- Beranda
- Stories from the Heart
Naga Sasra & Sabuk Inten
...
TS
nandeko
Naga Sasra & Sabuk Inten

NAGA SASRA & SABUK INTEN
Kisah ini merupakan karangan dari S.H Mintardja. Disini TS sudah mendapatkan ijin untuk sekedar membagikan dan mempermudahkan pembaca untuk menikmati kisah ini dalam bentuk digital
INDEX
Quote:
Spoiler for JILID 1:
Spoiler for JILID 2:
Spoiler for JILID 3:
Spoiler for JILID 4:
Spoiler for JILID 5:
Spoiler for JILID 6:
Part 114
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Part 115
Part 116
Part 117
Part 118
Part 119
Part 120
Part 121
Part 122
Part 123
Part 124
Part 125
Part 126
Part 127
Part 128
Part 129
Part 130
Part 131
Part 132
Part 133
Part 134
Part 135
Part 136
Part 137
Part 138
Part 139
Part 140
Part 141
Part 142
Part 143
Part 144
Part 145
Part 146
Part 147
Part 148
Part 149
Part 150
Spoiler for JILID 7:
Spoiler for JILID 8:
Spoiler for JILID 9:
Spoiler for JILID 10:
Pengarang dan Hakcipta©
Singgih Hadi Mintardja
Singgih Hadi Mintardja
Diubah oleh nandeko 21-10-2021 14:24
whadi05 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
62.2K
Kutip
1.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nandeko
#497
Jilid 15 [Part 352]
Spoiler for :
KEMBALI Nagapasa berpaling kepada orang yang dicekiknya. Kepada orang itu ia akan menumpahkan kejengkelannya. Dengan menggeram ia berkata,
Kemudian terayunlah kembali tangan Hantu Laut dari Nusakambangan itu. Sedang orang yang dicekiknya telah kehilangan harapan untuk dapat hidup. Ia kenal siapakah Nagapasa itu. Dan menyesallah bahwa ia kurang berhati-hati, bertempur di dekat orang bertangan maut itu. Namun akhirnya ia memejamkan matanya pasrah diri. Dalam perjuangan maut adalah tantangan. Kalau maut itu datang, biarlah ia menelannya. Namun ia yakin bahwa ia telah berjuang menegakkan kebenaran. Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal yang tak terduga-duga. Ketika tangan Nagapasa hampir saja memecahkan kepala orang yang telah pasrah diri itu, terjadilah suatu benturan yang keras. Tangan Nagapasa terasa bergetar hebat. Ia merasa bahwa tangannya telah mengenai sesuatu, tetapi sama sekali bukan kepala orang yang dicekiknya. Dan kepala itu sama sekali tidak dipecahkannya, malahan tangannya sendiri merasa tergetar.
Belum lagi ia sadar akan peristiwa itu, kembali terasa sebuah pukulan yang dahsyat mengenai tangannya yang lain, yang sedang mencekik orang yang telah berputus asa itu, demikian kerasnya sehingga tanpa disengaja tangannya terlepas, dan orang yang dicekiknya itu terpental beberapa langkah dan jatuh berguling-guling.
Nagapasa melompat selangkah mundur. Ia telah berpuluh tahun hidup dalam kancah perkelahian, pertempuran dan pembunuhan. Karena itu ia telah memiliki pengalaman yang tak terkira banyaknya. Sehingga dengan demikian segera ia sadar, bahwa sesuatu telah terjadi, sesuatu yang berada di luar perhitungan. Ketika ia sadar memandang berkeliling, yang dilihatnya hanyalah orang yang bernama Kebo Kanigara itu, selain beberapa orang yang sedang bertempur melawan lawan masing-masing. Dengan demikian ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa Kebo Kanigara lah orangnya, yang telah mencoba membentur tangannya. Nagapasa menjadi marah sekali.
Wajahnya tiba-tiba menjadi merah, semerah darah. Meskipun bibirnya terkatup rapat, namun terdengar betapa giginya gemeretak. Dengan tangan yang bergetar ia menunjuk wajah Kebo Kanigara sambil berkata dengan gemetar,
Nagapasa sadar bahwa orang yang bernama Kebo Kanigara itu bukan orang gila seperti yang disangkanya. Tetapi Kebo Kanigara benar-benar orang perkasa, yang telah menempatkan diri sebagai lawannya dalam pertempuran itu dengan penuh kesadaran. Dengan demikian darahnya kini telah benar-benar mendidih. Karena itu ia sudah tidak mampu lagi untuk bertanya-tanya.
Dengan Cumiik tinggi ia meluncur seperti ular yang mematuk lawannya, dengan tangan terjulur ke arah wajah Kebo Kanigara. Tetapi Kebo Kanigara bukan anak-anak yang terkejut melihat ular sawah yang melingkar di pematang. Ia cukup dewasa untuk menghadapi setiap kemungkinan. Karena itu, ketika ia mendapat serangan dari Nagapasa, sama sekali tidak menjadi gugup. Dengan tenangnya Kebo Kanigara membuat perhitungan yang tepat. Ketika serangan Nagapasa itu hampir menyentuhnya, tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya menelentang. Kedua kakinya segera menyambar perut lawannya, dan dengan lemparan yang keras, Nagapasa terpelanting keudara. Tetapi Nagapasa pun cukup mempunyai bekal untuk bertempur melawan Kebo Kanigara. Ia mula-mula terkejut mengalami peristiwa itu, namun segera ia menguasai dirinya kembali. Dengan sebuah putaran ke udara, ia telah mencapai keseimbangannya. Karena itu Nagapasa dapat dengan baiknya menjatuhkan diri di atas kedua kakinya.
Tetapi ketika ia berhasrat untuk meloncat menyerang lawannya, Kebo Kanigara pun telah siap pula tegak seperti bukit karang yang tak tergoyahkan oleh badai yang betapapun dahsyatnya. Sesaat kemudian, kembali Nagapasa menyerang dengan kerasnya dibarengi dengan sebuah teriakan tinggi. Dan kembali Kebo Kanigara melawannya dengan tenang, namun penuh gairah. Sebab Kebo Kanigara pun yakin, bahwa orang-orang seperti Nagapasa adalah sumber dari segala macam bencana bagi umat manusia. Maka karena itulah pertempuran antara kedua orang perkasa itu segara menjadi semakin dahsyat.
Nagapasa bertempur seperti seekor naga. Tubuhnya seolah-olah menjadi lemas dan dapat bergerak ke segenap arah. Tulang-tulangnya seakan-akan menjadi selemas daun. Begitu baiknya Nagapasa menguasai tubuhnya, sehingga setiap bagiannya dapat berubah menjadi senjata yang berbahaya. Jari-jarinya, sikunya, kepalanya, lutut dan jari kakinya, tumitnya dan segala bagian yang lain. Ia dapat meluncur dengan cepatnya, melingkar-lingkar seperti pusaran air yang menghisap segenap benda yang tersentuh jari-jari lingkarannya, menelannya dan menghancur-lumatkannya. Demikian dahsyatnya Nagapasa bertempur sehingga benar-benar mirip seekor naga raksasa yang bertempur didalam lautan yang digelorakan oleh ombak yang dahsyat.
Tetapi lawannya adalah Kebo Kanigara. Seorang yang telah memiliki ilmu yang sempurna. Benarlah kata orang, yang bahkan almarhum Ki Ageng Pengging Sepuh sendiri mengakui, bahwa sebenarnya Kebo Kanigara telah melampaui kemampuannya.
Kebo Kanigara telah menemukan cara untuk menempa diri dengan dahsyatnya. Ia hanya memerlukan waktu tidak lebih dari semperempat waktu yang diperlukan oleh Ki Ageng Pengging Sepuh dengan caranya. Karena itulah maka Kebo Kanigara benar-benar memiliki sifat yang luar biasa. Ia dapat bertempur selincah anak kijang di padang rumput, namun ia dapat garang seperti singa. Di saat-saat yang lain Kebo Kanigara bertempur seperti seekor garuda dengan sayap-sayapnya yang kokoh seperti baja namun trengginas seperti sikatan.
SEPERTI Mahesa Jenar, Kebo Kanigara juga memiliki kekhususan. Ia benar-benar tangguh sebagaimana ciri-ciri khusus Perguruan Pengging. Seakan-akan berkulit tembaga, bertulang besi. Serta apabila keringatnya telah membasahi punggungnya, tandangnya menjadi semakin garang, seperti banteng ketaton. Demikianlah, ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Kebo Kanigara dan Nagapasa telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Namun disamping kemarahan yang semakin memuncak, Nagapasa pun menjadi heran. Apakah ia sebenarnya sedang bertempur melawan seorang manusia, ataukah tiba-tiba saja ada malaikat yang menjelma dan melawannya?
Nagapasa mengumpat di dalam hati, namun di dalam relung hatinya yang terdalam ia mengeluh,
Kebo Kanigara pun berjuang terus. Ia sadar bahwa lawannya adalah seorang yang luar biasa. Hantu Laut yang memiliki kesaktian dan pengalaman yang mengerikan. Karena itu, Kebo Kanigara pun cukup berhati-hati. Namun sedikit demi sedikit, akhirnya ia berhasil mengetahui segi-segi kedahsyatan ilmu lawannya, tetapi juga segi kelemahan-kelemahannya. Suatu hal yang tak dapat dilihat oleh orang biasa. Kebo Kanigara memiliki daya pengamatan yang lebih tajam dari manusia kebanyakan. Dengan demikian, apa yang selama ini tak diketahui orang, dapatlah diketahuinya, dan apa yang tak dapat dikerjakan orang lain, ia dapat melakukannya.
Pertempuran di lereng Gunung Merbabu itupun menjadi semakin riuh. Percikan darah berhambur-hamburan membasahi tanah pegunungan dan rumput-rumput liar. Kedua belah pihak berjuang semakin gigih. Sebab tak ada pilihan lain, apabila seseorang telah berada di tengah-tengah api peperangan. Debu mengepul semakin tinggi di udara. Putih gelap, seperti kabut ampak-ampak di lereng-lereng bukit.
Ki Ageng Sora Dipayana masih bertempur melawan Bugel Kaliki. Silih ungkih, singa lena. Desak-mendesak, serang-menyerang silih berganti. Tetapi keduanya sadar, bahwa kesaktian mereka benar-benar berimbang. Sekali-kali, baik Ki Ageng Sora Dipayana maupun Bugel Kaliki, berusaha untuk menebarkan pandangannya ke bagian-bagian pertempuran yang lain, seperti juga apa yang dilakukan oleh Ki Ageng Pandan Alas dan Pasingsingan, Titis Anganten dan Sura Sarunggi. Sekali-kali merekapun ingin mengetahui apa yang telah terjadi di bagian-bagian yang lain. Dari celah-celah deru senjata, Ki Ageng Sora Dipayana, yang bertempur seorang diri di antara laskar Banyubiru dan Pamingit yang saling bertempur pula. Semula Ki Ageng Sora Dipayana mencemaskan nasib Mahesa Jenar, tetapi kemudian ia menjadi heran. Mereka telah cukup lama bertempur, namun agaknya Mahesa Jenar masih tetap bertahan dengan gigihnya.
“Apakah yang telah terjadi dengan Angger Mahesa Jenar selama ini?”pikirnya.
Dan tiba-tiba sesaat kemudian orang tua itupun terkejut pula.
“Apakah yang sudah dilakukan oleh Kebo Kanigara itu?" Timbul pertanyaan pula di dalam hatinya. Bahkan ia menjadi semakin heran ketika melihat, bahwa Kebo Kanigara dapat bertempur melawan Nagapasa sebaik dirinya sendiri atau orang-orang seangkatannya. Bahkan karena darah yang jauh lebih muda daripada darahnya dan orang-orang seangkatannya, Kebo Kanigara tampak betapa tangkas dan perkasanya.
Bukan saja orang-orang Banyubiru dan Pamingit yang keheran-heranan melihat keperkasaan Kebo Kanigara, namun orang-orang dari golongan hitampun menjadi cemas melihat tandangnya. Ketika orang-orang lain sedang sibuk menilai dirinya, Kebo Kanigara sempat menyaksikan betapa Mahesa Jenar berjuang di antara hidup dan mati. Tanpa sesadarnya merayaplah perasaan bangga di dalam dirinya. Ia melihat benih subur tumbuh di dalam tubuh Mahesa Jenar yang kemudian bahkan telah berkembang dengan rimbunnya. Ia melihat Mahesa Jenar itu telah dapat menguasai ilmunya. Tidak saja Mahesa Jenar itu telah dapat mensejajarkan diri dengan almarhum gurunya, namun dalam penglihatan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar bahkan telah melampauinya. Masa-masa pembajaan diri yang dahsyat telah menempa Mahesa Jenar dan muridnya sedemikian dahsyat pula. Dan sekarang Mahesa Jenar mencoba menerapkan ilmunya dalam suatu perjuangan yang menentukan.
Dalam suatu kesempatan yang lain, Kebo Kanigara melihat bagaimana Arya Salaka bertempur melawan Lawa Ijo. Anak muda itupun menunjukkan betapa gigihnya ia berjuang melawan kejahatan. Tombaknya yang bernama Kyai Bancak itu menyambar-nyambar seperti seribu mata tombak bersama-sama, melawan sepasang pisau belati panjang yang berkilat-kilat ditangan Hantu Alas Mentaok. Namun Arya Salaka telah tumbuh menjadi anak muda yang perkasa. Apapun yang dilakukan lawannya, dengan baiknya Arya dapat melayaninya. Kegarangan dan kekasaran Lawa Ijo sama sekali tak mempengaruhi langkahnya. Apalagi Arya telah membumbui ilmunya dengan segala macam tingkah laku binatang-binatang liar yang pernah menarik perhatiannya. Bagaimana seekor tikus berhasil menyelamatkan dirinya dari gigi-gigi ular berbisa, dan bagaimana seekor kijang yang lemah berhasil membebaskan dirinya dari terkaman serigala-serigala lapar. Namun Arya Salaka pun tahu, bagaimana seekor banteng dengan tanduknya, dalam ketenangan yang luar biasa, berhasil merobek perut seekor harimau yang justru menyerangnya dengan garang.
Quote:
“Nasibmu tak begitu baik, tikus yang malang. Berdoalah sebelum kepalamu aku pecahkan.”
Kemudian terayunlah kembali tangan Hantu Laut dari Nusakambangan itu. Sedang orang yang dicekiknya telah kehilangan harapan untuk dapat hidup. Ia kenal siapakah Nagapasa itu. Dan menyesallah bahwa ia kurang berhati-hati, bertempur di dekat orang bertangan maut itu. Namun akhirnya ia memejamkan matanya pasrah diri. Dalam perjuangan maut adalah tantangan. Kalau maut itu datang, biarlah ia menelannya. Namun ia yakin bahwa ia telah berjuang menegakkan kebenaran. Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal yang tak terduga-duga. Ketika tangan Nagapasa hampir saja memecahkan kepala orang yang telah pasrah diri itu, terjadilah suatu benturan yang keras. Tangan Nagapasa terasa bergetar hebat. Ia merasa bahwa tangannya telah mengenai sesuatu, tetapi sama sekali bukan kepala orang yang dicekiknya. Dan kepala itu sama sekali tidak dipecahkannya, malahan tangannya sendiri merasa tergetar.
Belum lagi ia sadar akan peristiwa itu, kembali terasa sebuah pukulan yang dahsyat mengenai tangannya yang lain, yang sedang mencekik orang yang telah berputus asa itu, demikian kerasnya sehingga tanpa disengaja tangannya terlepas, dan orang yang dicekiknya itu terpental beberapa langkah dan jatuh berguling-guling.
Nagapasa melompat selangkah mundur. Ia telah berpuluh tahun hidup dalam kancah perkelahian, pertempuran dan pembunuhan. Karena itu ia telah memiliki pengalaman yang tak terkira banyaknya. Sehingga dengan demikian segera ia sadar, bahwa sesuatu telah terjadi, sesuatu yang berada di luar perhitungan. Ketika ia sadar memandang berkeliling, yang dilihatnya hanyalah orang yang bernama Kebo Kanigara itu, selain beberapa orang yang sedang bertempur melawan lawan masing-masing. Dengan demikian ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa Kebo Kanigara lah orangnya, yang telah mencoba membentur tangannya. Nagapasa menjadi marah sekali.
Wajahnya tiba-tiba menjadi merah, semerah darah. Meskipun bibirnya terkatup rapat, namun terdengar betapa giginya gemeretak. Dengan tangan yang bergetar ia menunjuk wajah Kebo Kanigara sambil berkata dengan gemetar,
Quote:
“Kau…?”
Kebo Kanigara masih setenang tadi. Sambil mengangguk ia menjawab singkat, sesingkat pertanyaannya,
“Ya.”
Kebo Kanigara masih setenang tadi. Sambil mengangguk ia menjawab singkat, sesingkat pertanyaannya,
“Ya.”
Nagapasa sadar bahwa orang yang bernama Kebo Kanigara itu bukan orang gila seperti yang disangkanya. Tetapi Kebo Kanigara benar-benar orang perkasa, yang telah menempatkan diri sebagai lawannya dalam pertempuran itu dengan penuh kesadaran. Dengan demikian darahnya kini telah benar-benar mendidih. Karena itu ia sudah tidak mampu lagi untuk bertanya-tanya.
Dengan Cumiik tinggi ia meluncur seperti ular yang mematuk lawannya, dengan tangan terjulur ke arah wajah Kebo Kanigara. Tetapi Kebo Kanigara bukan anak-anak yang terkejut melihat ular sawah yang melingkar di pematang. Ia cukup dewasa untuk menghadapi setiap kemungkinan. Karena itu, ketika ia mendapat serangan dari Nagapasa, sama sekali tidak menjadi gugup. Dengan tenangnya Kebo Kanigara membuat perhitungan yang tepat. Ketika serangan Nagapasa itu hampir menyentuhnya, tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya menelentang. Kedua kakinya segera menyambar perut lawannya, dan dengan lemparan yang keras, Nagapasa terpelanting keudara. Tetapi Nagapasa pun cukup mempunyai bekal untuk bertempur melawan Kebo Kanigara. Ia mula-mula terkejut mengalami peristiwa itu, namun segera ia menguasai dirinya kembali. Dengan sebuah putaran ke udara, ia telah mencapai keseimbangannya. Karena itu Nagapasa dapat dengan baiknya menjatuhkan diri di atas kedua kakinya.
Tetapi ketika ia berhasrat untuk meloncat menyerang lawannya, Kebo Kanigara pun telah siap pula tegak seperti bukit karang yang tak tergoyahkan oleh badai yang betapapun dahsyatnya. Sesaat kemudian, kembali Nagapasa menyerang dengan kerasnya dibarengi dengan sebuah teriakan tinggi. Dan kembali Kebo Kanigara melawannya dengan tenang, namun penuh gairah. Sebab Kebo Kanigara pun yakin, bahwa orang-orang seperti Nagapasa adalah sumber dari segala macam bencana bagi umat manusia. Maka karena itulah pertempuran antara kedua orang perkasa itu segara menjadi semakin dahsyat.
Nagapasa bertempur seperti seekor naga. Tubuhnya seolah-olah menjadi lemas dan dapat bergerak ke segenap arah. Tulang-tulangnya seakan-akan menjadi selemas daun. Begitu baiknya Nagapasa menguasai tubuhnya, sehingga setiap bagiannya dapat berubah menjadi senjata yang berbahaya. Jari-jarinya, sikunya, kepalanya, lutut dan jari kakinya, tumitnya dan segala bagian yang lain. Ia dapat meluncur dengan cepatnya, melingkar-lingkar seperti pusaran air yang menghisap segenap benda yang tersentuh jari-jari lingkarannya, menelannya dan menghancur-lumatkannya. Demikian dahsyatnya Nagapasa bertempur sehingga benar-benar mirip seekor naga raksasa yang bertempur didalam lautan yang digelorakan oleh ombak yang dahsyat.
Tetapi lawannya adalah Kebo Kanigara. Seorang yang telah memiliki ilmu yang sempurna. Benarlah kata orang, yang bahkan almarhum Ki Ageng Pengging Sepuh sendiri mengakui, bahwa sebenarnya Kebo Kanigara telah melampaui kemampuannya.
Kebo Kanigara telah menemukan cara untuk menempa diri dengan dahsyatnya. Ia hanya memerlukan waktu tidak lebih dari semperempat waktu yang diperlukan oleh Ki Ageng Pengging Sepuh dengan caranya. Karena itulah maka Kebo Kanigara benar-benar memiliki sifat yang luar biasa. Ia dapat bertempur selincah anak kijang di padang rumput, namun ia dapat garang seperti singa. Di saat-saat yang lain Kebo Kanigara bertempur seperti seekor garuda dengan sayap-sayapnya yang kokoh seperti baja namun trengginas seperti sikatan.
SEPERTI Mahesa Jenar, Kebo Kanigara juga memiliki kekhususan. Ia benar-benar tangguh sebagaimana ciri-ciri khusus Perguruan Pengging. Seakan-akan berkulit tembaga, bertulang besi. Serta apabila keringatnya telah membasahi punggungnya, tandangnya menjadi semakin garang, seperti banteng ketaton. Demikianlah, ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Kebo Kanigara dan Nagapasa telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Namun disamping kemarahan yang semakin memuncak, Nagapasa pun menjadi heran. Apakah ia sebenarnya sedang bertempur melawan seorang manusia, ataukah tiba-tiba saja ada malaikat yang menjelma dan melawannya?
Quote:
“Persetan dengan malaikat. Aku tidak takut melawan malaikat seandainya ia benar-benar ada.”
Nagapasa mengumpat di dalam hati, namun di dalam relung hatinya yang terdalam ia mengeluh,
Quote:
“Gila benar orang ini. Siapakah sebenarnya dia?”
Kebo Kanigara pun berjuang terus. Ia sadar bahwa lawannya adalah seorang yang luar biasa. Hantu Laut yang memiliki kesaktian dan pengalaman yang mengerikan. Karena itu, Kebo Kanigara pun cukup berhati-hati. Namun sedikit demi sedikit, akhirnya ia berhasil mengetahui segi-segi kedahsyatan ilmu lawannya, tetapi juga segi kelemahan-kelemahannya. Suatu hal yang tak dapat dilihat oleh orang biasa. Kebo Kanigara memiliki daya pengamatan yang lebih tajam dari manusia kebanyakan. Dengan demikian, apa yang selama ini tak diketahui orang, dapatlah diketahuinya, dan apa yang tak dapat dikerjakan orang lain, ia dapat melakukannya.
Pertempuran di lereng Gunung Merbabu itupun menjadi semakin riuh. Percikan darah berhambur-hamburan membasahi tanah pegunungan dan rumput-rumput liar. Kedua belah pihak berjuang semakin gigih. Sebab tak ada pilihan lain, apabila seseorang telah berada di tengah-tengah api peperangan. Debu mengepul semakin tinggi di udara. Putih gelap, seperti kabut ampak-ampak di lereng-lereng bukit.
Ki Ageng Sora Dipayana masih bertempur melawan Bugel Kaliki. Silih ungkih, singa lena. Desak-mendesak, serang-menyerang silih berganti. Tetapi keduanya sadar, bahwa kesaktian mereka benar-benar berimbang. Sekali-kali, baik Ki Ageng Sora Dipayana maupun Bugel Kaliki, berusaha untuk menebarkan pandangannya ke bagian-bagian pertempuran yang lain, seperti juga apa yang dilakukan oleh Ki Ageng Pandan Alas dan Pasingsingan, Titis Anganten dan Sura Sarunggi. Sekali-kali merekapun ingin mengetahui apa yang telah terjadi di bagian-bagian yang lain. Dari celah-celah deru senjata, Ki Ageng Sora Dipayana, yang bertempur seorang diri di antara laskar Banyubiru dan Pamingit yang saling bertempur pula. Semula Ki Ageng Sora Dipayana mencemaskan nasib Mahesa Jenar, tetapi kemudian ia menjadi heran. Mereka telah cukup lama bertempur, namun agaknya Mahesa Jenar masih tetap bertahan dengan gigihnya.
“Apakah yang telah terjadi dengan Angger Mahesa Jenar selama ini?”pikirnya.
Dan tiba-tiba sesaat kemudian orang tua itupun terkejut pula.
“Apakah yang sudah dilakukan oleh Kebo Kanigara itu?" Timbul pertanyaan pula di dalam hatinya. Bahkan ia menjadi semakin heran ketika melihat, bahwa Kebo Kanigara dapat bertempur melawan Nagapasa sebaik dirinya sendiri atau orang-orang seangkatannya. Bahkan karena darah yang jauh lebih muda daripada darahnya dan orang-orang seangkatannya, Kebo Kanigara tampak betapa tangkas dan perkasanya.
Quote:
“Hem…” desisnya,
“Siapakah sebenarnya orang itu?”
Ternyata di bagian lainpun terdengar Ki Ageng Pandan Alas berdesis,
“Benar-benar Angger Kebo Kanigara sakti tiada taranya.”
Di bagian lain lagi Titis Anganten bergumam,
“Aneh. Belum pernah aku mengenalnya. Namun tiba-tiba ia telah mengejutkan kami.”
“Siapakah sebenarnya orang itu?”
Ternyata di bagian lainpun terdengar Ki Ageng Pandan Alas berdesis,
“Benar-benar Angger Kebo Kanigara sakti tiada taranya.”
Di bagian lain lagi Titis Anganten bergumam,
“Aneh. Belum pernah aku mengenalnya. Namun tiba-tiba ia telah mengejutkan kami.”
Bukan saja orang-orang Banyubiru dan Pamingit yang keheran-heranan melihat keperkasaan Kebo Kanigara, namun orang-orang dari golongan hitampun menjadi cemas melihat tandangnya. Ketika orang-orang lain sedang sibuk menilai dirinya, Kebo Kanigara sempat menyaksikan betapa Mahesa Jenar berjuang di antara hidup dan mati. Tanpa sesadarnya merayaplah perasaan bangga di dalam dirinya. Ia melihat benih subur tumbuh di dalam tubuh Mahesa Jenar yang kemudian bahkan telah berkembang dengan rimbunnya. Ia melihat Mahesa Jenar itu telah dapat menguasai ilmunya. Tidak saja Mahesa Jenar itu telah dapat mensejajarkan diri dengan almarhum gurunya, namun dalam penglihatan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar bahkan telah melampauinya. Masa-masa pembajaan diri yang dahsyat telah menempa Mahesa Jenar dan muridnya sedemikian dahsyat pula. Dan sekarang Mahesa Jenar mencoba menerapkan ilmunya dalam suatu perjuangan yang menentukan.
Dalam suatu kesempatan yang lain, Kebo Kanigara melihat bagaimana Arya Salaka bertempur melawan Lawa Ijo. Anak muda itupun menunjukkan betapa gigihnya ia berjuang melawan kejahatan. Tombaknya yang bernama Kyai Bancak itu menyambar-nyambar seperti seribu mata tombak bersama-sama, melawan sepasang pisau belati panjang yang berkilat-kilat ditangan Hantu Alas Mentaok. Namun Arya Salaka telah tumbuh menjadi anak muda yang perkasa. Apapun yang dilakukan lawannya, dengan baiknya Arya dapat melayaninya. Kegarangan dan kekasaran Lawa Ijo sama sekali tak mempengaruhi langkahnya. Apalagi Arya telah membumbui ilmunya dengan segala macam tingkah laku binatang-binatang liar yang pernah menarik perhatiannya. Bagaimana seekor tikus berhasil menyelamatkan dirinya dari gigi-gigi ular berbisa, dan bagaimana seekor kijang yang lemah berhasil membebaskan dirinya dari terkaman serigala-serigala lapar. Namun Arya Salaka pun tahu, bagaimana seekor banteng dengan tanduknya, dalam ketenangan yang luar biasa, berhasil merobek perut seekor harimau yang justru menyerangnya dengan garang.
fakhrie... dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas