluk itu tampaknya kalah dan terpukul mundur oleh gabungan khodamku dan Putra, tetapi kenyataannya jumlah mereka tidak berkurang sama sekali. Mereka tetap menyerang kami tanpa memikirkan luka yang telah mereka terima, mereka juga tidak memerdulikan temannya yang telah binasa.
Anehnya, semakin banyak pasukan mereka yang kalah, sosok mereka tampak menjadi semakin ganas. Mereka yang tadinya cuma bisa menerima serangan layaknya samsak, mulai bangkit dan perlahan-lahan memberikan perlawanan yang kuat.
Sementara itu, pertarungan antara khodam pendekar milik Putra masih berada di posisi yang seimbang. Walau bisa dibilang gaya bertarung mereka berdua benar-benar brutal, yaitu dengan cara saling adu pukul tanpa mencoba untuk bertahan sama sekali. Mereka berdua bertarung habis-habisan sambil tersenyum layaknya dua maniak gila.
Jika dibiarkan, maka semakin lama situasi kami akan menjadi semakin buruk. Sebab, semakin lama para pasukan lawan semakin ganas dan kuat. Aku merasa Lala dan ketiga harimau milik Putra juga sedang kewalahan, tampak dari gerakan mereka yang semakin melamban dan secara perlahan bergerak mundur.
Sepertinya Putra juga menyadari situasi kami saat ini, oleh sebab itu dia mulai memegang golok yang tadinya terletak di lantai. Mulutnya mulai berkomat-kamit membaca mantra dan seketika golok itu terselimuti energi berwarna kuning emas.
Putra mengibaskan goloknya ke arah makhluk berlumuran darah yang sedang melawan khodam pendekarnya. Seketika, makhluk tersebut langsung menjerit kesakitan sebab energi dari golok Putra berhasil memotong salah satu lengannya.
Aku tak menyangka Putra ternyata memiliki pusaka yang sangat kuat, sebab pada dasarnya pertahanan dari tubuh makhluk tersebut sangat mumpuni. Karena setahuku makhluk itu tidak mengalami luka yang signifikan sejak awal pertarungan dengan khodam pendekar milik Putra.
Dengan raut wajah serius, Putra menebaskan goloknya beberapa kali ke arah tubuh makhluk itu. Sedangkan makhluk itu seketika berusaha menghindari serangan Putra. Dia langsung berlari dan bersembunyi di belakang para pasukannya. Tetapi usahanya tak berguna, sebab pasukannya langsung terbelah dan lenyap oleh golok Putra.
Melihat kesempatan itu, khodam pendekar, ketiga harimau dan Lala langsung fokus menyerang makhluk bersimbah darah itu dengan membabi buta. Makhluk itu hanya bisa menjerit kesakitan dan mencoba melakukan perlawanan, tetapi apa daya dia hanya bisa mengerahkan perlawanan yang tak berarti.
Selagi makhluk itu sedang sibuk melakukan perlawanan, aku melihat Putra sedang memegang cincin akik yang tadinya diletakkan di samping golok. Dia mulai mengusap-usap permukaan batu akiknya sambil mengucapkan mantra-mantra dengan suara yang sangat pelan.
Dengan penglihatan mata ketigaku, aku melihat cincin akik itu perlahan mulai bersinar dengan terang. Saat makhluk bersimbah darah itu mulai kehabisan tenaga dan tampak lemas, Putra langsung mengarahkan cincin akiknya ke arah makhluk itu. Efeknya, makhluk itu tampak ditarik paksa, seakan terserap ke dalam cincin.
"Manusia sialan! Argghhhhh!" teriak makhluk itu dengan penuh amarah.
Makhluk itu masih tak mau menyerah dan tetap melakukan perlawanan agar tidak terhisap ke dalam batu akik yang digunakan oleh Putra. Tetapi sayangnya, kombinasi serangan dari khodam kami berhasil membuatnya lemah dan tak berdaya. Dia hanya bisa meraung-raung dan memaki kami tanpa henti.
Hingga beberapa saat kemudian, setelah para khodam kami mengarahkan segenap tenaganya, makhluk itu akhirnya terhisap ke dalam cincin akik milik Putra. Bisa dibilang kasus kali ini tidak sesulit yang kupikirkan, sebab pria berjubah merah saja tidak hadir untuk membantuku. Ketidakhadirannya berarti bahwa aku sedang tidak berada dalam keadaan yang berbahaya.
Sementara itu, pasukan makhluk bersimbah darah itu mulai menghilang satu persatu. Begitu juga dengan khodam kami berdua, yang perlahan-lahan menghilang karena peperangan telah selesai.
"Sudah selesai, Pak." Putra lalu menghela nafas.
"Bagaimana keadaannya, Mas? Apa ada yang harus saya lakukan selanjutnya?" tanya Pak Agus.
"Khodamnya sudah kami bereskan, Pak. Sisanya tinggal melacak dukun santetnya," jawab Putra.
"Apa Bapak dan Ibu pernah ngeliat benda-benda aneh yang mencurigakan di sekitar rumah?" tanya Putra perlahan.
"Dulunya sih ada, Mas. Waktu pertama kali ada gangguan di rumah ini. Ada bau busuk dan anyir darah mas. Terus besoknya waktu pembantu lagi nyapu di pekarangan rumah, dia nemu dua boneka yang berlumuran darah," jawab Pak Agus.
"Terus, bonekanya diapain sama bapak?" tanya Putra.
"Bonekanya saya bakar, Mas. Soalnya saya ngerasa bonekanya udah berhubungan sama yang ga beres," ucap pak Agus.
"Hmmmm … setelah itu masih tetap ada gangguan Pak?" tanya Putra lagi.
"Iya, Mas. Setelah itu saya coba minta bantuan paranormal yang dikenalin sama teman saya, Mas. Setelah paranormalnya datang dan ngecek, katanya ada kiriman gaib yang bertujuan menyerang keluarga saya. Tapi dia langsung bilang kalau ga sanggup buat nanganinnya," jelas Pak Agus.
"Kelanjutannya, gangguan yang kami alami makin mengerikan mas. Mulai dari suara ketawa dan bayangan hitam yang lewat tengah malam sampai kaca-kaca berpecahan tanpa sebab. Udah dua minggu sejak kejadian gangguan pertama, kami udah undang beberapa paranormal dan banyak yang bilang udah berhasil tapi nyatanya besoknya ada gangguan lagi," lanjut Pak Agus dengan suara yang lesu.
"Tenang saja, Pak. Barusan saya sudah beresin makhluk yang ganggu rumah ini, dan rumah bapak bakal saya pagarin supaya kirimannya ga bisa masuk lagi," ucap Putra dengan percaya diri.
"Iya, Mas." Pak Agus hanya mengangguk pelan dengan raut wajah yang ragu.
Aku merasa pak Agus masih tidak begitu percaya, sebab aku melihat raut wajahnya yang seperti ragu ingin mengungkapkan sesuatu. Oleh sebab itu, aku melirik ke arah Putra sebagai kode untuk meminta izin berbicara. Putra membalas lirikanku dan menganggukkan kepalanya dengan pelan layaknya mengerti apa yang kusampaikan.
"Paranormal yang lain juga udah coba buat pagarin rumah Bapak, ya?" tanyaku dengan hati-hati.
"Iya, Mas. Maaf sebelumnya, saya bukan bermaksud mau meremehkan Mas berdua, tapi selama ini paranormal yang lain juga ngomong begitu dan hasilnya tetap sama," jawab pak Agus gugup.
"Kalau Bapak ingat-ingat, sejak pertama kali ada gangguan, ada orang yang tiba-tiba sering datang ke rumah Bapak, gak?" tanyaku dengan serius.
Pak Agus tampak berpikir sejenak, lalu perlahan berbicara. "Hmmmm … selain keluarga dan pembantu kayaknya sih teman akrab yang saya ceritakan tadi, Mas."
"Biasanya waktu dia datang, ada nanya-nanya sesuatu gak, Pak?" tanyaku lagi.
"Ya seperti teman biasa mas, nanya kabar saya dan keluarga. Terus nanyain apa gangguannya sudah hilang atau tidak," jawab pak Agus.
"Pak, bisa buka ruangan kamar Bapak sebentar kah? Saya mau coba cek dulu. Mohon maaf sebelumnya," ucapku.
Sejak kami berhasil mengalahkan makhluk bersimbah darah tadi, aku mengira aura gelap dan negatif yang berasal dari ruangan pak Agus akan perlahan lenyap. Tapi setelah kuperhatikan kembali, ternyata hawa negatif dari dalam sana masih tak kunjung menghilang juga. Ibarat kekalahan dari makhluk bersimbah darah tersebut tidak mempengaruhi keadaan di dalam sana sama sekali.
"Oh iya, Mas. Sebentar saya bereskan dulu," ucap pak Agus dan memberi kode kepada Istrinya agar pergi ke dalam sana.
Setelah beberapa saat kemudian, Istri Pak Agus selesai membereskan kamarnya dan mempersilakan kami untuk masuk mengecek ruangannya. Aku langsung beranjak dan berjalan masuk ke dalam ruangan kamar pak Agus sambil memfokuskan perasaanku pada sumber hawa negatif tersebut.
Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak melihat adanya entitas yang bersemayam di sana. Aku hanya merasa ruangan tersebut penuh dengan hawa negatif yang membuatku sangat tidak nyaman. Hawa tubuhku yang tadinya normal saja mulai terasa panas layaknya ada api menyengat di permukaan kulit.
Setelah beberapa saat mengecek keadaan di dalam sana, aku tak juga menemukan apa pun. Aku hanya bisa merasakan keberadaan hawa negatif yang sangat pekat dan energi negatif yang panas, hingga perlahan tubuhku mulai dibanjiri oleh keringat. Dengan berat hati, akhirnya aku menyerah untuk mencari sumber hawa negatif tersebut dan berniat untuk pergi keluar dari ruangan itu.
Baru saja melangkah keluar dari kamar, tak sengaja aku melirik sesuatu yang mengganjal di sela-sela lemari yang menempel di dinding. Karena penasaran, aku memasukkan jari-jariku ke sela-sela lemari untuk mengambil benda tersebut.
Saat berhasil menjangkaunya, aku langsung menariknya dan mendapati aku sedang memegang sebuah bungkusan hitam. Aku langsung memanggil pak Agus beserta Putra dan langsung menunjukkan apa yang kudapati pada mereka.
Sebenarnya aku sudah merasa ada yang tidak beres dengan bungkusan hitam tersebut, melihat dari bentuknya yang sangat mencurigakan. Tetapi, aku berpikir akan lebih baik untuk memberikannya langsung kepada Pak Agus.
"Itu apa ya, Mas?" tanya pak Agus dengan raut wajah bingung.
"Ga tau, Pak. Tadi saya ga sengaja dapatnya dari sela-sela lemari itu," jawabku sambil menunjuk ke arah lemari yang berada di sebelah pintu.
"Coba dibuka saja, Pak," ucapku sambil memberikan bungkusan hitam itu kepada Pak Agus.
Pak Agus memegang bungkusan hitam itu dengan raut wajah yang bercampur rasa takut dan penasaran. Setelah berhasil membuka ikatan dari bungkusan tersebut, Pak Agus langsung menggoyangkan dan menjatuhkan isinya di atas meja.
Dalam seketika, Pak Agus dan Istrinya menjauh dan mundur beberapa langkah. Raut wajahnya tampak ketakutan setengah mati. Saat kuperhatikan, ternyata isi dari bungkusan hitam tersebut dipenuhi oleh gigi taring dan kuku manusia. Gigi taring dan kuku itu pun masih penuh dengan bekas lumuran darah yang sudah kering.
Sesuai dugaanku, isi dari bungkusan tersebut adalah penyebab utama munculnya hawa negatif di ruangan kamar Pak Agus.
Bersambung ...
Aku melihat mereka mencabik dan menerkam makhluk-makhluk itu dengan buasnya. Hingga satu persatu makhluk itu mulai jatuh terkapar dengan bagian tubuh yang tak utuh.
Walaupun para makhluk itu tampaknya kalah dan terpukul mundur oleh gabungan khodamku dan Putra, tetapi kenyataannya jumlah mereka tidak berkurang sama sekali. Mereka tetap menyerang kami tanpa memikirkan luka yang telah mereka terima, mereka juga tidak memerdulikan temannya yang telah binasa.
Anehnya, semakin banyak pasukan mereka yang kalah, sosok mereka tampak menjadi semakin ganas. Mereka yang tadinya cuma bisa menerima serangan layaknya samsak, mulai bangkit dan perlahan-lahan memberikan perlawanan yang kuat.
Sementara itu, pertarungan antara khodam pendekar milik Putra masih berada di posisi yang seimbang. Walau bisa dibilang gaya bertarung mereka berdua benar-benar brutal, yaitu dengan cara saling adu pukul tanpa mencoba untuk bertahan sama sekali. Mereka berdua bertarung habis-habisan sambil tersenyum layaknya dua maniak gila.
Jika dibiarkan, maka semakin lama situasi kami akan menjadi semakin buruk. Sebab, semakin lama para pasukan lawan semakin ganas dan kuat. Aku merasa Lala dan ketiga harimau milik Putra juga sedang kewalahan, tampak dari gerakan mereka yang semakin melamban dan secara perlahan bergerak mundur.
Sepertinya Putra juga menyadari situasi kami saat ini, oleh sebab itu dia mulai memegang golok yang tadinya terletak di lantai. Mulutnya mulai berkomat-kamit membaca mantra dan seketika golok itu terselimuti energi berwarna kuning emas.
Putra mengibaskan goloknya ke arah makhluk berlumuran darah yang sedang melawan khodam pendekarnya. Seketika, makhluk tersebut langsung menjerit kesakitan sebab energi dari golok Putra berhasil memotong salah satu lengannya.
Aku tak menyangka Putra ternyata memiliki pusaka yang sangat kuat, sebab pada dasarnya pertahanan dari tubuh makhluk tersebut sangat mumpuni. Karena setahuku makhluk itu tidak mengalami luka yang signifikan sejak awal pertarungan dengan khodam pendekar milik Putra.
Dengan raut wajah serius, Putra menebaskan goloknya beberapa kali ke arah tubuh makhluk itu. Sedangkan makhluk itu seketika berusaha menghindari serangan Putra. Dia langsung berlari dan bersembunyi di belakang para pasukannya. Tetapi usahanya tak berguna, sebab pasukannya langsung terbelah dan lenyap oleh golok Putra.
Melihat kesempatan itu, khodam pendekar, ketiga harimau dan Lala langsung fokus menyerang makhluk bersimbah darah itu dengan membabi buta. Makhluk itu hanya bisa menjerit kesakitan dan mencoba melakukan perlawanan, tetapi apa daya dia hanya bisa mengerahkan perlawanan yang tak berarti.
Selagi makhluk itu sedang sibuk melakukan perlawanan, aku melihat Putra sedang memegang cincin akik yang tadinya diletakkan di samping golok. Dia mulai mengusap-usap permukaan batu akiknya sambil mengucapkan mantra-mantra dengan suara yang sangat pelan.
Dengan penglihatan mata ketigaku, aku melihat cincin akik itu perlahan mulai bersinar dengan terang. Saat makhluk bersimbah darah itu mulai kehabisan tenaga dan tampak lemas, Putra langsung mengarahkan cincin akiknya ke arah makhluk itu. Efeknya, makhluk itu tampak ditarik paksa, seakan terserap ke dalam cincin.
"Manusia sialan! Argghhhhh!" teriak makhluk itu dengan penuh amarah.
Makhluk itu masih tak mau menyerah dan tetap melakukan perlawanan agar tidak terhisap ke dalam batu akik yang digunakan oleh Putra. Tetapi sayangnya, kombinasi serangan dari khodam kami berhasil membuatnya lemah dan tak berdaya. Dia hanya bisa meraung-raung dan memaki kami tanpa henti.
Hingga beberapa saat kemudian, setelah para khodam kami mengarahkan segenap tenaganya, makhluk itu akhirnya terhisap ke dalam cincin akik milik Putra. Bisa dibilang kasus kali ini tidak sesulit yang kupikirkan, sebab pria berjubah merah saja tidak hadir untuk membantuku. Ketidakhadirannya berarti bahwa aku sedang tidak berada dalam keadaan yang berbahaya.
Sementara itu, pasukan makhluk bersimbah darah itu mulai menghilang satu persatu. Begitu juga dengan khodam kami berdua, yang perlahan-lahan menghilang karena peperangan telah selesai.
"Sudah selesai, Pak." Putra lalu menghela nafas.
"Bagaimana keadaannya, Mas? Apa ada yang harus saya lakukan selanjutnya?" tanya Pak Agus.
"Khodamnya sudah kami bereskan, Pak. Sisanya tinggal melacak dukun santetnya," jawab Putra.
"Apa Bapak dan Ibu pernah ngeliat benda-benda aneh yang mencurigakan di sekitar rumah?" tanya Putra perlahan.
"Dulunya sih ada, Mas. Waktu pertama kali ada gangguan di rumah ini. Ada bau busuk dan anyir darah mas. Terus besoknya waktu pembantu lagi nyapu di pekarangan rumah, dia nemu dua boneka yang berlumuran darah," jawab Pak Agus.
"Terus, bonekanya diapain sama bapak?" tanya Putra.
"Bonekanya saya bakar, Mas. Soalnya saya ngerasa bonekanya udah berhubungan sama yang ga beres," ucap pak Agus.
"Hmmmm … setelah itu masih tetap ada gangguan Pak?" tanya Putra lagi.
"Iya, Mas. Setelah itu saya coba minta bantuan paranormal yang dikenalin sama teman saya, Mas. Setelah paranormalnya datang dan ngecek, katanya ada kiriman gaib yang bertujuan menyerang keluarga saya. Tapi dia langsung bilang kalau ga sanggup buat nanganinnya," jelas Pak Agus.
"Kelanjutannya, gangguan yang kami alami makin mengerikan mas. Mulai dari suara ketawa dan bayangan hitam yang lewat tengah malam sampai kaca-kaca berpecahan tanpa sebab. Udah dua minggu sejak kejadian gangguan pertama, kami udah undang beberapa paranormal dan banyak yang bilang udah berhasil tapi nyatanya besoknya ada gangguan lagi," lanjut Pak Agus dengan suara yang lesu.
"Tenang saja, Pak. Barusan saya sudah beresin makhluk yang ganggu rumah ini, dan rumah bapak bakal saya pagarin supaya kirimannya ga bisa masuk lagi," ucap Putra dengan percaya diri.
"Iya, Mas." Pak Agus hanya mengangguk pelan dengan raut wajah yang ragu.
Aku merasa pak Agus masih tidak begitu percaya, sebab aku melihat raut wajahnya yang seperti ragu ingin mengungkapkan sesuatu. Oleh sebab itu, aku melirik ke arah Putra sebagai kode untuk meminta izin berbicara. Putra membalas lirikanku dan menganggukkan kepalanya dengan pelan layaknya mengerti apa yang kusampaikan.
"Paranormal yang lain juga udah coba buat pagarin rumah Bapak, ya?" tanyaku dengan hati-hati.
"Iya, Mas. Maaf sebelumnya, saya bukan bermaksud mau meremehkan Mas berdua, tapi selama ini paranormal yang lain juga ngomong begitu dan hasilnya tetap sama," jawab pak Agus gugup.
"Kalau Bapak ingat-ingat, sejak pertama kali ada gangguan, ada orang yang tiba-tiba sering datang ke rumah Bapak, gak?" tanyaku dengan serius.
Pak Agus tampak berpikir sejenak, lalu perlahan berbicara. "Hmmmm … selain keluarga dan pembantu kayaknya sih teman akrab yang saya ceritakan tadi, Mas."
"Biasanya waktu dia datang, ada nanya-nanya sesuatu gak, Pak?" tanyaku lagi.
"Ya seperti teman biasa mas, nanya kabar saya dan keluarga. Terus nanyain apa gangguannya sudah hilang atau tidak," jawab pak Agus.
"Pak, bisa buka ruangan kamar Bapak sebentar kah? Saya mau coba cek dulu. Mohon maaf sebelumnya," ucapku.
Sejak kami berhasil mengalahkan makhluk bersimbah darah tadi, aku mengira aura gelap dan negatif yang berasal dari ruangan pak Agus akan perlahan lenyap. Tapi setelah kuperhatikan kembali, ternyata hawa negatif dari dalam sana masih tak kunjung menghilang juga. Ibarat kekalahan dari makhluk bersimbah darah tersebut tidak mempengaruhi keadaan di dalam sana sama sekali.
"Oh iya, Mas. Sebentar saya bereskan dulu," ucap pak Agus dan memberi kode kepada Istrinya agar pergi ke dalam sana.
Setelah beberapa saat kemudian, Istri Pak Agus selesai membereskan kamarnya dan mempersilakan kami untuk masuk mengecek ruangannya. Aku langsung beranjak dan berjalan masuk ke dalam ruangan kamar pak Agus sambil memfokuskan perasaanku pada sumber hawa negatif tersebut.
Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak melihat adanya entitas yang bersemayam di sana. Aku hanya merasa ruangan tersebut penuh dengan hawa negatif yang membuatku sangat tidak nyaman. Hawa tubuhku yang tadinya normal saja mulai terasa panas layaknya ada api menyengat di permukaan kulit.
Setelah beberapa saat mengecek keadaan di dalam sana, aku tak juga menemukan apa pun. Aku hanya bisa merasakan keberadaan hawa negatif yang sangat pekat dan energi negatif yang panas, hingga perlahan tubuhku mulai dibanjiri oleh keringat. Dengan berat hati, akhirnya aku menyerah untuk mencari sumber hawa negatif tersebut dan berniat untuk pergi keluar dari ruangan itu.
Baru saja melangkah keluar dari kamar, tak sengaja aku melirik sesuatu yang mengganjal di sela-sela lemari yang menempel di dinding. Karena penasaran, aku memasukkan jari-jariku ke sela-sela lemari untuk mengambil benda tersebut.
Saat berhasil menjangkaunya, aku langsung menariknya dan mendapati aku sedang memegang sebuah bungkusan hitam. Aku langsung memanggil pak Agus beserta Putra dan langsung menunjukkan apa yang kudapati pada mereka.
Sebenarnya aku sudah merasa ada yang tidak beres dengan bungkusan hitam tersebut, melihat dari bentuknya yang sangat mencurigakan. Tetapi, aku berpikir akan lebih baik untuk memberikannya langsung kepada Pak Agus.
"Itu apa ya, Mas?" tanya pak Agus dengan raut wajah bingung.
"Ga tau, Pak. Tadi saya ga sengaja dapatnya dari sela-sela lemari itu," jawabku sambil menunjuk ke arah lemari yang berada di sebelah pintu.
"Coba dibuka saja, Pak," ucapku sambil memberikan bungkusan hitam itu kepada Pak Agus.
Pak Agus memegang bungkusan hitam itu dengan raut wajah yang bercampur rasa takut dan penasaran. Setelah berhasil membuka ikatan dari bungkusan tersebut, Pak Agus langsung menggoyangkan dan menjatuhkan isinya di atas meja.
Dalam seketika, Pak Agus dan Istrinya menjauh dan mundur beberapa langkah. Raut wajahnya tampak ketakutan setengah mati. Saat kuperhatikan, ternyata isi dari bungkusan hitam tersebut dipenuhi oleh gigi taring dan kuku manusia. Gigi taring dan kuku itu pun masih penuh dengan bekas lumuran darah yang sudah kering.
Sesuai dugaanku, isi dari bungkusan tersebut adalah penyebab utama munculnya hawa negatif di ruangan kamar Pak Agus.
Bersambung ...
Diubah oleh watcheatnsleep 29-03-2023 16:33
iwakcetol dan 55 lainnya memberi reputasi
56
Tutup