- Beranda
- Stories from the Heart
CATATAN VIOLET
...
TS
drupadi5
CATATAN VIOLET

Perjalanan ini akan membawa pada takdir dan misteri hidup yang mungkin tak pernah terpikirkan.
Ketika sebuah kebetulan dan ketidaksengajaan yang kita sangkakan, ternyata adalah sebuah rencana tersembunyi dari hidup.
Bersiaplah dan arungi perjalananmu
Kota Kenangan1
Kota Kenangan 2
Ardi Priambudi
Satrya Hanggara Yudha
Melisa Aryanthi
Made Brahmastra Purusathama
Altaffandra Nauzan
Altaffandra Nauzan : Sebuah Insiden
Altaffandra Nauzan : Patah Hati
Altaffandra Nauzan : the man next door
Sepotong Ikan Bakar di Sore yang Cerah
Expired
Adisty Putri Maharani
November Rain
Before Sunset
After Sunrise
Pencundang, pengecut, pencinta
Pencundang, pengecut, pencinta 2
Time to forget
Sebuah Hadiah
Jimbaran, 21 November 2018
Lagi, sebuah kebaikan
Lagi, sebuah kebaikan 2
Perkenalan
Temanku Malam Ini
Keluarga
03 Desember 2018
Jimbaran, 07 Desember 2018
Looking for a star
Ketika daun yang menguning bertahan akan helaan angin
Pertemuan
BERTAHAN
Hamparan Keraguan
Dan semua berakhir
Fix you
One chapter closed, let's open the next one
Deja Vu
Deja Vu karena ingatan terkadang seperti racun
Karena gw lagi labil, tolong biarin gw sendiri...
Semua pasti berujung, jika kau belum menemukannya teruslah berjalan...
Kepercayaan, kejujuran, kepahitan...
Seperti karang yang tidak menyerah pada ombak...
Damar Yudha
I Love You
Perjanjian...
Perjanjian (2)
Christmas Eve
That Day on The Christmas Eve
That Day on The Christmas Eve (2)
That Day on The Christmas Eve (3)
Di antara
William Oscar Hadinata
Tentang sebuah persahabatan...
Waiting for me...
Kebohongan, kebencian, kemarahan...
Oh Mama Oh Papa
Showing me another story...
Menjelajah ruang dan waktu
Keterikatan
Haruskah kembali?
Kematian dan keberuntungan
The ambience of confusing love
The ambience of love
Kenangan yang tak teringat...
Full of pressure
Persahabatan tidak seperti kepompong
Menunggu, sampai nanti...
Catatan Violet 2 (end): Mari Jangan Saling Menepati Janji
Jakarta, 20 Juni 2019 Lupakanlah Sejenak
Menjaga jarak, menjaga hati
First lady, second lady...
Teman
Teman?
Saudara
Mantan
Mantan (2)
Pacar?
Sahabat
Diubah oleh drupadi5 14-05-2021 15:13
JabLai cOY dan 132 lainnya memberi reputasi
129
23.8K
302
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#81
18 december 2018
Kepercayaan, kejujuran, kepahitan...
“Ini semua gara-gara kamu!” sungutku dengan kesal pada Fandra yang pagi itu membawakanku sebungkus nasi kuning.
“Lho, kok aku sih?” sahut Fandra dengan mulut penuh dengan nasi
“Aku ngga bisa tidur semalem, lewat subuh baru bisa merem. Mana sekarang harus mgantor, ngantuk banget,” keluhku kemudian menyuapkan sesendok nasi kemulutku.
“Ngga usah ke kantor, kerja dari rumah aja, lagian kata kamu ngga ada absen kan kalau di kantor di sini.”
Aku berpikir sesaat, bener juga kata Fandra. Tapi aku ngga enak sama Ardi, kesannya aku kerja seenaknya aja, tapi mataku ngantuk banget.
“Ngga ah, ngantor aja,” gumamku seperti pada diri sendiri.
“Mau aku anterin?” tawar Fandra.
Aku baru ingat kalau kemarin Hanggara janji mau jemput aku.
Aku menggeleng, “Ngga usah,” sahutku, “perasaan kok kamu ngga kerja-kerja beberapa hari ini?”
Fandra tersenyum, “Aku cuti sampe minggu depan, persiapan lembur ntar akhir tahun, ngga bakalan dapet libur.”
“Oh, berarti tahun baruan di tempat kerja, tapi pastinya ngadain acara kan ya?” tanyaku
“Ya ada sih, palingan party-party aja, sama pesta kembang api. Biasanya sih pool party, di restoran belakang yang ada view lautnya.”
“Wah, kayaknya keren ya. Boleh ngga orang luar masuk sana?” tanyaku penuh harap
“Boleh aja, tapi bayar hehehe,” sahutnya sambil nyengir, “biasanya kasi deposit sekitar sejuta, bisa makan dan minum sepuasnya.”
“Gila mahal banget! Ngga jadi deh,” ujarku kecewa.
“Udahlah tahun baruan sama Hanggara aja,” balasnya dengan santai sambil merapikan bungkus nasinya.
Aku tersenyum getir, “Ngga lah, semua pada sibuk, akhir tahun pada buat laporan dan ngurus acara sale di tokonya.”
“Ya udah, ntar aku coba cariin free pass masuk ke tempatku.”
“Ngga usah, kayaknya aku balik Jakarta aja deh,” sahutku, entah kenapa berpikir untuk pulang.
“Kok malah pulang sih, kapan lagi kamu tahun baruan di Bali,” ujar Fandra mengingatkan aku bahwa memang seharusnya aku tetap ada di sini pas tahun baru nanti
“Liat nanti aja deh,” sahutku akhirnya.
Sesaat kami berdua terdiam. Aku mengunyah perlahan suapan terakhirku sebelum meneguk segelas air yang di siapkan Fandra untukku
“Jangan mikirin yang aneh-aneh lagi ya,” ujar Fandra yang membuatku melihat ke matanya
“Maksudmu apa?”
“Soal cerita kamu semalam, i really appreciated that you trust me. Tapi, kamu jangan lagi mengungkitnya dalam pikiran kamu. Sama seperti Abrar, buat semuanya menjadi masa lalu.”
Aku tersenyum padanya. “Aku ngga bisa janji kalau soal itu. Hati aku masih sakit dan marah. Mungkin karena itu juga Abrar berpikir dua kali untuk lebih serius denganku. Sebenarnya aku juga ngga tahu kenapa aku malah cerita semua ke kamu, biasanya aku ngga mudah percaya sama orang, Abrar orang pertama yang aku beritahu karena aku percaya padanya dan menurutku dia harus tahu, aku dengan sepenuhnya tahu resiko apa yang akan aku hadapi dengan memeberitahunya, dia tampak tidak bermasalah dan...menerima, karena aku memberitahunya di awal-awal hubungan kami. Mungkin......ah entahlah, aku ngga mau memikirkan itu lagi.”
“Terima kasih sudah mau percaya sama aku,” sahut Fandra tersenyum
“Kamu udah begitu baik, hanya saja...”, aku ragu untuk melanjutkan kalimatku, “Sudahlah...”
“Apa?Kenapa?”
Aku memandangnya lekat dan memberikannya sebuah senyuman
“Bukan apa-apa,” sahutku kemudian.
“Apa kamu berpikir, aku akan seperti Abrar? Tidak bisa dipercaya?” dia menatapku tajam. Aku menghindari pandangan matanya dan terdiam tidak ingin menjawab, karena diam berarti mengiyakan.
“Aku ngga akan berubah, tapi aku ngga akan memaksa kamu untuk percaya aku lebih dari sekarang, kamu yang lebih tahu siapa yang bisa kamu percaya.”
Aku mengangkat wajahku memandangnya lagi. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
“Kamu udah ada di fase hidup kamu yang sekarang, jadi jangan berpikir untuk menyerah. Berada di dunia untuk hidup adalah ujian, jangan berpikir hanya kesusahan dan kesulitan yang menjadi ujian, kebahagian dan kegembiraan justru yang lebih bahaya. Hidup hanya perkara bertahan dari ujian-ujian itu, karena itu kamu ngga boleh kalah.”
Aku tidak melepaskan tatapanku dari matanya.
“Aku bukannya tidak mau bertahan, hanya saja, terkadang... aku sangat lelah...”
“Kapan pun kamu merasa lelah, cari saja aku,” ujarnya tersenyum
Aku tertawa kecil.
“Kamu mau kalau aku minta ke Jakarta cuma sekedar nemenin aku ngobrol?” gurauku
“Kamu suruh aku balik ke Dubai atau Turki, atau kemana pun aku mau, asal itu bisa buat kamu bersemangat lagi,” ujarnya tertawa.
“Oh, orang kaya rupanya...” sahutku tertawa. Aku melihat sekilas jam yang melilit di pergelangan tanganku.
“Mau aku anter kerja?” tanya Fandra seperti mengerti kalau sudah waktunya aku berangkat kerja
Aku tersenyum, “Hanggara bilang mau jemput.”
“Oh, baguslah...” sahut Fandra yang kemudian melepaskan genggaman tangannya kemudian berdiri dan berjalan hendak keluar dari kamarku.
“Fan!” panggilku lagi
Dia menoleh ke arahku.
“Makasi ya.”
Dia hanya tersenyum dan mengacungkan jempolnya sebelum menghilang di balik dinding kamarku.
***
Hari ini aku kembali menempati tempat kerjaku yang kemarin. Bekerja di luar ruangan ternyata membuat pikiran jauh lebih fresh, tapi membuat mataku menjadi jauh lebih mengantuk dari sebelumnya.
Aku masuk ke pantry hendak membuat secangkir kopi, berharap kantuk ini dapat sedikit tertahankan sampai jam makan siang.
Selesai membuat kopi aku kembali ke luar. Dari kejauhan aku melihat ada Ardi sudah duduk di kursi lain di meja yang sama denganku.
Tanpa berkata-kata aku duduk saja di tempatku semula.
“Semalem lo dugem ya?” tanyanya langsung membuatku kaget. Darimana dia tahu?
“Ngga,” sahutku acuh duduk di tempatku, di depannya
“Boong, gw liat lo di SG sama temen sekost lo itu,” cecarnya
“Gw emang ke sana tapi ngga dugem, liat doang trus pulang. Trus, lo ngapain di sana? Lo yang dugem!” kali ini aku memandangnya dengan tajam, “Awas ya lo main-main cewek lagi, inget ntar lagi lo nikah!”
“Yaelah cuma main-main doang. Pulang jam berapa lo? Semalem mau gw samperin keburu temen lo dateng.”
“Sekitaran jam satu an, kan udah gw bilang gw ngga dugem, temen gw cuma mau ngenalin temennya ke gw,” sahutku.
Sekilas aku melihat Hanggara keluar dari ruangan dan berjalan menuju tempatku dan Ardi duduk sekarang.
“Mas, yang toko di Kuta barang-barangnya kan udah dateng tuh kemarin, anak-anak store udah pada ambil blom ya?” tanya Hanggara begitu dia sudah duduk di samping Ardi
“Udah beres itu, di ambil kemarin sore kata Herman, harusnya sekarang mereka udah prepare,” sahut Ardi.
“Baguslah. Harga-harga juga udah di share kan ya?”
“Udah beres, itu yang paling awal udah aku share ke anak-anak store,” sahut Ardi
Tanpa sengaja aku menguap karena tak tahan dengan kantuk yang tak kunjung hilang ini.
“Makanya kalau ngga biasa dugem jangan dugem!Lagian perginya kok pas weekday,” tiba-tiba Ardi memukul kepalaku dengan gulungan kertas yang dia bawa.
“Isshh… apaan sih lo!” protesku
“Kamu dugem?” tanya Hanggara padaku, “Kapan? Sama siapa?”
Aku melirik ke arah Ardi dengan geram, sialan, gara-gara mulut embernya dia nih. Ardi hanya senyam senyum dan matanya seperti tertawa menatapku.
“Ngga ada yang dugem, aku cuma ke sana nyari temennya Fandra,” jelasku tanpa melihat ke Hanggara
“Sama Fandra?” tanyanya lagi
“Iya,” sahutku singkat.
“Ngapain dia ngajakin kamu? Bisa kan dia ke sana sendiri?” lagi-lagi Hanggara bertanya.
Aku mengangkat wajahku dan melihat padanya. Sebelum aku menjawab pertanyaannya tiba-tiba ponsel Hanggara berdering membuatku mengurungkan niat untuk menjawab keingintahuannya.
“Iya Ma?” sapa Hanggara membuka percakapan dengan seseorang yang baru saja menelponnya.
Aku melirik ke Ardi yang sepertinya juga tertarik dengan sapaan yang baru kami dengar.
“Ada apa?” tanya Ardi begitu Hanggara menutup pembicaraan dengan Mamanya melalui telpon.
“Mama mau ke sini, udah di depan katanya,” sahut Hanggara
“Ngapain telpon, langsung masuk aja kenapa.”
“Dia takut aku lagi di luar, mastiin aja kalau aku di kantor.”
Aku hanya diam tapi memperhatikan pembicaraan dua laki-laki di depanku ini. Sejujurnya, aku penasaran seperti apa orang tuanya Hanggara. Dan tak berapa lama, aku melihat seorang wanita melintas di ruangan kerja utama menuju ke arah pintu belakang. Mataku mengikutinya sampai wanita itu keluar dari pintu dan berjalan ke arah kami.
Wanita itu menggunakan dress selutut berwarna dusty pink polos dan rambutnya yang lurus di ikat rapi. Wajahnya yang berkulit putih cerah tampak dipoles dengan make up yang natural. Dia tidak begitu cantik atau manis, raut wajah nya justru terkesan agak angkuh, hanya saja dia menjadi tampak menonjol karena kulitnya yang sangat putih dengan rambut yang agak kecoklatan senada dengan warna matanya.
Hanggara berdiri dan mencium kedua pipi ibunya. Begitu pula dengan Ardi yang langsung menyalami wanita itu. Aku pun ikut berdiri dan bersalaman dengannya.
“Oh ya ma, kenalin ini Violetta, auditor dari Jakarta,” ujar Hanggara kepada wanita itu ketika kami bersalaman. Aku memberikan senyuman kecil padanya. Dia pun memberikan senyuman meskipun hanya sekilas dan melepaskan jabatan tanganku tapi matanya masih tetap tajam menatapku untuk sesaat dan kemudian mengalihkan pandangannya ke Hanggara.
“Mama ngapain tumben ke sini, mendadak lagi?” tanya Hanggara. Mereka bertiga masih berdiri di depanku sedangkan aku sudah duduk dan kembali menekuri laptopku. Tapi telingaku tentu saja tidak dapat menghindar mendengarkan pembicaraan mereka
“Kamu ngga dikasi tahu papa kalau besok lusa mama mau ke Belanda sama opa?”
“Lho jadi? Aku pikir ngga jadi. Mama yakin ngajak opa ikut?”
“Kan opa kamu yang minta pulang kampung, klo ngga dituruti mama ngga akan dikasi hidup tenang,” ujar wanita itu dengan muka sedikit ditekuk.
Tak lama setelah itu, aku melihat seorang lelaki muncul dari pintu belakang, berjalan menuju ke arah kami. Di tengah jalan dia berjabat tangan sambil tertawa penuh keakraban dengan Ardi yang tadi memutuskan untuk kembali ke meja kerjanya. Setelah itu lelaki itu kembali berjalan masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Aku menebak lelaki ini pasti papanya Hanggara, wajah dan senyum mereka hampir tidak bisa dibedakan. Kharisma Hanggara ternyata di wariskan oleh sang papa. Lelaki ini mungkin berusia sekitar akhir lima puluhan, berwajah bersih tapi tak sebersih dan seputih sang istri, mulai tampak kerutan-kerutan di sekitar pipi dan matanya. Dan matanya itu juga sangat mirip dengan Hanggara, tampak teduh dan tenang. Raut wajahnya sangat bertolak belakang dengan sang istri yang terkesan angkuh, hanya dengan memandangi wajahnya saja sudah dapat di tangkap sosoknya yang ramah dan bersahabat.
Begitu dia lebih mendekat, aku semakin menundukkan wajah tidak berani memandanginya lebih lama lagi. Entah kenapa aku melakukan ini. Aku sama sekali tidak ingin di kenalkan padanya seperti yang Hanggara lakukan tadi pada mamanya.
Bisa kudengar Hanggara menyapa papanya, berbasa-basi sebentar lalu membahas tentang rencana keberangkatan mamanya esok lusa. Dari obrolan mereka aku tahu kalau mamanya hendak meminjam koper milik Hanggara karena terlalu banyak barang yang akan di bawa.
Aku merasa lega ketika mamanya mengajak Hanggara dan papanya segera ke rumah Hanggara karena sang mama yang tidak ingin mengganggu jam kerja anaknya. Baru saja mereka hendak pergi ketika tiba-tiba Hanggara menghentikan sang papa.
“Pa, sorry aku lupa, kenalin ini Violetta, auditor dari Jakarta, 3 bulan ini kantor aku sedang di audit sama kantor pusat, nah ini auditornya,” ujar Hanggara kembali berjalan mendekati meja tempat aku duduk.
Shit! Rutukku dalam hati.
Mau tidak mau aku berdiri, mengulurkan tangan dan menyalami lelaki di depanku ini dan melengkungkan sedikit bibirku memberikannya senyuman.
“Siang, Pak,” sapaku memandang pada lelaki itu yang menatap tajam padaku.
Senyum yang sedari tadi mengembang di bibirnya mendadak hilang dan berganti dengan raut wajah serius. Matanya menatap lekat padaku, tepatnya menatap lurus ke mataku. Aku menantang menatap matanya, ada sedikit keterkejutan di sana.
“Siapa nama kamu tadi?” tanyanya padaku
“Violetta, pa.”
Yang di tanya aku tapi malah Hanggara yang menyahut.
Aku menatap sekilas pada Hanggara yang tersenyum padaku. Aku sendiri merasa ini bukan saat yang tepat untuk tersenyum, jujur dalam hatiku aku merasa aneh dan sedikit takut. Kenapa papanya bereaksi seperti ini?
“Nama lengkap kamu?” tanyanya lagi padaku
“Nama saya Violetta Anastasia, panggil Vio saja,” ujarku dengan tegas pada lelaki itu.
Aku melepaskan tanganku dari jabatan tangannya. Dan tersenyum sekilas padanya kemudian kembali duduk.
“Pa, ayo!” panggil wanita itu pada suaminya yang masih berdiri di depanku.
“Sebentar...,” sahut lelaki itu yang membuatku kembali mengangkat wajahku menatap padanya. Hatiku berdesir aneh, entah kenapa aku merasa sedikit takut dan khawatir.
“Kamu dari Jakarta, maksudnya asli Jakarta?”
“Eee…bukan asli Jakarta, saya pendatang di sana,” sahutku tersenyum
“Vio lahir di Bali, Pa, trus pindah ke Jakarta,” sahut Hanggara membantuku yang sebenarnya tidak ingin menjelaskan lebih lanjut tentang diriku sendiri.
“Oh begitu…” lelaki itu bergumam, lalu berlalu pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Aku melihat ke Hanggara yang melemparkan senyum padaku sebelum dia menyusul orang tuanya berlalu pergi.
Aku menghela nafas lega.
***
“Jadi bener kamu semalem diajakin dugem sama Fandra?”
Lagi-lagi pertanyaan itu keluar dari mulut Hanggara ketika sore itu dia mengajakku makan malam sepulang kerja.
“Kita memang ke night club tapi ngga dugem. Ngga ngapa-ngapain, dia cuma mau ngenalin aku ke temen-temennya di sana,” jawabku santai sambil mengunyah pelan makananku
“Kenapa harus ke sana?” Dia menatapku dan dapat kulihat ketidakpercayaan di matanya
“Karena…mungkin menurut Fandra, aku harus di berikan contoh nyata gimana seharusnya aku berjuang menghadapi hidupku,” sahutku, “supaya aku ngga nyerah…”
Kudengar dia menghela nafas. “Buat aku ngerti dengan pernyataan kamu tentang ‘menyerah’, kenapa?”
Aku melihatnya sekilas dan kemudian kembali memainkan sendok mengaduk-aduk makananku.
“Tiap orang pastinya punya hidup yang berbeda, kamu, aku, Fandra, Ardi, Lisa, tidak ada yang sama, mungkin mirip. Aku hanya protes dengan hidup yang kumiliki, marah, benci, dan tidak terima kenapa aku harus menjalani hidup yang seperti aku alami ini. Aku suka menyalahkan orang yang pernah singgah dalam hidupku dan memberikan efek yang cukup terasa untuk hidupku selanjutnya. Semalam, Fandra mencoba menunjukkan padaku, bagaimana aku harus bereaksi dalam menghadapi segala kesusahan, bagaimana aku sebaiknya mencoba menerima apa yang sudah terjadi meski itu…sangat sulit, apalagi memaafkan…”
Aku berhenti sesaat dan melihat Hanggara yang duduk diam di depanku. Dia hanya menatapku dan aku menemukan ketidakmengertian di matanya.
“Aku iri dengan hidupmu, aku iri sama Lisa dengan segala cinta yang dia dapat dan segala impiannya yang jadi nyata, aku iri dengan Fandra dengan segala kasih sayang yang dia miliki untuk adik dan keluarganya,” aku menunduk menahan air mata yang hendak terjatuh lagi.
Aku menarik nafas panjang untuk menenangkan hatiku.
“Aku…. Aku bukan wanita yang…baik,” ujarku lirih.
Aku masih takut untuk berterus terang pada Hanggara.
“Itu menurutmu,” sahut Hanggara kemudian, “kamu ngga bisa menilai dirimu sendiri. Kamu seharusnya juga mempertimbangkan apa yang dikatakan orang.”
“Sejauh mana kamu mengenalku?” tanyaku padanya, “kamu ngga tahu apa-apa tentangku.”
“Karena kamu tidak mengijinkan aku mengenalmu lebih jauh, kamu yang tidak mau aku masuk ke dalam hidupmu. Lalu bagaimana aku bisa mengenalmu?!”
Aku terdiam.
“Bisa antar aku pulang sekarang?” tanyaku padanya kemudian.
Dapat kulihat kekecewaan di raut wajahnya dan lelah dari sorot matanya.
Sepanjang perjalanan menuju kostanku, aku berpikir aku akhiri saja semua sekarang.
Aku ngga mau membuat dia bingung dan berharap. Aku ngga mau seakan-akan aku mempermainkan dia.
Sepeda motornya berhenti tepat di depan gerbang rumah kostanku. Aku turun dan menyerahkan helmku padanya.
“Kamu bawa aja, besok pagi aku jemput,” ujarnya memberikan alasan menolak menerima helm yang kuberikan.
“Kamu ngga perlu jemput aku lagi,” sahutku, “dan… hapus semua perasaan yang pernah kamu rasakan itu, aku ngga bisa membalas apapun.”
Dia menatapku tajam.
“Kita bicara lagi nanti kalau pikiran kamu lebih tenang,” sahutnya hendak menghidupkan lagi mesin motornya.
“Ngga akan ada ‘nanti’ lagi. Apa yang aku bilang sekarang ngga akan berubah,” sahutku cepat.
“Apa karena Fandra? Kamu menyukainya?” tanyanya menuduh.
“Bukan itu,” sahutku
“Aku ngga bisa percaya kamu sekarang, pikirkan lagi, masih ada waktu buat kita bicara lagi.”
“Aku ngga akan berubah pikiran, aku mau kamu tahu sekarang, dan itu ngga akan berubah.”
“Aku ngga mau tahu, aku ngga mau bicara sekarang, kita bicara lagi nan…”
“Aku pernah di rudapaksa,” potongku cepat sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
Dia diam menatapku tajam.
“Kalau kamu ngga mau berhubungan denganku atau kamu lebih memilih orang lain. Bilang saja jangan beralasan yang aneh-aneh atau menjelekkan dirimu sendiri.”
“Aku pernah di rudapaksa,” ulangku sekali lagi, “Aku hanya ingin kamu tahu itu sebelum kamu memutuskan untuk melanjutkan atau menghapus rasa suka kamu ke aku.”
Aku menatapnya yang sedang menatapku dengan pandangan yang menunjukkan ketidakpercayaan.
Aku menghembuskan nafas lega, setidaknya kini dia sudah tahu kondisiku
“Aku mohon jangan bilang apa pun soal ini pada Ardi,” lanjutku mengingatkannya
“Dia ngga tahu?” nada bicaranya sedikit meninggi, “Lisa?”
“Ngga ada yang tahu,” sahutku pelan.
“Aaahh...” dia menghembuskan nafas dengan pandangan tidak percaya menatapku heran.
Dia menurunkan standard motornya, melepaskan helm, dan berdiri di depanku.
“Kamu bilang mereka sahabat kamu, tapi kamu menyembunyikan ini, memendamnya sendiri?”
“Buat apa mereka tahu?”
“Abrar?”
“Dia orang pertama, setelah mamaku, yang tahu. Mungkin...mungkin dia pergi dariku karena itu, entah, aku juga ngga ingin tahu lagi.”
Aku mengangkat wajah, menatapnya.
“Aku terlalu malu untuk mengakui apa yang sudah terjadi. Tapi, aku harus jujur. Terutama pada orang-orang yang akan memasuki hidupku. Karena aku ngga mau menanggung beban dengan menyembunyikannya atau berbohong.”
Dia diam.
“Untuk sementara ini, lebih baik kita fokus ke kerjaan dulu, kamu juga sepertinya sangat sibuk,” lanjutku karena dia masih saja diam.
“Aku masuk dulu,” aku hendak berbalik ketika lagi-lagi dia menahanku dengan pertanyaan.
“Fandra?”
Aku menoleh dan menatapnya tidak mengerti.
“Dia tahu?”
Aku mengangguk pelan.
Dia mengalihkan pandangannya dari tatapanku. Aku tidak lagi menunggu. Aku meninggalkannya di sana dan masuk ke dalam.
***
Kulihat Fandra sedang berdiri di balkon di depan kamarnya. Aku berjalan pelan menuju kamarku dan ketika aku melewatinya, kudengar dia bersuara.
“Kamu bilang ke Hanggara?”
“Yes.”
“Lalu?”
“Sepertinya... dia masih antara percaya dan tidak percaya, sudahlah. Aku capek.”
Kepercayaan, kejujuran, kepahitan...
“Ini semua gara-gara kamu!” sungutku dengan kesal pada Fandra yang pagi itu membawakanku sebungkus nasi kuning.
“Lho, kok aku sih?” sahut Fandra dengan mulut penuh dengan nasi
“Aku ngga bisa tidur semalem, lewat subuh baru bisa merem. Mana sekarang harus mgantor, ngantuk banget,” keluhku kemudian menyuapkan sesendok nasi kemulutku.
“Ngga usah ke kantor, kerja dari rumah aja, lagian kata kamu ngga ada absen kan kalau di kantor di sini.”
Aku berpikir sesaat, bener juga kata Fandra. Tapi aku ngga enak sama Ardi, kesannya aku kerja seenaknya aja, tapi mataku ngantuk banget.
“Ngga ah, ngantor aja,” gumamku seperti pada diri sendiri.
“Mau aku anterin?” tawar Fandra.
Aku baru ingat kalau kemarin Hanggara janji mau jemput aku.
Aku menggeleng, “Ngga usah,” sahutku, “perasaan kok kamu ngga kerja-kerja beberapa hari ini?”
Fandra tersenyum, “Aku cuti sampe minggu depan, persiapan lembur ntar akhir tahun, ngga bakalan dapet libur.”
“Oh, berarti tahun baruan di tempat kerja, tapi pastinya ngadain acara kan ya?” tanyaku
“Ya ada sih, palingan party-party aja, sama pesta kembang api. Biasanya sih pool party, di restoran belakang yang ada view lautnya.”
“Wah, kayaknya keren ya. Boleh ngga orang luar masuk sana?” tanyaku penuh harap
“Boleh aja, tapi bayar hehehe,” sahutnya sambil nyengir, “biasanya kasi deposit sekitar sejuta, bisa makan dan minum sepuasnya.”
“Gila mahal banget! Ngga jadi deh,” ujarku kecewa.
“Udahlah tahun baruan sama Hanggara aja,” balasnya dengan santai sambil merapikan bungkus nasinya.
Aku tersenyum getir, “Ngga lah, semua pada sibuk, akhir tahun pada buat laporan dan ngurus acara sale di tokonya.”
“Ya udah, ntar aku coba cariin free pass masuk ke tempatku.”
“Ngga usah, kayaknya aku balik Jakarta aja deh,” sahutku, entah kenapa berpikir untuk pulang.
“Kok malah pulang sih, kapan lagi kamu tahun baruan di Bali,” ujar Fandra mengingatkan aku bahwa memang seharusnya aku tetap ada di sini pas tahun baru nanti
“Liat nanti aja deh,” sahutku akhirnya.
Sesaat kami berdua terdiam. Aku mengunyah perlahan suapan terakhirku sebelum meneguk segelas air yang di siapkan Fandra untukku
“Jangan mikirin yang aneh-aneh lagi ya,” ujar Fandra yang membuatku melihat ke matanya
“Maksudmu apa?”
“Soal cerita kamu semalam, i really appreciated that you trust me. Tapi, kamu jangan lagi mengungkitnya dalam pikiran kamu. Sama seperti Abrar, buat semuanya menjadi masa lalu.”
Aku tersenyum padanya. “Aku ngga bisa janji kalau soal itu. Hati aku masih sakit dan marah. Mungkin karena itu juga Abrar berpikir dua kali untuk lebih serius denganku. Sebenarnya aku juga ngga tahu kenapa aku malah cerita semua ke kamu, biasanya aku ngga mudah percaya sama orang, Abrar orang pertama yang aku beritahu karena aku percaya padanya dan menurutku dia harus tahu, aku dengan sepenuhnya tahu resiko apa yang akan aku hadapi dengan memeberitahunya, dia tampak tidak bermasalah dan...menerima, karena aku memberitahunya di awal-awal hubungan kami. Mungkin......ah entahlah, aku ngga mau memikirkan itu lagi.”
“Terima kasih sudah mau percaya sama aku,” sahut Fandra tersenyum
“Kamu udah begitu baik, hanya saja...”, aku ragu untuk melanjutkan kalimatku, “Sudahlah...”
“Apa?Kenapa?”
Aku memandangnya lekat dan memberikannya sebuah senyuman
“Bukan apa-apa,” sahutku kemudian.
“Apa kamu berpikir, aku akan seperti Abrar? Tidak bisa dipercaya?” dia menatapku tajam. Aku menghindari pandangan matanya dan terdiam tidak ingin menjawab, karena diam berarti mengiyakan.
“Aku ngga akan berubah, tapi aku ngga akan memaksa kamu untuk percaya aku lebih dari sekarang, kamu yang lebih tahu siapa yang bisa kamu percaya.”
Aku mengangkat wajahku memandangnya lagi. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
“Kamu udah ada di fase hidup kamu yang sekarang, jadi jangan berpikir untuk menyerah. Berada di dunia untuk hidup adalah ujian, jangan berpikir hanya kesusahan dan kesulitan yang menjadi ujian, kebahagian dan kegembiraan justru yang lebih bahaya. Hidup hanya perkara bertahan dari ujian-ujian itu, karena itu kamu ngga boleh kalah.”
Aku tidak melepaskan tatapanku dari matanya.
“Aku bukannya tidak mau bertahan, hanya saja, terkadang... aku sangat lelah...”
“Kapan pun kamu merasa lelah, cari saja aku,” ujarnya tersenyum
Aku tertawa kecil.
“Kamu mau kalau aku minta ke Jakarta cuma sekedar nemenin aku ngobrol?” gurauku
“Kamu suruh aku balik ke Dubai atau Turki, atau kemana pun aku mau, asal itu bisa buat kamu bersemangat lagi,” ujarnya tertawa.
“Oh, orang kaya rupanya...” sahutku tertawa. Aku melihat sekilas jam yang melilit di pergelangan tanganku.
“Mau aku anter kerja?” tanya Fandra seperti mengerti kalau sudah waktunya aku berangkat kerja
Aku tersenyum, “Hanggara bilang mau jemput.”
“Oh, baguslah...” sahut Fandra yang kemudian melepaskan genggaman tangannya kemudian berdiri dan berjalan hendak keluar dari kamarku.
“Fan!” panggilku lagi
Dia menoleh ke arahku.
“Makasi ya.”
Dia hanya tersenyum dan mengacungkan jempolnya sebelum menghilang di balik dinding kamarku.
***
Hari ini aku kembali menempati tempat kerjaku yang kemarin. Bekerja di luar ruangan ternyata membuat pikiran jauh lebih fresh, tapi membuat mataku menjadi jauh lebih mengantuk dari sebelumnya.
Aku masuk ke pantry hendak membuat secangkir kopi, berharap kantuk ini dapat sedikit tertahankan sampai jam makan siang.
Selesai membuat kopi aku kembali ke luar. Dari kejauhan aku melihat ada Ardi sudah duduk di kursi lain di meja yang sama denganku.
Tanpa berkata-kata aku duduk saja di tempatku semula.
“Semalem lo dugem ya?” tanyanya langsung membuatku kaget. Darimana dia tahu?
“Ngga,” sahutku acuh duduk di tempatku, di depannya
“Boong, gw liat lo di SG sama temen sekost lo itu,” cecarnya
“Gw emang ke sana tapi ngga dugem, liat doang trus pulang. Trus, lo ngapain di sana? Lo yang dugem!” kali ini aku memandangnya dengan tajam, “Awas ya lo main-main cewek lagi, inget ntar lagi lo nikah!”
“Yaelah cuma main-main doang. Pulang jam berapa lo? Semalem mau gw samperin keburu temen lo dateng.”
“Sekitaran jam satu an, kan udah gw bilang gw ngga dugem, temen gw cuma mau ngenalin temennya ke gw,” sahutku.
Sekilas aku melihat Hanggara keluar dari ruangan dan berjalan menuju tempatku dan Ardi duduk sekarang.
“Mas, yang toko di Kuta barang-barangnya kan udah dateng tuh kemarin, anak-anak store udah pada ambil blom ya?” tanya Hanggara begitu dia sudah duduk di samping Ardi
“Udah beres itu, di ambil kemarin sore kata Herman, harusnya sekarang mereka udah prepare,” sahut Ardi.
“Baguslah. Harga-harga juga udah di share kan ya?”
“Udah beres, itu yang paling awal udah aku share ke anak-anak store,” sahut Ardi
Tanpa sengaja aku menguap karena tak tahan dengan kantuk yang tak kunjung hilang ini.
“Makanya kalau ngga biasa dugem jangan dugem!Lagian perginya kok pas weekday,” tiba-tiba Ardi memukul kepalaku dengan gulungan kertas yang dia bawa.
“Isshh… apaan sih lo!” protesku
“Kamu dugem?” tanya Hanggara padaku, “Kapan? Sama siapa?”
Aku melirik ke arah Ardi dengan geram, sialan, gara-gara mulut embernya dia nih. Ardi hanya senyam senyum dan matanya seperti tertawa menatapku.
“Ngga ada yang dugem, aku cuma ke sana nyari temennya Fandra,” jelasku tanpa melihat ke Hanggara
“Sama Fandra?” tanyanya lagi
“Iya,” sahutku singkat.
“Ngapain dia ngajakin kamu? Bisa kan dia ke sana sendiri?” lagi-lagi Hanggara bertanya.
Aku mengangkat wajahku dan melihat padanya. Sebelum aku menjawab pertanyaannya tiba-tiba ponsel Hanggara berdering membuatku mengurungkan niat untuk menjawab keingintahuannya.
“Iya Ma?” sapa Hanggara membuka percakapan dengan seseorang yang baru saja menelponnya.
Aku melirik ke Ardi yang sepertinya juga tertarik dengan sapaan yang baru kami dengar.
“Ada apa?” tanya Ardi begitu Hanggara menutup pembicaraan dengan Mamanya melalui telpon.
“Mama mau ke sini, udah di depan katanya,” sahut Hanggara
“Ngapain telpon, langsung masuk aja kenapa.”
“Dia takut aku lagi di luar, mastiin aja kalau aku di kantor.”
Aku hanya diam tapi memperhatikan pembicaraan dua laki-laki di depanku ini. Sejujurnya, aku penasaran seperti apa orang tuanya Hanggara. Dan tak berapa lama, aku melihat seorang wanita melintas di ruangan kerja utama menuju ke arah pintu belakang. Mataku mengikutinya sampai wanita itu keluar dari pintu dan berjalan ke arah kami.
Wanita itu menggunakan dress selutut berwarna dusty pink polos dan rambutnya yang lurus di ikat rapi. Wajahnya yang berkulit putih cerah tampak dipoles dengan make up yang natural. Dia tidak begitu cantik atau manis, raut wajah nya justru terkesan agak angkuh, hanya saja dia menjadi tampak menonjol karena kulitnya yang sangat putih dengan rambut yang agak kecoklatan senada dengan warna matanya.
Hanggara berdiri dan mencium kedua pipi ibunya. Begitu pula dengan Ardi yang langsung menyalami wanita itu. Aku pun ikut berdiri dan bersalaman dengannya.
“Oh ya ma, kenalin ini Violetta, auditor dari Jakarta,” ujar Hanggara kepada wanita itu ketika kami bersalaman. Aku memberikan senyuman kecil padanya. Dia pun memberikan senyuman meskipun hanya sekilas dan melepaskan jabatan tanganku tapi matanya masih tetap tajam menatapku untuk sesaat dan kemudian mengalihkan pandangannya ke Hanggara.
“Mama ngapain tumben ke sini, mendadak lagi?” tanya Hanggara. Mereka bertiga masih berdiri di depanku sedangkan aku sudah duduk dan kembali menekuri laptopku. Tapi telingaku tentu saja tidak dapat menghindar mendengarkan pembicaraan mereka
“Kamu ngga dikasi tahu papa kalau besok lusa mama mau ke Belanda sama opa?”
“Lho jadi? Aku pikir ngga jadi. Mama yakin ngajak opa ikut?”
“Kan opa kamu yang minta pulang kampung, klo ngga dituruti mama ngga akan dikasi hidup tenang,” ujar wanita itu dengan muka sedikit ditekuk.
Tak lama setelah itu, aku melihat seorang lelaki muncul dari pintu belakang, berjalan menuju ke arah kami. Di tengah jalan dia berjabat tangan sambil tertawa penuh keakraban dengan Ardi yang tadi memutuskan untuk kembali ke meja kerjanya. Setelah itu lelaki itu kembali berjalan masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Aku menebak lelaki ini pasti papanya Hanggara, wajah dan senyum mereka hampir tidak bisa dibedakan. Kharisma Hanggara ternyata di wariskan oleh sang papa. Lelaki ini mungkin berusia sekitar akhir lima puluhan, berwajah bersih tapi tak sebersih dan seputih sang istri, mulai tampak kerutan-kerutan di sekitar pipi dan matanya. Dan matanya itu juga sangat mirip dengan Hanggara, tampak teduh dan tenang. Raut wajahnya sangat bertolak belakang dengan sang istri yang terkesan angkuh, hanya dengan memandangi wajahnya saja sudah dapat di tangkap sosoknya yang ramah dan bersahabat.
Begitu dia lebih mendekat, aku semakin menundukkan wajah tidak berani memandanginya lebih lama lagi. Entah kenapa aku melakukan ini. Aku sama sekali tidak ingin di kenalkan padanya seperti yang Hanggara lakukan tadi pada mamanya.
Bisa kudengar Hanggara menyapa papanya, berbasa-basi sebentar lalu membahas tentang rencana keberangkatan mamanya esok lusa. Dari obrolan mereka aku tahu kalau mamanya hendak meminjam koper milik Hanggara karena terlalu banyak barang yang akan di bawa.
Aku merasa lega ketika mamanya mengajak Hanggara dan papanya segera ke rumah Hanggara karena sang mama yang tidak ingin mengganggu jam kerja anaknya. Baru saja mereka hendak pergi ketika tiba-tiba Hanggara menghentikan sang papa.
“Pa, sorry aku lupa, kenalin ini Violetta, auditor dari Jakarta, 3 bulan ini kantor aku sedang di audit sama kantor pusat, nah ini auditornya,” ujar Hanggara kembali berjalan mendekati meja tempat aku duduk.
Shit! Rutukku dalam hati.
Mau tidak mau aku berdiri, mengulurkan tangan dan menyalami lelaki di depanku ini dan melengkungkan sedikit bibirku memberikannya senyuman.
“Siang, Pak,” sapaku memandang pada lelaki itu yang menatap tajam padaku.
Senyum yang sedari tadi mengembang di bibirnya mendadak hilang dan berganti dengan raut wajah serius. Matanya menatap lekat padaku, tepatnya menatap lurus ke mataku. Aku menantang menatap matanya, ada sedikit keterkejutan di sana.
“Siapa nama kamu tadi?” tanyanya padaku
“Violetta, pa.”
Yang di tanya aku tapi malah Hanggara yang menyahut.
Aku menatap sekilas pada Hanggara yang tersenyum padaku. Aku sendiri merasa ini bukan saat yang tepat untuk tersenyum, jujur dalam hatiku aku merasa aneh dan sedikit takut. Kenapa papanya bereaksi seperti ini?
“Nama lengkap kamu?” tanyanya lagi padaku
“Nama saya Violetta Anastasia, panggil Vio saja,” ujarku dengan tegas pada lelaki itu.
Aku melepaskan tanganku dari jabatan tangannya. Dan tersenyum sekilas padanya kemudian kembali duduk.
“Pa, ayo!” panggil wanita itu pada suaminya yang masih berdiri di depanku.
“Sebentar...,” sahut lelaki itu yang membuatku kembali mengangkat wajahku menatap padanya. Hatiku berdesir aneh, entah kenapa aku merasa sedikit takut dan khawatir.
“Kamu dari Jakarta, maksudnya asli Jakarta?”
“Eee…bukan asli Jakarta, saya pendatang di sana,” sahutku tersenyum
“Vio lahir di Bali, Pa, trus pindah ke Jakarta,” sahut Hanggara membantuku yang sebenarnya tidak ingin menjelaskan lebih lanjut tentang diriku sendiri.
“Oh begitu…” lelaki itu bergumam, lalu berlalu pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Aku melihat ke Hanggara yang melemparkan senyum padaku sebelum dia menyusul orang tuanya berlalu pergi.
Aku menghela nafas lega.
***
“Jadi bener kamu semalem diajakin dugem sama Fandra?”
Lagi-lagi pertanyaan itu keluar dari mulut Hanggara ketika sore itu dia mengajakku makan malam sepulang kerja.
“Kita memang ke night club tapi ngga dugem. Ngga ngapa-ngapain, dia cuma mau ngenalin aku ke temen-temennya di sana,” jawabku santai sambil mengunyah pelan makananku
“Kenapa harus ke sana?” Dia menatapku dan dapat kulihat ketidakpercayaan di matanya
“Karena…mungkin menurut Fandra, aku harus di berikan contoh nyata gimana seharusnya aku berjuang menghadapi hidupku,” sahutku, “supaya aku ngga nyerah…”
Kudengar dia menghela nafas. “Buat aku ngerti dengan pernyataan kamu tentang ‘menyerah’, kenapa?”
Aku melihatnya sekilas dan kemudian kembali memainkan sendok mengaduk-aduk makananku.
“Tiap orang pastinya punya hidup yang berbeda, kamu, aku, Fandra, Ardi, Lisa, tidak ada yang sama, mungkin mirip. Aku hanya protes dengan hidup yang kumiliki, marah, benci, dan tidak terima kenapa aku harus menjalani hidup yang seperti aku alami ini. Aku suka menyalahkan orang yang pernah singgah dalam hidupku dan memberikan efek yang cukup terasa untuk hidupku selanjutnya. Semalam, Fandra mencoba menunjukkan padaku, bagaimana aku harus bereaksi dalam menghadapi segala kesusahan, bagaimana aku sebaiknya mencoba menerima apa yang sudah terjadi meski itu…sangat sulit, apalagi memaafkan…”
Aku berhenti sesaat dan melihat Hanggara yang duduk diam di depanku. Dia hanya menatapku dan aku menemukan ketidakmengertian di matanya.
“Aku iri dengan hidupmu, aku iri sama Lisa dengan segala cinta yang dia dapat dan segala impiannya yang jadi nyata, aku iri dengan Fandra dengan segala kasih sayang yang dia miliki untuk adik dan keluarganya,” aku menunduk menahan air mata yang hendak terjatuh lagi.
Aku menarik nafas panjang untuk menenangkan hatiku.
“Aku…. Aku bukan wanita yang…baik,” ujarku lirih.
Aku masih takut untuk berterus terang pada Hanggara.
“Itu menurutmu,” sahut Hanggara kemudian, “kamu ngga bisa menilai dirimu sendiri. Kamu seharusnya juga mempertimbangkan apa yang dikatakan orang.”
“Sejauh mana kamu mengenalku?” tanyaku padanya, “kamu ngga tahu apa-apa tentangku.”
“Karena kamu tidak mengijinkan aku mengenalmu lebih jauh, kamu yang tidak mau aku masuk ke dalam hidupmu. Lalu bagaimana aku bisa mengenalmu?!”
Aku terdiam.
“Bisa antar aku pulang sekarang?” tanyaku padanya kemudian.
Dapat kulihat kekecewaan di raut wajahnya dan lelah dari sorot matanya.
Sepanjang perjalanan menuju kostanku, aku berpikir aku akhiri saja semua sekarang.
Aku ngga mau membuat dia bingung dan berharap. Aku ngga mau seakan-akan aku mempermainkan dia.
Sepeda motornya berhenti tepat di depan gerbang rumah kostanku. Aku turun dan menyerahkan helmku padanya.
“Kamu bawa aja, besok pagi aku jemput,” ujarnya memberikan alasan menolak menerima helm yang kuberikan.
“Kamu ngga perlu jemput aku lagi,” sahutku, “dan… hapus semua perasaan yang pernah kamu rasakan itu, aku ngga bisa membalas apapun.”
Dia menatapku tajam.
“Kita bicara lagi nanti kalau pikiran kamu lebih tenang,” sahutnya hendak menghidupkan lagi mesin motornya.
“Ngga akan ada ‘nanti’ lagi. Apa yang aku bilang sekarang ngga akan berubah,” sahutku cepat.
“Apa karena Fandra? Kamu menyukainya?” tanyanya menuduh.
“Bukan itu,” sahutku
“Aku ngga bisa percaya kamu sekarang, pikirkan lagi, masih ada waktu buat kita bicara lagi.”
“Aku ngga akan berubah pikiran, aku mau kamu tahu sekarang, dan itu ngga akan berubah.”
“Aku ngga mau tahu, aku ngga mau bicara sekarang, kita bicara lagi nan…”
“Aku pernah di rudapaksa,” potongku cepat sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
Dia diam menatapku tajam.
“Kalau kamu ngga mau berhubungan denganku atau kamu lebih memilih orang lain. Bilang saja jangan beralasan yang aneh-aneh atau menjelekkan dirimu sendiri.”
“Aku pernah di rudapaksa,” ulangku sekali lagi, “Aku hanya ingin kamu tahu itu sebelum kamu memutuskan untuk melanjutkan atau menghapus rasa suka kamu ke aku.”
Aku menatapnya yang sedang menatapku dengan pandangan yang menunjukkan ketidakpercayaan.
Aku menghembuskan nafas lega, setidaknya kini dia sudah tahu kondisiku
“Aku mohon jangan bilang apa pun soal ini pada Ardi,” lanjutku mengingatkannya
“Dia ngga tahu?” nada bicaranya sedikit meninggi, “Lisa?”
“Ngga ada yang tahu,” sahutku pelan.
“Aaahh...” dia menghembuskan nafas dengan pandangan tidak percaya menatapku heran.
Dia menurunkan standard motornya, melepaskan helm, dan berdiri di depanku.
“Kamu bilang mereka sahabat kamu, tapi kamu menyembunyikan ini, memendamnya sendiri?”
“Buat apa mereka tahu?”
“Abrar?”
“Dia orang pertama, setelah mamaku, yang tahu. Mungkin...mungkin dia pergi dariku karena itu, entah, aku juga ngga ingin tahu lagi.”
Aku mengangkat wajah, menatapnya.
“Aku terlalu malu untuk mengakui apa yang sudah terjadi. Tapi, aku harus jujur. Terutama pada orang-orang yang akan memasuki hidupku. Karena aku ngga mau menanggung beban dengan menyembunyikannya atau berbohong.”
Dia diam.
“Untuk sementara ini, lebih baik kita fokus ke kerjaan dulu, kamu juga sepertinya sangat sibuk,” lanjutku karena dia masih saja diam.
“Aku masuk dulu,” aku hendak berbalik ketika lagi-lagi dia menahanku dengan pertanyaan.
“Fandra?”
Aku menoleh dan menatapnya tidak mengerti.
“Dia tahu?”
Aku mengangguk pelan.
Dia mengalihkan pandangannya dari tatapanku. Aku tidak lagi menunggu. Aku meninggalkannya di sana dan masuk ke dalam.
***
Kulihat Fandra sedang berdiri di balkon di depan kamarnya. Aku berjalan pelan menuju kamarku dan ketika aku melewatinya, kudengar dia bersuara.
“Kamu bilang ke Hanggara?”
“Yes.”
“Lalu?”
“Sepertinya... dia masih antara percaya dan tidak percaya, sudahlah. Aku capek.”
Diubah oleh drupadi5 11-10-2020 16:40
JabLai cOY dan 5 lainnya memberi reputasi
6