- Beranda
- Milanisti Kaskus
Milanisti Kaskus | A. C. Milano 20/21 | Sempre Insieme, Forza Milan!
...
TS
bedulok
Milanisti Kaskus | A. C. Milano 20/21 | Sempre Insieme, Forza Milan!

Quote:
SOCCER ROOM GENERAL RULES
Read This Before Posting
Read This Before Posting
Spoiler for Rules:
*Peraturan dapat direvisi/dirubah sewaktu waktu 

Peraturan Baru di Sub Forum Milkas
Diubah oleh bedulok 16-12-2020 23:34
secretcodee dan 93 lainnya memberi reputasi
72
846K
25.2K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Milanisti Kaskus
314Thread•2KAnggota
Tampilkan semua post
ilozen
#3208
Menuai Panen
OLEH: Magico Milan
Pada usia 21 tahun dia meninggalkan kampung halamannya di Bremen, utara Jerman. Pada jenjang usia ini sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya, suatu saat nanti akan bekerja di klub-klub sepakbola ternama di dunia.
Pria itu menyeberang ke Inggris, kuliah di kampus elit London School of Economics. Selepas lulus, dia kembali ke Jerman untuk bekerja di perbankan investasi Goldman Sachs di Frankfurt. Dia hanya betah tiga tahun bekerja untuk kemudian mengambil MBA di Harvard Business School hingga lulus pada usia 29 tahun. Otaknya memang encer.
Sempat bekerja di General Electric, pria itu kemudian kembali ke London, Inggris bergabung dengan perusahaan pendanaan investasi. Krisis ekonomi 2008 merontokkan perusahaannya hingga dia memilih keluar untuk kemudian merenung, “Apa lagi yang harus aku kerjakan sekarang?”
Saat itu usianya 35 tahun. Setelah melewati masa perenungan, dia mengambil keputusan untuk bekerja di bidang olahraga, terutama sepakbola. Dia melamar sebuah posisi yang lowong di Arsenal pada 2010 hingga ditempatkan mengurusi bisnis klub. Pendidikan dan pengalamannya cukup untuk mendapat posisi penting yang hanya perlu melapor ke CEO klub. Anak muda itu bernama Hendrik Almstadt, CEO Arsenal ketika itu Ivan Gazidis.
Pada mulanya pekerjaannya sangat sepele. Gazidis menyuruh dia menjual tiket dan ruang VIP serta merencanakan tur pramusim.
Seiring waktu, Gazidis melihat kemampuannya dalam analisis finansial. CEO kemudian memberi tugas agar anak muda itu melakukan assesment skuad Arsenal, khusus disorot dari sisi keuangan. “Tak masalah,” kata pemuda itu. “Anda bisa melihat sebuah skuad seperti halnya portofolio. Isinya 30 aset dengan profil berbeda,” imbuhnya.
Assesment awal membuat CEO kepincut pada kecerdesannya untuk kemudian membawa anak muda itu bertemu Arsene Wenger, pelatih legendaris Arsenal. “Setelah pertemuan dengan saya, Wenger melipat kertas milik saya kemudian menyimpannya di saku. Saya melihat pertanda: dia menyetujui pendapat saya,” kata Almstadt.
Pada titik itulah job description-nya berubah dari mengurusi komersial dan sisi bisnis menuju ke manajemen berbasis olahraga. Tugas utamanya menghemat biaya transfer dan menekan gaji. Dia ditugasi Gazidis menjalankan perannya itu secara rahasia di Arsenal.
***
Sudah sejak lama Gazidis selalu mendiskusikan langkahnya di Arsenal dengan Stan Kroenke, pemilik saham mayoritas klub.
Salah satu keresahan mereka berdua, seringkali Arsenal merogoh kocek dalam-dalam untuk pemain yang pada akhirnya tak berguna. Dua contoh besarnya ada pada Marouane Chamakh dan Park Chu-young.
Chamakh memang diambil gratis dari Bordeaoux. Musim pertamanya memuaskan dengan mencetak 11 gol dari 22 laga pada 2010. Tetapi setelah itu performanya merosot drastis. Padahal gajinya besar, 93 ribu pounds atau Rp 1,75 miliar per pekan. Total tiga tahun dia menghabiskan 14 juta pounds atau Rp 265 miliar. Sia-sia.
Kemudian Park Chu-young dibeli 5 juta pounds dari Monaco pada 2011. Mantan pemain muda terbaik Asia itu dibayar tinggi untuk hanya bermain tujuh menit di Liga Premier. Tiga tahun kemudian dia dilepas dengan total klub memecah celengan senilai 34 juta pounds (Rp 640 miliar) untuk gaji, transfer dan komisi agen. Lancut! Orang Jawa bilang muspro.
Stan Kroenke kebetulan kenal dan paham seseorang bernama Billy Beane. Dia adalah manajer di klub bisbol Oakland Athletic. Kisahnya menjadi inspirasi utama film box office berjudul Moneyball dibintangi Brad Pitt. Billy Beane menjadi inspirasi karena mengoperasikan klubnya dengan memberi bobot besar pada analisis data statistik. Terutama untuk kepentingan memandu bakat atau menilai performa lapangan.
Kroenke ingin pola Billy Beane diterapkan di Arsenal. Di sinilah Gazidis menemukan orang yang cocok menjalankan ‘perintah’ Kroenke. Siapa dia? Hendrik Almstadt.
Almstadt bekerja secara rahasia di Arsenal. “Orang-orang di kantor tak mengerti apa pekerjaan saya,” kata dia dikutip dari Football Hackers, buku karangan Christoph Biermann.
Nama pekerjaan di kartu namanya: Football Operations. Sesuatu jabatan yang absurd, tetapi bisa mencakup semuanya. Tanggung jawab besarnya mempertautkan hubungan antara Arsenal dengan StadDNA, perusahaan data sepakbola yang baru dibeli Gazidis senilai 2,165 juta pounds atau sekitar Rp 40 miliar.
Apa itu StatDNA? Mengapa dibeli dengan sangat mahal? Gazidis buka suara. "Perusahaan ini ahli di bidang analisis kinerja data olahraga, yang merupakan bidang yang berkembang pesat. Saya dan lainnya, percaya perusahaan seperti ini akan sangat penting bagi posisi kompetitif Arsenal," kata Gazidis.
“Insight yang dihasilkan oleh perusahaan digunakan secara luas di seluruh operasi sepak bola kami - dalam pencarian bakat dan identifikasi bakat, dalam persiapan pertandingan, dalam analisis pasca pertandingan, dan dalam mendapatkan insight taktik,” katanya.
Meskipun perusahaan Amerika, StatDNA ingin operasionalnya murah. Maka mereka membangun kantor di Laos. Ya, Laos di Asia Tenggara. Sebanyak 80 karyawan di Laos setiap harinya memelototi rekaman siaran sepakbola untuk mencatat statistik-statistik kunci dengan sangat detail. Misalnya tekel, operan, atau tembakan. Bahkan lebih rinci lagi seperti apakah seorang pemain selalu menggunakan kaki terbaiknya untuk menembak, bagaimana posisi seorang kiper dan lain lain.
Mereka juga menghitung xG atau expected gol atau gol yang diharapkan. xG adalah volume gol yang diharapkan dicetak oleh pemain atau tim berdasarkan faktor-faktor yang dipertimbangkan melalui sebuah model. 1 xG adalah nilai tertinggi untuk satu tembakan dimana seorang pemain diyakini memiliki 100% peluang mencetak gol. Semakin tinggi xG semakin mungkin seorang pemain mengubah peluang menjadi gol. Penalti misalnya dihitung sebagai 0,76 xG.
Di London, Almstadt menambahkan catatan-catatan lain yang diperlukan untuk menilai seorang pemain seperti “Nilai Umpan”. Bobot diberikan untuk “Umpan Kunci” dibandingkan umpan ke belakang atau ke samping.
Almstadt sukses membawa Arsenal sebagai salah satu tim yang paling mutakhir dalam pemanfaatan data untuk sepakbola. Konon The Gunners mengeluarkan anggaran hingga Rp 30 miliar per tahun hanya untuk data.
Pola seperti ini sekarang digunakan nyaris di seluruh klub besar di Eropa. Data menjadi kunci. Mereka yang pakar soal data menjadi laris manis. Billy Beane, sang inovator, hari-hari terakhir ini diberitakan akan bergabung ke Liverpool.
Almstadt sendiri semakin antusias mengembangkan gagasan-gagasan besarnya tentang penggunaan data di sepakbola. Dia kemudian keluar dari Arsenal untuk menjadi direktur olahraga di Aston Villa. Namun dia tak cocok dengan pelatih Tim Sherwood hingga dua-duanya dipecat.
Almstadt lantas hengkang ke golf bergabung dengan PGA Tour sebelum kemudian pada 2018 bereuni dengan Ivan Gazidis di AC Milan.
***
Almstadt bukanlah sosok yang lepas kontroversi. Dia dituding sebagai penyebab dipecatnya Zvonimir Boban. Ketika itu, dirumorkan terjadi konflik antara Gazidis dan Almstadt di satu sisi dengan Boban dan Maldini di sisi lain. Perkaranya, semua sudah tahu, karena rencana mendatangkan Ralf Rangnick yang tanpa didiskusikan. Almstadt, yang memang tangan kanan Gazidis disebut sebagai inisiator.
Boban akhirnya dipecat dan life must go on. Roda kehidupan harus terus bergulir.
Bagi bisnis seperti Elliott, pemilik AC Milan, jelas penting memelihara sosok seperti Almstadt. Sejak lama Elliott menginginkan pendekatan moneyball. Mereka menginginkan transfer yang tidak sia-sia. Untuk itu, Almstadt dikolaborasikan dengan Geoffrey Moncada, mantan kepala pemandu bakat AS Monaco.
Mereka inilah yang berada dan mendukung filosofi kerja klub: menanamkan uang kepada pemain di bawah usia 25 tahun untuk dipanen beberapa tahun ke depan.
Filosofi seperti ini meletakkan kehebatan tim pada kemampuannya membuat pemain yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa.
Dalam konteks AC Milan akhir-akhir ini, kita bisa melihat pemain seperti Simon Kjaer yang dibeli hanya 3,5 juta euro dari Sevilla menjadi begitu krusial perannya bagi tim. Kini market valuenya naik dua kali lipat ke 7 juta euro.
Kemudian kita juga melihat, Alexis Saelemaekers yang dibeli seharga 7 juta euro dari Anderlecht menjadi sangat penting bagi skuad Stefano Pioli. Kini nilai pasarnya merangkak ke 8 juta euro.
Kita juga melihat nama-nama lain pemain Milan yang nilai pasarnya belakangan melonjak besar dari harga belinya. Theo Hernandez dibeli 20 juta euro tetapi kini nilai pasarnya 45 juta euro.
Ismael Bennacer dibeli total dengan bonus senilai 16 juta euro dari Empoli, kini nilai pasarnya naik hampir dua kali lipat menjadi 28 juta euro.
Siapa berandil besar di sini tentu tak bisa dengan menunjuk individu. Bisa peran Maldini, Gazidis, Moncada, Almstadt bisa juga peran Pioli atau si pemain sendiri. Atau bisa juga karena peran kolektif.
Yang pasti terjadi, kini Milan bernapas dengan aroma dan irama klub-klub besar Eropa lainnya. Tanam, pupuk, tekun, cermat, dan finalnya panen: fulus, maruah, maupun trofi.
Pada usia 21 tahun dia meninggalkan kampung halamannya di Bremen, utara Jerman. Pada jenjang usia ini sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya, suatu saat nanti akan bekerja di klub-klub sepakbola ternama di dunia.
Pria itu menyeberang ke Inggris, kuliah di kampus elit London School of Economics. Selepas lulus, dia kembali ke Jerman untuk bekerja di perbankan investasi Goldman Sachs di Frankfurt. Dia hanya betah tiga tahun bekerja untuk kemudian mengambil MBA di Harvard Business School hingga lulus pada usia 29 tahun. Otaknya memang encer.
Sempat bekerja di General Electric, pria itu kemudian kembali ke London, Inggris bergabung dengan perusahaan pendanaan investasi. Krisis ekonomi 2008 merontokkan perusahaannya hingga dia memilih keluar untuk kemudian merenung, “Apa lagi yang harus aku kerjakan sekarang?”
Saat itu usianya 35 tahun. Setelah melewati masa perenungan, dia mengambil keputusan untuk bekerja di bidang olahraga, terutama sepakbola. Dia melamar sebuah posisi yang lowong di Arsenal pada 2010 hingga ditempatkan mengurusi bisnis klub. Pendidikan dan pengalamannya cukup untuk mendapat posisi penting yang hanya perlu melapor ke CEO klub. Anak muda itu bernama Hendrik Almstadt, CEO Arsenal ketika itu Ivan Gazidis.
Pada mulanya pekerjaannya sangat sepele. Gazidis menyuruh dia menjual tiket dan ruang VIP serta merencanakan tur pramusim.
Seiring waktu, Gazidis melihat kemampuannya dalam analisis finansial. CEO kemudian memberi tugas agar anak muda itu melakukan assesment skuad Arsenal, khusus disorot dari sisi keuangan. “Tak masalah,” kata pemuda itu. “Anda bisa melihat sebuah skuad seperti halnya portofolio. Isinya 30 aset dengan profil berbeda,” imbuhnya.
Assesment awal membuat CEO kepincut pada kecerdesannya untuk kemudian membawa anak muda itu bertemu Arsene Wenger, pelatih legendaris Arsenal. “Setelah pertemuan dengan saya, Wenger melipat kertas milik saya kemudian menyimpannya di saku. Saya melihat pertanda: dia menyetujui pendapat saya,” kata Almstadt.
Pada titik itulah job description-nya berubah dari mengurusi komersial dan sisi bisnis menuju ke manajemen berbasis olahraga. Tugas utamanya menghemat biaya transfer dan menekan gaji. Dia ditugasi Gazidis menjalankan perannya itu secara rahasia di Arsenal.
***
Sudah sejak lama Gazidis selalu mendiskusikan langkahnya di Arsenal dengan Stan Kroenke, pemilik saham mayoritas klub.
Salah satu keresahan mereka berdua, seringkali Arsenal merogoh kocek dalam-dalam untuk pemain yang pada akhirnya tak berguna. Dua contoh besarnya ada pada Marouane Chamakh dan Park Chu-young.
Chamakh memang diambil gratis dari Bordeaoux. Musim pertamanya memuaskan dengan mencetak 11 gol dari 22 laga pada 2010. Tetapi setelah itu performanya merosot drastis. Padahal gajinya besar, 93 ribu pounds atau Rp 1,75 miliar per pekan. Total tiga tahun dia menghabiskan 14 juta pounds atau Rp 265 miliar. Sia-sia.
Kemudian Park Chu-young dibeli 5 juta pounds dari Monaco pada 2011. Mantan pemain muda terbaik Asia itu dibayar tinggi untuk hanya bermain tujuh menit di Liga Premier. Tiga tahun kemudian dia dilepas dengan total klub memecah celengan senilai 34 juta pounds (Rp 640 miliar) untuk gaji, transfer dan komisi agen. Lancut! Orang Jawa bilang muspro.
Stan Kroenke kebetulan kenal dan paham seseorang bernama Billy Beane. Dia adalah manajer di klub bisbol Oakland Athletic. Kisahnya menjadi inspirasi utama film box office berjudul Moneyball dibintangi Brad Pitt. Billy Beane menjadi inspirasi karena mengoperasikan klubnya dengan memberi bobot besar pada analisis data statistik. Terutama untuk kepentingan memandu bakat atau menilai performa lapangan.
Kroenke ingin pola Billy Beane diterapkan di Arsenal. Di sinilah Gazidis menemukan orang yang cocok menjalankan ‘perintah’ Kroenke. Siapa dia? Hendrik Almstadt.
Almstadt bekerja secara rahasia di Arsenal. “Orang-orang di kantor tak mengerti apa pekerjaan saya,” kata dia dikutip dari Football Hackers, buku karangan Christoph Biermann.
Nama pekerjaan di kartu namanya: Football Operations. Sesuatu jabatan yang absurd, tetapi bisa mencakup semuanya. Tanggung jawab besarnya mempertautkan hubungan antara Arsenal dengan StadDNA, perusahaan data sepakbola yang baru dibeli Gazidis senilai 2,165 juta pounds atau sekitar Rp 40 miliar.
Apa itu StatDNA? Mengapa dibeli dengan sangat mahal? Gazidis buka suara. "Perusahaan ini ahli di bidang analisis kinerja data olahraga, yang merupakan bidang yang berkembang pesat. Saya dan lainnya, percaya perusahaan seperti ini akan sangat penting bagi posisi kompetitif Arsenal," kata Gazidis.
“Insight yang dihasilkan oleh perusahaan digunakan secara luas di seluruh operasi sepak bola kami - dalam pencarian bakat dan identifikasi bakat, dalam persiapan pertandingan, dalam analisis pasca pertandingan, dan dalam mendapatkan insight taktik,” katanya.
Meskipun perusahaan Amerika, StatDNA ingin operasionalnya murah. Maka mereka membangun kantor di Laos. Ya, Laos di Asia Tenggara. Sebanyak 80 karyawan di Laos setiap harinya memelototi rekaman siaran sepakbola untuk mencatat statistik-statistik kunci dengan sangat detail. Misalnya tekel, operan, atau tembakan. Bahkan lebih rinci lagi seperti apakah seorang pemain selalu menggunakan kaki terbaiknya untuk menembak, bagaimana posisi seorang kiper dan lain lain.
Mereka juga menghitung xG atau expected gol atau gol yang diharapkan. xG adalah volume gol yang diharapkan dicetak oleh pemain atau tim berdasarkan faktor-faktor yang dipertimbangkan melalui sebuah model. 1 xG adalah nilai tertinggi untuk satu tembakan dimana seorang pemain diyakini memiliki 100% peluang mencetak gol. Semakin tinggi xG semakin mungkin seorang pemain mengubah peluang menjadi gol. Penalti misalnya dihitung sebagai 0,76 xG.
Di London, Almstadt menambahkan catatan-catatan lain yang diperlukan untuk menilai seorang pemain seperti “Nilai Umpan”. Bobot diberikan untuk “Umpan Kunci” dibandingkan umpan ke belakang atau ke samping.
Almstadt sukses membawa Arsenal sebagai salah satu tim yang paling mutakhir dalam pemanfaatan data untuk sepakbola. Konon The Gunners mengeluarkan anggaran hingga Rp 30 miliar per tahun hanya untuk data.
Pola seperti ini sekarang digunakan nyaris di seluruh klub besar di Eropa. Data menjadi kunci. Mereka yang pakar soal data menjadi laris manis. Billy Beane, sang inovator, hari-hari terakhir ini diberitakan akan bergabung ke Liverpool.
Almstadt sendiri semakin antusias mengembangkan gagasan-gagasan besarnya tentang penggunaan data di sepakbola. Dia kemudian keluar dari Arsenal untuk menjadi direktur olahraga di Aston Villa. Namun dia tak cocok dengan pelatih Tim Sherwood hingga dua-duanya dipecat.
Almstadt lantas hengkang ke golf bergabung dengan PGA Tour sebelum kemudian pada 2018 bereuni dengan Ivan Gazidis di AC Milan.
***
Almstadt bukanlah sosok yang lepas kontroversi. Dia dituding sebagai penyebab dipecatnya Zvonimir Boban. Ketika itu, dirumorkan terjadi konflik antara Gazidis dan Almstadt di satu sisi dengan Boban dan Maldini di sisi lain. Perkaranya, semua sudah tahu, karena rencana mendatangkan Ralf Rangnick yang tanpa didiskusikan. Almstadt, yang memang tangan kanan Gazidis disebut sebagai inisiator.
Boban akhirnya dipecat dan life must go on. Roda kehidupan harus terus bergulir.
Bagi bisnis seperti Elliott, pemilik AC Milan, jelas penting memelihara sosok seperti Almstadt. Sejak lama Elliott menginginkan pendekatan moneyball. Mereka menginginkan transfer yang tidak sia-sia. Untuk itu, Almstadt dikolaborasikan dengan Geoffrey Moncada, mantan kepala pemandu bakat AS Monaco.
Mereka inilah yang berada dan mendukung filosofi kerja klub: menanamkan uang kepada pemain di bawah usia 25 tahun untuk dipanen beberapa tahun ke depan.
Filosofi seperti ini meletakkan kehebatan tim pada kemampuannya membuat pemain yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa.
Dalam konteks AC Milan akhir-akhir ini, kita bisa melihat pemain seperti Simon Kjaer yang dibeli hanya 3,5 juta euro dari Sevilla menjadi begitu krusial perannya bagi tim. Kini market valuenya naik dua kali lipat ke 7 juta euro.
Kemudian kita juga melihat, Alexis Saelemaekers yang dibeli seharga 7 juta euro dari Anderlecht menjadi sangat penting bagi skuad Stefano Pioli. Kini nilai pasarnya merangkak ke 8 juta euro.
Kita juga melihat nama-nama lain pemain Milan yang nilai pasarnya belakangan melonjak besar dari harga belinya. Theo Hernandez dibeli 20 juta euro tetapi kini nilai pasarnya 45 juta euro.
Ismael Bennacer dibeli total dengan bonus senilai 16 juta euro dari Empoli, kini nilai pasarnya naik hampir dua kali lipat menjadi 28 juta euro.
Siapa berandil besar di sini tentu tak bisa dengan menunjuk individu. Bisa peran Maldini, Gazidis, Moncada, Almstadt bisa juga peran Pioli atau si pemain sendiri. Atau bisa juga karena peran kolektif.
Yang pasti terjadi, kini Milan bernapas dengan aroma dan irama klub-klub besar Eropa lainnya. Tanam, pupuk, tekun, cermat, dan finalnya panen: fulus, maruah, maupun trofi.
dn13lz dan 35 lainnya memberi reputasi
36
Tutup


