- Beranda
- Stories from the Heart
HORROR - "CAMPING"
...
TS
reikka
HORROR - "CAMPING"
Selamat datang dan wellcome
kali ini saya akan membagikan kisah yang real saya alami sendiri bersama teman-teman saya diwaktu itu, dan allhamdullilah sampai saat ini pula kami semua masih dalam keadaan sehat walafiat.
Kisah berikut terjadi sekitar 10 atau 13 tahun yang lalu ketika masa-masa indah yang lalu hehehe
ok, tanpa panjang lebar lagi silahkan baca kisah kami dibawah ini dan ambil hikmahnya gan 
Note : ada sedikit campuran bahasa sunda didalamnya, mohon dimaklum

Terima kasih bagi agan yang sudah berkenan menyempatkan waktunya untuk membaca thread sederhana berikut.
kali ini saya akan membagikan kisah yang real saya alami sendiri bersama teman-teman saya diwaktu itu, dan allhamdullilah sampai saat ini pula kami semua masih dalam keadaan sehat walafiat.Kisah berikut terjadi sekitar 10 atau 13 tahun yang lalu ketika masa-masa indah yang lalu hehehe
ok, tanpa panjang lebar lagi silahkan baca kisah kami dibawah ini dan ambil hikmahnya gan 
Note : ada sedikit campuran bahasa sunda didalamnya, mohon dimaklum

~CAMPING~

Spoiler for Cerita:
Kisah ini berawal ketika Saya, Andri, Asep, dan Randi, berniat untuk camping disalah satu tempat perkemahan di daerah Sukabumi, yang notabene tempat kemah tersebut ramai atau sebutlah tempat tersebut merupakan tempat camping yang sering dipakai untuk kegiatan-kegiatan sekolah. Ya, memang benar lokasi perkemahan tersebut tidak ada unsur seram atau mencekam sedikitpun, toh banyak sekali warung dan minimarket disekitaran lokasinya.
Tapi, entah mungkin karena kita beruntung atau sial, ada beberapa kejadian yang diluar nalar terjadi ketika kami berempat berkemah di tempat tersebut, ya sebutlah diluar nalar ya walapun itu memang dari kecerobohan kami berempat hehe...., semua berawal ketika kita berempat berdiskusi mengenai rencana berkemah, ouh iya, kita berdiskusi pada 2 hari sebelum keberangkatan atau tepatnya hari Kamis malam, dan rencana berkemah kita hari Sabtu-Minggu.
Sepulang sekolah kita berempat akan kumpul dirumah Andri, ya lumayan deket juga rumahnya dan juga posisinya ditengah-tengah, sehingga tidak ada alasan untuk tidak hadir, singkat cerita sampailah kita bertiga dirumah Andri, waktu itu jam menunjukan pukul 17:20.
Andri : “Jadi, entar rencana malming th gimana ??”
Randi : “Gimana apanya ? Kan udah jelas, kita mau berkemah hadeuh kumaha sih ?!”
Andri : “Ekh, maksudnya ngapain aja, masa kemah doang kita laki berempat entar disangka orang sesuatu lagi.”
Asep : “ya bakar jagung ke, atau singkong, atau bakar rumah biar rame.”
Saya : “Jadi, gimana nih ? Tapi, bakar jagung seru jgua kayaknya sambil maen gitar tuh.”
Andri : “ya bener, gitu aja, deal ya.”
Bertiga : “Ok Deal.”
Rencana sudah dibuat, dan untuk kegiatan kami nanti selepas sampai ditempat perkemahan ya bakar jagung, simple banget ya sambil maen gitar gitu, tapi apa boleh buat itu sudah keputusan bersama. Beberapa menit kemudian terdengarlah adzan maghrib berkumandang, dan Orang tua Andri (Ibu Andri) pun memanggil.
` Ibu Andri : “Dri, dah adzan tuh hayoh shalat dulu baru lanjut lagi ngobrolnya.”
Ouh iya, posisi kita waktu berdiskusi itu berada diloteng balkon rumahnya Andri.
Ibu Andri : “Gak kedengeran adzan itu, heh ayo shalat dulu, ajakin temen-temennya sekalian.”
Andri : “Udah bu.”
Ibu Andri : (Menghampiri keloteng) “Udah !!, udah apanya, adzannya juga baru.”
Andri : “Ekh, beneran bu udah barusan.”
Ibu Andri : “UDAH KAPAN !! “ (Nada marah)
Andri : “Baru...”
Ibu Andri : “BARU APA !!!” (Nada Marah)
Andri : “Baru mau bu ini.....”
Ya, memang benar teman kita yang satu ini memang rada ngeyel, tapi bukan itu intinya, yang mau saya ceritakan ialah ketika kita sedang berada diloteng tersebut pada saat lembayung atau pas detik-detik adzan maghrib, memang jelas kita mendengar ibu Andri teriak dari bawah, bahkan menghampiri keatas untuk menyuruh kita shalat. Nah setelah kita berempat selesai shalat, pintu depan rumah Andri ada yang mengetuk, saat itu jam menunjukan pukul 18:10 dan posisi pintu rumahnya berada didepan lumayan jauh dari tangga ke loteng, kita bertanya-tanya dong siapa jam segini ngetuk pintu tanpa bilang salam, dan yang anehnya ketukannya hanya sampai 3 kali ketukan saja, OK, positif thinking aja deh kita beraniin bukain tuh pintu, dan ternyata orderan Pizza kita baru sampai, lama bener dah hampir 2 jam baru sampe, tanpa konfirmasi dulu coba kalo telat.
3 Jam berlalu kita mengobrol, bercanda, tak terasa waktu sudah menunjukan sektiar pukul 21:20, kalian merasa ada yang aneh ga dengan cerita tersebut ?!, ya, cerita tersebut tidak menyebutkan kemana ibu Andri selama 3 jam, padahal saat itu beliau menyuruh kita shalat maghrib dan langsung kita berempat turun kebawah, dan tidak melihat beliau lagi. Mungkin beliau sedang nonton TV, atau mungkin masak, nah ketika kita semua ngeuh dan mau pamit pulang kepada ibu Andri, tiba-tiba datanglah ibu Andri dari depan sembari buka pintu.
Ibu Andri : “Assalamualaikum,”
Andri : “Walaikumsalam, ibu, abis darimana ??”
Ibu Andri : “Abis darimana ? Kan tadi pagi ibu bilang, mau kerumah paman km, yang di daerah Bogor.”
Serentak kita berempat terdiam dan bingung.
Randi : “Punten bu, bukannya tadi ibu udah pulang, waktu maghrib marahin Andri ?”
Ibu Andri : “Belum ko, waktu maghrib itu justru masih dijalan.”
Andri : “Jangan bercanda bu, ibu mau nakutin kita kan sambil pura-pura bohong, ya kan ?!”
Ibu Andri : “BERCANDA GIMANA !!! jelas-jelas ibu baru pulang, tuh tanya bapak km diluar lagi parkirin mobil.” (sambil jalan masuk kedapur)
Setelah kejadian tersebut kita bertiga pulang, dan kelanjutan dari cerita yang Andri sampaikan ke-esokan harinya, memang benar orang tua Andri baru pulang sekitar pukul 21:20, dan siapakah yang menyuruh kita shalat, bahkan memarahi Andri ketika maghrib-maghrib itu ?? itu masih menjadi misteri dan kita berempatpun berfikir, yasudahlah mungkin itu salah kita juga maghrib-maghrib masih aja ketawa ketiwi. Singkat cerita, sampailah pada saatnya kita berempat berangkat untuk berkemah, tepatnya pukul 14:00 kita berangkat kelokasi, sesampainya disana sektiar pukul 15:00 kita memasang tenda serta menyiapkan kayu bakar dan peralatan untuk bakar jagung.
Setelah semua persiapan selesai sekitar pukul 17:10, kita semua baru ngeuh belum shalat ashar dan kita ingat kejadian sebelumnya ketika kita menyepelekan shalat, bergegas kita berempat mencari mushola dan masjid terdekat. Setelah selesai shalat ashar kita beranjak kembali ke tenda, saat itu dilokasi perkemahan tersebut yang kebetulan sedang berkemah itu hanya ada kita berempat dan 3 orang lainnya disudut sebelah kanan dari lapang perkemahan, dan kita berada disudut sebelah kiri lapang.
Setelah semua persiapan selesai sekitar pukul 17:10, kita semua baru ngeuh belum shalat ashar dan kita ingat kejadian sebelumnya ketika kita menyepelekan shalat, bergegas kita berempat mencari mushola dan masjid terdekat. Setelah selesai shalat ashar kita beranjak kembali ke tenda, saat itu dilokasi perkemahan tersebut yang kebetulan sedang berkemah itu hanya ada kita berempat dan 3 orang lainnya disudut sebelah kanan dari lapang perkemahan, dan kita berada disudut sebelah kiri lapang.
Langit sudah menunjukan lembayungnya dan suara nyanyian burung serta serangga mulai terdengar saling menjawab menandakan hari mulai gelap, dan kita berempat masih saja bercanda gurau main gitar bahkan teman kita Andri bernyanyi sembari teriak-teriak, tanpa sadar adzan maghrib kita hiraukan. Disini kengerian dimulai yang semula suasana seru, ramai karena kecerobohan atau kesalahan kita, mulai terasa sayup angin dingin meniup kedalam tenda, suara burung yang semula riang kini berganti menjadi senyap hanya terdengar suara angin menderu diatas pepohonan sekitar lokasi.
Waktu menunjukan pukul 21:00, tanpa kita sadari 2 kewajiban yang seharusnya dituntaskan kita abaikan, lanjut rencana kita untuk bakar jagung, jagung yang kita bawa untuk dibakar berjumlah 8 tapi setelah kita cek sebab mau dibersihkan kini berkurang menjadi 6, mentega untuk keperluan bakar pun hilang, yang anehnya api unggun yang kita buat tiba-tiba mati tanpa sebab bahkan asap yang seharusnya keluar karena perapian seakan tidak ada, kita berempat mulai merasa ada yang tidak beres, warung dan minimarket disekitar lokasi seperti tertutup kabut dan samar padahal saat itu tidak ada kabut sama sekali. Karena kita berempat sudah merasa ada yang tidak beres, untuk memastikan Saya dan Randi akan menghampiri tenda disebrang apakah mereka merasakan yang sama atau tidak.
Waktu menunjukan pukul 21:00, tanpa kita sadari 2 kewajiban yang seharusnya dituntaskan kita abaikan, lanjut rencana kita untuk bakar jagung, jagung yang kita bawa untuk dibakar berjumlah 8 tapi setelah kita cek sebab mau dibersihkan kini berkurang menjadi 6, mentega untuk keperluan bakar pun hilang, yang anehnya api unggun yang kita buat tiba-tiba mati tanpa sebab bahkan asap yang seharusnya keluar karena perapian seakan tidak ada, kita berempat mulai merasa ada yang tidak beres, warung dan minimarket disekitar lokasi seperti tertutup kabut dan samar padahal saat itu tidak ada kabut sama sekali. Karena kita berempat sudah merasa ada yang tidak beres, untuk memastikan Saya dan Randi akan menghampiri tenda disebrang apakah mereka merasakan yang sama atau tidak.
Setelah keluar dari tenda, saya dan Randi melihat tenda pekemah lainnya tapi yang anehnya mengapa warung dan minimarket lain hampir tidak terlihat, OK !!, tanpa banyak berfikir kita hampiri tenda disebrang, tapi apa yang terjadi ketika kita hampir sampai tenda tersebut ternyata kosong, tidak ada orang sama sekali didalamnya tapi peralatan seperti tas, alat makan, itu masih tergeletak didalam tendanya, oh mungkin mereka sedang belanja keperluan atau nyari makan, positif thinking, itu yang kita berdua pikirkan walaupun hati kecil kita berteriak ada yang tidak beres.
Kembalilah kita ke tenda, dan ternyata ekh si Andri ama si Asep udah terlelap tidur kita coba bangunin tapi tidak ada respon apapun, yaudahlah mungkin mereka capek akhirnya kita berdua keluar tenda coba untuk menyalakan kembali api unggun yang mati.
krrreessekkkkk...krreeesseeeekkkk, terdengar langkah kaki dari arah belakang tenda, OMG apa itu !!! kita berdua noleh kebelakang dan ternyata si Andri ama si Asep, lah !!! terus yang didalam tenda itu siapa !!! teriak saya dan Randi, Andri dan Asep kaget melihat ekspresi kita pucat pasi, “kalian kenapa !!” tanya Andri, bukannya kalian sedang tidur didalam tenda ?! Jawab Randi. Asep yang memang bawaanya tu anak pemberani, dia coba buka tenda dan ternyata tidak ada siapapun didalamnya.
Kembalilah kita ke tenda, dan ternyata ekh si Andri ama si Asep udah terlelap tidur kita coba bangunin tapi tidak ada respon apapun, yaudahlah mungkin mereka capek akhirnya kita berdua keluar tenda coba untuk menyalakan kembali api unggun yang mati.
krrreessekkkkk...krreeesseeeekkkk, terdengar langkah kaki dari arah belakang tenda, OMG apa itu !!! kita berdua noleh kebelakang dan ternyata si Andri ama si Asep, lah !!! terus yang didalam tenda itu siapa !!! teriak saya dan Randi, Andri dan Asep kaget melihat ekspresi kita pucat pasi, “kalian kenapa !!” tanya Andri, bukannya kalian sedang tidur didalam tenda ?! Jawab Randi. Asep yang memang bawaanya tu anak pemberani, dia coba buka tenda dan ternyata tidak ada siapapun didalamnya.
Kejadian tersebut membuat kita memutuskan untuk pulang, dan yaudahlah menginap dirumah si Asep aja karena memang tidak jauh juga dari lokasi perkemahan tersebut, sektiar pukul 22:40 seberani-beraninya kita coba untuk bongkar tenda dan beres-beres untuk pulang, tepat pukul 23:00 kita berempat keluar lokasi perkemahan tanpa menoleh kebelakang, ketika sampai dijalan utama, karena untuk masuk ke lokasi perkemahan kita harus jalan lagi sekitar 100m dari jalan utama, nah, ada warung kopi yang masih buka, sejenak kita rehat sembari ngopi-ngopi.
“Aa-aa ini th abis darimana jam segini bawa tas gede-gede gitu ??” tanya sibapak warung,
“kita rencananya mau kemah kang, tapi ga jadi”, sahut saya,
“ouh kemah ya, ekh tapi kemah dimana emangnya ??” tanya bapak warung, “itu kang yang dipertigaan ke kiri itu tempat biasa kemah!!” jawab Andri. Seketika sibapak warung terdiam dan kebingungan,
“sebentar-sebentar, maksudnya yang dari pertigaan ke kiri, sekitar 100m kedalem, itu bukan ??”,
“iya betul kang”, jawab kita berempat.
“Ekh itu mh bukan tempat kemah, tapi itu mh kuburan, ya memang dulunya tempat kemah umum, tapi semenjak ada 3 orang meninggal dilokasi itu jadi weh tempat itu kurang laku, nah yang punya kasih ke pihak desa untuk dibikin jadi TPU.”
~Continue....
“Aa-aa ini th abis darimana jam segini bawa tas gede-gede gitu ??” tanya sibapak warung,
“kita rencananya mau kemah kang, tapi ga jadi”, sahut saya,
“ouh kemah ya, ekh tapi kemah dimana emangnya ??” tanya bapak warung, “itu kang yang dipertigaan ke kiri itu tempat biasa kemah!!” jawab Andri. Seketika sibapak warung terdiam dan kebingungan,
“sebentar-sebentar, maksudnya yang dari pertigaan ke kiri, sekitar 100m kedalem, itu bukan ??”,
“iya betul kang”, jawab kita berempat.
“Ekh itu mh bukan tempat kemah, tapi itu mh kuburan, ya memang dulunya tempat kemah umum, tapi semenjak ada 3 orang meninggal dilokasi itu jadi weh tempat itu kurang laku, nah yang punya kasih ke pihak desa untuk dibikin jadi TPU.”
~Continue....

Quote:
Terima kasih bagi agan yang sudah berkenan menyempatkan waktunya untuk membaca thread sederhana berikut.

Diubah oleh reikka 16-11-2020 07:57
tien212700 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
2.2K
Kutip
20
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reikka
#1
PART 2
Spoiler for Cerita 2:
Kami berempat, Saya, Randi, Asep, dan Andri seketika terbatu saat sibapak warung tersebut menjelaskan apa yang terjadi diarea perkemahan tersebut karna memang tidak ada informasi terbaru mengenai apapun yang terjadi ditempat kemah itu,
“punten pak, ari bapak serius itu th ? Tapi ko kita ga mendengar ceritanya ya” tanya Randi, “ya sebetulnya itu terjadi 2 tahun yang lalu, saat itu sedang ada event atau kegiatan perkemahan antar sekolah, SMA kalo ga salah mh” jawab bapak warung. “Terus apa yang terjadi pak ? “ tanya Randi, “Ya saat itu sih gak terjadi apa-apa, tapi selepas kegiatan tersebut berakhir ada 3 orang pekemah saat semua peserta udah bubaran, mereka masih meneruskan berkemah disana, bilangnya sih tanggung karena hari seninnya libur jadi sehari lagi, namun pada keesokan harinya saat warga kelokasi, karena bingung dong kenapa masih ada tenda berdiri, ketiga anak tersebut sudah meninggal”.
Sesaat kami mendengar kabar tersebut yang muncul dibenak kami saat itu ko bisa ketiga orang tersebut tiba-tiba meninggal, “innalillahi, kenapa bisa meninggal pak itu th ??” tanya Saya, “nah warga disanapun saat itu tidak ada yang mengetahui sebab akibatnya kenapa, yang jelas mereka semua meninggal dengan mulut menganga dengan lidah menjulur keluar dan mata melotot, dan disamping mereka bertiga itu ada sejenis minumanlah, gak tau apa”.
Asep yang memang tempat tinggalnya lumayan dekat dengan area tersebut sempat terdiam, kami bertiga sadar akan reaksi teman kami Asep dan kamipun memutuskan untuk beranjak pulang dan menginap dirumah Asep. Sesampainya dirumah Asep, Andri yang memang sebutlah anaknya nyeleneh bertanya kepada Asep
“Sep, lu kunaon siga kasambet heulang wae”, “Akh teu nanaon, cuman aneh we, sepanjang saya tinggal disini belum pernah mendengar kabar yang sibapak warung sampein” jawab Asep.
Pikiran kamipun saat itu campur aduk, apakah mungkin si bapak ngarang, atau saat itu si Asep sedang keluar kota, atau mungkin si Asep pindahan jadi dia tidak tahu mengenai cerita tersebut. “Naha bisa teu apal sep, coba tanya babeh lu” tanya Randi,
Asep pun bergegas keruang tengah tapi bapaknya sudah tidak ada, mungkin pikir Asep bapaknya sudah tertidur karena saat itu waktu menunjukan pukul 23:50. “Udah tidur euy bray, besok welah ku saya ditanya babeh saya bisi we apaleun” saut Asep kepada kami.
Keesokan harinya sekitar pukul 9 pagi, kami melihat bapaknya Asep sedang berada diteras sambil ngopi, kamipun mengingatkan kepada Asep untuk bertanya mengenai cerita sibapak warung semalam, karena menurut pemikiran kami cerita yang dimaksud sibapak warung tersebut rasanya kurang masuk diakal, kalau memang terjadi seperti yang diceritakan pastilah akan viral masuk berita sana sini, atau minimal orang terdekat dengan lokasi pasti mengetahuinya.
“Pak, ari bapak tau ga cerita mengenai perkemahan didaerah simpang tiga, katanya angker pak, bener itu th ?” tanya Asep kepada bapaknya, “perkemahan simpang tiga ??” jawab bapaknya, “iya pak perkemahan yang dipertigaan depan belok kekiri itu”, “ouh, itu mh bukan perkemahan ath tapi kuburan itu mh” saut bapaknya, “iya dulunya bekas perkemahan kan, cuman sekarang dibikin TPU”,
sesaat mendengar pernyataan dari Asep, bapaknya mengerutkan alis sambil tersenyum “tempat perkemahan gimana, orang dari dulu juga itu mh kuburan umum, aneh-aneh wae akh ieu mh”. Aneh, ya itu yang terlintas dipikiran kami berempat ko bisa cerita sibapak warung dan penjelasan dari bapaknya si Asep berbeda, dan juga ko bisa Asep tidak mengetahui mengenai hal itu.
“Sep, ari km emang ga tau tempat perkemahan itu ? Ko bisa ceritanya jadi aneh gini sih” tanya Randi, “Saya tau Ran, itu emang tempat perkemahan soalnya banyak orang yang posting di media sosialnya, emang sih belum liat langsung kesana, tapi banyak yang merekomendasikan kesana.” jawab Asep, “aiiihhhh, medsos nyah, kirain udah liat kesana langsung” sahut Andri.
Masih menjadi misteri di kepala kami berempat ko bisa semua cerita bahkan apa yang kami alami tidak masuk akal sama sekali. Semula tempat perkemahan tersebut yang notabenenya tempatnya rame bahkan ada toko-toko sama minimarket didekatnya, tapi tiba-tiba menjadi angker dan banyak terjadi hal yang diluar nalar,
sibapak warung yang menceritakan mengenai asal mula tempat tersebut dan apa yang terjadi saat itu, bapaknya Asep yang memang mengetahui cerita tersebut, semuanya tidak masuk akal dan bahkan tidak nyambung sama sekali. “Bentar, kalau memang yang bapak Asep jelaskan itu bener nih, misalkan ya ini mh, berarti si bapak warung tersebut bohong dong, dan misalkan si bapak Asep itu bohong karena ga mau anaknya celaka, ok itu masuk akal juga, tapi sekarang yang jadi masalahnya cerita siapa yang benar mengenai lokasi tersebut” sahut Randi,
kami berempat berinisiatif untuk coba bertanya kepada tetangga sekitar mengenai lokasi tersebut mungkin mereka mendengar atau mengetahui cerita perkemahan tersebut. Saat itu waktu menunjukan pukul 11:40 kami berempat keluar rumah dan coba mencari warung untuk ngopi dengan harapan bisa mendapatkan jawaban apa yang ada di kepala kami berempat.
Sesampainya diwarung kami memesan kopi dan coba bertanya kepada pemilik warung tersebut, “Bu, ari ibu tau ga mengenai perkemahan di pertigaan yang didepan sana bu, yang belok ke kiri itu ?” tanya Saya, sesaat saya bertanya mengenai hal tersebut si ibu warung bergegas masuk kedalam warungnya sambil mengucap “punten jang, saya ga tau”. Waaaaawwwww......aneh bin ajaib, padahal saya hanya bertanya apakah ibu mengetahui atau tidak, tapi dia malah seakan-akan ketakutan , dan ya....semakin bertambahlah rasa penasaran kami, mengapa semua orang seperti menutupi kejadian yang sebenarnya di area perkemahan tersebut.
Ok, tidak apa mungkin si ibu tidak mau bercerita, kami berempat melanjutkan ngopi dan ngobrol tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 15:10, dan kami bertiga akan pamit untuk pulang kerumah masing-masing karena besok kami bertiga harus kesekolah, sesampainya dirumah Asep kami mengambil barang-barang kami dan sekalian untuk pamit juga kepada orang tua Asep. Tapi sesuatu hal kembali terjadi ketika kami akan pamit kepada bapaknya Asep,
“Pak, barudak mau pada pamit pulang”, tanya Asep kepada bapaknya, akan tetapi respon bapaknya saat itu hanya terdiam membelakangi kami berempat, “Pak, ini mau pada pulang pak barudak”, tidak ada respon sama sekali cuman hanya sesekali terlihat bahu bapaknya Asep naek turun. Asep pun mendekati bapaknya dengan menghadap didepannya tapi yang Asep saksikan ialah bapaknya sedang menangis sambil memegang sebuah foto, sesaat Asep melihat foto tersebut dan ternyata foto yang dipegang oleh bapaknya ialah foto Asep.
“Pak, bapak kunaon, itu foto Asep kunaon ditangisi, pak, kunaon” tanya asep, dan tidak ada respon sama sekali “bapak kunaon menangisi foto Asep pak, ini Asep disini pak”, kami bertiga melihat teman kami Asep dengan respon seperti itu dan coba menghampirinya, dan terlihat bapaknya Asep sedang menangisi sebuah foto yang dimana foto tersebut ialah foto Asep, “Pak maaf, bapak kenapa nangisi foto Asep, ini Asepnya juga ada sama kami pak” tanya kami bertiga. Dan tidak ada respon sama sekali, bapaknya Asep masih saja menangisi foto tersebut dan tiba-tiba berkata sambil memandangi foto Asep dan menyentuh foto tersebut
“Nak, udah bapak bilang hati-hati, jangan sampe lupa shalat kalau ditempat itu”.
Continue...
“punten pak, ari bapak serius itu th ? Tapi ko kita ga mendengar ceritanya ya” tanya Randi, “ya sebetulnya itu terjadi 2 tahun yang lalu, saat itu sedang ada event atau kegiatan perkemahan antar sekolah, SMA kalo ga salah mh” jawab bapak warung. “Terus apa yang terjadi pak ? “ tanya Randi, “Ya saat itu sih gak terjadi apa-apa, tapi selepas kegiatan tersebut berakhir ada 3 orang pekemah saat semua peserta udah bubaran, mereka masih meneruskan berkemah disana, bilangnya sih tanggung karena hari seninnya libur jadi sehari lagi, namun pada keesokan harinya saat warga kelokasi, karena bingung dong kenapa masih ada tenda berdiri, ketiga anak tersebut sudah meninggal”.
Sesaat kami mendengar kabar tersebut yang muncul dibenak kami saat itu ko bisa ketiga orang tersebut tiba-tiba meninggal, “innalillahi, kenapa bisa meninggal pak itu th ??” tanya Saya, “nah warga disanapun saat itu tidak ada yang mengetahui sebab akibatnya kenapa, yang jelas mereka semua meninggal dengan mulut menganga dengan lidah menjulur keluar dan mata melotot, dan disamping mereka bertiga itu ada sejenis minumanlah, gak tau apa”.
Asep yang memang tempat tinggalnya lumayan dekat dengan area tersebut sempat terdiam, kami bertiga sadar akan reaksi teman kami Asep dan kamipun memutuskan untuk beranjak pulang dan menginap dirumah Asep. Sesampainya dirumah Asep, Andri yang memang sebutlah anaknya nyeleneh bertanya kepada Asep
“Sep, lu kunaon siga kasambet heulang wae”, “Akh teu nanaon, cuman aneh we, sepanjang saya tinggal disini belum pernah mendengar kabar yang sibapak warung sampein” jawab Asep.
Pikiran kamipun saat itu campur aduk, apakah mungkin si bapak ngarang, atau saat itu si Asep sedang keluar kota, atau mungkin si Asep pindahan jadi dia tidak tahu mengenai cerita tersebut. “Naha bisa teu apal sep, coba tanya babeh lu” tanya Randi,
Asep pun bergegas keruang tengah tapi bapaknya sudah tidak ada, mungkin pikir Asep bapaknya sudah tertidur karena saat itu waktu menunjukan pukul 23:50. “Udah tidur euy bray, besok welah ku saya ditanya babeh saya bisi we apaleun” saut Asep kepada kami.
Keesokan harinya sekitar pukul 9 pagi, kami melihat bapaknya Asep sedang berada diteras sambil ngopi, kamipun mengingatkan kepada Asep untuk bertanya mengenai cerita sibapak warung semalam, karena menurut pemikiran kami cerita yang dimaksud sibapak warung tersebut rasanya kurang masuk diakal, kalau memang terjadi seperti yang diceritakan pastilah akan viral masuk berita sana sini, atau minimal orang terdekat dengan lokasi pasti mengetahuinya.
“Pak, ari bapak tau ga cerita mengenai perkemahan didaerah simpang tiga, katanya angker pak, bener itu th ?” tanya Asep kepada bapaknya, “perkemahan simpang tiga ??” jawab bapaknya, “iya pak perkemahan yang dipertigaan depan belok kekiri itu”, “ouh, itu mh bukan perkemahan ath tapi kuburan itu mh” saut bapaknya, “iya dulunya bekas perkemahan kan, cuman sekarang dibikin TPU”,
sesaat mendengar pernyataan dari Asep, bapaknya mengerutkan alis sambil tersenyum “tempat perkemahan gimana, orang dari dulu juga itu mh kuburan umum, aneh-aneh wae akh ieu mh”. Aneh, ya itu yang terlintas dipikiran kami berempat ko bisa cerita sibapak warung dan penjelasan dari bapaknya si Asep berbeda, dan juga ko bisa Asep tidak mengetahui mengenai hal itu.
“Sep, ari km emang ga tau tempat perkemahan itu ? Ko bisa ceritanya jadi aneh gini sih” tanya Randi, “Saya tau Ran, itu emang tempat perkemahan soalnya banyak orang yang posting di media sosialnya, emang sih belum liat langsung kesana, tapi banyak yang merekomendasikan kesana.” jawab Asep, “aiiihhhh, medsos nyah, kirain udah liat kesana langsung” sahut Andri.
Masih menjadi misteri di kepala kami berempat ko bisa semua cerita bahkan apa yang kami alami tidak masuk akal sama sekali. Semula tempat perkemahan tersebut yang notabenenya tempatnya rame bahkan ada toko-toko sama minimarket didekatnya, tapi tiba-tiba menjadi angker dan banyak terjadi hal yang diluar nalar,
sibapak warung yang menceritakan mengenai asal mula tempat tersebut dan apa yang terjadi saat itu, bapaknya Asep yang memang mengetahui cerita tersebut, semuanya tidak masuk akal dan bahkan tidak nyambung sama sekali. “Bentar, kalau memang yang bapak Asep jelaskan itu bener nih, misalkan ya ini mh, berarti si bapak warung tersebut bohong dong, dan misalkan si bapak Asep itu bohong karena ga mau anaknya celaka, ok itu masuk akal juga, tapi sekarang yang jadi masalahnya cerita siapa yang benar mengenai lokasi tersebut” sahut Randi,
kami berempat berinisiatif untuk coba bertanya kepada tetangga sekitar mengenai lokasi tersebut mungkin mereka mendengar atau mengetahui cerita perkemahan tersebut. Saat itu waktu menunjukan pukul 11:40 kami berempat keluar rumah dan coba mencari warung untuk ngopi dengan harapan bisa mendapatkan jawaban apa yang ada di kepala kami berempat.
Sesampainya diwarung kami memesan kopi dan coba bertanya kepada pemilik warung tersebut, “Bu, ari ibu tau ga mengenai perkemahan di pertigaan yang didepan sana bu, yang belok ke kiri itu ?” tanya Saya, sesaat saya bertanya mengenai hal tersebut si ibu warung bergegas masuk kedalam warungnya sambil mengucap “punten jang, saya ga tau”. Waaaaawwwww......aneh bin ajaib, padahal saya hanya bertanya apakah ibu mengetahui atau tidak, tapi dia malah seakan-akan ketakutan , dan ya....semakin bertambahlah rasa penasaran kami, mengapa semua orang seperti menutupi kejadian yang sebenarnya di area perkemahan tersebut.
Ok, tidak apa mungkin si ibu tidak mau bercerita, kami berempat melanjutkan ngopi dan ngobrol tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 15:10, dan kami bertiga akan pamit untuk pulang kerumah masing-masing karena besok kami bertiga harus kesekolah, sesampainya dirumah Asep kami mengambil barang-barang kami dan sekalian untuk pamit juga kepada orang tua Asep. Tapi sesuatu hal kembali terjadi ketika kami akan pamit kepada bapaknya Asep,
“Pak, barudak mau pada pamit pulang”, tanya Asep kepada bapaknya, akan tetapi respon bapaknya saat itu hanya terdiam membelakangi kami berempat, “Pak, ini mau pada pulang pak barudak”, tidak ada respon sama sekali cuman hanya sesekali terlihat bahu bapaknya Asep naek turun. Asep pun mendekati bapaknya dengan menghadap didepannya tapi yang Asep saksikan ialah bapaknya sedang menangis sambil memegang sebuah foto, sesaat Asep melihat foto tersebut dan ternyata foto yang dipegang oleh bapaknya ialah foto Asep.
“Pak, bapak kunaon, itu foto Asep kunaon ditangisi, pak, kunaon” tanya asep, dan tidak ada respon sama sekali “bapak kunaon menangisi foto Asep pak, ini Asep disini pak”, kami bertiga melihat teman kami Asep dengan respon seperti itu dan coba menghampirinya, dan terlihat bapaknya Asep sedang menangisi sebuah foto yang dimana foto tersebut ialah foto Asep, “Pak maaf, bapak kenapa nangisi foto Asep, ini Asepnya juga ada sama kami pak” tanya kami bertiga. Dan tidak ada respon sama sekali, bapaknya Asep masih saja menangisi foto tersebut dan tiba-tiba berkata sambil memandangi foto Asep dan menyentuh foto tersebut
“Nak, udah bapak bilang hati-hati, jangan sampe lupa shalat kalau ditempat itu”.
Continue...
Diubah oleh reikka 09-10-2020 09:06
0
Kutip
Balas