- Beranda
- Stories from the Heart
Son of the Rich (Reborn)
...
TS
kawan.betina
Son of the Rich (Reborn)

Quote:
Lembaran pertama - Kota Malang
Bokap gua kerja di salah satu perusahaan asing penambang emas di pulau sumbawa sedangkan nyokap mempunyai beberapa butik dan bisnis makanan yang cukup besar di kota kelahiran gua. dan Perkenalkan nama Gua adrian, anak semata wayang dua sejoli yang bertemu saat bermitra bisnis 25 tahun yang lalu. Gua lahir ke dunia dengan sebuah pengharapan yang besar. Karena untuk mendapatkan Gua, orang tua gua harus menunggu lebih dari 5 tahun.
Hidup serba ada bahkan terlalu berlebihan, pakaian serba bermerk gadget yang selalu menemani gua setiap saat dan mobil yang selalu menemani gw kemana aja, semua itu cukup membutakan gua seperti apa arti dari sebuah perjuangan hidup. Jujur, guaga pernah merasakan rasanya mengumpulkan uang sendiri bahkan hanya untuk membeli sepeda yang gua pengen. ketika mata ini melihat sebuah benda menarik, maka nyokap gua akan bilang, "Adrian Mau?" dan sorenya barang itu sudah ada di rumah. Gua paham nyokap ingin sekali membuat gua bahagia tapi kadang gua merasa ga bisa menikmati hidup ini dengan baik. Dengan Uang mungkin kita bisa bahagia, tapi kita tidak bisa membeli kebahagiaan dengan uang.
Super Duper Over Protektif
itulah hal yang bisa gua simpulkan tentang keluarga gua. Walau Gua hanya bertemu mereka saat weekend saja tapi kalau sudah menyangkut tentang masa depan gua, mereka akan melupakan semuanya dan menitik beratkan fokusnya ke gua.
Gua bukan orang yang bodoh, gua selalu mendapat peringkat 1 dari Sekolah dasar hingga sekarang, tentu kecerdasan gua turun dari bokap dan nyokap. Mereka adalah dua sejoli yang sangat ideal, mereka sama sama pintar dan mereka adalah 2 manusia yang diberikan paras yang cantik dan tampan oleh tuhan , alhasil semua kelebihan itu menurun ke gua.
Untuk urusan masuk sekolah, Orang tua gua selalu sangat hati hati. Saking hati hatinya, Gua bahkan sudah diterima di sekolah menengah atas sebelum gua menjalankan tes masuk. Apalagi lagi kalo bukan karena bokap gua menghubungi kepala sekolah yang merupakan teman lamanya, padahal gua sangat yakin, gua tetep bisa masuk tanpa bantuan mereka. Waktu itu gua marah besar tapi orang tua tetaplah orang tua, mereka selalu ingin anaknya bahagia apapun caranya.
Ketika para siswa sibuk mencari PTN dengan mengikuti berbagai macam Bimbingan Belajar, gua dengan begitu Mudah mendapat tiket masuk disalah satu PTN terbaik di indonesia, tentu sudah bisa ditebak , semua ini karena bokap gua. Untuk kali ini gua memutuskan untuk berontak, tak ingin lagi rasanya gua mengunakan kekuatan orang tua gua buat ngelakuain semuanya.
Hanya berbekal baju yang gua masukin ke Tas Ransel, serta Dompet yang berisi hanya beberapa uang lima puluh ribuan dan ATM yang entah berapa isinya dan ijazah SMA. Gua menuju terminal Bus, mencari loket tiket yang berangkat hari itu juga, Gua memutuskan naik Bus karena Beberapa orang di bandara mengenal Gua. Satu persatu Loket tiket gua datangi, mancari bus-bus yang bisa segera berangkat, menuju Jogja, solo surabaya, bandung, atau entahlah, yang penting gua harus segera pergi dari pulau yang gua diami 17 tahun terakhir, Lombok.
Hanya Tiket Mataram~malang yang ada untuk keberangkatan 1 jam lagi, yang akhirnya diputuskan mungkin gua harus pergi ke malang, 1 jam lagi bus tiba, dan ini pertama kalinya gua harus jauh dari kedua orang tua gua.
NEXT
Sekitar Pukul 4 pagi, bus sudah tiba di sebuah terminal kota malang, ada nuansa berbeda yang gua rasakan di sini. Hawa yang lebih dingin dan tentu perasaan gua yang ga menentu akibat ulah gua ini. Mungkin bokap nyokap gua lagi panik di rumah, ada sedikit rasa bersalah dalem diri gua tapi semoga surat yang gua tulis bisa membuat nyokap gua agak lega.
Ponsel gw sempat berbunyi saat gua menyebrang dari bali ke banyuwangi. Mungkin 10 kali atau 20 kali atau mungkin lebih, dan semua adalah misscall dari nyokap gua. Tanpa pikir panjang ponesl itu gua buang ke laut, beberapa saat kemudian gua sedikit menyesal, kenapa harus gua buang, kenapa ga gua kasih ke orang agar lebih bermanfaat, mungkin ini hasil dari didikan manja orang tua gua, semua jadi serba mudah.
Uang di dompet gua udah kosong melompong untuk membeli tiket dan beli makanan di jalan. Gua mencoba mengelilingi Terminal arjosari untuk mencari ATM di deket sana. Hampir 10 menit gua lalu lalang lalu akhirnya gua bisa bernafas lega, ternyata ATM tidak terlalu jauh dari tempat gua turun tadi. Setelah mengambil beberapa juta dari mesin ATM setelah menarik uang sebanyak 2 kali, Gua mengambil kertas struk yang sudah gua buang ke tempat sampah tadi. Saat gua mengecek nominalnya sebuah angka 1 dan ada 8 digit angka mengikutinya dibelakang, waw... sebanyak inikah uang yang dikirimkan bokap Gua selama ini, setahuku ATM ini diberikan saat ujian nasional kemarin, gua meminta uang hanya buat perpisahan dengan teman teman kelas gw. "Pa ini terlalu banyak".....
Gua masih berdiri di depan ATM. Gua sedang berfikir untuk segera mencari kendaraan untuk menuju kampus-kampus yang ada di kota ini, yang pertama terfikirkan adalah taxi tapi beberapa saat kemudian gua menghapus jauh jauh fikiran itu, gua harus hidup sederhana dan pilihan gua jatuh ke angkot. Mungkin karena gua terlalu fokus menyusun rencana , gua ga sadar bahwa ada seseorang di dekat gua, dari perawakannya dia masih seusia gua, dan dia seorang cewek.
"Mahasiswa baru juga?"
Gua celingak celingkuk mencari siapa yang diajak ngobrol cewek ini.
"Gua bukan indigo yang ngomong sendiri, gua ngomong sama elo" tanya cewek itu sedikit tersenyum melihat kebingungan gua.
"Oh Maaf, maaf. gak kok, eh ya."
Gadis itu lalu tertawa kecil melihat kebingungan gua. Ia sepertinya sudah berdiri di depan ATM sejak gua datang tadi. mungkin dia sedang bosan menunggu.
"Ya atau ga?" pancingnya.
"Gak, gua baru mau tes" jawab gua jujur, walau gak tahu harus tes dimana.
"Oalah, mau ikut tes mandiri toh"
"Mungkin begitu"
"Mungkin?" cewek itu mengerutkan dahu lalu dia tersenyum lebar melihat gua.
"Elu lucu ya, kok kayak linglung gitu" sambungnya.
"Makasih" jawab gua ragu.
"Itu bukan pujian loh"
"Oh maaf" jawabku ragu.
"Hahaha, Bercanda kok,emang elo mau kemana?"
"Kampus" jawabku ragu.
"Kampus apa? kan di sini ada puluhan kampus"
"Yang ada di malang"
"kan memang kita kan lagi dimalang"
"Yang deket deket aja mungkin" jawabku ragu. bodohnya aku gak cari referensi sebelum datang ke sini"
"hahaha... deket dari mana, kamu lucu ya"
"Gua harus bilang makasih atau maaf nih?" takut itu malah hinaan.
"Apa aja deh, kenalin nama gua Friska. Gua mahasiswa baru di Universitas Wijaya" dia mengulurkan tangannya untuk menjabat.
"Gua Adrian.. mmm mantan anak SMA " Jawab gua seraya menjabat tangannya.
"hahaha... ada ada sih aja elo"
"elo ngambil apa di Wijaya?"
"Gua?, Biologi"
"Biologi? mmm belajar biologi seru?" tanyaku penasaran.
"Kalo Gua sih suka, emang elo minatnya apa?"
"Yang bisa ngebuat hidup ini lebih seru dan asik" jawabku jujur. Selama ini hal yang gua idam idamkan.
"hahaha diplomatis bin ngawur jawaban elo" jawab friska.
"Bukan diplomatis, lebih tepatnya Gua bingung aja"
"Bingung? Bingung kenapa?"
TIIIINNN TIIINNNN
Suara klakson motor membuyarkan obrolan kami, seorang cewek berhenti di depan kami berdua.
"Frish udah lama?" tanya cewek yang baru datang itu.
"Udah kering neh gigi gua nunggu elo" jawab friska.
"Maaf maaf, tadi agak macet maklum weekend"
"Gua maafin asal lo traktir gua es cream" goda Friska.
"Ih maruk sekali, udah minta di jemput, sekarang minta di traktir. Nunggunya sama cowok ganteng lagi"
"Eh dasar mulut elo nyablak bener seh, oh iya adrian gw duluan ya, sukses buat Tesnya, ayok bela, tarik"
"Tarik tarik, emang gw angkot"..
"Becanda bela"
"Bener neh gua ga dikenalain nih?"
"Eh elo apa apan sih, malu maluin aja, ayo berangkat"
"Duluan ya ganteng" kata cewek yang dipanggil bela oleh Friska tadi.
Mareka akhirnya melaju memecah kota malang.
Friska, orang pertama yang gua kenal di kota ini.
Oke, Gua udah mutusin buat ikut tes mandiri Universitas Wijaya, jurusan Biologi.
Bokap gua kerja di salah satu perusahaan asing penambang emas di pulau sumbawa sedangkan nyokap mempunyai beberapa butik dan bisnis makanan yang cukup besar di kota kelahiran gua. dan Perkenalkan nama Gua adrian, anak semata wayang dua sejoli yang bertemu saat bermitra bisnis 25 tahun yang lalu. Gua lahir ke dunia dengan sebuah pengharapan yang besar. Karena untuk mendapatkan Gua, orang tua gua harus menunggu lebih dari 5 tahun.
Hidup serba ada bahkan terlalu berlebihan, pakaian serba bermerk gadget yang selalu menemani gua setiap saat dan mobil yang selalu menemani gw kemana aja, semua itu cukup membutakan gua seperti apa arti dari sebuah perjuangan hidup. Jujur, guaga pernah merasakan rasanya mengumpulkan uang sendiri bahkan hanya untuk membeli sepeda yang gua pengen. ketika mata ini melihat sebuah benda menarik, maka nyokap gua akan bilang, "Adrian Mau?" dan sorenya barang itu sudah ada di rumah. Gua paham nyokap ingin sekali membuat gua bahagia tapi kadang gua merasa ga bisa menikmati hidup ini dengan baik. Dengan Uang mungkin kita bisa bahagia, tapi kita tidak bisa membeli kebahagiaan dengan uang.
Super Duper Over Protektif
itulah hal yang bisa gua simpulkan tentang keluarga gua. Walau Gua hanya bertemu mereka saat weekend saja tapi kalau sudah menyangkut tentang masa depan gua, mereka akan melupakan semuanya dan menitik beratkan fokusnya ke gua.
Gua bukan orang yang bodoh, gua selalu mendapat peringkat 1 dari Sekolah dasar hingga sekarang, tentu kecerdasan gua turun dari bokap dan nyokap. Mereka adalah dua sejoli yang sangat ideal, mereka sama sama pintar dan mereka adalah 2 manusia yang diberikan paras yang cantik dan tampan oleh tuhan , alhasil semua kelebihan itu menurun ke gua.
Untuk urusan masuk sekolah, Orang tua gua selalu sangat hati hati. Saking hati hatinya, Gua bahkan sudah diterima di sekolah menengah atas sebelum gua menjalankan tes masuk. Apalagi lagi kalo bukan karena bokap gua menghubungi kepala sekolah yang merupakan teman lamanya, padahal gua sangat yakin, gua tetep bisa masuk tanpa bantuan mereka. Waktu itu gua marah besar tapi orang tua tetaplah orang tua, mereka selalu ingin anaknya bahagia apapun caranya.
Ketika para siswa sibuk mencari PTN dengan mengikuti berbagai macam Bimbingan Belajar, gua dengan begitu Mudah mendapat tiket masuk disalah satu PTN terbaik di indonesia, tentu sudah bisa ditebak , semua ini karena bokap gua. Untuk kali ini gua memutuskan untuk berontak, tak ingin lagi rasanya gua mengunakan kekuatan orang tua gua buat ngelakuain semuanya.
Hanya berbekal baju yang gua masukin ke Tas Ransel, serta Dompet yang berisi hanya beberapa uang lima puluh ribuan dan ATM yang entah berapa isinya dan ijazah SMA. Gua menuju terminal Bus, mencari loket tiket yang berangkat hari itu juga, Gua memutuskan naik Bus karena Beberapa orang di bandara mengenal Gua. Satu persatu Loket tiket gua datangi, mancari bus-bus yang bisa segera berangkat, menuju Jogja, solo surabaya, bandung, atau entahlah, yang penting gua harus segera pergi dari pulau yang gua diami 17 tahun terakhir, Lombok.
Hanya Tiket Mataram~malang yang ada untuk keberangkatan 1 jam lagi, yang akhirnya diputuskan mungkin gua harus pergi ke malang, 1 jam lagi bus tiba, dan ini pertama kalinya gua harus jauh dari kedua orang tua gua.
NEXT
Sekitar Pukul 4 pagi, bus sudah tiba di sebuah terminal kota malang, ada nuansa berbeda yang gua rasakan di sini. Hawa yang lebih dingin dan tentu perasaan gua yang ga menentu akibat ulah gua ini. Mungkin bokap nyokap gua lagi panik di rumah, ada sedikit rasa bersalah dalem diri gua tapi semoga surat yang gua tulis bisa membuat nyokap gua agak lega.
Ponsel gw sempat berbunyi saat gua menyebrang dari bali ke banyuwangi. Mungkin 10 kali atau 20 kali atau mungkin lebih, dan semua adalah misscall dari nyokap gua. Tanpa pikir panjang ponesl itu gua buang ke laut, beberapa saat kemudian gua sedikit menyesal, kenapa harus gua buang, kenapa ga gua kasih ke orang agar lebih bermanfaat, mungkin ini hasil dari didikan manja orang tua gua, semua jadi serba mudah.
Uang di dompet gua udah kosong melompong untuk membeli tiket dan beli makanan di jalan. Gua mencoba mengelilingi Terminal arjosari untuk mencari ATM di deket sana. Hampir 10 menit gua lalu lalang lalu akhirnya gua bisa bernafas lega, ternyata ATM tidak terlalu jauh dari tempat gua turun tadi. Setelah mengambil beberapa juta dari mesin ATM setelah menarik uang sebanyak 2 kali, Gua mengambil kertas struk yang sudah gua buang ke tempat sampah tadi. Saat gua mengecek nominalnya sebuah angka 1 dan ada 8 digit angka mengikutinya dibelakang, waw... sebanyak inikah uang yang dikirimkan bokap Gua selama ini, setahuku ATM ini diberikan saat ujian nasional kemarin, gua meminta uang hanya buat perpisahan dengan teman teman kelas gw. "Pa ini terlalu banyak".....
Gua masih berdiri di depan ATM. Gua sedang berfikir untuk segera mencari kendaraan untuk menuju kampus-kampus yang ada di kota ini, yang pertama terfikirkan adalah taxi tapi beberapa saat kemudian gua menghapus jauh jauh fikiran itu, gua harus hidup sederhana dan pilihan gua jatuh ke angkot. Mungkin karena gua terlalu fokus menyusun rencana , gua ga sadar bahwa ada seseorang di dekat gua, dari perawakannya dia masih seusia gua, dan dia seorang cewek.
"Mahasiswa baru juga?"
Gua celingak celingkuk mencari siapa yang diajak ngobrol cewek ini.
"Gua bukan indigo yang ngomong sendiri, gua ngomong sama elo" tanya cewek itu sedikit tersenyum melihat kebingungan gua.
"Oh Maaf, maaf. gak kok, eh ya."
Gadis itu lalu tertawa kecil melihat kebingungan gua. Ia sepertinya sudah berdiri di depan ATM sejak gua datang tadi. mungkin dia sedang bosan menunggu.
"Ya atau ga?" pancingnya.
"Gak, gua baru mau tes" jawab gua jujur, walau gak tahu harus tes dimana.
"Oalah, mau ikut tes mandiri toh"
"Mungkin begitu"
"Mungkin?" cewek itu mengerutkan dahu lalu dia tersenyum lebar melihat gua.
"Elu lucu ya, kok kayak linglung gitu" sambungnya.
"Makasih" jawab gua ragu.
"Itu bukan pujian loh"
"Oh maaf" jawabku ragu.
"Hahaha, Bercanda kok,emang elo mau kemana?"
"Kampus" jawabku ragu.
"Kampus apa? kan di sini ada puluhan kampus"
"Yang ada di malang"
"kan memang kita kan lagi dimalang"
"Yang deket deket aja mungkin" jawabku ragu. bodohnya aku gak cari referensi sebelum datang ke sini"
"hahaha... deket dari mana, kamu lucu ya"
"Gua harus bilang makasih atau maaf nih?" takut itu malah hinaan.
"Apa aja deh, kenalin nama gua Friska. Gua mahasiswa baru di Universitas Wijaya" dia mengulurkan tangannya untuk menjabat.
"Gua Adrian.. mmm mantan anak SMA " Jawab gua seraya menjabat tangannya.
"hahaha... ada ada sih aja elo"
"elo ngambil apa di Wijaya?"
"Gua?, Biologi"
"Biologi? mmm belajar biologi seru?" tanyaku penasaran.
"Kalo Gua sih suka, emang elo minatnya apa?"
"Yang bisa ngebuat hidup ini lebih seru dan asik" jawabku jujur. Selama ini hal yang gua idam idamkan.
"hahaha diplomatis bin ngawur jawaban elo" jawab friska.
"Bukan diplomatis, lebih tepatnya Gua bingung aja"
"Bingung? Bingung kenapa?"
TIIIINNN TIIINNNN
Suara klakson motor membuyarkan obrolan kami, seorang cewek berhenti di depan kami berdua.
"Frish udah lama?" tanya cewek yang baru datang itu.
"Udah kering neh gigi gua nunggu elo" jawab friska.
"Maaf maaf, tadi agak macet maklum weekend"
"Gua maafin asal lo traktir gua es cream" goda Friska.
"Ih maruk sekali, udah minta di jemput, sekarang minta di traktir. Nunggunya sama cowok ganteng lagi"
"Eh dasar mulut elo nyablak bener seh, oh iya adrian gw duluan ya, sukses buat Tesnya, ayok bela, tarik"
"Tarik tarik, emang gw angkot"..
"Becanda bela"
"Bener neh gua ga dikenalain nih?"
"Eh elo apa apan sih, malu maluin aja, ayo berangkat"
"Duluan ya ganteng" kata cewek yang dipanggil bela oleh Friska tadi.
Mareka akhirnya melaju memecah kota malang.
Friska, orang pertama yang gua kenal di kota ini.
Oke, Gua udah mutusin buat ikut tes mandiri Universitas Wijaya, jurusan Biologi.
Polling
0 suara
Terlepas dari plot kisah ini, ada di team manakah kalian?
Diubah oleh kawan.betina 16-10-2020 18:01
majapahit210586 dan 154 lainnya memberi reputasi
139
390.3K
Kutip
1.9K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•4Anggota
Tampilkan semua post
TS
kawan.betina
#249
[BOOK II] Lembaran ke tiga dua (5) - Awal yang baru
Quote:
Pagi itu gua lalu menyusun strategi untuk kembali pulang ke Malang. Dari Hotel gua akhirnya ikut dengan mobil logistic Hotel yang akan pergi kedekat pelabuhan. Setelah gua berbincang-bincang dengan Sopir mobil box itu akhirnya gua dizinkan ikut.
Sesampainya di pelabuhan gua lalu meminta izin untuk ikut dengan Truck besar yang membawa barang ke Surabaya, beruntung seorang sopir yang tinggal di malang mengizinkan gua untuk ikut dengan sedikit berbohong kalau gua adalah mahasiswa yang tidak punya uang untuk kembali kemalang. Walau tidak sepenuhnya bohong, gua memang tidak punya uang selain yang diberikan Kak desi. Selain itu wajah gua yang babak belur mungkin membuat dia kasihan dengan gua. Untung saja bapak percaya saay gua bilang gua di tonjok oleh paman gua karena berusaha untuk kuliah. Selama diperjalanan rasanya sangat menyedihkan. Fikiran ini akhirnya sering melayang-layang kesana kemari, memikirkan kejadian tadi malam, penyesalan itu akhirnya menerjang setelah tadi malam ditutup emosi , teringat anis yang pasti sangat sedih dengan kejadian itu. Lalu mama yang pastinya amat sangat kecewa mengingat betapa bodohnya gua saat diselimuti nafsu. Perasaan tidak karuan muncul, sakit takut shock malu bingung saat gua katahuan melakukan itu di depan orang tua sendiri. Akhirnya air mata ini menetes juga.
“le, kok nangis?” Tanya Pak sopir.
“gak ada pak, inget orang tua pak, Sama wajah saya sakit banget” jawab gua.
“Sabar yo le, hidup itu memang berat, tapi inget tuhan itu menurunkan masalah sekaligus dengan solusinya. jadi daripada mikir masalah lebih baik kamu fikirkan solusinya,” kata Sopir truk dengan bijak. “Contoh solusi kemacetan ini adalah istirahat di pinggir sambil ngopi agar nanti kalo jalan lagi gak ngantuk,” Lanjut pak sopir. "Sekalian nanti minta obat dipenjaga warung, biasanya mereka punya minyak minyak maling. yang ampuh buat obatin luka."
Gua mengangguk.
Perjalanan naik truck tak secepat naik bus, karena truck ini sering mampir-mampir ke warung-warung daerah pantai utara. Beruntunglah gua karena sopir tak menarik ongkos sama sekali karena dia malah senang ada teman bicara karena kenek truknya tidak bisa ikut. Mama terus menghubungi gua sampai akhirnya ponsel gua kehabisan batrai.
Gua lalu di turunkan di gempol, dan dengan bus ekonomi gua melanjutkan perjalanan menuju Malang. Gua sampailah di terminal arjosari. Tempat yang dulu pernah menjadi destinasi pertama gua saat pertama kalinya gua menginjakkan kaki gua di malang. Kenangan mulai memenuhi otak gua. ATM tempat gua dan Friska bertemu. Kebingungan harus kuliah di mana. Dan semua itu terjadi 6 bulan yang lalu.
Gua lalu melanjutkan perjalanan menuju kosan gua di rumah Ipeh. Sesampainya disana ternyata Rumah Ipeh sepi karena sekeluarga pergi acara nikahan di luar kota dan tidak pulang beberapa hari, begitulah Info dari paman ipeh yang diberi tanggung jawab sementara menjad kosan ini. Gua lalu membereskan semua barang barang gua dan berharap segera pergi dari tempat ini.
“om, gua mau pindah om, dalam minggu ini” kata Gua meminta izin kepada Paman Ipeh.
“Loh ian, bukannya kamu baru berapa bulan disini ian ya? Bapak juga seneng ian disini,” kata Paman ipeh. Bapak sebutan untuk orang tua ipeh.
“ga ada apa-apa om, ian mau kos sama temen selain itu, ga enak aja om , ngerepotin, di sini juga saya bayar murah banget dibanding kost cewek” jawab Gua.
Gua tahu info ini sebelum pulang ke Lombok, ternyata dulu ipeh bohongin gua, harga kost Ipeh bukan 400 tapi 800 ribu perbulan. Jadi selama ini mengasihani gua. gua yakin ipeh akan marah kalo gua pindah apalagi gua gak bilang bilang. Kalau alasannya uang pasti dia akan bilang bahwa dia akan menggratiskan gua tinggal di kosannya.
“Saya nelfon bapak dulu aja ya” kata paman Ipeh, gua langsung mencegahnya.
“Nanti aja kalo bapak Ipeh dan keluarga sudah pulang om. Takutnya mereka sedang sibuk disana dan malah kepikiran.
“oke deh, kapan kamu mau pindah ian?
“Dua atau tiga hari lagi,”
********************************************
Gua melakukan hal yang persis gua lakukan dulu saat baru datang ke malang. Berkeliling mencari kos yang terjangkau dan pekerjaan yang bisa gua lakukan di jeda kuliah gua. Walau gua sudah lebih tahu lingkungan kos kos ini tapi mencari kosan murah yang bayar perbulan ternyata susah sekali. Untuk biaya lebih murah tentu mereka minta bayaran untuk setahun.
Mencari pekerjaan juga masalah besar buat gua. Semester ini gua akan lebih sibuk dari semester lalu karena jumlah SKS tentu akan naik disbanding saat semester satu, solusinya adalah mencari pekerjaan yang di mulai sore atau sehabis magrib sampai malam. Saat gua mulai putus asa mencari dengan door to door, gua mencoba untuk ke Warnet untuk menceri pekerjaan lewat Facebook atau website.
15 menit gua berusaha mencari pekerjaan yang cocok namun untuk pekerjaan part time sangat susah dicari. Hanya ada bimbel dan semacamnya yang selama ini gua juga sudah jalani. Sampai akhirnya pandangan gua tertuju pada sebuah kertas yang ditempel di meja operator warnet. Gua lalu langsung mendekat untuk melihatnya lebih jelas.
“Mau kerja di sini Mas?” Tanya si Operator.
“Lowongan ini masih ada?” Tanya Gua,
“Masih, kalau serius langsung aja ke Lantai dua.” Kata Si operator.
“Oke, terima kasih mas.”
Gua langsung bergegas ke atas dan mendapati seseorang sedang melihat gudang di lantai dua. Seorang Pria yang memasuki usia 40 tahun dengan pakaian sederhana dan perut sudah membuncit.
“Pak,” Tanya Gua.
“Ya, mau cari toilet?”
“Bukan pak, saya mau melamar pekerjaan pak,”
“Sudah lulus SMA?”
“Kebetulan saya kuliah pak, jurusan matametika,”
Si BOS langsung menjelaskan system kerja di Warnet yang dia miliki, Sistem kerja di bagi menjadi 3 shift, dan setiap shiif terdiri dari 8 jam kerja. Gajinya sekitar 800 ribu setiap bulan.
“Kalau kamu kuliah ambil Shif jam 10 sampai jam 6 aja. Asal kamu bisa begadang,” kata Pemilik Warnet.
“Bisa bisa pak,”
“Kapan kamu bisa mulai,”
“Secepatnya Pak,” jawab gua senang.
“Besok kamu datang ke sini minta diajarkan dulu sama operator di bawah apa aja yang harus kamu tahu. Tempat ini rencananya buat kamar penjaga dan tukang bersih bersih,” kata Si pemilik.
“Saya bisa bersih bersih pak kalau mau, saya juga bisa tinggal di sini untuk jaga warnet,”
“Oke, besok kita ketemu lagi ya, Bawa KTP dan KTM mu sebagai jaminan. Kalau kamu sanggup bersih bersih nanti bapak tambah 400 ribu, tapi dengan syarat warnet ini tidak boleh kotor dan jorok,”
“Siap pak,”
“Oke deh,”
Teringat perkataan supir truk kemarin. Tuhan menurunkan masalah bersamaan dengan solusinya. sekarang gua merasa lega bisa mendapatkan perkerjaan bonus kos kosan. Gua harus membuktikan kepada papa kalau gua bisa mandiri.
Selama prose pindahan dan orientasi gua sebagai operator warnet. Ponsel gua penuh dengan misscall dan pesan dari mama dan orang orang terdekat gua. Jujur gua males untuk mersponnya. Gua ingin focus dengan apa yang ada di depan gua sekarang. Pindahan. Menyesuikan diri dengan pekerjaan. Dan membangun perasaan ini agar lebih kuat menjalani kehidupan kedepan.
Pesan :
MAMA
Ian, sayang.
Kenapa telfon mama tidak diangkat. Ian baik baik saja kan?
Mama ingin sekali ketemu ian tapi papamu melarang.
Maafkan mama tidak bisa melindungi kamu.
Bagaimana wajahmu, apakah sudah diobati.
maaf mama tidak bisa berbuat banyak sekarang,
Mama tidak mungkin melawan papa.
Adrian. sayang.
Anis sudah pulang. Desi juga sudah kesurabaya.
Kami memutuskan untuk merahasiakan kejadian ini.
Jangan sampai kamu rusak hubungan dengan ANis ya.
Jangan Anis buat mama.
Pesan :
ANIS
Mas, ian. Apakah mas ian sudah di malang?
kenapa telfon Anis tidak diangkat.
Please Mas Anis hars ketemu mas ian.
Pesan :
IPEH
Gembel? Apa maksud lo kayak gini.
kenapa kamar lo kosong?
Lo kemana? kalau ada masalah bilang.
Lo kenapa seh? Lo marah sama gua!!!
bales sms gua sekarang, angkat telfon gua!!
Pesan :
FRISKA
ian, kamu kapan ke malang? friska dah kangen
Pesan :
LINDA
Ian, Lo dimana? Gua udah di malang. Kemarin baru pulang dari jogja bareng jaka.
elo dimana? berapa hari ini hati gua ga tenang ?
kepeikiran elo mulu!!
elo ga lagi ada masalah kan ?
kasih kabar yah, gua ada firasat ga enak
Sesampainya di pelabuhan gua lalu meminta izin untuk ikut dengan Truck besar yang membawa barang ke Surabaya, beruntung seorang sopir yang tinggal di malang mengizinkan gua untuk ikut dengan sedikit berbohong kalau gua adalah mahasiswa yang tidak punya uang untuk kembali kemalang. Walau tidak sepenuhnya bohong, gua memang tidak punya uang selain yang diberikan Kak desi. Selain itu wajah gua yang babak belur mungkin membuat dia kasihan dengan gua. Untung saja bapak percaya saay gua bilang gua di tonjok oleh paman gua karena berusaha untuk kuliah. Selama diperjalanan rasanya sangat menyedihkan. Fikiran ini akhirnya sering melayang-layang kesana kemari, memikirkan kejadian tadi malam, penyesalan itu akhirnya menerjang setelah tadi malam ditutup emosi , teringat anis yang pasti sangat sedih dengan kejadian itu. Lalu mama yang pastinya amat sangat kecewa mengingat betapa bodohnya gua saat diselimuti nafsu. Perasaan tidak karuan muncul, sakit takut shock malu bingung saat gua katahuan melakukan itu di depan orang tua sendiri. Akhirnya air mata ini menetes juga.
“le, kok nangis?” Tanya Pak sopir.
“gak ada pak, inget orang tua pak, Sama wajah saya sakit banget” jawab gua.
“Sabar yo le, hidup itu memang berat, tapi inget tuhan itu menurunkan masalah sekaligus dengan solusinya. jadi daripada mikir masalah lebih baik kamu fikirkan solusinya,” kata Sopir truk dengan bijak. “Contoh solusi kemacetan ini adalah istirahat di pinggir sambil ngopi agar nanti kalo jalan lagi gak ngantuk,” Lanjut pak sopir. "Sekalian nanti minta obat dipenjaga warung, biasanya mereka punya minyak minyak maling. yang ampuh buat obatin luka."
Gua mengangguk.
Perjalanan naik truck tak secepat naik bus, karena truck ini sering mampir-mampir ke warung-warung daerah pantai utara. Beruntunglah gua karena sopir tak menarik ongkos sama sekali karena dia malah senang ada teman bicara karena kenek truknya tidak bisa ikut. Mama terus menghubungi gua sampai akhirnya ponsel gua kehabisan batrai.
Gua lalu di turunkan di gempol, dan dengan bus ekonomi gua melanjutkan perjalanan menuju Malang. Gua sampailah di terminal arjosari. Tempat yang dulu pernah menjadi destinasi pertama gua saat pertama kalinya gua menginjakkan kaki gua di malang. Kenangan mulai memenuhi otak gua. ATM tempat gua dan Friska bertemu. Kebingungan harus kuliah di mana. Dan semua itu terjadi 6 bulan yang lalu.
Gua lalu melanjutkan perjalanan menuju kosan gua di rumah Ipeh. Sesampainya disana ternyata Rumah Ipeh sepi karena sekeluarga pergi acara nikahan di luar kota dan tidak pulang beberapa hari, begitulah Info dari paman ipeh yang diberi tanggung jawab sementara menjad kosan ini. Gua lalu membereskan semua barang barang gua dan berharap segera pergi dari tempat ini.
“om, gua mau pindah om, dalam minggu ini” kata Gua meminta izin kepada Paman Ipeh.
“Loh ian, bukannya kamu baru berapa bulan disini ian ya? Bapak juga seneng ian disini,” kata Paman ipeh. Bapak sebutan untuk orang tua ipeh.
“ga ada apa-apa om, ian mau kos sama temen selain itu, ga enak aja om , ngerepotin, di sini juga saya bayar murah banget dibanding kost cewek” jawab Gua.
Gua tahu info ini sebelum pulang ke Lombok, ternyata dulu ipeh bohongin gua, harga kost Ipeh bukan 400 tapi 800 ribu perbulan. Jadi selama ini mengasihani gua. gua yakin ipeh akan marah kalo gua pindah apalagi gua gak bilang bilang. Kalau alasannya uang pasti dia akan bilang bahwa dia akan menggratiskan gua tinggal di kosannya.
“Saya nelfon bapak dulu aja ya” kata paman Ipeh, gua langsung mencegahnya.
“Nanti aja kalo bapak Ipeh dan keluarga sudah pulang om. Takutnya mereka sedang sibuk disana dan malah kepikiran.
“oke deh, kapan kamu mau pindah ian?
“Dua atau tiga hari lagi,”
********************************************
Gua melakukan hal yang persis gua lakukan dulu saat baru datang ke malang. Berkeliling mencari kos yang terjangkau dan pekerjaan yang bisa gua lakukan di jeda kuliah gua. Walau gua sudah lebih tahu lingkungan kos kos ini tapi mencari kosan murah yang bayar perbulan ternyata susah sekali. Untuk biaya lebih murah tentu mereka minta bayaran untuk setahun.
Mencari pekerjaan juga masalah besar buat gua. Semester ini gua akan lebih sibuk dari semester lalu karena jumlah SKS tentu akan naik disbanding saat semester satu, solusinya adalah mencari pekerjaan yang di mulai sore atau sehabis magrib sampai malam. Saat gua mulai putus asa mencari dengan door to door, gua mencoba untuk ke Warnet untuk menceri pekerjaan lewat Facebook atau website.
15 menit gua berusaha mencari pekerjaan yang cocok namun untuk pekerjaan part time sangat susah dicari. Hanya ada bimbel dan semacamnya yang selama ini gua juga sudah jalani. Sampai akhirnya pandangan gua tertuju pada sebuah kertas yang ditempel di meja operator warnet. Gua lalu langsung mendekat untuk melihatnya lebih jelas.
“Mau kerja di sini Mas?” Tanya si Operator.
“Lowongan ini masih ada?” Tanya Gua,
“Masih, kalau serius langsung aja ke Lantai dua.” Kata Si operator.
“Oke, terima kasih mas.”
Gua langsung bergegas ke atas dan mendapati seseorang sedang melihat gudang di lantai dua. Seorang Pria yang memasuki usia 40 tahun dengan pakaian sederhana dan perut sudah membuncit.
“Pak,” Tanya Gua.
“Ya, mau cari toilet?”
“Bukan pak, saya mau melamar pekerjaan pak,”
“Sudah lulus SMA?”
“Kebetulan saya kuliah pak, jurusan matametika,”
Si BOS langsung menjelaskan system kerja di Warnet yang dia miliki, Sistem kerja di bagi menjadi 3 shift, dan setiap shiif terdiri dari 8 jam kerja. Gajinya sekitar 800 ribu setiap bulan.
“Kalau kamu kuliah ambil Shif jam 10 sampai jam 6 aja. Asal kamu bisa begadang,” kata Pemilik Warnet.
“Bisa bisa pak,”
“Kapan kamu bisa mulai,”
“Secepatnya Pak,” jawab gua senang.
“Besok kamu datang ke sini minta diajarkan dulu sama operator di bawah apa aja yang harus kamu tahu. Tempat ini rencananya buat kamar penjaga dan tukang bersih bersih,” kata Si pemilik.
“Saya bisa bersih bersih pak kalau mau, saya juga bisa tinggal di sini untuk jaga warnet,”
“Oke, besok kita ketemu lagi ya, Bawa KTP dan KTM mu sebagai jaminan. Kalau kamu sanggup bersih bersih nanti bapak tambah 400 ribu, tapi dengan syarat warnet ini tidak boleh kotor dan jorok,”
“Siap pak,”
“Oke deh,”
Teringat perkataan supir truk kemarin. Tuhan menurunkan masalah bersamaan dengan solusinya. sekarang gua merasa lega bisa mendapatkan perkerjaan bonus kos kosan. Gua harus membuktikan kepada papa kalau gua bisa mandiri.
Selama prose pindahan dan orientasi gua sebagai operator warnet. Ponsel gua penuh dengan misscall dan pesan dari mama dan orang orang terdekat gua. Jujur gua males untuk mersponnya. Gua ingin focus dengan apa yang ada di depan gua sekarang. Pindahan. Menyesuikan diri dengan pekerjaan. Dan membangun perasaan ini agar lebih kuat menjalani kehidupan kedepan.
Pesan :
MAMA
Ian, sayang.
Kenapa telfon mama tidak diangkat. Ian baik baik saja kan?
Mama ingin sekali ketemu ian tapi papamu melarang.
Maafkan mama tidak bisa melindungi kamu.
Bagaimana wajahmu, apakah sudah diobati.
maaf mama tidak bisa berbuat banyak sekarang,
Mama tidak mungkin melawan papa.
Adrian. sayang.
Anis sudah pulang. Desi juga sudah kesurabaya.
Kami memutuskan untuk merahasiakan kejadian ini.
Jangan sampai kamu rusak hubungan dengan ANis ya.
Jangan Anis buat mama.
Pesan :
ANIS
Mas, ian. Apakah mas ian sudah di malang?
kenapa telfon Anis tidak diangkat.
Please Mas Anis hars ketemu mas ian.
Pesan :
IPEH
Gembel? Apa maksud lo kayak gini.
kenapa kamar lo kosong?
Lo kemana? kalau ada masalah bilang.
Lo kenapa seh? Lo marah sama gua!!!
bales sms gua sekarang, angkat telfon gua!!
Pesan :
FRISKA
ian, kamu kapan ke malang? friska dah kangen
Pesan :
LINDA
Ian, Lo dimana? Gua udah di malang. Kemarin baru pulang dari jogja bareng jaka.
elo dimana? berapa hari ini hati gua ga tenang ?
kepeikiran elo mulu!!
elo ga lagi ada masalah kan ?
kasih kabar yah, gua ada firasat ga enak
Diubah oleh kawan.betina 28-10-2020 14:11
bebyzha dan 38 lainnya memberi reputasi
39
Kutip
Balas
Tutup