TEH YUYUN:
REGA (III)
'...Gumarang menemui Karna, mencoba memahami perang Kurusetra. Sebab Ugrasena melanggar perjanjian Gangga...'
Sesampainya di rumah mertua, istriku menyambut dengan senyuman manisnya. Mustahil aku menceritakan apa yang tengah terjadi, aku biarkan rahasia ini rapat. Ia bukanlah orang yang pantas untuk menanggungnya.
Apalagi mungkin saja hal ini adalah kesalahanku sendiri juga. Salahku yang mencari tahu mengenai ilmu hitam dan dunia yang seharusnya tidak aku jajaki sejak awal.
Sepanjang hari, kutunjukkan wajah cerah di hadapan semua orang. Meski hati waswas, sebab masih ada kemungkinan gangguan dari keluarga Han mengintai. Aku serahkan semuanya pada takdir, apapun hasilnya, aku bersiap.
Quote:
Vijaya menemui seseorang di sebuah ruangan seperti kantor pribadi.
"Ayah, saya gagal."
Ucapnya saat berdiri didekat pintu.
"Biarkanlah untuk saat ini."
Jawab pria tua itu dari balik meja.
Matanya masih memandang pada lembaran kerja di hadapannya.
"Tapi ayah..."
Vijaya enggan melanjutkan.
"Nak..."
Kini pria itu berdiri.
"Ada hal yang lebih mendesak untuk diselesaikan."
Ujarnya sambil menepuk pundak Vijaya.
"Baik, ayah. Saya mengerti."
Vijaya mengangguk, pandangannya tertunduk.
"Lalu, kenapa kamu masih disini?"
Saat dia berbicara, nadanya menekan mengancam.
Vijaya segera keluar dari ruangan itu tergesa.
Seorang wanita setua pria tadi masuk sambil membawa secangkir teh.
"Rega masih bisa dipake kan, Yah?"
Tanya wanita itu.
"Iya bisa, perlu 3 hari aja biar lukanya sembuh dulu."
Pria itu meminum seteguk tehnya.
"Kasih camani lagi?"
Wanita itu memastikan.
"Iya, kecuali jika ada anggota keluarga ini yang bersedia menjadi kepala barunya. Rega takkan butuh camani selama beberapa puluh tahun kedepan."
Pria itu menjawab sekenanya.
"Kerikilnya bisa dibuang, Yah?"
Wanita itu menyelidiki sesuatu.
"Ngga, Yuyun turun tangan. Dia gak sepenting Dinda. Jadi biarkan dulu, kita bisa perhatikan sebelum mengambil langkah."
Pria itu menjelaskan sambil kembali duduk di belakang meja.
Seorang perempuan berumur 20tahunan memakai kebaya berwarna abu-abu sedikit lusuh berjalan menuju ruangan itu.
"Tuan, nyonya Han. Saya membawa kabar dari Ki Kala."
Ujar perempuan itu.
"Bawa kemari."
Perintah sang wanita.
Perempuan berkebaya itu menyerahkan bambu sepanjang lengan berisi gulungan surat didalamnya.
"Yah, lihat ini."
Wanita itu memberikan surat pada sang pria.
Menerima surat itu, ia tertegun berpikir sebentar.
"Ratih, panggil Kara, bilang suruh bawa laporan keuangan toko di jalan ST, kandidat tumbal, sama lokasi pindahan toko."
Perintahnya pada perempuan berkebaya.
"Baik, tuan. Saya permisi."
Ia berjalan mundur keluar ruangan.
Sebelum langkah kaki terakhirnya meninggalkan ruangan itu.
"Ratih, tolong sekalian siapkan camani terus simpen di gudang belakang ya."
Sang wanita kini yang memberi perintah.
"Baik, nyonya, segera saya siapkan."
Jawabnya sambil pergi keluar ruangan itu.
Rumah ini ternyata berlantai 3, mempunyai 6 kamar utama di setiap lantai. 3 kamar pembantu, gudang di belakang rumah yang bangunannya terpisah dari rumah utama.
Penglihatanku seperti berputar membuatku sedikit pusing.
Lalu aku seperti berada di belakang kepala Ratih. Aku melihatnya berjalan ke lantai dua, mengetuk satu kamar dan berkata dengan halus.
"Permisi Nona, tuan menyuruh nona untuk membawa beberapa laporan ke ruangan kerja di lantai tiga."
Pintu kamar terbuka, Kara muncul dari sana. Jujur saja saat melihatnya aku tertegun sebentar. Wajahnya sangat amat cantik, kulitnya putih, hidung mancung, mata besar nan indah, kaki jenjang, tubuh proporsional yang menggoda. Rambut pendeknya memberi kesan feminim yang anggun, ia memakai rok hitam pendek dan kemeja biru muda dengan belahan dada rendah.
"Hmmm?"
Kara mendekatkan wajahnya pada Ratih, sangat dekat seperti hampir menciumnya.
"Tatapanmu masih tajam ya?"
Ujarnya kemudian.
Ratih masih terdiam. Ia menunggu jawaban yang dibutuhkan sepertinya.
Kara memundurkan wajahnya, ia bersungut dan melipat tangannya di dada.
"Iya, aku lakukan sekarang perintah ayah. Kamu boleh pergi."
Jawaban yang ditunggu Ratih akhirnya ia katakan.
"Baik, saya permisi nona."
Ratih segera berbalik meninggalkan kamar Kara.
Suara pintu tertutup dibelakangnya terdengar. Ratih berjalan menuruni tangga. Ia keluar rumah, berbelok ke samping hingga berjalan ke belakang rumah.
Terlihat seperti kandang besi berukuran 3x5 meter disana, dibelakangnya ada sebuah bangunan yang terlihat seperti gudang. Di dalam kandang itu ada beberapa ekor ayam yang warna kesemuanya hitam. Itu camani?
Sebelum Ratih membuka kandang dan mengambil seekor ayam camani, ia terdiam sebentar.
Lalu pandanganku menjauh. Aku hanya dapat melihatnya dari beberapa meter. Ratih mengambil seekor ayam, berjalan ke gudang membuka pintunya dan terakhir melemparkan ayam itu kedalam.
Setelah selesai, ia berbalik dan berjalan seperti menghampiriku. Ia lagi-lagi diam. Aku dapat melihat wajahnya dengan jelas kini. Kara benar, tatapan Ratih tajam, ia membuat kesan dingin dan acuh.
Aku terbangun dengan keringat yang membanjiri tubuhku seperti malam kemarin. Mimpi itu jelas dari Ayi, ia seperti memperlihatkan sedikit mengenai keluarga Han.
Jam menunjuk pukul 3 pagi, aku terduduk dan mengingat-ingat mimpi tadi. Di jendela samping kamar, aku dapat melihat siluet seseorang berdiri disana.
Aku memberanikan diri untuk melihat siapa itu. Saat tirai terbuka, aku melihat diriku sedang berdiri disana.
Perasaan ini, seperti melihat cermin.
Itu Ayi.
Dia hanya berdiri diam disana, tidak berkata apapun atau tersenyum. Lalu setelah mata kami bertatapan selama beberapa saat, ia melangkah pergi menjauh hingga gelap menelannya hilang.
Aku kembali ke ranjang samping istriku, menatap wajahnya dalam-dalam.
Aku ingat dengan jelas kata-kata dari pria tua Han yang membiarkanku hidup, membuat sedikit melegakan dadaku. Aku bersyukur untuk sementara waktu aku aman.
~oOo~
Quote:
Suara gonggongan anjing terdengar bersahut-sahutan, segerombolan anjing hitam berjumlah 13 ekor berlari memasuki kediaman Han. Mata mereka menyala hijau, dibelakangnya ada Dinda yang memakai pakaian pangsi serba hitam. Ia mengiringi Geni.
"KELUAR KAU VIJAYA!"
Dinda berteriak lantang di depan pintu masuk. Sementara di sekitarnya beberapa orang dengan pakaian satpam telah ambruk tak sadarkan diri.
Pak tua Han menengok dari balik jendela lantai tiga. Lalu memberi isyarat pada Ratih yang ada di lantai bawah saat mata mereka bertemu.
Ratih segera menghampiri Dinda, ia menyilangkan tangannya ke belakang sebentar, mengambil dua bilah kujang berwarna putih dengan gagang hitam.
Sambil terus berjalan mendekati Dinda.
"Kamu membuat onar di waktu yang salah, nona muda."
Ujarnya saat jarak mereka kian dekat.
"Karna!"
Dinda berteriak saat melihat Ratih memasang kuda-kuda.
Para Geni masih terus menggonggong saat melihat Ratih mengacungkan kedua senjatanya.
Ratih mengejangkan dan menarik kembali kedua lengannya sebentar, mengatupkan giginya rapat, lalu melompat mendekat.
Dinda masih diam berdiri, sementara para geni langsung menyerang Ratih membabi buta.
Ratih dengan gesit dapat menghindari setiap gigitan geni, dan membalasnya dengan sayatan ke tubuh mereka satu persatu.
Seperti menari, Ratih menargetkan area jantung ataupun leher para geni yang menyerangnya satu persatu. Setiap ia berhasil membunuh satu geni, geni yang ia bunuh berubah menjadi asap hitam. Lalu sebagai gantinya muncul satu lagi. Karena hal itu, jumlah para geni tidak berkurang ataupun bertambah.
Dinda yang melihat Ratih sibuk mengurusi para geni meninggalkan lokasi itu. Ia masuk ke dalam rumah keluarga Han lewat pintu depan.
Saat pintu besar itu dibuka, Kara telah menunggunya.
"Mari bermain, sayang!"
Kara meniup suatu serbuk berwarna merah muda dari tangannya. Serbuk itu menyebar ke seluruh ruangan dan menghalangi pandangan Dinda, saat terhirup, Dinda merasakan kepalanya seperti berputar.
Saat keadaan Dinda yang masih berusaha menyeimbangkan tubuhnya, Kara menggores leher Dinda dengan kukunya yang tajam. Meski dangkal, darah mentes dari luka itu.
"Jalang! Kemari dan bertarung!"
Dinda berteriak sambil memukul kesana-kemari.
"Aww, manisnya. Bukan tidak ingin, aku tidak bisa bertindak kasar seperti pelayan di luar sana."
Suara Kara seperti menggema, membuat Dinda kesulitan mencari targetnya berada.
Berkali-kali Dinda mencoba menghindari setiap cakaran Kara, namun selalu gagal. Perlahan baju yang ia pakai mulai terkoyak disana-sini. Kara menyerang dari berbagai sudut, kadang ia menargetkan leher atau perut, kadang juga lengan atau pipi, sesekali paha dan punggung, kecepatan serangannya konstan, membuat Dinda kewalahan.
"Hahaha..ayo cantik, jangan menyerah."
Lagi-lagi Kara mengejeknya.
Kini Dinda berlutut sambil melindungi bagian vitalnya dari serangan Kara. Sementara serangan Kara masih terus berlanjut dan saling terhubung. Luka yang ditimbulkannya memang dangkal, tapi serangannya terus-menerus ia lakukan tanpa putus dengan tempo yang sama membuatnya harus mencari celah dengan resiko yang berbahaya.
Semakin terkena serangan, Dinda semakin paham tempo Kara. Saat temponya mengendur, Dinda bersiap melawan balik. Ia tahu, serangan ini akan lebih kuat.
Benar saja,
Jari-jari Kara menusuk dalam ke perut sebelah kiri Dinda. Dinda yang terkena serangan itu segera menangkap lengan Kara, inilah kesempatan yang ia cari.
"Giliranku jalang!"
Dinda mencabut tangan Kara dari perutnya lalu menendang tepat di bagian siku sehingga membuat lengannya patah ke atas seketika.
'krak!'
"Ahh!!"
Kara menjerit namun Dinda masih belum selesai. Ia menarik lengan Kara yang telah patah ke bawah, dan menendang dagu Kara dengan lututnya berkali-kali.
Kara memutar tubuh untuk melindungi dagunya dengan cepat, membuat cengkraman Dinda terlepas lalu berjongkok dan melakukan tendangan menyapu ke bawah kaki Dinda dengan cepat.
Dinda yang jatuh tersungkur dengan posisi terlentang tak dibiarkan oleh Kara. Ia segera melompat ke atas tubuh Dinda dan berusaha menusuk lehernya yang dengan cepat Dinda dapat menahan itu.
Dinda segera memutar kakinya ke samping meletakkannya tepat diperut Kara, lalu ia menendang Kara hingga jatuh ke sampingnya. Tak menunggu waktu lama, tinju Dinda terpukul tepat mengarahkan ke leher Kara, Kara menghindar dengan berguling lalu melompat berdiri untuk menendang kepala Dinda yang masih berjongkok.
Dinda menahan dengan sikunya, lalu melakukan gerakan tendangan menyapu hingga Kara jatuh tersungkur. Sebelum Dinda melompat keatas tubuhnya, Kara lagi-lagi meniup serbuk yang sama tepat di wajah Dinda.
Dinda mundur sambil menahan kepalanya dan menyeimbangkan tubuhnya, setelah ia terbiasa, ia melihat siluet seseorang. Mengira itu Kara, ia menyerangnya.
"Tenangkan dirimu, Nona muda."
Nyatanya itu adalah pria tua Han, ia mencengkram kepalan Dinda dengan tepat.
Dengan tibanya pak tua Han, serbuk merah muda yang menyelimuti ruangan perlahan pudar dan menghilang. Kini pandangan Dinda kembali jelas terlihat.
"Panggil aku nona muda sekali lagi, pak tua!"
Suara Dinda berubah lebih serak, seperti suara seorang nenek tua. Kontras dengan penampilan wajahnya yang masih muda.
Pak tua Han mendorong kepalan Dinda hingga ia harus mundur menjauh.
Dinda melihat Kara mundur dengan posisi duduk menyeret tubuhnya menjauh sambil terus memperhatikan Dinda dan pak Tua Han.
"HEHE..HAHAHA!! Kini kau lebih cantik, jalang!"
Dinda tersenyum sangat amat lebar, senyuman yang sangat familiar kuingat. Senyuman yang melintang hingga menyentuh kedua ujung telinga. Memperlihatkan keseluruhan gigi yang sama tajam.
Ayi memperlihatkan wujudnya kini, sadar siapa yang harus ia lawan.
"Ternyata kau bidak yang dibicarakan!"
Pak tua Han terlihat kesal saat mengetahui siapa yang ada di hadapannya.
Ayi berjalan memutar dengan pelan,
"Ayolah pak tua, jangan pura-pura tidak tahu aku datang mengejar."
Ia berhenti berjalan dan memasang kuda-kuda. Tangan kanannya terentang ke depan, tangan kirinya ke belakang. Gerakan menghunus lengan, ia meniru gerakan Kara.
"Tidak hari ini. Aku yakin majikanmu juga tahu."
Pak tua Han berbicara tenang.
"Jangan jadi pengecut!"
Ayi melompat cepat, dan dalam sekali langkah ia tiba di depan pak tua Han. Ayi menghunuskan jarinya yang kini kuku tajam seperti Kara ke arah leher pak tua Han.
Pak tua Han mengelak lehernya sedikit, lalu membalas memukul perut Ayi dengan keras. Sebelum ia menarik kembali pukulannya, rasa panas menjalar ke seluruh tubuh Ayi, lalu ...
'BUMMM!
Ledakan terjadi tepat di perut Ayi hingga berlubang. Ayi jatuh berlutut dan disambut dengan tendangan dengan ledakan yang sama tepat di kepalanya.
Ayi terlempar agak jauh, tubuhnya terkoyak tak karuan. Sebelah kepalanya juga habis meledak.
Ayi perlahan berdiri, luka-luka yang ia terima dari pak tua Han mulai tertutup dengan jaringan hitam yang bergerak. Setelah duri-duri kecil keluar dari sana, maka lengkaplah pemulihan Ayi.
Kini ia terlihat menyeramkan. Wajah Dinda yang pada dasarnya adalah wajah perempuan, setengahnya berwarna hitam dengan duri-duri kecil yang bermunculan. Tanpa mata kanan, setengah hidung yang rata juga setengah bibir yang sama rata dan hanya jaringan hitam yang menutupnya. Kepala yang setengah tanpa rambut, sungguh aneh. Aku yang melihatnya seperti itu mual. Ayi yang menyerupai Dinda itu tersenyum, kini hanya bibir kiri yang tersungging lebar.
Ayi menyentuh perutnya yang telah pulih, lubang besar itu juga tertutup.
"Aku berharap banyak padamu pak tua."
Ayi menjilat jari yang tadi menyentuh perutnya.
Lalu sekilas sabit besar terkalung di leher Ayi, menyadari itu, Ayi menunduk dengan cepat menghindar melompat mundur dan mencari tahu siapa yang melakukannya.
"Teruskan, maka aku yang akan jadi lawanmu."
Seorang kakek tua muncul, ia memakai setelan serba merah. Di belakangnya sosok tinggi besar berbulu lebat memegang sabit yang besarnya sama dengan tubuhnya. Sosok itu tersenyum memperlihatkan kedua taringnya yang mencuat dan lidahnya yang panjang menjulur hingga dagu.
Ayi harus menengadah untuk melihat sosok itu.
"MENARIK!! AYO LAKUKAN LAGI!!"
Senyuman Ayi tersungging lebih lebar, asap hitam mengepul dari setiap luka-lukanya, menyelimuti jaringan hitam berduri yang aneh itu, lalu asap itu seperti ditarik ke dalam, merubahnya menjadi besi hitam gelam.
Sebuah pisau terlempar tiba-tiba dari belakang Ayi, ayi mengindar dan pisau itu ditepis dengan mudah oleh sosok kakek tua tadi dengan mudah.
Teh Yuyun berjalan masuk, dengan pisau yang ia pegang, ia menusuk tengkuk Ayi dengan cepat. Menarik kepala Ayi hingga telinganyatepat di bibir teh Yuyun.
"Bukan sekarang."
Bisikan teh Yuyun membuat Ayi membatalkan apa yang sedang ia mulai pada luka-lukanya.
"Kau yakin nyai? Aku didepanmu saat ini."
Kakek tua itu menantang teh Yuyun.
"Sadari posisimu Kala! Para bidakmu masih memegang ajian terakhir, Rega tak berdaya disana, meski kalian dapat aku bunuh semuanya. Muridmu akan datang membalas dendam padaku. Merepotkan mengurus kecoak jika aku tak mampu membunuh semuanya!"
Teh Yuyun mengibaskan tangannya sekali, menimbulkan api di setiap sudut ruangan itu. Diantara jilatan api yang berkobar, asap yang mengepul, Teh Yuyun menghilang bersama Ayi. Pun dengan para Geni yang meninggalkan Ratih dalam kondisi terkoyak hampir sekarat di luar.
Ki Kala yang muncul di kediaman Han, hanya tersenyum diantara kobaran api, lalu menghilang bersama makhluk yang ia bawa seperti ia muncul tadi.
Kebakaran terjadi di kediaman Han, membuat semua anggota keluarganya keluar menyelematkan diri. Suara sirine bersahutan, beberapa mobil pemadam kebakaran tiba dan segera memadamkan api.
Ratih yang terluka parah diangkut oleh ambulan menuju rumah sakit.
Suara sirine, teriakan orang-orang, suara jilatan api yang berkobar, atmosfer panik dari semua orang, menutup semua penglihatanku saat itu.
Aku bangun di pukul 5 pagi karena guncangan istri yang terlihat panik.
"A mimpi buruk?"
Ia bertanya saat melihatku dengan wajah ketakutan.
"Mimpi sangat amat buruk yang pernah a alami."
~oOo~
Matahari meninggi, aku bersiap untuk berangkat kerja seperti biasa. Shiftku dimulai lebih siang, jam 7 lebih aku baru selesai bersiap. Ibu mertua asik menonton saluran berita di ruang tengah sambil duduk di sofa. Aku yang bersama istri di luar sedang memakai sepatu.
"Re, kamu lewat jalan CG gak?"
Tiba-tiba ibu mertua bertanya setengah berteriak.
"Ngga bu, Re lewat jalan PS. Emang kenapa?"
Tanyaku balik.
"Katanya ada rumah yang kebakaran, itu loh di perumahan elit itu. Kalo lewat situ kuatirnya ibu masih banyak mobil polisi atau segala macem, jadi bakal macet."
Jelasnya.
"Oh ngga bu, aman jalur yang Re ambil mah."
Aku menenangkannya.
"Hati-hati ya a."
Istriku mengingatkan sambil mencium tanganku.
"Iya, tenang aja. A kabari nanti."
Aku mencium keningnya dan perutnya yang semakin besar.
"Bu, Re pamit."
Aku mencium tangan ibu mertua.
"Iya. Hati-hati."
Balasnya singkat, rupanya fokusnya masih di berita yang ia tonton.
Aku berlalu, melaju motor dengan santai. Semakin jauh, kulihat istriku melambaikan tangannya hingga aku hilang di kejauhan.
Sebuah pertanyaan muncul di benakku tentang apa yang terjadi semalam.
"Tak mungkin Teh Yuyun bertindak gegabah seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi?"
ARC REGA:
SELESAI