Quote:
Original Posted By Ayura23►Halo, agan dan aganwati semua.
Saya mau share mengenai seorang janda yang selalu cari perhatian ke teman-teman kantornya. Kalau diluar teman kantornya saya tidak tahu.
Semua bermula ketika saya baca chat WA tunangan saya yang satu kantor dengan si janda, kita sebut saja nama janda tersebut L. Tunangan saya sebut saja D. Saya baca chat tersebut yang menunjukkan bahwa L mengirim emoticon love kepada tunangan saya. L (janda) lebih tua 5-6 tahun daripada tunangan saya. Saya berbeda lebih muda 11 tahun dari tunangan saya.
Kira-kira begini:
D (Tunangan saya): Mbak, mau kopi aceh ga? (Dikirim beserta foto kopi tsb)
L (Janda): Mauuuuuu "emoticon love"
Beberapa kali ditanya mau ga dibelikan kopi saat pacar saya dinas keluar kota, L sepertinya sering bahkan selalu mengirim emoticon serupa. Tunangan saya dan hampir semua rekan kantornya yang satu divisi memang sering membawa oleh-oleh untuk keluarga, teman sekantor misal admin divisi dan beberapa atasan divisi tsb.
L adalah admin divisi dan L yang mengurus pemesanan tiket pesawat, voucher hotel, sewa mobil dengan rekanan perusahaan di kota tsb. L juga dimintai tolong oleh beberapa teman sekantornya untuk membuatkan laporan pengeluaran teman sekantor ketika diluar kota, misalnya biaya laundry, makan, dan pengeluaran lainnya. Mereka meminta tolong supaya ga repot dan ribet.
Tunangan saya pun sejak hampir 1 tahun ini dibuatkan laporan pengeluaran untuk klaim tersebut atas masukan dan saran dari leadernya, leadernya juga bilang kan sekalian bantuin dia. Tapi leader team ini langsung ingatkan di awal kepada tunangan saya bahwa "jangan meminjamkan uang pada L (janda), L kadang juga berusaha meminjam dari rekan kantor lain." Jadi, hanya berikan saja 10% dari total klaim yang cair, begitu kata leader team tsb.
Chat dengan kalimat seperti di atas mungkin tidak hanya dikirimkan kepada tunangan saya. Rekan tunangan saya mungkin juga demikian. Saya awalnya ingin berpikir positif dan hanya mengingatkan ringan saja ke tunangan agar jaga jarak karena mereka berdua sama-sama single.
Tunangan saya bilang ke saya, "Tidak mungkin suka, apalagi sampai bersama dengan L (janda) itu, karena ia janda dan ada anak. Bahkan dia lebih tua, secara fisik juga bukan tipenya dan berbeda dengan tunangannya dari face hingga kulit (saya)."
Maaf, bukan menjelekkan. Tetapi, lama-lama saya jadi tidak tenang di dalam hati saya saat tidak sengaja melihat betapa L perhatian dengan tunangan saya. Walaupun saya dan tunangan saya sangat intens komunikasi dan hubungan kami harmonis dalam berbagai hal. Mungkin banyak agan-agan yang merasa bahwa saya harus mencari bukti dahulu, jadi saya coba memberikan beberapa yang sudah saya ketahui.
Berikut bukti yang saya temukan:
1. L (janda) mengirim emoticon love pada tunangan saya. Tetapi memang tidak dibalas oleh tunangan saya. Saya yakit chat itu tidak dihapus karena saya bisa akses log notif hp tunangan saya. Jadi kalau ada yang dihapus, saya akan tahu.
2. L menunjukkan perhatian kepada tunangan saya.Perhatian serupa tidak L tunjukkan pada orang lain. Setidaknya yang dia berikan perhatian lebih adalah cowok single (duda atau belum pernah menikah)/atasannya (pria). Terhadap perempuan tidak.
Contoh bentuk perhatian L:
- Saat rekannya berulang tahun, L mengirim ucapan selamat ultah pagi-pagi sekali, seolah ingin menjadi yang pertama mengucapkannya di grup WA pada tunangan saya. Dari 10 orang yang saya baca (8 cowok, 2 cewek), dan hanya 2 orang cowok single yang diucapkan ulang tahun pagi-pagi dibandingkan rekan lain, diucapkan pada jam 4 dan 5 pagi. Sisa 8 orang yang tidak single diberi ucapan lebih dari jam 8.30 pagi, malah 2 perempuan jam hampir jam 10 pagi dan jam 12 siang baru diucapin. Jadi, L jam 5 pagi kirim chat selamat ultah ke tunangan saya di grup. Dia yang pertama mengucapkan. Bhkan saat tunagan saya kirim ucapan terima kasih kepada semua rekan yang menyelamatinya, L (janda) mengomentari "Aminn". Padahal saat ulang tahun rekan lainnya, L tidak sibuk sampai bilang begitu.
- L memberi ucapan secara japri langsung ke WA tunangan saya "good luck, semoga baik-baik saja, mas"pada tunangan saya yang mau tes kesehatan di pagi hari pada hari tes tersebut. Itu tes rapid covid-19 sebagai persyaratan bepergian keluar kota. L tahu tunangan mau keluar kota karena L admin divisi yang mengurusi tiket, hotel, mobil, dll.
- L chat di grup WA dengan kata-kata menjurus pada tunangan saya,misal, "bukain dong mas" di hubungkan ke kalimat tunangan saya. Itu dilontarkan L saat ada rekan lelaki tunangan saya yang merasa diblock kontak WA oleh tunangan saya. Selain itu, L juga sering komentar menjurus di grup terhadap lelaki lain, misalnya "nanti pas ketemu aku jilat deh". Ini L katakan saat ada lelaki single yang dibilang sering berjemur di pantai, jadi mungkin kaya' ikan asin, mungkin dia mau tau rasanya. Ini sedikit contoh saja ya, walaupun ada kalimat-kalimat lain yang L katakan.
- Saat manager memberi info di grup bahwa project suami saya sukses, L (janda) memberikan selamat pertama kali. Di sisi lain, jika info tersebut berkenaan dengan pegawai lain, L tidak mengatakan apapun. Ini saya perhatikan dari baca WA.
3. L minta diisikan saldo ov* kepada tunangan saya dan diisikan setelah memberitahu saya. Tunangan saya bilang " ini admin yang diminta buat laporan, jadi dia dapat 10% dari klaim yang cair sebagai tanda terima kasih. Rekan lain juga ada yang begitu. Ini ov* nanti dipotong dari 10% itu aja." Ini terjadi pada saat bulan pertama tunangan saya meminta tolong dibuatkan laporan untuk klaim pengeluarannya di site (lokasi kerja diluar kota). Tetapi karena firasat saya ga enak, saya bilang sebaiknya jangan main kasih sebelum klaim cair dan itu tidak terjadi lagi.
Lagipula khawatirnya kebaikan tunangan saya malah disalah artikan oleh L (janda). Terlalu baik, walau masih logis, dengan saya pun kalau dimintai tolong misalnya secara finansial selalu ga nolak, begitu pun ke keluarganya. Makanya, rejeki lancar.
Catatan: Saya dan tunangan saya sepakat bahwa saya bisa mengakses WA dan lokasi dirinya. Tunangan saya bilang dia tidak masalah, lagipula dia tidak aneh-aneh. Hal yang tidak diketahui tunangan saya, saya bisa mengakses log notification miliknya. Jadi kalau ada yang dihapus, saya tahu. Tunangan saya sangat terbuka selama ini pada saya, bahkan sebelum dia bergabung ke perusahaan sekarang saya sudah diberitahu password hp, m-banking, password card, dll.
Jadi hubungan kami terbuka satu sama lain, tunangan saya juga tidak pelit dan perhatian secara finansial selama ini. Dia juga perhatian dengan proses kuliah S2 saya. Sudah sejak awal tunangan saya mengajak nikah, tetapi saya belum lulus kuliah S2 saat ini. Tetapi saya memang tidak risau dengan godaan L secara fisik (bukan tipe tunangan saya, dan L 15 tahunan lebih tua dari saya dan 6 tahun lebih tua dari tunangan saya) karena saya sangat intens dengan pacar saya, kami terhubung secara jasmani bahkan rohani dari sikapnya dalam menghadapi saya. Tunangan saya pun sering mengkritisi keluarga yang menikahi janda, misal "oh dapat janda." Maaf bukan merendahkan. Saya hanya memaparkan fakta yang dikatakan tunangan saya. Semua rekan tunangan saya di kantor tau siapa pasangannya, yaitu saya.
Jadi, saya mohon sarannya apa yang harus saya lakukan dalam menghadapi ini agar hati saya bisa nyaman dan tenang? Tetapi tidak pula lengah dan abai pada risiko didahului oleh si L (janda).
@ishtar77Pasti faktor utamanya dia dekatin ya materi, semua rekannya tau tunangan saya ga pelit, temennya aja klo mau pinjem smpe berjuta2 juga dia pinjemin. Sama saya jg demikian. Faktor kedua ya karena tunangan saya single dan terbilang baru di kantor tsb. Cowok single lain di kantor itu sebagian sdh tau gmn kelakuan si L, jd ga mungkin diladenin. L pasti mau coba2 siapa tau org baru ini bisa nyangkut.
Saya bukan insecure juga sih. Cuma minta saran disini, di depan tunangan saya sikap saya biasa aja. Hanya mengingatkan sewajarnya bagaimana seharusnya batas2 antara lelaki dan perempuan dlm hub kerja.
Dia tau gimana perjuangan dia dapetin saya. Toh dari pagi, jam makan siang, jam pulang, dia intens hub saya (vc) termasuk saat dia di hotel, juga saat dia lg makan diluar sama tmn2nya.
Saya jg ga mau terlalu santai ky di pantai karena saya ga mau dibodohi bahkan sampai menikah dan pny anak nanti. Amit2. Saya monitor sesekali bukan karena ingin mencari kesalahan, lalu klo sdh dpt kesalahannya maka akan saya ributkan dgn dia, sama sekali bukan itu tujuan saya. Tujuan saya memonitor hanya utk mengetahui apa yg terjadi, dan hal ini penting.
Mengapa penting bagi saya untuk memonitor sesekali? Karena jika terjadi perselingkuhan (jajan), maka saya akan menyelesaikan segalanya saat itu juga (pisah).
Saya bukan wanita yg rela berbagi lelaki dgn wanita lain. Saya pun tidak takut berpisah. Untuk apa hidup dengan lelaki yg tidak bisa menjaga komitmen, itu prinsip saya. Jadi, saya bukan tipe yang kalau lelaki ketahuan selingkuh (dekat) dgn wanita lain, maka saya diam lalu nangis2 minta penjelasan abis itu memaafkan. Maaf, itu bukan saya. Lagipula, alhamdulillah saya diberi berkah belum pernah mengalaminya.
Saya lebih tegas daripada nangis dan marah2 tp besok2 mau dibodohi lagi. Itu jauh dari prinsip saya. Pengkhianatan dalam hubungan yg saya bina sangat fatal akibatnya bagi saya. Lebih baik mencari kebahagiaan bersama yg lain daripada menanggung sakit hati dgn lelaki yang tidak berkomitmen dalam hubungan.
Komen anda saya hargai. Tetapi komentar anda terkesan bahkan lebih negative thinking terhadap lelaki (pasangan). Maaf, mungkin saya tidak bisa sesantai dan seabai itu terhadap potensi pengkhianatan. Mungkin saya ga mau seabai itu juga karena saya alhamdulillah belum pernah mengalaminya, walaupun sejak dulu pacar2 saya terdahulu sering dikejar2 perempuan. Hanya saja memang mereka belum pernah dikejar janda/binor.
Jadi maaf sekali mungkin penilaian saya tidak sama dengan yg sudah mengalami masalah demikian (dikhianati) lalu tetap memilih bertahan dgn berbagai faktor dari finansial hingga takut jadi janda.
Terlalu santai bisa ditangkap sebagai abai atau cuek, akhirny bisa jadi bumerang. Sama seperti sebagian perempuan yg bilang "saya sih ga pernah tuh cek hp suami, bahkan Passwordnya pun saya ga mau tau. Kan saya percaya dia." Lebih parah, ada yg bilang "Klo suami atau pacar saya mau selingkuh ya sdh, itu urusan dia dan sang pencipta. Yg penting tanggung jwb ke saya dan anak2. Biar sang pencipta yg balaskan." Buat saya ini seolah2 ga punya harkat martabat bgt sebagai wanita atau istri. Mau aja dibohongi, dininabobokan dengan pemberian materi. Emgnya wanita ga bisa cari duit sendiri, seolah klo ga ada uang dari suami, maka istri dan anak2 bakal kelaparan. Yah... Walaupun memang ada yg begitu keadaannya. Ketidak berdayaan wanita jg membuat lelaki semena-mena kadang. Lelaki memahami karakter pasangannya, kalau wanita tampak tdk berdaya di mata pasangan ya dia kadang seenaknya. Tapi klo wanitanya pny prinsip dan ga takut utk kehilangan pasangan jg ga mau kehilangan. Apalagi klo lelaki tau wanitanya banyak dikejar2 lelaki lain juga.