- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#689
Jilid 20 [Part 445]
Spoiler for :
ALANGKAH terkejutnya Karebet melihat orang itu, sehingga dengan serta merta ia menyapanya,
Karebet mengerutkan keningnya. Ia melihat wajah Sembada yang garang, karena itu segera ia dapat menyangka, bahwa kedatangannya bukanlah dengan maksud yang baik. Tetapi Karebet tidak mau segera berprasangka jelek. Dicobanya kemudian untuk menghilangkan setiap kesan yang gelap dari wajahnya. Dengan senyum kecil Karebet kemudian berkata,
Wajah Sembada masih tetap garang. Bahkan kemudian dengan tajamnya ia memandangi tubuh Jaka Tingkir.
“Hem. Tidak seberapa besar,” katanya di dalam hati.
“Apakah dalam tubuh itu benar-benar tersimpan Aji Lembu Sekilan?”
Karena Sembada tidak segera menjawab, maka Karebet bertanya pula,
Sembada menggeram. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu ia tidak berbicara melingkar-lingkar. Langsung saja dikatakannya apa yang dikehendaki. Dengan nada datar ia berkata,
Meskipun Karebet telah menyangka, namun pengakuan yang tiba-tiba itu mengejutkannya juga. Sesaat ia terpaku diam. Ditatapnya wajah Sembada yang garang itu.
Sembada menjadi marah bukan buatan ketika Karebet malahan tertawa bergelak-gelak. Dengan memegang perutnya, anak muda itu berkata,
Wajah Sembada menjadi merah padam. Namun sebelum ia membentak-bentak lagi, Karebet pun terkejut. Ia mendengar desir di semak-semak. Karena itu maka katanya di dalam hati.
“Benar dugaanku. Tidak hanya seorang.”
SESAAT kemudian Karebet menggeser kakinya. Dari sisinya melontarlah seorang yang akan lebih tua dari Sembada. Namun tampaklah betapa orang itu jauh lebih tenang dan meyakinkan. Orang itulah Kiai Sambirata.
Dengan lemahnya Kiai Sambirata menganggukan kepalanya. Dengan sareh ia berkata,
Karebet mengangguk. Namun terasa bahwa ia harus lebih waspada karenanya.
Meskipun ia tidak bergerak dari tempatnya, namun ia benar-benar tidak mau menjadi lembu bantaian.
Karena itu segera dengan diam-diam diterapkannya Ajinya yang dahsyat, Lembu Sekilan.
Sambirata melihat wajah Karebet yang tegang. Tetapi ia tidak segera menyadari, bahwa dengan sikap yang sederhana itu, Karebet telah matek Ajinya Lembu Sekilan. Karena itu, masih saja Kiai Sambirata yang terlalu percaya kepada dirinya itu berkata,
Karebet memandang orang itu dengan seksama. Di Demak, nama itu memang pernah didengarnya. Tetapi ia tidak pernah menaruh perhatian. Kini tiba-tiba orang itu datang kepadanya dengan maksud yang tidak sewajarnya.
Dengan demikian, maka Karebet itu benar-benar harus berhati-hati. Ia tahu benar benar bahwa Sembada adalah kakak seperguruan Prabasemi dan Sambirata adalah orang yang kurang disenangi oleh masyarakat Demak karena pekerjaannya. Ternyata kini mereka berdua bergabung untuk melenyapkannya. Meskipun demikian sebenarnya Karebet sama sekali tidak gentar.
Sekali lagi Karebet terkejut. Ternyata mereka tidak hanya berdua. Tetapi justru karena itu timbullah marahnya. Wajahnya yang riang menjadi kemerah-merahan karena nyala api kemarahan yang membakar dadanya.
Dengan lantang anak dari Tingkir itu menjawab,
Sembada sudah tidak dapat menahan diri lagi. Timang emas bertretes berlian benar-benar menarik hati, apalagi anak muda itu benar-benar telah membakar telinganya. Karena itu, cepat-cepat ia meloncat dan memukul dada Karebet sekuat-kuatnya.
Karebet melihat gerak Sembada itu, namun ia sama sekali tidak menghindarinya. Namun wajahnya menjadi tegang dalam penerapan ajian yang setinggi-tingginya, daya pertahanan dalam Aji Lembu Sekilan.
Tenaga Sembada adalah tenaga yang luar biasa kuatnya. Namun ia masih mempergunakan kekuatan jasmaniah melulu. Karena itu, ketika tangannya membentur dada Karebet alangkah terkejutnya. Karebet itu masih saja tegak seperti tonggak. Sedang kedua kakinya yang kokoh kuat seakan-akan berakar jauh menghujam ke pusat bumi. Bahkan terasa, seakan-akan tangan Sembada itu menghantam sesuatu yang tak dapat dilihatnya. Tetapi tangannya itu seakan-akan sama sekali tidak menyentuh dada Karebet.
Ketika ia menyadari serangannya itu gagal, maka segera ia meloncat surut. Dengan marahnya ia menggeram, sambil menunjuk wajah Karebet itu dengan ujung jarinya.
Karebet tidak menjawab. Namun sekilas ia melihat Sambirata bergeser.
Orang itu menghentakkan kedua tangannya dan dengan satu gerakan yang cepat, tangan itu ditariknya ke samping.
Quote:
“Kakang Sembada?”
Sembada tersenyum.
“Ya akulah,” jawabnya.
Sembada tersenyum.
“Ya akulah,” jawabnya.
Karebet mengerutkan keningnya. Ia melihat wajah Sembada yang garang, karena itu segera ia dapat menyangka, bahwa kedatangannya bukanlah dengan maksud yang baik. Tetapi Karebet tidak mau segera berprasangka jelek. Dicobanya kemudian untuk menghilangkan setiap kesan yang gelap dari wajahnya. Dengan senyum kecil Karebet kemudian berkata,
Quote:
“Kedatangan Kakang sangat mengejutkan aku.”
Wajah Sembada masih tetap garang. Bahkan kemudian dengan tajamnya ia memandangi tubuh Jaka Tingkir.
“Hem. Tidak seberapa besar,” katanya di dalam hati.
“Apakah dalam tubuh itu benar-benar tersimpan Aji Lembu Sekilan?”
Karena Sembada tidak segera menjawab, maka Karebet bertanya pula,
Quote:
“Apakah keperluan Kakang, sehingga Kakang sampai kemari?”
Sembada menggeram. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu ia tidak berbicara melingkar-lingkar. Langsung saja dikatakannya apa yang dikehendaki. Dengan nada datar ia berkata,
Quote:
“Karebet, aku adalah sraya Adi Tumenggung Prabasemi.”
Dada Karebet segera berdesir. Cepat ia dapat menebak. Apakah sebenarnya maksud Sembada itu. Namun ia masih juga bertanya,
“Apakah yang harus Kakang lakukan?”
Sembada menarik nafas. Kemudian setelah menenangkan getar dadanya ia berkata,
“Aku harus membunuh kau.”
Dada Karebet segera berdesir. Cepat ia dapat menebak. Apakah sebenarnya maksud Sembada itu. Namun ia masih juga bertanya,
“Apakah yang harus Kakang lakukan?”
Sembada menarik nafas. Kemudian setelah menenangkan getar dadanya ia berkata,
“Aku harus membunuh kau.”
Meskipun Karebet telah menyangka, namun pengakuan yang tiba-tiba itu mengejutkannya juga. Sesaat ia terpaku diam. Ditatapnya wajah Sembada yang garang itu.
Quote:
“Jangan mempersulit pekerjaanku, Karebet. Aku dan kau tidak pernah mempunyai persoalan apapun. Aku tidak pernah menyakiti hatimu, dan kau tidak pernah menyakiti hatiku pula. Karena itu, marilah kita saling berbaik hati. Tolonglah pekerjaanku kali ini supaya segera selesai. Nanti aku akan mendapat sebuah kamus bertimang emas tretes berlian,” kata Sembada.
Karebet mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya dalam nadanya yang khusuk,
“Baik Kakang. Baiklah aku menolongmu. Tetapi aku harus mendapat separo dari kamus dan timang itu.”
Sembada mengerutkan keningnya.
“Hem..”, geramnya dan kemudian katanya di dalam hati,
“Anak ini benar-benar anak yang luar biasa. Tanggapannya atas bahaya yang dihadapi masih saja seperti menyongsong datangnya kekasih.”
Namun Sembada tidak mau terpengaruh oleh wibawa Joko Tingkir. Karena itu ia membentak,
“Aku tidak sedang berkelakar, Karebet.”
Justru Karebet yang aneh itu kini tertawa.
Katanya,
“Kita tidak pernah saling menyakiti hati masing-masing. Jangan membentak-bentak, Kakang. Lebih baik kita bergurau setelah kita lama tidak bertemu.”
“Diam!” bentak Sembada yang sama sekali tidak berhasil menakut-nakuti Karebet.
Meskipun demikian sekali lagi ia menggertak,
“Hem.. mati dan mati ada seribu jalan. Apalagi di hutan ini. Di pembaringan pun orang dapat sekarat. Ayo, tundukkan kepalamu supaya kau tidak mengalami derita di saat-saat terakhir.”
Karebet mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya dalam nadanya yang khusuk,
“Baik Kakang. Baiklah aku menolongmu. Tetapi aku harus mendapat separo dari kamus dan timang itu.”
Sembada mengerutkan keningnya.
“Hem..”, geramnya dan kemudian katanya di dalam hati,
“Anak ini benar-benar anak yang luar biasa. Tanggapannya atas bahaya yang dihadapi masih saja seperti menyongsong datangnya kekasih.”
Namun Sembada tidak mau terpengaruh oleh wibawa Joko Tingkir. Karena itu ia membentak,
“Aku tidak sedang berkelakar, Karebet.”
Justru Karebet yang aneh itu kini tertawa.
Katanya,
“Kita tidak pernah saling menyakiti hati masing-masing. Jangan membentak-bentak, Kakang. Lebih baik kita bergurau setelah kita lama tidak bertemu.”
“Diam!” bentak Sembada yang sama sekali tidak berhasil menakut-nakuti Karebet.
Meskipun demikian sekali lagi ia menggertak,
“Hem.. mati dan mati ada seribu jalan. Apalagi di hutan ini. Di pembaringan pun orang dapat sekarat. Ayo, tundukkan kepalamu supaya kau tidak mengalami derita di saat-saat terakhir.”
Sembada menjadi marah bukan buatan ketika Karebet malahan tertawa bergelak-gelak. Dengan memegang perutnya, anak muda itu berkata,
Quote:
“Ah, Kakang. Masih saja Kakang teringat akan pekerjaan Kakang. Kita sekarang tidak sedang berada di pembantaian, Kakang.”
Wajah Sembada menjadi merah padam. Namun sebelum ia membentak-bentak lagi, Karebet pun terkejut. Ia mendengar desir di semak-semak. Karena itu maka katanya di dalam hati.
“Benar dugaanku. Tidak hanya seorang.”
SESAAT kemudian Karebet menggeser kakinya. Dari sisinya melontarlah seorang yang akan lebih tua dari Sembada. Namun tampaklah betapa orang itu jauh lebih tenang dan meyakinkan. Orang itulah Kiai Sambirata.
Dengan lemahnya Kiai Sambirata menganggukan kepalanya. Dengan sareh ia berkata,
Quote:
“Apakah Angger yang bernama Karebet?”
Karebet mengangguk. Namun terasa bahwa ia harus lebih waspada karenanya.
Meskipun ia tidak bergerak dari tempatnya, namun ia benar-benar tidak mau menjadi lembu bantaian.
Karena itu segera dengan diam-diam diterapkannya Ajinya yang dahsyat, Lembu Sekilan.
Sambirata melihat wajah Karebet yang tegang. Tetapi ia tidak segera menyadari, bahwa dengan sikap yang sederhana itu, Karebet telah matek Ajinya Lembu Sekilan. Karena itu, masih saja Kiai Sambirata yang terlalu percaya kepada dirinya itu berkata,
Quote:
“Benarkah aku berhadapan dengan Angger Jaka Tingkir?”
Karebet mengangguk,
“Ya. Akulah Karebet, yang juga disebut orang, Jaka Tingkir.”
Kiai Sambirata mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Akulah yang bernama Sambirata.”
Karebet mengangguk,
“Ya. Akulah Karebet, yang juga disebut orang, Jaka Tingkir.”
Kiai Sambirata mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Akulah yang bernama Sambirata.”
Karebet memandang orang itu dengan seksama. Di Demak, nama itu memang pernah didengarnya. Tetapi ia tidak pernah menaruh perhatian. Kini tiba-tiba orang itu datang kepadanya dengan maksud yang tidak sewajarnya.
Dengan demikian, maka Karebet itu benar-benar harus berhati-hati. Ia tahu benar benar bahwa Sembada adalah kakak seperguruan Prabasemi dan Sambirata adalah orang yang kurang disenangi oleh masyarakat Demak karena pekerjaannya. Ternyata kini mereka berdua bergabung untuk melenyapkannya. Meskipun demikian sebenarnya Karebet sama sekali tidak gentar.
Quote:
“Kalau perlu, aku terpaksa membunuh untuk mempertahankan hidupku,” katanya.
Yang berbicara kemudian adalah Sambirata.
“Angger. Baiklah aku berterus terang. Kami berdua dengan beberapa murid-muridku datang untuk membunuh Angger. Kalau Angger ingin mencoba, lawanlah kami. Kami tidak mampunyai banyak waktu.”
Yang berbicara kemudian adalah Sambirata.
“Angger. Baiklah aku berterus terang. Kami berdua dengan beberapa murid-muridku datang untuk membunuh Angger. Kalau Angger ingin mencoba, lawanlah kami. Kami tidak mampunyai banyak waktu.”
Sekali lagi Karebet terkejut. Ternyata mereka tidak hanya berdua. Tetapi justru karena itu timbullah marahnya. Wajahnya yang riang menjadi kemerah-merahan karena nyala api kemarahan yang membakar dadanya.
Dengan lantang anak dari Tingkir itu menjawab,
Quote:
“Paman dan Kakang Sembada. Kita adalah manusia yang mempunyai sifat mempertahankan hidup yang dikaruniakan kepada kita. Aku harus mencoba mempertahankan hidup itu sekuat-kuat tenagaku. Kalau Yang Maha Esa berkenan, maka jangan menyesal kalau kalian berdualah yang akan mendahului aku.”
“Jangan membual. Meskipun kau kekasih Jim, Setan, Peri, Prayangan, namun kalau tidak mampu menangkap angin, jangan mencoba menengadahkan kepalamu,” bentak Sembada dengan kasarnya.
“Langit dan bumi menjadi saksi. Kalau terjadi pertumpahan darah di sini, bukan akulah yang bersalah,” sahut Karebet.
“Jangan membual. Meskipun kau kekasih Jim, Setan, Peri, Prayangan, namun kalau tidak mampu menangkap angin, jangan mencoba menengadahkan kepalamu,” bentak Sembada dengan kasarnya.
“Langit dan bumi menjadi saksi. Kalau terjadi pertumpahan darah di sini, bukan akulah yang bersalah,” sahut Karebet.
Sembada sudah tidak dapat menahan diri lagi. Timang emas bertretes berlian benar-benar menarik hati, apalagi anak muda itu benar-benar telah membakar telinganya. Karena itu, cepat-cepat ia meloncat dan memukul dada Karebet sekuat-kuatnya.
Karebet melihat gerak Sembada itu, namun ia sama sekali tidak menghindarinya. Namun wajahnya menjadi tegang dalam penerapan ajian yang setinggi-tingginya, daya pertahanan dalam Aji Lembu Sekilan.
Tenaga Sembada adalah tenaga yang luar biasa kuatnya. Namun ia masih mempergunakan kekuatan jasmaniah melulu. Karena itu, ketika tangannya membentur dada Karebet alangkah terkejutnya. Karebet itu masih saja tegak seperti tonggak. Sedang kedua kakinya yang kokoh kuat seakan-akan berakar jauh menghujam ke pusat bumi. Bahkan terasa, seakan-akan tangan Sembada itu menghantam sesuatu yang tak dapat dilihatnya. Tetapi tangannya itu seakan-akan sama sekali tidak menyentuh dada Karebet.
Ketika ia menyadari serangannya itu gagal, maka segera ia meloncat surut. Dengan marahnya ia menggeram, sambil menunjuk wajah Karebet itu dengan ujung jarinya.
Quote:
“Setan, gendruwo. He Karebet. Apa kau sangka Aji Lembu Sekilan itu tak akan berlawan?”
Karebet tidak menjawab. Namun sekilas ia melihat Sambirata bergeser.
Orang itu menghentakkan kedua tangannya dan dengan satu gerakan yang cepat, tangan itu ditariknya ke samping.
Quote:
“Hem,” geram Karebet.
“Aji apalagi yang akan kau pamerkan?”
“Aji apalagi yang akan kau pamerkan?”
uken276 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Kutip
Balas