- Beranda
- Berita dan Politik
Mantan Satgas Covid: Ada yang Usaha Kecilkan Data Kematian
...
TS
sniper2777
Mantan Satgas Covid: Ada yang Usaha Kecilkan Data Kematian
Jakarta, CNBC Indonesia - Profesor Akmal Taher yang sebelumnya merupakan Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19 menepis pertanyaan terkait jumlah kasus meninggal karena Covid-19 hanya 6%, sisanya karena penyakit lain.
"Pasien meninggal gagal nafas, karena Pneumonia, kemudian kena covid-19, yang dibilang penyebab mana? Nggak ada 6%. Karena kalau sekali kita mengatakan, orang yang punya komorbid imun sistem rendah, kemudian dia kena covid-19, apakah bukan karena covid-19?," ujarnya mengutip diskusi virtual "Panel Anti Hoax!" di Jakarta, Senin (28/9/2020).
Dia menyebut, ada beberapa penyebab kematian di Indonesia antara lain stroke, jantung, diabetes dan hipertensi atau darah tinggi. Orang-orang tersebut bisa menjadi semakin lemah jika terserang Covid-19.
"Ini bukan cuma 6%, maunya apa covid-19 beneran yang mana. Kalau imun rendah, lebih cepat mati karena Covid-19, ngga ada lain," tegasnya.
Dia kembali mencontohkan, misal seseorang OTG, lantas dalam perjalanan kecelakaan hingga meninggal. Kemudian, dibawa ke RS dan misalnya dikatakan meninggal akibat Covid-19.
"Ada yang berusaha agak mengecilkan jumlah kematian karena Covid-19, tapi itu kan sama sekali berbahaya, seakan-akan prevalensi menularnya sedikit," katanya lagi.
Informasi saja, hingga Minggu (27/9/2020) kasus meninggal akibat Covid-19 bertambah sebanyak 78 orang. Sehingga secara kumulatif, pertambahan kasus meninggal sebanyak 10.386.
Adapun sebanyak 3.874 orang terpapar Covid-19, sehingga secara kumulatif jumlahnya menjadi 275.213.
Provinsi DKI Jakarta masih memimpin penambahan kasus yakni sebanyak 1.217 kasus sehingga secara kumulatif jumlah kasus di DKI Jakarta mencapai 70.441 kasus.
(dob/dob)
https://www.cnbcindonesia.com/news/2...-data-kematian

Dirty hands clean government
"Pasien meninggal gagal nafas, karena Pneumonia, kemudian kena covid-19, yang dibilang penyebab mana? Nggak ada 6%. Karena kalau sekali kita mengatakan, orang yang punya komorbid imun sistem rendah, kemudian dia kena covid-19, apakah bukan karena covid-19?," ujarnya mengutip diskusi virtual "Panel Anti Hoax!" di Jakarta, Senin (28/9/2020).
Dia menyebut, ada beberapa penyebab kematian di Indonesia antara lain stroke, jantung, diabetes dan hipertensi atau darah tinggi. Orang-orang tersebut bisa menjadi semakin lemah jika terserang Covid-19.
"Ini bukan cuma 6%, maunya apa covid-19 beneran yang mana. Kalau imun rendah, lebih cepat mati karena Covid-19, ngga ada lain," tegasnya.
Dia kembali mencontohkan, misal seseorang OTG, lantas dalam perjalanan kecelakaan hingga meninggal. Kemudian, dibawa ke RS dan misalnya dikatakan meninggal akibat Covid-19.
"Ada yang berusaha agak mengecilkan jumlah kematian karena Covid-19, tapi itu kan sama sekali berbahaya, seakan-akan prevalensi menularnya sedikit," katanya lagi.
Informasi saja, hingga Minggu (27/9/2020) kasus meninggal akibat Covid-19 bertambah sebanyak 78 orang. Sehingga secara kumulatif, pertambahan kasus meninggal sebanyak 10.386.
Adapun sebanyak 3.874 orang terpapar Covid-19, sehingga secara kumulatif jumlahnya menjadi 275.213.
Provinsi DKI Jakarta masih memimpin penambahan kasus yakni sebanyak 1.217 kasus sehingga secara kumulatif jumlah kasus di DKI Jakarta mencapai 70.441 kasus.
(dob/dob)
https://www.cnbcindonesia.com/news/2...-data-kematian

Dirty hands clean government

tien212700 dan 4 lainnya memberi reputasi
3
1.3K
27
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
692.5KThread•57.5KAnggota
Tampilkan semua post
joesatriyono
#6
Quote:
buat perang klipingan ane serahin ke yang berkompeten ajah, tapi frasa diatas maksudnya apa? jadinya menggelembungkan apa mengecilkan hayo

makanya perlu yang namanya kejelasan (certainty) definisi kematian corona
https://nasional.tempo.co/read/13884...kibat-covid-19
tuh dibaca, bedanya meninggal karena korona vs meninggal akibat penyakit penyerta
Quote:
ente liat sendiri hasilnya? atau cuma "katanya" atau "denger-denger"? soalnya nih gan, SWAB test gak bakal ngasih hasil positif atau negatif adanya reaktif atau non-reaktif. yang ngasih hasil positif atau negatif itu PCR

ati-ati, kondisi kayak gini itu banyak provokasi. tau kan kemaren banyak kasus pengambilan paksa jenazah penderita covid? ya asal mulanya dari provokasi gak berdasar kayak gini. provokasi ada pasalnya loh
Diubah oleh joesatriyono 28-09-2020 14:59
0
Tutup

