- Beranda
- Stories from the Heart
KALAGENDA | RITUAL
...
TS
re.dear
KALAGENDA | RITUAL
Mohon maaf bagi yang sudah menunggu terlalu lama🙏
Kami ucapkan terimakasih banyak atas kesabarannya yang luar biasa.
Kalagenda telah kembali, semoga masih cukup menarik untuk disimak.
Konten Sensitif
"Sejatinya tidak ada ilmu hitam dan ilmu putih, ilmu tetaplah ilmu. Yang ada hanyalah pelakunya menapaki jalan yang mana."
Spoiler for SEASON 1 SAJEN:
Chapter: Sajen
adalah chapter pembuka dari kisah ini. Seperti ritual, sesajen dibutuhkan sebagai syarat utama.Kisah yang menceritakan persinggungan dengan seorang dukun sakti yang dipanggil Ki Kala. Seorang pelaku ilmu hitam yang sanggup memenuhi setiap permintaan. Tentu dengan bayaran nyawa.
Akankah kami dapat bertahan?
Spoiler for TOKOH UTAMA:
Kang Adul Ojol
Seorang pengemudi ojek online berumur 40tahunan. Seorang bapak dengan 2 anak yang selalu mengutamakan keluarga. Kesialan yang dirinya atau rekan-rekannya alami membawa sisi yang jarang diekspos dari pekerjaan ojek online.
Mang Ian Warung
Perantau 27tahun dari kampung yang masih betah dalam status lajang ini mengelola sebuah warung yang berlokasi disebuah pertigaan angker.
Bang Herul Akik
Mantan satpam berumur 35 tahunan dari beberapa perusahaan. Seorang bapak dengan 1 anak yang selalu penasaran dengan hal mistis. Pun kejadian sial yang ia alami membuatnya terjun ke dunia batu akik untuk menyambung hidup.
Teh Yuyun
Wanita berumur 50 tahun lebih yang menolak tua. Mempunyai 2 anak tanpa cucu. Siapa sangka dibalik sikapnya yang serampangan, ia adalah sosok yang mempunyai ilmu kebatinan.
INDEX:
1.1.Kang Adul Ojol: Resto Fiktif
1.2.Mang Ian Warung: Singkong Bakar
1.3.Bang Herul Akik: Lembur
1.4.Teh Yuyun: Pesugihan Janin
===============================
Mitaku Malang, Mitaku Kenang
1.5.Mang Ian Warung: Kupu-Kupu Malam
1.6.Kang Adul Ojol: "Offline aja mbak."
1.7.Teh Yuyun: Susuk Nyai
===============================
1.8.Bang Herul Akik: Cici Cantik
1.9.Kang Adul Ojol: Ayu Ting Ting
1.10.Bang Herul Akik: Mess Sial
===============================
Kala Bermula
1.11.Kang Adul Ojol: Harum
1.12.Kang Adul Ojol: Cicak
1.13.Teh Yuyun: Akhir Awal
===============================
1.14.Mang Ian Warung; Bayawak
1.15.Bang Herul Akik: Pabrik Tekstil [I]
1.16. Bang Herul Akik: Pabrik Tekstil [II]
1.17. Bang Herul Akik: Pabrik Tekstil [III]
===============================
KONFRONTASI
1.18. Teh Yuyun: Tumbal
1.19. Teh Yuyun: Kunjungan
1.20. Teh Yuyun: Getih Laris
===============================
1.21. Kang Adul Ojol: Petaka Hamil Tua
1.22. Mang Ian Warung: Puputon [I]
1.23. Mang Ian Warung: Puputon [II]
1.24. Mang Ian Warung: Puputon [III]
===============================
BAHLA
1.25. Teh Yuyun: Rega [I]
1.26. Teh Yuyun: Rega [II]
1.27. Teh Yuyun: Rega [III]
===============================
1.28. Mang Ian Warung: Panon
1.29. Bang Herul Akik; No.19
TALAMBONG JARIAN
1.30. Citraghati [I]
1.31. Citraghati [II]
1.32. Citraghati [III]
1.33. Dalak Natih [I]
1.34. Dalak Natih [II]
1.35. Purwayiksa [I]
1.36. Purwayiksa [II]
1.37. Purwayiksa [III]
1.38.
=====SARANANDANG=====
1.39. Kara
1.40. Vijaya (I)
1.41. Vijaya (II)
1.42. Vijaya (III)
1.43. Kusuma Han (I)
1.44. Kusuma Han (II)
1.45. Sang Bakul (I)
1.46. Sang Bakul (II)
1.47. Pathilaga
1.48. Hieum
1.49. EPILOG SEASON 1
Chapter: MANTRA
Setelah kisah pembuka dari kengerian seorang dukun, seluk-beluk, latar belakang, & segala yang melengkapi kekejamannya usai lengkap. Penulis kembali meneruskan kisah horornya.
Sebab tatkala persiapan sesajen telah memenuhi syarat, kini saatnya mantra tergurat.
Cara apa lagi yang akan digunakan untuk melawan Ki Kala?
Siapa lagi korban yang berhasil selamat dari kekejaman ilmu hitamnya?
Bagaimana perlawanan sang tokoh utama dalam menghadapi Ki Kala?
Akankah kali ini kami berhasil?
Spoiler for TOKOH UTAMA:
DINDA
Penerus sekaligus anak perempuan dari Nyi Cadas Pura alias Teh Yuyun di chapter sebelumnya. Usianya belumlah genap 30 tahun, namun ilmu yang ia kuasai hampir setara dengan milik ibunya.
RATIH
Seorang (mantan) Pelayan rumah dari keluarga besar Han yang sudah binasa. Manis namun keji, adalah gambaran singkat mengenai gadis yang baru berusia 25 tahun ini.
IMAM
Seorang mahasiswa di salahsatu kampus yang tak jauh dari tempat Dinda tinggal. Seorang keturunan dari dukun santet sakti di masa lalu. Meski ia menolak, namun para 'penunggu' ilmu leluhurnya kerap kali menganggu.
~~oOo~~
Penerus sekaligus anak perempuan dari Nyi Cadas Pura alias Teh Yuyun di chapter sebelumnya. Usianya belumlah genap 30 tahun, namun ilmu yang ia kuasai hampir setara dengan milik ibunya.
RATIH
Seorang (mantan) Pelayan rumah dari keluarga besar Han yang sudah binasa. Manis namun keji, adalah gambaran singkat mengenai gadis yang baru berusia 25 tahun ini.
IMAM
Seorang mahasiswa di salahsatu kampus yang tak jauh dari tempat Dinda tinggal. Seorang keturunan dari dukun santet sakti di masa lalu. Meski ia menolak, namun para 'penunggu' ilmu leluhurnya kerap kali menganggu.
~~oOo~~
INDEX
2.1. Prolog Mantra
2.2. Asih
2.3. Delman
2.4. Kaki Kiri
Santet
2.5. Tideuha Murak Pawon [I]
2.6. Tideuha Murak Pawon [II]
2.7. Bebegig
2.8. Mancing
Babak Pertama Pangkur
2.9. Tepak Hiji
2.10. Tepak Dua
2.11. Tepak Tilu
2.12. The Artefact
2.13. Pangkur: Maludra
2.14. Pangkur: Maludra (2)
2.15. Pangkur: Durma
2.16. The Unexpected One
2.17. Sastra Jingga
2.18. Socakaca
2.19. Calung Durma
2.20. Hanaca Raka
2.21. Hanaca Rayi
2.22. Sarangka Leungit
2.23. Mega Ceurik
2.24. Lumayung Mendung
2.25. Pangkur: Juru Demung (I)
2.26. pangkur: Juru Demung (II)
2.27. Aksara Pura
2.28. Tarung Aksara
2.29. Adinda Adjining Sanggah
2.30. Teh Tawar
2.31. Fleuron: Back Stage
Antawirya
2.32. Para Jaga Loka
2.33. Adarakisa
2.34. Niskala Eka Chakra
2.35. Rengga Wirahma
2.36. Astacala
2.37. Cantaka
2.38. Léngkah Kadua
~oOo~
2.39. Pelatihan Neraka
2.40. Anyaranta
Quote:
WARNING!!
Cerita ini mempunyai komposisi sebagai berikut:
> 70% FIKSI
> 25% GOOGLING
> 4% NANYA ORANG
> 0,9% KEBOHONGAN MURNI
> 0,1% KENYATAAN YANG MASIH DIRAGUKAN KEBENARANNYA
Dengan demikian, penulis harap kebijaksanaannya. Apabila terjadi kesamaan dalam penokohan, alur, latar belakang, artinya hanya ada 3 kemungkinan:
1. Kejadian itu kebetulan benar terjadi.
2. Pengalaman agan mainstream.
3. Karya saya yang terlalu biasa.
Happy reading!
Jangan lupa cendol & rating bintang lima nya ya!


Jangan lupa cendol & rating bintang lima nya ya!


Spoiler for REFERENSI::
Diubah oleh re.dear 01-07-2021 00:18
arieaduh dan 74 lainnya memberi reputasi
65
95.8K
Kutip
2.3K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
re.dear
#410
SARANANDANG:
PATHILAGA

'...terompet perang berbunyi, genderang ditabuh, orang-orang memakai pakaian merah pertanda mati adalah satu-satunya pilihan selain meraih kemenangan absolut...'
PATHILAGA

'...terompet perang berbunyi, genderang ditabuh, orang-orang memakai pakaian merah pertanda mati adalah satu-satunya pilihan selain meraih kemenangan absolut...'
Meskipun Kara dan Vijaya kembali hidup setelah dibunuh oleh teh Yuyun sebelumnya, namun entah mengapa aku merasa apa yang ki Kala lalukan untuk itu hanya akan berakibat fatal untuk dirinya.
Aku yakin seseorang diatas sana akan tidak senang atas apa yang ki Kala lakukan.
Spoiler for PATHILAGA(I):
Ayi menerjang ki Kala berusaha mendaratkan pukulan beruntun ke berbagai daerah vital ki Kala.
Kusuma dan Kara yang berniat untuk membantu Ki Kala harus disibukkan dengan beberapa para Geni yang menyerang mereka.
Pun dengan sang Bakul, ia lagi-lagi harus digelayuti oleh para Geni. Mereka mengigitinya di berbagai tempat, mengoyak dan mencabik. Tubuh sang Bakul yang terlalu besar dan panjang semakin memudahkan para Geni untuk menyerangnya.
"Hyang Pura rasuki aku!"
Teh Yuyun berteriak ke atas langit-langit di mana Hyang Pura masih berada disana.
Hyang Pura tersenyum, ia kemudian turun dan menghampiri Teh Yuyun.
"Khekhekhe.. dengan senang hati."
Tubuh Hyang Pura perlahan mulai memudar menjadi asap putih yang mengelili teh Yuyun, hingga beberapa saat kemudian, tubuh teh Yuyun diselimuti ukiran tulang belulang dari leher hingga kaki.
Wajah teh Yuyun menghitam, rambut ikalnya yang berwarna hitam bercampur putih berubah putih seluruhnya.
Saat teh Yuyun membuka matanya, pupilnya mengecil hingga seperti setitik ditengahnya.
"Hahaha!"
Suara teh Yuyun menjadi lebih berat, itu suara Hyang Pura.
"Gila sudah."
Ratih melihat teh Yuyun sekilas, lalu saat ia melihat Vijaya keluar dari kamar dengan santai, Ratih menerjangnya dengan buas.
Kara dan Kusuma menghalau 4 ekor para Geni dengan susah payah, mereka kerepotan dengan Geni yang selalu datang tepat saat satunya terbunuh hingga jumlah yang mereka lawan takkan pernah habis.
Sang Bakul meladeni 5 ekor para Geni sendirian, tubuhnya perlahan dicabik-cabik, dagingnya digigiti perlahan oleh mereka. Sang Bakul kadang berteriak marah dan kesakitan saat tubuhnya di gigiti satu persatu.
Ki Kala melawan Ayi dengan sengit, pertahanannya sulit diterobos Ayi. Pukulan, tendangan, semuanya berhasil ditahan, sekuat dan secepat apapun Ayi lakukan.
"Kau akan terus seperti ini?"
Ayi bertanya di sela-sela pertarungannya.
"Baik, kau yang meminta, bidak!"
Ki Kala menyanggupi.
Keduanya saling menendang dan akhirnya saling jatuh menjauh.
Ki Kala merobek kedua nadinya dengan kuku tangannya. Darah yang menetes perlahan membeku dan berubah menjadi duri-duri seukuran lengan yang mengambang di sekitar tubuhnya.
Bersamaan dengan itu,
Ayi membuat dua tombak masing-masing di kedua tangannya. Tombak di kanan berwarna hijau dengan ujung seperti ada cairan kuning yang menetes, saat cairan itu jatuh ke lantai, lantai yang terkena cairannya seketika menguap. Cairan kuning itu asam?
Sementara tombak di tangan kirinya berwarna merah menyala dengan jilatan api di ujungnya, persis seperti besi yang dibakar.
"Ada hal yang harus kau ketahui kala!"
Ayi maju dan menusukkan kedua tombak itu secara bergantian.
Ki Kala mengelakkan tubuhnya ke segala arah sambil menujuk ke berbagai tubuh Ayi, setiap kali ia menunjuk satu duri merahnya menancap disana.
Ayi tak menghiraukan tubuhnya yang perlahan dipenuhi tusukan duri dari ki Kala, ia masih melancarkan serangan bertubi-tubi.
"Jangan ...."
Ayi mengincar kepala Ki Kala.
Ki Kala mengelak dan menancapkan durinya di leher Ayi.
"perlihatkan..."
Ayi menyerang bagian pinggang ki Kala dua kali berturut-turut.
Ki Kala menghindar ke kiri dan ke kanan, lalu membalasnya dengan menusuk lutut Ayi hingga tembus.
"Ajian apapun..."
Ayi yang kini pincang kakinya, menekuk kakinya ke atas, dengan bantuan tombak untuk menopang tubuhnya, ia melompat dan mengincar perut ki Kala.
Sebelum ki Kala bergerak mundur, durinya menancap lengan Ayi hingga tembus.
"Di hadapanku."
Ayi memutar tubuhnya, meski gerakannya kasar karena kakinya yang pincang, ia masih berusaha menusuk jantung Ki Kala.
Ki Kala mengelak sedikit lalu mundur dan menusukkan beberapa durinya ke dada hingga perut Ayi.
"Apa kau bilang tadi?"
Ki Kala bertanya dengan sombong.
Tubuh Ayi yang tertusuk duri hingga tembus disana-sini akhirnya ambruk. Saat tubuh Ayi menyentuh lantai, perlahan ia berubah menjadi tanah liat kering yang retak.
"Aku bilang..."
Ayi muncul dari belakang ki Kala menusukkan kedua tombaknya dari punggung ki Kala hingga tembus ke depan.
Ayi lalu menarik tubuh ki Kala hingga kepalanya dekat dengan bibir Ayi, dan Ayi berbisik melanjutkan kata-katanya tadi.
"Jangan perlihatkan ajian apapun di hadapanku."
Entah bagaimana, tapi Ayi yang lain berdiri di depan Ki kala dan menusukkan kedua tombaknya di dada ki Kala.
Aku paham Ayi meniru ajian milik Yuda, hanya saja awalnya aku mengira Ayi hanya membuat tubuhnya menjadi 2, dan perkiraanku salah.
Ayi membuat 4 tubuh dan mengelilingi ki Kala sambil menusukkan tombaknya ke sekujur tubuh ki Kala.
"Hahaha! Menarik!"
Ki Kala lalu menggeram, uap panas di tubuhnya semakin terlihat, beberapa jilatan api pun membara di sana-sini.
Ayi yang tak melepaskan tubuh ki Kala perlahan meleleh.
"Kau melupakan sesuatu karena kesombonganmu Ki."
Ayi berkata sebelum tubuh terakhirnya juga hangus terbakar.
Ki Kala meredakan apinya ketika mengetahui semua tubuh Ayi yang mengelilinginya itu palsu.
"Itu, racun Kara luar biasa kau tahu?"
Ayi yang tiba-tiba muncul menunjuk luka ki Kala dari tombak kanannya.
Ki Kala segera memeriksa tubuhnya sendiri, benar saja luka-luka itu tidak menutup dan mengeluarkan cairan berwarna hijau terus-menerus.
"Kau merusak tubuhku bajingan!"
Ki Kala yang marah berlari mendekati Ayi dengan cepat, tinjunya terhunus diikuti duri-durinya yang terbang di udara menyerang Ayi.
"Hehehe..."
Ayi tertawa lalu membagi tubuhnya menjadi 2, lalu 3 lalu 4 hingga 10 tubuh yang mengelilingi Ki Kala seorang diri.
Ayi yang kini ada 10 tubuh menyerang ki Kala bersamaan, Ki Kala yang tak ingin tubuhnya semakin terluka berusaha menghindarinya dan terus membalas setiap serangan yang ia terima. Setiap satu tubuh Ayi tumbang, satu tubuh lain terbentuk lalu melakukan hal yang sama, Ki Kala terjebak pada pertarungan tanpa ujung melawan Ayi.
Bersamaan dengan itu, teh Yuyun yang kini telah dirasuki Hyang Pura segera melompat ke tengah-tengah pertarungan Ayi dan Ki Kala.
Teh Yuyun mencekik leher Ki Kala, membuatnya tak bisa bergerak seketika.
Dengan itu, Ayi dengan mudah dapat menusukkan semua tombaknya ke sekujur tubuh Ki Kala tanpa menggores teh Yuyun sedikitpun.
"Kau melanggar tabu terlalu banyak, alammu sekarang bukan disini."
Teh Yuyun berkata dengan serak setengah berbisik pada ki Kala.
"Dan tabu itu pula yang menghalangimu membawaku!"
Ki Kala berteriak dengan yakin.
"Kalau begitu, kau harus mencoba gigitan para Geni."
Ayi berkata sambil mengangkat tombaknya.
Para Geni yang sedang sibuk seketika berhenti dan menoleh ke arah Ayi.
Saat Ayi menurunkan tangannya dan menujuk ki Kala, para Geni melompati Ayi dan mengigit tubuh Ki Kala. Herannya setelah para Geni menancapkan taringnya, mereka seketika pudar menjadi asap dan hanya menyisakan 2 taring yang menancap di tubuh ki Kala.
Dengan sifat Para Geni yang takkan habis, setelah satu lenyap muncul satu lagi, terus seperti itu selama beberapa saat. Mereka sama-sama menacapkan taring utamanya lalu lenyap. Membuat tubuh Ki kala perlahan dipenuhi oleh taring-taring para Geni.
"Geni hanya bisa menggigit tubuh fisik seperti anjing biasa, tapi kemampuannya adalah mengikat jiwa yang mati agar dapat dibawa ke alam kematian."
Ayi menjelaskan dengan tersenyum saat melihat tubuh ki Kala.
Ki Kala yang awalnya tenang mulai panik, ia terlihat seperti merasakan sesuatu sedang terjadi.
"Bajingan!!!!"
Ki Kala berteriak sekencang mungkin.
Ia berusaha melepaskan diri dari tombak-tombak Ayi dan cekikan teh Yuyun, agar dapat menghindari setiap serangan para Geni, namun teh Yuyun tak bergeming sama sekali. Wajahnya datar, matanya tajam, ia seperti patung yang tak bisa diganggu.
Di tempat lain,
Sang Bakul yang menerima luka-luka akibat serangan para Geni kini terbujur tak berdaya. Kondisinya memprihatinkan, tubuh ularnya hancur dengan luka cabikan yang menganga di sana sini, sementara tubuh manusianya juga tak kalah parah. Bahkan aku bisa melihat lekukan tulang yang muncul karena luka yang ia derita terlampau dalam.
Sementara itu, Ratih yang sedang melawan Vijaya mulai terlihat mengimbangi gerakan-gerakan Vijaya dengan baik.
Ratih imbang melawan Vijaya.
"Aku tak mengerti mengapa kau berkhianat."
Vijaya berkata di tengah-tengah pertarungannya.
"Sejak awal aku tak pernah masuk kedalam keluarga sialanmu!"
Ratih semakin buas menyerang Vijaya.
Vijaya tak membalas ucapan Ratih, ia lalu menendang kedua lengan Ratih bergiliran lalu melompat mundur.
"Kala secara perlahan tumbang."
Ujar Ratih padanya.
"Apa urusanku?"
Vijaya bertanya dengan angkuh.
"Kau hidup dari energi tubuh Kala, saat tubuh utama mulai melemah, kau juga akan hilang. Dasar bodoh."
Ratih menurunkan senjatanya dan mengejek Vijaya.
Vijaya menunduk dan memperhatikan tubuhnya yang meleleh menjadi cairan merah kental. Seperti lilin yang terbakar.
Vijaya terdiam, ia menurunkan kuda-kudanya. Berbalik dari Ratih dan berjalan tenang ke arah sofa.
Vijaya kemudian duduk, menyenderkan kepalanya, sikapnya sangat tenang seolah tak terjadi apa-apa.
"Baik, aku kalah. Sampai jumpa di neraka."
Vijaya menutup matanya dan membiarkan tubuhnya semakin meleleh hingga habis.
"Kita akan lanjutkan pertarungan ini disana lain kali."
Ratih membalas kata-kata terakhir Vijaya, lalu berjalan mendekati Kusuma yang sedang tergeletak.
Kusuma yang tercabik disana-sini hanya dapat berbaring tak berdaya sambil mengatur nafasnya yang tersengal. Tubuhnya perlahan menghitam seperti bara api yang sedang berubah menjadi arang.
Ratih duduk diatas tubuh Kusuma, ia mengadu kedua tepi tajam kujangnya, Ratih sedang mengasah senjatanya tepat diatas wajah Kusuma.
"Hmmm? Aku kira kau akan lebih hebat, tapi kalah oleh anjing-anjing itu."
Ratih berujar dengan nada mengejek pada Kusuma.
"Hahaha, ohok..uhuk.. memalukan memang."
Kusuma menerima ejekan Ratih dengan senyuman.
"Sepertinya aku menang."
Ratih mulai menyayat leher Kusuma dari kanan ke kiri, lalu menempatkan kujang yang lain di sisi satunya.
"Mengakui.. ohokk.. kemenangan atasku uhuk... Sambil membunuhku?"
Kusuma menjawab dengan susah payah.
"Ahh bukan bukan.."
Ratih mengangkat kedua kujangnya.
"Aku menang taruhan dari Nin Yuyun untuk membunuhmu."
Lalu Ratih kembali menyayat leher Kusuma pelan.
Meski aku merasa ngilu saat melihat Ratih bertindak seperti itu, tapi aku tahu kalau Ratih menyayat leher Kusuma dengan dangkal.
"Artinya.. ohokk... Tekadnya... Uhurkk.. lem...mah...hrookkk..."
Saat kata-kata terakhir Kusuma terucap, Ratih menusuk leher kusuma di sisi kanan kiri dengan sangat dalam lalu saling menarik kedua kujangnya ke tengah hingga bertemu dan menyilang tepat di kerongkongan Kusuma.
"Tekad siapa?"
Ratih bertanya sambil menahan tubuh Kusuma yang mengejang dan darah yang keluar deras dari kerongkongan Kusuma. Darah itu mengenai wajah Ratih.
Saat tubuh Kusuma berhenti bergerak dan mengejang, Ratih akhirnya menyembelih Kusuma, luka lebar dan dalam menganga dari leher Kusuma. Aku bahkan bisa melihat tulangnya dari situ.
Aku merasa mual, pusing, takut, dan tak percaya atas apa yang Ratih lakukan.
"Oh sepertinya aku buruk dalam kesabaran, belum saja dia menjawab pertanyaanku, malah mati duluan. Ya sudahlah."
Ratih berdiri, lalu mengusap wajahnya dengan lengan jaketnya serampangan.
Sekilas ia melihat kain tergeletak tak jauh dari mayat kusuma. Memperhatikannya sejenak, lalu berbalik.
Itu kain yang dipakai Kara saat pertama kali kembali. Nasib Kara juga sama dengan Vijaya, kembali mati dengan menyisakan gumpalan darah yang membentuk tubuh manusia.
Ratih memperhatikan apa yang sedang dilakukan teh Yuyun, Ayi dan para Geni pada Ki Kala.
Sekarang, teh Yuyun yang masih tak bergeming, secara perlahan tubuhnya mengeluarkan asap putih yang mengepul.
Kepulan asap putih itu lalu berkumpul dan perlahan membentuk tubuh Hyang Pura.
Keenam tangan tengkorak milik Hyang Pura memegangi tubuh Ki Kala yang masih meronta, meski tubuhnya belum terbentuk sempurna, namun Hyang Pura mampu mengangkat tubuh Ki kala keatas dan membawanya ke dalam kolam darah yang terbentuk di langit-langit.
Para Geni masih belum berhenti melompat dan mengigiti tubuh ki Kala secara terus menerus. Bahkan saat tubuh Ki Kala diangkat oleh Hyang Pura pun, serangan mereka masih belum mereda.
Teh Yuyun ambruk dengan terduduk, tubuhnya mulai melemah dan pucat, luka-lukanya mulai terbuka kembali. Namun perutnya tertutup dengan kulit manusia seperti seharusnya.
Lalu dengan cepat sebuah tombak panjang menusuk pinggang teh Yuyun dan menembus perutnya, sekilas bayangan mendaki tombak itu keatas dan melompat ke arah tubuh ki Kala yang sedang akan dibawa oleh Hyang Pura.
"Bajingan!"
Ayi yang marah melempar tombaknya pada orang itu.
"Pengecut Yuda!"
Ratih mengutuk orang itu.
Ternyata benar, itu Yuda.
Ia memeluk tubuh Ki Kala yang sedang terangkat. Menusuk leher Ki Kala dengan sebilah keris, di bagian yang ia tusuk keluar asap hitam menggumpal, dan dengan cepat mulut Yuda menghisap luka Ki Kala dan asap hitam itu.
Hanya sebentar, lalu ia melompat dan mendarat di balkon lantai dua.
Yuda yang semula berdiri, lalu kehilangan keseimbangan dan akhirnya harus terjatuh dengan posisi membungkuk.
"hehehe...hahahaha!!"
Suara tawanya terdengar pelan lalu keras.
Semua orang tercengang, itu suara ki Kala.
Yuda menutup mulutnya, menghela nafas panjang dan kemudian berdiri.
"Aku hanya menepati janji sebagai seorang murid kepada gurunya. Jangan membenciku."
Yuda berkata dengan tenang.
"Kita akan bertemu lagi nanti, dan saat itu tiba, kupastikan akan menghabisi kalian semua. Terutama kau!"
Yuda yang kini bersuara seperti ki Kala menunjuk Ayi.
"Kenapa tidak sekarang saja kita selesaikan?"
Ayi melompat mendekati Yuda, namun saat tombaknya tepat mengenai perut Yuda, lagi-lagi tubuhnya berubah menjadi tanah liat kering dan retak.
Ayi kesal dan melihat keatas, ke arah Hyang Pura yang perlahan masuk ke dalam gerbang dengan membawa tubuh Ki Kala dan menghilang meninggalkan mereka semua.
"Jika kau kebingungan, Re. Yuda mengambil sedikit energi jiwa hitam milik ki Kala yang tersisa, menyimpannya di tubuhnya agar energi itu pulih kembali. Meski nanti berhasil, Ki Kala akan berbagi tubuh dengan Yuda. Dan tentu saja, dia pasti akan mencari tubuh baru untuk ditempati. Lagipula, mediami tubuh bersama dengan jiwa putih milik Yuda akan terasa kurang nyaman.
Kau bisa berjaga di sekitar pekuburan, menunggu seseorang yang mati dengan beberapa kondisi, jika beruntung kau bisa melihat kebangkitan Ki Kala nanti."
Ratih membalikkan tubuhnya dan menatapku saat ia menjelaskan.
Seperti biasa, lesung pipinya membuatku kurang memperhatikan apa yang ia katakan.
Ayi melompat turun dari balkon lantai dua, lalu mendekati teh Yuyun yang tubuhnya tertusuk tombak panjang milik Yuda.
"Aku ... berhasil....bukan?"
Teh Yuyun berkata dengan sangat pelan dan susah payah.
Tubuhnya lemah dengan luka disana-sini yang terbuka dan mengeluarkan darah.
Tatapan matanya perlahan mulai kosong dan kehilangan cahaya.
"Kau gagal, Nyi. Hanya keluarga Han yang binasa."
Ayi menjawab pertanyaan teh Yuyun.
"Aku... Bilang.... Apa.... Aku pasti... Berhasil.... Membunuh... Ki Kala..."
Seperti tak mendengar apa yang Ayi katakan, Teh Yuyun ambruk dan ke arah Ayi yang berjongkok di depannya.
Ayi menangkap tubuh teh Yuyun lalu duduk, ia memeluk tubuh teh Yuyun.
"Aku bilang, kau gagal, Nyi."
Ucapan Ayi terdengar gemetar seperti menahan air matanya agar tak terjatuh.
Seperti tak terjadi apa-apa, entah dimana tempat ini berada, semuanya seketika tenang, seolah badai telah berlalu dengan acuh.
Malampun semakin larut, membawa air mata pergi dengan hembusan angin malam yang terdengar sayup-sayup. Cahaya rembulan menerobos celah-celah jendela, bercampur dengan cahaya lampu besar yang menggantung di tengah ruangan.
Lantai yang dipenuhi darah yang menggenang, bau amis yang menguar memenuhi udara, bercampur pilu dengan tubuh teh Yuyun yang semkin dingin, pucat dan kaku.
Pandanganku mulai terangkat, hingga di titik aku dapat melihat tubuh Kusuma, tubuh sang Bakul yang kini telah berubah kembali menjadi manusia, tubuh teh Yuyun yang sedang dipeluk oleh Ayi.
Begitu kacau suasana pertarungan ini, tapi hanya ada 3 tubuh yang bergeletakan.
Sebelum akhirnya pandanganku berubah menjadi gelap dan aku tak dapat melihat apapun.
~oOo~
Pandanganku kembali, aku melihat taman kecil yang diisi beberapa bunga yang bahkan aku tak tahu namanya.
Taman kecil yang dibuat oleh istriku, terletak di depan rumah lalu pagar setinggi satu meter.
Air mataku perlahan jatuh, aku melihat ke arah kebun singkong. Ayi berdiri disana tanpa senyuman khasnya. Lalu berbalik dan menghilang di kegelapan.
Kuusap airmataku sembarangan, melihat ke arah meja dimana kopiku masih hangat dan rokokku masih menyala habis setengah oleh angin malam.
Semua yang aku lihat, seberapa lama yang aku lalui, semua kejadian-kejadian itu, yang aku rasa berjalan begitu lama, nyatanya hanya berjalan tak lebih dari 5 menit di dunia nyata.
Aku meraih ponselku dan saat kubuka, sebuah berita daring terpampang di layar.
'Seorang pembantu berinisial 'R' telah membantai sebuah keluarga.
Berita itu tertanggal 5 hari yang lalu. Aku segera membacanya dengan cepat hingga habis, mencari tahu dimana pelaku dipenjara. Saat aku baru saja selesai membaca berita itu.
Cairan mengalir dan menetes dari hidungku dan jatuh pada celana yang ku kenakan. Saat kusentuh dan lap hidungku, kulihat itu darah.
Aku segera masuk ke rumah, meninggalkan kopi dan rokokku begitu saja.
Setelah aku membuka pintu dan masuk, kepalaku tiba-tiba mengalami sakit yang teramat hebat, hingga keseimbangan ku runtuh dan aku terjatuh.
Hal yang kuingat terakhir kali adalah teriakan istriku dan dirinya yang menghampiriku dengan panik.
japraha47 dan 23 lainnya memberi reputasi
24
Kutip
Balas
Tutup