- Beranda
- Stories from the Heart
Awakening (Supranatural & Romance)
...
TS
watcheatnsleep
Awakening (Supranatural & Romance)

Ini merupakan thread pertama TS jadi mohon maaf kalau penulisannya masih agak berantakan dan kurang menarik.
Kalau ada kekurangan atau kesalahan kiranya bisa comment di thread ini buat pembelajaran sendiri bagi TS kedepannya.
Semoga ceritanya dapat dinikmati agan-agan sekalian, Thank you ^^.
INTRO
"Mereka" yang lebih dikenal dengan sebutan hantu, setan, jin, roh, makhluk halus dan sejenisnya, sejak dahulu kala eksistensi mereka selalu memicu suatu perdebatan. Begitu juga dengan Rama, seorang mahasiswa yang awalnya tak begitu percaya akan adanya keberadaan mereka, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan, bahwa ternyata eksistensi “Mereka” benar adanya.
Semua itu bermula dari pertemuannya dengan Adellia. Seorang wanita misterius yang menyimpan segudang rahasia di balik figurnya. Tanpa disadari Rama, benih-benih cinta telah timbul pada pandangan yang pertama. Sebuah rasa yang muncul untuk pertama kali dalam hidupnya.
Wanita demi wanita muncul mewarnai hidup Rama, bersamaan dengan setumpuk masalah yang mereka emban. Di sisi lain, bangkitnya indra keenam Rama seakan menuntunnya kepada sebuah perjalanan panjang untuk mencari jati dirinya.
Akankah Rama berhasil menemukan jati dirinya?
INDEKS
SEASON 1 : SIXTH SENSE
1. Sebuah Awal
2. Mimpi yang Aneh
3. Kesurupan Massal
4. Warna Merah
5. Hilang Kesadaran
6. Salah Tingkah
7. Wanita yang Berdiri di Sudut Kelas
8. Sebuah Awal
9. Pelet
10. Konfrontasi
11. Menjalani Kehidupan Kampus
12. Menikmati Momen yang Langka
13. Pilihan
14. Genderuwo
15. Film India
16. Teman Baru
17. Tengah Malam
18. Memori yang Indah
19. Cubitan Manja
20. Dominasi
21. Bukan Siapa-Siapa
22. Perasaan Kacau
23. Melissa
24. Maaf
25. Playboy
26. Tapi Bohong
27. Mobil yang Bergoyang
28. Truth or Dare
29. Tertawa Terbahak-bahak
30. Pembuktian
31. Pengakuan
32. Mimpi Buruk
33. Menikmati
34. Penyesalan
35. Kopi Darat
36. Terjatuh
37. Pulang
38. Makhluk yang Bersimbah Darah
39. Bungkusan Hitam
40. Pengalaman Putra
41. Firasat Buruk
42. Pulang ke Kost
43. Terkejut
44. Ancaman
45. Cerita Dibalik Rara
46. Kurang Tahan Lama
47. Hadiah
48. Rencana
49. Eksperimen
50. Titipan Eyang
51. Kecil
52. Penangkapan
53. Merek Baju
54. Drama
55. Pesan Singkat
56. Nadia
57. Hujan
58. Pesugihan
59. Hilang
60. Kolam
61. Kerjasama
62. Perang
63. Pengorbanan
64. Kisah Putra
65. Jatuhu
66. Awakening
67. Kabar Buruk
68. Raga Sukma
69. Perpisahan <END>
AWAKENING SEASON 2 : AMURTI
Link : https://kask.us/iOTnR
Wattpad : @vikrama_nirwasita
Karyakarsa : vikrama
Instagram : @vikrama_nirwasita
Terimakasih

Diubah oleh watcheatnsleep 04-04-2023 00:03
madezero dan 86 lainnya memberi reputasi
85
127.1K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
watcheatnsleep
#3
Chapter 3 Kesurupan Massal
"Tok … Tok ... Tok …!"
"Tok … Tok ... Tok …!"
"Woi Ram, lo udah siap-siap belom?"
Suara ketukan pintu yang keras diiringi dengan teriakan Steven berhasil membangkitkanku dari tidur lelapku. Perlahan aku mulai membuka kedua mata dan refleks mengecek handphone-ku. Sialnya, di layar handphone-ku sudah tertera angka 07.10. Sepersekian detik kemudian, aku mulai menyadari bahwa ospek hari ini diadakan pada jam 07.30.
“Mampus dah gua,” ucapku dalam batin.
"Kenapa lo baru bangunin gua sekarang, Ven!" jeritku seraya bergegas lari menuju kamar mandi.
“Lah, kan biasanya lo yang bangunnya cepet,” balas Steven berteriak.
"Lo berangkat duluan aja Ven, entar gua nyusul," teriakku dari dalam kamar mandi.
"Yaudah deh, gua berangkat duluan ya," balasnya berteriak.
Setelah bersiap-siap seadanya dengan waktu yang kurang dari 15 menit. Aku langsung bergegas mengambil peralatan dan lembaran tugas ospekku, dan tanpa berpikir banyak aku pergi berlari menuju kampus seperti orang yang sedang dikejar setan.
Saat sudah berada dipersimpangan jalan gang, aku melihat Adellia yang sedang berdiri bersandar di sebuah tiang. Aku terkejut, kenapa dia masih tetap menungguku? Aku tak menyangka dia masih setia menungguku yang tiba di luar waktu perjanjian.
Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari mendekatinya. "Del, sorry banget ya, gua bangun kesiangan tadi."
Tetapi Adellia tidak tampak marah, dia hanya meresponku dengan senyuman dan berkata, "Yaudah gapapa kok, Ram. Langsung berangkat aja yuk, sebelum keburu telat nih.”
Aku hanya bisa mengangguk dan kami pun bergegas pergi menuju kampus. Disaat posisi kami sudah mendekati gerbang masuk kampus, kami tidak melihat keberadaan mahasiswa lainnya. Disana hanya tersisa beberapa panitia ospek yang sedang berdiri tegap didepan gerbang masuk kampus.
Dengan teriakan yang lentang, salah satu dari panitia ospek itu memanggil kami berdua. "Woi, sini kalian!"
Mau tak mau, kami langsung bergerak mendekati para panitia ospek itu. Yang selanjutnya terjadi mungkin sama seperti yang sedang kalian bayangkan. Mereka mulai memasang raut wajah marah dan tatapan sinis layaknya mendalami peran antagonis.
Aku jadi merasa bersalah kepada Adellia, sebab dia akan terkena hukuman karena kelalaianku. Mungkin ini akan membuatnya jengkel, dan memberinya kesan yang buruk terhadapku. Aku hanya bisa pasrah dan berharap semua ini bisa cepat berlalu.
"Kenapa kalian berdua bisa terlambat?" tanya salah satu panitia ospek.
"Maaf kak, tadi saya bangun kesiangan," jawabku pelan sembari menunduk.
"Halah! Alasan klasik, lo ga ada alasan yang lain, apa?" bentaknya.
Aku pun hanya bisa manut dan menjawab pertanyaan mereka seadanya saja. Karena aku tau, jika memberi banyak alasan hanya akan membuat mereka makin senang untuk meladeniku dan memborbardirku dengan seribu pertanyaan yang sulit.
Setelah menghadiahi kami dengan sekian banyaknya pertanyaan sekaligus sindiran, akhirnya mereka merasa puas dan sepakat untuk memberikan kami hukuman. Sialnya, kami juga jadi tidak bisa mengikuti acara ospek. Yang kupikirkan adalah bagaimana nasib dari kelompok kami nantinya?
Selain itu, sekarang kami telah dihukum untuk membersihkan ruangan panitia ospek. Setelah menyelesaikan itu, kami baru diperbolehkan pergi mengikuti kegiatan ospek selanjutnya.
Tapi sepertinya ini akan memakan waktu yang cukup lama. Belum lagi jika ada banyak orang diruangan itu, sudah pasti kami akan dicibir dan menjadi bahan gosip mereka. Sungguh hari yang sangat sial, pikirku.
Saat sedang berjalan menuju ke ruangan panitia ospek, terjadi beberapa percakapan antara aku dan Adellia.
Aku menghela nafas dan dengan menyesal berkata, "Sorry banget ya del, gara-gara gua, lo jadi dihukum."
"Kamu sih, Ram, masih sempet-sempetnya aja ngebo waktu ospek hahaha," jawab Adellia berseloro.
"Santai aja kali, Ram," ucapnya sambil menepuk-nepuk pundakku.
"Makasih ya, tapi kok lo masih mau nungguin gw sih, Del?" tanyaku dengan canggung.
"Sama-sama Ram. Hmmm … mungkin karena aku tipe orang yang setia kali, ya? Hehe," ucapnya dengan senyuman manis. Apa yang ditunjukkannya sekarang, berbanding terbalik dengan kesan pertama saat ospek kemarin.
"Tapi aku tetep ngerasa ga enak sama kamu, Del," ucapku pelan.
Adellia cuma bergeleng. "Gapapa kali Ram, lagian aku udah lama banget gak dihukum. Jadi hitung-hitung buat nostalgia deh, hahaha."
Setelah berinteraksi dengannya, aku merasa semakin takjub dengan sifatnya. Aku penasaran, pria beruntung seperti apa yang akan mendapatkan hatinya. Mungkin di kehidupan sebelumnya, pria itu telah berjasa menyelamatkan sebuah negara.
Beberapa saat kemudian, akhirnya kami berdua tiba di ruangan para panitia ospek. Di dalam ruangan itu hanya terdapat dua orang saja. Ada sepasang pria dan wanita disana. Pria itu duduk di meja sembari membolak-balik buku di tangannya. Jika dideskripsikan pria itu memiliki tubuh berisi dan cukup tinggi, rambutnya cepak seperti potongan rambut tentara. Dia memasang raut wajah yang tampak sinis saat menatapku.
Sedangkan wanita yang sedang sibuk menatap layar laptop berkesan wajah oriental, rambutnya hitam bergelombang, lekukan tubuhnya mungil dan langsing bagaikan jam pasir. Beberapa kali dia tampak menyentuh kaca matanya, untuk memperbaiki posisinya. Bisa dikatakan, dia tak kalah menarik jika disandingkan dengan Adellia.
"Kalian berdua lagi ngapain disini?" tanya wanita itu dengan ekspresi bingung.
"Kita berdua dihukum buat bersihin ruangan ini kak, karena tadi datangnya telat," jawabku canggung.
"Masih MABA udah berani-beraninya datang telat," bentak pria itu tiba-tiba.
Sebenarnya aku ingin tertawa saat itu juga, sebab suara dari pria itu sangatlah cempreng seperti suara suneo temannya nobita. Aku berusaha untuk menahan tawaku dengan cara menahan nafas dalam-dalam.
"Pasti waktu SMA dulu kalian suka telat juga ya?" tambahnya lagi.
"Udah Rif, biarin mereka napa, sih." ucap wanita itu layaknya ingin menengahi.
"Gapapa Ris, biar dua anak ini jera dikit." Dia tak mau menyerah juga, dia menatap kami dengan sinis.
"Terserah lo deh, asal lo jangan sampai kelewatan aja." Wanita itu pun tampaknya menyerah.
"Santai aja kali ris,” balasnya dengan enteng.
Lalu dia menatap kami sembari membentak, “Ngapain diem aja? Cepet bersihin gih.”
Sebenarnya aku sangat kesal dengan tingkahnya, tetapi apa boleh buat, aku tidak ingin menambah masalah lagi, aku hanya bisa diam dan memaki panitia sialan itu di lubuk hati. Akibat ucapan panitia sialan ini, aku menjadi semakin merasa bersalah terhadap Adellia. Seharusnya dia tak harus mendengar omelan si cempreng kalau aku tak telat bangun. Sementara itu, panitia tersebut tak henti-hentinya mengoceh dan mengomeliku dengan suara cemprengnya saat bekerja.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pria itu mulai bergerak mendekati Adellia lalu bertanya, “Kamu kenapa bisa telat?”
“Kesiangan kak,” jawab Adellia singkat dan datar. Raut wajahnya yang dingin persis saat pertemuan pertama kami.
“Oh, lain kali jangan sampai kesiangan ya,” balasnya dengan ramah, berbanding terbalik dengan apa yang baru dilakukannya beberapa detik yang lalu.
Adellia hanya mengangguk lalu menghiraukan eksistensinya. Aku merasa Adellia tidak nyaman dan kurang menyukai tingkah dari panitia itu. Tetapi panitia itu masih tak menyerah juga dan tetap mencoba meluncurkan pertanyaan lagi.
“Kemarin dikasih tugas ospek apa sama mentornya?”
Adellia tetap menghiraukannya dan tetap fokus menyapu ruangan.
“Tugasnya pasti susah, nanti kakak bantuin, ya, buat ngerjainnya,” ucapnya dengan percaya diri.
Naasnya, Adellia masih tetap menghiraukan ucapannya. Dibalik figurnya yang elegan dan ramah, ternyata dia tak ragu untuk bersikap tak acuh terhadap orang yang tidak disukainya.
Sementara itu, melihat Adellia yang tak merespon ucapannya sama sekali. Akhirnya panitia itu menyerah dan memindahkan perhatiannya kepadaku. Dia mulai mendekatiku dan menggerakkan bola matanya untuk memeriksa kotoran yang ada di setiap sudut ruangan.
“Woi, bersihin atas lemarinya tuh,” perintahnya.
Aku hanya mengangguk dan langsung bergerak membersihkannya tanpa membalas perkataannya.
“Lo punya mulut gak?” teriaknya dengan suara cemprengnya.
Sepertinya dia ingin melampiaskan kemarahannya kepadaku, sebab sejak tadi ucapannya tidak direspon sama sekali oleh Adellia. Lucunya dia hanya bisa bersikap ramah kepada wanita cantik. Dasar penjahat kelamin, umpatku dalam hati.
“Punya kak,” jawabku datar.
“Makanya kalo gua ngomong ya dijawab dong!” bentaknya sembari berlagak seakan ingin memukulku.
Aku hanya bisa menghela nafas dan menahan amarah yang muncul didalam batinku. Melihatku yang menghela nafas persis didepan matanya pun membuatnya semakin menjadi-jadi.
“Kenapa? Lo ga senang?” gertaknya sambil memelototiku.
Daripada masalahnya semakin ruyam, lebih baik aku mengalah. Lagipula aku masih mahasiswa baru, aku tak mau namaku dikenal semua orang, apalagi dengan reputasi yang jelek.
“Maaf kak,” balasku dengan terpaksa.
“Lo kenapa sih, Rif? Kalo ga bisa ngebantu, jangan gangguin orang kerja!” hardik wanita itu dengan ekspresi kesal.
“Iya … Iya … Ris,” balasnya sambil menggaruk kepala. Tampaknya dia takut ataupun segan kepada wanita itu. Sepertinya panitia wanita itu dihormati dikalangan para panitia, atau mungkin bisa jadi dia memiliki jabatan yang tinggi di organisasi.
Pria itu pun duduk di salah satu kursi dan memperhatikan kami dalam diam. Aku akhirnya bisa merasa lega, syukurnya wanita itu mau membantu situasiku. Jika tidak, sudah pasti si penjahat kelamin alias suneo akan melanjutkan melampiaskan amarahnya terhadapku.
Aku berpikir akhirnya aku bisa mengerjakan hukuman ini dengan tenang. Tetapi sialnya, si penjahat kelamin itu mulai mengganggu kami lagi. Padahal baru beberapa menit yang lalu dia ditegur oleh wanita yang namanya tak kuketahui.
"Kalian udah jadian belum nih? selagi ada momen-momen romantis nih," ucapnya sembari tersenyum sarkas.
Sembari mengedipkan matanya, dia berkata pada Adellia, "Kalo kalian ga jadian, mending lo jadian sama gw."
"Mending gw pacaran sama dia,” ucap Adellia sembari menatapku.
Tak sampai disitu saja, tatapannya yang berubah tajam mulai tertuju pada pria dengan suara cempreng itu. “Dia jauh lebih mending dari pada lo. Udah jelek, berisik banget lagi."
Suasana berubah menjadi hening seketika. Aku mulai berpikir, apa telingaku yang salah mendengar atau aku sedang berhalusinasi?
"Beraninya lo ngata-ngatain gua, hahhhh!" teriak pria itu histeris.
Aku pun tersadar, ternyata apa yang kudengar barusan adalah kenyataan. Badai pun tak bisa terhindari lagi. Aku hanya bisa berharap, kami bisa selamat dari situasi ini.
"Emang kenapa? Emang cuman lo doang yang bisa ngata-ngatain orang lain?" jawab Adellia dengan suara yang lantang.
Panitia pria itu langsung berusaha mendekati Adellia dan mencoba mencengkeram lengannya. Tanpa ragu aku langsung memposisikan diriku didepan Adellia dan menghadang panitia sialan itu.
"Jangan halangin gua, baik!" teriaknya padaku
Wanita itu menutup laptopnya dan berdiri dari kursinya. "Udah, Rif. Lo keluar aja deh, kalau mau bikin ribut jangan di sini."
"Lo malah mihak ke mereka, Ris. Yaudah, gua bakal keluar, tapi awas ya lo berdua," ancamnya sebelum melangkah keluar dari ruangan.
Aku tak menyangka dia akan bertindak serendah itu. Ternyata di dunia nyata juga masih ada manusia-manusia brengsek seperti dia. Sejenak, aku menoleh kebelakang dan bertanya ke Adellia.
"Lo gapapa kan del? Gausah didengerin tuh orang gila," ucapku khawatir.
"Aku gapapa kok ram, ternyata seru juga ya ladenin orang songong kayak gitu, hahaha.” Adellia malah tampak santai seakan tidak terjadi apa-apa barusan.
“Omong-omong kok wajahmu pucat banget, Ram?" tanya Adellia dengan senyum jahil yang terpapar di wajahnya.
"Ah gapapa kok del, gua cuma sedikit shock doang, hehehe." jawabku dengan canggung bercampur malu.
"Udah bikin ribut masih bisa bercanda ya kalian berdua,” tegur wanita itu. “Cepet bersihin ruangannya sana, sebelum panitia yang lain datang."
"Makasih banyak kak, udah mau bantuin kita,” ucapku sembari menunduk.
"Sama-sama, tapi jangan bikin onar lagi ya, habis ini," Dia hanya menghela nafas pelan lalu tersenyum tipis.
“Omongan Arif gausah didengerin, ya,” tambahnya lalu dia kembali melanjutkan aktivitasnya menatap layar laptop.
Ternyata nama pria itu adalah Arif. Namanya sangat tidak cocok dengan kelakuannya. Aku hanya berharap semoga saja aku tak bertemu dengannya lagi. Walau itu tampaknya mustahil, karena aku yakin orang rendahan sepertinya tak akan puas sebelum membalas dendam.
Selain itu, untung saja wanita ini mau membela kami. Seandainya tidak, sudah pasti terjadi pertengkaran besar tadinya, yang pastinya akan memperumit masalah kami kedepannya. Aku tak menyangka hanya karena telat akan membuatku mendapatkan masalah serumit ini.
Hingga tak lama kemudian, akhirnya kami selesai membersihkan ruangan panitia ospek itu. Kami langsung pamit dan bergegas pergi keluar ruangan. Saat kami berjalan menuju aula tempat dimana kegiatan ospek sedang dilaksanakan, tiba-tiba terdengar banyak suara jeritan dan teriakan histeris dari dalam aula.
Seketika juga banyak orang yang berlarian keluar dari ruangan aula berbondong-bondong. Aku merasa bingung dan sempat berpikir, apakah terjadi kebakaran didalam sana. Tapi aku tidak melihat adanya asap ataupun api yang muncul dari dalam sana. Di saat aku sibuk berspekulasi hingga tenggelam dalam lamunanku sendiri. Tiba-tiba Adellia mengucapkan beberapa kata yang membuatku terkesiap.
"Ram, kayaknya kita bakal libur deh hari ini," celetuk Adellia.
"Maksudnya Del? Emangnya ada apa?" tanyaku dengan ekspresi bingung.
"Di sana lagi ada kesurupan massal Ram," jawabnya pelan
Bersambung …
"Tok … Tok ... Tok …!"
"Woi Ram, lo udah siap-siap belom?"
Suara ketukan pintu yang keras diiringi dengan teriakan Steven berhasil membangkitkanku dari tidur lelapku. Perlahan aku mulai membuka kedua mata dan refleks mengecek handphone-ku. Sialnya, di layar handphone-ku sudah tertera angka 07.10. Sepersekian detik kemudian, aku mulai menyadari bahwa ospek hari ini diadakan pada jam 07.30.
“Mampus dah gua,” ucapku dalam batin.
"Kenapa lo baru bangunin gua sekarang, Ven!" jeritku seraya bergegas lari menuju kamar mandi.
“Lah, kan biasanya lo yang bangunnya cepet,” balas Steven berteriak.
"Lo berangkat duluan aja Ven, entar gua nyusul," teriakku dari dalam kamar mandi.
"Yaudah deh, gua berangkat duluan ya," balasnya berteriak.
Setelah bersiap-siap seadanya dengan waktu yang kurang dari 15 menit. Aku langsung bergegas mengambil peralatan dan lembaran tugas ospekku, dan tanpa berpikir banyak aku pergi berlari menuju kampus seperti orang yang sedang dikejar setan.
Saat sudah berada dipersimpangan jalan gang, aku melihat Adellia yang sedang berdiri bersandar di sebuah tiang. Aku terkejut, kenapa dia masih tetap menungguku? Aku tak menyangka dia masih setia menungguku yang tiba di luar waktu perjanjian.
Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari mendekatinya. "Del, sorry banget ya, gua bangun kesiangan tadi."
Tetapi Adellia tidak tampak marah, dia hanya meresponku dengan senyuman dan berkata, "Yaudah gapapa kok, Ram. Langsung berangkat aja yuk, sebelum keburu telat nih.”
Aku hanya bisa mengangguk dan kami pun bergegas pergi menuju kampus. Disaat posisi kami sudah mendekati gerbang masuk kampus, kami tidak melihat keberadaan mahasiswa lainnya. Disana hanya tersisa beberapa panitia ospek yang sedang berdiri tegap didepan gerbang masuk kampus.
Dengan teriakan yang lentang, salah satu dari panitia ospek itu memanggil kami berdua. "Woi, sini kalian!"
Mau tak mau, kami langsung bergerak mendekati para panitia ospek itu. Yang selanjutnya terjadi mungkin sama seperti yang sedang kalian bayangkan. Mereka mulai memasang raut wajah marah dan tatapan sinis layaknya mendalami peran antagonis.
Aku jadi merasa bersalah kepada Adellia, sebab dia akan terkena hukuman karena kelalaianku. Mungkin ini akan membuatnya jengkel, dan memberinya kesan yang buruk terhadapku. Aku hanya bisa pasrah dan berharap semua ini bisa cepat berlalu.
"Kenapa kalian berdua bisa terlambat?" tanya salah satu panitia ospek.
"Maaf kak, tadi saya bangun kesiangan," jawabku pelan sembari menunduk.
"Halah! Alasan klasik, lo ga ada alasan yang lain, apa?" bentaknya.
Aku pun hanya bisa manut dan menjawab pertanyaan mereka seadanya saja. Karena aku tau, jika memberi banyak alasan hanya akan membuat mereka makin senang untuk meladeniku dan memborbardirku dengan seribu pertanyaan yang sulit.
Setelah menghadiahi kami dengan sekian banyaknya pertanyaan sekaligus sindiran, akhirnya mereka merasa puas dan sepakat untuk memberikan kami hukuman. Sialnya, kami juga jadi tidak bisa mengikuti acara ospek. Yang kupikirkan adalah bagaimana nasib dari kelompok kami nantinya?
Selain itu, sekarang kami telah dihukum untuk membersihkan ruangan panitia ospek. Setelah menyelesaikan itu, kami baru diperbolehkan pergi mengikuti kegiatan ospek selanjutnya.
Tapi sepertinya ini akan memakan waktu yang cukup lama. Belum lagi jika ada banyak orang diruangan itu, sudah pasti kami akan dicibir dan menjadi bahan gosip mereka. Sungguh hari yang sangat sial, pikirku.
Saat sedang berjalan menuju ke ruangan panitia ospek, terjadi beberapa percakapan antara aku dan Adellia.
Aku menghela nafas dan dengan menyesal berkata, "Sorry banget ya del, gara-gara gua, lo jadi dihukum."
"Kamu sih, Ram, masih sempet-sempetnya aja ngebo waktu ospek hahaha," jawab Adellia berseloro.
"Santai aja kali, Ram," ucapnya sambil menepuk-nepuk pundakku.
"Makasih ya, tapi kok lo masih mau nungguin gw sih, Del?" tanyaku dengan canggung.
"Sama-sama Ram. Hmmm … mungkin karena aku tipe orang yang setia kali, ya? Hehe," ucapnya dengan senyuman manis. Apa yang ditunjukkannya sekarang, berbanding terbalik dengan kesan pertama saat ospek kemarin.
"Tapi aku tetep ngerasa ga enak sama kamu, Del," ucapku pelan.
Adellia cuma bergeleng. "Gapapa kali Ram, lagian aku udah lama banget gak dihukum. Jadi hitung-hitung buat nostalgia deh, hahaha."
Setelah berinteraksi dengannya, aku merasa semakin takjub dengan sifatnya. Aku penasaran, pria beruntung seperti apa yang akan mendapatkan hatinya. Mungkin di kehidupan sebelumnya, pria itu telah berjasa menyelamatkan sebuah negara.
Beberapa saat kemudian, akhirnya kami berdua tiba di ruangan para panitia ospek. Di dalam ruangan itu hanya terdapat dua orang saja. Ada sepasang pria dan wanita disana. Pria itu duduk di meja sembari membolak-balik buku di tangannya. Jika dideskripsikan pria itu memiliki tubuh berisi dan cukup tinggi, rambutnya cepak seperti potongan rambut tentara. Dia memasang raut wajah yang tampak sinis saat menatapku.
Sedangkan wanita yang sedang sibuk menatap layar laptop berkesan wajah oriental, rambutnya hitam bergelombang, lekukan tubuhnya mungil dan langsing bagaikan jam pasir. Beberapa kali dia tampak menyentuh kaca matanya, untuk memperbaiki posisinya. Bisa dikatakan, dia tak kalah menarik jika disandingkan dengan Adellia.
"Kalian berdua lagi ngapain disini?" tanya wanita itu dengan ekspresi bingung.
"Kita berdua dihukum buat bersihin ruangan ini kak, karena tadi datangnya telat," jawabku canggung.
"Masih MABA udah berani-beraninya datang telat," bentak pria itu tiba-tiba.
Sebenarnya aku ingin tertawa saat itu juga, sebab suara dari pria itu sangatlah cempreng seperti suara suneo temannya nobita. Aku berusaha untuk menahan tawaku dengan cara menahan nafas dalam-dalam.
"Pasti waktu SMA dulu kalian suka telat juga ya?" tambahnya lagi.
"Udah Rif, biarin mereka napa, sih." ucap wanita itu layaknya ingin menengahi.
"Gapapa Ris, biar dua anak ini jera dikit." Dia tak mau menyerah juga, dia menatap kami dengan sinis.
"Terserah lo deh, asal lo jangan sampai kelewatan aja." Wanita itu pun tampaknya menyerah.
"Santai aja kali ris,” balasnya dengan enteng.
Lalu dia menatap kami sembari membentak, “Ngapain diem aja? Cepet bersihin gih.”
Sebenarnya aku sangat kesal dengan tingkahnya, tetapi apa boleh buat, aku tidak ingin menambah masalah lagi, aku hanya bisa diam dan memaki panitia sialan itu di lubuk hati. Akibat ucapan panitia sialan ini, aku menjadi semakin merasa bersalah terhadap Adellia. Seharusnya dia tak harus mendengar omelan si cempreng kalau aku tak telat bangun. Sementara itu, panitia tersebut tak henti-hentinya mengoceh dan mengomeliku dengan suara cemprengnya saat bekerja.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pria itu mulai bergerak mendekati Adellia lalu bertanya, “Kamu kenapa bisa telat?”
“Kesiangan kak,” jawab Adellia singkat dan datar. Raut wajahnya yang dingin persis saat pertemuan pertama kami.
“Oh, lain kali jangan sampai kesiangan ya,” balasnya dengan ramah, berbanding terbalik dengan apa yang baru dilakukannya beberapa detik yang lalu.
Adellia hanya mengangguk lalu menghiraukan eksistensinya. Aku merasa Adellia tidak nyaman dan kurang menyukai tingkah dari panitia itu. Tetapi panitia itu masih tak menyerah juga dan tetap mencoba meluncurkan pertanyaan lagi.
“Kemarin dikasih tugas ospek apa sama mentornya?”
Adellia tetap menghiraukannya dan tetap fokus menyapu ruangan.
“Tugasnya pasti susah, nanti kakak bantuin, ya, buat ngerjainnya,” ucapnya dengan percaya diri.
Naasnya, Adellia masih tetap menghiraukan ucapannya. Dibalik figurnya yang elegan dan ramah, ternyata dia tak ragu untuk bersikap tak acuh terhadap orang yang tidak disukainya.
Sementara itu, melihat Adellia yang tak merespon ucapannya sama sekali. Akhirnya panitia itu menyerah dan memindahkan perhatiannya kepadaku. Dia mulai mendekatiku dan menggerakkan bola matanya untuk memeriksa kotoran yang ada di setiap sudut ruangan.
“Woi, bersihin atas lemarinya tuh,” perintahnya.
Aku hanya mengangguk dan langsung bergerak membersihkannya tanpa membalas perkataannya.
“Lo punya mulut gak?” teriaknya dengan suara cemprengnya.
Sepertinya dia ingin melampiaskan kemarahannya kepadaku, sebab sejak tadi ucapannya tidak direspon sama sekali oleh Adellia. Lucunya dia hanya bisa bersikap ramah kepada wanita cantik. Dasar penjahat kelamin, umpatku dalam hati.
“Punya kak,” jawabku datar.
“Makanya kalo gua ngomong ya dijawab dong!” bentaknya sembari berlagak seakan ingin memukulku.
Aku hanya bisa menghela nafas dan menahan amarah yang muncul didalam batinku. Melihatku yang menghela nafas persis didepan matanya pun membuatnya semakin menjadi-jadi.
“Kenapa? Lo ga senang?” gertaknya sambil memelototiku.
Daripada masalahnya semakin ruyam, lebih baik aku mengalah. Lagipula aku masih mahasiswa baru, aku tak mau namaku dikenal semua orang, apalagi dengan reputasi yang jelek.
“Maaf kak,” balasku dengan terpaksa.
“Lo kenapa sih, Rif? Kalo ga bisa ngebantu, jangan gangguin orang kerja!” hardik wanita itu dengan ekspresi kesal.
“Iya … Iya … Ris,” balasnya sambil menggaruk kepala. Tampaknya dia takut ataupun segan kepada wanita itu. Sepertinya panitia wanita itu dihormati dikalangan para panitia, atau mungkin bisa jadi dia memiliki jabatan yang tinggi di organisasi.
Pria itu pun duduk di salah satu kursi dan memperhatikan kami dalam diam. Aku akhirnya bisa merasa lega, syukurnya wanita itu mau membantu situasiku. Jika tidak, sudah pasti si penjahat kelamin alias suneo akan melanjutkan melampiaskan amarahnya terhadapku.
Aku berpikir akhirnya aku bisa mengerjakan hukuman ini dengan tenang. Tetapi sialnya, si penjahat kelamin itu mulai mengganggu kami lagi. Padahal baru beberapa menit yang lalu dia ditegur oleh wanita yang namanya tak kuketahui.
"Kalian udah jadian belum nih? selagi ada momen-momen romantis nih," ucapnya sembari tersenyum sarkas.
Sembari mengedipkan matanya, dia berkata pada Adellia, "Kalo kalian ga jadian, mending lo jadian sama gw."
"Mending gw pacaran sama dia,” ucap Adellia sembari menatapku.
Tak sampai disitu saja, tatapannya yang berubah tajam mulai tertuju pada pria dengan suara cempreng itu. “Dia jauh lebih mending dari pada lo. Udah jelek, berisik banget lagi."
Suasana berubah menjadi hening seketika. Aku mulai berpikir, apa telingaku yang salah mendengar atau aku sedang berhalusinasi?
"Beraninya lo ngata-ngatain gua, hahhhh!" teriak pria itu histeris.
Aku pun tersadar, ternyata apa yang kudengar barusan adalah kenyataan. Badai pun tak bisa terhindari lagi. Aku hanya bisa berharap, kami bisa selamat dari situasi ini.
"Emang kenapa? Emang cuman lo doang yang bisa ngata-ngatain orang lain?" jawab Adellia dengan suara yang lantang.
Panitia pria itu langsung berusaha mendekati Adellia dan mencoba mencengkeram lengannya. Tanpa ragu aku langsung memposisikan diriku didepan Adellia dan menghadang panitia sialan itu.
"Jangan halangin gua, baik!" teriaknya padaku
Wanita itu menutup laptopnya dan berdiri dari kursinya. "Udah, Rif. Lo keluar aja deh, kalau mau bikin ribut jangan di sini."
"Lo malah mihak ke mereka, Ris. Yaudah, gua bakal keluar, tapi awas ya lo berdua," ancamnya sebelum melangkah keluar dari ruangan.
Aku tak menyangka dia akan bertindak serendah itu. Ternyata di dunia nyata juga masih ada manusia-manusia brengsek seperti dia. Sejenak, aku menoleh kebelakang dan bertanya ke Adellia.
"Lo gapapa kan del? Gausah didengerin tuh orang gila," ucapku khawatir.
"Aku gapapa kok ram, ternyata seru juga ya ladenin orang songong kayak gitu, hahaha.” Adellia malah tampak santai seakan tidak terjadi apa-apa barusan.
“Omong-omong kok wajahmu pucat banget, Ram?" tanya Adellia dengan senyum jahil yang terpapar di wajahnya.
"Ah gapapa kok del, gua cuma sedikit shock doang, hehehe." jawabku dengan canggung bercampur malu.
"Udah bikin ribut masih bisa bercanda ya kalian berdua,” tegur wanita itu. “Cepet bersihin ruangannya sana, sebelum panitia yang lain datang."
"Makasih banyak kak, udah mau bantuin kita,” ucapku sembari menunduk.
"Sama-sama, tapi jangan bikin onar lagi ya, habis ini," Dia hanya menghela nafas pelan lalu tersenyum tipis.
“Omongan Arif gausah didengerin, ya,” tambahnya lalu dia kembali melanjutkan aktivitasnya menatap layar laptop.
Ternyata nama pria itu adalah Arif. Namanya sangat tidak cocok dengan kelakuannya. Aku hanya berharap semoga saja aku tak bertemu dengannya lagi. Walau itu tampaknya mustahil, karena aku yakin orang rendahan sepertinya tak akan puas sebelum membalas dendam.
Selain itu, untung saja wanita ini mau membela kami. Seandainya tidak, sudah pasti terjadi pertengkaran besar tadinya, yang pastinya akan memperumit masalah kami kedepannya. Aku tak menyangka hanya karena telat akan membuatku mendapatkan masalah serumit ini.
Hingga tak lama kemudian, akhirnya kami selesai membersihkan ruangan panitia ospek itu. Kami langsung pamit dan bergegas pergi keluar ruangan. Saat kami berjalan menuju aula tempat dimana kegiatan ospek sedang dilaksanakan, tiba-tiba terdengar banyak suara jeritan dan teriakan histeris dari dalam aula.
Seketika juga banyak orang yang berlarian keluar dari ruangan aula berbondong-bondong. Aku merasa bingung dan sempat berpikir, apakah terjadi kebakaran didalam sana. Tapi aku tidak melihat adanya asap ataupun api yang muncul dari dalam sana. Di saat aku sibuk berspekulasi hingga tenggelam dalam lamunanku sendiri. Tiba-tiba Adellia mengucapkan beberapa kata yang membuatku terkesiap.
"Ram, kayaknya kita bakal libur deh hari ini," celetuk Adellia.
"Maksudnya Del? Emangnya ada apa?" tanyaku dengan ekspresi bingung.
"Di sana lagi ada kesurupan massal Ram," jawabnya pelan
Bersambung …
Diubah oleh watcheatnsleep 24-03-2023 07:38
masbawor dan 43 lainnya memberi reputasi
44
Tutup