- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#709
Jilid 21 [Part 457]
Spoiler for :
MESKIPUN demikian gadis itu tidak melupakan ilmu yang pernah dipelajarinya. Di saat-saat tertentu ia berlatih bersama Arya Salaka.
Mereka berdua memiliki sumber ilmu yang sama. Ilmu yang dipancarkan dari perguruan Pengging.
Namun sekali-kali gadis itu teringat pula kepada Rara Wilis. Karena itu, maka sekali-kali ia bertanya pula kepada ayahnya.
Dengan kesanggupan itu hati Widuri terhibur pula sedikit. Tetapi dalam pada itu, ia heran juga, apa sajakah yang dilakukan oleh ayahnya di Banyubiru? Namun Kebo Kanigara tak pernah menyebut-nyebutnya. Dan Widuripun tidak bertanya-tanya pula.
Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu peristiwa yang menggemparkan Banyubiru yang belum beberapa lama mengalami ketenangan kini telah diguncangkan kembali dengan suatu peristiwa yang tak disangka-sangka sama sekali.
Pada hari itu, segenap kentongan tanda bahaya menggema di lerang bukit Telamaya. Tanda bahaya yang benar-benar mengejutkan setiap orang. Mereka tidak melihat tanda-tanda apapun yang terjadi, namun tiba-tiba mereka mendengar tanda bahaya itu. Sesaat kemudian mereka melihat, beberapa orang penunggang kuda berlari-lari memacu kudanya kesegenap penjuru. Bahkan Arya Salaka sendiri seperti orang yang menjadi gila.
Gajah Sora, Kebo Kani gara, Wanamerta, Bantaran, Penjawi, Jaladri dan semua laskar di Banyubiru memencar di atas kuda masing-masing.
Dua orang yang lain menyusul pula dibelakang orang berkuda yang pertama. Tetapi kepada orang itu pun mereka tidak sempat bertanya apa-apa.
Nyai Ageng Gajah Sora pada saat itu menangis di dalam biliknya. Gadis itu bukan anaknya, tetapi benar-benar seperti anak gadis yang telah dilahirkannya sendiri. Gadis itu memang nakal, tetapi menyenangkan.
Banyak hal-hal yang menarik dilakukan oleh gadis itu. Apabila tak seorang pun yang ada, pada saat Nyai Ageng membutuhkan beberapa butir kelapa, maka dengan tangkasnya gadis itu memanjatnya. Bahkan sampai batang yang paling tinggi sekalipun.
Namun gadis itu pandai juga memasak dan bercerita. Pandai menjahit dan pandai juga berdendang. Namun tiba-tiba gadis itu hilang.
Di hadapan Nyai Ageng Gajah Sora itu duduk bersimpuh seorang gadis pula. Gadis itu juga menangis seperti Nyai Ageng. Dan dari gadis itulah Banyubiru mendengar berita tentang hilangnya Widuri. Nyai Ageng Gajah Sora, sambil mengusap air matanya berkata,
Nyai Ageng Gajah Sora termenung sejenak. Adalah aneh sekali, bahwa hal itu dapat terjadi. Widuri bukanlah gadis biasa seperti gadis yang bersimpuh di hadapannya itu. Widuri adalah seorang gadis yang memiliki beberapa macam keanehan. Gadis itu mampu berkelahi seperti laki-laki. Bahkan melampaui kemampuan seorang laskar Pamingit yang dapat dianggap kuat, Galunggung. Kenapa ia tidak memukul saja anak muda yang menculiknya itu?
Berbagai persoalan melingkar-lingkar didalam dadanya. Heran, kecewa menyesal dan berpuluh-puluh persoalan yang lain.
Nyai Ageng Gajah Sora menarik nafasnya. Dalam kegelapan nalar Nyai Ageng hanya dapat menangis.
Ki Ageng Gajah Sora pun menjadi marah bukan buatan. Gadis itu hilang di dalam wilayahnya. Endang Widuri baginya adalah seorang tamu. Karena itu, maka ia merasa bertanggungjawab pula atas kehilangan itu.
Dengan menggeratakkan giginya, Ki Ageng Gajah Sora memacu kudanya pergi ke belumbang yang sebenarnya tidak begitu jauh. Demikian ia sampai di belumbang, demikian ia meloncat turun, di ikuti oleh Arya Salaka dan Kebo Kanigara sendiri, disamping beberapa orang lain. Tanpa mendapat perintah segera mereka memencar diri, mengamat-amati setiap pertanda yang mungkin dapat dijadikan alasan untuk mengetahui, siapakah yang telah melakukan perbuatan itu.
Di belumbang itu masih tinggal beberapa potong pakaian Endang Widuri yang belum sempat dicucinya. Beberapa helai telah dicelupkannya ke dalam air, sedang beberapa helai yang lain masih kering terletak di tepian.
Kebo Kanigara memandangi pakaian anaknya dengan mata yang suram. Namun mulutnya terkatub rapat-rapat. Tak sepatah kata pun yang diucapkannya. Dengan tangan yang gemetar ia berjongkok, meraih pakaian-pakaian anaknya itu, dan kemudian dimasukkannya kedalam bakul. Perlahan-lahan kemudian terdengar ia bergumam,
Mendengar kata-kata Kebo Kanigara itu Gajah Sora hanya dapat menarik nafas. Namun terucapkan janji didalam hatinya, bahwa kekuatan yang ada di Banyubiru harus mampu menyerahkan anak itu kembali kepada ayahnya.
Arya Salaka kemudian tidak mau merenung-renung lebih lama di tepi belumbang itu. Ia telah mendengar pula, bahwa Widuri di bawa menyusup ke arah timur. Karena itu, maka ia pun mencoba melihat arah yang dikatakan itu. Di amat-amatinya setiap jengkal tanah, mungkin ia akan dapat menemukan jejak. Hati Arya Salaka terlonjak ketika benar-benar ditemukannya jejak itu. Jejak yang benar-benar masuk ke dalam gerumbul ke arah Timur. Karena itu dengan hati-hati ia mengikuti jejak itu.
Namun alangkah kecewanya anak muda putera Kepala Daerah Tanah Perdikan Banyubiru itu. Jejak itu hanya dapat di ikuti beberapa langkah. Kemudian hilang di atas rerumputan yang liar. Betapa pun Arya Salaka mencoba mencarinya, namun sia-sia saja.
Arya Salaka itu pun kemudian menyusup lebih dalam lagi. Ia kini mencari jejak pada ranting-ranting di sekitarnya. Sekali ia melihat sebuah ranting yang patah. Namun kembali ia kehilangan kesempatan untuk mengikutinya.
“Setan”, desis Arya Salaka yang benar-benar menjadi gemetar karena marah.
Namun ia tidak tahu, bagaimana ia akan menumpahkan kemarahannya. Karena itu, direnggutnya setiap dahan, ranting dan apa saja yang teraba oleh tangannya. Ketika Arya Salaka itu sudah yakin, bahwa tidak akan diketemukan tanda-tanda yang dapat menunjukkan jalan kemana mereka harus mencari, maka segera Arya meninggalkan belumbang itu langsung meloncat di atas kudanya.
Dengan kecepatan penuh, Arya berpacu ke arah timur. Tetapi ia tidak tahu pasti, kemana ia harus pergi. Ia pergi demikian saja karena gelora di dalam dadanya, tanpa diketahuinya arah yang pasti. Demikian juga para pemimpin dan laskar Banyubiru yang lain. Mereka berpacu ke segenap arah. Namun mereka pun hanya sekadar mencoba mencari kemungkinan untuk melihat atau menemukan gadis yang hilang tanpa pegangan yang pasti. Mereka itu sedang berusaha mencari yang hilang tanpa petunjuk-petunjuk sama sekali. Karena itu alangkah sulitnya.
Sehari itu, seluruh daerah Banyubiru telah di aduk oleh laskar Banyubiru. Hampir setiap orang turut serta dalam pencaharian itu. Namun Endang Widuri tidak dapat diketemukan. Gadis itu seakan-akan hilang di telan oleh retak tanah perdikan Banyubiru. Bahkan tidak saja kota Banyubiru, namun para penunggang kuda telah jauh menjorok ke segenap arah. Namun usaha mereka sia-sia belaka. Arya Salaka sendiri bersama beberapa orang telah sampai ke daerah Rawa Pening. Di obrak-abriknya daerah bekas sarang Uling Putih dan Uling Kuning, seandainya ada sisa-sisa gerombolan itu yang sengaja membuat Banyubiru kacau. Namun Endang Widuri tidak ada di sana, dan tak diketemukannya pertanda, bahwa tempat itu masih didiami orang.
Malam itu, para pemimpin Banyubiru berkumpul di pendapa rumah Ki Ageng Gajah Sora. Peristiwa hilangnya Widuri bagi Banyubiru tidak dapat di anggap sebagai suatu persoalan yang kecil. Pesoalan itu sama besarnya dengan hadirnya golongan hitam di tanah mereka. Karena itu maka setiap kekuatan yang ada harus dikerahkan untuk memecahkan peristiwa itu. Namun tak seorang pun yang dapat mengemukakan pendapat mereka tentang hilangnya Endang Widuri. Mereka diliputi oleh suasana yang gelap pekat. Tak ada setitik api pun yang dapat memberi petunjuk kepada mereka, tentang persoalan yang menggemparkan itu.
Dalam ketegangan itu terdengar Arya Salaka berdesis,
Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Gajah Sora dan bahkan beberapa orang lain mengetahui bahwa Arya Salaka tidak saja tersinggung kehormatan atas hilangnya tamunya itu, namun jauh lebih daripada itu. Hampir setiap orang di pendapa itu mengetahuinya, bahwa Arrya Salaka dan Endang Widuri agaknya telah masuk ke dalam suatu ikatan dan tidak dapat dirumuskan oleh mereka yang mengalaminya. Karena itu, maka adalah wajar sekali kalau Arya Salaka benar-benar menjadi sangat marah dan bingung.
Namun terbayang di wajahnya Ki Ageng Gajah Sora keragu-raguan yang menggelisahkan. Kemana harus dicari anak itu? Sejak pagi, Ki Ageng Gajah Sora telah memerintahkan beberapa orang yang pergi ke Pamingit. Memberitahukan kehilangan itu kepada Ki Ageng Lembu Sora dan Ki Ageng Sora Dipayana. Dan ternyata, Pamingit pun telah menjadi gelisah pula. Senja itu telah datang utusan Ki Ageng Lembu Sora untuk menanyakan apakah Endang Widuri sudah diketemukan.
Dan utusan itu pun kembali dengan membawa berita, bahwa persoalan Widuri masih gelap.
Mereka berdua memiliki sumber ilmu yang sama. Ilmu yang dipancarkan dari perguruan Pengging.
Namun sekali-kali gadis itu teringat pula kepada Rara Wilis. Karena itu, maka sekali-kali ia bertanya pula kepada ayahnya.
Quote:
“Ayah, apakah pekerjaan ayah masih belum selesai?”
Kebo Kanigara menggeleng,
“Belum Widuri.”
“Kapan kita menyusul bibi Wilis?”
“Sebentar lagi”, sahut ayahnya.
“Sebentar lagi aku akan pergi ke Karang Tumaritis. Pamanmu Mahesa Jenar berpesan kepadaku, untuk atas namanya, mohon diri kepada Panembahan. Bukankah Panembahan telah berjanji untuk pergi ke Gunungkidul? Kau dengar juga bukan? Nah. Kalau demikian, sebaiknya kita pergi bersama dengan Panembahan kelak.”
Kebo Kanigara menggeleng,
“Belum Widuri.”
“Kapan kita menyusul bibi Wilis?”
“Sebentar lagi”, sahut ayahnya.
“Sebentar lagi aku akan pergi ke Karang Tumaritis. Pamanmu Mahesa Jenar berpesan kepadaku, untuk atas namanya, mohon diri kepada Panembahan. Bukankah Panembahan telah berjanji untuk pergi ke Gunungkidul? Kau dengar juga bukan? Nah. Kalau demikian, sebaiknya kita pergi bersama dengan Panembahan kelak.”
Dengan kesanggupan itu hati Widuri terhibur pula sedikit. Tetapi dalam pada itu, ia heran juga, apa sajakah yang dilakukan oleh ayahnya di Banyubiru? Namun Kebo Kanigara tak pernah menyebut-nyebutnya. Dan Widuripun tidak bertanya-tanya pula.
Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu peristiwa yang menggemparkan Banyubiru yang belum beberapa lama mengalami ketenangan kini telah diguncangkan kembali dengan suatu peristiwa yang tak disangka-sangka sama sekali.
Pada hari itu, segenap kentongan tanda bahaya menggema di lerang bukit Telamaya. Tanda bahaya yang benar-benar mengejutkan setiap orang. Mereka tidak melihat tanda-tanda apapun yang terjadi, namun tiba-tiba mereka mendengar tanda bahaya itu. Sesaat kemudian mereka melihat, beberapa orang penunggang kuda berlari-lari memacu kudanya kesegenap penjuru. Bahkan Arya Salaka sendiri seperti orang yang menjadi gila.
Gajah Sora, Kebo Kani gara, Wanamerta, Bantaran, Penjawi, Jaladri dan semua laskar di Banyubiru memencar di atas kuda masing-masing.
Quote:
“Apakah yang terjadi?” bertanya seseorang.
Orang yang ditanyanya menggelengkan kepalanya. Meskipun demikian wajahnya menjadi pucat pula.
“Entahlah.” Baru sesaat kemudian, ketika mereka melihat seorang berkuda berlari dihadapan mereka, maka berteriaklah mereka itu,
“Ada apa?”
“Endang Widuri hilang.”
“He”, tetapi orang berkuda itu telah jauh.
Orang yang ditanyanya menggelengkan kepalanya. Meskipun demikian wajahnya menjadi pucat pula.
“Entahlah.” Baru sesaat kemudian, ketika mereka melihat seorang berkuda berlari dihadapan mereka, maka berteriaklah mereka itu,
“Ada apa?”
“Endang Widuri hilang.”
“He”, tetapi orang berkuda itu telah jauh.
Dua orang yang lain menyusul pula dibelakang orang berkuda yang pertama. Tetapi kepada orang itu pun mereka tidak sempat bertanya apa-apa.
Nyai Ageng Gajah Sora pada saat itu menangis di dalam biliknya. Gadis itu bukan anaknya, tetapi benar-benar seperti anak gadis yang telah dilahirkannya sendiri. Gadis itu memang nakal, tetapi menyenangkan.
Banyak hal-hal yang menarik dilakukan oleh gadis itu. Apabila tak seorang pun yang ada, pada saat Nyai Ageng membutuhkan beberapa butir kelapa, maka dengan tangkasnya gadis itu memanjatnya. Bahkan sampai batang yang paling tinggi sekalipun.
Namun gadis itu pandai juga memasak dan bercerita. Pandai menjahit dan pandai juga berdendang. Namun tiba-tiba gadis itu hilang.
Di hadapan Nyai Ageng Gajah Sora itu duduk bersimpuh seorang gadis pula. Gadis itu juga menangis seperti Nyai Ageng. Dan dari gadis itulah Banyubiru mendengar berita tentang hilangnya Widuri. Nyai Ageng Gajah Sora, sambil mengusap air matanya berkata,
Quote:
“Apakah tak ada orang lain di belumbang itu?”
Gadis itu menggeleng,
“Tidak Nyai Ageng. Waktu aku datang, aku sempat mendengar ceritanya. Ketika aku berlari-lari menengoknya, aku hanya melihat bayangan seorang anak muda memapahnya berlari masuk ke dalam semak-semak.”
Gadis itu menggeleng,
“Tidak Nyai Ageng. Waktu aku datang, aku sempat mendengar ceritanya. Ketika aku berlari-lari menengoknya, aku hanya melihat bayangan seorang anak muda memapahnya berlari masuk ke dalam semak-semak.”
Nyai Ageng Gajah Sora termenung sejenak. Adalah aneh sekali, bahwa hal itu dapat terjadi. Widuri bukanlah gadis biasa seperti gadis yang bersimpuh di hadapannya itu. Widuri adalah seorang gadis yang memiliki beberapa macam keanehan. Gadis itu mampu berkelahi seperti laki-laki. Bahkan melampaui kemampuan seorang laskar Pamingit yang dapat dianggap kuat, Galunggung. Kenapa ia tidak memukul saja anak muda yang menculiknya itu?
Berbagai persoalan melingkar-lingkar didalam dadanya. Heran, kecewa menyesal dan berpuluh-puluh persoalan yang lain.
Quote:
“Apakah kau dapat mengira-irakan, kemana Endang Widuri itu dibawa?” bertanya Nyai Ageng itu pula.
Gadis itu menggeleng,
“Aku tidak tahu Nyai. Namun aku melihat mereka menyusup ke arah Timur. Tetapi untuk seterusnya aku tidak tahu, sebab aku langsung berlari memberitahukannya kemari.”
Gadis itu menggeleng,
“Aku tidak tahu Nyai. Namun aku melihat mereka menyusup ke arah Timur. Tetapi untuk seterusnya aku tidak tahu, sebab aku langsung berlari memberitahukannya kemari.”
Nyai Ageng Gajah Sora menarik nafasnya. Dalam kegelapan nalar Nyai Ageng hanya dapat menangis.
Ki Ageng Gajah Sora pun menjadi marah bukan buatan. Gadis itu hilang di dalam wilayahnya. Endang Widuri baginya adalah seorang tamu. Karena itu, maka ia merasa bertanggungjawab pula atas kehilangan itu.
Dengan menggeratakkan giginya, Ki Ageng Gajah Sora memacu kudanya pergi ke belumbang yang sebenarnya tidak begitu jauh. Demikian ia sampai di belumbang, demikian ia meloncat turun, di ikuti oleh Arya Salaka dan Kebo Kanigara sendiri, disamping beberapa orang lain. Tanpa mendapat perintah segera mereka memencar diri, mengamat-amati setiap pertanda yang mungkin dapat dijadikan alasan untuk mengetahui, siapakah yang telah melakukan perbuatan itu.
Di belumbang itu masih tinggal beberapa potong pakaian Endang Widuri yang belum sempat dicucinya. Beberapa helai telah dicelupkannya ke dalam air, sedang beberapa helai yang lain masih kering terletak di tepian.
Quote:
“Anak itu tidak banyak mendapat kesempatan,” desis Gajah Sora.
Kebo Kanigara memandangi pakaian anaknya dengan mata yang suram. Namun mulutnya terkatub rapat-rapat. Tak sepatah kata pun yang diucapkannya. Dengan tangan yang gemetar ia berjongkok, meraih pakaian-pakaian anaknya itu, dan kemudian dimasukkannya kedalam bakul. Perlahan-lahan kemudian terdengar ia bergumam,
Quote:
“Biarlah pakaian Widuri ini aku simpan baik-baik. Aku yakin, pada suatu saat ia akan kembali lagi kepadaku.”
Mendengar kata-kata Kebo Kanigara itu Gajah Sora hanya dapat menarik nafas. Namun terucapkan janji didalam hatinya, bahwa kekuatan yang ada di Banyubiru harus mampu menyerahkan anak itu kembali kepada ayahnya.
Arya Salaka kemudian tidak mau merenung-renung lebih lama di tepi belumbang itu. Ia telah mendengar pula, bahwa Widuri di bawa menyusup ke arah timur. Karena itu, maka ia pun mencoba melihat arah yang dikatakan itu. Di amat-amatinya setiap jengkal tanah, mungkin ia akan dapat menemukan jejak. Hati Arya Salaka terlonjak ketika benar-benar ditemukannya jejak itu. Jejak yang benar-benar masuk ke dalam gerumbul ke arah Timur. Karena itu dengan hati-hati ia mengikuti jejak itu.
Namun alangkah kecewanya anak muda putera Kepala Daerah Tanah Perdikan Banyubiru itu. Jejak itu hanya dapat di ikuti beberapa langkah. Kemudian hilang di atas rerumputan yang liar. Betapa pun Arya Salaka mencoba mencarinya, namun sia-sia saja.
Arya Salaka itu pun kemudian menyusup lebih dalam lagi. Ia kini mencari jejak pada ranting-ranting di sekitarnya. Sekali ia melihat sebuah ranting yang patah. Namun kembali ia kehilangan kesempatan untuk mengikutinya.
“Setan”, desis Arya Salaka yang benar-benar menjadi gemetar karena marah.
Namun ia tidak tahu, bagaimana ia akan menumpahkan kemarahannya. Karena itu, direnggutnya setiap dahan, ranting dan apa saja yang teraba oleh tangannya. Ketika Arya Salaka itu sudah yakin, bahwa tidak akan diketemukan tanda-tanda yang dapat menunjukkan jalan kemana mereka harus mencari, maka segera Arya meninggalkan belumbang itu langsung meloncat di atas kudanya.
Dengan kecepatan penuh, Arya berpacu ke arah timur. Tetapi ia tidak tahu pasti, kemana ia harus pergi. Ia pergi demikian saja karena gelora di dalam dadanya, tanpa diketahuinya arah yang pasti. Demikian juga para pemimpin dan laskar Banyubiru yang lain. Mereka berpacu ke segenap arah. Namun mereka pun hanya sekadar mencoba mencari kemungkinan untuk melihat atau menemukan gadis yang hilang tanpa pegangan yang pasti. Mereka itu sedang berusaha mencari yang hilang tanpa petunjuk-petunjuk sama sekali. Karena itu alangkah sulitnya.
Sehari itu, seluruh daerah Banyubiru telah di aduk oleh laskar Banyubiru. Hampir setiap orang turut serta dalam pencaharian itu. Namun Endang Widuri tidak dapat diketemukan. Gadis itu seakan-akan hilang di telan oleh retak tanah perdikan Banyubiru. Bahkan tidak saja kota Banyubiru, namun para penunggang kuda telah jauh menjorok ke segenap arah. Namun usaha mereka sia-sia belaka. Arya Salaka sendiri bersama beberapa orang telah sampai ke daerah Rawa Pening. Di obrak-abriknya daerah bekas sarang Uling Putih dan Uling Kuning, seandainya ada sisa-sisa gerombolan itu yang sengaja membuat Banyubiru kacau. Namun Endang Widuri tidak ada di sana, dan tak diketemukannya pertanda, bahwa tempat itu masih didiami orang.
Malam itu, para pemimpin Banyubiru berkumpul di pendapa rumah Ki Ageng Gajah Sora. Peristiwa hilangnya Widuri bagi Banyubiru tidak dapat di anggap sebagai suatu persoalan yang kecil. Pesoalan itu sama besarnya dengan hadirnya golongan hitam di tanah mereka. Karena itu maka setiap kekuatan yang ada harus dikerahkan untuk memecahkan peristiwa itu. Namun tak seorang pun yang dapat mengemukakan pendapat mereka tentang hilangnya Endang Widuri. Mereka diliputi oleh suasana yang gelap pekat. Tak ada setitik api pun yang dapat memberi petunjuk kepada mereka, tentang persoalan yang menggemparkan itu.
Dalam ketegangan itu terdengar Arya Salaka berdesis,
Quote:
“Peristiwa ini benar-benar memalukan tanah perdikan ini ayah. Karena itu, maka Endang Widuri harus diketemukan segera.”
Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Gajah Sora dan bahkan beberapa orang lain mengetahui bahwa Arya Salaka tidak saja tersinggung kehormatan atas hilangnya tamunya itu, namun jauh lebih daripada itu. Hampir setiap orang di pendapa itu mengetahuinya, bahwa Arrya Salaka dan Endang Widuri agaknya telah masuk ke dalam suatu ikatan dan tidak dapat dirumuskan oleh mereka yang mengalaminya. Karena itu, maka adalah wajar sekali kalau Arya Salaka benar-benar menjadi sangat marah dan bingung.
Quote:
“Aku sependapat dengan kau Arya”, jawab ayahnya.
“Kini kita sedang mencari setiap kemungkinan untuk itu.”
“Apa pun yang akan terjadi, kita harus menemukannya kembali.” sahut Arya pula.
“Ya. Tentu,” berkata ayahnya pula.
“Kini kita sedang mencari setiap kemungkinan untuk itu.”
“Apa pun yang akan terjadi, kita harus menemukannya kembali.” sahut Arya pula.
“Ya. Tentu,” berkata ayahnya pula.
Namun terbayang di wajahnya Ki Ageng Gajah Sora keragu-raguan yang menggelisahkan. Kemana harus dicari anak itu? Sejak pagi, Ki Ageng Gajah Sora telah memerintahkan beberapa orang yang pergi ke Pamingit. Memberitahukan kehilangan itu kepada Ki Ageng Lembu Sora dan Ki Ageng Sora Dipayana. Dan ternyata, Pamingit pun telah menjadi gelisah pula. Senja itu telah datang utusan Ki Ageng Lembu Sora untuk menanyakan apakah Endang Widuri sudah diketemukan.
Dan utusan itu pun kembali dengan membawa berita, bahwa persoalan Widuri masih gelap.
fakhrie... dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas