- Beranda
- Stories from the Heart
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
...
TS
007funk
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
Mungkin setelah agan/sista baca ini, akan diketahui dimana salah dari cerita ini. Karena ibaratnya, cerita yang mau ane sampein disini adalah cerminan dari persepsi dan karakter ane pribadi. Cerita yang disampaikan pun murni berdasarkan kejadian nyata dan tanpa ingin mendramatisir. Tapi beberapa nama dan tempat disini ane sengaja samarin untuk menjaga nama baik yang bersangkutan.
Semoga dengan ane bercerita disini, ane mendapat pencerahan sebagai sarana introspeksi buat ane. Dan ane harap, ga ada yang bata atau kasih baso merah ya...
Quote:
BAGIAN 1 : SEMESTA, ANDA SANGAT KEJAM
BAGIAN 2 : PERSEPSI AWAL
BAGIAN 3 : LEMBARAN BARU
BAGIAN 4 : FIRASAT
BAGIAN 5 : FOKUS
BAGIAN 6 : SALAH SEDIKIT
BAGIAN 7 : PERLAHAN JADI HANTU
BAGIAN 8 : CURIGA
BAGIAN 9 : PASRAH, DAN TERIMA KASIH
BAGIAN 2 : PERSEPSI AWAL
BAGIAN 3 : LEMBARAN BARU
BAGIAN 4 : FIRASAT
BAGIAN 5 : FOKUS
BAGIAN 6 : SALAH SEDIKIT
BAGIAN 7 : PERLAHAN JADI HANTU
BAGIAN 8 : CURIGA
BAGIAN 9 : PASRAH, DAN TERIMA KASIH
Diubah oleh 007funk 28-01-2021 07:29
bukhorigan dan 3 lainnya memberi reputasi
4
3.7K
Kutip
19
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
007funk
#2
BAGIAN 2
PERSEPSI AWAL
PERSEPSI AWAL
Quote:
18 Agustus 2020, hari Selasa. Saya mendatangi jadwal wawancara perihal pekerjaan yang saya dapat lewat email. Wawancara diadakan di salah satu perusahaan forex ternama di Indonesia. Saya sudah berada disana pada jam 9 pagi. Saat saya memasuki kantor perusahaan, saya disambut oleh salah satu resepsionis cantik yang sedang bersantai di meja resepsionis. Memiliki paras wajah oriental, pipinya yang agak mengembang ke samping, hidungnya yang mancung dan tatap matanya yang sulit untuk ditangkis. Dengan sambutan yang ramah, saya pun jadi berani bertanya.
“Saya dapat wawancara disini jam 9 pagi.”
“Isi dulu aja disini.” kata si resepsionis sambil menunjuk buku kunjungan khusus yang akan wawancara.
Saya mengisi semua yang harus diisi di buku kunjungan, dari nama, alamat, bagian yang dilamar dan tanda tangan. Setelah itu, saya disuruh menunggu di kursi pojokan dekat meja resepsionis. Setengah jam menunggu, sambil membaca artikel-artikel di internet lewat handphone. Sampai dipanggil oleh resepsionis tadi untuk menuju ke ruang HRD. Resepsionis juga mengantar ke ruangan. Saya saat itu tidak sendiri, karena ada 3 orang lainnya yang ikut wawancara juga. Dimana saya dan 2 orang yang lain diberi pekerjaan sebagai business consultant, sedangkan 1 orang lainnya diberi pekerjaan sebagai IT Support.
2 orang yang tadi bersama saya dipanggil oleh salah satu HRD disana. Saya dan salah satu pelamar di bagian IT Support mengobrol, karena saya tidak sengaja memperhatikan pelamar ini membuka handphone sambil mengisi jawaban soal tes seleksi. Pelamar di bagian IT Support yang saya tidak ketahui namanya, mengeluh bahwa dia merasa tidak niat apabila harus menemui permasalahan yang sudah sering ditemuinya saat di kejuruan dulu. Saya sebagai pendengar yang baik, hanya bisa mengiyakan segala ucapannya. Pelamar tadi keluar duluan, sampai akhirnya menyisakan saya sendiri yang hendak diwawancara oleh salah satu HRD disana. Jadi, disana ada 2 pegawai HRD yang semuanya wanita berjilbab. HRD disana menjelaskan akan pekerjaan yang akan saya emban di perusahaan, perihal gaji dan semacamnya. Saya masih mengiyakan saja tanpa sepatah katapun menolak. Setelah itu, saya keluar meninggalkan ruangan, lalu tersenyum pada resepsionis yang sudah mengantarkan saya tadi.
Saat saya sudah berada di rumah, saya diberi pemberitahuan lewat email bahwa saya yang tadinya hendak dimasukkan ke bagian business consultant, dipindahkan ke bagian IT Support. Mungkin HRD melihat curriculum vitae yang saya gunakan untuk lamaran, dengan latar belakang saat saya berkuliah dan magang di bidang IT. Baiklah, saya merasa saya tidak boleh menolak lagi pekerjaan yang ditawarkan oleh orang lain pada saya. Karena saat itu, saya sudah merasa hilang harapan dan harus pasrah akan hal yang diberikan oleh semesta. Meskipun rasanya setengah hati.
Besok harinya, saya datang di waktu pagi yang sama seperti kemarin. Saya mengisi daftar kunjungan seperti kemarin. Saya juga disambut oleh wanita resepsionis yang sama seperti kemarin. Tapi saat saya hendak menuju ruangan HRD, saya diantar oleh rekan resepsionisnya yang juga saya belum ketahui namanya. Resepsionis di kantor ini hanya ada 2 wanita saja, yang tentu saja berpenampilan agak seksi. Dari segi aura atau karisma, rekan resepsionis yang saya maksud tadi terasa ada yang kurang, dan saat saya perhatikan, dia terlihat seperti masih anak-anak dibawah umur.
Di ruang HRD, saya diberi soal tes yang sama seperti pelamar IT Support di hari kemarin. Karena saat itu pelamar yang datang hanya saya sendiri dan saat saya tes pun tidak diawasi, saya leluasa membuka handphone untuk mencari jawaban atau referensi untuk tes, seperti yang dilakukan pelamar IT Support di hari kemarin. Di menit sekitar 30-an, saya sempat dihampiri oleh HRD. Untungnya, saat itu handphone saya disimpan di sekitar selangkangan.
“Udah selesai?” tanya HRD.
“Satu soal lagi.” jawab saya.
HRD pun pergi. Singkat cerita, saya menyelesaikan semua soal tadi selama 45 menit lamanya. Saya disuruh menunggu di kursi tunggu dekat meja resepsionis seperti kemarin, dengan kurun waktu selama sekitar 15 menit. Semua persyaratan lamaran milik saya dititipkan ke resepsionis. Jawaban saya diperiksa oleh bagian IT. Tak disangka, saya dipanggil oleh HRD untuk kembali ke ruang HRD. Resepsionis cantik yang saya maksud sebelumnya, mengantarkan saya ke ruang HRD sambil tersenyum. Saya disuruh menunggu oleh HRD di ruang meeting, hingga akhirnya saya dipertemukan dengan salah satu pekerja hukum di kantor. Namanya Dani. Saya diwawancara mengenai curriculum vitae, gaji, dan pekerjaan yang akan saya emban nanti. Yang diberitahukan oleh HRD kemarin, berbeda dengan apa yang dikatakan pak Dani. Mungkin karena bidang pekerjaan nya berbeda. Selama setengah jam lamanya, saya wawancara dengan pak Dani yang saya rasa seperti sedang mengobrol dengan salah satu kakak sepupu saya dari keluarga ibu saya. Setelah wawancara, saya hanya bisa tersenyum sambil kaget bahwa ternyata semua jawaban yang isi dari soal tes yang diberikan ternyata tepat semua. Saat saya melewati meja resepsionis, resepsionis cantik tadi tersenyum pada saya dengan tatapan yang sulit saya tangkis.
Setelah mengikuti tes, saya tidak langsung pulang ke rumah. Jam 12 siang, saya menemui teman dekat saya yang sebut saja namanya Indra, yang sedang bekerja di suatu toko handphone. Saya mengobrol panjang dengan Indra mengenai resepsionis cantik yang saya temui di kantor. Saya bercerita bahwa resepsionis cantik tadi mengingatkan saya akan wanita yang direkomendasikan oleh Indra yang saat itu bekerja sebagai sales promotor salah satu brand handphone yang juga Indra kenali.
Jadi, empat tahun yang lalu saat saya masih berkuliah, saya diberi kontak Whatsapp seorang wanita yang juga satu mal dengan Indra. Karena saya saat itu merasa jenuh untuk memulai percakapan perkenalan lewat sosial media, saya berniat untuk menemuinya secara gentle. Saya diberitahukan oleh Indra kalau wanita yang dipanggil Aghnia ini bekerja di hari Minggu pagi. Masih di mal yang sama, namun tokonya saja yang berbeda. Saat Minggu pagi, saya sudah berada di mal yang dimaksud. Saya dan Indra membicarakan rencana yang akan dilakukan nanti tanpa sepengetahuan Aghnia dan semuanya ternyata berjalan lancar. Saya menghampiri Aghnia yang saat itu sedang jaga toko. Saya berpura-pura bertanya-tanya soal handphone, bertanya nama sampai akhirnya meminta kontak Whatsapp nya secara langsung. Saat sedang asik mengobrol dengan Aghnia, muncullah Indra dari belakang menepuk bahu saya. Saya dan Indra berakting seperti baru bertemu teman yang sudah lama berpisah bertahun-tahun. Aghnia yang melihatnya pun merasa terkejut. Akhirnya, saya, Indra dan Aghnia jadi mengobrol bersama. Setelah itu, saya dan Indra sama-sama merasa senang karena semuanya berjalan sesuai rencana yang telah disusun. Setelah itu, saya sempat berkomunikasi di Whatsapp dengan Aghnia selama beberapa hari. Namun entah mengapa, saat itu saya merasa malas untuk berbicara dengannya baik lewat telepon ataupun sekedar chat. Sampai ujungnya, saya dan Aghnia sudah tidak pernah berinteraksi lagi.
Beberapa minggu kemudian setelah pertemuan saya dengan Indra dan Aghnia, saya kembali menemui Indra. Indra bercerita bahwa beruntungnya saya tidak meneruskan pendekatan dengan Aghnia, karena diketahui Aghnia paling tidak mau mencukur bulu ketiaknya yang lebat dan sering berkeringat hingga menodai ketiak bajunya. Saat itu, Indra sempat melihat Aghnia yang sedang dipanggil oleh temannya saat sedang pameran di acara Car Free Day, lalu Aghnia meresponnya dengan lambaian tangannya dan bulu ketiaknya yang muncul dari ketiak bajunya yang saat itu berkeringat banyak. Indra yang saat itu melihat dengan temannya yang lain, seketika ilfil. Saya yang mendengar cerita Indra saat itupun seketika ikut-ikutan ilfil juga. Saya jadi membayangkan saat kepala saya dipeluk dekat ketiaknya, lalu tetesan keringat dari ketiaknya mengenai dahi saya sampai mengalir ke dalam mulut saya. Secara realistis dan normal, tidak mungkin kan rasanya menjadi manis?
Tapi untuk saat ini, Aghnia sudah hijrah dan hendak menikah dengan cara taaruf. Begitulah rumor yang diberitahu oleh Indra pada saya. Memang pada awalnya, saya mengira bahwa resepsionis cantik di kantor tadi ialah Aghnia. Tapi seingat saya, tingginya Aghnia itu sepantaran saya, tidak seperti resepsionis cantik tadi yang tingginya dibawah saya sedikit. Aghnia juga lebih hiperaktif dan cekatan dibanding resepsionis cantik tadi. Lalu, kalau bukan Aghnia, siapakah resepsionis cantik yang saya temui tadi pagi?
Maghrib nya saat saya sudah di rumah, saya membuka Instagram dan mencari tahu siapa resepsionis cantik yang saya temui tadi lewat following akun Instagram kantor perusahaan yang saya datangi tadi. Saya cari tahu satu persatu, tapi hasilnya nihil. Mungkin memang jawabannya saat saya sudah mulai bekerja di kantor nanti.
“Saya dapat wawancara disini jam 9 pagi.”
“Isi dulu aja disini.” kata si resepsionis sambil menunjuk buku kunjungan khusus yang akan wawancara.
Saya mengisi semua yang harus diisi di buku kunjungan, dari nama, alamat, bagian yang dilamar dan tanda tangan. Setelah itu, saya disuruh menunggu di kursi pojokan dekat meja resepsionis. Setengah jam menunggu, sambil membaca artikel-artikel di internet lewat handphone. Sampai dipanggil oleh resepsionis tadi untuk menuju ke ruang HRD. Resepsionis juga mengantar ke ruangan. Saya saat itu tidak sendiri, karena ada 3 orang lainnya yang ikut wawancara juga. Dimana saya dan 2 orang yang lain diberi pekerjaan sebagai business consultant, sedangkan 1 orang lainnya diberi pekerjaan sebagai IT Support.
2 orang yang tadi bersama saya dipanggil oleh salah satu HRD disana. Saya dan salah satu pelamar di bagian IT Support mengobrol, karena saya tidak sengaja memperhatikan pelamar ini membuka handphone sambil mengisi jawaban soal tes seleksi. Pelamar di bagian IT Support yang saya tidak ketahui namanya, mengeluh bahwa dia merasa tidak niat apabila harus menemui permasalahan yang sudah sering ditemuinya saat di kejuruan dulu. Saya sebagai pendengar yang baik, hanya bisa mengiyakan segala ucapannya. Pelamar tadi keluar duluan, sampai akhirnya menyisakan saya sendiri yang hendak diwawancara oleh salah satu HRD disana. Jadi, disana ada 2 pegawai HRD yang semuanya wanita berjilbab. HRD disana menjelaskan akan pekerjaan yang akan saya emban di perusahaan, perihal gaji dan semacamnya. Saya masih mengiyakan saja tanpa sepatah katapun menolak. Setelah itu, saya keluar meninggalkan ruangan, lalu tersenyum pada resepsionis yang sudah mengantarkan saya tadi.
Saat saya sudah berada di rumah, saya diberi pemberitahuan lewat email bahwa saya yang tadinya hendak dimasukkan ke bagian business consultant, dipindahkan ke bagian IT Support. Mungkin HRD melihat curriculum vitae yang saya gunakan untuk lamaran, dengan latar belakang saat saya berkuliah dan magang di bidang IT. Baiklah, saya merasa saya tidak boleh menolak lagi pekerjaan yang ditawarkan oleh orang lain pada saya. Karena saat itu, saya sudah merasa hilang harapan dan harus pasrah akan hal yang diberikan oleh semesta. Meskipun rasanya setengah hati.
Besok harinya, saya datang di waktu pagi yang sama seperti kemarin. Saya mengisi daftar kunjungan seperti kemarin. Saya juga disambut oleh wanita resepsionis yang sama seperti kemarin. Tapi saat saya hendak menuju ruangan HRD, saya diantar oleh rekan resepsionisnya yang juga saya belum ketahui namanya. Resepsionis di kantor ini hanya ada 2 wanita saja, yang tentu saja berpenampilan agak seksi. Dari segi aura atau karisma, rekan resepsionis yang saya maksud tadi terasa ada yang kurang, dan saat saya perhatikan, dia terlihat seperti masih anak-anak dibawah umur.
Di ruang HRD, saya diberi soal tes yang sama seperti pelamar IT Support di hari kemarin. Karena saat itu pelamar yang datang hanya saya sendiri dan saat saya tes pun tidak diawasi, saya leluasa membuka handphone untuk mencari jawaban atau referensi untuk tes, seperti yang dilakukan pelamar IT Support di hari kemarin. Di menit sekitar 30-an, saya sempat dihampiri oleh HRD. Untungnya, saat itu handphone saya disimpan di sekitar selangkangan.
“Udah selesai?” tanya HRD.
“Satu soal lagi.” jawab saya.
HRD pun pergi. Singkat cerita, saya menyelesaikan semua soal tadi selama 45 menit lamanya. Saya disuruh menunggu di kursi tunggu dekat meja resepsionis seperti kemarin, dengan kurun waktu selama sekitar 15 menit. Semua persyaratan lamaran milik saya dititipkan ke resepsionis. Jawaban saya diperiksa oleh bagian IT. Tak disangka, saya dipanggil oleh HRD untuk kembali ke ruang HRD. Resepsionis cantik yang saya maksud sebelumnya, mengantarkan saya ke ruang HRD sambil tersenyum. Saya disuruh menunggu oleh HRD di ruang meeting, hingga akhirnya saya dipertemukan dengan salah satu pekerja hukum di kantor. Namanya Dani. Saya diwawancara mengenai curriculum vitae, gaji, dan pekerjaan yang akan saya emban nanti. Yang diberitahukan oleh HRD kemarin, berbeda dengan apa yang dikatakan pak Dani. Mungkin karena bidang pekerjaan nya berbeda. Selama setengah jam lamanya, saya wawancara dengan pak Dani yang saya rasa seperti sedang mengobrol dengan salah satu kakak sepupu saya dari keluarga ibu saya. Setelah wawancara, saya hanya bisa tersenyum sambil kaget bahwa ternyata semua jawaban yang isi dari soal tes yang diberikan ternyata tepat semua. Saat saya melewati meja resepsionis, resepsionis cantik tadi tersenyum pada saya dengan tatapan yang sulit saya tangkis.
Setelah mengikuti tes, saya tidak langsung pulang ke rumah. Jam 12 siang, saya menemui teman dekat saya yang sebut saja namanya Indra, yang sedang bekerja di suatu toko handphone. Saya mengobrol panjang dengan Indra mengenai resepsionis cantik yang saya temui di kantor. Saya bercerita bahwa resepsionis cantik tadi mengingatkan saya akan wanita yang direkomendasikan oleh Indra yang saat itu bekerja sebagai sales promotor salah satu brand handphone yang juga Indra kenali.
Jadi, empat tahun yang lalu saat saya masih berkuliah, saya diberi kontak Whatsapp seorang wanita yang juga satu mal dengan Indra. Karena saya saat itu merasa jenuh untuk memulai percakapan perkenalan lewat sosial media, saya berniat untuk menemuinya secara gentle. Saya diberitahukan oleh Indra kalau wanita yang dipanggil Aghnia ini bekerja di hari Minggu pagi. Masih di mal yang sama, namun tokonya saja yang berbeda. Saat Minggu pagi, saya sudah berada di mal yang dimaksud. Saya dan Indra membicarakan rencana yang akan dilakukan nanti tanpa sepengetahuan Aghnia dan semuanya ternyata berjalan lancar. Saya menghampiri Aghnia yang saat itu sedang jaga toko. Saya berpura-pura bertanya-tanya soal handphone, bertanya nama sampai akhirnya meminta kontak Whatsapp nya secara langsung. Saat sedang asik mengobrol dengan Aghnia, muncullah Indra dari belakang menepuk bahu saya. Saya dan Indra berakting seperti baru bertemu teman yang sudah lama berpisah bertahun-tahun. Aghnia yang melihatnya pun merasa terkejut. Akhirnya, saya, Indra dan Aghnia jadi mengobrol bersama. Setelah itu, saya dan Indra sama-sama merasa senang karena semuanya berjalan sesuai rencana yang telah disusun. Setelah itu, saya sempat berkomunikasi di Whatsapp dengan Aghnia selama beberapa hari. Namun entah mengapa, saat itu saya merasa malas untuk berbicara dengannya baik lewat telepon ataupun sekedar chat. Sampai ujungnya, saya dan Aghnia sudah tidak pernah berinteraksi lagi.
Beberapa minggu kemudian setelah pertemuan saya dengan Indra dan Aghnia, saya kembali menemui Indra. Indra bercerita bahwa beruntungnya saya tidak meneruskan pendekatan dengan Aghnia, karena diketahui Aghnia paling tidak mau mencukur bulu ketiaknya yang lebat dan sering berkeringat hingga menodai ketiak bajunya. Saat itu, Indra sempat melihat Aghnia yang sedang dipanggil oleh temannya saat sedang pameran di acara Car Free Day, lalu Aghnia meresponnya dengan lambaian tangannya dan bulu ketiaknya yang muncul dari ketiak bajunya yang saat itu berkeringat banyak. Indra yang saat itu melihat dengan temannya yang lain, seketika ilfil. Saya yang mendengar cerita Indra saat itupun seketika ikut-ikutan ilfil juga. Saya jadi membayangkan saat kepala saya dipeluk dekat ketiaknya, lalu tetesan keringat dari ketiaknya mengenai dahi saya sampai mengalir ke dalam mulut saya. Secara realistis dan normal, tidak mungkin kan rasanya menjadi manis?
Tapi untuk saat ini, Aghnia sudah hijrah dan hendak menikah dengan cara taaruf. Begitulah rumor yang diberitahu oleh Indra pada saya. Memang pada awalnya, saya mengira bahwa resepsionis cantik di kantor tadi ialah Aghnia. Tapi seingat saya, tingginya Aghnia itu sepantaran saya, tidak seperti resepsionis cantik tadi yang tingginya dibawah saya sedikit. Aghnia juga lebih hiperaktif dan cekatan dibanding resepsionis cantik tadi. Lalu, kalau bukan Aghnia, siapakah resepsionis cantik yang saya temui tadi pagi?
Maghrib nya saat saya sudah di rumah, saya membuka Instagram dan mencari tahu siapa resepsionis cantik yang saya temui tadi lewat following akun Instagram kantor perusahaan yang saya datangi tadi. Saya cari tahu satu persatu, tapi hasilnya nihil. Mungkin memang jawabannya saat saya sudah mulai bekerja di kantor nanti.
Diubah oleh 007funk 18-10-2020 18:31
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas