- Beranda
- Stories from the Heart
Awakening (Supranatural & Romance)
...
TS
watcheatnsleep
Awakening (Supranatural & Romance)

Ini merupakan thread pertama TS jadi mohon maaf kalau penulisannya masih agak berantakan dan kurang menarik.
Kalau ada kekurangan atau kesalahan kiranya bisa comment di thread ini buat pembelajaran sendiri bagi TS kedepannya.
Semoga ceritanya dapat dinikmati agan-agan sekalian, Thank you ^^.
INTRO
"Mereka" yang lebih dikenal dengan sebutan hantu, setan, jin, roh, makhluk halus dan sejenisnya, sejak dahulu kala eksistensi mereka selalu memicu suatu perdebatan. Begitu juga dengan Rama, seorang mahasiswa yang awalnya tak begitu percaya akan adanya keberadaan mereka, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan, bahwa ternyata eksistensi “Mereka” benar adanya.
Semua itu bermula dari pertemuannya dengan Adellia. Seorang wanita misterius yang menyimpan segudang rahasia di balik figurnya. Tanpa disadari Rama, benih-benih cinta telah timbul pada pandangan yang pertama. Sebuah rasa yang muncul untuk pertama kali dalam hidupnya.
Wanita demi wanita muncul mewarnai hidup Rama, bersamaan dengan setumpuk masalah yang mereka emban. Di sisi lain, bangkitnya indra keenam Rama seakan menuntunnya kepada sebuah perjalanan panjang untuk mencari jati dirinya.
Akankah Rama berhasil menemukan jati dirinya?
INDEKS
SEASON 1 : SIXTH SENSE
1. Sebuah Awal
2. Mimpi yang Aneh
3. Kesurupan Massal
4. Warna Merah
5. Hilang Kesadaran
6. Salah Tingkah
7. Wanita yang Berdiri di Sudut Kelas
8. Sebuah Awal
9. Pelet
10. Konfrontasi
11. Menjalani Kehidupan Kampus
12. Menikmati Momen yang Langka
13. Pilihan
14. Genderuwo
15. Film India
16. Teman Baru
17. Tengah Malam
18. Memori yang Indah
19. Cubitan Manja
20. Dominasi
21. Bukan Siapa-Siapa
22. Perasaan Kacau
23. Melissa
24. Maaf
25. Playboy
26. Tapi Bohong
27. Mobil yang Bergoyang
28. Truth or Dare
29. Tertawa Terbahak-bahak
30. Pembuktian
31. Pengakuan
32. Mimpi Buruk
33. Menikmati
34. Penyesalan
35. Kopi Darat
36. Terjatuh
37. Pulang
38. Makhluk yang Bersimbah Darah
39. Bungkusan Hitam
40. Pengalaman Putra
41. Firasat Buruk
42. Pulang ke Kost
43. Terkejut
44. Ancaman
45. Cerita Dibalik Rara
46. Kurang Tahan Lama
47. Hadiah
48. Rencana
49. Eksperimen
50. Titipan Eyang
51. Kecil
52. Penangkapan
53. Merek Baju
54. Drama
55. Pesan Singkat
56. Nadia
57. Hujan
58. Pesugihan
59. Hilang
60. Kolam
61. Kerjasama
62. Perang
63. Pengorbanan
64. Kisah Putra
65. Jatuhu
66. Awakening
67. Kabar Buruk
68. Raga Sukma
69. Perpisahan <END>
AWAKENING SEASON 2 : AMURTI
Link : https://kask.us/iOTnR
Wattpad : @vikrama_nirwasita
Karyakarsa : vikrama
Instagram : @vikrama_nirwasita
Terimakasih

Diubah oleh watcheatnsleep 04-04-2023 00:03
madezero dan 86 lainnya memberi reputasi
85
127.1K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
watcheatnsleep
#12
Chapter 5 Hilang Kesadaran
Aku langsung menoleh ke arah kiri tapi tak menemukan apa pun disana. Perasaanku mulai terasa janggal, sepertinya aku paham akan apa yang dimaksud oleh Adellia.
"Maksud lo merah yang mana, Del?" tanyaku untuk memastikan, berharap itu bukan seperti apa yang kupikirkan.
Tersungging senyuman di sudut bibirnya. "Kayaknya lo paham deh, Ram.”
"Serius dong, Del," balasku dengan perasaan takut bercampur malu.
Adellia pun tertawa melihat reaksiku, sedangkan aku hanya bisa menahan malu.
"Emang bentuknya gimana, Del?" tanyaku penasaran.
Adellia mulai mendeskripsikannya dengan setengah bercanda. "Badannya gede, Ram. Wajahnya sih keliatan cukup tua. Dia pakai jubah merah motif batik gitu. Dia melototin gue nih, kayak bapak-bapak galak."
Sebelum aku bertanya lebih lanjut, tiba-tiba Adellia mengernyitkan dahinya dan berkata. "Tapi kayaknya sih wujud aslinya bukan ini Ram. Waktu aku coba minta tunjukin yang aslinya, dia kekeh nolaknya.
Sebenarnya aku bingung, sebab aku merasa tidak melihat Adel berbicara selain denganku tadinya. Apa dia berkomunikasinya lewat telepati? Selain itu, kenapa Adellia mau membahas hal-hal ghaib seperti ini dengan santainya? Berbeda dari ekspektasiku, yang kutau biasanya mereka yang memiliki kemampuan ini enggan membahas atau menunjukkannya. Tetapi tanpa kusadari, rasa penasaranku berhasil menekan rasa takutku.
"Emang tujuannya dia ngikutin gua, buat apa ya, Del?”
"Keliatannya sih dia ga ada niat jahat, Ram. Dari yang gue rasain, kayaknya dia mau jagain lo doang sih. Tapi energi dari dia itu sifatnya keras, jadi efeknya bisa bikin lo gampang panas dan emosian Ram," jelas Adel.
Melihatku yang diam mencerna ucapannya, dia tiba-tiba menepuk pundakku seraya berkata, "Udah gausah dipikirin, Ram. Anggap aja ada bodyguard yang bantu jagain lo."
Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan dari Adel. Sebenarnya aku masih ingin menanyakan banyak hal, tapi aku masih merasa canggung dan segan. Aku pun menyimpan pertanyaan itu untuk sementara.
Hingga beberapa saat kemudian, akhirnya kami sampai di kampus. Kami segera bergegas menemui anggota kelompok kami yang lain. Seperti dugaanku, mereka langsung menanyakan kenapa kami tidak datang di hari sebelumnya. Selagi kami berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara panitia yang berteriak.
“Semua baris sesuai kelompoknya!”
Selanjutnya akupun mengikuti kegiatan ospek di ruangan kelas. Disana, kami digabungkan dengan beberapa kelompok dan seperti sedang ditunjukkan simulasi bagaimana kegiatan perkuliahan yang sebenarnya. Dosen dihadirkan untuk mengajar kami di kelas. Mungkin di awal aku merasa ini sesuatu yang baru dan menarik, tetapi dalam satu hari itu, ada beberapa dosen yang mengajar kami bergantian. Lama-kelamaan aku merasa sangat bosan dan ingin pulang saja secepat mungkin.
Setelah mengikuti kegiatan ospek yang terasa sangat lama dan membosankan itu, akhirnya jam tertuju pada angka lima, artinya sudah waktunya untuk pulang. Sesuai rencana kemarin, aku pulang bersama Steven dan Adellia.
Saat berada di jalan sepi sebelum kami sampai di persimpangan gang, tiba-tiba ada dua orang pria yang mencegat jalan kami dengan motor. Saat kuperhatikan wajahnya, ternyata salah satu dari pria itu adalah Arif. Panitia ospek dengan suara cempreng yang bertengkar dengan kami kemarin.
"Berhenti lo pada!" bentak Arif.
"Ada apa nih bang? Ada urusan sama kita?" tanya Steven kebingungan.
"Coba tanya ke temen lo," ucapnya sembari menunjuk ke arah Adellia.
Steven memandang Adellia dengan ekspresi bingung dan bertanya-tanya, tetapi raut wajahnya tetap datar, tak ada rasa takut yang muncul sama sekali.
Emosi Arif tampaknya sudah mencapai ke ubun-ubun. Dia turun dari motornya dan berjalan mendekati posisi kami. Tanpa aba-aba, tangannya lantas bergerak menuju kerah baju Adellia.
Aku langsung menepis tangannya. "Ngapain pegang-pegang woi!”
Arif pun menggertak dengan cara berlagak ingin memukulku. “Terus kenapa? Lo mau jadi pahlawan kesiangan?”
"Masih anak baru udah berani-beraninya lo ngatain gua,” ucapnya menatap Adellia.
“Beraninya sama cewek doang, lo! Pake rok aja, gih!” sindir Adellia.
"Ni jablay kurang ajar bener, ya," teriak Arif. “Gua pake baru tau rasa lo!”
Tak kusangka, Steven tiba-tiba mencengkram leher Arif, sampai membuatnya gelagapan.
“BRAKKKKKK!”
Belum sempat aku bereaksi, pria yang berada di samping Arif telah memukul badan Steven dengan balok kayu. Cengkeraman di leher Arif pun seketika terlepas. Bunyi batuk berkali-kali kian keluar dari mulutnya.
"Lo berdua ga usah ikut campur, sebelum gua bonyokin muka lu pada!" bentak pria itu sembari membanting balok kayunya ke lantai.
“baik! Mati lu anjeng!” Arif berteriak sembari melayangkan pukulan menuju wajah Steven.
Steven mengelak dan ingin membalas pukulan itu, tetapi pria satunya sibuk mengayunkan balok kayunya ke arah kami. Situasi genting pun tak dapat dihindari. Aku dan Steven terpaksa meladeni mereka semampu kami.
"Lari aja Del." ucapku ke Adel lalu memposisikan diri untuk bersiap menghadang mereka.
Adel mengangguk dan berkata, "Sabar ya Ram, aku cari bantuan dulu didekat sini."
"Mau lari kemana lo jablay!" teriak Arif.
Tak banyak omong aku dan Stevenpun langsung menghadang kedua orang itu dengan sekuat tenaga. Aku dan Steven hanya berfokus untuk menghalangi jalan mereka. Intinya kami hanya ingin mengulur waktu agar Adel menjauh dari sini.
Hingga pada akhirnya pertarungan kami dilanjutkan dengan pertarungan satu lawan satu. Dimana aku melawan Arif sedangkan Steven melawan pria yang memegang balok kayu.
“Inget, Arif nama orang yang bonyokin muka lo!” ucapnya dengan tengil.
“Bukannya suneo?” balasku dengan senyuman mengejek.
Amarahnya tak terbendung lagi, dan seketika berteriak sembari menerjang ke arahku. Dia langsung melayangkan tinju pertamanya ke arah wajahku. Tetapi aku berhasil menghindarinya. Sialnya dia tidak berhenti disitu saja, dia langsung melayangkan tendangan yang berhasil mengenai perutku. Sisa makanan yang ada di perutku rasanya ingin keluar dari mulut. Efek tendangan itu pun membuatku terjatuh ke lantai. Aku merasa dia mempelajari beladiri. Tampak dari kuda-kudanya yang stabil dan tendangannya yang cepat saat menyerangku.
Dia mendekatiku lalu menunduk dan menatapku dengan senyum menyeringai. "Segini doang yang lo bisa? Hahaha," ejeknya sambil tertawa.
Tingkahnya itu berhasil menyulut api amarahku. Tubuhku yang sebenarnya sudah tak berdaya lagi kupaksa untuk bangkit dan bergerak menerjangnya. Yang ada dipikiranku saat itu adalah bagaimana caranya untuk menghancurkannya.
Pukulan demi pukulan kuluncurkan ke arah wajahnya. Tapi dia dengan mudah menangkis dan menghindar dari pukulanku. Aku merasa semua seranganku tidak memiliki arti di depannya. Hingga kemudian, dia membalas seranganku mulai dari meninju wajahku lalu menendang betisku. Tidak berhenti disitu saja, dia mulai meninju tubuhku secara membabi buta. Aku hanya bisa berusaha menahan semua serangannya dengan kedua tanganku.
Hingga terakhir yang kuingat adalah pandangan dimana dia sedang melompat dan mengarahkan tendangannya ke arah wajahku. Setelah itu, aku tak bisa mengingat apa-apa lagi.
Hingga saat aku tersadar, yang ada dipandangaku adalah Arif yang sedang tergeletak ditanah dengan wajah dan baju yang berlumuran darah. Aku sangat terkejut dan saat menoleh kesamping, aku melihat wajah Steven yang memandangku layaknya tak percaya. Sedangkan lawannya hanya bisa bergetar dan memandangku ketakutan. Disana juga ada beberapa orang yang tak kukenal yang sedang melihatku dengan tatapan aneh.
Tiba-tiba aku mendengar suara Adel di sebelahku. "Kamu udah sadar Ram?" tanyanya sambil memandangku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Emang ada apa ya, Del? gua gak ingat apa-apa," ucapku linglung.
"Setelah aku balik, aku ngeliat kamu lagi mukulin dia habis-habisan Ram," balas Adel dengan suara yang bergetar.
Aku sangat terkejut mendengar ucapan Adel, hingga seketika aku termenung sejenak. Aku tak menyangka dan tak mengerti kenapa ini bisa terjadi. Aku masih tak mempercayai ucapan Adellia, tetapi saat aku memandang kedua tanganku yang berlumuran darah, aku tak lagi bisa membantah ucapannya.
"Woi, yang penting kita bawa dia ke rumah sakit dulu," bentak Steven yang berhasil menyadarkan kami.
Saat aku mencoba menggerakkan badanku, rasanya benar-benar berat dan sakit sekali. Aku merasa luka dan efek dari serangan Arif belum menghilang dari badanku. Bahkan sepertinya yang kurasakan ini dua kali lipat lebih berat dari yang kurasakan sebelum pingsan. Aku bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya separah apa tindakan yang kulakukan tadi.
Aku pun dibantu oleh Steven dan Adel untuk pergi ke rumah sakit terdekat. Sedangkan Arif dibantu temannya bersama beberapa orang yang dipanggil Adel tadi. Kami bergegas secepat mungkin karena kondisi Arif sepertinya sangat parah.
Setelah sampai di rumah sakit, Arif langsung dibawa ke ruangan UGD. Sedangkan aku memilih untuk pergi ke toilet untuk membersihkan lukaku. Setelahnya aku duduk dan menunggu dibangku luar ruangan. Orang-orang yang lewatpun kerap memandangiku, efek dari wajahku yang babak belur. Tapi aku tidak terlalu memerdulikannya, sebab pikiranku masih tertuju akan wajah Arif yang berlumuran darah.
Aku berpikir, apa aku sedang kerasukan? Atau aku memiliki kepribadian lain yang selama ini bersemayam dalam alam bawah sadarku? Aku hanya bisa berspekulasi dan bertanya-tanya kepada diriku sendiri. Hingga rasa sakit yang kualami sepertinya terasa berkurang, karena pikiranku yang sudah melayang kemana-mana.
Adellia pun duduk di sampingku lalu menyentuh pundakku. “Badan kamu masih sakit gak, Ram?” tanya Adel dengan ekspresi khawatirnya.
Aku perlahan menyadari perubahan panggilan Adellia terhadapku. Entah kenapa dia jadi memakai kata aku dan kamu.
“Lo cek juga tuh Ram, muka lo bonyok juga tuh,” ucap Steven dengan raut wajah serius.
Aku tidak ingin repot dan menyusahkan mereka nantinya, lagian aku berpikir luka yang kualami sudah mendingan dan tidaklah parah.
“Gausah ven, ntar gw obatin di kos aja,” balasku singkat.
“Yaudah, kalo gitu kita mending balik aja sekarang. Jangan sampe lukanya infeksi duluan,” ajak Adel sembari beranjak dari bangku.
“Jadi nanti dia gimana?” tanyaku sembari menatap ke arah ruangan Arif.
“Dia punya temen yang nungguin dia kok Ram,” jawab Adellia.
“Kalo dia kenapa-napa nantinya gimana?” tanyaku gugup.
Adel dan Steven pun diam tak merespon ucapanku. Sepertinya mereka juga tak tahu harus berbuat apalagi selain menunggu hasilnya. Sesaat kemudian, tenaga medis keluar dari ruangan dan mengabarkan kalau kondisi Arif sudah mulai stabil. Dia hanya memerlukan istirahat dan pengobatan yang cukup lama untuk pulih.
Mendengar kabar itu, Adel langsung mengajakku pulang. “Balik yuk Ram, kita obatin luka kamu dulu.” lalu Adel memapahku dengan hati-hati.
“Bentar ya, gw ngomong dulu ke tuh orang.” tunjuk Steven ke temannya Arif yang sedang mondar mandir didekat pintu.
Setelah Steven selesai berbicara dengan teman Arif, tak lupa kami juga berterimakasih kepada beberapa orang yang dipanggil Adel, yang juga membantu kami hingga bisa sampai ke rumah sakit. Setelah itu kamipun pulang bersama dengan menaiki taxi menuju kos. Didalam taxi, kami hanya bisa terdiam dan tenggelam dalam lamunan kami sendiri. Sepertinya bukan aku saja yang merasa bingung dan shock akan kejadian ini, begitu juga dengan Adel dan Steven. Aku bisa mengetahuinya dari raut wajah mereka yang tampak linglung.
Sesampainya dilokasi, Adel mengajak kami masuk ke gerbang kosnya dan menyuruh kami menunggu di teras.
“Tunggu disini bentar, ya.” Adellia pun berlalu memasuki kos.
Tak lama kemudian, Adel muncul dengan kotak P3K digenggamannya.
“Sini aku obatin dulu, Ram,” ucapnya lalu duduk disampingku. Adellia membuka kotak P3K ditangannya lalu mengeluarkan satu persatu obat yang bisa menangani lukaku.
“Jangan gerak dulu ya, Ram,” ucap Adel pelan.
Lalu perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya menuju wajahku untuk memeriksa luka. Melihat wajahnya sedekat ini membuat jantungku berdetak cepat. Aku bisa memandang detail ekspresi khawatir dari wajahnya yang menawan. Sekilas, aku menjadi bersyukur mendapatkan luka ini.
Sementara itu Adel mulai membersihkan luka yang berada di wajahku dan sesekali menekannya untuk membuat pendarahan berhenti. Aku menggertakkan gigiku, berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakit. Walau sebenarnya itu sangatlah perih, sampai rasanya aku ingin mengeluarkan air mata.
Sepertinya Adel juga memahami keadaanku dan mencoba menyentuh lukaku selembut mungkin.
“Maaf ya Ram, karena masalahku kamu jadi luka begini,” ucapnya lesu.
Rasa tak tega muncul saat melihat ekspresi wajahnya yang sedih. “Gapapa, Del. Awal masalahnya kan, karena aku telat juga,”
“Tapi aku ga nyangka bakal sampai begini efeknya,” ucapnya lirih.
“Gausah dipikirin lagi, Del. Anggap aja kita lagi apes,” ucapku berusaha untuk mengurangi keresahannya.
Saat kami sedang asik ngobrol, tiba-tiba muncul suara yang seketika memotong pembicaraan kami. “Gua kapan diobatinnya nih?” gerutu Steven.
Aku tak sadar telah melupakan eksistensinya. “Oh iya, sorry kelupaan, Ven,” jawab Adellia sambil menahan tawa.
“Bukannya mau ngeganggu yang lagi mesra nih, tapi gua takut keburu pingsan duluan,” ejeknya dengan ekspresi tengil.
“Gausah di dengerin, Del. Biarin aja, sampe pingsan,” celetukku.
“Asal gua ngomong sama Adel, sewot mulu nih anak," balas Steven, “lo cemburu ya?”
“Berisik lo kampret!” balasku seraya menahan malu.
"Hahaha.…" Adellia hanya tertawa melihat tingkah kami berdua.
Akhirnya suasananya bisa menjadi lebih ringan berkat candaan Steven. Tak terasa canggung dan menegangkan seperti sebelumnya. Setidaknya, kami bisa sejenak melupakan kenangan buruk sore itu.
<><><>
Sesampainya di kost, aku langsung mandi membersihkan tubuhku yang sudah penuh dengan keringat. Setelahnya aku masih harus mempersiapkan tugas dan peralatan untuk ospek terakhir besok.
Saat mengerjakan tugas, pikiranku masih dihantui dengan wajah Arif yang berlumuran darah. Seperti masih tersisa sekelumit adrenalin di tubuhku. Ketimbang aku stress memikirkannya, aku langsung memutuskan untuk langsung tidur. Setelah berbaring diatas kasur, tak lama kemudian aku pun terlelap. Kejadian sore itu berhasil menguras seluruh energiku.
Pantai dengan pasir berwarna emas dengan laut membentang yang tak terlihat ujungnya. “Bukannya ini tempat yang sama dengan tempat yang kemarin?” tanyaku dalam hati. Tapi berbeda dengan kondisi kemarin, aku merasa sedang tidak berdiri melayang diatas udara. Saat aku melihat kebawah, benar saja, ternyata aku sedang berdiri di atas suatu makhluk bersisik seperti ular, dengan ukuran raksasa.
Aku mulai menyadari, bahwa makhluk itu adalah makhluk yang sama dengan makhluk yang kulihat di mimpi kemarin. Makhluk itu dapat bergerak sangat cepat di permukaan air. Dalam sekejap mata, dia berhasil membawaku ke tengah lautan.
Aku hanya bisa diam terpaku di posisiku layaknya sebuah patung. Tubuhku rasanya kaku dan tak bisa kugerakkan sesuai keinginanku. Berbeda terbalik dengan kondisiku sebelumnya. Rasa takut pun muncul di batin, sebab yang kurasakan saat itu sangat nyata. Aku masih tak berpikir bahwa ini sebenarnya adalah mimpi.
Hingga tak lama kemudian, makhluk itu mencoba menyelam masuk ke dalam laut. Pandanganku seketika menjadi gelap dan sesaat kemudian, aku sudah berdiri didepan beberapa pilar raksasa berwarna emas. Desainnya mirip dengan bangunan yunani kuno, layaknya berada di olympus.
Sembari aku memerhatikan sekitarku, aku merasa ada pandangan seseorang dari belakangku. Saat aku berbalik, ternyata benar ada seorang pria yang sedang menatapku tajam. Sinar berwarna emas terpancar dari bola matanya.
Jika kuperhatikan, dia sedang berdiri di depan sebuah gerbang dan bangunan yang tampak sangat megah sebagai latarnya. Aku tak bisa mengingat jelas wajahnya, yang bisa kuingat hanyalah jubahnya yang berwarna merah darah dan tubuhnya yang tegap besar. Anehnya sesudah melihat pemandangan itu, pandanganku menjadi kabur dan tiba-tiba kembali gelap.
Saat semuanya menjadi gelap, perlahan aku kembali merasakan tubuhku yang berada di dunia nyata. Saat aku membuka kedua mataku, aku sadar bahwa apa yang kulihat tadi bukanlah sebuah mimpi belaka. Aku membuka kedua mataku yang terpejam, lalu berusaha mengingat kembali apa yang baru kualami barusan.
Sosok pria itu sangat menempel di memoriku. Terutama matanya yang mengeluarkan sinar berwarna emas dan jubah merah yang dikenakannya.
Spontan aku berpikir. “Tunggu … jubah merah? Bukannya dia yang dimaksud Adel kemarin?”
Bersambung …
"Maksud lo merah yang mana, Del?" tanyaku untuk memastikan, berharap itu bukan seperti apa yang kupikirkan.
Tersungging senyuman di sudut bibirnya. "Kayaknya lo paham deh, Ram.”
"Serius dong, Del," balasku dengan perasaan takut bercampur malu.
Adellia pun tertawa melihat reaksiku, sedangkan aku hanya bisa menahan malu.
"Emang bentuknya gimana, Del?" tanyaku penasaran.
Adellia mulai mendeskripsikannya dengan setengah bercanda. "Badannya gede, Ram. Wajahnya sih keliatan cukup tua. Dia pakai jubah merah motif batik gitu. Dia melototin gue nih, kayak bapak-bapak galak."
Sebelum aku bertanya lebih lanjut, tiba-tiba Adellia mengernyitkan dahinya dan berkata. "Tapi kayaknya sih wujud aslinya bukan ini Ram. Waktu aku coba minta tunjukin yang aslinya, dia kekeh nolaknya.
Sebenarnya aku bingung, sebab aku merasa tidak melihat Adel berbicara selain denganku tadinya. Apa dia berkomunikasinya lewat telepati? Selain itu, kenapa Adellia mau membahas hal-hal ghaib seperti ini dengan santainya? Berbeda dari ekspektasiku, yang kutau biasanya mereka yang memiliki kemampuan ini enggan membahas atau menunjukkannya. Tetapi tanpa kusadari, rasa penasaranku berhasil menekan rasa takutku.
"Emang tujuannya dia ngikutin gua, buat apa ya, Del?”
"Keliatannya sih dia ga ada niat jahat, Ram. Dari yang gue rasain, kayaknya dia mau jagain lo doang sih. Tapi energi dari dia itu sifatnya keras, jadi efeknya bisa bikin lo gampang panas dan emosian Ram," jelas Adel.
Melihatku yang diam mencerna ucapannya, dia tiba-tiba menepuk pundakku seraya berkata, "Udah gausah dipikirin, Ram. Anggap aja ada bodyguard yang bantu jagain lo."
Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan dari Adel. Sebenarnya aku masih ingin menanyakan banyak hal, tapi aku masih merasa canggung dan segan. Aku pun menyimpan pertanyaan itu untuk sementara.
Hingga beberapa saat kemudian, akhirnya kami sampai di kampus. Kami segera bergegas menemui anggota kelompok kami yang lain. Seperti dugaanku, mereka langsung menanyakan kenapa kami tidak datang di hari sebelumnya. Selagi kami berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara panitia yang berteriak.
“Semua baris sesuai kelompoknya!”
Selanjutnya akupun mengikuti kegiatan ospek di ruangan kelas. Disana, kami digabungkan dengan beberapa kelompok dan seperti sedang ditunjukkan simulasi bagaimana kegiatan perkuliahan yang sebenarnya. Dosen dihadirkan untuk mengajar kami di kelas. Mungkin di awal aku merasa ini sesuatu yang baru dan menarik, tetapi dalam satu hari itu, ada beberapa dosen yang mengajar kami bergantian. Lama-kelamaan aku merasa sangat bosan dan ingin pulang saja secepat mungkin.
Setelah mengikuti kegiatan ospek yang terasa sangat lama dan membosankan itu, akhirnya jam tertuju pada angka lima, artinya sudah waktunya untuk pulang. Sesuai rencana kemarin, aku pulang bersama Steven dan Adellia.
Saat berada di jalan sepi sebelum kami sampai di persimpangan gang, tiba-tiba ada dua orang pria yang mencegat jalan kami dengan motor. Saat kuperhatikan wajahnya, ternyata salah satu dari pria itu adalah Arif. Panitia ospek dengan suara cempreng yang bertengkar dengan kami kemarin.
"Berhenti lo pada!" bentak Arif.
"Ada apa nih bang? Ada urusan sama kita?" tanya Steven kebingungan.
"Coba tanya ke temen lo," ucapnya sembari menunjuk ke arah Adellia.
Steven memandang Adellia dengan ekspresi bingung dan bertanya-tanya, tetapi raut wajahnya tetap datar, tak ada rasa takut yang muncul sama sekali.
Emosi Arif tampaknya sudah mencapai ke ubun-ubun. Dia turun dari motornya dan berjalan mendekati posisi kami. Tanpa aba-aba, tangannya lantas bergerak menuju kerah baju Adellia.
Aku langsung menepis tangannya. "Ngapain pegang-pegang woi!”
Arif pun menggertak dengan cara berlagak ingin memukulku. “Terus kenapa? Lo mau jadi pahlawan kesiangan?”
"Masih anak baru udah berani-beraninya lo ngatain gua,” ucapnya menatap Adellia.
“Beraninya sama cewek doang, lo! Pake rok aja, gih!” sindir Adellia.
"Ni jablay kurang ajar bener, ya," teriak Arif. “Gua pake baru tau rasa lo!”
Tak kusangka, Steven tiba-tiba mencengkram leher Arif, sampai membuatnya gelagapan.
“BRAKKKKKK!”
Belum sempat aku bereaksi, pria yang berada di samping Arif telah memukul badan Steven dengan balok kayu. Cengkeraman di leher Arif pun seketika terlepas. Bunyi batuk berkali-kali kian keluar dari mulutnya.
"Lo berdua ga usah ikut campur, sebelum gua bonyokin muka lu pada!" bentak pria itu sembari membanting balok kayunya ke lantai.
“baik! Mati lu anjeng!” Arif berteriak sembari melayangkan pukulan menuju wajah Steven.
Steven mengelak dan ingin membalas pukulan itu, tetapi pria satunya sibuk mengayunkan balok kayunya ke arah kami. Situasi genting pun tak dapat dihindari. Aku dan Steven terpaksa meladeni mereka semampu kami.
"Lari aja Del." ucapku ke Adel lalu memposisikan diri untuk bersiap menghadang mereka.
Adel mengangguk dan berkata, "Sabar ya Ram, aku cari bantuan dulu didekat sini."
"Mau lari kemana lo jablay!" teriak Arif.
Tak banyak omong aku dan Stevenpun langsung menghadang kedua orang itu dengan sekuat tenaga. Aku dan Steven hanya berfokus untuk menghalangi jalan mereka. Intinya kami hanya ingin mengulur waktu agar Adel menjauh dari sini.
Hingga pada akhirnya pertarungan kami dilanjutkan dengan pertarungan satu lawan satu. Dimana aku melawan Arif sedangkan Steven melawan pria yang memegang balok kayu.
“Inget, Arif nama orang yang bonyokin muka lo!” ucapnya dengan tengil.
“Bukannya suneo?” balasku dengan senyuman mengejek.
Amarahnya tak terbendung lagi, dan seketika berteriak sembari menerjang ke arahku. Dia langsung melayangkan tinju pertamanya ke arah wajahku. Tetapi aku berhasil menghindarinya. Sialnya dia tidak berhenti disitu saja, dia langsung melayangkan tendangan yang berhasil mengenai perutku. Sisa makanan yang ada di perutku rasanya ingin keluar dari mulut. Efek tendangan itu pun membuatku terjatuh ke lantai. Aku merasa dia mempelajari beladiri. Tampak dari kuda-kudanya yang stabil dan tendangannya yang cepat saat menyerangku.
Dia mendekatiku lalu menunduk dan menatapku dengan senyum menyeringai. "Segini doang yang lo bisa? Hahaha," ejeknya sambil tertawa.
Tingkahnya itu berhasil menyulut api amarahku. Tubuhku yang sebenarnya sudah tak berdaya lagi kupaksa untuk bangkit dan bergerak menerjangnya. Yang ada dipikiranku saat itu adalah bagaimana caranya untuk menghancurkannya.
Pukulan demi pukulan kuluncurkan ke arah wajahnya. Tapi dia dengan mudah menangkis dan menghindar dari pukulanku. Aku merasa semua seranganku tidak memiliki arti di depannya. Hingga kemudian, dia membalas seranganku mulai dari meninju wajahku lalu menendang betisku. Tidak berhenti disitu saja, dia mulai meninju tubuhku secara membabi buta. Aku hanya bisa berusaha menahan semua serangannya dengan kedua tanganku.
Hingga terakhir yang kuingat adalah pandangan dimana dia sedang melompat dan mengarahkan tendangannya ke arah wajahku. Setelah itu, aku tak bisa mengingat apa-apa lagi.
Hingga saat aku tersadar, yang ada dipandangaku adalah Arif yang sedang tergeletak ditanah dengan wajah dan baju yang berlumuran darah. Aku sangat terkejut dan saat menoleh kesamping, aku melihat wajah Steven yang memandangku layaknya tak percaya. Sedangkan lawannya hanya bisa bergetar dan memandangku ketakutan. Disana juga ada beberapa orang yang tak kukenal yang sedang melihatku dengan tatapan aneh.
Tiba-tiba aku mendengar suara Adel di sebelahku. "Kamu udah sadar Ram?" tanyanya sambil memandangku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Emang ada apa ya, Del? gua gak ingat apa-apa," ucapku linglung.
"Setelah aku balik, aku ngeliat kamu lagi mukulin dia habis-habisan Ram," balas Adel dengan suara yang bergetar.
Aku sangat terkejut mendengar ucapan Adel, hingga seketika aku termenung sejenak. Aku tak menyangka dan tak mengerti kenapa ini bisa terjadi. Aku masih tak mempercayai ucapan Adellia, tetapi saat aku memandang kedua tanganku yang berlumuran darah, aku tak lagi bisa membantah ucapannya.
"Woi, yang penting kita bawa dia ke rumah sakit dulu," bentak Steven yang berhasil menyadarkan kami.
Saat aku mencoba menggerakkan badanku, rasanya benar-benar berat dan sakit sekali. Aku merasa luka dan efek dari serangan Arif belum menghilang dari badanku. Bahkan sepertinya yang kurasakan ini dua kali lipat lebih berat dari yang kurasakan sebelum pingsan. Aku bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya separah apa tindakan yang kulakukan tadi.
Aku pun dibantu oleh Steven dan Adel untuk pergi ke rumah sakit terdekat. Sedangkan Arif dibantu temannya bersama beberapa orang yang dipanggil Adel tadi. Kami bergegas secepat mungkin karena kondisi Arif sepertinya sangat parah.
Setelah sampai di rumah sakit, Arif langsung dibawa ke ruangan UGD. Sedangkan aku memilih untuk pergi ke toilet untuk membersihkan lukaku. Setelahnya aku duduk dan menunggu dibangku luar ruangan. Orang-orang yang lewatpun kerap memandangiku, efek dari wajahku yang babak belur. Tapi aku tidak terlalu memerdulikannya, sebab pikiranku masih tertuju akan wajah Arif yang berlumuran darah.
Aku berpikir, apa aku sedang kerasukan? Atau aku memiliki kepribadian lain yang selama ini bersemayam dalam alam bawah sadarku? Aku hanya bisa berspekulasi dan bertanya-tanya kepada diriku sendiri. Hingga rasa sakit yang kualami sepertinya terasa berkurang, karena pikiranku yang sudah melayang kemana-mana.
Adellia pun duduk di sampingku lalu menyentuh pundakku. “Badan kamu masih sakit gak, Ram?” tanya Adel dengan ekspresi khawatirnya.
Aku perlahan menyadari perubahan panggilan Adellia terhadapku. Entah kenapa dia jadi memakai kata aku dan kamu.
“Lo cek juga tuh Ram, muka lo bonyok juga tuh,” ucap Steven dengan raut wajah serius.
Aku tidak ingin repot dan menyusahkan mereka nantinya, lagian aku berpikir luka yang kualami sudah mendingan dan tidaklah parah.
“Gausah ven, ntar gw obatin di kos aja,” balasku singkat.
“Yaudah, kalo gitu kita mending balik aja sekarang. Jangan sampe lukanya infeksi duluan,” ajak Adel sembari beranjak dari bangku.
“Jadi nanti dia gimana?” tanyaku sembari menatap ke arah ruangan Arif.
“Dia punya temen yang nungguin dia kok Ram,” jawab Adellia.
“Kalo dia kenapa-napa nantinya gimana?” tanyaku gugup.
Adel dan Steven pun diam tak merespon ucapanku. Sepertinya mereka juga tak tahu harus berbuat apalagi selain menunggu hasilnya. Sesaat kemudian, tenaga medis keluar dari ruangan dan mengabarkan kalau kondisi Arif sudah mulai stabil. Dia hanya memerlukan istirahat dan pengobatan yang cukup lama untuk pulih.
Mendengar kabar itu, Adel langsung mengajakku pulang. “Balik yuk Ram, kita obatin luka kamu dulu.” lalu Adel memapahku dengan hati-hati.
“Bentar ya, gw ngomong dulu ke tuh orang.” tunjuk Steven ke temannya Arif yang sedang mondar mandir didekat pintu.
Setelah Steven selesai berbicara dengan teman Arif, tak lupa kami juga berterimakasih kepada beberapa orang yang dipanggil Adel, yang juga membantu kami hingga bisa sampai ke rumah sakit. Setelah itu kamipun pulang bersama dengan menaiki taxi menuju kos. Didalam taxi, kami hanya bisa terdiam dan tenggelam dalam lamunan kami sendiri. Sepertinya bukan aku saja yang merasa bingung dan shock akan kejadian ini, begitu juga dengan Adel dan Steven. Aku bisa mengetahuinya dari raut wajah mereka yang tampak linglung.
<><><>
Sesampainya dilokasi, Adel mengajak kami masuk ke gerbang kosnya dan menyuruh kami menunggu di teras.
“Tunggu disini bentar, ya.” Adellia pun berlalu memasuki kos.
Tak lama kemudian, Adel muncul dengan kotak P3K digenggamannya.
“Sini aku obatin dulu, Ram,” ucapnya lalu duduk disampingku. Adellia membuka kotak P3K ditangannya lalu mengeluarkan satu persatu obat yang bisa menangani lukaku.
“Jangan gerak dulu ya, Ram,” ucap Adel pelan.
Lalu perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya menuju wajahku untuk memeriksa luka. Melihat wajahnya sedekat ini membuat jantungku berdetak cepat. Aku bisa memandang detail ekspresi khawatir dari wajahnya yang menawan. Sekilas, aku menjadi bersyukur mendapatkan luka ini.
Sementara itu Adel mulai membersihkan luka yang berada di wajahku dan sesekali menekannya untuk membuat pendarahan berhenti. Aku menggertakkan gigiku, berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakit. Walau sebenarnya itu sangatlah perih, sampai rasanya aku ingin mengeluarkan air mata.
Sepertinya Adel juga memahami keadaanku dan mencoba menyentuh lukaku selembut mungkin.
“Maaf ya Ram, karena masalahku kamu jadi luka begini,” ucapnya lesu.
Rasa tak tega muncul saat melihat ekspresi wajahnya yang sedih. “Gapapa, Del. Awal masalahnya kan, karena aku telat juga,”
“Tapi aku ga nyangka bakal sampai begini efeknya,” ucapnya lirih.
“Gausah dipikirin lagi, Del. Anggap aja kita lagi apes,” ucapku berusaha untuk mengurangi keresahannya.
Saat kami sedang asik ngobrol, tiba-tiba muncul suara yang seketika memotong pembicaraan kami. “Gua kapan diobatinnya nih?” gerutu Steven.
Aku tak sadar telah melupakan eksistensinya. “Oh iya, sorry kelupaan, Ven,” jawab Adellia sambil menahan tawa.
“Bukannya mau ngeganggu yang lagi mesra nih, tapi gua takut keburu pingsan duluan,” ejeknya dengan ekspresi tengil.
“Gausah di dengerin, Del. Biarin aja, sampe pingsan,” celetukku.
“Asal gua ngomong sama Adel, sewot mulu nih anak," balas Steven, “lo cemburu ya?”
“Berisik lo kampret!” balasku seraya menahan malu.
"Hahaha.…" Adellia hanya tertawa melihat tingkah kami berdua.
Akhirnya suasananya bisa menjadi lebih ringan berkat candaan Steven. Tak terasa canggung dan menegangkan seperti sebelumnya. Setidaknya, kami bisa sejenak melupakan kenangan buruk sore itu.
<><><>
Sesampainya di kost, aku langsung mandi membersihkan tubuhku yang sudah penuh dengan keringat. Setelahnya aku masih harus mempersiapkan tugas dan peralatan untuk ospek terakhir besok.
Saat mengerjakan tugas, pikiranku masih dihantui dengan wajah Arif yang berlumuran darah. Seperti masih tersisa sekelumit adrenalin di tubuhku. Ketimbang aku stress memikirkannya, aku langsung memutuskan untuk langsung tidur. Setelah berbaring diatas kasur, tak lama kemudian aku pun terlelap. Kejadian sore itu berhasil menguras seluruh energiku.
Pantai dengan pasir berwarna emas dengan laut membentang yang tak terlihat ujungnya. “Bukannya ini tempat yang sama dengan tempat yang kemarin?” tanyaku dalam hati. Tapi berbeda dengan kondisi kemarin, aku merasa sedang tidak berdiri melayang diatas udara. Saat aku melihat kebawah, benar saja, ternyata aku sedang berdiri di atas suatu makhluk bersisik seperti ular, dengan ukuran raksasa.
Aku mulai menyadari, bahwa makhluk itu adalah makhluk yang sama dengan makhluk yang kulihat di mimpi kemarin. Makhluk itu dapat bergerak sangat cepat di permukaan air. Dalam sekejap mata, dia berhasil membawaku ke tengah lautan.
Aku hanya bisa diam terpaku di posisiku layaknya sebuah patung. Tubuhku rasanya kaku dan tak bisa kugerakkan sesuai keinginanku. Berbeda terbalik dengan kondisiku sebelumnya. Rasa takut pun muncul di batin, sebab yang kurasakan saat itu sangat nyata. Aku masih tak berpikir bahwa ini sebenarnya adalah mimpi.
Hingga tak lama kemudian, makhluk itu mencoba menyelam masuk ke dalam laut. Pandanganku seketika menjadi gelap dan sesaat kemudian, aku sudah berdiri didepan beberapa pilar raksasa berwarna emas. Desainnya mirip dengan bangunan yunani kuno, layaknya berada di olympus.
Sembari aku memerhatikan sekitarku, aku merasa ada pandangan seseorang dari belakangku. Saat aku berbalik, ternyata benar ada seorang pria yang sedang menatapku tajam. Sinar berwarna emas terpancar dari bola matanya.
Jika kuperhatikan, dia sedang berdiri di depan sebuah gerbang dan bangunan yang tampak sangat megah sebagai latarnya. Aku tak bisa mengingat jelas wajahnya, yang bisa kuingat hanyalah jubahnya yang berwarna merah darah dan tubuhnya yang tegap besar. Anehnya sesudah melihat pemandangan itu, pandanganku menjadi kabur dan tiba-tiba kembali gelap.
Saat semuanya menjadi gelap, perlahan aku kembali merasakan tubuhku yang berada di dunia nyata. Saat aku membuka kedua mataku, aku sadar bahwa apa yang kulihat tadi bukanlah sebuah mimpi belaka. Aku membuka kedua mataku yang terpejam, lalu berusaha mengingat kembali apa yang baru kualami barusan.
Sosok pria itu sangat menempel di memoriku. Terutama matanya yang mengeluarkan sinar berwarna emas dan jubah merah yang dikenakannya.
Spontan aku berpikir. “Tunggu … jubah merah? Bukannya dia yang dimaksud Adel kemarin?”
Bersambung …
Diubah oleh watcheatnsleep 24-03-2023 07:41
masbawor dan 45 lainnya memberi reputasi
46
Tutup