Chapter 14
Quote:
Sebuah mobil mini van berwarna hitam melaju sangat kencang, didalamnya terdapat orang-orang berpakaian rapih berjas serba hitam. Masing-masing memasang muka yang serius, mereka adalah BASS sektor 10. Tim yang berangkat malam ini terdiri dari 4 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Semuanya bersiap untuk melawan Beaters yang memberikan sinyal kuat yang tak lain dan tak bukan adalah Allison, seorang Beaters Black Clan.
Di lain tempat, dua mobil juga sedang berangkat ke arah daerah perbukitan. Mobil BASS sektor 13 dan juga Sterling yang mengajak Lio untuk mencari Djohan.
“Ehhh senior, kenapa kita naik mobilnya tuan Stam? Bisa lebih cepat jika kita menggunakan kekuatan bukan?” tanya Lio mengeluh.
“Bukannya kita sedang memakai kekuatan untuk mencari Djohan?” balas Sterling
“Arghhh bukan itu…..,” mobilnya pun terus melaju.
Sementara itu, kondisi Djohan sungguh memprihatinkan. Tangan kanannya yang sudah menjadi bentuk Beaters mengeluarkan banyak darah, luka sayatan di mana-mana. Keadaan tidak jauh berbeda ditunjukan di sekujur tubuhnya, penuh luka.
“Hei! Ayo tunjukan lagi! hanya ini saja hah kemampuanmu?!” Allison berdiri tegak.
“Sial! semua seranganku tidak ada yang menembusnya! Apa aku bisa membunuhnya?”
Memang sebagai monster Beaters semua luka yang didapat akan cepat tertutup kembali, namun jika diserang secara bertubi-tubi maka luka yang seharusnya disembuhkan malah akan menambah kerusakannya. Djohan menunggu luka-luka ditangannya pulih, walaupun tidak sampai 100%, asalkan tangan Beaters nya itu bisa digerakan maka semuanya cukup.
“Eh? Apa yang coba ia lakukan?” Djohan menatap Allison yang mulai melakukan pergerakan, ia berjalan pelan, namun ke arah lain.
“Aku bosan, dia sangat lemah ternyata. Jika aku membunuhnya langsung maka denyutan Beaters di dalam tubuhku akan lebih gila, sudah alamiah jika denyutan Beaters itu hilang ketika berhasil membunuh Beaters yang lebih kuat yang menjadi sumber denyutan gila ini,” Allison tepat di samping mayat-mayat orang yang sebelumnya ia bunuh.
Tangannya meraih salah satu mayat, ia memegang ujung kakinya. Allison bergerak, tangannya diayunkan ke atas. Ia berniat melemparkan mayat itu ke arah Djohan.
“Apa?” satu mayat meluncur cepat kearahnya. Beruntungnya serangan itu meleset, mayat itu menghantam tembok pagar dan seketika hancur menjadi beberapa bagian.
Lemparan Allison masih menyisakan anggota tubuh dari mayat itu, salah satu kakinya masih berada ditangannya. “Hmm, sepertinya aku melemparnya terlalu keras, sehingga kakinya terputus dari badannya…,” Allison berjalan lagi mencari mayat.
“Hentikan!” teriak Djohan.
“Apa pedulimu? Mayat-mayat ini nantinya juga akan dimusnahkan oleh teman manusiamu itu, sudahlah…,” Allison mengambilnya lagi dan melemparnya, kali ini Djohan bisa menghindar. “ah…lukamu sudah berangsur pulih, kalau begitu….,” Allison mulai menyerang Djohan secara membabi buta melempar mayat-mayat.
Sebagian ada yang mengenai Djohan, membuat tubuhnya berlumuran darah dari para mayat ini.
Mobil mini van berwarna hitam sudah semakin dekat, dari jarak ini rumah besar di atas bukit sudah terlihat jelas.
“Ingat kalian semua, musuh kita kali ini memberikan sinyal yang dahsyat. Berarti monster di sana sangatlah kuat, jadi tetaplah waspada dan jangan lupa kerjasama tim kita, kalian mengerti?” ucap ketua tim sektor 10.
“SIAP!!!” balas anggota timnya.
Jalanan menanjak yang sepi membuat laju mobil semakin cepat, lama-kelamaan seluruh bangunan sudah terlihat, termasuk pagar besi yang terbuka. Mobil mini van berwarna hitam itu melesat masuk, sedikit tidak mulus karena sayangnya mobil mini van itu melindas mayat-mayat yang berserakan. Pemandangan yang sangat mengerikan.
Satu-persatu anggota sektor 10 keluar lengkap dengan persenjataan dengan daya hancur berat, kecuali satu perempuan yang masih di dalam bersama laptopnya. Sebuah kamera lalu keluar dari atap mobil, menyoroti semua yang ada didepannya. Memberikan gambaran kepada perempuan di dalam mobil, alat itu mendeteksi dua Beaters.
“Kapten! Beaters yang memberikan sinyal kuat itu ternyata Beaters berwarna hitam dari Black Clan!” ucap perempuan itu yang suaranya terkirimkan lewat alat komunikasi yang mereka semua pasang di telinga masing-masing.
“Begitu kah? Baiklah kali ini lawan kita salah satu Beaters dari royal clan sama seperti Silver Beaters kawan tim sektor 13….,” sambungannya terinterupsi oleh perempuan di dalam mobil.
“Mengenai itu…saya mendeteksi satu lagi Beaters, dan dia dari Silver Clan.”
“Hmm..ada apa dengan mereka para Royal Clan? Bukannya…ah pasti tim sektor 13 akan segera tiba, untuk itu semua! Kita harus musnahkan Black Beaters itu sebelum tim sektor 13 datang!”
“YA!!!” sahut semangat tim sektor 10.