- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#546
Jilid 16 [Part 382]
Spoiler for :
ARYA SALAKA melihat dua orang perlahan-lahan menyusup di bawah pagar bambu di tepi jalan, dekat di sampingnya. Mereka adalah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Keduanya sama sekali tidak mengesankan ketegangan yang dialaminya selama ia bertempur melawan orang bertopeng itu. Bahkan dengan perlahan-lahan Mahesa Jenar menepuk pundaknya sambil berkata,
Dua orang kawan orang bertopeng itu melangkah surut. Mereka mencoba bersembunyi di dalam kelam di bawah pepohonan yang rimbun, sedang orang bertopeng itu berdiri tegak seperti patung. Arya menjadi keheran-heranan melihat sikap gurunya, yang seakan-akan tak terjadi suatu apapun di sini.
Dirasanya dalam malam yang gelap dingin itu tubuhnya dibasahi oleh keringatnya yang mengalir dari segenap wajah kulitnya. Namun Mahesa Jenar menganggap apa yang terjadi agaknya seperti suatu permainan yang menyenangkan. Arya kemudian mencoba untuk menilai sikap gurunya. Barangkali gurunya yakin bahwa orang yang bertempur melawannya itu tidak lebih daripada dirinya. Mungkin gurunya tahu pula bahwa kedua kawan orang bertopeng itu adalah orang-orang yang tak berarti apa-apa bagi gurunya dan Kebo Kanigara.
Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar berkata,
Mahesa Jenar menoleh kepada orang bertopeng kulit kayu yang sederhana itu, yang seakan-akan dibuat dengan tergesa-gesa. Sebuah klika kayu yang dilubangi di kedua lubang mata, kemudian diikat pada kepalanya dengan tali dan ikat kepalanya.
Arya diam sejenak. Tak ada tiga empat. Lembu Sora dan Sawung Sariti. Mula-mula ia ragu-ragu untuk menjawab, namum kemudian meloncatlah kata-kata dari bibirnya,
Arya menjadi semakin beragu. Sekali lagi ia melihat orang bertopeng itu dengan seksama. Dari ujung jari-jari kaki sampai kepalanya. Tetapi dalam gelap malam itu tak dapat ditebaknya dengan pasti siapakah orang yang bertopeng itu. Orang bertopeng itu berdiri seperti patung. Dua orang kawannya tampak merapatkan diri masing-masing dengan pagar di tepi jalan.
Akhirnya Arya menebak saja sekenanya.
Arya kini benar-benar bingung. Bingung sekali. Ia tahu bahwa bentuk pamannya tak seperti orang itu, meskipun juga bertubuh tinggi dan besar. Namun lehernya dan pundaknya agak berbeda. Dalam keragu-raguan itu terdengar Mahesa Jenar berkata,
Dada Arya tiba-tiba berdesir. Teringatlah pada masa kanak-kanaknya, ia pernah mempelajari ilmu-ilmu dasar tata gerak dari perguruan Pangrantunan. Karena itu tiba-tiba ia menjawab,
Orang itu adalah ayahnya. Dan ayahnya kini sedang berada di Demak. Diingatnya kata-kata ayahnya pada saat ia meninggalkannya di hadapan laskar Banyubiru yang siap dalam gelar Dirada. Katanya pada saat itu, “Arya, aku akan pergi. Jauh sekali, dan belum tentu kapan akan kembali.”
TIBA-TIBA tubuh orang bertopeng itu bergetar. Terdengarlah sekali ia menggeram. Kemudian tiba-tiba saja tangannya bergerak merenggut topeng yang dikenakannya. Agaknya ia tidak dapat lagi menahan hatinya. Demikian topengnya terlepas dari wajahnya, berkatalah orang itu,
Suara itu di telinga Arya Salaka terdengar seperti suara runtuhnya gunung Merbabu. Dadanya bergetar keras sekali, dan jantungnya bergelora seperti akan meledak. Dan tiba-tiba pula meloncatlah kata-katanya, hampir berteriak,
Sesaat Arya mengamat-amati wajah itu. Meskipun di dalam gelapnya malam, namun wajah ayahnya telah tercetak di dalam hatinya. Sehingga, dengan segera ia dapat mengenal kembali, meskipun hanya garis lekuk-lekuk wajah itu. Hampir tak ada perubahan sejak kira-kira lima enam-tahun yang lampau. Karena itu tiba-tiba darahnya seperti melonjak-lonjak.
Dan tanpa sesadarnya Arya melompat maju, menjatuhkan diri di kaki ayahnya sambil berkata gemetar.
Arya ingin menjawab. Di dadanya tiba-tiba penuh dengan kata-kata yang akan melontar keluar, namun mulutnya segera tersumbat oleh sesuatu yang menyekat. Karena itu yang terlontar keluar hanyalah sepatah kata,
Mahesa Jenar tidak menyahut, tetapi ia melangkah maju. Diulurkannya kedua tangannya, yang segera disambut oleh Gajah Sora dengan penuh gairah. Disambutnya salam Mahesa Jenar itu dengan sepenuh hati. Dan terasalah oleh Mahesa Jenar bahwa tangan itu gemetar.
Mahesa Jenar pun haru. Ketika ia melihat Arya hampir bertiarap di kaki ayahnya, matanya terasa panas. Perpisahan yang sekian lama dan tanpa harapan untuk dapat bertemu pada saat-saat yang demikian ini. Tiba-tiba orang itu berdiri di hadapannya.
Kemudian Mahesa Jenar menoleh kepada dua orang yang berdiri merapat pagar.
Kedua orang itupun kemudian melangkah maju. Seorang bertubuh gemuk bulat, sedang yang lain agak lencir. Keduanya ternyata berpakaian lengkap, sebagaimana dua orang prajurit yang datang dari Demak.
Kedua orang itu mengulurkan tangannya pula, yang disambut oleh Mahesa Jenar bergantian. Kemudian mereka itu diperkenalkan pula kepada Kebo Kanigara. Ternyata mereka itupun pernah mendengar nama itu, namun baru kali inilah mereka berhadapan dengan putra Ki Ageng Pengging Sepuh.
Gajah Alit memang senang berkelakar sejak masa persahabatan mereka dahulu di Demak. Kemudian berjalanlah mereka beriringan ke pondok. Ketika mereka memasuki halaman, mereka melihat Wulungan masih berdiri di muka pintu. Dua orang yang lain tampak berjaga-jaga di dalam gelap. Ketika Wulungan melihat Mahesa Jenar, segera iapun melangkah menyambutnya,
Quote:
“Bersyukurlah. Kau mendapat lawan yang luar biasa.”
Dua orang kawan orang bertopeng itu melangkah surut. Mereka mencoba bersembunyi di dalam kelam di bawah pepohonan yang rimbun, sedang orang bertopeng itu berdiri tegak seperti patung. Arya menjadi keheran-heranan melihat sikap gurunya, yang seakan-akan tak terjadi suatu apapun di sini.
Dirasanya dalam malam yang gelap dingin itu tubuhnya dibasahi oleh keringatnya yang mengalir dari segenap wajah kulitnya. Namun Mahesa Jenar menganggap apa yang terjadi agaknya seperti suatu permainan yang menyenangkan. Arya kemudian mencoba untuk menilai sikap gurunya. Barangkali gurunya yakin bahwa orang yang bertempur melawannya itu tidak lebih daripada dirinya. Mungkin gurunya tahu pula bahwa kedua kawan orang bertopeng itu adalah orang-orang yang tak berarti apa-apa bagi gurunya dan Kebo Kanigara.
Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar berkata,
Quote:
“Arya, siapakah lawanmu itu?”
“Aku tidak tahu, Paman,” jawab Arya.
“Aku tidak tahu, Paman,” jawab Arya.
Mahesa Jenar menoleh kepada orang bertopeng kulit kayu yang sederhana itu, yang seakan-akan dibuat dengan tergesa-gesa. Sebuah klika kayu yang dilubangi di kedua lubang mata, kemudian diikat pada kepalanya dengan tali dan ikat kepalanya.
Quote:
“Tidakkah kau mengenal tata gerak yang dipergunakan untuk melawanmu?” tanya Mahesa Jenar pula.
“Ya, aku mengenal Paman,” jawab Arya.
“Nah, ilmu siapakah itu?” desak gurunya.
“Ilmu keturunan dari perguruan Pangrantunan,” jawab Arya.
“Sekarang cobalah kau ingat-ingat, siapakah yang memiliki ilmu itu.”
“Ya, aku mengenal Paman,” jawab Arya.
“Nah, ilmu siapakah itu?” desak gurunya.
“Ilmu keturunan dari perguruan Pangrantunan,” jawab Arya.
“Sekarang cobalah kau ingat-ingat, siapakah yang memiliki ilmu itu.”
Arya diam sejenak. Tak ada tiga empat. Lembu Sora dan Sawung Sariti. Mula-mula ia ragu-ragu untuk menjawab, namum kemudian meloncatlah kata-kata dari bibirnya,
Quote:
“Ada dua, Paman. Paman Lembu Sora dan Adi Sawung Sariti.”
“Siapakah di antara mereka?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.
“Siapakah di antara mereka?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.
Arya menjadi semakin beragu. Sekali lagi ia melihat orang bertopeng itu dengan seksama. Dari ujung jari-jari kaki sampai kepalanya. Tetapi dalam gelap malam itu tak dapat ditebaknya dengan pasti siapakah orang yang bertopeng itu. Orang bertopeng itu berdiri seperti patung. Dua orang kawannya tampak merapatkan diri masing-masing dengan pagar di tepi jalan.
Akhirnya Arya menebak saja sekenanya.
Quote:
“Paman, orang itu bukan adi Sawung Sariti.”
“Jadi…?” desak Mahesa Jenar.
Arya Salaka menjadi tergagap menjawab,
“Jadi, jadi agaknya Paman Lembu Sora.”
“Apakah kau pasti?” tanya Mahesa Jenar.
“Jadi…?” desak Mahesa Jenar.
Arya Salaka menjadi tergagap menjawab,
“Jadi, jadi agaknya Paman Lembu Sora.”
“Apakah kau pasti?” tanya Mahesa Jenar.
Arya kini benar-benar bingung. Bingung sekali. Ia tahu bahwa bentuk pamannya tak seperti orang itu, meskipun juga bertubuh tinggi dan besar. Namun lehernya dan pundaknya agak berbeda. Dalam keragu-raguan itu terdengar Mahesa Jenar berkata,
Quote:
“Agaknya kau tidak pasti Arya.”
Arya mengangguk.
“Nah, kalau demikian, siapakah orang lain yang memiliki ilmu keturunan dari Pangrantunan?”
Terdengar orang bertopeng itu menggeram.
“Tak ada,” jawab Arya.
Mahesa Jenar tertawa. Sekali-kali pandangannya menyambar dua orang yang merapat di tepi jalan. Katanya kepada kedua orang itu,
“Jangan terlalu merapat pagar Ki Sanak. Barangkali seekor ulat akan melekat di leher kalian.”
“Hem….” kedua orang itupun menggeram.
“Arya…” kata Mahesa Jenar,
"Adakah kau pernah menerima dasar-dasar dari perguruan Pangrantunan?”
Arya mengangguk.
“Nah, kalau demikian, siapakah orang lain yang memiliki ilmu keturunan dari Pangrantunan?”
Terdengar orang bertopeng itu menggeram.
“Tak ada,” jawab Arya.
Mahesa Jenar tertawa. Sekali-kali pandangannya menyambar dua orang yang merapat di tepi jalan. Katanya kepada kedua orang itu,
“Jangan terlalu merapat pagar Ki Sanak. Barangkali seekor ulat akan melekat di leher kalian.”
“Hem….” kedua orang itupun menggeram.
“Arya…” kata Mahesa Jenar,
"Adakah kau pernah menerima dasar-dasar dari perguruan Pangrantunan?”
Dada Arya tiba-tiba berdesir. Teringatlah pada masa kanak-kanaknya, ia pernah mempelajari ilmu-ilmu dasar tata gerak dari perguruan Pangrantunan. Karena itu tiba-tiba ia menjawab,
Quote:
“Pernah, Paman.”
“Siapakah yang memberimu pelajaran?”
Arya kini teringat, bahwa memang ada orang lain yang memiliki ilmu itu, jawabnya,
“Ada orang yang memiliki ilmu itu, Paman, tetapi…” kata-kata Arya terputus.
“Siapakah yang memberimu pelajaran?”
Arya kini teringat, bahwa memang ada orang lain yang memiliki ilmu itu, jawabnya,
“Ada orang yang memiliki ilmu itu, Paman, tetapi…” kata-kata Arya terputus.
Orang itu adalah ayahnya. Dan ayahnya kini sedang berada di Demak. Diingatnya kata-kata ayahnya pada saat ia meninggalkannya di hadapan laskar Banyubiru yang siap dalam gelar Dirada. Katanya pada saat itu, “Arya, aku akan pergi. Jauh sekali, dan belum tentu kapan akan kembali.”
TIBA-TIBA tubuh orang bertopeng itu bergetar. Terdengarlah sekali ia menggeram. Kemudian tiba-tiba saja tangannya bergerak merenggut topeng yang dikenakannya. Agaknya ia tidak dapat lagi menahan hatinya. Demikian topengnya terlepas dari wajahnya, berkatalah orang itu,
Quote:
“Arya, aku adalah orang ketiga yang memiliki ilmu perguruan Pangrantunan.”
Suara itu di telinga Arya Salaka terdengar seperti suara runtuhnya gunung Merbabu. Dadanya bergetar keras sekali, dan jantungnya bergelora seperti akan meledak. Dan tiba-tiba pula meloncatlah kata-katanya, hampir berteriak,
Quote:
“Ayah!”
“Ya,” jawab orang bertopeng itu,
“Aku adalah ayahmu.”
“Ya,” jawab orang bertopeng itu,
“Aku adalah ayahmu.”
Sesaat Arya mengamat-amati wajah itu. Meskipun di dalam gelapnya malam, namun wajah ayahnya telah tercetak di dalam hatinya. Sehingga, dengan segera ia dapat mengenal kembali, meskipun hanya garis lekuk-lekuk wajah itu. Hampir tak ada perubahan sejak kira-kira lima enam-tahun yang lampau. Karena itu tiba-tiba darahnya seperti melonjak-lonjak.
Dan tanpa sesadarnya Arya melompat maju, menjatuhkan diri di kaki ayahnya sambil berkata gemetar.
Quote:
“Ayah, betulkah ayahku, ayah Gajah Sora.”
Terdengarlah suara orang itu perlahan-lahan, tidak kasar dan tidak mengandung nada permusuhan,
“Kau masih mengenal aku dengan baik bukan, Arya?”
Terdengarlah suara orang itu perlahan-lahan, tidak kasar dan tidak mengandung nada permusuhan,
“Kau masih mengenal aku dengan baik bukan, Arya?”
Arya ingin menjawab. Di dadanya tiba-tiba penuh dengan kata-kata yang akan melontar keluar, namun mulutnya segera tersumbat oleh sesuatu yang menyekat. Karena itu yang terlontar keluar hanyalah sepatah kata,
Quote:
“Ya.”
Gajah Sora menepuk bahu anaknya dengan bangga. Kemudian anak itupun ditariknya berdiri. Sambil berkata ia memandang kepada Mahesa Jenar,
“Hampir aku tak percaya, bahwa anak inilah yang pernah aku tinggalkan lima tahun yang lampau.”
Gajah Sora menepuk bahu anaknya dengan bangga. Kemudian anak itupun ditariknya berdiri. Sambil berkata ia memandang kepada Mahesa Jenar,
“Hampir aku tak percaya, bahwa anak inilah yang pernah aku tinggalkan lima tahun yang lampau.”
Mahesa Jenar tidak menyahut, tetapi ia melangkah maju. Diulurkannya kedua tangannya, yang segera disambut oleh Gajah Sora dengan penuh gairah. Disambutnya salam Mahesa Jenar itu dengan sepenuh hati. Dan terasalah oleh Mahesa Jenar bahwa tangan itu gemetar.
Mahesa Jenar pun haru. Ketika ia melihat Arya hampir bertiarap di kaki ayahnya, matanya terasa panas. Perpisahan yang sekian lama dan tanpa harapan untuk dapat bertemu pada saat-saat yang demikian ini. Tiba-tiba orang itu berdiri di hadapannya.
Kemudian Mahesa Jenar menoleh kepada dua orang yang berdiri merapat pagar.
Quote:
“Apakah kalian akan tetap berdiri di situ?”
Terdengar kedua orang itu tertawa. Salah seorang daripadanya menjawab,
“Permainanmu ternyata lebih baik daripada permainan Kakang Gajah Sora, Kakang.”
Mahesa Jenar pun tertawa, jawabnya,
“Hampir aku tidak tahan bersembunyi di balik gerumbul itu. Nyamuknya bukan main. Sedang kalian berdua masih saja ingin melihat, bagaimana Arya menjadi semakin bingung.”
Terdengar kedua orang itu tertawa. Salah seorang daripadanya menjawab,
“Permainanmu ternyata lebih baik daripada permainan Kakang Gajah Sora, Kakang.”
Mahesa Jenar pun tertawa, jawabnya,
“Hampir aku tidak tahan bersembunyi di balik gerumbul itu. Nyamuknya bukan main. Sedang kalian berdua masih saja ingin melihat, bagaimana Arya menjadi semakin bingung.”
Kedua orang itupun kemudian melangkah maju. Seorang bertubuh gemuk bulat, sedang yang lain agak lencir. Keduanya ternyata berpakaian lengkap, sebagaimana dua orang prajurit yang datang dari Demak.
Kedua orang itu mengulurkan tangannya pula, yang disambut oleh Mahesa Jenar bergantian. Kemudian mereka itu diperkenalkan pula kepada Kebo Kanigara. Ternyata mereka itupun pernah mendengar nama itu, namun baru kali inilah mereka berhadapan dengan putra Ki Ageng Pengging Sepuh.
Quote:
“Marilah kita mencari tempat yang lebih baik Kakang Gajah Sora,” ajak Mahesa Jenar,
“Barangkali Kakang Gajah Sora dapat menceriterakan sesuatu kepada kami, suatu ceritera yang menarik.”
Meskipun demikian hati Mahesa Jenar masih belum terang, apakah kedua prajurit Demak itu mempunyai tugas khusus mengawal Gajah Sora.
Namun ia berkata,
“Mari Adi Gajah Alit dan Adi Paningron. Aku mempersilahkan kalian.”
Gajah Sora menoleh kepada dua orang prajurit yang ternyata Gajah Alit dan Paningron. Kedua orang prajurit itupun mengangguk, sedang Gajah Alit berkata,
“Marilah, akupun tidak tahan lagi. Nyamuk Pangrantunan benar-benar buas dan besar-besar.”
“Tidak Adi,” sahut Mahesa Jenar,
“Tetapi barangkali Adi tidak biasa digigit nyamuk.”
“Ah…” desis Gajah Alit,
“Bukankah Kakang Mahesa Jenar tadi juga hampir tidak tahan oleh nyamuk?” Mahesa Jenar tertawa.
“Barangkali Kakang Gajah Sora dapat menceriterakan sesuatu kepada kami, suatu ceritera yang menarik.”
Meskipun demikian hati Mahesa Jenar masih belum terang, apakah kedua prajurit Demak itu mempunyai tugas khusus mengawal Gajah Sora.
Namun ia berkata,
“Mari Adi Gajah Alit dan Adi Paningron. Aku mempersilahkan kalian.”
Gajah Sora menoleh kepada dua orang prajurit yang ternyata Gajah Alit dan Paningron. Kedua orang prajurit itupun mengangguk, sedang Gajah Alit berkata,
“Marilah, akupun tidak tahan lagi. Nyamuk Pangrantunan benar-benar buas dan besar-besar.”
“Tidak Adi,” sahut Mahesa Jenar,
“Tetapi barangkali Adi tidak biasa digigit nyamuk.”
“Ah…” desis Gajah Alit,
“Bukankah Kakang Mahesa Jenar tadi juga hampir tidak tahan oleh nyamuk?” Mahesa Jenar tertawa.
Gajah Alit memang senang berkelakar sejak masa persahabatan mereka dahulu di Demak. Kemudian berjalanlah mereka beriringan ke pondok. Ketika mereka memasuki halaman, mereka melihat Wulungan masih berdiri di muka pintu. Dua orang yang lain tampak berjaga-jaga di dalam gelap. Ketika Wulungan melihat Mahesa Jenar, segera iapun melangkah menyambutnya,
Quote:
“Apakah yang terjadi?”
“Seseorang telah mencoba menyerang Arya Salaka,” Mahesa Jenar menjawab, namun sambil tersenyum.
Katanya meneruskan,
“Inilah orangnya. Pernahkah kau mengenalnya?”
“Seseorang telah mencoba menyerang Arya Salaka,” Mahesa Jenar menjawab, namun sambil tersenyum.
Katanya meneruskan,
“Inilah orangnya. Pernahkah kau mengenalnya?”
fakhrie... dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas