- Beranda
- Stories from the Heart
CATATAN VIOLET
...
TS
drupadi5
CATATAN VIOLET

Perjalanan ini akan membawa pada takdir dan misteri hidup yang mungkin tak pernah terpikirkan.
Ketika sebuah kebetulan dan ketidaksengajaan yang kita sangkakan, ternyata adalah sebuah rencana tersembunyi dari hidup.
Bersiaplah dan arungi perjalananmu
Kota Kenangan1
Kota Kenangan 2
Ardi Priambudi
Satrya Hanggara Yudha
Melisa Aryanthi
Made Brahmastra Purusathama
Altaffandra Nauzan
Altaffandra Nauzan : Sebuah Insiden
Altaffandra Nauzan : Patah Hati
Altaffandra Nauzan : the man next door
Sepotong Ikan Bakar di Sore yang Cerah
Expired
Adisty Putri Maharani
November Rain
Before Sunset
After Sunrise
Pencundang, pengecut, pencinta
Pencundang, pengecut, pencinta 2
Time to forget
Sebuah Hadiah
Jimbaran, 21 November 2018
Lagi, sebuah kebaikan
Lagi, sebuah kebaikan 2
Perkenalan
Temanku Malam Ini
Keluarga
03 Desember 2018
Jimbaran, 07 Desember 2018
Looking for a star
Ketika daun yang menguning bertahan akan helaan angin
Pertemuan
BERTAHAN
Hamparan Keraguan
Dan semua berakhir
Fix you
One chapter closed, let's open the next one
Deja Vu
Deja Vu karena ingatan terkadang seperti racun
Karena gw lagi labil, tolong biarin gw sendiri...
Semua pasti berujung, jika kau belum menemukannya teruslah berjalan...
Kepercayaan, kejujuran, kepahitan...
Seperti karang yang tidak menyerah pada ombak...
Damar Yudha
I Love You
Perjanjian...
Perjanjian (2)
Christmas Eve
That Day on The Christmas Eve
That Day on The Christmas Eve (2)
That Day on The Christmas Eve (3)
Di antara
William Oscar Hadinata
Tentang sebuah persahabatan...
Waiting for me...
Kebohongan, kebencian, kemarahan...
Oh Mama Oh Papa
Showing me another story...
Menjelajah ruang dan waktu
Keterikatan
Haruskah kembali?
Kematian dan keberuntungan
The ambience of confusing love
The ambience of love
Kenangan yang tak teringat...
Full of pressure
Persahabatan tidak seperti kepompong
Menunggu, sampai nanti...
Catatan Violet 2 (end): Mari Jangan Saling Menepati Janji
Jakarta, 20 Juni 2019 Lupakanlah Sejenak
Menjaga jarak, menjaga hati
First lady, second lady...
Teman
Teman?
Saudara
Mantan
Mantan (2)
Pacar?
Sahabat
Diubah oleh drupadi5 14-05-2021 15:13
JabLai cOY dan 132 lainnya memberi reputasi
129
23.8K
302
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#72
Deja Vu
(karena ingatan itu terkadang seperti racun...)

Aku membuka mataku. Melihat ke sekelilingku...ah, mimpi ternyata, desahku dalam hati.
Aku bangun dari tidurku dan melihat jam di ponselku. Jam setengah lima sore. Rupanya tadi aku ketiduran setelah diantar Hanggara dari membeli tanaman hias.
Aku terduduk di tepi tempat tidurku, mengingat mimpiku tadi. Siapa wanita itu, laki-laki itu juga siapa, dan di bandara mana itu?
Laki-laki itu, aku merasa sangat nyaman ketika dia memelukku. Tapi kenapa dia pergi? Lalu kenapa ada mama juga di sana?
Arrghh....biingung! aku mengacak-acak rambutku sendiri, tidak mengerti dengan mimpi anehku tadi.
Aku memutuskan untuk mandi biar badan dan pikiranku lebih segar, lagian ini juga sudah sore. Usai mandi aku keluar kamar, pengen ngobrol sama Fandra, apa dia ada di kamarnya ya?
Dan beruntungnya aku ketika aku membuka pintu kamar, mataku langsung bertemu pandang dengan Fandra, yang sedang duduk di tempat favoritenya.
“Hei, numpang ngerokok ya di sini,” ujarnya tersenyum kecil.
Aku melihat tangan kanannya yang masih memegang rokok yang baru habis seperempatnya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk sekilas.
Aku menopangkan badanku di dinding pembatas balkon dan memandang ke langit yang cerah sore ini. Pikiranku masih di penuhi dengan adegan-adegan dari mimpiku tadi.
Aku berusaha kuat mengingat wajah wanita dan laki-laki tadi, tapi sama sekali aku tidak bisa ingat wajah mereka.
“Abis kencan sama Hanggara ya?” tanya Fandra
“Ngga kencan, nganterin Lisa, temenku yg dari Jakarta itu ke bandara,” sahutku tanpa menolehnya.
“oh...”
“Fan...!” panggilku, ingin melanjutkan kalimatku tapi aku ragu
“Apaan?”
“Kamu... pernah ngga sih ngerasain kaya... deja vu gitu?” kali ini aku menoleh ke arahnya ingin melihat reaksinya.
Dia tampak berpikir, “eemmm....pernah kayaknya, tapi aku ngga inget kapan dan di mana.”
“Emang ada ya deja vu-deja vu gituan?Beneran ya?”
Dia mengangkat bahunya, “Ngga tahu juga sih, katanya orang-orang sih ada, emang beneran, tapi katanya lho ya,” ujarnya, “Emang kenapa? Kamu ngalamin deja vu?”
Aku menghela nafas, “Sepertinya, aku ngga yakin juga.”
Aku diam sejenak
“Trus.... tadi juga aku mimpi aneh,” lanjutku, “Aku seperti ada di bandara, tapi berbeda dengan bandara di sini, beda banget, kayak lebih jadul gitu suasananya dan bangunanya,” ujarku mengingat kembali adegan-adengan dalam mimpiku tadi.
“Mungkin ke bawa mimpi gara-gara tadi kamu ke bandara juga,” sahut Fandra
“Anehnya, di mimpi aku itu, aku masih kecil, pendek banget,” lanjutku, “trus aku digandeng sama cewe, tapi aku ngga liat wajahnya dan ada cowok juga, nah cowok ini tahu namaku, dia panggil namaku trus meluk dan ciumin aku.”
“Wah, pedofil itu,” sambar Fandra sambil tertawa jahil
“Isshh...kamu ngawur ah,” semprotku kesal, “Kalau pedofil, aku harusnya takut dong, nah ini aku justru ngerasa nyaman banget pas dipeluk sama dia, trus dia pergi gitu aja abis meluk aku, abis itu cewe yang gandeng aku ajak aku jalan lagi, eh aku malah ketemu sama mama. Ada mamaku di sana. Maksudnya apa ya?”
Aku melihat ke Fandra yang sedang menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
“Bunga tidur aja kali, lagian kamu tidur siang malah mimpi, kalau mimpi itu biasanya pas tidur malam, palingan ya itu kebawa dari kejadian nyata karena tadi kamu ke bandara.”
“Di bandara tadi aku juga ngerasa aneh, kayak pernah ke sana tapi ngga inget kapan, kayak deja vu gitu,” ujarku.
“Mungkin aja kamu emang pernah ke sana waktu kecil cuma kamu aja ngga inget, kan kamu bilang masa kecil kamu di sini,” lanjut Fandra.
“Trus mimpi aku artinya apa ya?”
“Bunga tidur aja kali,” sahutnya mematikan puntung rokoknya lalu dia meloncat turun dari duduknya, “Mau yang deja vu beneran ngga?”
“Hah?! Maksudnya?”
“Kemarin awal-awal kita ketemu kan aku ajakin makan ikan bakar, sekarang kita ulang lagi makan ikannya, biar bener-bener jadi deja vu,” ujarnya tersenyum lebar.
“Hahahaha mana ada kayak gituan, ngawur kamu, tapi makan ikan bakarnya boleh itu, aku mau banget,” ujarku tertawa senang dengan idenya.
“Ajak juga pacarmu nanti dia ngamuk ke aku kalau kamu aku ajak pergi-pergi,” ujarnya
“Ngga usah, kita berdua aja, dia ngga akan tahu,” tolakku, “Satu lagi dia bukan pacarku ya!”
“Kamu itu ngga tahu dia ya, dia itu punya mata dan telinga di tembok ini,” sahut Fandra sambil memukul-mukul dinding.
Aku hanya tertawa geli melihat tingkahnya. Dia masuk ke dalam kamarnya dan kemudian keluar sambil menempelkan ponselnya di telinga dan berdiri tepat di depanku.
“Hai bro ini aku Fandra, gini, aku sama Vio mau bakar-bakar ikan, klo kamu ngga sibuk dateng ya,” Fandra ternyata menelepon Hanggara. Aku tidak pernah tahu kalau dia menyimpan no telpon Hanggara.
“Ikannya beli lah, ini mau....” kalimatnya terpotong karena aku memukul- mukul lengannya, mauku supaya dia tidak mengajak Hanggara ke pasar, biar aku dan dia aja yang ke pasar dan menyiapkan semua, Hanggara tinggal datang dan makan.
“Suruh dia ke sini aja langsung...” bisikku pelan agar tidak terdengar Hanggara
“Apaan sih....sssttt!!!” dia mendelik padaku dan kemudian melanjutkan pembicaraannya di telpon.
“Iya, kenapa? Iya beli di pasar, di kedonganan,” lanjutnya, “ya nanti ketemuan di sana aja, oh.... iya boleh aja sih kalau kamu maunya gitu, ok... kita tunggu kalau gitu.”
Akhirnya Fandra menutup telponnya.
“Dia bilang apa?”
“Dia mau ke sini dulu, jemput kamu,” sahutnya
“Ngapain mesti ke sini dulu, ketemuan di sana aja kan bisa?”
“Kan aku udah bilang, dia ngga mau aku deket-deket sama kamu, ngga bakalan dia ngebiarin kamu pergi berdua aja sama aku.”
“Lagian kamu juga pake ngajakin dia segala, berdua aja kan bisa.”
“Aku ngga mau cari masalah ya, kan aku dah bilang ke kamu kalau dia udah bilang di depan mukaku kalau dia ngga suka aku deket-deket sama kamu,” ujarnya sambil menunjuk-nunjuk mukanya sendiri.
“Dia bukan cowokku, Fan, dia ngga boleh kayak gitu ke kamu, harusnya kamu lawan,” sahutku, “Aku mau jalan sama siapa pun kan terserah aku.”
“Beneran ngga ada rasa suka sedikit pun?” tanya Fandra dengan pandangan menyelidik
“Aku suka sama dia, tapi aku belum terlalu yakin juga,” sahutku
“hmm... terserah kamu sih, kamu yang lebih tahu apa yang kamu rasain,” sahutnya, “Aku mau jujur sama kamu.”
Aku memandangnya. “Tentang?”
“Tentang aku dan apa yang aku rasain sewaktu ketemu kamu,” sahutnya balas memandangku
“Apa?”
“Waktu kamu ngeliat aku berdiri di depan kamarmu, aku ngeliat kamu pertama kali, physically, aku langsung tertarik sama kamu, dan semakin tertarik setelahnya.”
Dia tersenyum padaku, tapi matanya menunjukkan hal yang bertolak belakang dengan senyum yang menggembang di wajahnya. Matanya menatapku sendu.
“Lalu...?”
“Aku ngga akan nanya soal apa yang kamu rasain ke aku. Biasanya perasaan orang yang baru patah hati itu labil dan sulit di percaya,” dia mengedipkan sebelah matanya padaku sambil tersenyum jahil.
Dia lalu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkanku yang masih berdiri diam kehilangan kata-kata, harus kuakui kalau hatiku, lagi, berdegup aneh ketika melihat matanya tadi.
“Ayo ke bawah, kalau Angga datang kita bisa langsung cus,” ajaknya begitu keluar dari kamarnya.
Dia langsung menyambar tanganku dan menarikku mengikutinya menuju tangga. Dan bodohnya aku hanya diam membiarkan perlakuannya itu yang jujur harus kuakui, membuatku merasa nyaman.
***
“Ini gara-gara Vio, dia pengen ngerasain deja vu makanya aku buat dia deja vu beneran,” ujar Fandra memandangku sekilas dengan senyum dikulum, sebelum memasukkan seekor udang bakar utuh ke dalam mulutnya.
Kami sedang duduk di sebuah tempat pembakaran ikan sekaligus tempat makan yang letaknya tak jauh dari bibir pantai.
Sebelumnya, aku, Fandra, dan Hanggara sama-sama membeli beberapa jenis udang dan seafood lainnya dan memutuskan untuk makan langsung di tempat pembakaran ikan sambil menikmati matahari tengggelam.
“Alasan aja itu, sebenernya emang pengen makan ikan bakar lagi,” sahutku setelah meneguk es kelapa muda yang aku pesan.
“Sorry, jadi gangguin waktu kamu,” ujarku lagi, kini kutujukan pada Hanggara yang duduk di sampingku.
“Ngga kok, aku justru seneng,” balas Hanggara menoleh ke arahku sambil memamerkan senyumannya.
Aku mendengar sebuah bunyi berdenting dari ponselku menandakan sebuah pesan masuk. Aku mengambil ponsel yang kusimpan di dalam tas selempangku.
Sementara Fandra dan Hanggara terlibat obrolan tidak penting seputar rencana big sale end year di tokonya Hanggara.
Beberapa pesan wa masuk dari Lisa. Dia mengirimiku beberapa foto prawed-nya di sertai dengan sebuah pesan tertulis
Bantuin gw ya milih, 4 foto terbaik versi lo 😉
Aku melihat foto-foto yang dikirimkannya. Menurutku semuanya bagus dan cantik. Ardi dan Lisa tampak sempurna di foto-foto itu.
Terbersit dalam pikiranku tentang Lisa. Dia cantik, supel, periang, dari keluarga yang berkecukupan dan berpendidikan, dia anak bungsu dari dua bersaudara, kakak laki-lakinya sudah menikah dan tinggal di Singapura. Dia berkelimpahan kasih sayang dan kebahagian, sangat bertolak belakang dengan diriku.
Apa ada yang salah denganku, dengan hidupku? Kenapa hidup ini seperti tidak berpihak padaku? Kenapa selalu rasa sakit yang harus aku rasakan. Entah kapan aku bisa merasakan bagaimana rasanya bahagia tanpa takut rasa itu akan hilang secepat rasa itu datang.
Aku menutup pesan dari Lisa. Dan tanpa sengaja mataku bertemu pandang dengan Fandra yang duduk di depan Hanggara, dia mengangkat alisnya sekilas, dan aku bisa menangkap rasa ingin tahu dari pandangan matanya. Aku membalasnya dengan tersenyum sekilas, dan membuang pandanganku ke tumpukan udang bakar yang belum tersentuh dari tadi. Aku memasukkan seekor ke dalam mulutku dan mengunyahnya pelan, sambil menikmati langit yang menguning di ufuk sana.
Entah kenapa rasa sakit kembali menyerang ulu hatiku menimbulkan ngilu di sekujur tubuhku. Benar kata Fandra, perasaan orang patah hati itu tidak bisa di percaya bahkan aku pun seperti tertipu oleh rasa yang diberikan antara kepala dan hatiku. Memberikan rasa yang selalu berbeda silih berganti membuatku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diriku ini.
“Kenapa?” pertanyaan dari Hanggara membuatku tersadar dan menoleh ke arahnya yang sedang memandangiku.
“Mikirin apa?” tanyanya sekali lagi.
Entah kenapa aku hanya memandanginya saja tanpa menjawab, dan kemudian mengalihkan pandanganku ke Fandra, pandangan kami bertemu sekilas sebelum dia mengalihkan pandangannya ke piring di depannya, aku kembali memandang Hanggara, yang masih menungguku bersuara.
“Liat matahari...” sahutku akhirnya, melihat matahari yang nyaris tenggelam di balik horizon.
Aku memandangnya lagi yang masih menatapku, aku tahu ada ketidakpercayaan di pandangan matanya. Aku tersenyum kecil dan kembali menusuk potongan cumi bakar dan mengunyahnya pelan.
***
“Kamu mau ngga kalau ikut ke rumahku sebentar?” tanya Hanggara ketika kami ada di parkiran motor.
“Ngapain?”
“Bantuin aku nanem tanaman yang tadi kita beli, tadi aku ngga sempat urus,” sahutnya.
Aku mengangguk mengiyakan yang di sambut dengan senyumannya.
“Aku bilang Fandra dulu,” ujarku mendekat ke Fandra yang memarkir motornya tak jauh dari Hanggara.
“Fan, kamu balik duluan aja, Angga minta aku bantuin dia urus tananam,” kataku padanya.
Dia menaikkan kaca helmnya.
“Are you okay?” tanyanya menatapku tajam
“Maksud kamu?” tanyaku tidak mengerti
“Are you feeling okay?”
Aku memandangnya dan tersenyum, “not really good, but it will be fine.”
“Then okay.”
Dia tersenyum sekilas dan menutup kembali kaca helmnya. Dia menghidupkan mesin motornya, membunyikan klakson dan melambai sekilas pada Hanggara, untuk kemudian melajukan motornya meninggalkan tempat itu.
***
“Kamu mau taruh di mana yang bunga teratai ini?” tanyaku pada Hanggara setelah kami sampai di rumahnya.
Di rumahnya dia memiliki kebun yang tidak terlalu luas di pojokan di dekat kolam renang.
“Emm... itu aku udah ada tempatnya nanti aku pindah, sementara biar di sana aja dulu,” sahutnya sambil sibuk memindahkan tanah yang sudah dicampurkan dengan pupuk kandang ke dalam sebuah pot yang tidak begitu besar. Aku mendekat dan berjongkok di sampingnya.
“Bisa tolong ambil yang silver dust,” pintanya padaku.
Aku berdiri mengambil tanaman yang dia maksudkan. Dia mengerjakan semuanya sendiri aku hanya memperhatikannya tanpa memberikan bantuan yang berarti.
Setelah dia selesai membereskan semuanya, dia memintaku menunggunya bersih-bersih dan mandi.
Aku memilih duduk di ruang tengah, sambil memperhatikan ruangan yang tidak terlalu luas tapi tertata cukup rapi membuat suasananya terasa nyaman.
Aku berdiri di depan sebuah meja pajangan yang terletak menempel di dinding tepat di bawah sebuah televisi besar yang menggantung diatasnya. Ada sebuah foto berbingkai yang tidak terlalu besar yang diletakkan di dalam kabinet.
Aku mengambil foto itu dan memperhatikan wajah-wajah yang terekam dalam foto tersebut. Yang paling kukenali adalah Hanggara dia berdiri di belakang di apit oleh seorang lelaki yang tampak lebih pendek dan muda darinya di sebelah kanannya dan di sebelah kirinya ada seorang gadis sekitaran anak SMP bergelayut manja di lengannya. Sedangkan di depan mereka, yang kuduga adalah orang tuanya duduk berdampingan.
Aku memperhatikan setiap wajah yang ada di foto itu. Pastinya mereka keluarga yang bahagia, pikirku, tampak sempurna.
Aku meletakkan kembali foto itu ke tempatnya dan memperhatikan foto-foto yang lain, yang didominasi oleh foto diri Hanggara. Sampai kemudian ada sesuatu yang menarik perhatianku, sebuah bingkai foto yang tertelungkup.
Aku mengambilnya. Di dalam bingkai itu ada foto Hanggara dan Adisty, mereka sepertinya sedang merayakan sesuatu. Foto Adisty tampak sedang memegang sekotak besar pizza lengkap dengan pizzanya yang masih utuh dengan sebuah lilin yang masih menyala, dia tersenyum jenaka dengan mata melirik ke arah Hanggara yang sedang mencium pipinya.
Aku tersenyum melihat foto itu. Seharusnya mereka bisa menjadi pasangan yang sangat serasi. Cantik dan tampan, sama-sama pintar, dan tentunya sama-sama dari keluarga berkelas.
“Senyum-senyum sendiri, liat apa sih?” tiba-tiba Hanggara sudah berada tidak jauh dariku berdiri dan perlahan mendekat.
Buru-buru aku meletakkan kembali foto itu ke tempatnya semula. Tapi sepertinya Hanggara melihatnya. Aroma segar dari tubuhnya menyeruak, menusuk hidungku ketika dia berdiri tepat di sampingku.
Dia mengambil foto yang tadi kuletakkan dan tampak raut wajahnya berubah. Aku bergerak menjauhinya dan memilih duduk di sofa panjang yang ada di belakangnya.
Dia masih berdiri di sana. Aku bisa melihat dia sedang membuka penutup belakang bingkai itu, mengeluarkan fotonya, menyimpan bingkai itu ke dalam laci.
Dia mengambil foto itu,merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil sambil berjalan ke dapur.
Kemudian tanpa berkata-kata dia masuk ke dalam kamarnya. Langsung saja aku merasa tidak enak hati melihat sikapnya. Takutnya aku dianggap lancang memeriksa barang-barangnya.
Tak lama kemudian dia keluar dari dalam kamar dan duduk di sampingku, memeriksa ponselnya dalam diam. Tidak hanya semenit dua menit lebih dari 10 menit dia diam dan aku dibiarkan menunggu dalam kebingungan dengan perubahan sikapnya.
“Aku pulang ya,” ujarku menoleh padanya.
“Sebentar,” balasnya tanpa melihat ke arahku dan masih sibuk dengan ponselnya.
Apa dia marah? Lalu kenapa dia tidak menegurku langsung. Entah kenapa kepalaku menjadi panas melihat sikapnya yang tiba-tiba menjadi cuek, apalagi semenjak sore tadi moodku tiba-tiba turun drastis.
“Aku ngga bermaksud memeriksa barang-barang kamu tadi, aku hanya mau liat foto-foto kamu aja, maaf kalau buat kamu tersinggung,” ujarku akhirnya tidak tahan dengan sikap diamnya.
Aku berdiri dan bergegas berjalan menuju pintu keluar.
“Vio!” panggilnya tapi aku terlanjur kesal dan tanpa menghiraukannya aku terus saja melangkah menuju pintu gerbang rumahnya.
Aku mendengar langkah kaki di belakangku dan tanpa kusangka dia menarik tanganku membuat langkahku tertahan.
“Vio... sorry, aku yang salah,” ujarnya dengan nafas tersengal-sengal. Aku memandangnya dalam diam.
“Aku tiba-tiba kesal ngeliat foto itu, aku ngga inget kalau aku masih menyimpannya,” lanjutnya lagi.
“Itu bukan urusanku. Aku cuma ngga suka sama sikap kamu, tadi kamu yang minta aku ke sini, setelah aku di sini kamu malah cuekin aku. Aku tahu aku salah sudah periksa-periksa barang-barang kamu, tapi aku ngga ada maksud apa-apa. Mending aku pergi aja dari pada disini didiemin,” ujarku padanya.
“Sorry...” sahutnya pelan.
“it’s okay, aku pulang.”
“Aku antar.”
“Ngga usah.”
“Vio, please...”
“Aku ngga ingin kamu antar, tolong kamu ngerti.”
Sekali lagi benar kata Fandra, orang yang patah hati itu labil dan tidak bisa dipercaya. Bahkan aku sendiri tidak bisa percaya dan mengerti dengan diriku sendiri yang tiba-tiba saja merasa sangat terpuruk dan hancur.
Bukan karena aku menemukan foto Hanggara dengan Adisty, bukan!
Sikap Hanggara tadi hanyalah stimulus yang memicu perasaan yang sangat menyakitkan dan menguras energi ini.
Tapi sekuat apapun kepalaku meminta hatiku untuk tenang, sekuat itu pun rasa sakit ini menghantam pertahananku.
(karena ingatan itu terkadang seperti racun...)

Aku membuka mataku. Melihat ke sekelilingku...ah, mimpi ternyata, desahku dalam hati.
Aku bangun dari tidurku dan melihat jam di ponselku. Jam setengah lima sore. Rupanya tadi aku ketiduran setelah diantar Hanggara dari membeli tanaman hias.
Aku terduduk di tepi tempat tidurku, mengingat mimpiku tadi. Siapa wanita itu, laki-laki itu juga siapa, dan di bandara mana itu?
Laki-laki itu, aku merasa sangat nyaman ketika dia memelukku. Tapi kenapa dia pergi? Lalu kenapa ada mama juga di sana?
Arrghh....biingung! aku mengacak-acak rambutku sendiri, tidak mengerti dengan mimpi anehku tadi.
Aku memutuskan untuk mandi biar badan dan pikiranku lebih segar, lagian ini juga sudah sore. Usai mandi aku keluar kamar, pengen ngobrol sama Fandra, apa dia ada di kamarnya ya?
Dan beruntungnya aku ketika aku membuka pintu kamar, mataku langsung bertemu pandang dengan Fandra, yang sedang duduk di tempat favoritenya.
“Hei, numpang ngerokok ya di sini,” ujarnya tersenyum kecil.
Aku melihat tangan kanannya yang masih memegang rokok yang baru habis seperempatnya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk sekilas.
Aku menopangkan badanku di dinding pembatas balkon dan memandang ke langit yang cerah sore ini. Pikiranku masih di penuhi dengan adegan-adegan dari mimpiku tadi.
Aku berusaha kuat mengingat wajah wanita dan laki-laki tadi, tapi sama sekali aku tidak bisa ingat wajah mereka.
“Abis kencan sama Hanggara ya?” tanya Fandra
“Ngga kencan, nganterin Lisa, temenku yg dari Jakarta itu ke bandara,” sahutku tanpa menolehnya.
“oh...”
“Fan...!” panggilku, ingin melanjutkan kalimatku tapi aku ragu
“Apaan?”
“Kamu... pernah ngga sih ngerasain kaya... deja vu gitu?” kali ini aku menoleh ke arahnya ingin melihat reaksinya.
Dia tampak berpikir, “eemmm....pernah kayaknya, tapi aku ngga inget kapan dan di mana.”
“Emang ada ya deja vu-deja vu gituan?Beneran ya?”
Dia mengangkat bahunya, “Ngga tahu juga sih, katanya orang-orang sih ada, emang beneran, tapi katanya lho ya,” ujarnya, “Emang kenapa? Kamu ngalamin deja vu?”
Aku menghela nafas, “Sepertinya, aku ngga yakin juga.”
Aku diam sejenak
“Trus.... tadi juga aku mimpi aneh,” lanjutku, “Aku seperti ada di bandara, tapi berbeda dengan bandara di sini, beda banget, kayak lebih jadul gitu suasananya dan bangunanya,” ujarku mengingat kembali adegan-adengan dalam mimpiku tadi.
“Mungkin ke bawa mimpi gara-gara tadi kamu ke bandara juga,” sahut Fandra
“Anehnya, di mimpi aku itu, aku masih kecil, pendek banget,” lanjutku, “trus aku digandeng sama cewe, tapi aku ngga liat wajahnya dan ada cowok juga, nah cowok ini tahu namaku, dia panggil namaku trus meluk dan ciumin aku.”
“Wah, pedofil itu,” sambar Fandra sambil tertawa jahil
“Isshh...kamu ngawur ah,” semprotku kesal, “Kalau pedofil, aku harusnya takut dong, nah ini aku justru ngerasa nyaman banget pas dipeluk sama dia, trus dia pergi gitu aja abis meluk aku, abis itu cewe yang gandeng aku ajak aku jalan lagi, eh aku malah ketemu sama mama. Ada mamaku di sana. Maksudnya apa ya?”
Aku melihat ke Fandra yang sedang menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
“Bunga tidur aja kali, lagian kamu tidur siang malah mimpi, kalau mimpi itu biasanya pas tidur malam, palingan ya itu kebawa dari kejadian nyata karena tadi kamu ke bandara.”
“Di bandara tadi aku juga ngerasa aneh, kayak pernah ke sana tapi ngga inget kapan, kayak deja vu gitu,” ujarku.
“Mungkin aja kamu emang pernah ke sana waktu kecil cuma kamu aja ngga inget, kan kamu bilang masa kecil kamu di sini,” lanjut Fandra.
“Trus mimpi aku artinya apa ya?”
“Bunga tidur aja kali,” sahutnya mematikan puntung rokoknya lalu dia meloncat turun dari duduknya, “Mau yang deja vu beneran ngga?”
“Hah?! Maksudnya?”
“Kemarin awal-awal kita ketemu kan aku ajakin makan ikan bakar, sekarang kita ulang lagi makan ikannya, biar bener-bener jadi deja vu,” ujarnya tersenyum lebar.
“Hahahaha mana ada kayak gituan, ngawur kamu, tapi makan ikan bakarnya boleh itu, aku mau banget,” ujarku tertawa senang dengan idenya.
“Ajak juga pacarmu nanti dia ngamuk ke aku kalau kamu aku ajak pergi-pergi,” ujarnya
“Ngga usah, kita berdua aja, dia ngga akan tahu,” tolakku, “Satu lagi dia bukan pacarku ya!”
“Kamu itu ngga tahu dia ya, dia itu punya mata dan telinga di tembok ini,” sahut Fandra sambil memukul-mukul dinding.
Aku hanya tertawa geli melihat tingkahnya. Dia masuk ke dalam kamarnya dan kemudian keluar sambil menempelkan ponselnya di telinga dan berdiri tepat di depanku.
“Hai bro ini aku Fandra, gini, aku sama Vio mau bakar-bakar ikan, klo kamu ngga sibuk dateng ya,” Fandra ternyata menelepon Hanggara. Aku tidak pernah tahu kalau dia menyimpan no telpon Hanggara.
“Ikannya beli lah, ini mau....” kalimatnya terpotong karena aku memukul- mukul lengannya, mauku supaya dia tidak mengajak Hanggara ke pasar, biar aku dan dia aja yang ke pasar dan menyiapkan semua, Hanggara tinggal datang dan makan.
“Suruh dia ke sini aja langsung...” bisikku pelan agar tidak terdengar Hanggara
“Apaan sih....sssttt!!!” dia mendelik padaku dan kemudian melanjutkan pembicaraannya di telpon.
“Iya, kenapa? Iya beli di pasar, di kedonganan,” lanjutnya, “ya nanti ketemuan di sana aja, oh.... iya boleh aja sih kalau kamu maunya gitu, ok... kita tunggu kalau gitu.”
Akhirnya Fandra menutup telponnya.
“Dia bilang apa?”
“Dia mau ke sini dulu, jemput kamu,” sahutnya
“Ngapain mesti ke sini dulu, ketemuan di sana aja kan bisa?”
“Kan aku udah bilang, dia ngga mau aku deket-deket sama kamu, ngga bakalan dia ngebiarin kamu pergi berdua aja sama aku.”
“Lagian kamu juga pake ngajakin dia segala, berdua aja kan bisa.”
“Aku ngga mau cari masalah ya, kan aku dah bilang ke kamu kalau dia udah bilang di depan mukaku kalau dia ngga suka aku deket-deket sama kamu,” ujarnya sambil menunjuk-nunjuk mukanya sendiri.
“Dia bukan cowokku, Fan, dia ngga boleh kayak gitu ke kamu, harusnya kamu lawan,” sahutku, “Aku mau jalan sama siapa pun kan terserah aku.”
“Beneran ngga ada rasa suka sedikit pun?” tanya Fandra dengan pandangan menyelidik
“Aku suka sama dia, tapi aku belum terlalu yakin juga,” sahutku
“hmm... terserah kamu sih, kamu yang lebih tahu apa yang kamu rasain,” sahutnya, “Aku mau jujur sama kamu.”
Aku memandangnya. “Tentang?”
“Tentang aku dan apa yang aku rasain sewaktu ketemu kamu,” sahutnya balas memandangku
“Apa?”
“Waktu kamu ngeliat aku berdiri di depan kamarmu, aku ngeliat kamu pertama kali, physically, aku langsung tertarik sama kamu, dan semakin tertarik setelahnya.”
Dia tersenyum padaku, tapi matanya menunjukkan hal yang bertolak belakang dengan senyum yang menggembang di wajahnya. Matanya menatapku sendu.
“Lalu...?”
“Aku ngga akan nanya soal apa yang kamu rasain ke aku. Biasanya perasaan orang yang baru patah hati itu labil dan sulit di percaya,” dia mengedipkan sebelah matanya padaku sambil tersenyum jahil.
Dia lalu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkanku yang masih berdiri diam kehilangan kata-kata, harus kuakui kalau hatiku, lagi, berdegup aneh ketika melihat matanya tadi.
“Ayo ke bawah, kalau Angga datang kita bisa langsung cus,” ajaknya begitu keluar dari kamarnya.
Dia langsung menyambar tanganku dan menarikku mengikutinya menuju tangga. Dan bodohnya aku hanya diam membiarkan perlakuannya itu yang jujur harus kuakui, membuatku merasa nyaman.
***
“Ini gara-gara Vio, dia pengen ngerasain deja vu makanya aku buat dia deja vu beneran,” ujar Fandra memandangku sekilas dengan senyum dikulum, sebelum memasukkan seekor udang bakar utuh ke dalam mulutnya.
Kami sedang duduk di sebuah tempat pembakaran ikan sekaligus tempat makan yang letaknya tak jauh dari bibir pantai.
Sebelumnya, aku, Fandra, dan Hanggara sama-sama membeli beberapa jenis udang dan seafood lainnya dan memutuskan untuk makan langsung di tempat pembakaran ikan sambil menikmati matahari tengggelam.
“Alasan aja itu, sebenernya emang pengen makan ikan bakar lagi,” sahutku setelah meneguk es kelapa muda yang aku pesan.
“Sorry, jadi gangguin waktu kamu,” ujarku lagi, kini kutujukan pada Hanggara yang duduk di sampingku.
“Ngga kok, aku justru seneng,” balas Hanggara menoleh ke arahku sambil memamerkan senyumannya.
Aku mendengar sebuah bunyi berdenting dari ponselku menandakan sebuah pesan masuk. Aku mengambil ponsel yang kusimpan di dalam tas selempangku.
Sementara Fandra dan Hanggara terlibat obrolan tidak penting seputar rencana big sale end year di tokonya Hanggara.
Beberapa pesan wa masuk dari Lisa. Dia mengirimiku beberapa foto prawed-nya di sertai dengan sebuah pesan tertulis
Bantuin gw ya milih, 4 foto terbaik versi lo 😉Aku melihat foto-foto yang dikirimkannya. Menurutku semuanya bagus dan cantik. Ardi dan Lisa tampak sempurna di foto-foto itu.
Terbersit dalam pikiranku tentang Lisa. Dia cantik, supel, periang, dari keluarga yang berkecukupan dan berpendidikan, dia anak bungsu dari dua bersaudara, kakak laki-lakinya sudah menikah dan tinggal di Singapura. Dia berkelimpahan kasih sayang dan kebahagian, sangat bertolak belakang dengan diriku.
Apa ada yang salah denganku, dengan hidupku? Kenapa hidup ini seperti tidak berpihak padaku? Kenapa selalu rasa sakit yang harus aku rasakan. Entah kapan aku bisa merasakan bagaimana rasanya bahagia tanpa takut rasa itu akan hilang secepat rasa itu datang.
Aku menutup pesan dari Lisa. Dan tanpa sengaja mataku bertemu pandang dengan Fandra yang duduk di depan Hanggara, dia mengangkat alisnya sekilas, dan aku bisa menangkap rasa ingin tahu dari pandangan matanya. Aku membalasnya dengan tersenyum sekilas, dan membuang pandanganku ke tumpukan udang bakar yang belum tersentuh dari tadi. Aku memasukkan seekor ke dalam mulutku dan mengunyahnya pelan, sambil menikmati langit yang menguning di ufuk sana.
Entah kenapa rasa sakit kembali menyerang ulu hatiku menimbulkan ngilu di sekujur tubuhku. Benar kata Fandra, perasaan orang patah hati itu tidak bisa di percaya bahkan aku pun seperti tertipu oleh rasa yang diberikan antara kepala dan hatiku. Memberikan rasa yang selalu berbeda silih berganti membuatku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diriku ini.
“Kenapa?” pertanyaan dari Hanggara membuatku tersadar dan menoleh ke arahnya yang sedang memandangiku.
“Mikirin apa?” tanyanya sekali lagi.
Entah kenapa aku hanya memandanginya saja tanpa menjawab, dan kemudian mengalihkan pandanganku ke Fandra, pandangan kami bertemu sekilas sebelum dia mengalihkan pandangannya ke piring di depannya, aku kembali memandang Hanggara, yang masih menungguku bersuara.
“Liat matahari...” sahutku akhirnya, melihat matahari yang nyaris tenggelam di balik horizon.
Aku memandangnya lagi yang masih menatapku, aku tahu ada ketidakpercayaan di pandangan matanya. Aku tersenyum kecil dan kembali menusuk potongan cumi bakar dan mengunyahnya pelan.
***
“Kamu mau ngga kalau ikut ke rumahku sebentar?” tanya Hanggara ketika kami ada di parkiran motor.
“Ngapain?”
“Bantuin aku nanem tanaman yang tadi kita beli, tadi aku ngga sempat urus,” sahutnya.
Aku mengangguk mengiyakan yang di sambut dengan senyumannya.
“Aku bilang Fandra dulu,” ujarku mendekat ke Fandra yang memarkir motornya tak jauh dari Hanggara.
“Fan, kamu balik duluan aja, Angga minta aku bantuin dia urus tananam,” kataku padanya.
Dia menaikkan kaca helmnya.
“Are you okay?” tanyanya menatapku tajam
“Maksud kamu?” tanyaku tidak mengerti
“Are you feeling okay?”
Aku memandangnya dan tersenyum, “not really good, but it will be fine.”
“Then okay.”
Dia tersenyum sekilas dan menutup kembali kaca helmnya. Dia menghidupkan mesin motornya, membunyikan klakson dan melambai sekilas pada Hanggara, untuk kemudian melajukan motornya meninggalkan tempat itu.
***
“Kamu mau taruh di mana yang bunga teratai ini?” tanyaku pada Hanggara setelah kami sampai di rumahnya.
Di rumahnya dia memiliki kebun yang tidak terlalu luas di pojokan di dekat kolam renang.
“Emm... itu aku udah ada tempatnya nanti aku pindah, sementara biar di sana aja dulu,” sahutnya sambil sibuk memindahkan tanah yang sudah dicampurkan dengan pupuk kandang ke dalam sebuah pot yang tidak begitu besar. Aku mendekat dan berjongkok di sampingnya.
“Bisa tolong ambil yang silver dust,” pintanya padaku.
Aku berdiri mengambil tanaman yang dia maksudkan. Dia mengerjakan semuanya sendiri aku hanya memperhatikannya tanpa memberikan bantuan yang berarti.
Setelah dia selesai membereskan semuanya, dia memintaku menunggunya bersih-bersih dan mandi.
Aku memilih duduk di ruang tengah, sambil memperhatikan ruangan yang tidak terlalu luas tapi tertata cukup rapi membuat suasananya terasa nyaman.
Aku berdiri di depan sebuah meja pajangan yang terletak menempel di dinding tepat di bawah sebuah televisi besar yang menggantung diatasnya. Ada sebuah foto berbingkai yang tidak terlalu besar yang diletakkan di dalam kabinet.
Aku mengambil foto itu dan memperhatikan wajah-wajah yang terekam dalam foto tersebut. Yang paling kukenali adalah Hanggara dia berdiri di belakang di apit oleh seorang lelaki yang tampak lebih pendek dan muda darinya di sebelah kanannya dan di sebelah kirinya ada seorang gadis sekitaran anak SMP bergelayut manja di lengannya. Sedangkan di depan mereka, yang kuduga adalah orang tuanya duduk berdampingan.
Aku memperhatikan setiap wajah yang ada di foto itu. Pastinya mereka keluarga yang bahagia, pikirku, tampak sempurna.
Aku meletakkan kembali foto itu ke tempatnya dan memperhatikan foto-foto yang lain, yang didominasi oleh foto diri Hanggara. Sampai kemudian ada sesuatu yang menarik perhatianku, sebuah bingkai foto yang tertelungkup.
Aku mengambilnya. Di dalam bingkai itu ada foto Hanggara dan Adisty, mereka sepertinya sedang merayakan sesuatu. Foto Adisty tampak sedang memegang sekotak besar pizza lengkap dengan pizzanya yang masih utuh dengan sebuah lilin yang masih menyala, dia tersenyum jenaka dengan mata melirik ke arah Hanggara yang sedang mencium pipinya.
Aku tersenyum melihat foto itu. Seharusnya mereka bisa menjadi pasangan yang sangat serasi. Cantik dan tampan, sama-sama pintar, dan tentunya sama-sama dari keluarga berkelas.
“Senyum-senyum sendiri, liat apa sih?” tiba-tiba Hanggara sudah berada tidak jauh dariku berdiri dan perlahan mendekat.
Buru-buru aku meletakkan kembali foto itu ke tempatnya semula. Tapi sepertinya Hanggara melihatnya. Aroma segar dari tubuhnya menyeruak, menusuk hidungku ketika dia berdiri tepat di sampingku.
Dia mengambil foto yang tadi kuletakkan dan tampak raut wajahnya berubah. Aku bergerak menjauhinya dan memilih duduk di sofa panjang yang ada di belakangnya.
Dia masih berdiri di sana. Aku bisa melihat dia sedang membuka penutup belakang bingkai itu, mengeluarkan fotonya, menyimpan bingkai itu ke dalam laci.
Dia mengambil foto itu,merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil sambil berjalan ke dapur.
Kemudian tanpa berkata-kata dia masuk ke dalam kamarnya. Langsung saja aku merasa tidak enak hati melihat sikapnya. Takutnya aku dianggap lancang memeriksa barang-barangnya.
Tak lama kemudian dia keluar dari dalam kamar dan duduk di sampingku, memeriksa ponselnya dalam diam. Tidak hanya semenit dua menit lebih dari 10 menit dia diam dan aku dibiarkan menunggu dalam kebingungan dengan perubahan sikapnya.
“Aku pulang ya,” ujarku menoleh padanya.
“Sebentar,” balasnya tanpa melihat ke arahku dan masih sibuk dengan ponselnya.
Apa dia marah? Lalu kenapa dia tidak menegurku langsung. Entah kenapa kepalaku menjadi panas melihat sikapnya yang tiba-tiba menjadi cuek, apalagi semenjak sore tadi moodku tiba-tiba turun drastis.
“Aku ngga bermaksud memeriksa barang-barang kamu tadi, aku hanya mau liat foto-foto kamu aja, maaf kalau buat kamu tersinggung,” ujarku akhirnya tidak tahan dengan sikap diamnya.
Aku berdiri dan bergegas berjalan menuju pintu keluar.
“Vio!” panggilnya tapi aku terlanjur kesal dan tanpa menghiraukannya aku terus saja melangkah menuju pintu gerbang rumahnya.
Aku mendengar langkah kaki di belakangku dan tanpa kusangka dia menarik tanganku membuat langkahku tertahan.
“Vio... sorry, aku yang salah,” ujarnya dengan nafas tersengal-sengal. Aku memandangnya dalam diam.
“Aku tiba-tiba kesal ngeliat foto itu, aku ngga inget kalau aku masih menyimpannya,” lanjutnya lagi.
“Itu bukan urusanku. Aku cuma ngga suka sama sikap kamu, tadi kamu yang minta aku ke sini, setelah aku di sini kamu malah cuekin aku. Aku tahu aku salah sudah periksa-periksa barang-barang kamu, tapi aku ngga ada maksud apa-apa. Mending aku pergi aja dari pada disini didiemin,” ujarku padanya.
“Sorry...” sahutnya pelan.
“it’s okay, aku pulang.”
“Aku antar.”
“Ngga usah.”
“Vio, please...”
“Aku ngga ingin kamu antar, tolong kamu ngerti.”
Sekali lagi benar kata Fandra, orang yang patah hati itu labil dan tidak bisa dipercaya. Bahkan aku sendiri tidak bisa percaya dan mengerti dengan diriku sendiri yang tiba-tiba saja merasa sangat terpuruk dan hancur.
Bukan karena aku menemukan foto Hanggara dengan Adisty, bukan!
Sikap Hanggara tadi hanyalah stimulus yang memicu perasaan yang sangat menyakitkan dan menguras energi ini.
Tapi sekuat apapun kepalaku meminta hatiku untuk tenang, sekuat itu pun rasa sakit ini menghantam pertahananku.
JabLai cOY dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup