- Beranda
- Stories from the Heart
Awakening (Supranatural & Romance)
...
TS
watcheatnsleep
Awakening (Supranatural & Romance)

Ini merupakan thread pertama TS jadi mohon maaf kalau penulisannya masih agak berantakan dan kurang menarik.
Kalau ada kekurangan atau kesalahan kiranya bisa comment di thread ini buat pembelajaran sendiri bagi TS kedepannya.
Semoga ceritanya dapat dinikmati agan-agan sekalian, Thank you ^^.
INTRO
"Mereka" yang lebih dikenal dengan sebutan hantu, setan, jin, roh, makhluk halus dan sejenisnya, sejak dahulu kala eksistensi mereka selalu memicu suatu perdebatan. Begitu juga dengan Rama, seorang mahasiswa yang awalnya tak begitu percaya akan adanya keberadaan mereka, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan, bahwa ternyata eksistensi “Mereka” benar adanya.
Semua itu bermula dari pertemuannya dengan Adellia. Seorang wanita misterius yang menyimpan segudang rahasia di balik figurnya. Tanpa disadari Rama, benih-benih cinta telah timbul pada pandangan yang pertama. Sebuah rasa yang muncul untuk pertama kali dalam hidupnya.
Wanita demi wanita muncul mewarnai hidup Rama, bersamaan dengan setumpuk masalah yang mereka emban. Di sisi lain, bangkitnya indra keenam Rama seakan menuntunnya kepada sebuah perjalanan panjang untuk mencari jati dirinya.
Akankah Rama berhasil menemukan jati dirinya?
INDEKS
SEASON 1 : SIXTH SENSE
1. Sebuah Awal
2. Mimpi yang Aneh
3. Kesurupan Massal
4. Warna Merah
5. Hilang Kesadaran
6. Salah Tingkah
7. Wanita yang Berdiri di Sudut Kelas
8. Sebuah Awal
9. Pelet
10. Konfrontasi
11. Menjalani Kehidupan Kampus
12. Menikmati Momen yang Langka
13. Pilihan
14. Genderuwo
15. Film India
16. Teman Baru
17. Tengah Malam
18. Memori yang Indah
19. Cubitan Manja
20. Dominasi
21. Bukan Siapa-Siapa
22. Perasaan Kacau
23. Melissa
24. Maaf
25. Playboy
26. Tapi Bohong
27. Mobil yang Bergoyang
28. Truth or Dare
29. Tertawa Terbahak-bahak
30. Pembuktian
31. Pengakuan
32. Mimpi Buruk
33. Menikmati
34. Penyesalan
35. Kopi Darat
36. Terjatuh
37. Pulang
38. Makhluk yang Bersimbah Darah
39. Bungkusan Hitam
40. Pengalaman Putra
41. Firasat Buruk
42. Pulang ke Kost
43. Terkejut
44. Ancaman
45. Cerita Dibalik Rara
46. Kurang Tahan Lama
47. Hadiah
48. Rencana
49. Eksperimen
50. Titipan Eyang
51. Kecil
52. Penangkapan
53. Merek Baju
54. Drama
55. Pesan Singkat
56. Nadia
57. Hujan
58. Pesugihan
59. Hilang
60. Kolam
61. Kerjasama
62. Perang
63. Pengorbanan
64. Kisah Putra
65. Jatuhu
66. Awakening
67. Kabar Buruk
68. Raga Sukma
69. Perpisahan <END>
AWAKENING SEASON 2 : AMURTI
Link : https://kask.us/iOTnR
Wattpad : @vikrama_nirwasita
Karyakarsa : vikrama
Instagram : @vikrama_nirwasita
Terimakasih

Diubah oleh watcheatnsleep 04-04-2023 00:03
madezero dan 86 lainnya memberi reputasi
85
127.3K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
watcheatnsleep
#147
Chapter 27 Mobil yang Bergoyang
Hari demi hari yang kulalui telah berbeda dari kehidupanku yang dulu. Kehidupanku yang dulunya monoton kini mulai berwarna. Diriku yang dulunya selalu menyendiri mulai berubah sejak para wanita itu mulai masuk kedalam hidupku. Terutama wanita yang bernama Adellia. Dia adalah penyebab utama yang membuatku mulai berani membuka diriku.
Entah kenapa aku merasa sangat nyaman jika berada bersamanya, berbeda dengan perasaanku saat berada di dekat wanita lain. Namun, sampai sekarang pun aku masih tak berani untuk mengutarakan perasaanku kepadanya. Karena sejujurnya, aku takut dia akan menolakku, yang akan membuat hubungan kami berubah menjadi berantakan.
Sementara itu, Melissa hampir setiap hari datang menemuiku di kampus. Sejujurnya aku merasa risih, sebab dia memiliki status yang sama seperti Adellia. Bisa dibilang mereka adalah mahasiswi populer di kampus kami.
Aku mendengar banyak gosip yang beredar tentang Melissa, yang selalu datang menemui pria biasa seperti diriku. Saat aku menceritakannya, dia malah tampak tidak peduli akan gosip itu, yang ada dia justru semakin agresif mendekatiku.
Melissa seringkali mengajakku untuk bermain ataupun berjalan-jalan bersama. Sedangkan di sisi lain, Adellia tidak senang dengan sikap Melissa yang berusaha mendekatiku. Ujung-ujungnya, aku yang menjadi pusing untuk menengahi mereka yang berdebat dan saling menyindir satu sama lainnya, setiap kali bertemu.
Riska sesekali datang menemuiku di sela-sela kesibukannya sebagai pengurus BEM. Walau sikapnya tidak seagresif Melissa, dia tetap berusaha mendekatiku dengan pendekatan yang berbeda. Bisa dikatakan dia bermain dengan lebih halus.
Sebab aku merasa dia seringkali memanfaatkan momen-momen tertentu. Salah satu contohnya adalah dengan alasan bahwa ayahnya ingin menemuiku ataupun memintaku untuk membantunya. Menyadari itu, aku selalu mengajak Adellia untuk ikut menemaniku sebagai tameng.
Hingga tak terasa, ujian akhir semester pun akhirnya tiba. Saat berada di kampus, tampak kerumunan para mahasiswa yang sedang sibuk membaca serta membolak-balik lembaran buku mereka masing-masing.
Dua minggu berlangsungnya UAS sepertinya berhasil membuat para mahasiswa kehabisan tenaga. Terbukti dari kantung mata mereka yang tampak mulai menghitam akibat begadang. Tapi semua kelelahan itu langsung sirna seketika, setelah UAS berakhir, sebab tiba saatnya untuk menikmati libur semester yang panjang.
Sebenarnya setelah UAS selesai, aku ingin pulang ke rumah orangtuaku terlebih dahulu. Tapi apa daya, sejak minggu kemarin, Riska telah memaksa dan mengancamku untuk berlibur bersama-sama. Dengan berat hati, aku pun terpaksa harus ikut.
Sebelumnya, Riska sudah mengingatkan kami untuk hanya membawa pakaian dan peralatan pribadi saja. Untuk bahan makanan dan peralatan liburan sudah disiapkan oleh karyawan yang mengurus villa milik ayahnya.
Selain itu, kami disuruh untuk berkumpul terlebih dahulu di rumahnya, sebelum berangkat menuju Bandung. Steven juga telah izin untuk menggunakan mobil milik ayahnya dari jauh-jauh hari. Jadi kami akan berangkat dengan dua mobil, yaitu mobil Riska dan mobil Steven.
Hingga akhirnya hari yang telah kami rencanakan pun tiba. Pagi itu, Aku bersama Adellia, Steven dan Jessica berangkat menuju rumah Riska. Sesampainya di lokasi tujuan, ternyata Riska, Ilham dan Melissa sedang berdiri menunggu kami di luar gerbang.
Selain itu aku melihat sepasang pria dan wanita yang tidak kukenal di sana. Wajah mereka yang oriental dengan penampilan yang terkesan simple tapi mewah, membuatku menyimpulkan bhawa mereka berasal dari background yang sama dengan Riska. Sepertinya mereka adalah teman yang dimaksud Riska sebelumnya, yang sudah berjanji untuk akan ikut juga.
Melissa langsung bergegas berjalan mendekatiku lalu berkata, "Kita berangkatnya satu mobil ya, Ram."
Steven lantas mengejeknya. "Baru juga nongol, udah main nempel-nempel aja, nih."
Melissa tak memedulikan ejekan Steven, dia semakin menempel di dekatku. "Iya dong, soalnya udah lama gak ketemu. Udah kangen, nih."
"Lebay deh, baru juga gak ketemu tiga hari," sindir Adellia.
Melissa membalas dengan sinis. "Ya, biarin dong. Kayaknya ada yang lagi sirik, nih."
Kepalaku terasa pusing, sebab baru saja sampai, mereka sudah mulai bertengkar. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di sepanjang perjalanan nantinya. Hingga sesaat kemudian, Riska mulai berbicara dan memanggil kami semua untuk berkumpul.
“Halo! Dengerin aku bentar, dong,” Riska berucap keras untuk menarik perhatian.
“Kenalin temen aku, mereka bakal ikut liburan bareng kita,” jelas Riska sambil mengarahkan tangannya ke arah pasangan itu.
Satu persatu dari kami pun mulai berkenalan dengan pasangan itu, yang bernama Ivan dan Thalia. Dari perkataan yang kudengar, ternyata mereka berdua adalah sepasang kekasih. Jika ditambahkan dengan Steven dan Jessica, bisa dikatakan di perjalanan ini ada dua pasang kekasih yang resmi. Sepertinya mereka akan sibuk bermesraan, sedangkan kami yang jomblo hanya bisa menjadi penonton.
"Barang-barangnya udah pada lengkap semua, kan?" tanya Riska memastikan.
“Kalo rombongan kita udah pada lengkap, Kak,” jawabku. “Omong-omong, om Theo lagi gak ada di rumah ya, Kak?”
"Iya, Ram. Papaku lagi ada urusan bisnis di luar," balas Riska. “Untuk pembagian mobil sama orangnya jadi gimana, nih?”
"Kalo aku sih ngikut Steven aja, Kak."
Belum sempat Riska membalas ucapanku, tiba-tiba Adellia dan Melissa berkata serentak, "Aku ngikut Rama.”
Aku hanya bisa menepuk jidatku setelah melihat tingkah mereka berdua. Sedangkan Ilham hanya diam memandangi interaksi kami, walau aku tau sebenarnya dia kecewa karena Adellia masih saja tak menghiraukannya.
Steven datang mendekatiku, lalu merangkul bahuku sambil berkata, "Wih, kayaknya laku keras nih temen gua," ledek Steven.
"Kayaknya bakal seru nih, ada cinta segitiga soalnya, haha," tambah Jessica.
Steven meralat ucapan dari Jessica. "Segi empat kali, beb."
"Bab beb bab beb, lo kira bebek!” ucapku kesal.
“Eh, kayaknya dulu gua sering denger lo manggil beb juga," ucapku sembari menatap Jessica. “Kalo gak salah mantan lo yang inisial namanya dari A.”
"Siapa tuh yang namanya dari A?" tanya Jessica sambil menatap tajam ke arah Steven.
"Hehehe, mantan aku waktu SMA beb, tapi aku udah lost contact kok sama dia," ucap Steven dengan cengiran di wajahnya.
Lalu dia menatapku dengan kesal sambil berbisik pelan di telingaku, "Awas ya lo! Bakal gua bales entar."
"Bodo amat! Makan tuh bab beb bab beb, hahaha!" balasku sambil tertawa puas.
"Udah … udah … kelamaan ngobrol, entar yang ada kita ga jadi-jadi berangkatnya, nih.” potong Riska.
Lalu dia lanjut berkata, “Biar gampang gini aja. Ivan,Thalia sama Ilham ikut bareng mobil aku aja."
"Terus, Rama, Adellia, Melissa sama Jessica bareng mobil Steven. Yuk sekarang langsung masuk ke mobil masing-masing aja biar cepet," jelasnya tanpa jeda.
Tanpa banyak berbicara lagi, semuanya langsung bergegas masuk menuju mobil masing-masing. Sialnya Steven melarangku duduk di sampingnya. Dia sengaja menyuruh Jessica untuk cepat masuk dan langsung menduduki bangku depan. Alhasil aku terpaksa duduk di bangku belakang bersama dengan Adellia dan Melissa. Tapi yang lebih sialnya lagi adalah Adellia dan Melissa memaksa untuk duduk di pinggir.
Jadinya aku terpaksa harus duduk di tengah-tengah mereka berdua. Padahal posisi bangku di tengah seperti ini adalah posisi yang paling kubenci, sebab aku tidak akan bisa tidur dan duduk dengan nyaman di posisi ini. Belum berangkat saja, aku sudah merasa letih dan lesu duluan. Sedangkan mereka berempat hanya tersenyum dan tertawa melihat ekspresi wajahku.
"Kok lemes, Ram? Hahaha," ejek Steven.
"Berisik lo ah, cepet jalan aja sono!" balasku kesal.
"Siap boss! Tapi jangan macem-macem ya di belakang, hehehe," ucap Steven dengan senyuman jahilnya.
"Gua kagak mesum kayak lo, Ven!" balasku sambil menggelengkan kepala.
Mereka semua pun serentak tertawa karena mendengar ucapanku. Selama di perjalanan menuju Lembang, kami ngobrol dan bercanda santai di mobil. Mungkin suasananya lebih harmonis dikarenakan aku sedang duduk ditengah-tengah, sebagai pembatas Adellia dan Melissa. Aku hanya berharap mereka berdua bisa akur dan tidak membuat masalah nantinya.
Riska mengatakan perjalanan menuju villa itu akan memakan waktu tiga sampai empat jam, jika berangkat melewati jalan tol dan dengan kondisi jalan yang tidak terlalu macet.
Di sepanjang perjalanan, aku merasa risih dan sangat tidak nyaman duduk diposisi seperti ini. Aku hanya bisa duduk kaku sembari memandang ke arah depan saja. Belum lagi rasa canggung yang kurasakan karena posisi tubuh Adellia dan Melissa yang berdempetan denganku. Dibenakku, aku sudah bisa membayangkan penderitaan yang akan kualami tiga sampai empat jam ke depan.
Ditengah perjalanan, suasana mulai terasa hening tanpa suara. Tampaknya mereka semua sudah mulai merasa lelah berbicara, perlahan-lahan ketiga wanita ini akhirnya menutup matanya hingga terlelap ke alam mimpi. Aku bisa merasa sedikit lebih lega dan tenang dengan suasana hening seperti ini.
Walau sebenarnya aku juga merasa ngantuk, tapi aku tak bisa tertidur dengan posisi seperti ini. Jadi lebih baik aku mencoba untuk menikmati suasana ini, sambil sesekali memandang wajah Adellia yang sedang tertidur. Rau wajahnya yang tenang berhasil membuatku tersenyum dengan sendirinya.
Saat aku sedang sibuk memperhatikan wajah Adellia, tiba-tiba aku merasakan kepala seseorang yang bersandar di bahuku. Aku menoleh dan melihat ekspresi wajah Melissa yang sedang tersenyum. Ternyata dia masih terbangun dan dengan sengaja menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku hanya bisa berpasrah, karena aku tidak tega untuk mendorong kepalanya ke posisi yang semula.
Steven hanya memandangku dari kaca spion sambil tersenyum sumringah. Hingga tak lama kemudian Adellia terbangun dari tidurnya, lalu dia menoleh dan memandang Melissa yang sedang menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku mulai gugup, karena sudah bisa membayangkan Adellia yang akan memulai pertengkaran di saat itu juga. Aku hanya bisa berpasrah, sebab aku tak bisa berbuat apa-apa saat itu.
Tetapi yang terjadi tidak sesuai ekspektasiku, Adellia hanya menguap lalu memandangku dengan wajah yang datar. Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia langsung menutup matanya lalu menyandarkan kepalanya di bahuku juga, sama seperti apa yang dilakukan Melissa. Beberapa saat aku memandangi wajahnya, hingga perlahan-lahan aku menyadari muncul senyuman di ujung bibirnya.
Di sepanjang perjalanan, mereka berdua masih saja menyandarkan kepala mereka di bahuku. Bahkan saat aku sengaja menggerak-gerakkan bahuku, mereka tetap tidur dan tidak meresponku sama sekali. Aku tak tau harus merasa senang atau menderita akan situasi ini.
Di satu sisi aku senang karena dekat dengan Adellia, sedangkan di sisi lain tubuhku lama-kelamaan menjadi pegal dan mati rasa karena harus menahan posisi yang sama selama berjam-jam.
Hingga pada akhirnya, kami sampai pada tujuan setelah menempuh perjalanan dengan waktu berkisar tiga sampai empat jam. Kedua wanita di sampingku masih saja berpura-pura tidur dan tak mau memindahkan posisi kepala mereka.
"Udah sampe, nih. Gua sama Jessica keluar duluan deh, Ram." Steven lalu mengedipkan matanya ke arahku.
"Iya, lo duluan aja sono. Gua harus bangunin dua putri tidur di samping gua dulu," balasku lesu.
"Silakan menikmati," ucapnya pelan dengan senyuman mesumnya lalu dia keluar dari mobil bersama Jessica.
"Del ... Mel ... bangun gih, jangan pura-pura tidur lagi," ucapku sambil menggoyang-goyangkan kedua bahuku.
Tapi mereka berdua masih saja berpura-pura tidur dan tak menghiraukan ucapanku. Padahal jika dilihat dari ekspresi wajahnya, mereka berdua tampak sedang tersenyum menahan tawa. Melihat mereka berdua yang masih saja bersandiwara, akhirnya aku memutuskan untuk memaksa keluar dari mobil.
Baru saja aku mulai bergerak dan mencoba berdiri dari posisiku, tiba-tiba mereka berdua langsung menahan tubuhku dengan kedua tangan mereka. Alhasil aku masih saja terjebak di dalam posisi yang sama. Di sisi lain, aku kaget akan respon mereka yang serentak.
"Aku udah capek banget, nih. Mau sampe kapan nih, kalian di posisi kayak gini?" ucapku lemas.
Mereka berdua tetap diam tak merespon ucapan dariku. Lama-kelamaan aku mulai merasa kesal. Akupun berusaha beranjak dari posisiku. Tapi aku tak bisa berbuat banyak, sebab mereka berdua sudah mengunci tubuhku terlebih dahulu. Tapi aku tak mau menyerah begitu saja, aku berusaha dengan keras menggerakkan dan menggoyangkan tubuhku agar bisa terlepas dari kuncian mereka berdua. Hingga tak sengaja, sekilas aku mendengar suara Riska yang sedang berbicara dari luar.
"Itu mobilnya kok goyang-goyang, ya?"
Bersambung...
Entah kenapa aku merasa sangat nyaman jika berada bersamanya, berbeda dengan perasaanku saat berada di dekat wanita lain. Namun, sampai sekarang pun aku masih tak berani untuk mengutarakan perasaanku kepadanya. Karena sejujurnya, aku takut dia akan menolakku, yang akan membuat hubungan kami berubah menjadi berantakan.
Sementara itu, Melissa hampir setiap hari datang menemuiku di kampus. Sejujurnya aku merasa risih, sebab dia memiliki status yang sama seperti Adellia. Bisa dibilang mereka adalah mahasiswi populer di kampus kami.
Aku mendengar banyak gosip yang beredar tentang Melissa, yang selalu datang menemui pria biasa seperti diriku. Saat aku menceritakannya, dia malah tampak tidak peduli akan gosip itu, yang ada dia justru semakin agresif mendekatiku.
Melissa seringkali mengajakku untuk bermain ataupun berjalan-jalan bersama. Sedangkan di sisi lain, Adellia tidak senang dengan sikap Melissa yang berusaha mendekatiku. Ujung-ujungnya, aku yang menjadi pusing untuk menengahi mereka yang berdebat dan saling menyindir satu sama lainnya, setiap kali bertemu.
Riska sesekali datang menemuiku di sela-sela kesibukannya sebagai pengurus BEM. Walau sikapnya tidak seagresif Melissa, dia tetap berusaha mendekatiku dengan pendekatan yang berbeda. Bisa dikatakan dia bermain dengan lebih halus.
Sebab aku merasa dia seringkali memanfaatkan momen-momen tertentu. Salah satu contohnya adalah dengan alasan bahwa ayahnya ingin menemuiku ataupun memintaku untuk membantunya. Menyadari itu, aku selalu mengajak Adellia untuk ikut menemaniku sebagai tameng.
Hingga tak terasa, ujian akhir semester pun akhirnya tiba. Saat berada di kampus, tampak kerumunan para mahasiswa yang sedang sibuk membaca serta membolak-balik lembaran buku mereka masing-masing.
Dua minggu berlangsungnya UAS sepertinya berhasil membuat para mahasiswa kehabisan tenaga. Terbukti dari kantung mata mereka yang tampak mulai menghitam akibat begadang. Tapi semua kelelahan itu langsung sirna seketika, setelah UAS berakhir, sebab tiba saatnya untuk menikmati libur semester yang panjang.
Sebenarnya setelah UAS selesai, aku ingin pulang ke rumah orangtuaku terlebih dahulu. Tapi apa daya, sejak minggu kemarin, Riska telah memaksa dan mengancamku untuk berlibur bersama-sama. Dengan berat hati, aku pun terpaksa harus ikut.
Sebelumnya, Riska sudah mengingatkan kami untuk hanya membawa pakaian dan peralatan pribadi saja. Untuk bahan makanan dan peralatan liburan sudah disiapkan oleh karyawan yang mengurus villa milik ayahnya.
Selain itu, kami disuruh untuk berkumpul terlebih dahulu di rumahnya, sebelum berangkat menuju Bandung. Steven juga telah izin untuk menggunakan mobil milik ayahnya dari jauh-jauh hari. Jadi kami akan berangkat dengan dua mobil, yaitu mobil Riska dan mobil Steven.
Hingga akhirnya hari yang telah kami rencanakan pun tiba. Pagi itu, Aku bersama Adellia, Steven dan Jessica berangkat menuju rumah Riska. Sesampainya di lokasi tujuan, ternyata Riska, Ilham dan Melissa sedang berdiri menunggu kami di luar gerbang.
Selain itu aku melihat sepasang pria dan wanita yang tidak kukenal di sana. Wajah mereka yang oriental dengan penampilan yang terkesan simple tapi mewah, membuatku menyimpulkan bhawa mereka berasal dari background yang sama dengan Riska. Sepertinya mereka adalah teman yang dimaksud Riska sebelumnya, yang sudah berjanji untuk akan ikut juga.
Melissa langsung bergegas berjalan mendekatiku lalu berkata, "Kita berangkatnya satu mobil ya, Ram."
Steven lantas mengejeknya. "Baru juga nongol, udah main nempel-nempel aja, nih."
Melissa tak memedulikan ejekan Steven, dia semakin menempel di dekatku. "Iya dong, soalnya udah lama gak ketemu. Udah kangen, nih."
"Lebay deh, baru juga gak ketemu tiga hari," sindir Adellia.
Melissa membalas dengan sinis. "Ya, biarin dong. Kayaknya ada yang lagi sirik, nih."
Kepalaku terasa pusing, sebab baru saja sampai, mereka sudah mulai bertengkar. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di sepanjang perjalanan nantinya. Hingga sesaat kemudian, Riska mulai berbicara dan memanggil kami semua untuk berkumpul.
“Halo! Dengerin aku bentar, dong,” Riska berucap keras untuk menarik perhatian.
“Kenalin temen aku, mereka bakal ikut liburan bareng kita,” jelas Riska sambil mengarahkan tangannya ke arah pasangan itu.
Satu persatu dari kami pun mulai berkenalan dengan pasangan itu, yang bernama Ivan dan Thalia. Dari perkataan yang kudengar, ternyata mereka berdua adalah sepasang kekasih. Jika ditambahkan dengan Steven dan Jessica, bisa dikatakan di perjalanan ini ada dua pasang kekasih yang resmi. Sepertinya mereka akan sibuk bermesraan, sedangkan kami yang jomblo hanya bisa menjadi penonton.
"Barang-barangnya udah pada lengkap semua, kan?" tanya Riska memastikan.
“Kalo rombongan kita udah pada lengkap, Kak,” jawabku. “Omong-omong, om Theo lagi gak ada di rumah ya, Kak?”
"Iya, Ram. Papaku lagi ada urusan bisnis di luar," balas Riska. “Untuk pembagian mobil sama orangnya jadi gimana, nih?”
"Kalo aku sih ngikut Steven aja, Kak."
Belum sempat Riska membalas ucapanku, tiba-tiba Adellia dan Melissa berkata serentak, "Aku ngikut Rama.”
Aku hanya bisa menepuk jidatku setelah melihat tingkah mereka berdua. Sedangkan Ilham hanya diam memandangi interaksi kami, walau aku tau sebenarnya dia kecewa karena Adellia masih saja tak menghiraukannya.
Steven datang mendekatiku, lalu merangkul bahuku sambil berkata, "Wih, kayaknya laku keras nih temen gua," ledek Steven.
"Kayaknya bakal seru nih, ada cinta segitiga soalnya, haha," tambah Jessica.
Steven meralat ucapan dari Jessica. "Segi empat kali, beb."
"Bab beb bab beb, lo kira bebek!” ucapku kesal.
“Eh, kayaknya dulu gua sering denger lo manggil beb juga," ucapku sembari menatap Jessica. “Kalo gak salah mantan lo yang inisial namanya dari A.”
"Siapa tuh yang namanya dari A?" tanya Jessica sambil menatap tajam ke arah Steven.
"Hehehe, mantan aku waktu SMA beb, tapi aku udah lost contact kok sama dia," ucap Steven dengan cengiran di wajahnya.
Lalu dia menatapku dengan kesal sambil berbisik pelan di telingaku, "Awas ya lo! Bakal gua bales entar."
"Bodo amat! Makan tuh bab beb bab beb, hahaha!" balasku sambil tertawa puas.
"Udah … udah … kelamaan ngobrol, entar yang ada kita ga jadi-jadi berangkatnya, nih.” potong Riska.
Lalu dia lanjut berkata, “Biar gampang gini aja. Ivan,Thalia sama Ilham ikut bareng mobil aku aja."
"Terus, Rama, Adellia, Melissa sama Jessica bareng mobil Steven. Yuk sekarang langsung masuk ke mobil masing-masing aja biar cepet," jelasnya tanpa jeda.
Tanpa banyak berbicara lagi, semuanya langsung bergegas masuk menuju mobil masing-masing. Sialnya Steven melarangku duduk di sampingnya. Dia sengaja menyuruh Jessica untuk cepat masuk dan langsung menduduki bangku depan. Alhasil aku terpaksa duduk di bangku belakang bersama dengan Adellia dan Melissa. Tapi yang lebih sialnya lagi adalah Adellia dan Melissa memaksa untuk duduk di pinggir.
Jadinya aku terpaksa harus duduk di tengah-tengah mereka berdua. Padahal posisi bangku di tengah seperti ini adalah posisi yang paling kubenci, sebab aku tidak akan bisa tidur dan duduk dengan nyaman di posisi ini. Belum berangkat saja, aku sudah merasa letih dan lesu duluan. Sedangkan mereka berempat hanya tersenyum dan tertawa melihat ekspresi wajahku.
"Kok lemes, Ram? Hahaha," ejek Steven.
"Berisik lo ah, cepet jalan aja sono!" balasku kesal.
"Siap boss! Tapi jangan macem-macem ya di belakang, hehehe," ucap Steven dengan senyuman jahilnya.
"Gua kagak mesum kayak lo, Ven!" balasku sambil menggelengkan kepala.
Mereka semua pun serentak tertawa karena mendengar ucapanku. Selama di perjalanan menuju Lembang, kami ngobrol dan bercanda santai di mobil. Mungkin suasananya lebih harmonis dikarenakan aku sedang duduk ditengah-tengah, sebagai pembatas Adellia dan Melissa. Aku hanya berharap mereka berdua bisa akur dan tidak membuat masalah nantinya.
Riska mengatakan perjalanan menuju villa itu akan memakan waktu tiga sampai empat jam, jika berangkat melewati jalan tol dan dengan kondisi jalan yang tidak terlalu macet.
Di sepanjang perjalanan, aku merasa risih dan sangat tidak nyaman duduk diposisi seperti ini. Aku hanya bisa duduk kaku sembari memandang ke arah depan saja. Belum lagi rasa canggung yang kurasakan karena posisi tubuh Adellia dan Melissa yang berdempetan denganku. Dibenakku, aku sudah bisa membayangkan penderitaan yang akan kualami tiga sampai empat jam ke depan.
Ditengah perjalanan, suasana mulai terasa hening tanpa suara. Tampaknya mereka semua sudah mulai merasa lelah berbicara, perlahan-lahan ketiga wanita ini akhirnya menutup matanya hingga terlelap ke alam mimpi. Aku bisa merasa sedikit lebih lega dan tenang dengan suasana hening seperti ini.
Walau sebenarnya aku juga merasa ngantuk, tapi aku tak bisa tertidur dengan posisi seperti ini. Jadi lebih baik aku mencoba untuk menikmati suasana ini, sambil sesekali memandang wajah Adellia yang sedang tertidur. Rau wajahnya yang tenang berhasil membuatku tersenyum dengan sendirinya.
Saat aku sedang sibuk memperhatikan wajah Adellia, tiba-tiba aku merasakan kepala seseorang yang bersandar di bahuku. Aku menoleh dan melihat ekspresi wajah Melissa yang sedang tersenyum. Ternyata dia masih terbangun dan dengan sengaja menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku hanya bisa berpasrah, karena aku tidak tega untuk mendorong kepalanya ke posisi yang semula.
Steven hanya memandangku dari kaca spion sambil tersenyum sumringah. Hingga tak lama kemudian Adellia terbangun dari tidurnya, lalu dia menoleh dan memandang Melissa yang sedang menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku mulai gugup, karena sudah bisa membayangkan Adellia yang akan memulai pertengkaran di saat itu juga. Aku hanya bisa berpasrah, sebab aku tak bisa berbuat apa-apa saat itu.
Tetapi yang terjadi tidak sesuai ekspektasiku, Adellia hanya menguap lalu memandangku dengan wajah yang datar. Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia langsung menutup matanya lalu menyandarkan kepalanya di bahuku juga, sama seperti apa yang dilakukan Melissa. Beberapa saat aku memandangi wajahnya, hingga perlahan-lahan aku menyadari muncul senyuman di ujung bibirnya.
Di sepanjang perjalanan, mereka berdua masih saja menyandarkan kepala mereka di bahuku. Bahkan saat aku sengaja menggerak-gerakkan bahuku, mereka tetap tidur dan tidak meresponku sama sekali. Aku tak tau harus merasa senang atau menderita akan situasi ini.
Di satu sisi aku senang karena dekat dengan Adellia, sedangkan di sisi lain tubuhku lama-kelamaan menjadi pegal dan mati rasa karena harus menahan posisi yang sama selama berjam-jam.
Hingga pada akhirnya, kami sampai pada tujuan setelah menempuh perjalanan dengan waktu berkisar tiga sampai empat jam. Kedua wanita di sampingku masih saja berpura-pura tidur dan tak mau memindahkan posisi kepala mereka.
"Udah sampe, nih. Gua sama Jessica keluar duluan deh, Ram." Steven lalu mengedipkan matanya ke arahku.
"Iya, lo duluan aja sono. Gua harus bangunin dua putri tidur di samping gua dulu," balasku lesu.
"Silakan menikmati," ucapnya pelan dengan senyuman mesumnya lalu dia keluar dari mobil bersama Jessica.
"Del ... Mel ... bangun gih, jangan pura-pura tidur lagi," ucapku sambil menggoyang-goyangkan kedua bahuku.
Tapi mereka berdua masih saja berpura-pura tidur dan tak menghiraukan ucapanku. Padahal jika dilihat dari ekspresi wajahnya, mereka berdua tampak sedang tersenyum menahan tawa. Melihat mereka berdua yang masih saja bersandiwara, akhirnya aku memutuskan untuk memaksa keluar dari mobil.
Baru saja aku mulai bergerak dan mencoba berdiri dari posisiku, tiba-tiba mereka berdua langsung menahan tubuhku dengan kedua tangan mereka. Alhasil aku masih saja terjebak di dalam posisi yang sama. Di sisi lain, aku kaget akan respon mereka yang serentak.
"Aku udah capek banget, nih. Mau sampe kapan nih, kalian di posisi kayak gini?" ucapku lemas.
Mereka berdua tetap diam tak merespon ucapan dariku. Lama-kelamaan aku mulai merasa kesal. Akupun berusaha beranjak dari posisiku. Tapi aku tak bisa berbuat banyak, sebab mereka berdua sudah mengunci tubuhku terlebih dahulu. Tapi aku tak mau menyerah begitu saja, aku berusaha dengan keras menggerakkan dan menggoyangkan tubuhku agar bisa terlepas dari kuncian mereka berdua. Hingga tak sengaja, sekilas aku mendengar suara Riska yang sedang berbicara dari luar.
"Itu mobilnya kok goyang-goyang, ya?"
Bersambung...
Diubah oleh watcheatnsleep 26-03-2023 21:27
iwakcetol dan 53 lainnya memberi reputasi
54
Tutup