- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#734
Jilid 21 [Part 473]
Spoiler for :
DIMANA janda Sima Rodra mengadakan semacam upacara untuk menyatakan kegembiraan mereka setelah mereka berhasil menangkap Rara Wilis. Kebiadaban yang pernah terjadi antara orang-orang dari golongan hitam itu.
Tiba-tiba tanpa disengaja Mahesa Jenar berpaling kepada Rara Wilis yang agaknya benar-benar merasa penat setelah perjalanan yang berat itu.
Rara Wilis itu pun duduk kembali. Namun kengerian benar-benar telah merayapi dadanya. Sehingga karena itu, maka tiba-tiba ia merenung.
Ruangan itu kemudian menjadi sunyi. Angin pegunungan berhembus perlahan-lahan menggoyang-goyangkan perdu di halaman. Terasa silirnya angin mengusap tubuh-tubuh mereka, sehingga terasa betapa sejuknya udara pegunungan itu.
Namun Mahesa Jenar masih saja digelisahkan oleh persoalan yang dibawanya ke bukit ini. Ia tidak mengerti, kenapa Panembahan tidak segera mau menerima persoalan itu. Sehingga kemudian Mahesa Jenar itu menjadi berbimbang hati.
Apakah Panembahan benar-benar belum mendengar persoalan ini? Karena kebimbangan itu, maka dada Mahesa Jenar justru menjadi berdebar-debar. Dan karena itulah maka seakan-akan ia tidak sabar lagi menunggu.
Desakan di dalam dadanya itu menjadi sedemikian kuatnya sehingga dengan serta merta ia berkata kepada Rara Wilis.
Wilis terkejut. Ketika ia berpikir dilihatnya wajah Mahesa Jenar menjadi bersungguh-sungguh. Karena itu, maka Wilis merasakannya pula, bahwa kali ini Mahesa Jenar tidak bergurau lagi.
Rara Wilis tidak menjawab. Diikutinya saja kemana Mahesa Jenar pergi. Kepada seorang cantrik Mahesa Jenar menyatakan keinginannya untuk bertemu Panembahan.
Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin heran mendengar tanggapan Panembahan Ismaya itu. Panembahan Ismaya sama sekali tidak menyesalkan tindakan Karebet atau ketergesa-gesaan Kebo Kanigara, tetapi yang mula-mula disesalkan adalah Sultan Trenggana.
Mahesa Jenar kini benar-benar menjadi bingung. Apakah dirinya sendirilah yang kini telah kehilangan kejantanannya sehingga ia memandang persoalan itu sebagai persoalan yang harus diselesaikan tanpa pertumpahan darah? Ataukah karena ia sudah terdorong kepada suatu keinginan untuk berumah tangga, sehingga penyelesaian yang diangankannya itu benar-benar sebagai suatu tindakan yang terlalu lemah dan bahkan telah mengorbankan harga dirinya?
“Apakah aku telah berubah?” pertanyaan itu timbul didalam hatinya. Meskipun demikian maka ia mencoba berkata pula.
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar tidak dapat mengerti keadaan itu. Hampir saja Mahesa Jenar melihat kesalahan itu pada dirinya sendiri. Pada keruntuhan yang dialami.
Hampir-hampir ia mengambil kesimpulan, bahwa ia tidak dapat mengerti sikap Kebo Kanigara dan Arya Salaka karena ia telah kehilangan kejantanannya. Namun berkali-kali terngiang di dalam hatinya.
Wajahnya sesaat menjadi tegang. Namun kemudian wajah itu menjadi tenang kembali.
Perlahan-lahan Panembahan itu berkata,
Tiba-tiba tanpa disengaja Mahesa Jenar berpaling kepada Rara Wilis yang agaknya benar-benar merasa penat setelah perjalanan yang berat itu.
Quote:
“Wilis” katanya,
“Kau ingat daerah ini? Daerah yang pernah merayakan kehadiranmu di antara mereka? Kau ingat?”
Rara Wilis mengerutkan keningnya. Katanya,
“Apakah itu pernah terjadi?”
“Ah, seharusnya kau tidak akan dapat melupakan. Bukankah di bawah bukit ini kau mendapat sambutan yang sangat meriah? Kau ingat tentu. Di bawah bukit ini menunggu ibu tirimu yang akan mencarikan buat kau seorang menantu dari Nusa Kambangan.”
“Ah,” tiba-tiba Rara Wilis bangkit dan dengan kedua tangannya ia mencubit Mahesa Jenar sekeras-kerasnya.
Mahesa Jenar menyeringai kesakitan. Katanya,
“Wilis, apakah kau sedang mengetrapkan aji Cunda Manik.”
Rara Wilis mencubit semakin keras, dan Mahesa Jenar itu terpaksa berkata,
“Sudahlah. Sudah. Aku bertobat sekarang.”
“Kalau kakang menyebutnya sekali lagi,” jawab Rara Wilis.
“Maka aku benar-benar akan mengetrapkan aji Cunda Manik. Aku tidak takut seandainya kakang melawan dengan Sasra Birawa.”
“Akulah yang takut,” sahut Mahesa Jenar.
“Kau ingat daerah ini? Daerah yang pernah merayakan kehadiranmu di antara mereka? Kau ingat?”
Rara Wilis mengerutkan keningnya. Katanya,
“Apakah itu pernah terjadi?”
“Ah, seharusnya kau tidak akan dapat melupakan. Bukankah di bawah bukit ini kau mendapat sambutan yang sangat meriah? Kau ingat tentu. Di bawah bukit ini menunggu ibu tirimu yang akan mencarikan buat kau seorang menantu dari Nusa Kambangan.”
“Ah,” tiba-tiba Rara Wilis bangkit dan dengan kedua tangannya ia mencubit Mahesa Jenar sekeras-kerasnya.
Mahesa Jenar menyeringai kesakitan. Katanya,
“Wilis, apakah kau sedang mengetrapkan aji Cunda Manik.”
Rara Wilis mencubit semakin keras, dan Mahesa Jenar itu terpaksa berkata,
“Sudahlah. Sudah. Aku bertobat sekarang.”
“Kalau kakang menyebutnya sekali lagi,” jawab Rara Wilis.
“Maka aku benar-benar akan mengetrapkan aji Cunda Manik. Aku tidak takut seandainya kakang melawan dengan Sasra Birawa.”
“Akulah yang takut,” sahut Mahesa Jenar.
Rara Wilis itu pun duduk kembali. Namun kengerian benar-benar telah merayapi dadanya. Sehingga karena itu, maka tiba-tiba ia merenung.
Ruangan itu kemudian menjadi sunyi. Angin pegunungan berhembus perlahan-lahan menggoyang-goyangkan perdu di halaman. Terasa silirnya angin mengusap tubuh-tubuh mereka, sehingga terasa betapa sejuknya udara pegunungan itu.
Namun Mahesa Jenar masih saja digelisahkan oleh persoalan yang dibawanya ke bukit ini. Ia tidak mengerti, kenapa Panembahan tidak segera mau menerima persoalan itu. Sehingga kemudian Mahesa Jenar itu menjadi berbimbang hati.
Apakah Panembahan benar-benar belum mendengar persoalan ini? Karena kebimbangan itu, maka dada Mahesa Jenar justru menjadi berdebar-debar. Dan karena itulah maka seakan-akan ia tidak sabar lagi menunggu.
Desakan di dalam dadanya itu menjadi sedemikian kuatnya sehingga dengan serta merta ia berkata kepada Rara Wilis.
Quote:
“Wilis, kenapa Panembahan tidak mau mendengar persoalan ini segera?”
Wilis terkejut. Ketika ia berpikir dilihatnya wajah Mahesa Jenar menjadi bersungguh-sungguh. Karena itu, maka Wilis merasakannya pula, bahwa kali ini Mahesa Jenar tidak bergurau lagi.
Quote:
“Aku menjadi ragu-ragu Wilis,” berkata Mahesa Jenar.
“Apakah Panembahan sengaja menghindarinya?”
Tiba-tiba Mahesa Jenar itu berdiri. Dan dengan serta merta ia berkata,
“Marilah kita menghadap sekarang.”
Rara Wilis mengerutkan keningnya. Jawabnya,
“Apakah Panembahan tidak menjadi gusar karenanya?”
“Kita katakan, bahwa kita akan segera kembali.”
“Apakah Panembahan sengaja menghindarinya?”
Tiba-tiba Mahesa Jenar itu berdiri. Dan dengan serta merta ia berkata,
“Marilah kita menghadap sekarang.”
Rara Wilis mengerutkan keningnya. Jawabnya,
“Apakah Panembahan tidak menjadi gusar karenanya?”
“Kita katakan, bahwa kita akan segera kembali.”
Rara Wilis tidak menjawab. Diikutinya saja kemana Mahesa Jenar pergi. Kepada seorang cantrik Mahesa Jenar menyatakan keinginannya untuk bertemu Panembahan.
Quote:
“Sampaikan kepada Panembahan. Aku berdua akan mohon diri.”
Sekali lagi Panembahan terkejut. Sekali lagi dengan tergopoh-gopoh ditemui Mahesa Jenar. Katanya,
“Kenapa angger sedemikian tergesa-gesa?”
“Panembahan,” sahut Mahesa Jenar.
“Sudah aku katakan, bahwa kedatanganku membawa persoalan yang perlu segera aku sampaikan kepada Panembahan, Banyubiru sekarang sedang mempersiapkan perang.”
“Perang,” Panembahan itu terkejut sekali, sehingga sesaat ia berdiam diri memandangi Mahesa Jenar dengan tanpa berkedip.
“Ya” sahut Mahesa Jenar.
“Apakah Panembahan belum mendengar bahwa Widuri telah hilang?”
“Oh,” Panembahan itu semakin terkejut.
“Widuri anak Kebo Kanigara maksudmu?”
“Ya Panembahan?”
“Bagaimana mungkin anak itu hilang?”
“Widuri hilang karena pokal Karang Tunggal. Tegasnya Widuri diculik oleh Karang Tunggal itu.”
Tampaklah wajah Panembahan Ismaya itu berubah. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bergumam.
“Anak itu tidak juga menjadi jera.”
Mahesa Jenar itu pun segera menceriterakan serba singkat apa yang diketahuinya tentang hilangnya Widuri. Dan akhirnya ia berkata,
“Panembahan, apakah kemungkinan pertumpahan darah itu tidak akan dapat dihindari?”
PANEMBAHAN Ismaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya perlahan-lahan,
“Kenapa Sultan Trenggana itu tidak saja menghendaki gadis yang lain?”
Sekali lagi Panembahan terkejut. Sekali lagi dengan tergopoh-gopoh ditemui Mahesa Jenar. Katanya,
“Kenapa angger sedemikian tergesa-gesa?”
“Panembahan,” sahut Mahesa Jenar.
“Sudah aku katakan, bahwa kedatanganku membawa persoalan yang perlu segera aku sampaikan kepada Panembahan, Banyubiru sekarang sedang mempersiapkan perang.”
“Perang,” Panembahan itu terkejut sekali, sehingga sesaat ia berdiam diri memandangi Mahesa Jenar dengan tanpa berkedip.
“Ya” sahut Mahesa Jenar.
“Apakah Panembahan belum mendengar bahwa Widuri telah hilang?”
“Oh,” Panembahan itu semakin terkejut.
“Widuri anak Kebo Kanigara maksudmu?”
“Ya Panembahan?”
“Bagaimana mungkin anak itu hilang?”
“Widuri hilang karena pokal Karang Tunggal. Tegasnya Widuri diculik oleh Karang Tunggal itu.”
Tampaklah wajah Panembahan Ismaya itu berubah. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bergumam.
“Anak itu tidak juga menjadi jera.”
Mahesa Jenar itu pun segera menceriterakan serba singkat apa yang diketahuinya tentang hilangnya Widuri. Dan akhirnya ia berkata,
“Panembahan, apakah kemungkinan pertumpahan darah itu tidak akan dapat dihindari?”
PANEMBAHAN Ismaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya perlahan-lahan,
“Kenapa Sultan Trenggana itu tidak saja menghendaki gadis yang lain?”
Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin heran mendengar tanggapan Panembahan Ismaya itu. Panembahan Ismaya sama sekali tidak menyesalkan tindakan Karebet atau ketergesa-gesaan Kebo Kanigara, tetapi yang mula-mula disesalkan adalah Sultan Trenggana.
Quote:
Apalagi ketika Panembahan itu berkata,
“Adalah wajar sekali kalau Kebo Kanigara menjadi marah.”
“Tetapi kemarahan kakang Kebo Kanigara berlebih-lebihan Panembahan. Apakah kakang Kebo Kanigara tidak dapat mengambil cara lain, sehingga pertumpahan darah itu tidak terjadi. Arya Salaka yang merasa kehilangan pula, mungkin akan dapat reda, apabila Kakang Kebo Kanigara mencoba menempuh cara yang lain.”
Panembahan Ismaya mengerutkan keningnya. Sekali lagi jawabnya mengejutkan Mahesa Jenar.
“Mungkin Kebo Kanigara dan Arya Salaka memperhitungkan juga harga diri mereka, sehingga mereka tidak akan dapat datang kepada Trenggana dan mohon belas kasihan kepada Sultan itu.”
“Adalah wajar sekali kalau Kebo Kanigara menjadi marah.”
“Tetapi kemarahan kakang Kebo Kanigara berlebih-lebihan Panembahan. Apakah kakang Kebo Kanigara tidak dapat mengambil cara lain, sehingga pertumpahan darah itu tidak terjadi. Arya Salaka yang merasa kehilangan pula, mungkin akan dapat reda, apabila Kakang Kebo Kanigara mencoba menempuh cara yang lain.”
Panembahan Ismaya mengerutkan keningnya. Sekali lagi jawabnya mengejutkan Mahesa Jenar.
“Mungkin Kebo Kanigara dan Arya Salaka memperhitungkan juga harga diri mereka, sehingga mereka tidak akan dapat datang kepada Trenggana dan mohon belas kasihan kepada Sultan itu.”
Mahesa Jenar kini benar-benar menjadi bingung. Apakah dirinya sendirilah yang kini telah kehilangan kejantanannya sehingga ia memandang persoalan itu sebagai persoalan yang harus diselesaikan tanpa pertumpahan darah? Ataukah karena ia sudah terdorong kepada suatu keinginan untuk berumah tangga, sehingga penyelesaian yang diangankannya itu benar-benar sebagai suatu tindakan yang terlalu lemah dan bahkan telah mengorbankan harga dirinya?
“Apakah aku telah berubah?” pertanyaan itu timbul didalam hatinya. Meskipun demikian maka ia mencoba berkata pula.
Quote:
“Panembahan, mungkin kakang Kebo Kanigara tidak mau mengorbankan harga dirinya, mungkin pula karena sebab-sebab lain, sebab-sebab yang tidak dapat aku mengerti. Tetapi bagaimanakah kalau permohonan itu dilakukan oleh orang lain? Oleh Panembahan misalnya. Bahkan Pangeran Buntara masih juga mempunyai sangkut paut yang dekat dengan Sultan Trenggana?”
“Jangan sebut nama itu lagi Mahesa Jenar,” sahut Panembahan itu.
“Pangeran Buntara telah tidak ada lagi. Yang ada sekarang Panembahan Ismaya.”
“Apakah Pasingsingan yang sakti juga tidak dapat berbuat sesuatu untuk meredakan pertentangan ini? Misalnya dengan mengambil Karebet dan dengan pengaruhnya memaksa Karebet menyerahkan Widuri kembali?”
“Dengan demikian soalnya juga tidak akan selesai, Mahesa Jenar. Seandainya Karebet dapat menyerahkan Widuri kembali, sedang Sultan Trenggana masih menghendakinya, maka kau juga akan dapat membayangkan akibatnya.”
“Jangan sebut nama itu lagi Mahesa Jenar,” sahut Panembahan itu.
“Pangeran Buntara telah tidak ada lagi. Yang ada sekarang Panembahan Ismaya.”
“Apakah Pasingsingan yang sakti juga tidak dapat berbuat sesuatu untuk meredakan pertentangan ini? Misalnya dengan mengambil Karebet dan dengan pengaruhnya memaksa Karebet menyerahkan Widuri kembali?”
“Dengan demikian soalnya juga tidak akan selesai, Mahesa Jenar. Seandainya Karebet dapat menyerahkan Widuri kembali, sedang Sultan Trenggana masih menghendakinya, maka kau juga akan dapat membayangkan akibatnya.”
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar tidak dapat mengerti keadaan itu. Hampir saja Mahesa Jenar melihat kesalahan itu pada dirinya sendiri. Pada keruntuhan yang dialami.
Hampir-hampir ia mengambil kesimpulan, bahwa ia tidak dapat mengerti sikap Kebo Kanigara dan Arya Salaka karena ia telah kehilangan kejantanannya. Namun berkali-kali terngiang di dalam hatinya.
Quote:
“Tidak. Aku tidak akan membiarkan pertumpahan darah itu terjadi.”
Karena itu maka tiba-tiba Mahesa Jenar itu memberanikan diri berkata,
“Panembahan. Baiklah aku mencoba sekali lagi. Kalau kakang Kebo Kanigara dan Panembahan ternyata berpendapat bahwa Sultan Trenggana yang bersalah, karena menghendaki Endang Widuri itu, maka biarlah aku mencoba. Aku ingin menghadapkan Sultan Trenggana pada suatu pilihan. Mudah-mudahan dengan demikian terhindarlah segala bencana.”
“Apakah yang akan kau lakukan?” bertanya Panembahan Ismaya.
“Panembahan,” berkata Mahesa Jenar kemudian dengan takzimnya.
“Bukan maksudku untuk menjual jasa. Baik kepada Sultan Trenggana maupun kepada siapa pun juga. Maafkan aku, kalau ternyata kemudian tidak berkenan di hati Panembahan. Aku ingin menghadapkan Sultan Trenggana kepada suatu pilihan. Keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten yang sampai sekarang belum kembali ke istana, atau Endang Widuri.”
“Mahesa Jenar,” potong Panembahan Ismaya.
Karena itu maka tiba-tiba Mahesa Jenar itu memberanikan diri berkata,
“Panembahan. Baiklah aku mencoba sekali lagi. Kalau kakang Kebo Kanigara dan Panembahan ternyata berpendapat bahwa Sultan Trenggana yang bersalah, karena menghendaki Endang Widuri itu, maka biarlah aku mencoba. Aku ingin menghadapkan Sultan Trenggana pada suatu pilihan. Mudah-mudahan dengan demikian terhindarlah segala bencana.”
“Apakah yang akan kau lakukan?” bertanya Panembahan Ismaya.
“Panembahan,” berkata Mahesa Jenar kemudian dengan takzimnya.
“Bukan maksudku untuk menjual jasa. Baik kepada Sultan Trenggana maupun kepada siapa pun juga. Maafkan aku, kalau ternyata kemudian tidak berkenan di hati Panembahan. Aku ingin menghadapkan Sultan Trenggana kepada suatu pilihan. Keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten yang sampai sekarang belum kembali ke istana, atau Endang Widuri.”
“Mahesa Jenar,” potong Panembahan Ismaya.
Wajahnya sesaat menjadi tegang. Namun kemudian wajah itu menjadi tenang kembali.
Perlahan-lahan Panembahan itu berkata,
Quote:
“Apakah maksudmu?”
“Panembahan. Kalau berkenan di hati Panembahan, maka apakah Panembahan sendiri, apakah kakang Kebo Kanigara apakah Arya Salaka, biarlah salah seorang daripadanya menghadap Sultan, memohon untuk menukar Endang Widuri dengan pusaka-pusaka itu.”
“Mahesa Jenar,” berkata Panembahan.
“Kedua pusaka itu adalah hakmu. Biarlah kau miliki hak itu. Kau akan mendapat tempat tersendiri dengan mengembalikan keris-keris itu ke istana. Kalau keris-keris itu diserahkan untuk keperluan yang lain, maka kau akan kehilangan hak itu. Keris itu akan kembali, dan Endang Widuri akan kembali pula. Seakan-akan telah terjadi jual beli di antara mereka, sehingga usahamu selama ini akan tidak mendapat penghargaan apapun juga. Sebab tukar menukar itu telah berlangsung.”
“Panembahan. Kalau berkenan di hati Panembahan, maka apakah Panembahan sendiri, apakah kakang Kebo Kanigara apakah Arya Salaka, biarlah salah seorang daripadanya menghadap Sultan, memohon untuk menukar Endang Widuri dengan pusaka-pusaka itu.”
“Mahesa Jenar,” berkata Panembahan.
“Kedua pusaka itu adalah hakmu. Biarlah kau miliki hak itu. Kau akan mendapat tempat tersendiri dengan mengembalikan keris-keris itu ke istana. Kalau keris-keris itu diserahkan untuk keperluan yang lain, maka kau akan kehilangan hak itu. Keris itu akan kembali, dan Endang Widuri akan kembali pula. Seakan-akan telah terjadi jual beli di antara mereka, sehingga usahamu selama ini akan tidak mendapat penghargaan apapun juga. Sebab tukar menukar itu telah berlangsung.”
fakhrie... dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas