- Beranda
- Berita dan Politik
Dokter Spesialis Paru Minta Pasien Covid-19 Mewaspadai Gejala Happy Hypoxia
...
TS
extreme78
Dokter Spesialis Paru Minta Pasien Covid-19 Mewaspadai Gejala Happy Hypoxia
TEMPO.CO, Jakarta - Dokter spesialis paru di RSUP Persahabatan, Erlina Burhan, meminta pasien Covid-19 mewaspadai gejala happy hypoxia, yaitu penurunan kadar oksigen dalam darah tanpa mengalami sesak.“Kalau sudah terjadi hypoxia dalam waktu yang cukup lama, pasien akan mengalami kesadaran menurun. Dan biasanya akan fatal akibatnya,” kata Erlina dalam diskusi di akun Youtube BNPB, Rabu, 16 September 2020.
Erlina menjelaskan, hypoxia merupakan kurangnya oksigen dalam darah. Normalnya, orang akan mengalami sesak napas ketika kekurangan oksigen. Namun, rasa sesak itu tidak dialami pada beberapa pasien Covid-19 lantaran sudah terjadi kerusakan syaraf yang mengantarkan sensor ke otak. “Sehingga otak tidak bisa mengenali kejadian kekurangan oksigen di darah,” ujarnya.
Gejala happy hypoxia, kata Erlina, akan muncul jika pasien Covid-19 memiliki gejala berupa batuk terus menerus, demam, dan keluhan lemas. Jika warna bibir atau ujung jari sudah berwarna biru, hal itu menandakan saturasi oksigen sudah menurun.
“Segera larikan ke rumah sakit. Jangan tunggu biru kalau batuk bertambah, lemas, segera cek dengan pulse oksimetri. Kalau tidak punya, langsung ke rumah sakit,” kata dia.
Erlina menuturkan, satu-satunya obat untuk mengobati gejala happy hypoxia hanya dengan oksigen. Bgeitu kadar darah sangat rendah di kisaran 60-70 persen, pasien Covid-19 akan diintubasi dan masuk ventilator.
https://nasional.tempo.co/read/13868...-happy-hypoxia
Kenali yaa gansis

voorvendetta dan 6 lainnya memberi reputasi
7
2.5K
62
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
694.7KThread•58.6KAnggota
Tampilkan semua post
biawak.pink
#5
reflek sesak ingin bernapas itu ketika tubuh kelebihan CO2.. tubuh punya sensor kapan darah kelebihan CO2. Makanya refleknya ingin menghembuskan nafas.. tapi tubuh tidak punya sensor untuk mengukur kekurangan O2. Jadi selama bisa menghembus (buang CO2), tubuh tidak tahu yang dihirup kembali terpenuhi apa nggak O2nya..
makanya bisa ada kasus mati lemas. dalam mobil, naik gunung, dll..
kalau mulai susah fokus, halu, seneng tanpa sebab, segera cari udara segar.. sukur kalo punya oxygen can..
makanya bisa ada kasus mati lemas. dalam mobil, naik gunung, dll..
kalau mulai susah fokus, halu, seneng tanpa sebab, segera cari udara segar.. sukur kalo punya oxygen can..
petani.syusyu dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup