- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
63.5K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#628
Jilid 18 [Part 416]
Spoiler for :
Wanamerta terkejut. Suara itu telah agak lama tak didengarnya. Kini dalam keributan itu suara didengarnya kembali. Dengan lantang pula ia menjawab
Wanamerta tidak sempat berbuat lain. Dan dalam kesibukan itu, seakan-akan kehadiran Gajah Sora adalah kehadiran yang wajar. Seperti waktu lima enam tahun yang lampau itu, hanya sekejap mata saja. Seperti Gajah Sora tak pernah meninggalkan Banyubiru. Seolah-olah Kepala Tanah Perdikan itu baru saja keluar dari rumahnya di samping alun-alun itu. Gajah Sora memacu kudanya ke lereng. Ia melihat rakyat Banyubiru sedang berjuang untuk menyelamatkan tanah dan pedukuhan mereka dari kemusnahan.
Laki-laki, perempuan dan anak-anak. Namun api itu menjalar terus.
Sejenak kemudian datanglah laskar Banyubiru yang lain. Mereka tidak sempat menjenguk keluarga mereka. Mereka tidak sempat menyatakan keselamatan diri mereka kepada keluarga mereka. Karena mereka pun segera ikut serta berjuang menebang pohon-pohon dan ilalang. Alangkah lambatnya pekerjaan itu. Beratus-ratus orang telah bekerja dengan dengan segenap tenaga, namun seakan-akan pekerjaan mereka tidak maju-maju.
Gajah Sora menjadi cemas. Tiba-tiba saja ia berteriak,
Beberapa orang segera berlari-larian ketempat penyimpanan air. Air itu tampak menggenang tenang. Dalam dan cukup luas. Rakyat Banyubiru mempergunakan untuk mengairi sawah-sawah mereka di musim kering yang panjang. Tetapi kini mereka terpaksa memecahkan tangkis blumbang itu, untuk menyelamatkan bukit Telamaya dari kehancuran yang lebih besar, meskipun kemudian mereka membutuhkan waktu untuk memperbaikinya, dan dengan demikian akan berarti pula bahwa mereka kehilangan kesempatan satu panen padi, dan harus menenaminya dengan palawija saja. Namun apa yang harus dilakukan sekarang ternyata tak dapat lain daripada mengalirkan air itu ke daerah yang terbakar.
Dengan cangkul, mereka berusaha memecahkan tangksi batu itu. Satu-satu mereka mendongkelnya dengan linggis dan kapak. Alangkah lambatnya.
Arya menjadi tidak telaten. Segera iapun berlari ke tempat itu, sambil berteriak nyaring ia meloncat di antara mereka yang sedang sibuk menyobek tangkis batu itu.
Orang-orang yang sedang sibuk itu menjadi heran. Kenapa harus minggir. Bukankah mereka harus memecahkan tangkis batu itu ?
Tetapi segera mereka berloncatan ketika mereka melihat Arya Salaka berdiri tegak di atas satu kakinya, kakinya yang lain diangkatnya ke depan, satu tangannya menyilang dada, sedang tangan yang lain diangkatnya tinggi-tinggi seperti api yang menjilat-jilat ke udara itu. Dengan penuh tenaga dan kemampuannya, Arya berteriak nyaring sambil meloncat maju. Tangannya itu diayunkankan keras sekali. Dan, terdengarlah sebuah benturan yang dahsyat.
Aji Sasra Birawa menghantam tangkis itu. Maka pecahlah beberapa batu dan terlontar berserakan. Air dalam waduk itu bergolak, kemudian terlontar keluar lewat lubang yang dibuat oleh Arya Salaka. Suaranya bergemuruh seperti pasukan yang berbaris menyerbu musuh. Arya segera meloncat menghindari air itu. Demikian juga beberapa orang yang berdiri keheran-heranan melihat tandang anak muda itu.
Diantara mereka yang menjadi keheran-heranan adalah Ki Ageng Gajah Sora sendiri. Disamping harapannya yang tumbuh karena air yang melimpah itu, sehingga akan dapat mempengaruhi api yang sedang menyala-nyala itu, ia pun menjadi heran melihat tandang anaknya itu. Benar-benar diluar dugaannya. Sasra Birawa itu benar-benar mencengangkan.
Agaknya Arya dapat menerapkan ilmunya tidak saja untuk melawan musuh dan membinasakannya, namun kini mempergunakannya untuk keselamatan daerah Banyubiru dari bahaya api.
Air itu mengalir seperti seekor naga. Dengan cepatnya meluncur ke lerang. Beberapa orang sibuk membuat jalur-jalur untuk mengatur arahnya, sehingga dapat mencapai api yang sedang berkobar itu.
Lereng bukit Telamaya itu menjadi semakin ribut. Orang-orang berlarian kian kemari. Anak-anak yang ikut menebas batang-batang ilalang sudah menjadi ketakutan, karena api seakan siap untuk menerkam mereka. Namun air yang mengalir dari blumbang akan sekedar membantu mereka.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun ikut sibuk pula membantu mereka. Mereka berloncatan dengan pedang ditangan mereka, menebangi pohon-pohon perdu. Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar tertarik pada asap yang mengepul di udara. Dilihatnya asap yang bergulung-gulung kehitam-hitaman. Sesaat ia berdiri tegak mengamat-amati asap itu. Ketika ia menoleh ke arah Kebo Kanigara, maka Kebo Kanigara pun mengangguk. Dengan berlari-lari Mahesa Jenar pergi mendekatinya sambil berbisik,
Ketika mereka menoleh, mereka melihat Endang Widuri tersenyum. Sedang disampingnya berdiri Rara Wilis.
Sekali lagi Mahesa Jenar memandang berkeliling. Beratus-ratus orang sibuk bekerja dengan penuh tenaga.
Kebo Kanigara tidak menjawab. Denga tergesa-gesa ia melangkah ke arah kuda-kuda mereka tertambat. Mahesa Jenar, Endang Widuri dan Rara Wilis segera mengikutinya rapat dibelakangnya.
Sesaat kemudian empat ekor kuda menderu dengan lajunya. Tak seorangpun yang menaruh perhatian atas kuda-kuda itu, karena mereka sedang tenggelam dalam usaha menarik garis pemisah antara api dan tanah mereka.
KEBO Kanigara, Mahesa Jenar, Rara Wilis dan Endang Widuri segera mencari jalan, melingkari api yang sedang menyala-nyala itu, menuju ke tempat asap hitam yang bergulung di udara.
Semakin lama semakin cepat. Lidah api yang menjilat langit mengatasi sinar bulan muda yang makin condong di arah barat. Sekali-kali mereka harus meloncati jurang-jurang sempit dan dangkal, namun sekali-sekali kuda harus menyusur jalan setapak di lereng bukit. Api yang menyala-nyala itupun menjadi semakin luas.
Di ujung nyala, asap yang hitam masih berputar-putar di langit, meskipun sudah semakin tipis. Seorang yang bertubuh tegap dan berwajah tampan, berdiri bertolak pinggang. Cahaya api yang menyala-nyala di hadapannya agaknya sangat menarik perhatiannya. Bibirnya yang tipis, selalu membayangkan sebuah senyum yang menarik. Dari matanya yang redup memancarlah cahaya yang aneh. Meskipun bibirnya selalu tersenyum, namun betapa matanya membayangkan kebencian dan dendam sebesar bukit. Ketika orang itu melihat api yang semakin besar, maka sambil bertolak pinggang ia tertawa terbahak-bahak. Suaranya gemuruh memukul tebing-tebing pegunungan. Dari suara tertawanya itu terdengarlah ia berkata,
“
Kembali suara tertawanya mengguntur. Namun tiba-tiba suara itu terputus, ia mendengar derap beberapa ekor kuda mendekatinya. Telinganya yang tajam segera dapat menduga, bahwa yang datang itu sedikitnya empat ekor kuda.
Perlahan-lahan ia berjalan mendekati kudanya. Kemudian orang itupun meloncat ke punggung kudanya.
“Lebih baik aku menyingkirkan siapa pun yang datang.” Dan segera kudanya itu pun dilarikannya. Tetapi mata Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang tajam itu bergerak menjauhi api.
“Itulah dia.”
desis Mahesa Jenar dan dengan serta merta dengan pangkal kendali, kudanya dilecutnya habis-habisan, sehingga kuda itu berlari seperti gila. Disampingnya Kebo Kanigara pun mempercepat lari kudanya, sedang Endang Widuri menjadi gembira. Ia memang senang berpacu kuda. Tetapi Rara Wilis terpaksa semakin berhati-hati, sebab kudanya pun ikut berlari pula kencang-kencang. Tetapi kuda mereka tidak menjadi semakin dekat.
Tiba-tiba terdengar Widuri, yang berpacu dibelakang Kebo Kanigara berteriak nyaring,
Namun Widuri telah membelok, melalui padang ilalang. Ternyata Widuri memang mempunyai kecakapan naik kuda. Dengan lincahnya ia mengendalikan kudanya, memilih jalan yang memotong, meskipun sekali-sekali harus diloncatinya parit, ledokan batu padas dan gerumbul-gerumbul kecil.
Kebo Kanigara tidak tega membiarkan anaknya menempuh lapangan, perdu dan padas yang miring itu. Karena itu pun ia berpacu di belakang anaknya. Sedang Mahesa Jenar dan Rara Wilis tetap menempuh jalan semula, sebab mereka tidak mau buruannya kali ini lepas. Ternyata Widuri cakap memperhitungkan waktu. Ia berhasil memotong kejarannya beberapa langkah. Dengan satu loncatan panjang kudanya menjejakkan kakinya, lima langkah saja dihadapan kuda buruannya. Kuda Widuri itu masih maju lagi beberapa depa sebelum ia berhasil menghentikannya. Namun kehadirannya yang tiba-tiba itu telah mengejutkan kuda buruannya, sehingga kuda itu meloncat berdiri di atas kaki belakangnya dan meringkik-ringkik. Penunggangnya berusaha untuk menguasainya. Ternyata penunggangnya itu benar-benar cakap, sehingga sejenak kemudian kembali ke arah yang dapat dikuasainya dan dipacunya untuk berlari ke arah yang berlawanan.
Namun sekali lagi ia terpaksa menarik kekang kudanya, sebab dilihatnya dekat dibelakangnya dua orang lain yang sudah memperlambat kuda-kuda mereka. Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Akhirnya orang berkuda itu tidak dapat melepaskan dirinya lagi. Di sekelilingnya duduk tegak di atas punggung kuda, Kebo Kanigara, Endang Widuri, Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Namun meskipun demikian, orang itu masih tersenyum, senyum iblis.
Berdirilah segera bulu kuduk Rara Wilis melihat senyum itu. Ia sebenarnya tidak takut menghadapinya, tetapi perasaan aneh selalu menyentuh-nyentuh hatinya apabila melihat wajah itu. Jangankan melihat dan berhadapan muka, sedang mengenang senyum itu saja pun hatinya berdebar-debar. Sesaat suasana menjadi sepi. Nyala api dikejauhan jatuh di atas tubuh-tubuh mereka mewarnai wajah mereka dengan warna-warna merah yang bergerak-gerak. Dan dalam kesepian itu terdengar Mahesa Jenar menggeram,
Quote:
“Aku mencoba memisahkan daerah yang terbakar itu dengan yang lain, supaya api dapat di batasi.”
“Bagus,” sahut Gajah Sora.
“Aku akan pergi ke lereng.”
“Bagus,” sahut Gajah Sora.
“Aku akan pergi ke lereng.”
Wanamerta tidak sempat berbuat lain. Dan dalam kesibukan itu, seakan-akan kehadiran Gajah Sora adalah kehadiran yang wajar. Seperti waktu lima enam tahun yang lampau itu, hanya sekejap mata saja. Seperti Gajah Sora tak pernah meninggalkan Banyubiru. Seolah-olah Kepala Tanah Perdikan itu baru saja keluar dari rumahnya di samping alun-alun itu. Gajah Sora memacu kudanya ke lereng. Ia melihat rakyat Banyubiru sedang berjuang untuk menyelamatkan tanah dan pedukuhan mereka dari kemusnahan.
Laki-laki, perempuan dan anak-anak. Namun api itu menjalar terus.
Sejenak kemudian datanglah laskar Banyubiru yang lain. Mereka tidak sempat menjenguk keluarga mereka. Mereka tidak sempat menyatakan keselamatan diri mereka kepada keluarga mereka. Karena mereka pun segera ikut serta berjuang menebang pohon-pohon dan ilalang. Alangkah lambatnya pekerjaan itu. Beratus-ratus orang telah bekerja dengan dengan segenap tenaga, namun seakan-akan pekerjaan mereka tidak maju-maju.
Gajah Sora menjadi cemas. Tiba-tiba saja ia berteriak,
Quote:
“Pecahkan tangki yang mengatur air dari Sendang Muncul. Airnya akan tumpah dan mengalir kemari. Bantulah membuat jalur-jalur, supaya airnya segera sampai ke daerah api. Mudah-mudahan ada pengaruhnya.”
Beberapa orang segera berlari-larian ketempat penyimpanan air. Air itu tampak menggenang tenang. Dalam dan cukup luas. Rakyat Banyubiru mempergunakan untuk mengairi sawah-sawah mereka di musim kering yang panjang. Tetapi kini mereka terpaksa memecahkan tangkis blumbang itu, untuk menyelamatkan bukit Telamaya dari kehancuran yang lebih besar, meskipun kemudian mereka membutuhkan waktu untuk memperbaikinya, dan dengan demikian akan berarti pula bahwa mereka kehilangan kesempatan satu panen padi, dan harus menenaminya dengan palawija saja. Namun apa yang harus dilakukan sekarang ternyata tak dapat lain daripada mengalirkan air itu ke daerah yang terbakar.
Dengan cangkul, mereka berusaha memecahkan tangksi batu itu. Satu-satu mereka mendongkelnya dengan linggis dan kapak. Alangkah lambatnya.
Arya menjadi tidak telaten. Segera iapun berlari ke tempat itu, sambil berteriak nyaring ia meloncat di antara mereka yang sedang sibuk menyobek tangkis batu itu.
Quote:
“Semua minggir. Cepat.”
Orang-orang yang sedang sibuk itu menjadi heran. Kenapa harus minggir. Bukankah mereka harus memecahkan tangkis batu itu ?
Tetapi segera mereka berloncatan ketika mereka melihat Arya Salaka berdiri tegak di atas satu kakinya, kakinya yang lain diangkatnya ke depan, satu tangannya menyilang dada, sedang tangan yang lain diangkatnya tinggi-tinggi seperti api yang menjilat-jilat ke udara itu. Dengan penuh tenaga dan kemampuannya, Arya berteriak nyaring sambil meloncat maju. Tangannya itu diayunkankan keras sekali. Dan, terdengarlah sebuah benturan yang dahsyat.
Aji Sasra Birawa menghantam tangkis itu. Maka pecahlah beberapa batu dan terlontar berserakan. Air dalam waduk itu bergolak, kemudian terlontar keluar lewat lubang yang dibuat oleh Arya Salaka. Suaranya bergemuruh seperti pasukan yang berbaris menyerbu musuh. Arya segera meloncat menghindari air itu. Demikian juga beberapa orang yang berdiri keheran-heranan melihat tandang anak muda itu.
Diantara mereka yang menjadi keheran-heranan adalah Ki Ageng Gajah Sora sendiri. Disamping harapannya yang tumbuh karena air yang melimpah itu, sehingga akan dapat mempengaruhi api yang sedang menyala-nyala itu, ia pun menjadi heran melihat tandang anaknya itu. Benar-benar diluar dugaannya. Sasra Birawa itu benar-benar mencengangkan.
Agaknya Arya dapat menerapkan ilmunya tidak saja untuk melawan musuh dan membinasakannya, namun kini mempergunakannya untuk keselamatan daerah Banyubiru dari bahaya api.
Air itu mengalir seperti seekor naga. Dengan cepatnya meluncur ke lerang. Beberapa orang sibuk membuat jalur-jalur untuk mengatur arahnya, sehingga dapat mencapai api yang sedang berkobar itu.
Lereng bukit Telamaya itu menjadi semakin ribut. Orang-orang berlarian kian kemari. Anak-anak yang ikut menebas batang-batang ilalang sudah menjadi ketakutan, karena api seakan siap untuk menerkam mereka. Namun air yang mengalir dari blumbang akan sekedar membantu mereka.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun ikut sibuk pula membantu mereka. Mereka berloncatan dengan pedang ditangan mereka, menebangi pohon-pohon perdu. Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar tertarik pada asap yang mengepul di udara. Dilihatnya asap yang bergulung-gulung kehitam-hitaman. Sesaat ia berdiri tegak mengamat-amati asap itu. Ketika ia menoleh ke arah Kebo Kanigara, maka Kebo Kanigara pun mengangguk. Dengan berlari-lari Mahesa Jenar pergi mendekatinya sambil berbisik,
Quote:
“Kakang, aku melihat asap minyak. Entahlah, apakah minyak kelapa, jarak atau minyak kelenteng. Tetapi aku melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya.”
“Aku berpikir demikian sejak tadi,” jawab Kebo Kanigara.
“Marilah kita lihat.” Jawab Mahesa Jenar.
“Aku ikut !” tiba-tiba suara kecil menyahut dibelakang mereka.
“Aku berpikir demikian sejak tadi,” jawab Kebo Kanigara.
“Marilah kita lihat.” Jawab Mahesa Jenar.
“Aku ikut !” tiba-tiba suara kecil menyahut dibelakang mereka.
Ketika mereka menoleh, mereka melihat Endang Widuri tersenyum. Sedang disampingnya berdiri Rara Wilis.
Sekali lagi Mahesa Jenar memandang berkeliling. Beratus-ratus orang sibuk bekerja dengan penuh tenaga.
Quote:
“Tenaga kami tak sebrapa membantu disini, kakang.” Kata Mahesa Jenar,
“Bagi kami, lebih penting melihat sumber kebakaran ini.”
“Bagi kami, lebih penting melihat sumber kebakaran ini.”
Kebo Kanigara tidak menjawab. Denga tergesa-gesa ia melangkah ke arah kuda-kuda mereka tertambat. Mahesa Jenar, Endang Widuri dan Rara Wilis segera mengikutinya rapat dibelakangnya.
Sesaat kemudian empat ekor kuda menderu dengan lajunya. Tak seorangpun yang menaruh perhatian atas kuda-kuda itu, karena mereka sedang tenggelam dalam usaha menarik garis pemisah antara api dan tanah mereka.
KEBO Kanigara, Mahesa Jenar, Rara Wilis dan Endang Widuri segera mencari jalan, melingkari api yang sedang menyala-nyala itu, menuju ke tempat asap hitam yang bergulung di udara.
Quote:
“Dari tempat itulah aku kira api menyala,” kata Mahesa Jenar.
“Ya,” jawab Kebo Kanigara singkat. Kuda mereka berpacu terus.
“Ya,” jawab Kebo Kanigara singkat. Kuda mereka berpacu terus.
Semakin lama semakin cepat. Lidah api yang menjilat langit mengatasi sinar bulan muda yang makin condong di arah barat. Sekali-kali mereka harus meloncati jurang-jurang sempit dan dangkal, namun sekali-sekali kuda harus menyusur jalan setapak di lereng bukit. Api yang menyala-nyala itupun menjadi semakin luas.
Di ujung nyala, asap yang hitam masih berputar-putar di langit, meskipun sudah semakin tipis. Seorang yang bertubuh tegap dan berwajah tampan, berdiri bertolak pinggang. Cahaya api yang menyala-nyala di hadapannya agaknya sangat menarik perhatiannya. Bibirnya yang tipis, selalu membayangkan sebuah senyum yang menarik. Dari matanya yang redup memancarlah cahaya yang aneh. Meskipun bibirnya selalu tersenyum, namun betapa matanya membayangkan kebencian dan dendam sebesar bukit. Ketika orang itu melihat api yang semakin besar, maka sambil bertolak pinggang ia tertawa terbahak-bahak. Suaranya gemuruh memukul tebing-tebing pegunungan. Dari suara tertawanya itu terdengarlah ia berkata,
“
Quote:
Musnahlah Banyubiru sekarang. Ternyata api itu menjalar terlampau cepat. Melampaui dugaanku semula. Apabila Banyubiru itu sudah menjadi abu, barulah puas hatiku. Dan barulah aku akan kembali ke Nusa Kambangan.”
Kembali suara tertawanya mengguntur. Namun tiba-tiba suara itu terputus, ia mendengar derap beberapa ekor kuda mendekatinya. Telinganya yang tajam segera dapat menduga, bahwa yang datang itu sedikitnya empat ekor kuda.
Quote:
“Siapakah mereka ?” gumamnya,
“Kalau yang datang itu cecurut-cecurut Banyubiru, maka mereka akan aku binasakan di dalam api. Tetapi bagaimana kalau Mahesa Jenar ?”
“Ah !” kata-katanya itu dibantahnya sendiri.
“Mahesa Jenar masih berada di Pimingit.” Meskipun demikian hatinya menjadi tidak enak.
“Kalau yang datang itu cecurut-cecurut Banyubiru, maka mereka akan aku binasakan di dalam api. Tetapi bagaimana kalau Mahesa Jenar ?”
“Ah !” kata-katanya itu dibantahnya sendiri.
“Mahesa Jenar masih berada di Pimingit.” Meskipun demikian hatinya menjadi tidak enak.
Perlahan-lahan ia berjalan mendekati kudanya. Kemudian orang itupun meloncat ke punggung kudanya.
“Lebih baik aku menyingkirkan siapa pun yang datang.” Dan segera kudanya itu pun dilarikannya. Tetapi mata Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang tajam itu bergerak menjauhi api.
“Itulah dia.”
desis Mahesa Jenar dan dengan serta merta dengan pangkal kendali, kudanya dilecutnya habis-habisan, sehingga kuda itu berlari seperti gila. Disampingnya Kebo Kanigara pun mempercepat lari kudanya, sedang Endang Widuri menjadi gembira. Ia memang senang berpacu kuda. Tetapi Rara Wilis terpaksa semakin berhati-hati, sebab kudanya pun ikut berlari pula kencang-kencang. Tetapi kuda mereka tidak menjadi semakin dekat.
Tiba-tiba terdengar Widuri, yang berpacu dibelakang Kebo Kanigara berteriak nyaring,
Quote:
“Ayah, aku memotong jalan.”
Kebo Kanigara terkejut.
“Jangan !” jawabnya.
Kebo Kanigara terkejut.
“Jangan !” jawabnya.
Namun Widuri telah membelok, melalui padang ilalang. Ternyata Widuri memang mempunyai kecakapan naik kuda. Dengan lincahnya ia mengendalikan kudanya, memilih jalan yang memotong, meskipun sekali-sekali harus diloncatinya parit, ledokan batu padas dan gerumbul-gerumbul kecil.
Kebo Kanigara tidak tega membiarkan anaknya menempuh lapangan, perdu dan padas yang miring itu. Karena itu pun ia berpacu di belakang anaknya. Sedang Mahesa Jenar dan Rara Wilis tetap menempuh jalan semula, sebab mereka tidak mau buruannya kali ini lepas. Ternyata Widuri cakap memperhitungkan waktu. Ia berhasil memotong kejarannya beberapa langkah. Dengan satu loncatan panjang kudanya menjejakkan kakinya, lima langkah saja dihadapan kuda buruannya. Kuda Widuri itu masih maju lagi beberapa depa sebelum ia berhasil menghentikannya. Namun kehadirannya yang tiba-tiba itu telah mengejutkan kuda buruannya, sehingga kuda itu meloncat berdiri di atas kaki belakangnya dan meringkik-ringkik. Penunggangnya berusaha untuk menguasainya. Ternyata penunggangnya itu benar-benar cakap, sehingga sejenak kemudian kembali ke arah yang dapat dikuasainya dan dipacunya untuk berlari ke arah yang berlawanan.
Namun sekali lagi ia terpaksa menarik kekang kudanya, sebab dilihatnya dekat dibelakangnya dua orang lain yang sudah memperlambat kuda-kuda mereka. Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Akhirnya orang berkuda itu tidak dapat melepaskan dirinya lagi. Di sekelilingnya duduk tegak di atas punggung kuda, Kebo Kanigara, Endang Widuri, Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Namun meskipun demikian, orang itu masih tersenyum, senyum iblis.
Berdirilah segera bulu kuduk Rara Wilis melihat senyum itu. Ia sebenarnya tidak takut menghadapinya, tetapi perasaan aneh selalu menyentuh-nyentuh hatinya apabila melihat wajah itu. Jangankan melihat dan berhadapan muka, sedang mengenang senyum itu saja pun hatinya berdebar-debar. Sesaat suasana menjadi sepi. Nyala api dikejauhan jatuh di atas tubuh-tubuh mereka mewarnai wajah mereka dengan warna-warna merah yang bergerak-gerak. Dan dalam kesepian itu terdengar Mahesa Jenar menggeram,
Quote:
”Kau agaknya Jaka Soka?”
Orang berkuda itu, yang tidak lain adalah Jaka Soka menarik senyumnya lebih lebar lagi. Jawabnya
“Ya,kenapa?”
“Kau tahu akibatnya dari perbuatanmu itu?” tanya Mahesa Jenar.
Jaka Soka tertawa, katanya,
“Aku tahu pasti. Banybiru akan musnah.”
“Orang-orang yang tak tahu apa-apa pun akan menderita karenanya. Perempuan dan anak-anak.” Desak Mahesa Jenar.
“Aku tahu pasti,” sahut Jaka Soka,
“Dan itulah tujuanku”.
“Juga perempuan dan anak-anak?” potong Endang Widuri.
“Ya. Semua yang hidup diatasnya,” jawab Jaka Soka.
“Setan,” desis Widuri. Sekali lagi Jaka Soka tertawa, katanya,
“Apa pedulimu terhadap perempuan dan anak-anak Banyubiru? Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan mereka. Dan kini aku telah menyaksikan pertunjukan yang mengasikkkan. Perempuan dan anak-anak Banyubiru menangis melolong-lolong ketakutan”.
Orang berkuda itu, yang tidak lain adalah Jaka Soka menarik senyumnya lebih lebar lagi. Jawabnya
“Ya,kenapa?”
“Kau tahu akibatnya dari perbuatanmu itu?” tanya Mahesa Jenar.
Jaka Soka tertawa, katanya,
“Aku tahu pasti. Banybiru akan musnah.”
“Orang-orang yang tak tahu apa-apa pun akan menderita karenanya. Perempuan dan anak-anak.” Desak Mahesa Jenar.
“Aku tahu pasti,” sahut Jaka Soka,
“Dan itulah tujuanku”.
“Juga perempuan dan anak-anak?” potong Endang Widuri.
“Ya. Semua yang hidup diatasnya,” jawab Jaka Soka.
“Setan,” desis Widuri. Sekali lagi Jaka Soka tertawa, katanya,
“Apa pedulimu terhadap perempuan dan anak-anak Banyubiru? Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan mereka. Dan kini aku telah menyaksikan pertunjukan yang mengasikkkan. Perempuan dan anak-anak Banyubiru menangis melolong-lolong ketakutan”.
fakhrie... dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas