- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#557
Jilid 17 [Part 387]
Spoiler for :
KEBO KANIGARA yang mendengar gumam itu menoleh kepada Ki Ageng Gajah Sora, tetapi sesaat kemudian pandangan matanya berkisar pada anaknya.
Tetapi kata-kata itu agaknya tak berkesan di hati Widuri. Berbeda dengan pada saat ia pertama kali melihat pedukuhan di lereng bukit Telamaya. Terhadap Pamingit itu, ia merasa tidak berkepentingan sama sekali. Ia datang kemari karena ayahnya datang kemari pula. Berbeda dengan perasaan-perasaan orang lain, apalagi Mahesa Jenar. Di Pamingit nanti akan ditemuinya semua orang yang diperlukan untuk menempatkan kembali batas antara Banyubiru dan Pamingit. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora, dan Ki Ageng Gajah Sora.
Adalah suatu kebetulan bagi Arya Salaka, bahwa Demak merasa perlu untuk mengirimkan orang-orangnya yang akan dapat menjadi saksi pertemuan itu.
Selain Mahesa Jenar, Rara Wilis pun diganggu oleh angan-angannya sendiri. Ia tidak tahu benar persoalan-persoalan apa yang akan dapat dipecahkan di Pamingit, tapi firasatnya mengatakan bahwa persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Mahesa Jenar hampir selesai. Ia tidak tahu bagaimana dengan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Namun ia berdoa di dalam hati, mudah-mudahan segera ia dapat menikmati cerahnya matahari.
Tiba-tiba tanpa disadarinya, Rara Wilis menghitung-hitung umurnya sendiri. Gadis-gadis desanya yang sebaya dengan dirinya pada umumnya telah mempunyai dua tiga orang anak. Mengingat hal itu hatinya menjadi berdebar-debar. Digeleng-gelengkan kepalanya untuk mencoba mengusir angan-angannya yang mengganggunya itu.
Mereka kini telah hampir memasuki pusat pemerintahan. Tanah Perdikan Pamingit.
Ternyata daerah inilah yang paling banyak mengalami bencana. Mereka menyaksikan rumah-rumah penduduk dan banjar-banjar desa menjadi reruntuhan dan abu. Namun meskipun demikian daerah ini telah banyak penghuninya. Rumah-rumah yang masih tegak telah dipenuhi oleh para pengungsi. Sekarang Wulungan yang berkuda paling depan. Terdengar giginya gemeretak menahan marah. Terasa jantungnya hendak meledak ketika melihat daerahnya menjadi hancur. Tapi tak satu pun yang dapat dilakukan. Apalagi ketika di hadapannya terbentang halaman bekas rumah kepala daerah perdikan Pamingit, di samping alun-alun. Halaman itu kini telah rata. Tak sebatang tiangpun yang masih tegak, yang dapat mengangkat kemewahan rumah ini pada masa lampau.
Rombongan itu berhenti di regol halaman. Mereka diam membisu. Hanya pandangan mata merekalah yang menyapu pemandangan yang mengerikan itu. Ketika tiba-tiba Wulungan melihat dua orang laskar Pamingit muncul menyongsong rombongan itu, Wulungan bergegas-gegas menemui mereka.
Kemudian, kedua orang itupun berjalan bergegas-gegas ke arah yang ditunjukkan, sedang Wulungan dan seluruh rombongan mengikutinya. Mereka menyusup lewat jalan sempit dan langsung memotong arah. Matahari telah tenggelam di balik bukit. Dari kejauhan tampak nyala api pelita, memancar dari lubang pintu.
Sekali lagi terdengar Wulungan menggeram. Ia sendirilah yang memimpin pembangunan banjar desa itu, dahulu.
Demikianlah akhirnya rombongan itu memasuki halaman banjar desa. Ketika mereka yang ada di dalam banjar desa itu mengetahui kedatangan rombongan itu, segera merekapun menyambutnya. Yang pertama-tama melampaui telundak pintu, adalah seorang tua yang bertubuh kecil. Ki Ageng Sora Dipayana. Ia terkejut, ketika di dalam gelap dilihatnya sebuah rombongan yang agak besar.
Kepada Wulungan, yang berada di paling depan, orang tua itu berkata,
Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak perlu bertanya untuk kedua kalinya, sebab segera Ki Ageng Gajah Sora meloncat turun dari kudanya, dan langsung meloncat sujud di kaki ayahnya.
ORANG TUA itu menarik nafas dalam-dalam. Dalam keremangan ujung malam. Dilihatnya dua orang gadis dan dua orang asing dalam rombongan itu. Menilik pakaiannya, kedua orang asing itu agaknya dua orang yang datang dari Demak.
Karena itu Ki Ageng Sora Dipayana menyapanya dengan hormat,
Ki Ageng Sora Dipayana mengerenyitkan alisnya. Timbullah seleret kebimbangan di dalam hatinya. Apakah anaknya Gajah Sora masih perlu diawasi? Namun tak sepatah kata pun pertanyaan yang melontar dari mulutnya. Yang kemudian dilakukan oleh orang tua itu adalah mempersilahkan tamu-tamunya masuk ke dalam banjar desa yang telah tidak utuh lagi itu.
Maka duduklah mereka berdesak-desakan di dalam ruangan yang sempit. Ki Ageng Sora Dipayana dengan beberapa orang Pamingit bersama-sama dengan tamu-tamu mereka. Rara Wilis sejak kedatangannya, sebenarnya ingin melihat, apakah kakeknya benar-benar berada di Pamingit, namun orang tua itu belum dilihatnya berada di antara mereka.
Setelah mengucapkan selamat datang, maka berkata Ki Ageng Sora Dipayana,
Dan apa yang dikatakan oleh Ki Ageng Sora Dipayana itu ternyata terbukti kemudian. Terdengarlah dari beberapa jurusan suara langkah tergesa-gesa. Beberapa orang datang berturut-turut dan berdesak-desakkan di muka pintu. Mereka adalah orang-orang Banyubiru. Di antaranya tampak Bantaran, Panjawi, Jaladri, Sendang Papat dan yang lain-lain. Mereka hampir tidak percaya ketika seseorang mengatakan kepada mereka, bahwa bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Arya Salaka telah datang pula Ki Ageng Gajah Sora.
Agaknya Ki Ageng Gajah Sora tanggap pada keadaan. Ia tidak bisa mempersilahkan mereka masuk karena ruangan yang sempit. Karena itu segera ia berdiri dan melangkah ke pintu. Orang-orang Banyubiru itu rasa-rasanya seperti sedang bermimpi, ketika mereka melihat Ki Ageng Gajah Sora benar-benar berdiri di hadapannya. Ketika kemudian mereka tersadar, berebutlah mereka mengulurkan kedua tangan mereka, untuk menyambut salam kepala daerah perdikan mereka yang mereka kasihi.
Mereka menyambut tangan Ki Ageng Gajah Sora dengan penuh gairah, seolah-olah tidak mau melepaskannya lagi. Ki Ageng Gajah Sora pun menjadi terharu melihat kesetiaan anak buahnya. Sesaat kemudian terdengarlah suara para pemimpin laskar Banyubiru itu seperti seribu burung bersama-sama berkicau, berebut dahulu bertanya tentang seribu satu macam persoalan dan pengalaman Ki Ageng Gajah Sora. Sambil tersenyum Ki Ageng Gajah Sora menjawab,
Beberapa orang Banyubiru itu belum puas mendengar jawaban yang hanya terlalu pendek. Mereka masih ingin mendengar uraian Ki Ageng Gajah Sora tentang dirinya lebih panjang lagi. Tetapi sekali lagi sambil tersenyum Ki Ageng Gajah Sora berkata,
Quote:
“Widuri….” Ia memanggil.
Widuri menarik tali kekang kudanya. Dan ketika ia sudah sampai berada di samping ayahnya, terdengarlah ayahnya berkata,
“Widuri, itulah Pamingit.”
Widuri menarik tali kekang kudanya. Dan ketika ia sudah sampai berada di samping ayahnya, terdengarlah ayahnya berkata,
“Widuri, itulah Pamingit.”
Tetapi kata-kata itu agaknya tak berkesan di hati Widuri. Berbeda dengan pada saat ia pertama kali melihat pedukuhan di lereng bukit Telamaya. Terhadap Pamingit itu, ia merasa tidak berkepentingan sama sekali. Ia datang kemari karena ayahnya datang kemari pula. Berbeda dengan perasaan-perasaan orang lain, apalagi Mahesa Jenar. Di Pamingit nanti akan ditemuinya semua orang yang diperlukan untuk menempatkan kembali batas antara Banyubiru dan Pamingit. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora, dan Ki Ageng Gajah Sora.
Adalah suatu kebetulan bagi Arya Salaka, bahwa Demak merasa perlu untuk mengirimkan orang-orangnya yang akan dapat menjadi saksi pertemuan itu.
Selain Mahesa Jenar, Rara Wilis pun diganggu oleh angan-angannya sendiri. Ia tidak tahu benar persoalan-persoalan apa yang akan dapat dipecahkan di Pamingit, tapi firasatnya mengatakan bahwa persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Mahesa Jenar hampir selesai. Ia tidak tahu bagaimana dengan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Namun ia berdoa di dalam hati, mudah-mudahan segera ia dapat menikmati cerahnya matahari.
Tiba-tiba tanpa disadarinya, Rara Wilis menghitung-hitung umurnya sendiri. Gadis-gadis desanya yang sebaya dengan dirinya pada umumnya telah mempunyai dua tiga orang anak. Mengingat hal itu hatinya menjadi berdebar-debar. Digeleng-gelengkan kepalanya untuk mencoba mengusir angan-angannya yang mengganggunya itu.
Mereka kini telah hampir memasuki pusat pemerintahan. Tanah Perdikan Pamingit.
Ternyata daerah inilah yang paling banyak mengalami bencana. Mereka menyaksikan rumah-rumah penduduk dan banjar-banjar desa menjadi reruntuhan dan abu. Namun meskipun demikian daerah ini telah banyak penghuninya. Rumah-rumah yang masih tegak telah dipenuhi oleh para pengungsi. Sekarang Wulungan yang berkuda paling depan. Terdengar giginya gemeretak menahan marah. Terasa jantungnya hendak meledak ketika melihat daerahnya menjadi hancur. Tapi tak satu pun yang dapat dilakukan. Apalagi ketika di hadapannya terbentang halaman bekas rumah kepala daerah perdikan Pamingit, di samping alun-alun. Halaman itu kini telah rata. Tak sebatang tiangpun yang masih tegak, yang dapat mengangkat kemewahan rumah ini pada masa lampau.
Rombongan itu berhenti di regol halaman. Mereka diam membisu. Hanya pandangan mata merekalah yang menyapu pemandangan yang mengerikan itu. Ketika tiba-tiba Wulungan melihat dua orang laskar Pamingit muncul menyongsong rombongan itu, Wulungan bergegas-gegas menemui mereka.
Quote:
“Di manakah Ki Ageng?” tanya Wulungan.
“Di banjar desa sebelah,” jawab salah seorang dari kedua orang itu.
“Marilah ikut kami.”
“Di banjar desa sebelah,” jawab salah seorang dari kedua orang itu.
“Marilah ikut kami.”
Kemudian, kedua orang itupun berjalan bergegas-gegas ke arah yang ditunjukkan, sedang Wulungan dan seluruh rombongan mengikutinya. Mereka menyusup lewat jalan sempit dan langsung memotong arah. Matahari telah tenggelam di balik bukit. Dari kejauhan tampak nyala api pelita, memancar dari lubang pintu.
Quote:
“Itulah banjar desa yang masih separo tegak,” kata orang yang menjemput rombongan itu.
Sekali lagi terdengar Wulungan menggeram. Ia sendirilah yang memimpin pembangunan banjar desa itu, dahulu.
Demikianlah akhirnya rombongan itu memasuki halaman banjar desa. Ketika mereka yang ada di dalam banjar desa itu mengetahui kedatangan rombongan itu, segera merekapun menyambutnya. Yang pertama-tama melampaui telundak pintu, adalah seorang tua yang bertubuh kecil. Ki Ageng Sora Dipayana. Ia terkejut, ketika di dalam gelap dilihatnya sebuah rombongan yang agak besar.
Kepada Wulungan, yang berada di paling depan, orang tua itu berkata,
Quote:
“Rombonganmu menjadi besar, Wulungan?“
“Oleh-oleh yang tak terduga-duga, Ki Ageng,” jawab Wulungan.
“Oleh-oleh yang tak terduga-duga, Ki Ageng,” jawab Wulungan.
Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak perlu bertanya untuk kedua kalinya, sebab segera Ki Ageng Gajah Sora meloncat turun dari kudanya, dan langsung meloncat sujud di kaki ayahnya.
Quote:
“Kau…” desis orang tua itu. Betapa ia terkejut, dan betapa darahnya serasa mengalir semakin cepat.
“Gajah Sora, Ayah,” jawab Gajah Sora.
“Hem…” orang tua itu menggeram. Diangkatnya wajahnya menengadah ke langit. Terasa sesuatu di pelupuk matanya.
“Kau telah diperkenankan pulang kembali?” tanya ayah yang bahagia itu.
“Ya, Ayah,” jawab Gajah Sora.
“Gajah Sora, Ayah,” jawab Gajah Sora.
“Hem…” orang tua itu menggeram. Diangkatnya wajahnya menengadah ke langit. Terasa sesuatu di pelupuk matanya.
“Kau telah diperkenankan pulang kembali?” tanya ayah yang bahagia itu.
“Ya, Ayah,” jawab Gajah Sora.
ORANG TUA itu menarik nafas dalam-dalam. Dalam keremangan ujung malam. Dilihatnya dua orang gadis dan dua orang asing dalam rombongan itu. Menilik pakaiannya, kedua orang asing itu agaknya dua orang yang datang dari Demak.
Karena itu Ki Ageng Sora Dipayana menyapanya dengan hormat,
Quote:
“Adakah Anakmas berdua datang bersama-sama dengan anakku, Gajah Sora?”
Paningron dan Gajah Alit yang juga sudah turun dari kudanya seperti yang lain juga, membalas hormat bersama-sama. Kemudian terdengar Gajah Alit menjawab,
“Benar Ki Ageng. Kami datang bersama-sama dengan Kakang Gajah Sora.”
Paningron dan Gajah Alit yang juga sudah turun dari kudanya seperti yang lain juga, membalas hormat bersama-sama. Kemudian terdengar Gajah Alit menjawab,
“Benar Ki Ageng. Kami datang bersama-sama dengan Kakang Gajah Sora.”
Ki Ageng Sora Dipayana mengerenyitkan alisnya. Timbullah seleret kebimbangan di dalam hatinya. Apakah anaknya Gajah Sora masih perlu diawasi? Namun tak sepatah kata pun pertanyaan yang melontar dari mulutnya. Yang kemudian dilakukan oleh orang tua itu adalah mempersilahkan tamu-tamunya masuk ke dalam banjar desa yang telah tidak utuh lagi itu.
Maka duduklah mereka berdesak-desakan di dalam ruangan yang sempit. Ki Ageng Sora Dipayana dengan beberapa orang Pamingit bersama-sama dengan tamu-tamu mereka. Rara Wilis sejak kedatangannya, sebenarnya ingin melihat, apakah kakeknya benar-benar berada di Pamingit, namun orang tua itu belum dilihatnya berada di antara mereka.
Setelah mengucapkan selamat datang, maka berkata Ki Ageng Sora Dipayana,
Quote:
“Ruangan ini kami pergunakan untuk sementara. Rumah-rumah yang lain telah musnah dimakan api. Karena itulah maka kami terpaksa berpencaran. Kami menempati pondok-pondok yang tersebar. Kami baru memberitahukan kepada sahabat-sahabat kami, bahwa Anakmas Mahesa Jenar, Anakmas Kebo Kanigara, bahkan Gajah Sora dan tamu-tamu kami yang lain telah datang. Kalau mereka bersama-sama kemari akan sesaklah ruangan sesempit ini. Juga Lembu Sora dan pimpinan-pimpinan laskar Banyubiru telah kami panggil.”
Dan apa yang dikatakan oleh Ki Ageng Sora Dipayana itu ternyata terbukti kemudian. Terdengarlah dari beberapa jurusan suara langkah tergesa-gesa. Beberapa orang datang berturut-turut dan berdesak-desakkan di muka pintu. Mereka adalah orang-orang Banyubiru. Di antaranya tampak Bantaran, Panjawi, Jaladri, Sendang Papat dan yang lain-lain. Mereka hampir tidak percaya ketika seseorang mengatakan kepada mereka, bahwa bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Arya Salaka telah datang pula Ki Ageng Gajah Sora.
Agaknya Ki Ageng Gajah Sora tanggap pada keadaan. Ia tidak bisa mempersilahkan mereka masuk karena ruangan yang sempit. Karena itu segera ia berdiri dan melangkah ke pintu. Orang-orang Banyubiru itu rasa-rasanya seperti sedang bermimpi, ketika mereka melihat Ki Ageng Gajah Sora benar-benar berdiri di hadapannya. Ketika kemudian mereka tersadar, berebutlah mereka mengulurkan kedua tangan mereka, untuk menyambut salam kepala daerah perdikan mereka yang mereka kasihi.
Mereka menyambut tangan Ki Ageng Gajah Sora dengan penuh gairah, seolah-olah tidak mau melepaskannya lagi. Ki Ageng Gajah Sora pun menjadi terharu melihat kesetiaan anak buahnya. Sesaat kemudian terdengarlah suara para pemimpin laskar Banyubiru itu seperti seribu burung bersama-sama berkicau, berebut dahulu bertanya tentang seribu satu macam persoalan dan pengalaman Ki Ageng Gajah Sora. Sambil tersenyum Ki Ageng Gajah Sora menjawab,
Quote:
“Ceriteraku akan panjang sekali. Besok sajalah aku ceriterakan kepada kalian. Yang pasti bagi kalian sekarang, bahwa aku telah tiba kembali dengan selamat di hadapan kalian, tanpa cacat dan tanpa cidera. Aku datang seperti saat aku pergi.”
Beberapa orang Banyubiru itu belum puas mendengar jawaban yang hanya terlalu pendek. Mereka masih ingin mendengar uraian Ki Ageng Gajah Sora tentang dirinya lebih panjang lagi. Tetapi sekali lagi sambil tersenyum Ki Ageng Gajah Sora berkata,
Quote:
“Kalau kalian sedang haus sekali, janganlah minum terlalu banyak, kalau kalian lagi lapar sekali, janganlah makan terlalu banyak.”
fakhrie... dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Kutip
Balas