- Beranda
- Stories from the Heart
Awakening (Supranatural & Romance)
...
TS
watcheatnsleep
Awakening (Supranatural & Romance)

Ini merupakan thread pertama TS jadi mohon maaf kalau penulisannya masih agak berantakan dan kurang menarik.
Kalau ada kekurangan atau kesalahan kiranya bisa comment di thread ini buat pembelajaran sendiri bagi TS kedepannya.
Semoga ceritanya dapat dinikmati agan-agan sekalian, Thank you ^^.
INTRO
"Mereka" yang lebih dikenal dengan sebutan hantu, setan, jin, roh, makhluk halus dan sejenisnya, sejak dahulu kala eksistensi mereka selalu memicu suatu perdebatan. Begitu juga dengan Rama, seorang mahasiswa yang awalnya tak begitu percaya akan adanya keberadaan mereka, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan, bahwa ternyata eksistensi “Mereka” benar adanya.
Semua itu bermula dari pertemuannya dengan Adellia. Seorang wanita misterius yang menyimpan segudang rahasia di balik figurnya. Tanpa disadari Rama, benih-benih cinta telah timbul pada pandangan yang pertama. Sebuah rasa yang muncul untuk pertama kali dalam hidupnya.
Wanita demi wanita muncul mewarnai hidup Rama, bersamaan dengan setumpuk masalah yang mereka emban. Di sisi lain, bangkitnya indra keenam Rama seakan menuntunnya kepada sebuah perjalanan panjang untuk mencari jati dirinya.
Akankah Rama berhasil menemukan jati dirinya?
INDEKS
SEASON 1 : SIXTH SENSE
1. Sebuah Awal
2. Mimpi yang Aneh
3. Kesurupan Massal
4. Warna Merah
5. Hilang Kesadaran
6. Salah Tingkah
7. Wanita yang Berdiri di Sudut Kelas
8. Sebuah Awal
9. Pelet
10. Konfrontasi
11. Menjalani Kehidupan Kampus
12. Menikmati Momen yang Langka
13. Pilihan
14. Genderuwo
15. Film India
16. Teman Baru
17. Tengah Malam
18. Memori yang Indah
19. Cubitan Manja
20. Dominasi
21. Bukan Siapa-Siapa
22. Perasaan Kacau
23. Melissa
24. Maaf
25. Playboy
26. Tapi Bohong
27. Mobil yang Bergoyang
28. Truth or Dare
29. Tertawa Terbahak-bahak
30. Pembuktian
31. Pengakuan
32. Mimpi Buruk
33. Menikmati
34. Penyesalan
35. Kopi Darat
36. Terjatuh
37. Pulang
38. Makhluk yang Bersimbah Darah
39. Bungkusan Hitam
40. Pengalaman Putra
41. Firasat Buruk
42. Pulang ke Kost
43. Terkejut
44. Ancaman
45. Cerita Dibalik Rara
46. Kurang Tahan Lama
47. Hadiah
48. Rencana
49. Eksperimen
50. Titipan Eyang
51. Kecil
52. Penangkapan
53. Merek Baju
54. Drama
55. Pesan Singkat
56. Nadia
57. Hujan
58. Pesugihan
59. Hilang
60. Kolam
61. Kerjasama
62. Perang
63. Pengorbanan
64. Kisah Putra
65. Jatuhu
66. Awakening
67. Kabar Buruk
68. Raga Sukma
69. Perpisahan <END>
AWAKENING SEASON 2 : AMURTI
Link : https://kask.us/iOTnR
Wattpad : @vikrama_nirwasita
Karyakarsa : vikrama
Instagram : @vikrama_nirwasita
Terimakasih

Diubah oleh watcheatnsleep 04-04-2023 00:03
madezero dan 86 lainnya memberi reputasi
85
127.1K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
watcheatnsleep
#270
Chapter 38 Makhluk yang Bersimbah Darah
"Dia itu maksudnya siapa, Pak?" tanyaku dengan ragu.
Tanpa mengucapkan kata-kata, Ayahku menatap ke arah belakangnya. Aku diam sejenak, tak menyangka bahwa Ayahku ternyata bisa melihatnya juga.
Dengan rasa ragu, perlahan aku menjawab, "Iya, Pak. Rama bisa ngelihat dia.”
“Apa Bapak beneran bisa ngelihat makhluk halus?" tanyaku untuk memastikan.
Namun Ayahku tak menghiraukan ucapanku dan malah menanyaku balik. "Sejak kapan kamu bisa ngelihat mereka?"
Dengan sedikit gugup, aku menjawab, "Awal-awal masuk kuliah."
"Gimana perasaan kamu? Masih bisa nyaman atau tidak?" tanya Ayahku sembari menatapku dalam-dalam.
"Sejauh ini masih aman," jawabku pelan.
Ayahku tampak mengernyitkan dahinya lalu bertanya, "Kamu udah bisa kendalikan mata ketigamu?"
"Iya, Pak. Makanya tadi sengaja aku hidupin, karena penasaran," jawabku ragu, karena aku bingung kenapa dia tampak sangat serius.
Ayahku tampak berpikir sejenak sembari mengelus-elus dagunya, lalu dia berkata, "Kalo kamu ga nyaman, Bapak mau coba nutup mata ketiga kamu lagi."
"Lagi? Emangnya mata ketigaku pernah ditutup?" tanyaku heran.
"Dulu waktu kamu masih umur empat tahun, Bapak sama Eyang sempat nutup mata ketiga kamu. Soalnya dulu kamu itu sering ngelamun dan suka dideketin sama makhluk-makhluk halus," jelas Ayahku perlahan.
"Tapi kok aku ga ingat sama sekali, ya?" tanyaku yang merasa semakin bingung.
“Mungkin efek dari mata ketigamu yang ditutup, memori kamu kayaknya juga ikut lupa,” jelas Ayahku.
“Terus kalo Bapak sendiri, sejak kapan bisa ngelihat makhluk halus?” tanyaku penasaran.
"Sudah bawaan lahir, tapi Bapak ga suka dan ga berminat buat nerusin tugasnya eyangmu," ucap Ayahku dengan tatapan mata yang kosong.
Entah kenapa, aku merasa ada suatu penyesalan dan kesedihan saat Ayahku mengucapkan perkataan itu.
Lalu Ayahku lanjut berbicara, “Sebenarnya Eyang kamu dulunya orang yang dihormati di desa. Soalnya Eyang kamu sering bantu dan bisa ngobatin orang-orang.”
“Kemampuan Eyangmu sebenarnya udah turun temurun dari nenek moyang. Diturunin supaya bisa mengabdi dan membantu orang lain yang kesusahan. Dan kemampuan itu juga akhirnya menurun juga ke Bapak.”
Ayahku menghela nafas sejenak, lalu melanjutkan ceritanya, “Tapi dulunya waktu bapak masih muda, bapak gak suka dan gak mau nerusin tugas itu. Bapak gak suka sama pandangan teman-teman dan orang lain yang menganggap kalau Eyangmu itu dukun. Bapak juga gamau nantinya dipanggil orang-orang dengan sebutan dukun. Bapak cuma mau hidup normal kayak orang lain.”
"Emangnya Eyang pernah minta bapak buat nerusin tugasnya?" tanyaku memotong pembicaraan.
Tampak pandangan mata Ayahku yang sendu layaknya tenggelam dalam memori. Lalu perlahan dia mulai menjawab, "Pernah satu kali, tapi Bapak langsung nolak dengan keras. Makanya setelah itu Eyangmu ga pernah bahas lagi."
Mendengar ucapan Ayahku membuatku teringat dengan sosok Eyang yang sangat lembut, baik itu saat berbicara ataupun bersikap. Sosok Eyang yang selalu tersenyum dan selalu berusaha menghiburku.
Aku masih bisa ingat semua tentang Eyang, dimana dulunya aku selalu meminta uang untuk membeli jajanan di saat Eyang datang berkunjung. Ada juga di kala Eyang selalu menegur orangtuaku saat mereka sedang memarahi dan ingin memukulku.
Mengingat semua memori itu, membuatku spontan bertanya, “Apa Bapak gak nyesal?”
Ayahku diam seribu bahasa, perlahan dia mulai memejamkan kedua matanya. Dari responnya, aku langsung mengetahui jawabannya. Oleh sebab itu, aku pun berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kok dari dulu Bapak gak pernah cerita, kalo bisa ngeliat makhluk halus?" tanyaku.
Ayahku perlahan membuka kedua matanya lalu berkata, "Ya karena sebenarnya Bapak ga suka berurusan sama mereka. Bapak cuma mau hidup tenang kayak orang lain. Lagian kemampuan ini bukan sesuatu yang hebat dan patut dibanggakan.
Mendengar ucapan dari Ayahku membuatku bingung, sebab aku merasa kemampuan dan indra keenam itu adalah sesuatu hal yang spesial hingga banyak orang yang ingin mendapatkannya. Tapi di sisi lain aku juga merasa bahwa sejak memiliki kemampuan ini, aku mulai menghadapi banyak masalah yang memaksaku keluar dari zona nyamanku.
"Hmmm … terus laki-laki itu, yang jagain bapak, sebenarnya siapa?" tanyaku lagi, karena masih penasaran akan kemampuan Ayahku.
"Khodam turunan yang udah ngikut sejak lahir. Sama kayak ular merah yang ngikutin kamu," jawabnya dengan santai seraya menatap ke layar televisi.
Aku terkejut mendengar jawaban Ayahku, sebab aku tak menyangka dia mengetahui eksistensi pria berjubah merah yang mengikutiku. Aku menjadi makin penasaran, sebab sepertinya Ayahku memahami dan menyembunyikan banyak hal yang tak kuketahui.
"Ular merah itu sebenarnya asalnya dari mana dan ditugasin oleh siapa?" tanyaku dengan penuh harapan.
"Kamu cari tahu sendiri aja, Bapak mau nonton tv dulu," jawab Ayahku dengan nada yang tak tertarik. Matanya sibuk tertuju pada acara berita di layar televisi.
Aku hanya bisa menyimpan kekesalan dalam hati, sebab aku merasa bahwa dia mengetahui jawabannya, tetapi tak ingin membeberkannya padaku. Aku pun tak tahu apa alasannya.
Di sisi lain, aku juga tak ingin memaksanya untuk memberitahuku, sebab aku mengerti akan sifatnya yang sangat keras kepala. Jika mengutarakan sesuatu, Ayahku pasti akan memegang ucapannya dan tidak akan mengubah pikirannya dengan mudah. Oleh sebab itulah aku tak ingin memaksanya, sebab tak ada gunanya dan yang ada, aku malah akan terkena omelan panjang nantinya.
Dengan terpaksa, aku harus mengubur rasa penasaranku dalam-dalam. Aku pun menyerah dan langsung berniat pergi masuk ke dalam kamar.
Baru beberapa langkah kupijakkan, terdengar suara Ayahku yang tiba-tiba berkata, “Jangan pakai buat yang gak bener.”
Mendengar ucapan Ayahku membuatku tertegun sejenak. Lalu melanjutkan langkahku menuju kamar dengan segudang pertanyaan dalam hatiku.
Tak terasa, hari demi hari pun mulai berlalu dengan cepat. Selama di rumah, aku tak begitu banyak berkomunikasi dengan orangtuaku. Kami hanya berkomunikasi dan berinteraksi seadanya saja, sama seperti hari-hari biasanya.
Sampai akhirnya tibalah hari di mana aku akan mengikuti Putra untuk menangani pasien yang katanya terkena santet. Seperti yang kemarin dikatakannya, dia yang akan menjemput langsung ke rumahku.
Sebelum dia datang, dia sudah mengirimkan pesan agar aku bersiap-siap, sebab dia akan segera berangkat. Sementara itu, sebenarnya aku sudah lama bersiap-siap dan tinggal menunggu kedatangannya saja.
Saat dia tiba, aku langsung izin pamit ke kedua orangtuaku untuk pergi keluar. Dan tentu saja, mereka mengizinkannya dengan mudah, sebab dari dulu mereka tidak pernah mengekangku sama sekali.
Tanpa memakan waktu yang lama, aku langsung keluar rumah dan memasuki mobil Putra. Di sepanjang perjalanan, kami hanya berbicara basa-basi dan bercanda seadanya saja. Bisa dibilang aku lumayan cocok akan sifatnya, sebab walaupun dia lebih tua, dia tetap bersikap ramah layaknya teman sebaya.
"Gimana kabarnya? Sehat?" tanya Putra sebagai basa-basi.
"Sehat, kok. Omong-omong lokasi pasiennya jauh dari sini, ya?" balasku.
"Nggak terlalu jauh, kok,” ucap Putra, “tapi aku mau ingetin dulu, nih.”
“Ingetin apa?” tanyaku penasaran.
“Untuk tetap waspada selama ada di lokasi,” jawab Putra.
"Oh, oke," balasku dengan singkat.
Setelah melewati perjalanan yang cukup lama karena macet, akhirnya kami sampai di sebuah perumahan yang tampak elit. Sebelum masuk, Putra harus izin dan ditanyai terlebih dahulu oleh satpam yang menjaga gerbang masuk. Tak memakan waktu yang lama, setelah diarahkan oleh satpam, akhirnya kami sampai di depan rumah yang tampak mewah.
Tanpa basa-basi, Putra langsung menelpon pasien yang dimaksudnya dan mengatakan bahwa kami sudah sampai di depan rumahnya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya seorang pria paruh baya yang mengenakan kacamata membuka pintu rumah dan mempersilakan kami berdua untuk masuk.
Sebelum masuk ke dalam rumah, aku sudah terlebih dahulu mengaktifkan mata ketigaku untuk mengecek keadaan sekitar. Jika dilihat dari luar, tampak aura dan kesan gelap yang terpancar dari bangunan rumahnya.
Di sekitarnya hanya ada beberapa sosok-sosok hantu liar seperti mbak kunti dan om gondo yang sedang berkeliaran. Aku belum melihat sosok-sosok dominan yang memang bertujuan mengganggu dan menyerang penghuni rumah tersebut.
"Kenalin, Pak. Ini Rama, temen yang bakal bantuin saya," ucap Putra dengan ramah.
"Salam kenal, Pak." Aku lantas menjulurkan tanganku ke arahnya.
"Salam kenal juga, Mas. Nama saya Agus. Silakan duduk dulu, Mas." Dia lalu tersenyum sembari membalas salaman tanganku.
Kami langsung duduk di ruang tamu sambil mengecek rumah secara perlahan. Sementara itu, Istri pak Agus datang dan langsung menyuguhkan kami hidangan makanan lengkap dengan minumannya. Putra mulai berbicara basa-basi dengan pak Agus dan istrinya, hingga pada akhirnya, pak Agus mulai menanyakan tentang kiriman gaib.
"Apa mas ngeliat sesuatu yang gak beres?" tanya Pak Agus.
"Sebentar ya, Pak. Saya cek satu persatu dulu," balas Putra lalu memejamkan matanya.
Selagi Putra memejamkan mata dan menerawang kondisi rumah pak Agus, aku juga mencoba untuk fokus merasakan sensasi energi negatif yang menyelimuti rumah ini. Anehnya, sejak tadi aku tak menemukan wujud makhluk yang sedang mengganggu rumah ini. Sepertinya dia bisa menyembunyikan keberadaannya dengan sangat baik.
Sementara itu, Pak Agus dan istrinya cuma duduk diam dan memandang kami dengan tatapan penuh harap. Sepertinya selama ini mereka benar-benar sangat terganggu dan tersiksa akan santet kiriman dari orang yang tak mereka kenal.
Perlahan-lahan aku mulai memejamkan mataku dan terhanyut dalam sebuah sensasi. Aku mulai merasakan hawa negatif yang makin lama semakin membesar. Hingga tiba-tiba aku melihat sosok makhluk berbentuk manusia dengan warna kulit berwarna merah. Seluruh tubuhnya bersimbah darah. Darah itu secara perlahan-lahan menetes dari sekujur tubuhnya.
Pandangan matanya tiba-tiba tertuju padaku. Mulutnya kian tersenyum menyeringai. Hingga tiba-tiba dia pun tertawa terbahak-bahak dengan suara melengkingnya. Energinya yang meluap seketika menyergap eksistensiku.
Aku terperanjat dan seketika membuka kedua mataku. Keringat lantas membasahi dahiku. Perasaan gamang mulai memenuhi batinku. Sosok makhluk itu masih terngiang-ngiang di benakku. Aku lalu menoleh dan menyadari bahwa Putra masih memejamkan matanya.
Samar-samar, aku mulai bisa merasakan keberadaan makhluk bengis itu. Hawa keberadaannya muncul bertepatan pada ruang di sebelah kiri kami. Aku tak tau itu sebenarnya ruangan apa, jadi aku memutuskan untuk menanyakannya ke Pak Agus.
"Pak, ruangan yang itu ruangan apa ya?" tanyaku sambil mengacungkan jariku arah pintu.
"Itu ruangan kamar saya, Mas. Emangnya ada apa, ya?" balas pak Agus dengan raut wajah curiga.
Karena tak ingin mendahului Putra, aku pun berkata, "Tunggu Mas Putra dulu saja, Pak."
"Oh, baik, mas.” Pak Agus mengangguk dengan tatapan penuh harap.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Putra membuka kedua matanya yang terpejam. Dia mulai menggelengkan kepalanya sambil memasang raut wajah yang serius. Sementara itu, pak Agus dan istrinya tampak menjadi gelisah dan ketakutan. Perlahan akhirnya mereka memberanikan diri untuk bertanya kepada Putra.
"Gimana, Mas? Sebenarnya ada kiriman apa, ya?" ucap pak Agus dengan nada pelan.
"Saya ngelihat ada kiriman, Pak. Tujuannya ini bukan cuma buat ngeganggu aja, Pak. Tapi sampai mengambil nyawa," ucap Putra secara perlahan.
Mendengar ucapan Putra berhasil membuat raut wajah pak Agus dan istrinya semakin ketakutan.
"Jadi solusinya harus bagaimana Mas Putra? Soalnya saya sudah panggil beberapa paranormal tetapi hasilnya tetap nihil," ucap pak Agus dengan lesu.
"Begini saja, Pak. Sekarang kita berdua coba bantu buat ngusir makhluk yang nyerang keluarga Bapak. Habis itu kita masang pagar gaib supaya kirimannya gak bisa masuk lagi. Tapi yang paling penting saya akan lacak dulu siapa yang ngirim, supaya masalahnya kelar sampai akar-akarnya," jelas Putra secara perlahan-lahan.
"Baik mas, apa ada peralatan atau kebutuhan yang perlu disiapkan Mas?" tanya pak Agus.
"Saya sudah bawa perlengkapan sendiri kok, Pak. Yang penting jangan biarin orang lain masuk dulu pak. Sama jangan ada yang bikin keributan supaya kami bisa fokus," jawab Putra.
"Oke, Mas. Silakan jika mau dimulai," ucap pak Agus dengan pelan.
Putra mulai mengambil posisi duduk bersila di lantai lalu mengeluarkan pusaka-pusaka yang dibawanya dari dalam tas. Dia mengeluarkan beberapa jenis pusaka, mulai dari golok, cincin akik, serta taring dan kulit harimau. Perlahan dia mulai berkomat-kamit dengan suara pelan sambil mengucapkan mantra yang tak kumengerti artinya.
Ketiga harimau yang dimilikinya tiba-tiba muncul dengan tubuh layaknya diselimuti api yang membara. Tidak berhenti di situ saja, ternyata muncul seorang pendekar mengenakan pakaian serba hitam dengan topi adat, deta berwarna kuning emas.
Matanya tampak sama persis dengan pupil mata seekor harimau. Di wajahnya juga ada beberapa tato yang membuatnya tampak mirip seperti harimau loreng. Secara keseluruhan, bisa dibilang dia tampak seperti perpaduan antara setengah manusia dan harimau. Aura yang dikeluarkannya terasa sangat tajam, jika berjarak dekat, membuat kulit serasa ditusuk oleh jarum.
Sementara itu, di sampingku berdiri Lala yang sudah siap siaga sejak tadi. Sebenarnya aku merasa pasukan Putra sudah sangat kuat, tapi mengingat makhluk yang berada di kamar sana, aku tak berani membiarkan diriku untuk merasa lengah sedikit pun.
“KHAKHAKHAHKA!”
Tiba-tiba muncul suara tawa mengerikan. Suara tawa layaknya seseorang yang tenggorokannya sedang tercekik. Beberapa saat kemudian, makhluk yang kami nanti-nantikan sejak tadi akhirnya muncul juga.
Tapi masalahnya adalah bahwa dia tidak muncul sendirian, dia muncul dengan pasukannya yang memiliki wujud persis mirip dengannya. Yaitu wujud manusia berkulit merah yang bersimbah darah.
Perlahan-lahan bau busuk dan amis memenuhi ruangan yang kami tempati. Saat aku memejamkan mata, aku melihat gerombolan mereka yang sudah mengelilingi posisi kami.
Untungnya Putra sudah memasang pagar gaib kepada Pak Agus dan istrinya sebelum kami memulai pertarungan ini. Sehingga kami bisa lebih fokus dan leluasa untuk melakukan perlawanan.
"Jangan campuri urusan kami!" bentak pemimpin dari makhluk-makhluk itu.
"Siapa yang menyuruh kalian untuk menyerang keluarga ini?" tanya Putra dengan nada yang tenang.
Makhluk itu tak menjawab pertanyaan dari Putra, dia hanya tersenyum menyeringai lalu tertawa dengan sinis. Sejenak dia menatap Putra dengan matanya yang hampir copot lalu berteriak dengan keras, hingga menggema di pendengaranku.
Aku merasa makhluk itu benar-benar haus akan darah. Lalu tanpa basa-basi, makhluk itu mengarahkan jarinya ke posisi kami. Dalam seketika, para bawahannya langsung bergerak menerjang kami sambil tertawa dan berteriak secara histeris.
"Terpaksa kita harus perang, Ram." Putra menghela nafasnya dengan panjang.
Aku hanya mengangguk sembari menatap khodam Putra yang sedang menghadang para pasukan lawan.
"Lala, tolong bantu aku untuk melawan mereka," ucapku didalam batin.
Bersambung …
Tanpa mengucapkan kata-kata, Ayahku menatap ke arah belakangnya. Aku diam sejenak, tak menyangka bahwa Ayahku ternyata bisa melihatnya juga.
Dengan rasa ragu, perlahan aku menjawab, "Iya, Pak. Rama bisa ngelihat dia.”
“Apa Bapak beneran bisa ngelihat makhluk halus?" tanyaku untuk memastikan.
Namun Ayahku tak menghiraukan ucapanku dan malah menanyaku balik. "Sejak kapan kamu bisa ngelihat mereka?"
Dengan sedikit gugup, aku menjawab, "Awal-awal masuk kuliah."
"Gimana perasaan kamu? Masih bisa nyaman atau tidak?" tanya Ayahku sembari menatapku dalam-dalam.
"Sejauh ini masih aman," jawabku pelan.
Ayahku tampak mengernyitkan dahinya lalu bertanya, "Kamu udah bisa kendalikan mata ketigamu?"
"Iya, Pak. Makanya tadi sengaja aku hidupin, karena penasaran," jawabku ragu, karena aku bingung kenapa dia tampak sangat serius.
Ayahku tampak berpikir sejenak sembari mengelus-elus dagunya, lalu dia berkata, "Kalo kamu ga nyaman, Bapak mau coba nutup mata ketiga kamu lagi."
"Lagi? Emangnya mata ketigaku pernah ditutup?" tanyaku heran.
"Dulu waktu kamu masih umur empat tahun, Bapak sama Eyang sempat nutup mata ketiga kamu. Soalnya dulu kamu itu sering ngelamun dan suka dideketin sama makhluk-makhluk halus," jelas Ayahku perlahan.
"Tapi kok aku ga ingat sama sekali, ya?" tanyaku yang merasa semakin bingung.
“Mungkin efek dari mata ketigamu yang ditutup, memori kamu kayaknya juga ikut lupa,” jelas Ayahku.
“Terus kalo Bapak sendiri, sejak kapan bisa ngelihat makhluk halus?” tanyaku penasaran.
"Sudah bawaan lahir, tapi Bapak ga suka dan ga berminat buat nerusin tugasnya eyangmu," ucap Ayahku dengan tatapan mata yang kosong.
Entah kenapa, aku merasa ada suatu penyesalan dan kesedihan saat Ayahku mengucapkan perkataan itu.
Lalu Ayahku lanjut berbicara, “Sebenarnya Eyang kamu dulunya orang yang dihormati di desa. Soalnya Eyang kamu sering bantu dan bisa ngobatin orang-orang.”
“Kemampuan Eyangmu sebenarnya udah turun temurun dari nenek moyang. Diturunin supaya bisa mengabdi dan membantu orang lain yang kesusahan. Dan kemampuan itu juga akhirnya menurun juga ke Bapak.”
Ayahku menghela nafas sejenak, lalu melanjutkan ceritanya, “Tapi dulunya waktu bapak masih muda, bapak gak suka dan gak mau nerusin tugas itu. Bapak gak suka sama pandangan teman-teman dan orang lain yang menganggap kalau Eyangmu itu dukun. Bapak juga gamau nantinya dipanggil orang-orang dengan sebutan dukun. Bapak cuma mau hidup normal kayak orang lain.”
"Emangnya Eyang pernah minta bapak buat nerusin tugasnya?" tanyaku memotong pembicaraan.
Tampak pandangan mata Ayahku yang sendu layaknya tenggelam dalam memori. Lalu perlahan dia mulai menjawab, "Pernah satu kali, tapi Bapak langsung nolak dengan keras. Makanya setelah itu Eyangmu ga pernah bahas lagi."
Mendengar ucapan Ayahku membuatku teringat dengan sosok Eyang yang sangat lembut, baik itu saat berbicara ataupun bersikap. Sosok Eyang yang selalu tersenyum dan selalu berusaha menghiburku.
Aku masih bisa ingat semua tentang Eyang, dimana dulunya aku selalu meminta uang untuk membeli jajanan di saat Eyang datang berkunjung. Ada juga di kala Eyang selalu menegur orangtuaku saat mereka sedang memarahi dan ingin memukulku.
Mengingat semua memori itu, membuatku spontan bertanya, “Apa Bapak gak nyesal?”
Ayahku diam seribu bahasa, perlahan dia mulai memejamkan kedua matanya. Dari responnya, aku langsung mengetahui jawabannya. Oleh sebab itu, aku pun berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kok dari dulu Bapak gak pernah cerita, kalo bisa ngeliat makhluk halus?" tanyaku.
Ayahku perlahan membuka kedua matanya lalu berkata, "Ya karena sebenarnya Bapak ga suka berurusan sama mereka. Bapak cuma mau hidup tenang kayak orang lain. Lagian kemampuan ini bukan sesuatu yang hebat dan patut dibanggakan.
Mendengar ucapan dari Ayahku membuatku bingung, sebab aku merasa kemampuan dan indra keenam itu adalah sesuatu hal yang spesial hingga banyak orang yang ingin mendapatkannya. Tapi di sisi lain aku juga merasa bahwa sejak memiliki kemampuan ini, aku mulai menghadapi banyak masalah yang memaksaku keluar dari zona nyamanku.
"Hmmm … terus laki-laki itu, yang jagain bapak, sebenarnya siapa?" tanyaku lagi, karena masih penasaran akan kemampuan Ayahku.
"Khodam turunan yang udah ngikut sejak lahir. Sama kayak ular merah yang ngikutin kamu," jawabnya dengan santai seraya menatap ke layar televisi.
Aku terkejut mendengar jawaban Ayahku, sebab aku tak menyangka dia mengetahui eksistensi pria berjubah merah yang mengikutiku. Aku menjadi makin penasaran, sebab sepertinya Ayahku memahami dan menyembunyikan banyak hal yang tak kuketahui.
"Ular merah itu sebenarnya asalnya dari mana dan ditugasin oleh siapa?" tanyaku dengan penuh harapan.
"Kamu cari tahu sendiri aja, Bapak mau nonton tv dulu," jawab Ayahku dengan nada yang tak tertarik. Matanya sibuk tertuju pada acara berita di layar televisi.
Aku hanya bisa menyimpan kekesalan dalam hati, sebab aku merasa bahwa dia mengetahui jawabannya, tetapi tak ingin membeberkannya padaku. Aku pun tak tahu apa alasannya.
Di sisi lain, aku juga tak ingin memaksanya untuk memberitahuku, sebab aku mengerti akan sifatnya yang sangat keras kepala. Jika mengutarakan sesuatu, Ayahku pasti akan memegang ucapannya dan tidak akan mengubah pikirannya dengan mudah. Oleh sebab itulah aku tak ingin memaksanya, sebab tak ada gunanya dan yang ada, aku malah akan terkena omelan panjang nantinya.
Dengan terpaksa, aku harus mengubur rasa penasaranku dalam-dalam. Aku pun menyerah dan langsung berniat pergi masuk ke dalam kamar.
Baru beberapa langkah kupijakkan, terdengar suara Ayahku yang tiba-tiba berkata, “Jangan pakai buat yang gak bener.”
Mendengar ucapan Ayahku membuatku tertegun sejenak. Lalu melanjutkan langkahku menuju kamar dengan segudang pertanyaan dalam hatiku.
<><><>
Tak terasa, hari demi hari pun mulai berlalu dengan cepat. Selama di rumah, aku tak begitu banyak berkomunikasi dengan orangtuaku. Kami hanya berkomunikasi dan berinteraksi seadanya saja, sama seperti hari-hari biasanya.
Sampai akhirnya tibalah hari di mana aku akan mengikuti Putra untuk menangani pasien yang katanya terkena santet. Seperti yang kemarin dikatakannya, dia yang akan menjemput langsung ke rumahku.
Sebelum dia datang, dia sudah mengirimkan pesan agar aku bersiap-siap, sebab dia akan segera berangkat. Sementara itu, sebenarnya aku sudah lama bersiap-siap dan tinggal menunggu kedatangannya saja.
Saat dia tiba, aku langsung izin pamit ke kedua orangtuaku untuk pergi keluar. Dan tentu saja, mereka mengizinkannya dengan mudah, sebab dari dulu mereka tidak pernah mengekangku sama sekali.
Tanpa memakan waktu yang lama, aku langsung keluar rumah dan memasuki mobil Putra. Di sepanjang perjalanan, kami hanya berbicara basa-basi dan bercanda seadanya saja. Bisa dibilang aku lumayan cocok akan sifatnya, sebab walaupun dia lebih tua, dia tetap bersikap ramah layaknya teman sebaya.
"Gimana kabarnya? Sehat?" tanya Putra sebagai basa-basi.
"Sehat, kok. Omong-omong lokasi pasiennya jauh dari sini, ya?" balasku.
"Nggak terlalu jauh, kok,” ucap Putra, “tapi aku mau ingetin dulu, nih.”
“Ingetin apa?” tanyaku penasaran.
“Untuk tetap waspada selama ada di lokasi,” jawab Putra.
"Oh, oke," balasku dengan singkat.
Setelah melewati perjalanan yang cukup lama karena macet, akhirnya kami sampai di sebuah perumahan yang tampak elit. Sebelum masuk, Putra harus izin dan ditanyai terlebih dahulu oleh satpam yang menjaga gerbang masuk. Tak memakan waktu yang lama, setelah diarahkan oleh satpam, akhirnya kami sampai di depan rumah yang tampak mewah.
Tanpa basa-basi, Putra langsung menelpon pasien yang dimaksudnya dan mengatakan bahwa kami sudah sampai di depan rumahnya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya seorang pria paruh baya yang mengenakan kacamata membuka pintu rumah dan mempersilakan kami berdua untuk masuk.
Sebelum masuk ke dalam rumah, aku sudah terlebih dahulu mengaktifkan mata ketigaku untuk mengecek keadaan sekitar. Jika dilihat dari luar, tampak aura dan kesan gelap yang terpancar dari bangunan rumahnya.
Di sekitarnya hanya ada beberapa sosok-sosok hantu liar seperti mbak kunti dan om gondo yang sedang berkeliaran. Aku belum melihat sosok-sosok dominan yang memang bertujuan mengganggu dan menyerang penghuni rumah tersebut.
"Kenalin, Pak. Ini Rama, temen yang bakal bantuin saya," ucap Putra dengan ramah.
"Salam kenal, Pak." Aku lantas menjulurkan tanganku ke arahnya.
"Salam kenal juga, Mas. Nama saya Agus. Silakan duduk dulu, Mas." Dia lalu tersenyum sembari membalas salaman tanganku.
Kami langsung duduk di ruang tamu sambil mengecek rumah secara perlahan. Sementara itu, Istri pak Agus datang dan langsung menyuguhkan kami hidangan makanan lengkap dengan minumannya. Putra mulai berbicara basa-basi dengan pak Agus dan istrinya, hingga pada akhirnya, pak Agus mulai menanyakan tentang kiriman gaib.
"Apa mas ngeliat sesuatu yang gak beres?" tanya Pak Agus.
"Sebentar ya, Pak. Saya cek satu persatu dulu," balas Putra lalu memejamkan matanya.
Selagi Putra memejamkan mata dan menerawang kondisi rumah pak Agus, aku juga mencoba untuk fokus merasakan sensasi energi negatif yang menyelimuti rumah ini. Anehnya, sejak tadi aku tak menemukan wujud makhluk yang sedang mengganggu rumah ini. Sepertinya dia bisa menyembunyikan keberadaannya dengan sangat baik.
Sementara itu, Pak Agus dan istrinya cuma duduk diam dan memandang kami dengan tatapan penuh harap. Sepertinya selama ini mereka benar-benar sangat terganggu dan tersiksa akan santet kiriman dari orang yang tak mereka kenal.
Perlahan-lahan aku mulai memejamkan mataku dan terhanyut dalam sebuah sensasi. Aku mulai merasakan hawa negatif yang makin lama semakin membesar. Hingga tiba-tiba aku melihat sosok makhluk berbentuk manusia dengan warna kulit berwarna merah. Seluruh tubuhnya bersimbah darah. Darah itu secara perlahan-lahan menetes dari sekujur tubuhnya.
Pandangan matanya tiba-tiba tertuju padaku. Mulutnya kian tersenyum menyeringai. Hingga tiba-tiba dia pun tertawa terbahak-bahak dengan suara melengkingnya. Energinya yang meluap seketika menyergap eksistensiku.
Aku terperanjat dan seketika membuka kedua mataku. Keringat lantas membasahi dahiku. Perasaan gamang mulai memenuhi batinku. Sosok makhluk itu masih terngiang-ngiang di benakku. Aku lalu menoleh dan menyadari bahwa Putra masih memejamkan matanya.
Samar-samar, aku mulai bisa merasakan keberadaan makhluk bengis itu. Hawa keberadaannya muncul bertepatan pada ruang di sebelah kiri kami. Aku tak tau itu sebenarnya ruangan apa, jadi aku memutuskan untuk menanyakannya ke Pak Agus.
"Pak, ruangan yang itu ruangan apa ya?" tanyaku sambil mengacungkan jariku arah pintu.
"Itu ruangan kamar saya, Mas. Emangnya ada apa, ya?" balas pak Agus dengan raut wajah curiga.
Karena tak ingin mendahului Putra, aku pun berkata, "Tunggu Mas Putra dulu saja, Pak."
"Oh, baik, mas.” Pak Agus mengangguk dengan tatapan penuh harap.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Putra membuka kedua matanya yang terpejam. Dia mulai menggelengkan kepalanya sambil memasang raut wajah yang serius. Sementara itu, pak Agus dan istrinya tampak menjadi gelisah dan ketakutan. Perlahan akhirnya mereka memberanikan diri untuk bertanya kepada Putra.
"Gimana, Mas? Sebenarnya ada kiriman apa, ya?" ucap pak Agus dengan nada pelan.
"Saya ngelihat ada kiriman, Pak. Tujuannya ini bukan cuma buat ngeganggu aja, Pak. Tapi sampai mengambil nyawa," ucap Putra secara perlahan.
Mendengar ucapan Putra berhasil membuat raut wajah pak Agus dan istrinya semakin ketakutan.
"Jadi solusinya harus bagaimana Mas Putra? Soalnya saya sudah panggil beberapa paranormal tetapi hasilnya tetap nihil," ucap pak Agus dengan lesu.
"Begini saja, Pak. Sekarang kita berdua coba bantu buat ngusir makhluk yang nyerang keluarga Bapak. Habis itu kita masang pagar gaib supaya kirimannya gak bisa masuk lagi. Tapi yang paling penting saya akan lacak dulu siapa yang ngirim, supaya masalahnya kelar sampai akar-akarnya," jelas Putra secara perlahan-lahan.
"Baik mas, apa ada peralatan atau kebutuhan yang perlu disiapkan Mas?" tanya pak Agus.
"Saya sudah bawa perlengkapan sendiri kok, Pak. Yang penting jangan biarin orang lain masuk dulu pak. Sama jangan ada yang bikin keributan supaya kami bisa fokus," jawab Putra.
"Oke, Mas. Silakan jika mau dimulai," ucap pak Agus dengan pelan.
Putra mulai mengambil posisi duduk bersila di lantai lalu mengeluarkan pusaka-pusaka yang dibawanya dari dalam tas. Dia mengeluarkan beberapa jenis pusaka, mulai dari golok, cincin akik, serta taring dan kulit harimau. Perlahan dia mulai berkomat-kamit dengan suara pelan sambil mengucapkan mantra yang tak kumengerti artinya.
Ketiga harimau yang dimilikinya tiba-tiba muncul dengan tubuh layaknya diselimuti api yang membara. Tidak berhenti di situ saja, ternyata muncul seorang pendekar mengenakan pakaian serba hitam dengan topi adat, deta berwarna kuning emas.
Matanya tampak sama persis dengan pupil mata seekor harimau. Di wajahnya juga ada beberapa tato yang membuatnya tampak mirip seperti harimau loreng. Secara keseluruhan, bisa dibilang dia tampak seperti perpaduan antara setengah manusia dan harimau. Aura yang dikeluarkannya terasa sangat tajam, jika berjarak dekat, membuat kulit serasa ditusuk oleh jarum.
Sementara itu, di sampingku berdiri Lala yang sudah siap siaga sejak tadi. Sebenarnya aku merasa pasukan Putra sudah sangat kuat, tapi mengingat makhluk yang berada di kamar sana, aku tak berani membiarkan diriku untuk merasa lengah sedikit pun.
“KHAKHAKHAHKA!”
Tiba-tiba muncul suara tawa mengerikan. Suara tawa layaknya seseorang yang tenggorokannya sedang tercekik. Beberapa saat kemudian, makhluk yang kami nanti-nantikan sejak tadi akhirnya muncul juga.
Tapi masalahnya adalah bahwa dia tidak muncul sendirian, dia muncul dengan pasukannya yang memiliki wujud persis mirip dengannya. Yaitu wujud manusia berkulit merah yang bersimbah darah.
Perlahan-lahan bau busuk dan amis memenuhi ruangan yang kami tempati. Saat aku memejamkan mata, aku melihat gerombolan mereka yang sudah mengelilingi posisi kami.
Untungnya Putra sudah memasang pagar gaib kepada Pak Agus dan istrinya sebelum kami memulai pertarungan ini. Sehingga kami bisa lebih fokus dan leluasa untuk melakukan perlawanan.
"Jangan campuri urusan kami!" bentak pemimpin dari makhluk-makhluk itu.
"Siapa yang menyuruh kalian untuk menyerang keluarga ini?" tanya Putra dengan nada yang tenang.
Makhluk itu tak menjawab pertanyaan dari Putra, dia hanya tersenyum menyeringai lalu tertawa dengan sinis. Sejenak dia menatap Putra dengan matanya yang hampir copot lalu berteriak dengan keras, hingga menggema di pendengaranku.
Aku merasa makhluk itu benar-benar haus akan darah. Lalu tanpa basa-basi, makhluk itu mengarahkan jarinya ke posisi kami. Dalam seketika, para bawahannya langsung bergerak menerjang kami sambil tertawa dan berteriak secara histeris.
"Terpaksa kita harus perang, Ram." Putra menghela nafasnya dengan panjang.
Aku hanya mengangguk sembari menatap khodam Putra yang sedang menghadang para pasukan lawan.
"Lala, tolong bantu aku untuk melawan mereka," ucapku didalam batin.
Bersambung …
Diubah oleh watcheatnsleep 29-03-2023 16:33
khodzimzz dan 54 lainnya memberi reputasi
55
Tutup