- Beranda
- Stories from the Heart
KALAGENDA | RITUAL
...
TS
re.dear
KALAGENDA | RITUAL
Mohon maaf bagi yang sudah menunggu terlalu lama🙏
Kami ucapkan terimakasih banyak atas kesabarannya yang luar biasa.
Kalagenda telah kembali, semoga masih cukup menarik untuk disimak.
Konten Sensitif
"Sejatinya tidak ada ilmu hitam dan ilmu putih, ilmu tetaplah ilmu. Yang ada hanyalah pelakunya menapaki jalan yang mana."
Spoiler for SEASON 1 SAJEN:
Chapter: Sajen
adalah chapter pembuka dari kisah ini. Seperti ritual, sesajen dibutuhkan sebagai syarat utama.Kisah yang menceritakan persinggungan dengan seorang dukun sakti yang dipanggil Ki Kala. Seorang pelaku ilmu hitam yang sanggup memenuhi setiap permintaan. Tentu dengan bayaran nyawa.
Akankah kami dapat bertahan?
Spoiler for TOKOH UTAMA:
Kang Adul Ojol
Seorang pengemudi ojek online berumur 40tahunan. Seorang bapak dengan 2 anak yang selalu mengutamakan keluarga. Kesialan yang dirinya atau rekan-rekannya alami membawa sisi yang jarang diekspos dari pekerjaan ojek online.
Mang Ian Warung
Perantau 27tahun dari kampung yang masih betah dalam status lajang ini mengelola sebuah warung yang berlokasi disebuah pertigaan angker.
Bang Herul Akik
Mantan satpam berumur 35 tahunan dari beberapa perusahaan. Seorang bapak dengan 1 anak yang selalu penasaran dengan hal mistis. Pun kejadian sial yang ia alami membuatnya terjun ke dunia batu akik untuk menyambung hidup.
Teh Yuyun
Wanita berumur 50 tahun lebih yang menolak tua. Mempunyai 2 anak tanpa cucu. Siapa sangka dibalik sikapnya yang serampangan, ia adalah sosok yang mempunyai ilmu kebatinan.
INDEX:
1.1.Kang Adul Ojol: Resto Fiktif
1.2.Mang Ian Warung: Singkong Bakar
1.3.Bang Herul Akik: Lembur
1.4.Teh Yuyun: Pesugihan Janin
===============================
Mitaku Malang, Mitaku Kenang
1.5.Mang Ian Warung: Kupu-Kupu Malam
1.6.Kang Adul Ojol: "Offline aja mbak."
1.7.Teh Yuyun: Susuk Nyai
===============================
1.8.Bang Herul Akik: Cici Cantik
1.9.Kang Adul Ojol: Ayu Ting Ting
1.10.Bang Herul Akik: Mess Sial
===============================
Kala Bermula
1.11.Kang Adul Ojol: Harum
1.12.Kang Adul Ojol: Cicak
1.13.Teh Yuyun: Akhir Awal
===============================
1.14.Mang Ian Warung; Bayawak
1.15.Bang Herul Akik: Pabrik Tekstil [I]
1.16. Bang Herul Akik: Pabrik Tekstil [II]
1.17. Bang Herul Akik: Pabrik Tekstil [III]
===============================
KONFRONTASI
1.18. Teh Yuyun: Tumbal
1.19. Teh Yuyun: Kunjungan
1.20. Teh Yuyun: Getih Laris
===============================
1.21. Kang Adul Ojol: Petaka Hamil Tua
1.22. Mang Ian Warung: Puputon [I]
1.23. Mang Ian Warung: Puputon [II]
1.24. Mang Ian Warung: Puputon [III]
===============================
BAHLA
1.25. Teh Yuyun: Rega [I]
1.26. Teh Yuyun: Rega [II]
1.27. Teh Yuyun: Rega [III]
===============================
1.28. Mang Ian Warung: Panon
1.29. Bang Herul Akik; No.19
TALAMBONG JARIAN
1.30. Citraghati [I]
1.31. Citraghati [II]
1.32. Citraghati [III]
1.33. Dalak Natih [I]
1.34. Dalak Natih [II]
1.35. Purwayiksa [I]
1.36. Purwayiksa [II]
1.37. Purwayiksa [III]
1.38.
=====SARANANDANG=====
1.39. Kara
1.40. Vijaya (I)
1.41. Vijaya (II)
1.42. Vijaya (III)
1.43. Kusuma Han (I)
1.44. Kusuma Han (II)
1.45. Sang Bakul (I)
1.46. Sang Bakul (II)
1.47. Pathilaga
1.48. Hieum
1.49. EPILOG SEASON 1
Chapter: MANTRA
Setelah kisah pembuka dari kengerian seorang dukun, seluk-beluk, latar belakang, & segala yang melengkapi kekejamannya usai lengkap. Penulis kembali meneruskan kisah horornya.
Sebab tatkala persiapan sesajen telah memenuhi syarat, kini saatnya mantra tergurat.
Cara apa lagi yang akan digunakan untuk melawan Ki Kala?
Siapa lagi korban yang berhasil selamat dari kekejaman ilmu hitamnya?
Bagaimana perlawanan sang tokoh utama dalam menghadapi Ki Kala?
Akankah kali ini kami berhasil?
Spoiler for TOKOH UTAMA:
DINDA
Penerus sekaligus anak perempuan dari Nyi Cadas Pura alias Teh Yuyun di chapter sebelumnya. Usianya belumlah genap 30 tahun, namun ilmu yang ia kuasai hampir setara dengan milik ibunya.
RATIH
Seorang (mantan) Pelayan rumah dari keluarga besar Han yang sudah binasa. Manis namun keji, adalah gambaran singkat mengenai gadis yang baru berusia 25 tahun ini.
IMAM
Seorang mahasiswa di salahsatu kampus yang tak jauh dari tempat Dinda tinggal. Seorang keturunan dari dukun santet sakti di masa lalu. Meski ia menolak, namun para 'penunggu' ilmu leluhurnya kerap kali menganggu.
~~oOo~~
Penerus sekaligus anak perempuan dari Nyi Cadas Pura alias Teh Yuyun di chapter sebelumnya. Usianya belumlah genap 30 tahun, namun ilmu yang ia kuasai hampir setara dengan milik ibunya.
RATIH
Seorang (mantan) Pelayan rumah dari keluarga besar Han yang sudah binasa. Manis namun keji, adalah gambaran singkat mengenai gadis yang baru berusia 25 tahun ini.
IMAM
Seorang mahasiswa di salahsatu kampus yang tak jauh dari tempat Dinda tinggal. Seorang keturunan dari dukun santet sakti di masa lalu. Meski ia menolak, namun para 'penunggu' ilmu leluhurnya kerap kali menganggu.
~~oOo~~
INDEX
2.1. Prolog Mantra
2.2. Asih
2.3. Delman
2.4. Kaki Kiri
Santet
2.5. Tideuha Murak Pawon [I]
2.6. Tideuha Murak Pawon [II]
2.7. Bebegig
2.8. Mancing
Babak Pertama Pangkur
2.9. Tepak Hiji
2.10. Tepak Dua
2.11. Tepak Tilu
2.12. The Artefact
2.13. Pangkur: Maludra
2.14. Pangkur: Maludra (2)
2.15. Pangkur: Durma
2.16. The Unexpected One
2.17. Sastra Jingga
2.18. Socakaca
2.19. Calung Durma
2.20. Hanaca Raka
2.21. Hanaca Rayi
2.22. Sarangka Leungit
2.23. Mega Ceurik
2.24. Lumayung Mendung
2.25. Pangkur: Juru Demung (I)
2.26. pangkur: Juru Demung (II)
2.27. Aksara Pura
2.28. Tarung Aksara
2.29. Adinda Adjining Sanggah
2.30. Teh Tawar
2.31. Fleuron: Back Stage
Antawirya
2.32. Para Jaga Loka
2.33. Adarakisa
2.34. Niskala Eka Chakra
2.35. Rengga Wirahma
2.36. Astacala
2.37. Cantaka
2.38. Léngkah Kadua
~oOo~
2.39. Pelatihan Neraka
2.40. Anyaranta
Quote:
WARNING!!
Cerita ini mempunyai komposisi sebagai berikut:
> 70% FIKSI
> 25% GOOGLING
> 4% NANYA ORANG
> 0,9% KEBOHONGAN MURNI
> 0,1% KENYATAAN YANG MASIH DIRAGUKAN KEBENARANNYA
Dengan demikian, penulis harap kebijaksanaannya. Apabila terjadi kesamaan dalam penokohan, alur, latar belakang, artinya hanya ada 3 kemungkinan:
1. Kejadian itu kebetulan benar terjadi.
2. Pengalaman agan mainstream.
3. Karya saya yang terlalu biasa.
Happy reading!
Jangan lupa cendol & rating bintang lima nya ya!


Jangan lupa cendol & rating bintang lima nya ya!


Spoiler for REFERENSI::
Diubah oleh re.dear 01-07-2021 00:18
arieaduh dan 74 lainnya memberi reputasi
65
95.4K
Kutip
2.3K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
re.dear
#217
TALAMBONG JARIAN:
CITRAGHATI (I)
CITRAGHATI (I)

Setiap sesuatu yang diraih, tentu harus ada sesuatu yang dikorbankan. Hukum alam yang tidak tertulis, terpatuhi tanpa terkecuali.
Hanya saja, terkadang imbas dari semuanya ditanggung oleh satu korban. Tumbal hidup yang abadi, menjadi wadah tempat semua konsekuensi berkumpul. Membiarkan yang lain berjaya, dan dirinya jatuh dalam kenistaan tanpa dasar.
Quote:
Jika dibandingkan dengan keluarga inti, posisiku adalah orang luar. Lahir dari wanita pramuria yang kebetulan orang yang kupanggil ayahanda adalah seseorang yang berasal dari keluarga elit, hanya membuat hidupku tak jauh berbeda dari neraka.
Saat aku masih berusia sepuluh tahun. Aku masih ingat perdebatan antara ibu dan keluarga bajingan itu.
"Darahnya masihlah darah keluarga Han, dia tak bisa pergi begitu saja."
Kakek tua yang memakai pakaian serba putih memimpin jalannya persidangan ini.
"Memang apa masalahnya jika dia pergi ayah? Dia tidak melakukan kontrak apapun dengan eyang putri. Dia sama saja dengan sampah!"
Seorang wanita dengan dandanan yang mencolok berkata lebih keras.
"Tapi perjanjian dengan Ki Kala mengikat seluruh keturunan ini, Teh. Posisinya pun kuat, dia juga tak bisa dijadikan 'sang bakul' pilihan yang tersedia hanyalah menerimanya."
Seorang bapak dengan kepala botak berkata dengan tenang.
"Ck sialan! Andai saja si dungu Praga tidak bermain dengan lacur sialan itu, kita tidak akan mengalami hal memuakkan seperti ini."
Wanita menor itu menyindir ibu, padahal kami berada di ruangan yang sama. Hanya saja, kami dan si bajingan Praga berdiri, sisanya duduk. Kami sedang diadili.
"Sudah diputuskan! Praga dan keluarga keduanya akan tinggal di bangunan Katilu sementara keluarga pertamanya akan tinggal di bangunan utama bersama kita."
Kakek tua menyatakan keputusan akhir dari sidang ini.
Jangan tanya mengenai pendapat kami, kami tidak diperbolehkan bicara selama sidang berlangsung. Hanya keluarga inti yang berjumlah 4 orang yang berhak. Sementara 'sang bakul' suaranya tidak dihitung.
"Mulai sekarang nama bocah itu adalah Kusuma, Kusuma Han. Ingat itu."
Kakek tua memberiku nama baru, nama yang kupastikan akan membawa bencana pada keluarga sialan ini.
Dimulailah kehidupanku yang seperti neraka di keluarga ini.
Setelah aku tinggal selama beberapa Minggu, aku mulai menghapal setiap anggota keluarga ini.
Kakek tua pemimpin bernama Taruban, dia sering dipanggil 'aki' oleh yang lain.
Anak perempuan pertamanya yang menjadi 'sang bakul', Sakarthi.
Wanita menor yang selalu bicara pedas, Citrani.
Paman botak dengan sikap tenang, Wikar.
Terakhir, bajingan yang dipanggil ayahanda, Praga.
Masing-masing dari mereka mempunyai satu anak, kecuali 'sang bakul' yang tidak menikah, dan bajingan Praga yang mempunyai 2 istri dan 2 anak termasuk aku.
Sari anak dari si jalang Citrani.
Arga anak dari Paman Wikar.
Rima, saudari tiriku.
Yang sering terlihat hanyalah anggota keluarga inti dan anak-anak mereka, sementara pasangannya tinggal di bangunan 'Kadua' dan jarang sekali terlihat.
Keluargaku tinggal di bangunan Katilu yang dikhususkan untuk para pembantu yang berjumlah 10 orang.
Setiap harinya aku melalui penderitaan yang berbeda dari anak-anak keluarga Han. Dimulai dari yang paling ringan, membakar bajuku yang sedang dijemur, menaburi makananku dengan kotoran, bahkan pernah sekali dengan racun tikus yang membuatku sesak nafas, melempariku dengan kerikil setiap kali kami berpapasan, hingga yang paling parah dan membuatku dihukum.
Suatu hari, aku sedang berteduh di sekitar bangunan Katilu. Aku baru selesai mengambil air untuk ibu mencuci. Tiba-tiba sebuah telur busuk terlempar dan mengenai kepalaku.
"Hei! Bukankah ini saudaramu? Hahaha!"
Ternyata Sari yang melempar.
"Cih, dia anak haram dari keluarga ini. Untuk apa aku mengakuinya?"
Rima menimpali sambil melemparku dengan batu kerikil.
Aku melindungi kepalaku dengan rasa kesal yang masih kutahan, posisiku lebih rendah dari mereka.
"Hei para gadis! sebaiknya kalian berbalik."
Arga tiba-tiba datang ke sebelahku, ia membuka celananya dan mengencingi kepalaku dihadapan Sari dan Rima.
"Awwww...hahaha"
Mereka menutup mata dan berbalik.
Tak dapat kutahan lagi kesabaranku habis sudah, aku mencengkram alat kelamin Arga dan menariknya dengan kencang hingga ia ambruk.
"Ah!! Sialan! Anak ini..."
Arga berteriak dan sebelum ia dapat menyelesaikan kalimatnya, mulutnya aku sumpal dengan batu sebesar genggaman tangan.
Aku menekan pundaknya dengan lututku, sehingga dia hanya meronta tak mampu melawan. Sementara tanganku masih berada di mulutnya, menyumpal.
"Lakukan sekali lagi, sepupu."
Aku berbisik padanya sambil memukul belakang kepalanya dengan tangan kiri.
Merasa kurang kuat,
Kulepaskan tangan kananku yang sedang menyumpalnya, dan menarik rambutnya.
Tangan Arga berusaha melepaskan batu di mulutnya, aku menarik kepalanya.
"Hmm..ghmm."
Arga meronta.
"Apa? Apa yang mau kau bicarakan?"
Kutarik kepalanya ke belakang, lalu kuhantam ke tanah dengan keras.
Dahinya mulai berdarah.
Arga masih sadar.
"Lagi?"
Aku lakukan sekali lagi.
'brukk..bruk..brukk'
"Dungu! Apa kau tahu apa yang sedang kau lakukan?!"
Sari dan Rima berbalik dan melihatku sedang menghantamkan kepala Arga berkali-kali.
"Tunggu sebentar nona muda, giliran kalian akan tiba. Tolong biarkan aku menyelesaikan yang satu ini."
'bruk...bruk..bruk..'
Lalu Arga tak sadarkan diri, dahinya mengeluarkan darah cukup deras.
Aku berdiri menghadapi Sari dan Rima yang kakinya sedang gemetaran.
"Sa..sadar diri sampah! Ka..kau adalah orang luar!"
Rima menujukku, ia sedang mengagungkan posisinya.
"Lihat sampai ibuku tahu, kau akan habis!"
Sari mengancam sambil menarik lengan Rima pergi.
Saat mereka berbalik untuk kabur, aku segera berlari sekuat tenaga, mendekati mereka dan menjambak rambut keduanya.
"Hmm..Siapa bilang mainnya sudah selesai para nona?"
Aku membisiki telinga keduanya.
Lalu menarik kepala mereka ke bawah sekaligus dengan cepat, mereka ambruk ke belakang. Saat posisi mereka sedang terlentang, aku melompat berdiri menginjakkan kedua kakiku di leher mereka.
Kaki kanan di leher Rima,
Kaki kiri di leher Sari.
"Sampai mana kita tadi?"
Aku menekan leher mereka, mencekiknya dengan injakan kakiku.
"Ack..eugh.."
Sari berusaha melepaskan kakiku.
Tak beda jauh dengan Rima yang meronta.
"Ah iya sampai situ ya?"
Kulepaskan celanaku, menghela nafas lalu mengencingi wajah mereka bergantian.
"Ahh..tolong kepalanya jangan bergerak, nanti airnya gak keminum kan?"
Aku berusaha membuat mereka meminum air kencingku.
'BUGH!'
Sebuah tendangan mendarat keras tepat di rusukku membuatku jatuh tersungkur ke arah samping.
"Bajingan gila! Kau tahu apa yang sedang kau lakukan?!"
Rupanya si jalang Citrani.
Ia lalu menindihku dan menampar wajahku berkali-kali.
Aku berusaha menutupinya dengan lenganku.
Aku berusaha meronta melepaskan diri, namun sayang berat badannya benar-benar membuatku tak dapat bergerak.
"Ck! Kau akan mati bocah!"
Setelah berkata seperti itu, ia melepaskan sarung tangan kulit yang selalu ia pakai, melakukan gerakan seperti cakaran, dan menghunuskan kukunya berkali-kali, aku menutupi wajahku menahan serangan-serangan itu dengan menyilangkan lenganku.
Luka yang ditimbulkannya dangkal, sama sekali tidak dalam. Lebih mirip goresan. Namun setiap kali ia mencakar rasanya panas, dan tubuhku lemas membuat kesadaranku perlahan pudar.
Saat kedua lenganku ambruk karena lemas dan tak dapat menahan serangannya lagi, ia mencekikku dengan kuat.
"Rega! Kemari!"
Ia memanggil seseorang.
Mungkin perasaanku, tapi mendung seketika menggelayuti langit sore itu.
'srak..srak..srak...hisss...'
Samar kudengar ada sesuatu yang merayap diatas rerumputan. Ia mendesis?
Apa itu ular?
Benar saja,
Ular sebesar pohon kelapa dengan corak oranye, putih, dan hijau menempatkan tubuhnya mengelilingiku yang sedang ditindih.
Saat kepalanya mencuat dibalik punggung Citrani, aku bukan melihat kepala ular.
Itu kepala manusia!
Kepala wanita tua, kepala nenek-nenek!
Rambut uban putihnya yang panjang menggantung, matanya mirip mata ular begitupun dengan lidahnya yang bercabang.
Ia membuka mulutnya sangat lebar hingga seukuran kepalaku.
"Dia makananmu hari ini."
Si jalang Citrani memerintahkannya untuk melahapku.
Aku akan mati.
Tapi dendamku harus hidup, aku tak ingin menyerah, aku masih berusaha untuk melepaskan diri apapun caranya. Meski tubuhku lemas, aku meronta dengan sekuat tenaga yang tersisa.
Tepat saat mulutnya berada diatas kepalaku, tepat saat ia bersiap melahapku bulat-bulat.
Kepala Citrani dijambak dan diangkat keatas oleh sebuah tangan. Ular itu ditendang oleh pemilik tangan itu hingga terpental.
Saat kulihat itu siapa,
Ternyata ia adalah sang bakul, Sakarthi.
Ia memakai kebaya kuning lusuh dengan robekan disana-sini, wajahnya kotor, rambutnya acak-acakan.
"HEHEHE...MAKANAN ADA MAKANAN.."
Suaranya berat, seperti suara laki-laki, ia melihat Citrani dan menjilati lehernya.
Sementara Citrani memegang lengan Sakarthi berusaha melepaskan diri.
"Apa aku akan sakit perut jika memakannya?"
Kini suaranya mirip suara wanita muda.
"AYO BAKARAN AYO! AYO AYO AYOOO!!"
Suara kali ini mirip suara laki-laki remaja.
Siapa sang bakul ini?
"Hey!! Lepaskan!!"
Sial, jalang yang beruntung. Aki datang menengahi.
"AHH...tuan tiba..mari pergi..pergi pergi.."
Suaranya bercampur di setiap kata yang ia ucapkan.
Sakarthi melepaskan Citrani, melemparkan tubuhnya ke arah Aki dan jatuh terjembab tepat didepan Aki.
Ia lalu berjalan menghampiri ular itu, menjambak rambutnya dan menariknya pergi.
"Ayo ayo kita main Rega ayo ayo!"
Dengan perginya ia, langit perlahan cerah kembali.
Aki memeriksa keadaan Arga, Sari dan Rima.
"Kau akan diasingkan selama satu bulan di hutan Wetan, berusahalah untuk tetap hidup disana."
Aki menghukumku, dan itulah kata-kata yang kudengar sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaranku sepenuhnya.
~oOo~
Hutan Wetan, hutan yang berada di sebelah timur desa. Hutan perawan, karena masih banyak area yang belum terjamah. Tumbuhannya merambat rapat, sinar mataharipun sulit masuk mengakibatkan siang hari menjadi gelap, dan malam akan lebih dingin. Kau beruntung jika menemukan babi hutan, biawak atau ular, kau sial jika bertemu dengan harimau.
Aku terbangun di tengah hutan saat malam hari. Luka-luka yang didapat dari si jalang dibalut dengan kain dan baluran rempah-rempah. Disampingku, ada balutan kain batik berisi beras, garam, golok, korek api dan ikan asin kering.
Kudekap barang-barangku dan merangsek masuk ke sebuah lubang dari pohon di belakangku.
Aku akan membunuh setiap anggota dari keluarga Han!
Malam itu aku lalui dengan serapahku sendiri sebagai lagu pengantar tidur.
Hari berganti, siang hari di hutan Wetan terasa gerah. Aku mengumpulkan beberapa kayu bakar dan bambu, lalu memasak nasi dengan itu. Sementara ikan asin kubakar serampangan, baunya menguar.
"Ck...ck...ck... Matikan jika masih ingin hidup."
Suara seorang kakek-kakek terdengar dari belakangku.
Aku sontak menoleh, dan mendapati seorang kakek tua yang berdiri memakai celana hitam tanpa baju dengan tangan terlipat ke belakang.
"Bukan urusanmu kakek tua! Aku akan makan dan hidup lebih lama."
Tak kugubris dia, dan kembali mengunyah makananku.
Aku menyelesaikan makanku, sementara kakek itu masih berdiri disana. Ia seperti menunggu sesuatu. Matanya menatap jauh ke depan.
Saat ku tengah merapikan peralatanku, seekor babi hutan sebesar kambing muncul.
"Coba kau hidup setelah ini."
Ujar si kakek tua saat melihat babi hutan yang bersiap berlari ke arahku.
"Jika selamat, bantu aku menghabiskannya. Hehe."
Tentu aku percaya diri dengan kemampuanku.
Kakek tua hanya tersenyum sinis, aku mengeluarkan golok dan menghunuskannya ke depan.
Babi hutan itu berlari dengan kencang mendekat, nafasnya memburu, taringnya mencuat.
Aku pun demikian, berlari ke arahnya, saat jaraknya cukup, kujatuhkan diriku meluncur ke sampingnya dan menancapkan golok tepat di sekitar leher babi itu.
Meski harus menabrak pohon, dan luka lecet dimana-mana, nyatanya itu impas.
Tapi babi hutan belum tewas. Ia masih bisa berdiri meski darah menetes deras dari lehernya.
"Hahaha! Mana kesombonganmu tadi bocah?!"
Sial, kakek tua itu hanya mengejekku dari atas sana.
Senjataku masih tertancap, hanya sulur akar dari pohon yang bisa kuraih. Babi itu kini berlari lagi ke arahku dengan nafas memburu yang sama. Kurentangkan akar dan berlari ke arahnya.
Saat jaraknya cukup, kuberbelok, membuat akar tadi menyangkut di senjataku. Meski pahaku sempat terluka oleh taringnya, dengan susah payah kutarik hingga membuat golok itu terdorong ke belakang dan menyayat tubuh babi itu cukup dalam.
Kini ia terjatuh dan saat sedang berusaha bangkit, aku mengambil batu yang cukup besar dan menghantam kepalanya berkali-kali hingga ia mati.
"Makan siang kakek tua?"
Tanyaku dengan sombong.
"Sebelum itu lihat lukamu dulu bocah."
Ia benar, luka di pahaku cukup dalam.
Ia lalu melompat turun, memotong sebagian akar dan melilitkannya di pahaku agar darah tak menetes lebih banyak.
"Untuk saat ini cukup."
Ujarnya.
"Ternyata kau juga punya hati."
Aku berterimakasih padanya.
"Sekarang kuliti babi itu, aku lapar."
Katanya sambil mundur dan duduk di bawah pohon tempatku tidur semalam.
"Ah bajingan tua."
Umpatku padanya yang dibalas dengan senyuman tipis.
Saat memanggang, aku memikirkan si Praga. Bajingan yang menjadi ayahku itu. Jika bukan karena kehamilan ibuku diketahui olehnya dan dia memaksa kami untuk tinggal bersamanya, aku pasti takkan sengsara hingga harus bertahan hidup di hutan seperti ini. Hanya karena darahku mengalir darah Han, aku harus terjebak.
"Hasil pangganganmu boleh juga bocah. Mulai sekarang kau harus membuatanku makanan."
Kakek tua memujiku atau menyiksaku. Entah yang mana.
"Kau ingin membunuhku? Kau tidak lihat kondisi badanku? Imbalan apa yang bisa aku terima dari melayanimu? Cih, jangan membuat hidupku lebih sulit dasar tua bangka!"
Aku protes padanya.
"Hahaha! Kau benar-benar tak tahu siapa aku? Meski kau berasal dari keluarga Han?"
Dia tertawa terpingkal karena protesku.
"Bapakku ada seribu, hanya kebetulan saja salahsatunya berasal dari keluarga Han."
Jawabku acuh.
"Baik, baik, cukup melucunya. Aku bisa mati tertawa karenamu."
Si kakek meludahi tangannya, lalu mengusap ke seluruh luka di badanku.
"Ah jijik! Hentikan tua bangka!"
Aku berusaha menjauh tapi cengkraman tangannya menahanku.
"Selesai! Kini badanmu seperti baru."
Sejenak aku tak mengerti, tapi setelah aku melihat luka-lukaku, kesemuanya menutup dan meninggalkan bekas. Seolah lukaku sembuh karena waktu perawatan yang lama.
Aku terdiam setelah selesai memeriksa luka-lukaku.
"Kau tidak takjub?"
Pancing si kakek.
"Aku pernah melihat hal yang lebih tak masuk akal di kediaman Han. Siapa sebenarnya dirimu tua bangka?"
Aku penasaran terhadapnya. Jika dia bisa melakukan hal seperti ini seolah bukan apa-apa, maka nyawaku bisa terancam.
"Aku akan menjawab siapa aku setelah kau berhasil bertahan hidup dari sini. Bagaimana?"
Tawarnya.
"Ah syukurlah, harapanku hidup ternyata masih ada. Baiklah aku terima tawaranmu."
Ujarku dengan wajah yang lebih cerah.
"Harapan? Hahaha konsep yang bagus."
Lagi-lagi dia tertawa.
Satu minggu berlalu dengan damai di hutan ini. Aku bisa bertahan dengan baik. Kakek tua memberiku petunjuk dimana aku bisa tidur dengan lebih nyaman, mencari makanan yang lebih layak, dan daerah mana yang terdapat harimau.
Kakek itu akan datang dan pergi seenaknya. Tapi saat aku membuat makanan, dia pasti akan datang. Hanya itu yang aku tahu selama satu minggu ini.
Di Minggu kedua, sesuatu berubah.
"Sedih rasanya jika aku tidak mengajarkanmu sesuatu setelah memakan masakanmu setiap hari."
Tiba-tiba ia berkata seperti itu.
"Kau memberiku petunjuk agar tetap bertahan hidup disini, untukku sudah cukup. Aku tak ingin membuat hutang budi yang tidak perlu."
Jawabku seenaknya.
"Kau bocah yang menarik! Hahaha! Tidak tidak, apa yang aku beritahu hanyalah supaya kau tetap hidup dan dapat memasak untukku. Sekarang aku perlu membayarmu karena telah menyajikanku makanan."
Ah dia berbelit.
"Buat kata-kata itu mudah tua bangka!"
Kepalaku tak mampu mencerna.
"Hahaha! Kau lebih bodoh juga! Mulai sekarang jadilah muridku."
Lagi-lagi ia tertawa.
"Baiklah, asal kau tak membunuhku."
Balasku.
"Hmmmm... Jika kau mati, itu artinya kau lemah. Bukan salahku."
Kakek tua mengangkat bahu.
"Tua bangka bajingan."
Aku bergidik ngeri membayangkan metode apa yang akan dia pakai untuk mengajarkanku.
Bulan sabit melengkung terang, sinarnya temaram jatuh di hutan Wetan. Suara binatang malam sahut-sahutan menyanyikan kengerian dan perasaan horor aneh yang ganjil. Sebuah lahan seukuran 2 tombak persegi datar cukup sempurna untuk memulai latihan dengan kakek tua.
"Kulihat kau pernah diserang oleh Citrani. Karena racunnya belum sempurna, ia hanya bisa melukaimu sejauh ini. Sayang sekali."
Kakek tua mengusap, merapikan janggutnya yang berantakan.
"Jadi kau menyayangkan aku masih hidup?"
Tanyaku heran.
"Aku menyayangkan ilmunya yang belum matang."
Jawabnya singkat.
"Lalu apa aku akan mempelajari ilmu itu juga?"
Aku sedikit tidak sabar.
"Tidak. Yang pertama yang harus diperbaiki adalah tubuhmu terlebih dahulu. Setelah itu kau akan mempelajari sesuatu yang cocok."
Ujarnya.
"Aku tak mengerti, tapi baiklah aku ikuti caramu."
Aku bersiap.
"Pasang kuda-kudamu, pasang kaki selebar bahu, julurkan kedua lenganmu dengan terkepal, dan jangan bergerak sedikitpun."
Ia memberi arahan, aku menurutinya tanpa bertanya.
Kakek tua seperti mengambil sesuatu dari udara kosong, saat membuka kepalan tangannya, kini seekor ular dengan kepala yang dapat melebar muncul.
Ia menekan lehernya sampai taring ular itu keluar mencuat.
Tak kuduga,
Ular itu sengaja ditancapkan taringnya ke punggung tanganku.
"Apa kau gila tua bangka?"
Aku protes tentu saja.
"Bergerak dalam satu nafas kau akan langsung mati bocah. Diam dengan tenang."
Ujarnya yang terlihat hati-hati menancapkan taring ular itu di antara urat dan tulang punggung tanganku.
"Lihat kan? Ini mudah."
Katanya saat membiarkan ular itu tergantung.
Herannya aku tidak merasakan nyeri apapun.
"Mari berlanjut."
Seperti sihir, Kakek tua kini mengambil kalajengking dari udara kosong. Dan menempatkan jarum ekornya di sekitar mata kaki.
Aku masih diam tak merasakan sakit.
"Bagus, bocah. Kau bisa melakukannya."
Kini ia melakukan hal yang sama di lengan kiriku. Menancapkan ular, dan menancapkan kalajengking di kaki kanan.
Aku mengernyitkan dahi, pelan-pelan ada rasa sakit juga panas yang menjalar dan berkumpul di sekitar perut.
"Atur nafasmu. Ambil dan buang dengan tempo yang sama setenang mungkin."
Ia mengarahkan.
Setelah aku mendapatkan tempo nafas, rasa sakitnya perlahan berkurang.
"Berapa lama?"
Tanyaku.
"3 hari 3 malam."
Jawabnya singkat.
"Kau mengerjaiku tua bangka?"
Tanyaku dengan nada kesal.
"Hahaha! Aku akan mengurus keperluanmu selama itu. Jangan khawatir, aku sering melakukannya pada monyet sekitar sini."
Jelasnya.
"Lalu? Berhasil?"
Selidikku.
"Tentu saja!"
Jawabnya sombong.
"Berapa banyak?"
Tanyaku lanjut.
"30 ekor."
Ia menjawab singkat.
"Berhasil semua?"
Aku mulai ragu.
"Tidak sayangnya. Tapi aku bisa menyempurnakan metode ini."
Ia menjawab yakin sambil terus menggerakkan taring ke sekitar pembuluh darah di lengan maupun di kakiku.
"Berapa?"
Maksudku berapa banyak yang berhasil selamat dari siksaan seperti ini.
"29."
Jawabnya.
"1 mati? Hebat juga."
Aku takjub.
"Kau salah. 1 hidup, 29 mati. Hahaha"
Sialan dia tertawa terbahak-bahak seolah hal itu benar-benar lucu.
~BERSAMBUNG~
KARENA KEPANJANGAN
KARENA KEPANJANGAN
Diubah oleh re.dear 25-09-2020 21:14
japraha47 dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Kutip
Balas
Tutup