- Beranda
- Stories from the Heart
Awakening (Supranatural & Romance)
...
TS
watcheatnsleep
Awakening (Supranatural & Romance)

Ini merupakan thread pertama TS jadi mohon maaf kalau penulisannya masih agak berantakan dan kurang menarik.
Kalau ada kekurangan atau kesalahan kiranya bisa comment di thread ini buat pembelajaran sendiri bagi TS kedepannya.
Semoga ceritanya dapat dinikmati agan-agan sekalian, Thank you ^^.
INTRO
"Mereka" yang lebih dikenal dengan sebutan hantu, setan, jin, roh, makhluk halus dan sejenisnya, sejak dahulu kala eksistensi mereka selalu memicu suatu perdebatan. Begitu juga dengan Rama, seorang mahasiswa yang awalnya tak begitu percaya akan adanya keberadaan mereka, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan, bahwa ternyata eksistensi “Mereka” benar adanya.
Semua itu bermula dari pertemuannya dengan Adellia. Seorang wanita misterius yang menyimpan segudang rahasia di balik figurnya. Tanpa disadari Rama, benih-benih cinta telah timbul pada pandangan yang pertama. Sebuah rasa yang muncul untuk pertama kali dalam hidupnya.
Wanita demi wanita muncul mewarnai hidup Rama, bersamaan dengan setumpuk masalah yang mereka emban. Di sisi lain, bangkitnya indra keenam Rama seakan menuntunnya kepada sebuah perjalanan panjang untuk mencari jati dirinya.
Akankah Rama berhasil menemukan jati dirinya?
INDEKS
SEASON 1 : SIXTH SENSE
1. Sebuah Awal
2. Mimpi yang Aneh
3. Kesurupan Massal
4. Warna Merah
5. Hilang Kesadaran
6. Salah Tingkah
7. Wanita yang Berdiri di Sudut Kelas
8. Sebuah Awal
9. Pelet
10. Konfrontasi
11. Menjalani Kehidupan Kampus
12. Menikmati Momen yang Langka
13. Pilihan
14. Genderuwo
15. Film India
16. Teman Baru
17. Tengah Malam
18. Memori yang Indah
19. Cubitan Manja
20. Dominasi
21. Bukan Siapa-Siapa
22. Perasaan Kacau
23. Melissa
24. Maaf
25. Playboy
26. Tapi Bohong
27. Mobil yang Bergoyang
28. Truth or Dare
29. Tertawa Terbahak-bahak
30. Pembuktian
31. Pengakuan
32. Mimpi Buruk
33. Menikmati
34. Penyesalan
35. Kopi Darat
36. Terjatuh
37. Pulang
38. Makhluk yang Bersimbah Darah
39. Bungkusan Hitam
40. Pengalaman Putra
41. Firasat Buruk
42. Pulang ke Kost
43. Terkejut
44. Ancaman
45. Cerita Dibalik Rara
46. Kurang Tahan Lama
47. Hadiah
48. Rencana
49. Eksperimen
50. Titipan Eyang
51. Kecil
52. Penangkapan
53. Merek Baju
54. Drama
55. Pesan Singkat
56. Nadia
57. Hujan
58. Pesugihan
59. Hilang
60. Kolam
61. Kerjasama
62. Perang
63. Pengorbanan
64. Kisah Putra
65. Jatuhu
66. Awakening
67. Kabar Buruk
68. Raga Sukma
69. Perpisahan <END>
AWAKENING SEASON 2 : AMURTI
Link : https://kask.us/iOTnR
Wattpad : @vikrama_nirwasita
Karyakarsa : vikrama
Instagram : @vikrama_nirwasita
Terimakasih

Diubah oleh watcheatnsleep 04-04-2023 00:03
madezero dan 86 lainnya memberi reputasi
85
127.1K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
watcheatnsleep
#135
Chapter 25 Playboy
Langit seakan ikut menumpahkan air mata bersama Adellia. Awan gelap diiringi dengan rintik hujan kian turun membasahi bumi. Rintik itu lama-kelamaan berubah semakin deras, berbanding terbalik dengan tangisan yang ada di dadaku.
Pelan-pelan, tangisan Adel mulai mereda dan aku juga perlahan melepaskan pelukanku. Sejenak kami saling berpaling muka, membentuk suasana canggung di antara kami. Aku mendeham dan dengan segenap keberanianku, aku mencoba untuk memulai pembicaraan.
"Omong-omong, cowok yang sering bareng kamu itu, pacar kamu ya, Del?" tanyaku pelan memecah kecanggungan.
"Emangnya kenapa, Ram?" jawab Adel menatapku lewat sudut matanya, masih dalam posisi berpelukan.
Sembari menggaruk rambutku yang tak gatal aku berkata,"Cuma penasaran aja, Del.”
"Yakin nih cuma penasaran aja?” tanyanya dengan raut wajah tak percaya.
“Iya...,” jawabku ragu.
Dengan raut wajah yang datar dia berkata, “Sebenarnya, tadi kamu udah meluk pacar orang, Ram."
Jawabannya pun membuatku tertegun seketika, hingga spontan bertanya memastikan. “Serius, Del?”
Adel tak meresponku, dia hanya diam menatap mataku dalam-dalam. Sementara aku hanya bisa menggaruk kepalaku dalam situasi canggung ini. Aku tak menyangka bahwa apa yang kupikirkan ternyata benar.
"Seandainya kita selingkuh, kamu mau gak, Ram?" tanya Adel tiba-tiba.
Ucapan Adel lagi-lagi mengejutkanku. "Kamu gila, Del?"
“Kamu lagi bercanda kan, Del?” tanyaku memastikan.
“Bercanda? Buat apa Ram?” jawab Adel dengan raut wajah datar.
"Gimana Ram? Aku putusin dia aja kali, ya. Biar bisa sama kamu sekarang," ucapnya dengan enteng.
"Jadi tujuan kamu pacaran sama dia emangnya buat apa, Del? Cuma sebagai pelampiasan aja, gitu?" ucapku dengan nada suara yang meninggi.
"Kalo iya emangnya kenapa, Ram? Intinya kan kita bisa bareng lagi sekarang. Ngapain mikirin dia, sih?" balas Adel.
"Sorry Del, kamu tetap sama dia aja. Aku ga nyangka kamu tega mainin perasaan orang lain kayak gitu," ucapku murka, lalu ingin bergegas melangkah pergi meninggalkannya.
Baru saja beberapa langkah kupijakkan, Adellia langsung menggenggam tanganku dengan erat, lalu dia mendekat dan berbisik ditelingaku.
“Cie, ada yang ngambek,” bisiknya pelan.
Aku langsung berhenti di tempat, lalu menoleh dan memandang wajahnya. Sial, kenapa aku bisa tertipu lagi, ucapku dalam hati. Sedangkan Adellia mulai tertawa terbahak-bahak melihat responku yang berlebihan. Dia tak bisa berhenti tertawa sambil memegangi perutnya.
"Aku cuma bercanda doang kok, Ram. Dia bukan pacarku, kok." Dia pun mengusap matanya yang berair.
"Hahahaha, kamu lucu banget deh Ram," ucapnya lalu tak henti-hentinya tertawa.
"Tapi kamu serius kan, Del? Cowok itu bukan pacar kamu, kan?" tanyaku memastikan.
"Serius gak ya … kayaknya ada yang cemburu nih, hahaha," ejek Adel.
"Ah males, deh. Dibecandain mulu dari tadi," ucapku kesal lalu berpura-pura pergi meninggalkannya.
Tiba-tiba Adel bergerak memelukku erat dari belakang, lalu dia berbicara pelan.
"Maaf ya, Ram. Mungkin selama ini aku yang terlalu egois," bisiknya.
“Selama ini, kamu yang selalu ngebantuin aku terus. Bahkan dalam situasi terburuk, kamu selalu ada di samping aku,” ucap Adel lembut.
“Jadi tolong banget, jangan menjauh lagi Ram.”
Ucapan Adel menyadarkanku bahwa dia juga wanita yang memiliki sisi rapuh, terlepas dari sikapnya yang tampak kuat dari luar.
“Kamu ga perlu minta maaf kok, Del. Kamu gak salah apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf, karena berasumsi sendiri tanpa dengar penjelasan dari kamu,” balasku perlahan.
Lalu aku melanjutkan perkataanku, "Justru aku sebenarnya pengen berterimakasih ke kamu, Del. Karena sejak ketemu sama kamu, aku mulai dapat pengalaman baru."
"Iya Ram ...," balas Adel pelan.
Kami kembali hening dalam beberapa saat, meresapi semua perkataan yang telah saling kami ucapkan. Mengeluarkan semua kata-kata yang sudah lama kami pendam di dalam hati.
"Sebenarnya cowok itu siapa, Del?" tanyaku penasaran.
"Hmmmm, bisa dibilang dia seniorku, Ram," jawab Adel dengan ekspresi wajah yang sedikit ragu.
"Senior SMA atau gimana, Del?" tanyaku bingung.
"Senior dari perguruanku di Surabaya, Ram." Entah kenapa, raut wajah Adel menunjukkan ketidaknyamanan saat membahas pria itu.
"Perguruan? Aku baru tau kalo kamu punya perguruan, Del. Emangnya sejak kapan kamu masuknya, Del?" tanyaku dengan heran.
"Panjang banget kalo dijelasin, Ram. Gak terlalu penting juga, kayaknya lebih baik ga usah dibahas," jawabnya berusaha menghindar, tampaknya dia ingin merahasiakannya.
"Oh, ya udah, Del." Aku pun berhenti mengulik tentang itu, sebab aku tau bahwa dia merasa tak nyaman.
"Omong-omong, ini kapan dilepasnya, Del?" tanyaku dengan canggung.
"Ga tau ah! Sampai kamu nyerah duluan mungkin," ucapnya sambil tertawa kecil.
"Sampai besok juga aku ga bakal capek kalo posisinya begini," balasku tak mau kalah.
"Itu mah namanya kamu ketagihan," ledeknya.
"Siapa suruh kamu peluk-peluk aku dari belakang," balasku.
"Kamu yang duluan peluk-peluk aku, ya!" cibirnya.
"Makanya jangan ngomel terus. Soalnya, kalo kamu ngomel bakal aku peluk lagi," ucapku.
"Coba aja kalo berani, bakal aku cubit tuh pipi kamu sampe melar," ancam Adel.
"Ngebalasnya pake main kasar mulu, nih. Mirip mak lampir deh lama-lama," ejekku.
"Hmmmmm, berani ya sekarang ngejek-ngejek aku. Padahal biasanya kamu malu-malu kucing tuh," balasnya.
Sebelum aku membalas perkataan Adel, tiba-tiba muncul suara seseorang yang terdengar tak asing bagiku.
"Kayaknya ada yang lagi asik banget, nih. Sorry ya kalo ganggu."
Aku menoleh, lalu menyadari bahwa Riska ternyata sedang menatap kami berdua sambil tersenyum. Kami berdua secara refleks langsung melepas pelukan, lalu mengambil jarak masing-masing. Aku tak mengerti, kenapa dari dulu, ada saja orang yang memergoki kami saat sedang berada pada momen-momen seperti ini.
"Eh, dari kapan ada disana, kak?" tanyaku dengan gagap.
Riska pun memaparkan senyum jahil di bibirnya. "Dari kapan yaaa ... hehehe."
"Kayaknya sebentar lagi masuk kelas, nih. Aku pergi duluan ya, kak," ucapku untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah kita bareng aja. Kelas kita satu lantai, kok." Riska memandangiku dengan senyuman penuh arti.
Mau tak mau, aku pun harus mengikutinya karena tak bisa mengelak lagi. Di perjalanan, kami bertiga berjalanan dengan suasana yang canggung, sebab kami hanya berjalan dalam diam tanpa ada mengucapkan sepatah kata.
Di sisi lain, Riska hanya tersenyum penuh makna saat melirik kami berdua. Aku hanya berharap, semoga saja Riska tidak membocorkannya ke Steven, karena pasti dia akan heboh dan tak henti-hentinya mengejekku, jika tau tentang kejadian tadi.
Selagi kami berada di perjalanan menuju kelas, tampak seorang wanita mengenakan pakaian serba hitam sedang berjalan menuju arah kami. Saat jarak kami semakin mendekat, aku akhirnya mengenali wajahnya. Ternyata sosok wanita yang kulihat itu adalah Melissa.
Aku tak habis pikir, kenapa dia harus datang di saat yang tidak tepat. Yang ada dia hanya makin menambah masalah. Sebenarnya aku ingin berlari menghindarinya, tapi dia sudah melihatku terlebih dahulu. Jadi aku tak mungkin lagi bisa kabur darinya.
"Hai, Ram. Kamu mau kemana, nih?" ucapnya tersenyum sambil melirik Adellia dan Riska.
"Mau masuk kelas, Mel, kamu ada keperluan apa datang kesini?" tanyaku bingung dan canggung.
Di sisi lain, Adellia dan Riska sedang memandangiku dengan tatapan penuh curiga. Aku juga heran mengapa dia memakai panggilan aku dan kamu, bukannya kemarin kami berbicara santai memakai lo dan gua, pikirku.
"Cuma mau ketemu kamu doang kok, Ram. Aku tungguin kamu sampe kelar kelas, ya." Dia lalu mengedipkan matanya sembari tersenyum, seakan memprovokasi dua wanita yang ada di sebelahku.
"Eh, ga usah, Mel. Nanti kamu kelamaan nunggunya," balasku berusaha untuk mengelak.
"Gapapa, Ram. Demi kamu mah, aku rela kok nunggu berjam-jam," ucapnya yang tak memberiku ruang untuk mengelak.
Saat aku menoleh ke sebelah, tampak Adel dan Riska yang sedang memelototiku dengan tajam. Rasanya seperti mereka ingin memakanku hidup-hidup saat itu. Aku jadi ingin cepat-cepat melarikan diri saja dari situasi seperti ini.
"Hai, kenalin aku Adel."
"Halo, aku Riska."
Mereka berdua tiba-tiba serentak menjulurkan tangan dan ingin berkenalan dengan Melissa. Aku sudah mencium bau-bau peperangan akan segera terjadi di sini. Makin lama suasananya terasa semakin tegang dan mendebarkan bagiku. Sebab aku tak tahu, apa yang akan terjadi ke depannya.
"Salam kenal, namaku Melissa," ucapnya sambil membalas salaman dari tangan Adel dan Riska.
"Kalian kenal sejak kapan, ya?" tanya Adellia raut wajah datarnya.
"Baru kemarin malam kok, ketemu di pesta," jawab Melissa enteng.
"Kok keliatannya kamu udah deket banget sama Rama, ya?" tanya Riska.
"Iya, dong. Soalnya Rama bantuin aku kemarin," jawab Melissa dengan nada bangga.
"Wih, bantuin apa tuh?" balas Adellia sambil melirikku dengan tajam.
“Kemarin Rama jadi pacar aku,” jawab Melissa.
Suasana menjadi hening seketika. Belum sempat aku mengklarifikasi ucapannya, tiba-tiba Adel langsung memotong.
“Bantuin jadi pacar? Berarti cuma pacar bohongan, ya?” tanya Adel dengan senyuman sinis.
"Untungnya gak jadi pacar beneran, ya." timpal Riska sambil tersenyum dan melirikku dengan sinis.
Tetapi Melissa tak berhenti disitu saja, dia malah berusaha membuat suasana semakin memanas.
"Mungkin dalam waktu dekat kita berdua bakal jadi pacar beneran,” ucap Melissa sambil tertawa kecil. “Iya gak, Ram?
"Hahahaha...." mereka bertiga pun tertawa lepas saat memandang satu sama lain. Tawa mereka benar-benar penuh dengan kepalsuan, sebab mulut mereka tampak tertawa tetapi mata mereka tak bisa berbohong. Kalau sebenarnya mereka tidak suka dengan satu sama lainnya. Dari kejadian ini aku pun menyadari, bahwa wanita memiliki sisi menakutkan seperti itu.
Dari jauh mungkin orang-orang melihat kami seperti sahabat dekat yang sedang bercanda tawa bersama. Tapi jika berada di posisiku, ini seperti sidang pengkhakiman akan diriku.
"Sorry, Mel, kayaknya kita harus ke kelas dulu, nih. Soalnya udah waktunya masuk," ucapku dengan cepat.
"Oke, Ram. Aku tungguin, ya. Habis kelas jangan langsung kabur ya, hahaha." Melissa ternyata serius dan bersikeras untuk menungguku.
Aku tak menghiraukannya dan langsung bergegas berjalan menuju kelas. Aku tak mau berlama-lama karena saat ini aku masih merasakan tatapan tajam dari Adellia dan Riska. Mereka hanya mengikutiku dari belakang tanpa berbicara sama sekali. Setelah sampai di depan kelas, aku akhirnya bisa merasa lebih lega. Setidaknya suasana kelas yang lebih ramai bisa mengurangi rasa yang mengintimidasi dari sosok mereka.
"Ram, nanti habis kelas kita bareng juga ya," ucap Riska tersenyum lalu langsung pergi tanpa sempat membiarkanku membalas ucapannya.
Tiba-tiba Adellia mendekatiku lalu berbisik pelan di telingaku, "Hebat ya, di tinggal sebentar udah bisa jadi playboy kamu," bisiknya dingin lalu kian memelototiku.
Melihat tidak ada orang lain yang memerhatikan kami, aku pun mulai berani membalas ucapannya.
"Siapa suruh kamu ninggalin aku. Nanti aku diembat cewek lain duluan, baru deh kamu nyesel," ejekku sambil tertawa kecil
"Nih! Biar diembat cewek lain, nih!" ucapnya lalu mencubit perutku dengan cara menariknya secara perlahan.
"Arrgghh!" Aku refleks berteriak kesakitan.
Jeritanku pun berhasil berhasil menarik seluruh pandangan mahasiswa yang ada di kelas. Aku pun seketika menunduk, menyembunyikan wajahku yang memerah karena malu.
Sedangkan Adellia tampak menutup mulutnya, layaknya sedang menahan tawa. Lalu dia pun berbisik pelan, "Rasain tuh, dasar playboy!"
Bersambung…
Pelan-pelan, tangisan Adel mulai mereda dan aku juga perlahan melepaskan pelukanku. Sejenak kami saling berpaling muka, membentuk suasana canggung di antara kami. Aku mendeham dan dengan segenap keberanianku, aku mencoba untuk memulai pembicaraan.
"Omong-omong, cowok yang sering bareng kamu itu, pacar kamu ya, Del?" tanyaku pelan memecah kecanggungan.
"Emangnya kenapa, Ram?" jawab Adel menatapku lewat sudut matanya, masih dalam posisi berpelukan.
Sembari menggaruk rambutku yang tak gatal aku berkata,"Cuma penasaran aja, Del.”
"Yakin nih cuma penasaran aja?” tanyanya dengan raut wajah tak percaya.
“Iya...,” jawabku ragu.
Dengan raut wajah yang datar dia berkata, “Sebenarnya, tadi kamu udah meluk pacar orang, Ram."
Jawabannya pun membuatku tertegun seketika, hingga spontan bertanya memastikan. “Serius, Del?”
Adel tak meresponku, dia hanya diam menatap mataku dalam-dalam. Sementara aku hanya bisa menggaruk kepalaku dalam situasi canggung ini. Aku tak menyangka bahwa apa yang kupikirkan ternyata benar.
"Seandainya kita selingkuh, kamu mau gak, Ram?" tanya Adel tiba-tiba.
Ucapan Adel lagi-lagi mengejutkanku. "Kamu gila, Del?"
“Kamu lagi bercanda kan, Del?” tanyaku memastikan.
“Bercanda? Buat apa Ram?” jawab Adel dengan raut wajah datar.
"Gimana Ram? Aku putusin dia aja kali, ya. Biar bisa sama kamu sekarang," ucapnya dengan enteng.
"Jadi tujuan kamu pacaran sama dia emangnya buat apa, Del? Cuma sebagai pelampiasan aja, gitu?" ucapku dengan nada suara yang meninggi.
"Kalo iya emangnya kenapa, Ram? Intinya kan kita bisa bareng lagi sekarang. Ngapain mikirin dia, sih?" balas Adel.
"Sorry Del, kamu tetap sama dia aja. Aku ga nyangka kamu tega mainin perasaan orang lain kayak gitu," ucapku murka, lalu ingin bergegas melangkah pergi meninggalkannya.
Baru saja beberapa langkah kupijakkan, Adellia langsung menggenggam tanganku dengan erat, lalu dia mendekat dan berbisik ditelingaku.
“Cie, ada yang ngambek,” bisiknya pelan.
Aku langsung berhenti di tempat, lalu menoleh dan memandang wajahnya. Sial, kenapa aku bisa tertipu lagi, ucapku dalam hati. Sedangkan Adellia mulai tertawa terbahak-bahak melihat responku yang berlebihan. Dia tak bisa berhenti tertawa sambil memegangi perutnya.
"Aku cuma bercanda doang kok, Ram. Dia bukan pacarku, kok." Dia pun mengusap matanya yang berair.
"Hahahaha, kamu lucu banget deh Ram," ucapnya lalu tak henti-hentinya tertawa.
"Tapi kamu serius kan, Del? Cowok itu bukan pacar kamu, kan?" tanyaku memastikan.
"Serius gak ya … kayaknya ada yang cemburu nih, hahaha," ejek Adel.
"Ah males, deh. Dibecandain mulu dari tadi," ucapku kesal lalu berpura-pura pergi meninggalkannya.
Tiba-tiba Adel bergerak memelukku erat dari belakang, lalu dia berbicara pelan.
"Maaf ya, Ram. Mungkin selama ini aku yang terlalu egois," bisiknya.
“Selama ini, kamu yang selalu ngebantuin aku terus. Bahkan dalam situasi terburuk, kamu selalu ada di samping aku,” ucap Adel lembut.
“Jadi tolong banget, jangan menjauh lagi Ram.”
Ucapan Adel menyadarkanku bahwa dia juga wanita yang memiliki sisi rapuh, terlepas dari sikapnya yang tampak kuat dari luar.
“Kamu ga perlu minta maaf kok, Del. Kamu gak salah apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf, karena berasumsi sendiri tanpa dengar penjelasan dari kamu,” balasku perlahan.
Lalu aku melanjutkan perkataanku, "Justru aku sebenarnya pengen berterimakasih ke kamu, Del. Karena sejak ketemu sama kamu, aku mulai dapat pengalaman baru."
"Iya Ram ...," balas Adel pelan.
Kami kembali hening dalam beberapa saat, meresapi semua perkataan yang telah saling kami ucapkan. Mengeluarkan semua kata-kata yang sudah lama kami pendam di dalam hati.
"Sebenarnya cowok itu siapa, Del?" tanyaku penasaran.
"Hmmmm, bisa dibilang dia seniorku, Ram," jawab Adel dengan ekspresi wajah yang sedikit ragu.
"Senior SMA atau gimana, Del?" tanyaku bingung.
"Senior dari perguruanku di Surabaya, Ram." Entah kenapa, raut wajah Adel menunjukkan ketidaknyamanan saat membahas pria itu.
"Perguruan? Aku baru tau kalo kamu punya perguruan, Del. Emangnya sejak kapan kamu masuknya, Del?" tanyaku dengan heran.
"Panjang banget kalo dijelasin, Ram. Gak terlalu penting juga, kayaknya lebih baik ga usah dibahas," jawabnya berusaha menghindar, tampaknya dia ingin merahasiakannya.
"Oh, ya udah, Del." Aku pun berhenti mengulik tentang itu, sebab aku tau bahwa dia merasa tak nyaman.
"Omong-omong, ini kapan dilepasnya, Del?" tanyaku dengan canggung.
"Ga tau ah! Sampai kamu nyerah duluan mungkin," ucapnya sambil tertawa kecil.
"Sampai besok juga aku ga bakal capek kalo posisinya begini," balasku tak mau kalah.
"Itu mah namanya kamu ketagihan," ledeknya.
"Siapa suruh kamu peluk-peluk aku dari belakang," balasku.
"Kamu yang duluan peluk-peluk aku, ya!" cibirnya.
"Makanya jangan ngomel terus. Soalnya, kalo kamu ngomel bakal aku peluk lagi," ucapku.
"Coba aja kalo berani, bakal aku cubit tuh pipi kamu sampe melar," ancam Adel.
"Ngebalasnya pake main kasar mulu, nih. Mirip mak lampir deh lama-lama," ejekku.
"Hmmmmm, berani ya sekarang ngejek-ngejek aku. Padahal biasanya kamu malu-malu kucing tuh," balasnya.
Sebelum aku membalas perkataan Adel, tiba-tiba muncul suara seseorang yang terdengar tak asing bagiku.
"Kayaknya ada yang lagi asik banget, nih. Sorry ya kalo ganggu."
Aku menoleh, lalu menyadari bahwa Riska ternyata sedang menatap kami berdua sambil tersenyum. Kami berdua secara refleks langsung melepas pelukan, lalu mengambil jarak masing-masing. Aku tak mengerti, kenapa dari dulu, ada saja orang yang memergoki kami saat sedang berada pada momen-momen seperti ini.
"Eh, dari kapan ada disana, kak?" tanyaku dengan gagap.
Riska pun memaparkan senyum jahil di bibirnya. "Dari kapan yaaa ... hehehe."
"Kayaknya sebentar lagi masuk kelas, nih. Aku pergi duluan ya, kak," ucapku untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah kita bareng aja. Kelas kita satu lantai, kok." Riska memandangiku dengan senyuman penuh arti.
Mau tak mau, aku pun harus mengikutinya karena tak bisa mengelak lagi. Di perjalanan, kami bertiga berjalanan dengan suasana yang canggung, sebab kami hanya berjalan dalam diam tanpa ada mengucapkan sepatah kata.
Di sisi lain, Riska hanya tersenyum penuh makna saat melirik kami berdua. Aku hanya berharap, semoga saja Riska tidak membocorkannya ke Steven, karena pasti dia akan heboh dan tak henti-hentinya mengejekku, jika tau tentang kejadian tadi.
Selagi kami berada di perjalanan menuju kelas, tampak seorang wanita mengenakan pakaian serba hitam sedang berjalan menuju arah kami. Saat jarak kami semakin mendekat, aku akhirnya mengenali wajahnya. Ternyata sosok wanita yang kulihat itu adalah Melissa.
Aku tak habis pikir, kenapa dia harus datang di saat yang tidak tepat. Yang ada dia hanya makin menambah masalah. Sebenarnya aku ingin berlari menghindarinya, tapi dia sudah melihatku terlebih dahulu. Jadi aku tak mungkin lagi bisa kabur darinya.
"Hai, Ram. Kamu mau kemana, nih?" ucapnya tersenyum sambil melirik Adellia dan Riska.
"Mau masuk kelas, Mel, kamu ada keperluan apa datang kesini?" tanyaku bingung dan canggung.
Di sisi lain, Adellia dan Riska sedang memandangiku dengan tatapan penuh curiga. Aku juga heran mengapa dia memakai panggilan aku dan kamu, bukannya kemarin kami berbicara santai memakai lo dan gua, pikirku.
"Cuma mau ketemu kamu doang kok, Ram. Aku tungguin kamu sampe kelar kelas, ya." Dia lalu mengedipkan matanya sembari tersenyum, seakan memprovokasi dua wanita yang ada di sebelahku.
"Eh, ga usah, Mel. Nanti kamu kelamaan nunggunya," balasku berusaha untuk mengelak.
"Gapapa, Ram. Demi kamu mah, aku rela kok nunggu berjam-jam," ucapnya yang tak memberiku ruang untuk mengelak.
Saat aku menoleh ke sebelah, tampak Adel dan Riska yang sedang memelototiku dengan tajam. Rasanya seperti mereka ingin memakanku hidup-hidup saat itu. Aku jadi ingin cepat-cepat melarikan diri saja dari situasi seperti ini.
"Hai, kenalin aku Adel."
"Halo, aku Riska."
Mereka berdua tiba-tiba serentak menjulurkan tangan dan ingin berkenalan dengan Melissa. Aku sudah mencium bau-bau peperangan akan segera terjadi di sini. Makin lama suasananya terasa semakin tegang dan mendebarkan bagiku. Sebab aku tak tahu, apa yang akan terjadi ke depannya.
"Salam kenal, namaku Melissa," ucapnya sambil membalas salaman dari tangan Adel dan Riska.
"Kalian kenal sejak kapan, ya?" tanya Adellia raut wajah datarnya.
"Baru kemarin malam kok, ketemu di pesta," jawab Melissa enteng.
"Kok keliatannya kamu udah deket banget sama Rama, ya?" tanya Riska.
"Iya, dong. Soalnya Rama bantuin aku kemarin," jawab Melissa dengan nada bangga.
"Wih, bantuin apa tuh?" balas Adellia sambil melirikku dengan tajam.
“Kemarin Rama jadi pacar aku,” jawab Melissa.
Suasana menjadi hening seketika. Belum sempat aku mengklarifikasi ucapannya, tiba-tiba Adel langsung memotong.
“Bantuin jadi pacar? Berarti cuma pacar bohongan, ya?” tanya Adel dengan senyuman sinis.
"Untungnya gak jadi pacar beneran, ya." timpal Riska sambil tersenyum dan melirikku dengan sinis.
Tetapi Melissa tak berhenti disitu saja, dia malah berusaha membuat suasana semakin memanas.
"Mungkin dalam waktu dekat kita berdua bakal jadi pacar beneran,” ucap Melissa sambil tertawa kecil. “Iya gak, Ram?
"Hahahaha...." mereka bertiga pun tertawa lepas saat memandang satu sama lain. Tawa mereka benar-benar penuh dengan kepalsuan, sebab mulut mereka tampak tertawa tetapi mata mereka tak bisa berbohong. Kalau sebenarnya mereka tidak suka dengan satu sama lainnya. Dari kejadian ini aku pun menyadari, bahwa wanita memiliki sisi menakutkan seperti itu.
Dari jauh mungkin orang-orang melihat kami seperti sahabat dekat yang sedang bercanda tawa bersama. Tapi jika berada di posisiku, ini seperti sidang pengkhakiman akan diriku.
"Sorry, Mel, kayaknya kita harus ke kelas dulu, nih. Soalnya udah waktunya masuk," ucapku dengan cepat.
"Oke, Ram. Aku tungguin, ya. Habis kelas jangan langsung kabur ya, hahaha." Melissa ternyata serius dan bersikeras untuk menungguku.
Aku tak menghiraukannya dan langsung bergegas berjalan menuju kelas. Aku tak mau berlama-lama karena saat ini aku masih merasakan tatapan tajam dari Adellia dan Riska. Mereka hanya mengikutiku dari belakang tanpa berbicara sama sekali. Setelah sampai di depan kelas, aku akhirnya bisa merasa lebih lega. Setidaknya suasana kelas yang lebih ramai bisa mengurangi rasa yang mengintimidasi dari sosok mereka.
"Ram, nanti habis kelas kita bareng juga ya," ucap Riska tersenyum lalu langsung pergi tanpa sempat membiarkanku membalas ucapannya.
Tiba-tiba Adellia mendekatiku lalu berbisik pelan di telingaku, "Hebat ya, di tinggal sebentar udah bisa jadi playboy kamu," bisiknya dingin lalu kian memelototiku.
Melihat tidak ada orang lain yang memerhatikan kami, aku pun mulai berani membalas ucapannya.
"Siapa suruh kamu ninggalin aku. Nanti aku diembat cewek lain duluan, baru deh kamu nyesel," ejekku sambil tertawa kecil
"Nih! Biar diembat cewek lain, nih!" ucapnya lalu mencubit perutku dengan cara menariknya secara perlahan.
"Arrgghh!" Aku refleks berteriak kesakitan.
Jeritanku pun berhasil berhasil menarik seluruh pandangan mahasiswa yang ada di kelas. Aku pun seketika menunduk, menyembunyikan wajahku yang memerah karena malu.
Sedangkan Adellia tampak menutup mulutnya, layaknya sedang menahan tawa. Lalu dia pun berbisik pelan, "Rasain tuh, dasar playboy!"
Bersambung…
Diubah oleh watcheatnsleep 24-03-2023 23:13
iwakcetol dan 58 lainnya memberi reputasi
59
Tutup