- Beranda
- Stories from the Heart
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
...
TS
007funk
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
Mungkin setelah agan/sista baca ini, akan diketahui dimana salah dari cerita ini. Karena ibaratnya, cerita yang mau ane sampein disini adalah cerminan dari persepsi dan karakter ane pribadi. Cerita yang disampaikan pun murni berdasarkan kejadian nyata dan tanpa ingin mendramatisir. Tapi beberapa nama dan tempat disini ane sengaja samarin untuk menjaga nama baik yang bersangkutan.
Semoga dengan ane bercerita disini, ane mendapat pencerahan sebagai sarana introspeksi buat ane. Dan ane harap, ga ada yang bata atau kasih baso merah ya...
Quote:
BAGIAN 1 : SEMESTA, ANDA SANGAT KEJAM
BAGIAN 2 : PERSEPSI AWAL
BAGIAN 3 : LEMBARAN BARU
BAGIAN 4 : FIRASAT
BAGIAN 5 : FOKUS
BAGIAN 6 : SALAH SEDIKIT
BAGIAN 7 : PERLAHAN JADI HANTU
BAGIAN 8 : CURIGA
BAGIAN 9 : PASRAH, DAN TERIMA KASIH
BAGIAN 2 : PERSEPSI AWAL
BAGIAN 3 : LEMBARAN BARU
BAGIAN 4 : FIRASAT
BAGIAN 5 : FOKUS
BAGIAN 6 : SALAH SEDIKIT
BAGIAN 7 : PERLAHAN JADI HANTU
BAGIAN 8 : CURIGA
BAGIAN 9 : PASRAH, DAN TERIMA KASIH
Diubah oleh 007funk 28-01-2021 07:29
bukhorigan dan 3 lainnya memberi reputasi
4
3.7K
Kutip
19
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
007funk
#3
BAGIAN 3
LEMBARAN BARU
LEMBARAN BARU
Quote:
Hari Senin, 24 Agustus 2020. Hari pertama saya ngantor. Saya juga mulai berpindah tempat tinggal sementara di rumah nenek, agar tak terlalu jauh dalam perjalanan menuju kantor. Jam 8 pagi, saya sudah wajib sampai di kantor. Masuk kantor, saya mengobrol dengan komisaris disana dan rekan resepsionis cantik yang sedang berjaga disana. Mengenal pekerjaan di kantor, tempat tinggal dan masih banyak lagi. Saya memang disuruh duduk dahulu di kursi pojokan seperti beberapa hari yang lalu, sampai nanti disuruh menemui pak Dani. Selama saya menunggu, saya mencari kemana perginya resepsionis cantik. Baiklah, mungkin belum waktunya. Saya harus bersabar. Saya belum boleh ada perasaan dan penasaran padanya.
Setengah jam menunggu, saya diajak dahulu ke ruang IT dan menemui rekan kerja saya. Saya diajak berkeliling kantor oleh rekan kerja saya, dan dari sinilah saya akhirnya bisa berkenalan sambil berjabat tangan dengan resepsionis cantik tadi.
“Udah kenalan belum sama resepsionis disini?” ujar rekan kerja saya.
“Sama yang ini belum.” jawab saya sambil menunjuk resepsionis cantik.
“Saya Doni.” ucap saya sambil menjabat tangan resepsionis cantik.
“Tyara.” jawabnya.
Saat saya hendak pergi dengan rekan kerja saya, ada seorang pria yang akhirnya saya ketahui sebagai driver di kantor berbicara dengan Tyara. Sebelumnya, saya sempat ditanya oleh driver yang diketahui bernama Sendi.
“Pak Doni, sudah berkeluarga belum?” tanya Sendi.
“Belum, pak.”
“Tuh Tyara, udah aja sama dia. Kan kamu juga belum berkeluarga.” ujar Sendi pada Tyara.
Tyara hanya tersenyum malu saja.
Akhirnya saya tahu namanya. Misteri awal pun terpecahkan. Saat saya berjabat tangan dengan karyawan yang lain, rasanya biasa saja. Tapi saat saya berjabat tangan dengannya, aura atau karisma nya kenapa terasa kuat? Saya bersikukuh dari sejak awal, saya tidak boleh cinta lokasi dengan orang-orang di kantor karena itu dapat menganggu kinerja saya saat nanti bekerja. Saya bekerja disini supaya saya dapat teman yang banyak dari suku, ras, agama atau jenis kelamin apapun. Supaya saya dapat bekerjasama dengan mereka sewaktu-waktu saya ingin berbisnis.
Di hari yang sama pada jam istirahat, saya hendak keluar kantor mencari makan. Saat melewati meja resepsionis, hanya Tyara yang sedang berada disana. Saya pun memberanikan diri untuk mengajaknya makan.
“Mau makan gak?”
“Makan dimana?”
“Gatau, nyari aja.”
Bodohnya, belum juga dia berkata lagi, saya langsung pamit keluar sendirian. Dasar pecundang.
“Yaudah saya mau keluar ya.”
“Yaudah kalo gitu.”
Setelah makan, saya kembali melewati meja resepsionis menuju ruangan saya.
“Udah makan nya?” ujarnya dengan masih sendirian di meja resepsionis.
“Udah.”
“Oh yaudah syukur deh.”
Di hari-hari awal saya bekerja, saya belum berpikiran jauh mengenai Tyara. Yang saya pikirkan saat itu ialah mengapa beban pekerjaan saya ini terasa berat. Saya merasa bingung apakah saya harus bertahan menanggung dan menyelesaikan secara cepat pekerjaan yang saya dapatkan ini, atau lebih baik keluar lebih cepat.
Di hari ketiga saya bekerja, saya ditanya oleh rekan kerjanya Tyara dari kejauhan, dimana saat itu saya hendak menuju ke ruangan legal.
“Don, gimana betah ga kerjanya?”
Tyara membisikkan sesuatu pada rekan kerjanya.
“Heh, baru juga tiga hari. Ya belum kerasa dong.”
“Kali aja udah betah gitu.” ujar rekan kerjanya Tyara.
Saya cuma nyengir aja, terus tak merespon ucapan rekan kerjanya Tyara.
Beberapa hari kemudiannya, saya pun memberanikan diri untuk meminta kontak teleponnya Tyara. Saat itu di jam istirahat, Tyara sedang berkaca di dekat tangga menuju ruangan saya. Dia tersenyum pada saya lewat cermin. Saya yang melewatinya menuju ruangan saya terhenti, lalu menghampirinya terlebih dulu.
“Tyara, minta kontak Whatsapp dong. Takut ada kenapa-napa.”
“085*********”
“Aku save ya.”
“Coba miskol sekarang.”
“Nanti deh, biar surprise.”
“Eh sebel banget.”
“Aku ke atas dulu ya.”
“Iya sok aja.”
Di hari yang sama pada saat jam pulang kantor, saya duduk dulu di tempat tunggu pelamar kerja dekat meja resepsionis. Saya ditanya oleh Tyara yang masih harus berjaga sendirian.
“Mau pulang?”
“Iya nih, tapi bentar lah. Pusing nih.”
“Pusing kenapa?”
“Pusing aja gatau kenapa.”
“Emang rumah kamu dimana sih?”
“Di Ciledug. Cuman sekarang pulang pergi ke Ciputat, ada nenek juga disana. Biar ga jauh amat gitu.”
“Jauh dong ya.”
“Engga juga sih. Saya kalau macet atau gimana juga ga kerasa. Kan sambil dengerin lagu aja. Jadi yang kebayang enaknya aja.”
“Oh gitu ya...”
“Yaudah saya pulang sekarang aja ya. Dah...”
“Hati-hati ya...”
Saya pergi meninggalkan Tyara yang masih berjaga disana.
Sejak awal bulan September, saya tiba-tiba lebih dekat dengan dua resepsionis di kantor dibanding rekan kerja saya sendiri. Rekan kerja saya menyebalkan, jarang memberikan contoh penyelesaian akan permasalahan yang saya dapat di kantor dan seringkali menyuruh saya untuk berpikir sendiri akan apa yang harus saya lakukan, dan sulit terbuka pada saya sampai sering diem-dieman di ruangan. Saya pun selalu curiga karena rekan kerjanya Tyara yang diketahui bernama Nadir selalu menanyakan keberadaan rekan kerja saya lewat telepon, dan jarang sekali menyuruh saya untuk melakukan sesuatu untuknya. Hingga akhirnya mengakui bahwa Nadir sering melakukan blokir kontak sampai musuh-musuhan hanya karena hal sepele dengan rekan kerja saya (yang tidak perlu diketahui namanya). Mereka memang statusnya berteman karena katanya rekan kerja saya sudah memiliki kekasih, tapi mereka kenapa melakukan hal aneh yang rasanya hanya sepasang kekasih yang sedang bertengkar saja yang dapat mengalaminya. Dengan tingkah mereka yang seperti itu membuat Tyara bingung sendiri. Saya yang baru tahu permasalahan mereka pun jadi ikut bingung. Saya juga jadi bingung, kenapa harus bercerita tentang permasalahan Nadir.
“Lieur ah.” ujar Tyara dengan raut bete nya.
Tapi dibanding dengan Nadir, saya lebih sering mengobrol dengan Tyara. Tyara itu orangnya saat awal saya mengenal dia, dia orangnya dewasa, cuek, berani blak-blakan, supel, dan tidak neko-neko. Hampir setiap saya bertemu atau cuma papasan di kantor dengannya, dia selalu tersenyum pada saya atau paling tidak, berbasa-basi soal pribadi. Berbeda dengan pada Nadir, saya lebih cuek dan terkesan tidak peduli. Nadir juga orangnya kekanak-kanakan, labil, moody, agak bermuka dua, membosankan dan sering telat respon dengan ucapan saya. Apalagi di kantor, orang yang sebaik Tyara itu jarang sekali dan saat itu saya belum bisa mempercayai orang di kantor selain dia.
Setengah jam menunggu, saya diajak dahulu ke ruang IT dan menemui rekan kerja saya. Saya diajak berkeliling kantor oleh rekan kerja saya, dan dari sinilah saya akhirnya bisa berkenalan sambil berjabat tangan dengan resepsionis cantik tadi.
“Udah kenalan belum sama resepsionis disini?” ujar rekan kerja saya.
“Sama yang ini belum.” jawab saya sambil menunjuk resepsionis cantik.
“Saya Doni.” ucap saya sambil menjabat tangan resepsionis cantik.
“Tyara.” jawabnya.
Saat saya hendak pergi dengan rekan kerja saya, ada seorang pria yang akhirnya saya ketahui sebagai driver di kantor berbicara dengan Tyara. Sebelumnya, saya sempat ditanya oleh driver yang diketahui bernama Sendi.
“Pak Doni, sudah berkeluarga belum?” tanya Sendi.
“Belum, pak.”
“Tuh Tyara, udah aja sama dia. Kan kamu juga belum berkeluarga.” ujar Sendi pada Tyara.
Tyara hanya tersenyum malu saja.
Akhirnya saya tahu namanya. Misteri awal pun terpecahkan. Saat saya berjabat tangan dengan karyawan yang lain, rasanya biasa saja. Tapi saat saya berjabat tangan dengannya, aura atau karisma nya kenapa terasa kuat? Saya bersikukuh dari sejak awal, saya tidak boleh cinta lokasi dengan orang-orang di kantor karena itu dapat menganggu kinerja saya saat nanti bekerja. Saya bekerja disini supaya saya dapat teman yang banyak dari suku, ras, agama atau jenis kelamin apapun. Supaya saya dapat bekerjasama dengan mereka sewaktu-waktu saya ingin berbisnis.
Di hari yang sama pada jam istirahat, saya hendak keluar kantor mencari makan. Saat melewati meja resepsionis, hanya Tyara yang sedang berada disana. Saya pun memberanikan diri untuk mengajaknya makan.
“Mau makan gak?”
“Makan dimana?”
“Gatau, nyari aja.”
Bodohnya, belum juga dia berkata lagi, saya langsung pamit keluar sendirian. Dasar pecundang.
“Yaudah saya mau keluar ya.”
“Yaudah kalo gitu.”
Setelah makan, saya kembali melewati meja resepsionis menuju ruangan saya.
“Udah makan nya?” ujarnya dengan masih sendirian di meja resepsionis.
“Udah.”
“Oh yaudah syukur deh.”
Di hari-hari awal saya bekerja, saya belum berpikiran jauh mengenai Tyara. Yang saya pikirkan saat itu ialah mengapa beban pekerjaan saya ini terasa berat. Saya merasa bingung apakah saya harus bertahan menanggung dan menyelesaikan secara cepat pekerjaan yang saya dapatkan ini, atau lebih baik keluar lebih cepat.
Di hari ketiga saya bekerja, saya ditanya oleh rekan kerjanya Tyara dari kejauhan, dimana saat itu saya hendak menuju ke ruangan legal.
“Don, gimana betah ga kerjanya?”
Tyara membisikkan sesuatu pada rekan kerjanya.
“Heh, baru juga tiga hari. Ya belum kerasa dong.”
“Kali aja udah betah gitu.” ujar rekan kerjanya Tyara.
Saya cuma nyengir aja, terus tak merespon ucapan rekan kerjanya Tyara.
Beberapa hari kemudiannya, saya pun memberanikan diri untuk meminta kontak teleponnya Tyara. Saat itu di jam istirahat, Tyara sedang berkaca di dekat tangga menuju ruangan saya. Dia tersenyum pada saya lewat cermin. Saya yang melewatinya menuju ruangan saya terhenti, lalu menghampirinya terlebih dulu.
“Tyara, minta kontak Whatsapp dong. Takut ada kenapa-napa.”
“085*********”
“Aku save ya.”
“Coba miskol sekarang.”
“Nanti deh, biar surprise.”
“Eh sebel banget.”
“Aku ke atas dulu ya.”
“Iya sok aja.”
Di hari yang sama pada saat jam pulang kantor, saya duduk dulu di tempat tunggu pelamar kerja dekat meja resepsionis. Saya ditanya oleh Tyara yang masih harus berjaga sendirian.
“Mau pulang?”
“Iya nih, tapi bentar lah. Pusing nih.”
“Pusing kenapa?”
“Pusing aja gatau kenapa.”
“Emang rumah kamu dimana sih?”
“Di Ciledug. Cuman sekarang pulang pergi ke Ciputat, ada nenek juga disana. Biar ga jauh amat gitu.”
“Jauh dong ya.”
“Engga juga sih. Saya kalau macet atau gimana juga ga kerasa. Kan sambil dengerin lagu aja. Jadi yang kebayang enaknya aja.”
“Oh gitu ya...”
“Yaudah saya pulang sekarang aja ya. Dah...”
“Hati-hati ya...”
Saya pergi meninggalkan Tyara yang masih berjaga disana.
Sejak awal bulan September, saya tiba-tiba lebih dekat dengan dua resepsionis di kantor dibanding rekan kerja saya sendiri. Rekan kerja saya menyebalkan, jarang memberikan contoh penyelesaian akan permasalahan yang saya dapat di kantor dan seringkali menyuruh saya untuk berpikir sendiri akan apa yang harus saya lakukan, dan sulit terbuka pada saya sampai sering diem-dieman di ruangan. Saya pun selalu curiga karena rekan kerjanya Tyara yang diketahui bernama Nadir selalu menanyakan keberadaan rekan kerja saya lewat telepon, dan jarang sekali menyuruh saya untuk melakukan sesuatu untuknya. Hingga akhirnya mengakui bahwa Nadir sering melakukan blokir kontak sampai musuh-musuhan hanya karena hal sepele dengan rekan kerja saya (yang tidak perlu diketahui namanya). Mereka memang statusnya berteman karena katanya rekan kerja saya sudah memiliki kekasih, tapi mereka kenapa melakukan hal aneh yang rasanya hanya sepasang kekasih yang sedang bertengkar saja yang dapat mengalaminya. Dengan tingkah mereka yang seperti itu membuat Tyara bingung sendiri. Saya yang baru tahu permasalahan mereka pun jadi ikut bingung. Saya juga jadi bingung, kenapa harus bercerita tentang permasalahan Nadir.
“Lieur ah.” ujar Tyara dengan raut bete nya.
Tapi dibanding dengan Nadir, saya lebih sering mengobrol dengan Tyara. Tyara itu orangnya saat awal saya mengenal dia, dia orangnya dewasa, cuek, berani blak-blakan, supel, dan tidak neko-neko. Hampir setiap saya bertemu atau cuma papasan di kantor dengannya, dia selalu tersenyum pada saya atau paling tidak, berbasa-basi soal pribadi. Berbeda dengan pada Nadir, saya lebih cuek dan terkesan tidak peduli. Nadir juga orangnya kekanak-kanakan, labil, moody, agak bermuka dua, membosankan dan sering telat respon dengan ucapan saya. Apalagi di kantor, orang yang sebaik Tyara itu jarang sekali dan saat itu saya belum bisa mempercayai orang di kantor selain dia.
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas