- Beranda
- Stories from the Heart
The Postman Show - Dystopian Fiction
...
TS
cintadine
The Postman Show - Dystopian Fiction
Welcome to my fiction. Ane mencoba untuk membagikan kisah fiksi karangan ane. Tulisan ini ane memakai nama pena Hilman Sky. Untuk update ane akan usahakan setidaknya seminggu sekali. Bisa lebih cepat bisa lebih lambat.


Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh cintadine 14-10-2020 08:11
0
563
8
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
cintadine
#5
Chapter 3
Seisi studio bergemuruh, orang-orang yang datang langsung ke studio adalah mereka yang mampu membayar lebih untuk menonton pertunjukan ini secara langsung. Mereka kini dapat kejutan baru bahwa acara realitas kesayangan mereka akan punya edisi spesial bulan depan. Edisi untuk memperingati sepuluh tahun The Postman Show. Robert Khan menjelaskan di dalam layar besar itu, dari latar belakangnya dia sedang berada di rumahnya. "Saya harap ini bisa menjadi hiburan yang dapat menghibur seluruh warga negara kita. Dalam edisi spesial nanti jumlah peserta yang tadinya tujuh, akan ditambah menjadi sepuluh. Itu saja? Tentu tidak, satu hal lagi, para peserta harus mengirim paketnya ke luar negeri, bukan lagi kota di dalam negeri. Saya dan Pak Presiden sudah melakukan kerjasama dengan beberapa negara lain. Mereka sudah bersedia untuk terlibat dalam acara seru ini. Oh iya, hadiahnya juga dinaikan menjadi dua kali lipat."
Penonton di studio bertepuk tangan kompak. Marcus pun tersenyum berseri, hiburan bertambah seru. "Wow. Luar biasa! Ini hadiah yang luar biasa, kita akan menyaksikan para Sprinter berlari di negeri orang! Hebat bukan pemirsa!" Marcus sok heboh di depan kamera. "Tapi, nampaknya kita harus break sejenak karena akan ada banyak sponsor yang mau tayang dulu. Jangan ke mana-mana tetaplah di The Postman Show!"
Layar berganti dengan tayangan iklan. Suasana di restoran terdengar orang saling membicarakan tayangan yang barusan. Arthur menghabiskan semua minumannya. Merogoh saku dan memberikan uang pada bartender di sana. "Ambil saja kembaliannya." Dan membuat Bartender itu mengangguk.
Arthur tahu tayangan iklan itu akan lama karena acara ini kebanjiran sponsor dari berbagai produk. Dia pun pergi keluar dari restoran itu. Tepat di dekat pintu restoran ada seorang wanita berambut cokelat bergelombang, mereka mengenakan pakaian minim dan berujar pada Arthur. "Mau pesan kami dulu sebelum pulang, sweety?"
"Tidak. Terima kasih." Kata Arthur menghindar. Ketika Arthur berbelok, tiba-tiba ada orang yang menabraknya, namun tidak sampai membuat Arthur terjatuh karena badannya yang tegap dan kekar. Tapi dia sudah tahu maksud orang yang menabraknya, pria itu mencuri alat komunikasi miliknya dari dalam saku. Alat komunikasi yang sering kita sebut sebagai ponsel atau hape. Pria kurus yang menabrak Arthur itu berlari untuk kabur dengan kencangnya.
Haruskah aku olahraga malam ini?, pikir Arthur. Dia dengan sigap mengejar pria kurus itu melewati kerumunan orang yang berlalu lalang di trotoar kota. Pria kurus itu berlari gesit berkelit dari orang-orang di hadapannya. Pria kurus itu berbelok ke gang sempit dan Arthur terus berlari berusaha menempelnya. Gang kecil itu dipenuhi sampah-sampah plastik yang berserakan. Hujan mulai turun dengan cukup deras. Pria kurus itu menyebrangi jalan dan membuat mobil-mobil yang berjalan berhenti mendadak. Arthur juga menyebrang dan nyaris tertabrak. Pria kurus itu masuk sebuah gang lagi setelah memanjat pagar besi yang rendah. Saat Arthur hendak memanjat pagar, pria kurus itu terjatuh karena jalanan yang licin. Sejurus kemudian datanglah sebuah benda yang melayang ke arah pria kurus itu. Sebuah drone dengan baling-baling yang berputar dan drone itu mempunyai lampu yang bersinar di tengah hujan saat itu. Membuat Arthur cukup untuk kesilauan untuk melihatnya.
Drone butut ini berguna juga, Arthur berpikir demikian. Pria kurus berambut merah dan kriting itu belum berdiri dan hanya menatap drone dengan lampu hijau itu dengan ketakutan. Drone itu mengeluarkan suara. "Kejahatan terdeteksi, anda telah mengambil barang yang bukan hak milik anda. Anda dikejar-kejar dan panik. Sensorku mengatakan demikian. Cepatlah menyerah!"
Pria kurus itu semakin ketakutan. Dia merogoh saku celananya dan berusaha mengeluarkan ponsel Arthur. Namun saat melakukannya suara tembakan meletus dari arah drone itu. "Tidak!" Pekik Arthur.
Kepala pria kurus itu ditembaki peluru secara bertubi-tubi. Darah berhamburan bercampur dengan air hujan yang turun. Wajah pria kurus itu sudah tidak terlihat karena hancur setengahnya oleh ratusan peluru yang tembus. Ponsel Arthur yang berwarna putih tergeletak di samping mayat itu. Drone gila itu lantas melayang-layang lagi dan hilang dari pandangan Arthur. Orang-orang di sekitar teralihkan perhatiannya oleh kejadian mengerikan itu. Seseorang yang melihat mayat tersebut berkata. "Lagi-lagi Wing Boy sangat galak terhadap korbannya. Mungkin alat sialan itu mengira bocah ini adalah anggota mafia." Orang-orang di sana juga mengatakan hal yang sama dan saling bergosip.
Arthur membawa Ponselnya, dia melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke apartemennya. Dia memberhentikan sebuah taksi tak bersupir dengan menekan salah satu aplikasi di ponselnya dan kemudian menaikinya. Mayat itu akan diurus oleh kepolisian.
Arthur memasukan alamat tujuan di ponselnya dan taksi itu lantas mulai melaju dengan kecepatan sedang. Hujan semakin deras, Arthur memutuskan untuk memelankan laju taksi berwarna kuning itu. Apa yang dilihatnya tadi adalah sebuah kesalahan prosedur. Wing Boy adalah drone milik Kepolisian UFE dengan teknologi untuk mendeteksi dan menangkap para penjahat. Namun teknologi tersebut masih jauh dari sempurna. Boy Wing itu mengira kalau si pria malang tersebut bakal merogoh pistol dan kontan langsung menembakinya dengan membabi buta di bagian wajah. Meski kesalahan prosedur dan eror, namun Arthur dan juga warga di sini kebanyakan percaya pihak keluarga korban tidak akan menuntut Kepolisian UFE. Apalagi jika korban berasal dari kaum yang miskin.
Arthur tinggal di apartemen di kawasan Stagharm, kawasan pemukiman untuk kaum kelas menengah ke bawah. Dia tinggal bersama istrinya, Clara yang berusia sepuluh tahun lebih muda darinya. Selama lima tahun pernikahannya. Mereka belum dikarunai anak. Arthur memulai pendidikan militernya sejak lulus sekolah tingkat menengah, dia berasal dari keluarga yang biasa saja. Ayahnya adalah pekerja pabrik di perusahaan Androbo, pabrik pembuat robot Android. Ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu akibat kecelakaan pesawat.
Arthur lulus sebagai prajurit pada usia dua puluh dua tahun dan langsung ditempatkan di berbagai perbatasan antar daerah untuk berjaga di sana. Beberapa tahun kemudian Arthur ditugaskan di perbatasan antar negara. Kerjanya yang dekat dengan perbatasan membuat Arthur sering dekat dengan kawasan radiasi nuklir dan dia juga telah beberapa kali menyaksikan secara langsung bagaimana para monster mutan yang berkeliaran di luar pagar. Namun, semua warga di sini aman dari ancaman monster. Hanya para pembangkang negara dan para peserta The Postman Show yang harus berurusan dengan para monster.
Taksi itu semakin jauh dari keramaian dan memasuki kawasan yang agak sepi, hujan mulai reda namun langit malam terlihat gelap cahaya bulan. Mobil otomatis itu berhenti tepat di tempat yang ditentukan oleh Arthur, saldo uang digital milik Arthur otomatis terpotong sebagai ongkosnya.
Apartemen itu berupa gedung yang tidak tinggi dan hanya punya empat lantai dan kamar-kamarnya tidak terlalu luas. Arthur naik ke lantai dua dengan menggunakan tangga dan mengetuk salah satu kamar dan munculah istrinya yang membukakan pintu. Clara adalah seorang wanita yang berambut hitam pendek, dia keturunan Eropa dan Asia timur. Dia kurus, ideal dan tampak lebih muda dari usianya yang kini tiga puluh tahun. "Kau kedinginan sayang?"
Arthur memasuki ruangannya, dia membuka mantelnya dan memberikannya pada Clara. Arthur menghempaskan dirinya di sofa yang sudah jadul. "Aku menyaksikan orang yang ditembaki."
"Bukannya itu sudah biasa bagi seorang tentara?" Ujar Clara dia menggantungkan mantel yang sedikit basah itu ke tempat penyimpanan dan bergegas untuk duduk di samping Arthur.
"Mungkin aku pernah membunuh orang dalam bertugas. Tapi drone sialan yang tadi begitu brutal. Kau tidak khawatir dengan teknologi itu, sayang?"
Clara tersenyum. "Wing Boy itu adalah bumbu penyedap di The Postman Show, dan entah berapa para Sprinter yang sudah tewas oleh drone aneh itu. Jadi sudah seharusnya benda itu kejam"
"Kau benar juga sih." Kata Arthur. "Bisakah kau buatkan telur dadar untukku?"
Clara berdiri dan bergegas ke dapur, dia juga sudah kelaparan. Arthur membuka layar ponselnya yang transparan dan sangat tipis itu dan mengarahkannya ke tv kecil yang ada di depannya dan tv itu menyala. Arthur ingin melihat kelanjutan The Postman Show yang sempat ia lewatkan.
Penonton di studio bertepuk tangan kompak. Marcus pun tersenyum berseri, hiburan bertambah seru. "Wow. Luar biasa! Ini hadiah yang luar biasa, kita akan menyaksikan para Sprinter berlari di negeri orang! Hebat bukan pemirsa!" Marcus sok heboh di depan kamera. "Tapi, nampaknya kita harus break sejenak karena akan ada banyak sponsor yang mau tayang dulu. Jangan ke mana-mana tetaplah di The Postman Show!"
Layar berganti dengan tayangan iklan. Suasana di restoran terdengar orang saling membicarakan tayangan yang barusan. Arthur menghabiskan semua minumannya. Merogoh saku dan memberikan uang pada bartender di sana. "Ambil saja kembaliannya." Dan membuat Bartender itu mengangguk.
Arthur tahu tayangan iklan itu akan lama karena acara ini kebanjiran sponsor dari berbagai produk. Dia pun pergi keluar dari restoran itu. Tepat di dekat pintu restoran ada seorang wanita berambut cokelat bergelombang, mereka mengenakan pakaian minim dan berujar pada Arthur. "Mau pesan kami dulu sebelum pulang, sweety?"
"Tidak. Terima kasih." Kata Arthur menghindar. Ketika Arthur berbelok, tiba-tiba ada orang yang menabraknya, namun tidak sampai membuat Arthur terjatuh karena badannya yang tegap dan kekar. Tapi dia sudah tahu maksud orang yang menabraknya, pria itu mencuri alat komunikasi miliknya dari dalam saku. Alat komunikasi yang sering kita sebut sebagai ponsel atau hape. Pria kurus yang menabrak Arthur itu berlari untuk kabur dengan kencangnya.
Haruskah aku olahraga malam ini?, pikir Arthur. Dia dengan sigap mengejar pria kurus itu melewati kerumunan orang yang berlalu lalang di trotoar kota. Pria kurus itu berlari gesit berkelit dari orang-orang di hadapannya. Pria kurus itu berbelok ke gang sempit dan Arthur terus berlari berusaha menempelnya. Gang kecil itu dipenuhi sampah-sampah plastik yang berserakan. Hujan mulai turun dengan cukup deras. Pria kurus itu menyebrangi jalan dan membuat mobil-mobil yang berjalan berhenti mendadak. Arthur juga menyebrang dan nyaris tertabrak. Pria kurus itu masuk sebuah gang lagi setelah memanjat pagar besi yang rendah. Saat Arthur hendak memanjat pagar, pria kurus itu terjatuh karena jalanan yang licin. Sejurus kemudian datanglah sebuah benda yang melayang ke arah pria kurus itu. Sebuah drone dengan baling-baling yang berputar dan drone itu mempunyai lampu yang bersinar di tengah hujan saat itu. Membuat Arthur cukup untuk kesilauan untuk melihatnya.
Drone butut ini berguna juga, Arthur berpikir demikian. Pria kurus berambut merah dan kriting itu belum berdiri dan hanya menatap drone dengan lampu hijau itu dengan ketakutan. Drone itu mengeluarkan suara. "Kejahatan terdeteksi, anda telah mengambil barang yang bukan hak milik anda. Anda dikejar-kejar dan panik. Sensorku mengatakan demikian. Cepatlah menyerah!"
Pria kurus itu semakin ketakutan. Dia merogoh saku celananya dan berusaha mengeluarkan ponsel Arthur. Namun saat melakukannya suara tembakan meletus dari arah drone itu. "Tidak!" Pekik Arthur.
Kepala pria kurus itu ditembaki peluru secara bertubi-tubi. Darah berhamburan bercampur dengan air hujan yang turun. Wajah pria kurus itu sudah tidak terlihat karena hancur setengahnya oleh ratusan peluru yang tembus. Ponsel Arthur yang berwarna putih tergeletak di samping mayat itu. Drone gila itu lantas melayang-layang lagi dan hilang dari pandangan Arthur. Orang-orang di sekitar teralihkan perhatiannya oleh kejadian mengerikan itu. Seseorang yang melihat mayat tersebut berkata. "Lagi-lagi Wing Boy sangat galak terhadap korbannya. Mungkin alat sialan itu mengira bocah ini adalah anggota mafia." Orang-orang di sana juga mengatakan hal yang sama dan saling bergosip.
Arthur membawa Ponselnya, dia melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke apartemennya. Dia memberhentikan sebuah taksi tak bersupir dengan menekan salah satu aplikasi di ponselnya dan kemudian menaikinya. Mayat itu akan diurus oleh kepolisian.
Arthur memasukan alamat tujuan di ponselnya dan taksi itu lantas mulai melaju dengan kecepatan sedang. Hujan semakin deras, Arthur memutuskan untuk memelankan laju taksi berwarna kuning itu. Apa yang dilihatnya tadi adalah sebuah kesalahan prosedur. Wing Boy adalah drone milik Kepolisian UFE dengan teknologi untuk mendeteksi dan menangkap para penjahat. Namun teknologi tersebut masih jauh dari sempurna. Boy Wing itu mengira kalau si pria malang tersebut bakal merogoh pistol dan kontan langsung menembakinya dengan membabi buta di bagian wajah. Meski kesalahan prosedur dan eror, namun Arthur dan juga warga di sini kebanyakan percaya pihak keluarga korban tidak akan menuntut Kepolisian UFE. Apalagi jika korban berasal dari kaum yang miskin.
Arthur tinggal di apartemen di kawasan Stagharm, kawasan pemukiman untuk kaum kelas menengah ke bawah. Dia tinggal bersama istrinya, Clara yang berusia sepuluh tahun lebih muda darinya. Selama lima tahun pernikahannya. Mereka belum dikarunai anak. Arthur memulai pendidikan militernya sejak lulus sekolah tingkat menengah, dia berasal dari keluarga yang biasa saja. Ayahnya adalah pekerja pabrik di perusahaan Androbo, pabrik pembuat robot Android. Ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu akibat kecelakaan pesawat.
Arthur lulus sebagai prajurit pada usia dua puluh dua tahun dan langsung ditempatkan di berbagai perbatasan antar daerah untuk berjaga di sana. Beberapa tahun kemudian Arthur ditugaskan di perbatasan antar negara. Kerjanya yang dekat dengan perbatasan membuat Arthur sering dekat dengan kawasan radiasi nuklir dan dia juga telah beberapa kali menyaksikan secara langsung bagaimana para monster mutan yang berkeliaran di luar pagar. Namun, semua warga di sini aman dari ancaman monster. Hanya para pembangkang negara dan para peserta The Postman Show yang harus berurusan dengan para monster.
Taksi itu semakin jauh dari keramaian dan memasuki kawasan yang agak sepi, hujan mulai reda namun langit malam terlihat gelap cahaya bulan. Mobil otomatis itu berhenti tepat di tempat yang ditentukan oleh Arthur, saldo uang digital milik Arthur otomatis terpotong sebagai ongkosnya.
Apartemen itu berupa gedung yang tidak tinggi dan hanya punya empat lantai dan kamar-kamarnya tidak terlalu luas. Arthur naik ke lantai dua dengan menggunakan tangga dan mengetuk salah satu kamar dan munculah istrinya yang membukakan pintu. Clara adalah seorang wanita yang berambut hitam pendek, dia keturunan Eropa dan Asia timur. Dia kurus, ideal dan tampak lebih muda dari usianya yang kini tiga puluh tahun. "Kau kedinginan sayang?"
Arthur memasuki ruangannya, dia membuka mantelnya dan memberikannya pada Clara. Arthur menghempaskan dirinya di sofa yang sudah jadul. "Aku menyaksikan orang yang ditembaki."
"Bukannya itu sudah biasa bagi seorang tentara?" Ujar Clara dia menggantungkan mantel yang sedikit basah itu ke tempat penyimpanan dan bergegas untuk duduk di samping Arthur.
"Mungkin aku pernah membunuh orang dalam bertugas. Tapi drone sialan yang tadi begitu brutal. Kau tidak khawatir dengan teknologi itu, sayang?"
Clara tersenyum. "Wing Boy itu adalah bumbu penyedap di The Postman Show, dan entah berapa para Sprinter yang sudah tewas oleh drone aneh itu. Jadi sudah seharusnya benda itu kejam"
"Kau benar juga sih." Kata Arthur. "Bisakah kau buatkan telur dadar untukku?"
Clara berdiri dan bergegas ke dapur, dia juga sudah kelaparan. Arthur membuka layar ponselnya yang transparan dan sangat tipis itu dan mengarahkannya ke tv kecil yang ada di depannya dan tv itu menyala. Arthur ingin melihat kelanjutan The Postman Show yang sempat ia lewatkan.
0