- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#543
Jilid 16 [Part 380]
Spoiler for :
ORANG itu tertawa.
Arya masih sibuk berpikir. Siapakah orang ini. Apakah ia dari golongan hitam atau dari golongan lain yang tak menyukainya. Apakah hal ini ada hubungannya dengan kedudukannya sebagai satu-satunya orang yang berhak atas tanah perdikan Banyubiru? Tetapi Arya tak berkesempatan untuk berpikir lebih lama. Sebab orang itu membentaknya,
Arya tak sempat menjawab. Ia melihat orang itu meluncur dengan cepat menyerangnya. Namun Arya Salaka pun telah bersiap pula. Karena itu dengan tangkasnya ia mengelak, dan bahkan dengan lincahnya ia pun membalas menyerang lawannya.
Demikianlah maka segera terjadi perkelahian di antara mereka. Arya Salaka mula-mula masih meragukan lawannya. Namun ketika lawannya itu bertempur dengan kerasnya, maka ia pun tak mempunyai pilihan lain daripada melayaninya dengan sekuat tenaganya.
Orang bertopeng itu bertempur dengan gigih. Ia tidak banyak bergerak, namun serangan-serangannya yang datang tak ubahnya seperti gunung yang runtuh. Segumpal-segumpal beruntun berguguran. Namun Arya telah bertempur selincah kijang. Dengan cepat dan tangkas ia selalu berhasil menghindarkan diri dari setiap serangan yang datang. Bahkan serangan-serangannya pun datang seperti badai yang dahsyat. Mengalir tanpa berhenti. Gelombang demi gelombang. Karena itupun maka pertempuran itu menjadi semakin seru. Masing-masing telah bekerja sekuat tenaga untuk mengalahkan lawannya. Arya bertempur seperti banteng ketaton. Tetap, tangguh dan tanggon. Namun lawannya pun bertempur seperti seekor gajah yang demikian percaya pada kekuatan tubuhnya.
Demikianlah pertempuran itu berjalan semakin sengit. Arya Salaka ternyata memiliki ketangkasan yang cukup dapat mengimbangi lawannya. Namun meskipun demikian, ia selalu waspada. Tadi ia mendengar gemersik itu di kiri dan kanan jalan. Sehingga kesimpulannya, orang yang mengintainya tidak hanya seorang. Ia pasti mempunyai kawan. Dengan demikian ia harus selalu waspada, sebab setiap saat kawannya itu akan dapat muncul dan menyerangnya bersama-sama.
Tetapi meskipun sudah sekian lama Arya bertempur, orang yang lain belum muncul juga. Sehingga Arya menjadi curiga. Apakah mereka akan menyerangnya apabila ia telah benar-benar kelelahan. Karena itu, Arya menjadi marah, dengan lantang berkata,
Namun tak ada jawaban. Hanya seorang itu sajalah yang bertempur melawannya. Ketika ia mendengar Arya berkata dengan marah, ia pun menyahut,
Namun dengan itu gerakannya menjadi semakin keras. Seperti angin pusakanya bergerak berputar-putar. Kini ia menjadi bertambah lincah dan bertambah garang. Tetapi Arya Salaka pun telah kehilangan kesabarannya, karena kemarahannya telah memuncak.
Arya tidak tahu dengan siapa ia berhadapan, namun agaknya lawannya benar-benar bertempur antara hidup dan mati. Karena itu ia pun bertempur mati-matian. Ia tidak mau menjadi korban dalam persoalan yang gelap. Pertempuran itu sudah berlangsung beberapa lama. Namun tak seorangpun yang tampak akan dapat memenangkan perkelahian itu. Kedua-duanya telah mengerahkan segenap tenaga yang mereka miliki, namun perlawanan merekapun menjadi semakin bertambah sengit. Tetapi lambat laun, Arya merasakan sesuatu yang aneh pada lawannya.
Seolah-olah ia pernah mengenal gerak-gerak yang demikian itu. Mula-mula lawannya mempergunakan tata berkelahi yang asing baginya. Aneh dan bercampur baur. Tetapi ketika Arya mendesak terus, lawannya itu tak mampu lagi mempergunakan tata gerak yang aneh-aneh dan bercampur baur. Sehingga akhirnya lawan Arya yang bertopeng itu terpaksa mempertahankan dirinya dengan ilmu yang sesungguhnya dimilikinya.
ARYA SALAKA mencoba mengamati setiap gerak dan perlawanan lawannya itu. Bagaimana ia menyilangkan tangannya di bawah dadanya, bagaimana ia meloncat miring dan bagaima ia memutar sikunya apabila ia mencoba melindungi lambungnya. Serangan-serangannya pun seakan-akan pernah dikenalnya. Dengan tangan yang mengepal berkali-kali menyambar dagu, dengan ujung-ujung jari dari keempat jarinya yang lurus mengarah ke bagian bawah leher dan perut. Dengan sisi-sisi telapak tangan, dan dengan siku dalam jarak-jarak yang pendek.
Kaki Arya pun dengan lincahnya bergerak dan meloncat. Kadang-kadang seakan-akan tertancap di tanah seperti tonggak besi yang tak tergoyahkan. Namun kadang-kadang tumitnya tiba-tiba menyambar lambung. Arya sempat mengingat-ingat sambil berkelahi. Meskipun kadang-kadang serangan lawannya itu datang dengan dahsyat. Sekali-kali ia terdesak mudur, sebuah demi sebuah serangan lawannya itu mengejarnya. Ketika kaki lawannya itu menyambar dadanya, ia menarik tubuhnya dan berputar, namun lawannya meloncat maju. Dengan kaki yang lain, orang bertopeng itu menyapu kakinya yang baru saja menginjak tanah. Demikian cepat sehingga Arya tak sempat mengelak. Karena sapuan itu, Aya kehilangan keseimbangan, namun ia adalah seorang yang cukup terlatih. Dengan demikian, ia dapat menjatuhkan dirinya dengan baik dan berguling satu kali, untuk kemudian melenting berdiri.
Tetapi ia terkejut ketika demikian ia tegak, sebuah pukulan menyambar dagunya. Terdengar giginya gemertak. Ia hanya sempat menarik wajahnya untuk mengurangi tekanan pukulan lawannya, namun wajahnya itupun terangkat pula. Perasaan sakit seperti menyengat dagunya itu. Ia terdorong selangkah surut.
Lawannya tidak mau kehilangan kesempatan, dengan tangkasnya ia meloncat maju. Namun kali ini Arya tidak mau menjadi sasaran terus-menerus. Dengan tak diduga oleh lawannya, sekali lagi Arya meloncat ke samping, kemudian dengan lincahnya ia memutar tubuhnya, dan kakinya menyambar perut lawannya.
Terdengar lawannya mengaduh perlahan. Disusul dengan serangan kedua ke arah dada. Sekali lagi orang itu terdorong ke belakang. Dan Arya mengejarnya terus. Dengan demikian pertempuran itu kian seru dan berbahaya. Apalagi bagi Arya, sebab ia terpaksa menyimpan sebagian perhatiannya untuk menghadapi setiap serangan yang tiba-tiba dari orang-orang yang masih bersembunyi di balik-balik pagar. Meskipun demikian Arya tak dapat dikalahkan dengan segera. Bahkan tampaklah bahwa Arya dapat melawan dengan baiknya dalam keseimbangan yang setingkat. Tiba-tiba dada Arya berdesir. Tiba-tiba pula ia mengingatnya. Serangan-serangan yang demikian dahsyat itu pernah dirasakan di Gedangan. Sawung Sariti.
Gerakan-gerakan ini demikian mirip dengan ilmu saudara sepepuhnya itu. Tetapi apakah lawannya itu Sawung Sariti?
Ia mencoba mengamat-amati tubuh lawannya itu, dari kaki hingga ujung kepalanya. Ia bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang. Orang itu agaknya terlalu besar bagi Sawung Sariti. Namun karena orang itu berkerudung kain yang kehitam-hitaman, sehingga dengan demikian ia tak dapat menilainya dengan jelas. Meskipun dapat masuk di akal, apabila tiba-tiba Sawung Sariti menyeranganya, namun ia tidak berani berprasangka demikian. Apalagi ia meragukan bentuk tubuh lawannya itu. Ketika ia teringat pengalamannya di pantai Tegal Arang, apakah kali ini eyangnya yang mencoba menjajagi kekuatannya. Bahkan ilmu Sawung Sariti itu diterima dari eyangnya. Tetapi tubuh eyangnya pun tak sebesar itu. Eyangnya bertubuh kecil dan tidak terlalu tinggi. Jadi siapa? Apakah pamannya? Paman Lembu Sora? Tak mungkin.
“Tidak,” hatinya melonjak,
“Mudah-mudahan bukan Paman.”
Sambil berteka-teki Arya melayani lawannya. Meskipun pamannya bertubuh tinggi besar dan berdada bidang, namun ia tidak menyangka bahwa orang itu pamannya. Pundak pamannya tidak setinggi itu dan leher pamannya agak lebih panjang. Tetapi sepengetahuannya, orang yang memiliki ilmu keturunan eyangnya hanyalah pamannya dan Sawung Sariti. Ia tidak memperhitungkan pengawal Sawung Sariti yang berwajah bengis dan bernama Galunggung. Sebab ia tidak yakin bahwa Galunggung memiliki ilmu sedemikian tinggi. Arya juga tidak dapat menyangka bahwa orang itu Wulungan. Sebab Wulungan pun tak akan mampu mempergunakan ilmu Pangrantunan sampai tingkat itu. Apakah Wulungan dalam penilaiannya adalah orang yang baik dan jujur. Jujur dalam menilai diri sendiri, jujur dalam menilai kesalahan-kesalahan sendiri.
“Siapa…? Siapa….?” Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Arya Salaka. Siapakah orang ini dan siapakah yang bersembunyi di balik pagar. Tiba-tiba ia melihat bayangan obor di kejauhan. Obor orang-orang Pamingit yang bertugas menunggunya di Pangarantunan sekaligus mengawal daerah kecil itu. Orang-orang Pamingit itu mungkin akan nganglang atau mempunyai keperluan lain di pondok penginapannya, atau barangkali mereka kebetulan adalah orang Pangrantunan yang akan mempunyai kepentingan dimalam yang gelap itu.
Dalam kesibukan pertempuran itu, Arya Salaka sempat melihat daun-daun yang bergoyang di pagar dekat tempat mereka bertempur. Matanya yang tajam melihat sebuah bayangan yang merapat di pagar bambu yang telah rusak. Pikirannya yang cepat segera mengetahui, bahwa orang itu pasti akan menghadang orang yang membawa obor dan yang semakin lama semakin dekat.
Quote:
“Jadi kaulah yang mengaku anak kepala daerah perdikan Banyubiru?”
“Karena kau sangka aku mengaku-aku..?” sahut Arya Salaka.
“Aku tidak akan mengaku demikian seandainya ayahku bukan kepala daerah perdikan Banyubiru.”
Kembali orang itu tertawa. Suaranya sangat menyakitkan hati. Katanya
“Di mana ayahmu sekarang?”
Pertanyaan itu benar-benar menyakitkan hati Arya Salaka.
Karena itu ia menjawab,
“Jangan banyak bicara. Apa maksudmu?”
“Ikut aku,” kata orang itu.
“Lalu…?” sela Arya.
“Jangan bertanya,” jawab orang itu.
“Adalah hakku untuk mengerti apa yang akan aku kerjakan,” kata Arya.
“Hanya ada dua pilihan bagimu. Mau atau tidak?” desak orang itu pula.
“Tidak,” jawab Arya tegas.
“Kalau begitu aku harus memaksamu. Dengan kekerasan. Kalau perlu akan aku bawa meskipun kau telah menjadi mayat,” kata orang itu.
“Karena kau sangka aku mengaku-aku..?” sahut Arya Salaka.
“Aku tidak akan mengaku demikian seandainya ayahku bukan kepala daerah perdikan Banyubiru.”
Kembali orang itu tertawa. Suaranya sangat menyakitkan hati. Katanya
“Di mana ayahmu sekarang?”
Pertanyaan itu benar-benar menyakitkan hati Arya Salaka.
Karena itu ia menjawab,
“Jangan banyak bicara. Apa maksudmu?”
“Ikut aku,” kata orang itu.
“Lalu…?” sela Arya.
“Jangan bertanya,” jawab orang itu.
“Adalah hakku untuk mengerti apa yang akan aku kerjakan,” kata Arya.
“Hanya ada dua pilihan bagimu. Mau atau tidak?” desak orang itu pula.
“Tidak,” jawab Arya tegas.
“Kalau begitu aku harus memaksamu. Dengan kekerasan. Kalau perlu akan aku bawa meskipun kau telah menjadi mayat,” kata orang itu.
Arya masih sibuk berpikir. Siapakah orang ini. Apakah ia dari golongan hitam atau dari golongan lain yang tak menyukainya. Apakah hal ini ada hubungannya dengan kedudukannya sebagai satu-satunya orang yang berhak atas tanah perdikan Banyubiru? Tetapi Arya tak berkesempatan untuk berpikir lebih lama. Sebab orang itu membentaknya,
Quote:
“Bersiaplah!”
Arya tak sempat menjawab. Ia melihat orang itu meluncur dengan cepat menyerangnya. Namun Arya Salaka pun telah bersiap pula. Karena itu dengan tangkasnya ia mengelak, dan bahkan dengan lincahnya ia pun membalas menyerang lawannya.
Demikianlah maka segera terjadi perkelahian di antara mereka. Arya Salaka mula-mula masih meragukan lawannya. Namun ketika lawannya itu bertempur dengan kerasnya, maka ia pun tak mempunyai pilihan lain daripada melayaninya dengan sekuat tenaganya.
Orang bertopeng itu bertempur dengan gigih. Ia tidak banyak bergerak, namun serangan-serangannya yang datang tak ubahnya seperti gunung yang runtuh. Segumpal-segumpal beruntun berguguran. Namun Arya telah bertempur selincah kijang. Dengan cepat dan tangkas ia selalu berhasil menghindarkan diri dari setiap serangan yang datang. Bahkan serangan-serangannya pun datang seperti badai yang dahsyat. Mengalir tanpa berhenti. Gelombang demi gelombang. Karena itupun maka pertempuran itu menjadi semakin seru. Masing-masing telah bekerja sekuat tenaga untuk mengalahkan lawannya. Arya bertempur seperti banteng ketaton. Tetap, tangguh dan tanggon. Namun lawannya pun bertempur seperti seekor gajah yang demikian percaya pada kekuatan tubuhnya.
Demikianlah pertempuran itu berjalan semakin sengit. Arya Salaka ternyata memiliki ketangkasan yang cukup dapat mengimbangi lawannya. Namun meskipun demikian, ia selalu waspada. Tadi ia mendengar gemersik itu di kiri dan kanan jalan. Sehingga kesimpulannya, orang yang mengintainya tidak hanya seorang. Ia pasti mempunyai kawan. Dengan demikian ia harus selalu waspada, sebab setiap saat kawannya itu akan dapat muncul dan menyerangnya bersama-sama.
Tetapi meskipun sudah sekian lama Arya bertempur, orang yang lain belum muncul juga. Sehingga Arya menjadi curiga. Apakah mereka akan menyerangnya apabila ia telah benar-benar kelelahan. Karena itu, Arya menjadi marah, dengan lantang berkata,
Quote:
“Hai, orang yang licik. Ayo keluarlah dari persembunyianmu. Kalau kalian akan bertempur bersama-sama, majulah bersama-sama. Jangan main sembunyi-sembunyian.”
Namun tak ada jawaban. Hanya seorang itu sajalah yang bertempur melawannya. Ketika ia mendengar Arya berkata dengan marah, ia pun menyahut,
Quote:
“Jangan sombong, kau kira bahwa di dunia ini hanya ada seorang laki-laki yang bernama Arya Salaka…?”
“Aku tak berkata demikian,” jawab Arya sambil bertempur.
“Aku ingin kalian bertempur dengan jujur. Jangan mengambil kesempatan yang licik.”
“Aku bukan betina,” kata orang bertopeng sederhana itu.
“Aku tak berkata demikian,” jawab Arya sambil bertempur.
“Aku ingin kalian bertempur dengan jujur. Jangan mengambil kesempatan yang licik.”
“Aku bukan betina,” kata orang bertopeng sederhana itu.
Namun dengan itu gerakannya menjadi semakin keras. Seperti angin pusakanya bergerak berputar-putar. Kini ia menjadi bertambah lincah dan bertambah garang. Tetapi Arya Salaka pun telah kehilangan kesabarannya, karena kemarahannya telah memuncak.
Arya tidak tahu dengan siapa ia berhadapan, namun agaknya lawannya benar-benar bertempur antara hidup dan mati. Karena itu ia pun bertempur mati-matian. Ia tidak mau menjadi korban dalam persoalan yang gelap. Pertempuran itu sudah berlangsung beberapa lama. Namun tak seorangpun yang tampak akan dapat memenangkan perkelahian itu. Kedua-duanya telah mengerahkan segenap tenaga yang mereka miliki, namun perlawanan merekapun menjadi semakin bertambah sengit. Tetapi lambat laun, Arya merasakan sesuatu yang aneh pada lawannya.
Seolah-olah ia pernah mengenal gerak-gerak yang demikian itu. Mula-mula lawannya mempergunakan tata berkelahi yang asing baginya. Aneh dan bercampur baur. Tetapi ketika Arya mendesak terus, lawannya itu tak mampu lagi mempergunakan tata gerak yang aneh-aneh dan bercampur baur. Sehingga akhirnya lawan Arya yang bertopeng itu terpaksa mempertahankan dirinya dengan ilmu yang sesungguhnya dimilikinya.
ARYA SALAKA mencoba mengamati setiap gerak dan perlawanan lawannya itu. Bagaimana ia menyilangkan tangannya di bawah dadanya, bagaimana ia meloncat miring dan bagaima ia memutar sikunya apabila ia mencoba melindungi lambungnya. Serangan-serangannya pun seakan-akan pernah dikenalnya. Dengan tangan yang mengepal berkali-kali menyambar dagu, dengan ujung-ujung jari dari keempat jarinya yang lurus mengarah ke bagian bawah leher dan perut. Dengan sisi-sisi telapak tangan, dan dengan siku dalam jarak-jarak yang pendek.
Kaki Arya pun dengan lincahnya bergerak dan meloncat. Kadang-kadang seakan-akan tertancap di tanah seperti tonggak besi yang tak tergoyahkan. Namun kadang-kadang tumitnya tiba-tiba menyambar lambung. Arya sempat mengingat-ingat sambil berkelahi. Meskipun kadang-kadang serangan lawannya itu datang dengan dahsyat. Sekali-kali ia terdesak mudur, sebuah demi sebuah serangan lawannya itu mengejarnya. Ketika kaki lawannya itu menyambar dadanya, ia menarik tubuhnya dan berputar, namun lawannya meloncat maju. Dengan kaki yang lain, orang bertopeng itu menyapu kakinya yang baru saja menginjak tanah. Demikian cepat sehingga Arya tak sempat mengelak. Karena sapuan itu, Aya kehilangan keseimbangan, namun ia adalah seorang yang cukup terlatih. Dengan demikian, ia dapat menjatuhkan dirinya dengan baik dan berguling satu kali, untuk kemudian melenting berdiri.
Tetapi ia terkejut ketika demikian ia tegak, sebuah pukulan menyambar dagunya. Terdengar giginya gemertak. Ia hanya sempat menarik wajahnya untuk mengurangi tekanan pukulan lawannya, namun wajahnya itupun terangkat pula. Perasaan sakit seperti menyengat dagunya itu. Ia terdorong selangkah surut.
Lawannya tidak mau kehilangan kesempatan, dengan tangkasnya ia meloncat maju. Namun kali ini Arya tidak mau menjadi sasaran terus-menerus. Dengan tak diduga oleh lawannya, sekali lagi Arya meloncat ke samping, kemudian dengan lincahnya ia memutar tubuhnya, dan kakinya menyambar perut lawannya.
Terdengar lawannya mengaduh perlahan. Disusul dengan serangan kedua ke arah dada. Sekali lagi orang itu terdorong ke belakang. Dan Arya mengejarnya terus. Dengan demikian pertempuran itu kian seru dan berbahaya. Apalagi bagi Arya, sebab ia terpaksa menyimpan sebagian perhatiannya untuk menghadapi setiap serangan yang tiba-tiba dari orang-orang yang masih bersembunyi di balik-balik pagar. Meskipun demikian Arya tak dapat dikalahkan dengan segera. Bahkan tampaklah bahwa Arya dapat melawan dengan baiknya dalam keseimbangan yang setingkat. Tiba-tiba dada Arya berdesir. Tiba-tiba pula ia mengingatnya. Serangan-serangan yang demikian dahsyat itu pernah dirasakan di Gedangan. Sawung Sariti.
Gerakan-gerakan ini demikian mirip dengan ilmu saudara sepepuhnya itu. Tetapi apakah lawannya itu Sawung Sariti?
Ia mencoba mengamat-amati tubuh lawannya itu, dari kaki hingga ujung kepalanya. Ia bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang. Orang itu agaknya terlalu besar bagi Sawung Sariti. Namun karena orang itu berkerudung kain yang kehitam-hitaman, sehingga dengan demikian ia tak dapat menilainya dengan jelas. Meskipun dapat masuk di akal, apabila tiba-tiba Sawung Sariti menyeranganya, namun ia tidak berani berprasangka demikian. Apalagi ia meragukan bentuk tubuh lawannya itu. Ketika ia teringat pengalamannya di pantai Tegal Arang, apakah kali ini eyangnya yang mencoba menjajagi kekuatannya. Bahkan ilmu Sawung Sariti itu diterima dari eyangnya. Tetapi tubuh eyangnya pun tak sebesar itu. Eyangnya bertubuh kecil dan tidak terlalu tinggi. Jadi siapa? Apakah pamannya? Paman Lembu Sora? Tak mungkin.
“Tidak,” hatinya melonjak,
“Mudah-mudahan bukan Paman.”
Sambil berteka-teki Arya melayani lawannya. Meskipun pamannya bertubuh tinggi besar dan berdada bidang, namun ia tidak menyangka bahwa orang itu pamannya. Pundak pamannya tidak setinggi itu dan leher pamannya agak lebih panjang. Tetapi sepengetahuannya, orang yang memiliki ilmu keturunan eyangnya hanyalah pamannya dan Sawung Sariti. Ia tidak memperhitungkan pengawal Sawung Sariti yang berwajah bengis dan bernama Galunggung. Sebab ia tidak yakin bahwa Galunggung memiliki ilmu sedemikian tinggi. Arya juga tidak dapat menyangka bahwa orang itu Wulungan. Sebab Wulungan pun tak akan mampu mempergunakan ilmu Pangrantunan sampai tingkat itu. Apakah Wulungan dalam penilaiannya adalah orang yang baik dan jujur. Jujur dalam menilai diri sendiri, jujur dalam menilai kesalahan-kesalahan sendiri.
“Siapa…? Siapa….?” Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Arya Salaka. Siapakah orang ini dan siapakah yang bersembunyi di balik pagar. Tiba-tiba ia melihat bayangan obor di kejauhan. Obor orang-orang Pamingit yang bertugas menunggunya di Pangarantunan sekaligus mengawal daerah kecil itu. Orang-orang Pamingit itu mungkin akan nganglang atau mempunyai keperluan lain di pondok penginapannya, atau barangkali mereka kebetulan adalah orang Pangrantunan yang akan mempunyai kepentingan dimalam yang gelap itu.
Dalam kesibukan pertempuran itu, Arya Salaka sempat melihat daun-daun yang bergoyang di pagar dekat tempat mereka bertempur. Matanya yang tajam melihat sebuah bayangan yang merapat di pagar bambu yang telah rusak. Pikirannya yang cepat segera mengetahui, bahwa orang itu pasti akan menghadang orang yang membawa obor dan yang semakin lama semakin dekat.
fakhrie... dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas